SENSUS FIDEI UMAT KATOLIK DI KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA TERHADAP ISU HOMOSEKSUALITAS PADA TAHUN 2022 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Jakarta Email: albertusadiwenanto@gmail. Abstract: Homosexuality is not easily accepted in the Catholic Church. There are at least three major schools concerning the attitude towards homosexuality based on their respective theological methodologies . cientia yde. The yrst school is encapsulated in the Letter to the Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual Persons . , which rejects homosexual persons and same-sex sexual relationships. The second school is put forward by John J. McNeill . , a moralist who embraces homosexual persons and same-sex sexual relationships. The last one is represented by the document of Amoris Laetitia . , which accepts homosexual persons but disapproves of same-sex sexual These three major schools refer to the interpretation of the document Persona Humana article 8 . A survey of 566 respondents was conducted from the 8th to the 15th of November in 2022. The results show that 74. 2% of respondents have a form of acceptance in accordance with Amoris Laetitia, 14. 5% with the Letter to the Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual Persons, and 5. with the thoughts of John J. McNeill. Our study concluded that accepting homosexual persons and rejecting homosexual acts is the reference for ad experimentum moral decisions in the context of the Archdiocese of Jakarta in 2022. Keywords: homosexuality. Persona Humana. Amoris Laetitia. John J. McNeill, sensus ydei, scientia ydei Abstrak: Homoseksualitas tidak begitu mudah diterima dalam Gereja Katolik. Setidaknya ada tiga aliran yang berbeda sikap terhadap homoseksualitas berdasarkan pandangan teologi . cientia yde. Aliran pertama terwakili oleh dokumen Letter to the Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual Persons . yang Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. menolak pribadi homoseksual dan hubungan seksual sesama jenis. Aliran kedua diwakili oleh seorang moralis bernama John J. McNeill . yang menerima pribadi homoseksual dan hubungan seksual sesama jenis. Aliran ketiga terwakili oleh dokumen Amoris Laetitia . yang menerima pribadi homoseksual namun menolak hubungan seksual sesama jenis. Ketiga aliran besar ini mengacu pada penafsiran dokumen Persona Humana artikel 8 . Sejak tanggal 8 sampai dengan 15 November 2022 kami melakukan survei terhadap 566 responden. Hasil survei menunjukkan sebanyak 74. 2% responden memiliki bentuk penerimaan sesuai dengan Amoris Laetitia. 5% responden memiliki bentuk penerimaan sesuai dengan dokumen Letter to the Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual Persons. dan sebanyak 5. 5% responden memiliki bentuk penerimaan sesuai dengan pemikiran John J. McNeill. Kami menyimpulkan bahwa sikap menerima pribadi homoseksual dan menolak tindakan homoseksual merupakan rujukan keputusan moral ad experimentum dalam konteks Keuskupan Agung Jakarta di tahun 2022. Kata-kata Kunci: Homoseksualitas. Persona Humana. Amoris Laetitia. John J. McNeill, sensus ydei, scientia ydei PENDAHULUAN Homoseksualitas berarti ketertarikan atau aktivitas seksual antar pribadi dengan jenis kelamin yang sama. Secara sederhana, istilah ini kerap dibedakan menjadi dua, yaitu gay dan lesbian. Istilah gay diperuntukkan bagi lelaki yang memiliki ketertarikan seksual terhadap lelaki. Istilah lesbian diperuntukkan bagi perempuan yang memiliki ketertarikan seksual terhadap perempuan. Agama-agama besar dunia memiliki beberapa teks yang ditafsirkan sebagai sebuah larangan terhadap homoerotisisme. 2 Hukum agama Istilah gay kerap disebut juga dengan LSL atau Lelaki yang melakukan hubungan Seks dengan Lelaki. Lihat American Psychological Association. AuThe Guidelines for Psychological Practice with Lesbian. Gay, and Bisexual ClientsAy (Washington. DC: Council of Representatives, 2. , p. Agama-agama besar yang kami maksud adalah Kristiani. Islam, agama Yahudi, dan Hinduisme. Berdasarkan AuWhat is the Most Widely Practiced Religion in the World?,Ay DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Yahudi (Halakha. , berdasarkan teks Imamat 18:23 dan 20:13, melarang homoerotisisme antar lelaki. Homoerotisisme antar lelaki dianggap sebuah kekejian dan dikenai hukuman pengucilan dari komunitas sampai dengan hukuman mati. Homoerotisisme antar perempuan diatur dalam tradisi Rabi Yudaisme dan mendapat hukuman yang lebih ringan. Islam menggunakan hukum Syariat sebagai dasar larangan terhadap homoerotisisme. Dalam tradisi Islam, homoerotisisme disebutkan sebagai dosa yang membuat Sodom dihancurkan. Orang-orang yang melakukan homoerotisisme disebut sebagai kaum AuLutiAy . rang-orang Lo. Homoerotisisme juga dikutuk dalam Hadits Nabi. Menurut tradisi sekolah Sunni, hukum Syariat menetapkan hukuman bagi orang yang melakukan aktivitas homoerotis. Hukuman tersebut dapat berupa denda, hukuman cambuk, penjara atau hukuman mati. Tradisi agama Hindu dalam teks ArthauAstra melarang hubungan seks anal secara umum dan juga secara khusus homoerotisisme. Dalam teks ArthauAstra, aktivitas seks sesama lelaki mendapat hukuman yang lebih berat dibandingkan aktivitas seks sesama perempuan. Berbeda dengan teks dalam ArthauAstra, dalam hukum suci Manu dalam teks Dharma, aktivitas seks sesama perempuan mendapatkan hukuman lebih berat dibandingkan dengan aktivitas seks sesama lelaki. Dalam budaya yang didominasi Hindu di Nepal dan India, homoerotisme adalah ilegal. Nepal, di mana Hinduisme memiliki kekuatan konstitusional, homoerotisme dapat dihukum berat hingga hukuman penjara seumur hidup. Dalam sejarah Kristianitas, terdapat dua periode yang mencerminkan sikap Gereja terhadap homoerotisisme. Periode pertama terjadi pada https://w. com/story/what-is-the-most-widely-practiced-religion-inthe-world. (Diakses pada hari Jumat 23 April 2021 pkl. Jeffrey S. Siker. Homosexuality and Religion: An Encyclopedia (Wesport: Greenwood Press, 2. , pp. Istilah homoerotisisme dibedakan dengan istilah homoseksualitas. Istilah homoseksualitas baru muncul di Eropa sekitar akhir abad ke-19. Homoerotisisme dianggap sebagai sesuatu ketertarikan erotis terhadap sesama jenis dan cenderung tidak permanen. Siker. Homosexuality and Religion: An Encyclopedia, p. Siker. Homosexuality and Religion: An Encyclopedia, pp. