Indonesian Journal of Educational Development Volume 1 Nomor 3, November 2020 DOI: 10.5281/zenodo.4286979 _________________________________________________________________________ IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN STAD UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR Made Eka Adnyana SMAN 1 Kuta Selatan, Bali, Indonesia; e_adnyana@yahoo.co.id Abstrak. Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh kurang optimalnya penggunaan model pembelajaran. Pembelajaran masih terpusat pada guru, Motivasi siswa dalam pembelajaran masih kurang dan guru jarang melakukan refleksi. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi melalui penerapan model pembelajaran STAD dengan subjek penelitian adalah kelas XI MIPA4 SMA Negeri 1 Kuta Selatan dan objek dalam penelitian ini adalah motivasi dan prestasi belajar biologi. Data motivasi siswa dikumpulkan melalui lembar kuisioner dan data hasil belajar dikumpulkan melalui tes prestasi belajar yang disusun dalam bentuk tes objektif. Data yang telah terkumpul, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran STAD, ini dapat dilihat dari rata-rata motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 2,8 dengan kriteria cukup sedangkan pada siklus II nilai ratarata motivasi siswa adalah 3,7 dengan kriteria baik. Rata-rata prestasi belajar siswa pada siklus I adalah 61,17 dengan kriteria cukup, daya serap 61,17% dan ketuntasan belajar siswa 61,11 %, sedangkan pada siklus II nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 76,53 dengan kriteria baik, daya serap 76,53 % dan ketuntasan belajar siswa 94%. Kata Kunci: Model STAD , Motivasi belajar, Prestasi belajar Abstract. The low student learning outcomes are caused by the less optimal use of the learning model. Learning is still centered on the teacher, student motivation in learning is still lacking and teachers rarely reflect. So this classroom action research aims to increase motivation and learning achievement in biology through the application of the STAD learning model with the research subject class XI MIPA4 SMA Negeri 1 Kuta Selatan and the objects in this study are the motivation and achievement of learning biology. Student motivation data were collected through questionnaire sheets and learning outcome data were collected through learning achievement tests which were arranged in the form of objective tests. The data that has been collected are then analyzed descriptively. The results of this study indicate that there is an increase in student motivation and learning achievement after the application of the STAD learning model, this can be seen from the average student motivation in cycle I of 2.8 with sufficient criteria, while in cycle II the average value of student motivation is 3. , 7 with good criteria. The average student learning achievement in the first cycle was 61.17 with sufficient criteria, 61.17% absorption and 61.11% student learning completeness, while in the second cycle the average value of student learning achievement was 76.53 with good criteria, the absorption capacity of 76.53% and the completeness of student learning 94%. Keywords: STAD Model, learning motivation, learning achievement PENDAHULUAN Peran guru profesional dalam pembelajaran sangat penting sebagai kunci _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 496 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 496-505, November 2020 keberhasilan belajar peserta didik dan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Guru professional adalah guru yang kompeten dalam membangun dan mengembangkan proses pembelajaran yang baik dan efektif sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang pintar dan pendidikan yang berkualitas (Catrining, et.al., 2018). Proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai dengan evaluasi dan program tindak lanjut. Hal tersebut mengandung makna bahwa pembelajaran tidak terlepas dari evaluasi. Dengan evaluasi akan diketahui seberapa jauh seorang siswa menerima bahan ajar yang diberikan kepadanya (Sudiarta & Widana, 2019). Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan (Setiawati,W., et.al. 2019). Evaluasi juga dapat dijadikan sebagai acuan seberapa besar siswa mampu menyerap meteri yang diberikan guru. Terkadang hasil evaluasi yang telah dilakukan mendapatkan hasil yang mengecawakan, di mana hasil prestasi belajar siswa tidak seperti harapan dari guru pengampunya. Guru harus mampu mengadakan inovasi baru dalam proses belajar mengajar, agar tujuan pembelajaran dapat berhasil sesuai harapan (Widana, et.al., 2019). Hasil belajar siswa pada pokok bahasan Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan di SMAN 1 Kuta Selatan tergolong rendah, seperti yang terjadi di kelas XI MIPA1, XI MIPA2, XI MIPA3, XI MIPA4, XI MIPA5, dan XI MIPA6. Hal ini dapat dilihat dari profil kompetensi dasar Biologi pada pokok bahasan Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan yang dicapai siswa dua tahun terakhir relatif masih rendah, seperti ditunjukkan pada Tabel 01. Th. Pel. 2016/ 2017 2017/ 2018 Tabel 1. Profil Kompetensi Siswa Kelas XI MIPA Kelas XI MIPA Hasil belajar 1 2 3 4 5 6 Rata-rata kelas 59,11 57,23 56,99 56,76 55,45 58,12 Ketuntasan ≤ 40 % ≤ 39% ≤ 38% ≤ 36% ≤ 35% ≤ 38% belajar Rata-rata kelas 57,14 56,17 56,23 58,42 55,33 59,18 Ketuntasan ≤ 42 % ≤ 40% ≤ 39% ≤ 43% ≤ 36% ≤ 41% belajar (Sumber: Guru biologi SMA Negeri 1 Kuta Selatan) Rendahnya hasil belajar Biologi yang dicapai siswa merupakan refleksi dari rendahnya kualitas pembelajaran sains khususnya Biologi di SMA Negeri 1 Kuta Selatan. Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya nilai biologi peserta didik tentang materi Struktur Sel sehingga berakibat pada rendahnya nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal yang tidak tercapai adalah: (1) pembelajaran masih terpusat pada guru (teacher centered) karena masih berlakunya anggapan bahwa pengetahuan dapat ditransformasikan secara utuh dari pikiran guru kepikiran siswa; (2) secara umum motivasi siswa dalam pembelajaran biologi masih kurang yaitu interaksi siswa dalam pembelajaran, baik terhadap guru maupun dengan temannya ternyata masih rendah; (3) guru dan siswa jarang melakukan refleksi dalam pembelajaran _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 497 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 496-505, November 2020 seperti memberikan kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang baru saja dipelajari atau meminta siswa menyampaikan konsep berdasarkan pemahamannya sendiri; (4) secara umum motivasi siswa di dalam kelas saat guru menerangkan masih ada siswa yang tidak berkosentrasi maupun ada yang kurang memperhatikan penjelasan guru. Kondisi demikian apabila terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap kualitas pembelajaran mata pelajaran Biologi di Kelas XI.MIPA tersebut khususnya, dan di SMAN 1 Kuta Selatan secara keseluruhan, padahal materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan merupakan salah satu materi esensial dalam kurikulum. Salah satu metode pembelajaran yang mengkolaborasikan pengembangan anak didik dalam proses pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut Asma (2006) dalam pembelajaran kooperatif setidaknya terdapat lima prinsip yang dianut, yaitu: (1) belajar siswa aktif (student active learning), (2) belajar kerjasama (cooperative learning), (3) pembelajaran partisipatorik, (4) mengajar reaktif (reactive teaching), dan (5) pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning). Dalam hal ini guru bertindak sebagai fasilitator bagi anak didik dan anak didik berupaya menemukan sendiri pemahaman-pemahaman mengenai pembelajaran yang diberikan guru dengan hasil akhir berupa peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif dapat memicu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa (Trianto,2011) Model Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan suatu alternatif untuk menanggulangi kelemahan belajar. Pembelajaran Kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada Motivasi dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal (Lindayani & Murtadlo, 2011). Model pembelajaran kooperatif tipe STAD, para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa belajar dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya semua siswa mengerjakan kuis mengenai materi secara sendiri-sendiri, dimana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling membantu (Slavin, 2012). Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) apakah implementasi model pembelajaran STAD dapat meningkatkan prestasi belajar biologi kelas XI MIPA di SMA Negeri 1 Kuta Selatan Tahun Pelajaran 2018/2019?; (2) apakah implementasi model pembelajaran STAD dapat meningkatkan motivasi belajar biologi kelas XI MIPA di SMA Negeri 1 Kuta Selatan Tahun Pelajaran 2018/2019? Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) meningkatkan prestasi belajar biologi kelas XI MIPA di SMA Negeri 1 Kuta Selatan Tahun Pelajaran 2018/2019 melalui implementasi model pembelajaran STAD; (2) meningkatkan motivasi belajar biologi kelas XI MIPA di SMA Negeri 1 Kuta Selatan Tahun Pelajaran _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 498 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 496-505, November 2020 2018/2019 melalui implementasi model pembelajaran STAD. METODE Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi. Penelitian dilaksanakan di SMAN 1 Kuta Selatan, pada semester 1 tahun pelajaran 2018/2019, dimulai dari tanggal 19 Agustus 2018 sampai 30 Nopember 2018. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI.MIPA4, sebanyak 36 orang, dengan 19 orang siswa laki-laki, dan 17 orang siswa perempuan. Objek penelitian adalah Motivasi dan prestasi belajar biologi siswa, dengan materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan. Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner dan tes. Data yang dikumpulkan adalah data motivasi belajar siswa dengan menggunakan lembar kuisioner dan data prestasi belajar biologi siswa dengan menggunakan tes. Teknik analisis data kuantitatif untuk mengukur skala motivasi belajar siswa, dengan memberikan kuisioner yang berisi 20 butir pernyataan dengan menggunakan Skala Likert yang mempunyai 5 pilihan yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-ragu (RG), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setu (STS) dan terdiri atas 6 indikator, yaitu (1) keinginan untuk berhasil, (2) Tekun menghadapi tugas, (3) keinginan menarik dalam belajar, (4) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, (5) senang memecahkan masalah (6) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar. Data motivasi belajar siswa diolah dengan rumus : Skor (X) = (n1 x 1) + (n2 x 2) + (n3 x 3) + (n4 x 4) +(n5 x 5) (banyaknya siswa) x (banyaknya butir pernyataan) Dengan n1 banyaknya siswa yang mendapat skor ke-i (i =1,2,3,4,5) selanjutnya hasilnya dibandingkan dengan kriteria seperti disajikan pada tabel 2. No 1 2 3 4 5. Tabel 2. Kriteria motivasi belajar siswa Interval Kriteria MI + 1,5 SDI ≤ M Sangat baik MI + 0,5 SDI ≤ M< MI +1,5 SDI Baik MI - 0,5 SDI ≤ M < MI +0,5 SDI Cukup MI – 1,5 SDI ≤ M < MI – 0,5 SDI Kurang M < MI – 0,5 SDI Sangat kurang Sumber: Nurkancana dan Sunartana (1992) Rumus untuk mencari mean ideal dan standar deviasi ideal adalah sebagai berikut : MI = ½ (skor tertinggi ideal + skor terendah ideal) SDI= 1/6(skor tertinggi ideal - skor terendah ideal) Skor tertinggi ideal dan skor terendah ideal motivasi belajarsiswa secara berturut-turut adalah 5 dan 1, maka dapat dihitung mean ideal (MI) dan standar deviasi ideal (SDI) sebagai berikut. MI= ½ (5 + 1) = 3 SDI = 1/6 (5- 1) = 0,67 _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 499 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 496-505, November 2020 Berdasarkan MI dan SDI dari skor siswa, maka kriteria klasifikasi siswa seperti yang telah dicatumkan pada Tabel 3 berikut. Tabel 3. Kriteria motivasi belajar siswa No Interval Kriteria 1 4,0 ≤ M Sangat baik 2 3,3 ≤ M  4,0 Baik 3 2,7≤ M< 3,3 Cukup 4 2,0 ≤ M< 2,7 Kurang 5 M< 2,7 Sangat kurang Indikator keberhasilan motivasi belajar siswa minimal berada pada kategori baik. Data prestasi belajar siswa dianalisis dengan statistik diskriptif dengan menggunakan teknik konversi skor seperti pada tabel 4 berikut. Tabel 4. Konversi Skor Prestasi Belajar No Interval Kriteria 1 85 ≤ M ≤ 100 Sangat baik 2 70 ≤ M < 85 Baik 3 55 ≤ M < 70 Cukup 4 40 ≤ M < 55 Kurang 5 0 ≤ M < 40 Sangat kurang Dengan kriteria keberhasilan adalah nilai rata-rata prestasi belajar kelas sekurang-kurangnya 67, sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dihitung juga daya serap dan ketuntasan belajar siswa dengan rumus sebagai berikut. DS = M x 10 % KB = banyaknya siswa yg memperoleh nilai ≥ 67 x 100% N Keterangan KB : ketuntasan belajar N : Banyaknya siswa yang diteliti M : Nilai rata-rata prestasi belajar DS : Daya serap Ditetapkan 3 indikator keberhasilan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut. 1. Nilai rata-rata kelas prestasi belajar sekurang-kurangnya 67. 