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. abad-abad pertama Masehi. Kala itu. Gereja menekankan bahwa aktivitas seksual dalam kodratnya memiliki ynalitas pro-kreasi biologis, sehingga setiap aktivitas seksual yang tidak terarah kepada tujuan tersebut tidak sesuai dengan kodrat. Tindakan lain yang dimaksudkan dalam golongan aktivitas seksual di luar kodrat adalah tindakan masturbasi dan hubungan seks antara manusia dengan binatang. Periode yang kedua terjadi pada pertengahan abad ke-12. Pada periode ini. Kristianitas secara sistematis menghukum orang yang melakukan sodomi. Hukuman terhadap orangorang tersebut dapat berupa pencabutan hak sebagai warga negara dan bahkan eksekusi mati dengan cara dibakar. Di awal abad ke-20 Gereja Katolik menghadapi tegangan moral yang Pada tahun 1924, kelompok homoylia mengambil langkah untuk membentuk organisasi hak-hak kaum homoseksual yang bernama Society for Human Right. Gerakan tersebut menjadi pemicu gerakan-gerakan homoylia lainnya yang tersebar di berbagai daerah di Eropa dan Amerika. Novel bertemakan hak-hak kaum lesbian berjudul The Well of Loneliness terbit pada tahun 1928 di Inggris. Pada tahun 1948 buku dari Alfred Kinsey tersebar luas. Buku yang berjudul Sexual Behavior in the Human Male tersebut menyebutkan bahwa homoseksualitas merupakan kondisi normal dari rentang orientasi seksual manusia. Rangkaian peristiwa tersebut di atas menemukan katalisatornya dalam peristiwa AuStonewall Riots. Ay Pada tanggal 28 Juni 1969, polisi New York melakukan penggeledahan terhadap sebuah tempat penginapan dan bar tempat kelompok LGBT berkumpul bernama Stonewall. Penggeledahan ini memicu perselisihan antara penjaga bar, polisi dan penduduk Peristiwa tersebut berujung kepada aksi protes dari kelompok homoylia yang menyerukan hak-hak para homoseksual. Aksi protes tersebut berkembang menjadi bentrokan kekerasan dengan aparat selama Siker. Homosexuality and Religion: An Encyclopedia, pp. Lihat AuGay Rights,Ay https://w. com/topics/gay-rights/history-of-gayrights. (Diakses pada hari Senin 28 Maret 2022 pkl. Organisasi yang dibentuk di Amerika ini merupakan organisasi kelompok homoseksual yang pertama didokumentasikan. Pendiri organisasi ini bernama Henry Gerber. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 enam hari. Peristiwa yang dikenal dengan nama AuStonewall RiotsAy ini kemudian menginspirasi gerakan simpatisan homoylia di United States dan di seluruh dunia. Bagaikan gayung bersambut, gerakan untuk memperjuangkan hakhak kelompok homoseksual semakin menguat dari berbagai macam sektor. Profesi medis tidak lagi melihat homoseksualitas sebagai penyakit tetapi sebagai bagian dari keluasan rentang normal ekspresi dan perilaku seksual manusia. Citra positif kelompok homoseksual pun makin banyak bermunculan di media. Salah satu majalah nasional di United States menyajikan proyl pasangan homoseksual dalam edisi khusus mereka tentang AuKeluarga Amerika. Ay Banyak negara bagian dan pemerintah federal di Amerika menghapus undang-undang dan kebijakan yang dianggap menyudutkan kelompok homoseksual. Gerakan-gerakan tersebut menimbulkan reaksi yang berbeda-beda dari anggota Gereja Katolik. Sr. Jeannine Gramick, dari Schools Sisters of Notre Dame, dan Rm. Robert Nugent, seorang imam Salvatorian, mengajak umat Katolik untuk mengenali, memahami dan menghargai keragaman orientasi seksual. Kedua tokoh ini membentuk komunitas New Ways Ministry (NWM). 10 Pelayanan NWM berpusat pada konseling pastoral, dukungan keadilan sosial dan menyusun langkah-langkah untuk berunding dengan otoritas Institusi Gereja. Sr. Gramick dan Rm. Nugent berpartisipasi dalam menumbuhkan gerakan hak-hak kaum homoseksual dengan menyediakan pendidikan dan membentuk organisasi yang mewadahi para imam, teolog, religius, awam dan aktivis yang terlibat dalam pelayanan kelompok homoseksual Katolik. AuStonewall Riots. Au https://w. com/topics/gay-rights/the-stonewall-riots. (Diakses pada hari Senin 28 Maret 2022 pkl. Fred Fejes. Gay Rights and Moral Panic: The Origins of AmericaAos Debate on Homosexuality (New York: Palgrave Macmillan, 2. , p. 10 Lihat AuHistory,Ay https://w. org/about/history/. (Diakses pada hari Selasa 29 Maret 2022 pkl. Sr. Gramick dan Rm. Nugent terinspirasi dari surat pastoral yang ditulis oleh Francis J. Mugavero . Uskup New York kala itu. Dalam surat pastoral yang berjudul AuSexuality: GodAos GiftAy itu disebutkan untuk pertama kalinya pesan yang memberikan semangat kepada para pribadi homoseksual. 11 Howell Williams. Homosexuality and the American Catholic Church: Reconyguring the Si- Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. Tidak semua anggota Gereja Katolik sepakat dengan apa yang dilakukan Sr. Gramick dan Rm. Nugent. Beberapa Gereja Katolik lokal di Amerika bersama politikus Katolik konservatif menilai bahwa tuntutan hak-hak homoseksual melanggar hak-hak kelompok lainnya. Mereka merasa bahwa setiap orang berhak mendapat perlindungan dari penyimpangan moral dan tindakan yang tidak sesuai dengan perintah Tuhan dan anjuran agama yang benar. Melihat perkembangan isu homoseksualitas yang ada dan konyik yang muncul, otoritas Gereja Katolik mengambil sikap. Di tahun 1975. Gereja Katolik menunjukkan pandangan resminya melalui dokumen Persona Humana (PH) secara khusus dalam artikel Vi. Dokumen ini kemudian dibaca dan menjadi rujukan bagi dokumen-dokumen Gereja dan moralis yang menanggapi isu homoseksualitas di kemudian hari. Contoh dari dokumen yang merujuk dari dokumen PH adalah Letter to the Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual Persons (LTB) di tahun 1986 dan Amoris Laetitia (AL) di tahun 2016. Salah satu moralis yang memberikan tanggapan terhadap dokumen Gereja adalah John J. McNeill dalam bukunya yang terdiri dari empat edisi . 6, 1985, 1988 dan 1. yang berjudul AuThe Church And the Homosexual. Ay Di tahun 2022, isu homoseksualitas di Indonesia semakin muncul ke permukaan dan membuka ruang diskusi di antara umat Katolik. Tidak sedikit umat yang dengan tegas menolak pribadi dan tindakan homoseksual demi menegakkan nilai-nilai moral yang dijunjung. Namun demikian, tidak sedikit pula yang merangkul pribadi homoseksual sekaligus memberikan kompromi terhadap tindakan homoseksual atas nama pembelaan terhadap martabat manusia. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, kami mengajukan beberapa pertanyaan: . Bagaimana sensus ydelis umat Keuskupan Agung Jakarta terhadap homoseksualitas di tahun 2022 setelah membaca teks Persona lence, 1971Ae1999 (Florida: The Florida State University, 2. , p. 12 Fejes. Gay Rights and Moral Panic: The Origins of AmericaAos Debate on Homosexuality. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Humana artikel Vi? . Bagaimana perbandingan sensus ydelis tersebut di atas dengan scientia ydei dalam dokumen LTB, pemikiran John J. McNeill dan dokumen AL? SCIENTIA FIDEI ALIRAN PERTAMA: LETTER TO THE BISHOPS OF THE CATHOLIC CHURCH ON THE PASTORAL CARE OF HOMOSEXUAL PERSONS (LTB) Aliran scientia ydei yang pertama menolak pribadi homoseksual dan tindakan seksual berdasarkan cinta sesama jenis. Aliran ini mendasarkan argumennya dalam konsep ynalitas dan kehendak bebas. Konsep ynalitas menunjukkan bahwa tindakan seksual yang sesuai dengan kodrat manusia adalah tindakan yang terarah kepada pro-kreasi biologis. Pendekatan antropologi St. Agustinus mengatakan bahwa kodrat manusia adalah citra Allah Pencipta. Konsep tersebut mensyaratkan lelaki dan perempuan heteroseksual sebagai prakondisi proses penciptaan sebagai kodrat citra Allah Sang Pencipta. 13 Kitab Suci menunjukkan bahwa terdapat teks-teks yang melarang tindakan seksual yang tidak menuju kepada ynalitas termasuk tindakan homoseksual di dalamnya. Teks-teks tersebut baik secara implisit maupun eksplisit menyebutkan bahwa tindakan homoseksual merupakan perilaku yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Beberapa teks yang dimaksud antara lain: teks kisah penciptaan (Kejadian 1 dan . , kisah Sodom dan Gomora (Kejadian . Kitab Imamat 18. Kitab Imamat 20, 1 Korintus 6:9. Roma 1:18-32 dan 1 Timotius 1:10. Konsep kehendak bebas diadopsi dari pemikiran Agustinus yang mengatakan bahwa kehendak adalah sebuah gerakan intelek untuk memperoleh atau untuk mencegah kehilangan beberapa objek. Demikian pula, kemudian, dosa ditafsirkan sebagai keinginan untuk menyimpan atau memperoleh sesuatu yang dilarang ketika terdapat kebebasan dan 13 Andreas Nordlander. AuThe Emergence of Soul: Retrieving AugustineAos Potentialism for Contemporary Theological Anthropology,Ay Modern Theology 35, no. , pp. 14 Teks-teks tersebut secara eksplisit disebutkan sebagai dasar argumen dalam Letter to the Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual Persons Nomor 6. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. atau pilihan untuk tidak melakukannya. 15 Untuk memberi tempat kepada kehendak bebas. Agustinus menunjukkan bahwa nafsu atau dosa tidak bersifat kompulsif dan memaksa seseorang untuk melakukan suatu Ia mengatakan bahwa nafsu berada di posisi yang lebih rendah daripada intelek manusia. Bagi orang yang bijak yang memiliki orientasi kepada hal-hal abadi, hidupnya dipimpin oleh intelek untuk terus terarah kepada terang kebaikan. Subordinasi yang dimiliki oleh intelek bukan hanya dalam keutamaan, tetapi juga dalam kekuatan. Nafsu memiliki keutamaan dan kekuatan yang lebih lemah daripada intelek. Oleh karena itu, hanya keinginan dan kehendak bebas yang dapat membuat seseorang memberi tempat kepada nafsu untuk menguasai kehidupannya. Konsep ynalitas dan kehendak bebas secara ringkas dapat kita lihat dalam tabel di bawah ini: Konsep Finalitas Argumen Antropologi Teks Kitab Suci Agustinus Manusia adalah citra Allah Melarang setiap tindakan Sang Pencipta. seksual yang tidak tertuju kepada ynalitas. Martabat Citra Allah terpenuhi dalam tugas manusia meneruskan karya penciptaan dalam tindakan pro-kreasi Teks kisah penciptaan (Kejadian 1 dan . , kisah Sodom dan Gomora (Kejadian . , teks Kitab Imamat 18. Kitab Imamat 20, 1 Korintus 6:9. Roma 1:18-32 dan 1 Timotius 1:10. Finalitas tindakan seksual yaitu keterarahan terhadap transmisi 15 William S. Babcock. AuAugustine on Sin and Moral Agency,Ay The Journal of Religious Ethics 16, no. , p. 16 Babcock. AuAugustine on Sin and Moral Agency,Ay p. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Kehendak Bebas Dosa . alam hal ini tindakan homoseksua. berada dalam tataran yang lebih rendah dari kehendak bebas. Kehendak berada dalam tataran intelek, tindakan homoseksual berada dalam tataran yang lebih rendah . Kehendak bebas superior terhadap tindakan homoseksual baik dari sudut pandang nilai maupun otoritas. Konsep ynalitas dan kehendak bebas tersebut di atas diadopsi dalam dokumen yang bernama Letter to the Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual Persons (LTB). LTB merupakan surat yang ditujukan kepada para Uskup Gereja Katolik oleh Kongregasi Ajaran Iman (KAI). Surat yang dikeluarkan pada tahun 1986 ini merupakan reaksi terhadap pemahaman dan penerapan pastoral yang dianggap tidak sesuai dengan maksud dokumen PH. Pembahasan eksplisit masalah ini telah diberikan dalam AoDeklarasi tentang beberapa soal sehubungan dengan Etika SeksualAo. Kongregasi ini 29 Desember 1975. Dokumen tersebut menekankan kewajiban untuk berusaha memahami kondisi homoseksual dan mencatat bahwa kesalahan tindakan-tindakan homoseksual harus dipertimbangkan dengan arif. Sekaligus Kongregasi mencatat pembedaan umum antara kondisi atau kecenderungan homoseksual dan tindakan-tindakan homoseksual individual. Tindakan-tindakan ini dinyatakan sebagai kehilangan AutujuanAy yang hakiki dan harus ada, sebagai tindakan yang Auintrinsik burukAy, dan sama sekali tidak dapat disetujui. 