2. Motivasi belajar siswa minimal berada pada kategori baik. 3. Ketuntasan belajar (KB) klasikal minimal jumlah siwa yang tuntas ≥80%. Dengan demikian, penelitian dianggap berhasil bila mampu mencapai ketiga indikator tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan ini,berlangsung dua siklus dari tanggal 19 Agustus 2018 sampai 30 Nopember 2018. Masing-masing siklus terdiri dari tiga kali pertemuan, dengan distribusi waktu dua kali _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 500 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 496-505, November 2020 pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan satu kali pertemuan untuk pemberian evaluasi. Hasil Penelitian Siklus I Data Motivasi siswa yang diperoleh dari hasil kuisioner siklus I disajikan pada tabel 5. Tabel 5. Data Motivasi Belajar Siswa Motivasi Belajar Kelas N1 N2 N3 N4 N5 Skor Katagori XI MIPA4 225 107 120 133 135 2,8 CUKUP Berdasarkan tabel 5 diperoleh skor motivasi belajar siswa 2,8 dalam katagori cukup. Data tersebut menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa belum sesuai dengan harapan dalam penelitian ini. Indikator keberhasilan motivasi belajar siswa yaitu apabila motivasi belajar siswa memiliki sekor sekurangkurangnya 3,3 atau berada dalam kategori baik sehingga penelitian ini memerlukan siklus berikutnya. Data tes prestasi belajar siswa pada siklus I berdasarkan kategori yang telah ditetapkan disajikan pada tabel 6. Tabel 6. Distribusi Nilai Prestasi Belajar Siswa Kriteria Jumlah siswa % Keterangan 85 ≤ M ≤ 100 Sangat baik 70 ≤ M < 85 11 30.56 % Baik 55 ≤ M < 70 11 30.56 % Cukup 40 ≤ M < 55 14 38.89 % Kurang 0 ≤ M < 40 Sangat Kurang Berdasarkan table 6 diperoleh persentase jumlah siswa yang memiliki prestasi belajar dengan kategori baik sebesar 30.56%, kategori cukup sebesar 30.56%, kurang sebesar 38.89% dan tidak ada siswa dengan kategori sangat baik dan sangat kurang. Secara klasikal skor rata-rata prestasi belajar siswa sebesar 61.17 dengan kategori cukup dan ketuntasan belajar kelasikal sebesar 61.11%. Data tersebut menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa belum sesuai dengan harapan dalam penelitian ini. Indikator keberhasilan prestasi belajar siswa jika berada dalam kategori baik, nilai rata-rata prestasi belajar kelas minimal 67 dan ketuntasan belajar kelasikal minimal 80% sehingga memerlukan siklus berikutnya. Hasil Penelitian Siklus II Data Motivasi siswa yang diperoleh dari hasil kuisioner siklus II disajikan pada tabel 7. Tabel 7. Data Motivasi Belajar Siswa Motivasi Belajar Kelas N1 N2 N3 N4 N5 Skor Katagori XI MIPA4 57 98 132 133 300 3,7 BAIK Berdasarkan tabel 7 diperoleh skor motivasi belajar siswa 3,7 dalam katagori baik. Indikator keberhasilan peningkatan motivasi belajar siswa yaitu apabila motivasi belajar siswa berada pada kategori baik sehingga penelitian ini _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 501 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 496-505, November 2020 tidak memerlukan siklus berikutnya. Distribusi prestasi belajar siswa pada siklus II berdasarkan kategori yang telah ditetapkan disajikan pada tabel 8. Tabel 8. Distribusi Nilai Prestasi Belajar Siswa Kreteria Jumlah siswa % Keterangan 85 ≤M≤100 4 11.11% Sangat baik 70 ≤M< 85 28 77.78% Baik 55 ≤M<70 4 11.11% Cukup 40≤M< 55 Kurang 0 ≤M< 40 Sangat Kurang Berdasarkan tabel 8 diperoleh persentase jumlah siswa yang memiliki prestasi belajar dengan kategori sangat baik sebesar 11,11%, kategori baik 77,78%, cukup 11,11% dan tidak ada siswa dengan kategori kurang dan sangat kurang. Secara klasikal skor rata-rata prestasi belajar siswa sebesar 76.53 dengan kategori baik dan ketuntasan belajar kelasikal sebesar 94%. Data tersebut menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa sudah sesuai dengan harapan dalam penelitian ini. Indikator keberhasilan prestasi belajar siswa jika berada dalam kategori baik, nilai rata-rata prestasi belajar kelas minimal 67 dan ketuntasan belajar kelasikal minimal 80% sehingga penelitian ini tidak memerlukan siklus berikutnya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam dua siklus menunjukkan terjadinya peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa dengan mengimplementasikan model pembelajaran STAD dalam pembelajaran Biologi. Pada siklus I skor rata-rata Motivasi siswa adalah 2,8 dengan kategori cukup, sedangkan rata-rata prestasi belajar siswa adalah 61,17 dengan kategori cukup. Hasil ini menunjukkan bahwa hasil belajar tersebut belum memenuhi tuntutan yang diharapkan dalam penelitian ini. Demikian juga dengan ketuntasan belajar secara klasikal masih dibawah standar yang diharapkan, ketuntasan belajar kelasikal pada siklus I sebesar 61,11% masih jauh dari yang diharapkan yaitu ketuntasan belajar kelasikal minimal 80% berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Dari hasil refleksi pada siklus I, didapatkan kendala-kendala yang menyebabkan belum tercapainya hasil yang diharapkan, yaitu: (1) kelas menjadi ramai karena siswa bekerja dan berbicara dalam kelompok kecil menyebabkan kebisingan dalam kelas yang sulit dikontrol dan mengganggu fungsi kelompok dan kelas lainnya; (2) siswa sulit bekerjasama dalam kelompok yang heterogen karena siswa yang belum mengerti tentang materi pelajaran malu bertanya kepada teman yang lebih pintar, demikian juga sebaliknya teman yang lebih pintar masih enggan memberikan penjelasan mengenai materi pelajaran yang belum dikuasai oleh temannya; (3) ada beberapa orang siswa yang belum mengerti maksud dalam pembelajaran kooperatif, ini ditandai oleh adanya beberapa siswa yang tidak melakukan apa-apa ketika diberikan permasalahan pada awal pembelajaran siswa; (4) saat pembelajaran banyak waktu yang terbuang karena tidak ada batasan waktu yang jelas ketika berdiskusi; (5) interaksi yang terjadi dalam kelompok masih belum aktif, ada beberapa siswa bergurau dan bermain sendiri sedangkan siswa lainnya sibuk melakukan Motivasi kelompok; (6) masih banyak siswa yang belum mempersiapkan diri secara maksimal pada saat menghadapi tes prestasi. _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 502 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 496-505, November 2020 Adanya kendala atau hambatan tersebut menyebabkan belum optimalnya pembelajaran yang dilangsungkan sehingga berdampak pada prestasi belajar yang didapatkan, ada 11 siswa (30,56%) prestasi belajarnya ada pada kategori baik, 11 siswa (30,56%) prestasi belajarnya ada pada kategori cukup dan 14 siswa (38,89%) prestasi belajarnya ada pada kategori kurang. Untuk itu pada siklus II ini dicoba melaksanakan pembelajaran dengan memfokuskan untuk mengeleminir kelemahan-kelemahan tersebut. Pada siklus II, ini terdapat sedikit penyempurnaan dengan melakukan perbaikan perbaikan untuk mengatasi kendala tersebut yaitu dengan melakukan tindakan sebagai berikut: (1) pengawasan guru yang lebih cermat dalam mengawasi kinerja siswa selama pembelajaran kelompok sehingga pembelajaran berlangsung lebih efektif dan tidak menyebabkan kebisingan, mengaganggu fungsi kelompok dan kelas lainnya; (2) dalam kelompok heterogen siswa yang lebih pintar agar dapat memberikan penjelasan mengenai materi pelajaran yang belum dikuasai oleh temannya dan siswa yang belum mengerti tidak usah malu bertanya; (3) adanya pembatasan waktu pengerjaan lembar kerja siswa pada saat diskusi kelompok, menjadikan siswa menghargai waktu dan bertanggung jawab terhadap soal yang harus bisa diselesaikan dan mendiskusikan bersama dengan teman satu kelompoknya; (4) guru memberikan reward kepada kelompok sehingga menyebabkan antusias tiap-tiap anggota kelompok dalam bekerja sama meningkatkan motivasi dalam belajar; (5) siswa belajar lebih maximal sebelum mengikuti tes prestasi. Dengan pelaksanaan pembelajaran yang telah mengalami penyempurnaan, motivasi belajar siswa mengalami peningkatan. Skor rata-rata Motivasi belajar siswa mengalami peningkatan dari 2,8 dengan kategori cukup pada siklus I menjadi sebesar 3,7 dengan kategori baik pada siklus II. Skor ratarata prestasi belajar siswa juga mengalami peningkatan dari sebasar 61,17 dengan kategori cukup pada siklus I, menjadi sebesar 76,53 dengan kategori baik pada siklus II. Ketuntasan belajar klasikalnya juga meningkat dari 61,11 % pada siklus I menjadi sebesar 94 % pada siklus II. Dari hasil tersebut tampak bahwa implementasi Model pembelajaran STAD sudah dapat meningkatkan Motivasi dan prestasi belajar biologi siswa. Motivasi yang tinggi dapat menggiatkan aktivitas belajar siswa. Motivasi tinggi dapat ditemukan dalam sifat perilaku siswa antara lain; (1) adanya kualitas keterlibatan siswa dalam belajar yang sangat tinggi, (2) adanya perasaan dan keterlibatan afektif siswa yang tinggi dalam belajar, (3) adanya upaya siswa untuk senantiasa memelihara atau menjaga agar senantiasa memiliki motivasi belajar tinggi (Sugihartono, 2012). Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Perdani (2010) mengungkapakan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Ika et.al. (2017) membuktikan bahwa melalui penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 503 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 496-505, November 2020 Pada siklus II siswa sudah bisa bekerja sama dengan baik, mampu berkomunikasi dengan anggota kelompok, lebih bertanggung jawab terhadap tugas dan dapat menghargai pendapat orang lain, dan bisa bersinergis dengan anggota kelompoknya sesuai dengan kemampuannya sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan otivasi dan prestasi belajar dari siklus I ke siklus II . Hal ini diperkuat oleh pendapat Trianto (2011), bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar yang berupa keterampilan akademik dan sosial. Setiap kelompok berusaha berkompetisi secara positif dengan kelompok lain. Hal tersebut dapat meningkatkan motivasi siswa untuk lebih aktif dalam diskusi kelompok. Sesuai dengan pendapat Sanjaya (2009), yang mengatakan bahwa pemberian penghargaan dapat memotivasi kelompok untuk berprestasi dan memotivasi kelompok lain meningkatkan prestasinya. SIMPULAN Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Pada Siswa Kelas XI IPA4 SMA Negeri 1 Kuta Selatan Tahun Pelajaran 2018/2019 dapat ditingkatkan melalui implementasi model pembelajaran STAD dengan melakukan tindakan sebagai berikut: (1) pengawasan guru yang lebih cermat dalam mengawasi kinerja siswa, (2) dalam kelompok heterogen siswa yang lebih pintar agar dapat memberikan penjelasan mengenai materi pelajaran yang belum dikuasai oleh temannya dan siswa yang belum mengerti tidak usah malu bertanya, (3) adanya pembatasan waktu pengerjaan lembar kerja siswa pada saat diskusi kelompok, (4) guru memberikan reward, (5) siswa belajar lebih maximal sebelum mengikuti tes prestasi. DAFTAR PUSTAKA Asma, N. (2006). Model pembelajaran kooperatif. Depdiknas. Catrining, L., & Widana, I. W. (2018). Pengaruh pendekatan pembelajaran realistic mathematics education terhadap minat dan hasil belajar matematika. Emasains, 7(2), 120-129. Hamalik, O. (2008). Proses belajar mengajar. Bumi Aksara Lindayani, D. A. & Murtadlo, M. A. (2011). Manajemen pembelajaran inovatif. Iranti Mitra Utama Nurkancana, I. W. & Sunartana, P. P. N. (1986). Evaluasi pendidikan. Usaha Nasional. Perdani, P. R. (2010) Penerapan strategi student teams–achievement divisions (stad) sebagai upaya peningkatan keaktifan dan motivasi siswa dalam pembelajaran matematika(PTK di SMP Negeri 1 Teras, Boyolali Kelas VII Semester II) http://eprints.ums.ac.id/7225/ Sanjaya, W. (2009). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Setiawati, W., Asmira, O., Ariyana, Y., Bestary, R., & Pudjiastuti, A.. (2019). Buku penilaian berorientasi higher order thinking skills. Dirjen GTK Kemdikbud. Slavin, R. E. (2012). Cooperative learning: Teori, riset dan praktek. (Terjemahan Narulita Yusron). Nusa Media. Sudiarta, I. G. P., & Widana, I. W. (2019). Increasing mathematical proficiency and students character: lesson from the implementation _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 504 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 496-505, November 2020 of blended learning in junior high school in Bali. IOP Conf. Series: Journal of Physics: Conf. Series1317 (2019) 012118, doi:10.1088/1742-6596/1317/1/012118. Sugihartono, Fathiyah, K. N., Setiawati, F. A., Harahap, F., & Nurhayati, S. R. (2013). Psikologi pendidikan. UNY Press. Trianto. (2011). Model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik. Prestasi Pustaka. Widana, I. W., Suarta, I. M., Citrawan, I. W. (2019). Application of simpang tegar method: Using data comparison. Jour of Adv Research in Dynamical & Control Systems, 11(2)-Special Issue on Social Sciences, 1825-1832, http://www.jardcs.org/abstract.php?id=1563 _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 505