17 AuLetter to the Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual PersonsAy No. 3 diterjemahkan oleh R. Ignatius Sumarya. SJ dan R. Piet Go. Carm, dalam Dokumen Gerejawi No. 69 (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. KAI merasa bahwa penafsiran umat Katolik terhadap dokumen Persona Humana terlalu AulunakAy sehingga memberi ruang terhadap pribadi homoseksual mengaktualisasikan tindakan homoseksual dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu. KAI memberikan tanggapan yang sangat keras tidak hanya terhadap relasi seksual sesama jenis tetapi juga terhadap kecenderungan homoseksual an sich. Dalam surat ini. KAI memberikan penilaian bahwa tidak hanya tindakan homoseksual yang secara intrinsik tidak sesuai dengan moral Gereja Katolik, tapi juga orientasi homoseksual secara objektif adalah sebuah keburukan . bjective disorde. Tetapi dalam diskusi yang mengikuti publikasi Deklarasi itu, diberikan interpretasi yang sangat lunak kepada kondisi homoseksual itu sendiri, beberapa bahkan terlalu jauh dengan menyebutnya netral, atau bahkan baik. Meskipun kecenderungan khusus orang homoseksual bukan dosa, hal itu kurang lebih merupakan kecondongan kuat menuju ke keburukan moral intrinsik, dan dengan demikian kecenderungan itu sendiri harus dilihat sebagai suatu keburukan objektif. Dari pernyataan dokumen LTB nomor 3 di atas, dapat dilihat bahwa pada akhirnya KAI menyebutkan bahwa kecenderungan homoseksual itu sendiri adalah sebuah keburukan yang objektif. Pernyataan ini menimbulkan konsekuensi yang tidak kecil yaitu. KAI tidak hanya menolak relasi seksual berdasarkan cinta sesama jenis tetapi juga menolak pribadi homoseksual dalam kehidupan bermasyarakat. Konsekuensi yang timbul dari pernyataan tersebut di atas adalah timbulnya diskriminasi terhadap pribadi homoseksual. Hal tersebut dapat dilihat dalam dokumen Some Considerations Concerning the Response to Legislative Proposals on the Non-Discrimination of Homosexual Persons yang dikeluarkan KAI pada tahun 1992. Meskipun dikatakan Gereja menyayangkan tindakan diskriminasi terhadap setiap pribadi homoseksual dan memandang para pribadi ini memiliki hak untuk bekerja atau hak-hal lainnya, namun demikian, ada beberapa tempat yang dirasa pribadi ini tidak cocok berada di dalamnya seperti orang tua asuh, guru atau pelatih Konferensi Wali Gereja Indonesia, 2. Selanjutnya akan ditulis LTB. 18 LTB. No. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 olahraga dan militer. KAI mengatakan bahwa orientasi seksual tidak memiliki konstitusi yang sebanding dengan suku, budaya, etnis dan lainnya untuk menuntut tindakan bebas dari diskriminasi sepenuhnya. Apabila kita membandingkan kedua variabel utama, . penerimaan pribadi homoseksual dalam masyarakat dan . penerimaan relasi seksual berdasarkan cinta sesama jenis, maka pandangan dokumen scientia ydei aliran pertama adalah sebagai berikut: Dokumen / Variabel Scientia ydei 1: LTB Penerimaan pribadi Penerimaan relasi homoseksual dalam seksual berdasarkan cinta sesama jenis Tidak menerima Tidak Menerima SCIENTIA FIDEI ALIRAN KEDUA : JOHN J. MCNEILL Aliran scientia ydei yang kedua menerima pribadi homoseksual dan relasi homoseksual. Aliran ini didasari oleh salah satu pemikir moral yang paling berpengaruh dalam perkembangan progresivitas moral seksualitas yaitu John J. McNeill. Selama lebih dari 25 tahun. John J. McNeill, seorang psikoterapis dan imam Yesuit kelahiran 2 September 1925, mewartakan kabar gembira kristiani kepada para umat Katolik yang memiliki orientasi homoseksual. Satu tahun setelah menerbitkan buku pertamanya. The Church And the Homosexual . , ia menerima teguran dari KAI agar tidak berbicara lagi di media. Selama sembilan tahun ia tidak muncul di media namun tetap melakukan pelayanan pastoral kepada para umat Katolik yang memiliki orientasi homoseksual. Pada tahun 1988, ia tidak menjalankan permintaan Kardinal Ratzinger untuk menutup seluruh pelayanannya yang berkaitan dengan isu homoseksualitas. Hal tersebut membuat ia dikeluarkan dari Serikat Yesus karena dianggap telah menentang ajaran Gereja Katolik. McNeill telah menjadi seo19 Lihat AuSome Considerations Concerning the Response To Legislative Proposals on the Non-Discrimination of Homosexual Persons,Ay No. 7,10,11,12 dan 14. https://w. va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_ cfaith_doc_19920724_homosexual-persons_en. Diakses pada Sabtu 4 September 2021 pkl. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. rang Yesuit selama hampir 40 tahun. 20 Ia mengakui secara terbuka bahwa ia seorang gay. Orientasi seksualnya itu sudah ia sadari sejak masa kanak-kanak. Pria yang menyebut dirinya seorang imam gay Katolik ini, pada tahun 2008, menikahi seorang pria bernama Charles Chiarelli kekasihnya di Toronto. McNeill menganggap bahwa pandangan moral dan model pastoral terhadap pribadi homoseksual perlu dikaji ulang. Menurutnya, konversi orientasi seksual atau anjuran untuk tidak melakukan aktivitas seksual secara total tidak dapat lagi dilakukan karena cenderung mengakibatkan gangguan emosi dan mental. Baginya, hal tersebut adalah sebuah kemustahilan atau sebuah impossibilium. McNeill menjelaskan bahwa pandangan moralnya disusun dalam rangka menanggapi pernyataan LTB Autindakan homoseksual adalah sebuah tindakan amoral. Ay Karena tindakan homoseksual merupakan tindakan amoral, maka setiap pribadi homoseksual diminta untuk melakukan abstinensi total dari seluruh aktivitas seksualnya. Menurut McNeill bentuk pastoral konseling yang bertujuan untuk konversi orientasi dan abstinensi total tidak dapat lagi dipraktikkan dalam kebanyakan kasus yang ditemui. Ketika para pribadi homoseksual dihadapkan kepada dua pilihan pastoral ini, mereka berada dalam sebuah dilema. Pilihan yang pertama adalah berada dalam kesatuan relasi dengan Gereja dengan mengorbankan keutuhan dirinya sebagai manusia dan dalam waktu yang bersamaan berada dalam kebencian diri yang berujung kepada gangguan emosi dan psikologi. Pilihan yang kedua adalah mereka menerima diri dengan utuh tetapi terpisah dari rahmat Sakramen dan segala berkat yang ada dalam kesatuan Gereja Katolik. 20 AuJohn J. McNeill: AoBoth Feet Firmly Planted in Midair. My Spiritual JourneyAo,Ay https:// org/john-j-mcneill-both-feet-yrmly-planted-in-midair-my-spiritualjourney/. (Diakses pada hari Senin 10 Mei 2021 pkl. 21 AuJohn McNeill. Priest Who Pushed Catholic Church to Welcome Gays. Dies at 90,Ay https:// com/2015/09/26/nyregion/john-mcneill-priest-who-pushed-catholic-church-to-welcome-gays-dies-at-90. html?searchResultPosition=2. (Diakses pada hari Senin 10 Mei 2021 pkl. 22 John J. McNeill. The Church and the Homosexual, e-book ed. (Beacon Press, 2. Introduction: The Need for a Reappraisal. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Berdasarkan tegangan tersebut. McNeill berpandangan bahwa dibutuhkan sebuah kondisi tertentu yang memungkinkan pribadi homoseksual Katolik tetap berada dalam kesatuan rahmat Sakramen tanpa membuatnya terpisah dari kehidupan homoseksual yang aktif. Diperlukan sebuah kondisi yang tidak membuat para pribadi homoseksual harus memilih satu dari kedua rahmat yang tersedia di hadapannya. McNeill berpendapat bahwa tugas dari Gereja Katolik adalah untuk mendampingi para pribadi homoseksual dalam memaknai dan menerima inklinasi seksualitas mereka dalam terang dan kasih Kristus. 23 Dalam kerangka yang demikian. McNeill memberikan pandangan moral yang memungkinkan setiap pribadi homoseksual dapat memasuki sebuah relasi homoseksual yang aktif dan masih tetap dapat menerima rahmat Sakramen. McNeill mendasarkan pandangan moralnya pada kondisi impossibilium yang dimiliki para pribadi homoseksual. Ia merujuk kepada penemuan sains dan pendekatan psikologi yang menyimpulkan bahwa pribadi homoseksual tidak sepenuhnya bertanggungjawab atas kondisi Pada dasarnya kehendak, orientasi seksual dan ekspresi seksual saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Terapi yang dilakukan untuk mengonversi pribadi homoseksual menjadi heteroseksual tidak berhasil bagi kebanyakan kasus. Sementara itu, hidup selibat dan abstinensi total bukan merupakan anugerah yang dimiliki oleh setiap orang. Ia menyayangkan bahwa hal yang paling membahayakan kesehatan mental seseorang justru adalah hal yang disarankan oleh KAI. Selain meminta setiap pribadi homoseksual untuk tidak melakukan tindakan homoseksual. KAI juga meminta agar pribadi homoseksual tidak menunjukkan orientasi seksual mereka di hadapan publik untuk menghindari masalah diskriminasi. Bagi McNeill permintaan tersebut tidak hanya merepresi aktualisasi dari potensi seseorang, namun juga menolak keberadaan eksistensi seseorang. Hal itu merupakan bentuk penilaian yang 23 McNeill. The Church and the Homosexual pada AuIntroductionAy. 24 McNeill. The Church and the Homosexual pada AuIntroductionAy. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. patologis bagi kesehatan mental seseorang dan menimbulkan rasa benci kepada diri sendiri . elf hatre. Pandangan McNeill sejalan dengan penelitian yang dilakukan Isay bahwa penolakan eksistensi dari pribadi homoseksual menyebabkan kerusakan mental seseorang dengan memupuk rasa benci terhadap keberadaan diri dan dapat meningkatkan keinginan bunuh diri sampai dengan 30 persen. 26 Aktualisasi diri merupakan hal yang penting untuk kesehatan mental. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nia H. Septiani, pribadi homoseksual akan menjadi pribadi yang utuh apabila dengan kehendak bebas yang ia miliki dapat mengaktualisasikan keberadaan dirinya. Mereka tidak perlu lagi menolak eksistensi dirinya sendiri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat sebuah impossibilium, dalam arti tidak mampu menanggung konsekuensi yang akan terjadi, saat pribadi homoseksual diminta untuk melakukan abstinensi atau konversi orientasi seksual. McNeill menerapkan prinsip moral impossibilium nulla obligatio est yang mengatakan bahwa dalam kondisi impossibilium, kepada subjek moral tidak dapat dikenakan kewajiban moral. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa satu-satunya jalan bagi pribadi homoseksual adalah dengan menerima eksistensinya secara utuh baik orientasi seksual maupun tindakan seksual sebagai satu bagian yang tidak terpisahkan. McNeill melihat bahwa banyak persekutuan homoseksual yang stabil yang membawa kepenuhan hidup bagi para pasangan. Ia yakin bahwa persekutuan yang demikian merupakan kondisi yang sangat baik dibandingkan dengan pergaulan bebas. Pandangan moral terhadap pri25 McNeill. The Church and the Homosexual pada AuIntroductionAy. 26 McNeill. The Church and the Homosexual pada AuIntroductionAy. Pengamatan yang serupa dijumpai pula dalam penelitian Jay P. Paul et al. AuSuicide Attempts Among Gay and Bisexual Men: Lifetime Prevalence and Antecedents,Ay American Journal of Public Health 92, no. 27 Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktualisasi diri memiliki relasi yang signiykan dengan pemaknaan hidup pada pria homoseksual. Lihat Nia H. Septiani. AuHubungan antara Tingkat Aktualisasi Diri dengan Kebermaknaan Hidup pada Pria Homoseksual,Ay Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi 4, no. , pp. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 badi homoseksual sampai kepada kesimpulan bahwa persekutuan permanen homoseksual merupakan tindakan yang terbaik dan merupakan satu-satunya cara untuk mencapai kepenuhannya sebagai seorang manusia. Apabila kita membandingkan kedua variabel utama, . penerimaan pribadi homoseksual dalam masyarakat dan . penerimaan relasi seksual berdasarkan cinta sesama jenis, maka pandangan John J. McNeill adalah sebagai berikut: Tokoh / Variabel Scientia ydei 2: John J. McNeill Penerimaan pribadi Penerimaan relasi homoseksual dalam seksual berdasarkan cinta sesama jenis Menerima Menerima SCIENTIA FIDEI ALIRAN KETIGA: AMORIS LAETITIA Aliran scientia ydei yang ketiga menerima pribadi homoseksual namun menolak tindakan homoseksual. Aliran ini mencoba untuk mendamaikan aliran yang pertama dan aliran yang kedua. Pokok pemikiran aliran ketiga ini dapat dilihat dengan jelas dalam dokumen Amoris Laetitia (AL). Tiga puluh tahun setelah dokumen PH diterbitkan. Paus Fransiskus kembali mengangkat persoalan homoseksualitas dalam dokumen Amoris Laetitia (AL). Dokumen ini pada dasarnya ditujukan kepada pasangan kristiani yang telah menikah dan membahas berbagai macam tema dengan cakupan yang luas tentang kehidupan pernikahan. Secara khusus topik homoseksualitas dalam keluarga diberi tempat dalam nomor 250 28 McNeill. The Church and the Homosexual. Introduction: The Need for a Reappraisal. Moral Theology and Homosexuality. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. Paus Fransiskus merasakan keresahan yang dialami oleh para orang tua yang memiliki seorang anak dengan orientasi homoseksual. Demikian pula halnya dengan kegalauan yang dirasakan sang anak ketika menyadari bahwa dirinya berbeda dari kebanyakan orang. Dalam situasi yang tidak mudah ini. Gereja hadir mendampingi dan memberi dukungan. Bapa Suci dalam dokumen AL mengajak setiap orang, tanpa memandang orientasi seksual, menghormati martabat sang anak, menerima dengan rasa hormat dan dengan hati-hati menghindari setiap tanda diskriminasi yang tidak adil. Gereja mencontoh sikap Tuhan Yesus, yang menawarkan cinta-Nya yang tak terbatas kepada setiap orang tanpa kecuali. Bersama para Bapa Sinode, saya telah mempertimbangkan situasi keluarga-keluarga yang menghayati pengalaman memiliki anggota keluarga dengan kecenderungan homoseksual, mengalami situasi yang tidak mudah baik bagi orang tua maupun bagi anak-anak. Maka, kami pertama-tama ingin menegaskan kembali bahwa setiap orang, tanpa memandang orientasi seksual mereka, harus dihormati martabatnya dan diterima dengan rasa hormat, dengan hati-hati menghindari Ausetiap tanda diskriminasi yang tidak adil,Ay khususnya segala bentuk agresi dan kekerasan. Kepada keluarga-keluarga tersebut haruslah diberikan bimbingan pastoral dengan penuh hormat, sehingga mereka yang menunjukkan kecenderungan homoseksual dapat menerima bantuan yang mereka butuhkan untuk memahami sepenuhnya dan melaksanakan kehendak Allah dalam hidup mereka. Dalam hal kehidupan perkawinan. AL tidak memberikan ruang pasangan homoseksual untuk saling menerimakan Sakramen Perkawinan sebagaimana pasangan heteroseksual dalam Gereja Katolik. AL masih memegang teguh bahwa tindakan relasi seksual berdasarkan cinta sesama jenis ditolak dalam Gereja Katolik. Dalam membahas martabat dan misi keluarga, para Bapa Sinode mengamati bahwa. Aumengenai usulan untuk menempatkan persatu29 Amoris Laetitia. No. https://w. va/content/dam/francesco/pdf/apost_exhortations/documents/papa-francesco_esortazione-ap_20160319_amoris-laetitia_en. (Diakses pada hari Senin 21 Maret 2022 pkl. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 an antara orang-orang homoseksual pada tingkat yang sama dengan perkawinan, tidak ada dasar sama sekali untuk mempertimbangkan persatuan homoseksual dengan cara apa pun sebagai bentuk yang mirip atau bahkan sedikit analog dengan rencana Allah bagi perkawinan dan hidup berkeluargaAy. Tidak dapat diterima Aubahwa Gereja-Gereja lokal harus tunduk terhadap tekanan dalam perkara ini dan bahwa badan-badan internasional mensyaratkan bantuan keuangan kepada negara-negara miskin untuk introduksi hukum yang menetapkan AoperkawinanAo antara orang-orang berjenis kelamin sama. Ay AL memang dengan tegas mengakui martabat pribadi homoseksual bahkan mengajak setiap orang untuk tidak melakukan diskriminasi atas orientasi seksual seseorang. Namun demikian, relasi seksual yang berdasarkan cinta sesama jenis tetap tidak dapat diterima sehingga sebagai konsekuensinya perkawinan homoseksual tidak mendapat tempat dalam Gereja Katolik. Apabila kita membandingkan kedua variabel utama, . penerimaan pribadi homoseksual dalam masyarakat dan . penerimaan relasi seksual berdasarkan cinta sesama jenis, maka pandangan dokumen AL adalah sebagai berikut: Dokumen / Variabel Scientia ydei 3: AL Penerimaan pribadi Penerimaan relasi homoseksual dalam seksual berdasarkan cinta sesama jenis Menerima Tidak Menerima SENSUS FIDEI UMAT KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA (KAJ) TERHADAP PENERIMAAN PRIBADI HOMOSEKSUAL DALAM MASYARAKAT DAN RELASI SEKSUAL BERDASARKAN CINTA SESAMA JENIS PADA TAHUN 2022 Pada tanggal 8 November sampai dengan 15 November 2022, kami melakukan survei terhadap umat Katolik yang menaruh perhatian terhadap isu homoseksualitas. Survei tersebut di atas disusun dalam bentuk google form dengan bentuk kombinasi pertanyaan tertutup dan terbuka. Kami mendistribusikan kuesioner melalui aplikasi Whats App dan Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. Instagram. Kuesioner ini didistribusikan dengan maksud untuk mengetahui sensus ydei umat KAJ di tahun 2022 dalam menyikapi isu homoseksualitas. Kami menyertakan teks dari dokumen Persona Humana artikel Vi yang merupakan dokumen Magisterium pertama yang membahas isu homoseksualitas. Populasi sampel adalah mereka yang beragama Katolik dan memiliki kepedulian terhadap isu homoseksualitas. Oleh karena itu dalam keterangan pendistribusian kuesioner dicantumkan dua syarat yaitu beragama Katolik dan memiliki kepedulian terhadap isu homoseksualitas. Untuk mendapatkan sampel umat KAJ, maka pengambilan sampel dilakukan dengan metode pengambilan sampel acak berstrata . tratiyed random samplin. dengan memisahkan hasil survei yang diperoleh dari umat KAJ dengan umat Keuskupan lain. Kutipan dokumen PH yang kami lampirkan dalam kuesioner merupakan teks dalam Seri Dokumen Gerejawi nomor 69 tentang homoseksualitas yang diterjemahkan oleh Ignatius Sumarya. SJ dan Piet Go. Carm. Teks yang kami cantumkan untuk dipahami oleh para responden dalam google form adalah sebagai berikut: AuTentulah dalam reksa pastoral orang-orang homoseksual demikian itu harus diterima dengan pengertian dan menguatkan mereka dalam harapan untuk pada suatu waktu mengatasi kesulitan mereka dan keterasingan sosial mereka. Kesalahan mereka harus dinilai dengan arif. Au . AuTetapi tak pernah boleh dipakai jalan atau cara pastoral yang memberi pemaafan moral kepada mereka, hanya karena tindakan mereka dianggap sesuai dengan keadaan pribadi mereka. Karena menurut tata moral objektif hubungan-hubungan homoseksual merupakan tindakan yang kehilangan tatanan hakiki yang harus Ay Setelah memaparkan hasil penelitian, kami membandingkan penerimaan umat Katolik terhadap homoseksualitas di tahun 2022 dengan do- DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 kumen LTB, pemikiran John J. McNeill dan dokumen AL. Dari data yang telah kami terima tersebut, kami akan menganalisis arah kecondongan penerimaan umat Katolik terhadap homoseksualitas di tahun 2022 dibandingkan dengan LTB . , posisi moral John J. McNeill . dan AL . Variabel utama yang kami jadikan perbandingan adalah . penerimaan umat terhadap pribadi homoseksual dan . penerimaan umat terhadap relasi seksual sesama jenis. HASIL SURVEI Sejak tanggal 8 November 2022 sampai dengan 15 November 2022 kami menerima 732 responden yang terdiri dari 566 responden berasal dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan 166 responden berasal dari Keuskupan lainnya. Asal Keuskupan Valid Valid Cumulative Percent Percent Frequency Percent KAJ Lainnya Total Sebanyak 35% responden berusia 15-35 tahun, 44. 8% responden berusia 36-55 tahun dan 20. 2% responden berusia di atas 55 tahun. Rentang Usia Valid Valid Cumulative Percent Percent Frequency Percent >55 Total Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. Sebanyak 41. 9% responden mengidentiykasikan dirinya sebagai lelaki, 1% perempuan, 0. 5% transwoman dan 0. 4% lainnya. Jenis Kelamin Valid Valid Cumulative Percent Percent Frequency Percent Lelaki Perempuan Transwoman Lainnya Total Sebanyak 54% responden selesai menempuh pendidikan S1, 19. 1% selesai menempuh pendidikan S2, 19% responden selesai menempuh pendidikan SMA. Pendidikan Terakhir Cumulative Percent Percent Percent Lulus S1 Lulus S2 Lulus D3 Profesi Lainnya Total Lulus SD Lulus SMP Lulus Valid Valid Frequency SMA Dari 732 orang responden, 85. 5% atau sebanyak 626 orang belum pernah membaca dokumen PH dan 14. 5% atau sebanyak 106 orang sudah pernah membaca dokumen PH. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Riwayat Membaca Dokumen PH Cumulative Percent Percent Percent Ya, saya pernah Valid Valid Frequency Tidak. Saya belum pernah membaca Total Kami mengajak responden untuk membaca dan memahami dokumen PH artikel Vi dengan pembagian sebagai berikut: Pertanyaan 1. AuBagaimana pemahaman Anda terhadap kalimat di bawah ini yang tercantum dalam dokumen tersebut? AuTentulah dalam reksa pastoral orang-orang homoseksual demikian itu harus diterima dengan pengertian dan menguatkan mereka dalam harapan untuk pada suatu waktu mengatasi kesulitan mereka dan keterasingan sosial mereka. Kesalahan mereka harus dinilai dengan arif. Au Pribadi homoseksual harus diterima dalam kelompok sosial masyarakat Pribadi homoseksual tidak diterima dalam kelompok sosial masyarakat Lainnya:. Ay Sebanyak 72. 8% responden memahami dari teks di atas bahwa pribadi homoseksual harus diterima dalam masyarakat. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. Pemahaman Pertanyaan 1 Valid Cumulative Percent Percent Frequency Percent Lainnya Total Pribadi homoseksual harus diterima dalam kelompok sosial Valid Pribadi homoseksual tidak diterima dalam kelompok sosial Pertanyaan 2. Bagaimana pemahaman Anda terhadap kalimat di bawah ini yang tercantum dalam dokumen tersebut? AuTetapi tak pernah boleh dipakai jalan atau cara pastoral yang memberi pemaafan moral kepada mereka, hanya karena tindakan mereka dianggap sesuai dengan keadaan pribadi mereka. Karena menurut tata moral objektif hubungan-hubungan homoseksual merupakan tindakan yang kehilangan tatanan hakiki yang harus ada. Ay Hubungan seksual yang bercirikan cinta sesama jenis tidak dapat diterima Gereja Katolik Hubungan seksual yang bercirikan cinta sesama jenis dapat diterima Gereja Katolik Lainnya:. Ay Setelah membaca pernyataan pada teks di atas, 84. 3% responden memahami bahwa hubungan seksual berdasarkan cinta sesama jenis ditolak. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Pemahaman Pertanyaan 2 Valid Cumulative Percent Percent Frequency Percent Lainnya Total Hubungan seksual yang bercirikan cinta sesama jenis tidak dapat diterima Gereja Katolik Valid Hubungan seksual yang bercirikan cinta sesama jenis dapat diterima Gereja Katolik Sesudah mencoba memahami teks dokumen PH, para responden diminta pendapatnya terkait penerimaan mereka terhadap homoseksualitas. Sebanyak 73% responden memilih opsi Aupribadi homoseksual diterima namun relasi seksual sesama jenis ditolakAy. 4% responden menolak baik pribadi homoseksual maupun relasi seksual sesama jenis. responden menerima pribadi homoseksual dan relasi sesama jenis dan 5% responden memiliki pendapat di luar pilihan yang telah disediakan. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. Penerimaan Umat KAJ dan Keuskupan Lain Terhadap Homoseksualitas Valid Cumulative Percent Percent Frequency Percent Lainnya Total Pribadi tetapi tidak hubungan seksual sesama jenis Pribadi Valid homoseksual dan hubungan seksual sesama jenis Menolak pribadi homoseksual dan hubungan seksual sesama jenis DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Secara khusus, di bawah ini adalah data tabulasi silang dengan memisahkan hasil suvei penerimaan terhadap homoseksualitas umat KAJ dari umat Keuskupan lain. Asal Keuskupan *Penerimaan Terhadap Homoseksualitas Crosstabulation Penerimaan Terhadap Homoseksualitas Pribadi homoseksual tetapi tidak Lain- KAJ Menolak Total jenis dit- sesama Count Pribadi 74,2% 5,5% 14,5% 5,8% 100,0% 68,7% 8,4% 9,6% 13,3% 100,0% 73,0% 6,1% 13,4% 7,5% 100,0% % within asal keuskupan Count Lainn- % within asal keuskupan Count Total % within asal keuskupan Sebanyak 74. 2% responden yang berasal dari KAJ menerima pribadi homoseksual namun menolak relasi homoseksual. 5% responden meno- Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. lak pribadi homoseksual dan relasi homoseksual. 5% responden menerima pribadi homoseksual dan relasi homoseksual. Menolak Responden/ Variabel Pribadi Homoseksual dan Relasi Homoseksual Umat KAJ Menerima Pribadi Homoseksual namun Menolak Relasi Homoseksual Menerima Pribadi Homoseksual dan Relasi Homoseksual PEMBAHASAN 1: KESERASIAN ANTARA SENSUS FIDEI UMAT KAJ PADA TAHUN 2022 DENGAN KETIGA ALIRAN SCIENTIA FIDEI Penerimaan umat Katolik terhadap pribadi homoseksual mengalami dinamika dari waktu ke waktu. Pada abad pertama Masehi, komunitas Kristiani sepakat menolak pribadi homoseksual dan tindakan seksual karena dianggap sebagai sebuah penyimpangan terhadap kodrat seksualitas manusia. Puncak penolakan homoseksualitas tampak pada abad ke12 di mana Gereja tidak hanya menolak, tetapi juga memberikan hukuman terhadap orang-orang yang melakukan tindakan homoseksual berupa pencabutan hak sebagai warga negara dan bahkan eksekusi mati dengan cara dibakar. Seiring dengan perkembangan waktu, secara khusus pemimpin Gereja Katolik yang bertanggung jawab atas Magisterium Gereja Katolik, melalui scientia ydei, menyatakan pendapatnya melalui dokumen PH pada tahun 1975. 30 Pernyataan posisi Gereja Katolik saat itu sebenarnya tidak dengan sangat tegas menyatakan penolakan atau penerimaan seutuhnya homoseksualitas. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa posi- 30 Hasil berteologi dengan mereyeksikan, menyebarkan konsep dan menggunakan prosedur rasional untuk mencapai kesimpulan ajaran atau sikap moral tertentu. Lihat pengertian scientia ydei dalam Komisi Teologi Internasional. Sensus Fidei. Penerjemah RP Thomas Eddy Susanto. SCJ (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Wali Gereja Indonesia, 2. No. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 si Gereja dalam rangka reksa pastoral menerima pribadi homoseksual namun menolak pembenaran moral hubungan seksual sesama jenis. Dokumen PH selanjutnya pun direyeksikan dengan sudut pandang yang tidak selalu sejalan. Bila kita bandingkan dokumen LTB tahun 1986 dan posisi moral John J. McMeill tahun 1993 memiliki pandangan yang sangat berbeda. Pada tahun 2016, melalui dokumen AL. Paus Fransiskus mereyeksikan isu homoseksualitas secara partikular dalam konteks berkeluarga. Dengan sangat jelas dokumen AL membedakan antara penerimaan terhadap pribadi homoseksual dan penolakan terhadap hubungan seksual sesama jenis. Sensus ydei ydelis adalah semacam naluri spiritual dari umat beriman yang memungkinkan mereka menilai secara spontan apakah suatu ajaran atau praktik tertentu sesuai atau tidak dengan Injil dan dengan iman 31 Hasil survei penerimaan umat Katolik terhadap pribadi homoseksual yang kami terima dalam arti tertentu merupakan sebuah sensus ydei ydelis. Sensus ydei umat terkait penerimaan pribadi homoseksual dibandingkan dengan scientia ydei dalam LTB, posisi moral John J. McNeill dan AL adalah sebagai berikut: Sikap Iman Scientia Fidei 1: LTB . Scientia Fidei 2: Mc Neill Scientia Fidei 3: AL . 2% Sensus Fidei Fidelium KAJ . Penerimaan dalam masyarakat Menolak Menerima Menerima Menerima Penerimaan Menolak relasi seksual cinta sesama Menerima Menolak Menolak Sensus ydei ydelis yang kami terima dari survei yang telah kami bagikan menunjukkan bahwa 74. 2% umat KAJ menerima pribadi homoseksual dalam masyarakat kendati menolak relasi seksual berdasarkan cinta se31 Sensus Fidei. No. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. sama jenis. Mayoritas sensus ydei umat KAJ terhadap penerimaan pribadi homoseksual di tahun 2022 sejalan dengan scientia ydei aliran ketiga yang diwakilkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus dalam dokumen AL. PEMBAHASAN 2: SENSUS FIDEI FIDELIS KONTESKTUAL SEBAGAI KONTROL UMPAN BALIK AJARAN MAGISTERIUM Pertanyaan selanjutnya adalah AuApakah sensus ydei ydelis dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam mengambil sebuah penilaian moral?Ay Dalam dokumen Sensus Fidei paragraf 2 disebutkan:32 ] umat beriman memiliki naluri akan kebenaran Injil, yang memungkinkan mereka mengenali dan mendukung doktrin dan praktik Kristen yang autentik, dan menolak apa yang salah. Naluri supernatural itu, yang secara intrinsik terkait dengan karunia iman yang diterima dalam persekutuan Gereja, disebut naluri iman, dan itu memungkinkan orang Kristen untuk memenuhi panggilan kenabian mereka. Dalam pidato Angelus pertamanya. Paus Fransiskus mengutip kata-kata seorang wanita tua yang rendah hati yang pernah ditemuinya: AoJika Tuhan tidak mengampuni segalanya, dunia tidak akan adaAo. dan dia berkomentar dengan kekaguman: Aoitulah hikmat yang diberikan Roh KudusAo. Wawasan wanita adalah manifestasi mencolok dari naluri iman, yang, serta memungkinkan penegasan tertentu sehubungan dengan hal-hal iman, menumbuhkan kebijaksanaan sejati dan memunculkan, seperti di sini, pada proklamasi kebenaran. Oleh karena itu, jelaslah bahwa sensus ydei adalah sumber vital bagi evangelisasi baru yang menjadi komitmen kuat Gereja di zaman kita ini. Paragraf ini memberikan penekanan bahwa pada dasarnya sensus ydei merupakan karya Roh Kudus yang dimiliki oleh setiap umat beriman. Kendati demikian, keyakinan tersebut direyeksikan lebih lanjut ketika terjadi reformasi Protestan pada abad ke-16 yang mengkritisi kewenangan tradisi dan Magisterium dan mengajukan sola scriptura sebagai dasar iman kristiani. 32 Sensus Fidei. Paragraf 2. 33 Sensus Fidei. Paragraf 29. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Peristiwa reformasi Protestan seolah-olah menunjukkan tegangan antara sensus ydei sebagai dimensi Pneumatologis dengan Magisterium sebagai dimensi Kristologis. Tegangan ini seolah mempertentangkan antara inspirasi Roh Kudus, yang diterima umat beriman untuk menilai suatu fenomena tertentu, dengan kuasa Kristus sebagai guru, dalam Magisterium Gereja, yang memberikan validasi atas penilaian fenomena tertentu. Michael Seybold dalam sebuah artikel yang ditulisnya pada tahun 1975 mengatakan bahwa Pneumatologi dan Kristologi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam dinamika Eklesiologi Gereja. Unity tidak selalu ditandai dengan uniformity. Ia menegaskan pula bahwa sensus ydei merupakan bagian dari partisipasi aktif umat awam dalam menanggapi sebuah pewahyuan. Dokumen Sensus Fidei paragraf 80 mencoba menjelaskan dan memberikan solusi apabila terjadi pertentangan antara ajaran Magisterium dan sensus ydei umat awam: Akan tetapi, ada saat-saat penerimaan ajaran magisterial oleh umat beriman menemui kesulitan dan perlawanan, dan dalam situasi demikian diperlukan tindakan yang tepat dari kedua belah pihak. Umat beriman harus merenungkan ajaran yang telah diberikan, berusaha semaksimal mungkin untuk memahami dan menerimanya. Perlawanan, pada prinsipnya, terhadap ajaran Magisterium tidak sesuai dengan sensus ydei yang autentik. Magisterium juga harus merenungkan ajaran yang telah diberikan dan mempertimbangkan apakah perlu klarifikasi atau reformulasi. Teks tersebut di atas menunjukkan posisi Magisterium sebagai kontrol atas sensus ydei yang muncul dalam dinamika umat beriman. Fungsi kontrol dari Magisterium ini sejalan dengan pemikiran Kardinal Newman yang mengatakan bahwa umat beriman memerlukan konsultasi terutama dalam hal devosi dan pujian. 36 Namun demikian, dalam teks Sen34 John J. Burkhard. AuSensus ydei: Theological reyection since vatican II: I. Ay Heythrop Journal 34, no. , p. 35 Sensus Fidei. Paragraf 80. 36 Burkhard. AuSensus ydei: Theological reyection since vatican II: I. Ay, p. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. sus Fidei paragraf 80, dijelaskan pula bahwa Magisterium juga memberi ruang untuk merenungkan ajaran yang telah diberikan terutama kalau ada keraguan dalam memberikan sebuah penilaian terhadap fenomena Dalam konteks homoseksualitas, ajaran Magisterium seperti PH memiliki tanggapan atau tafsir yang berbeda-beda seperti yang terlihat dalam dokumen LTB, pemikiran John J. McNeill, dan dokumen terakhir AL. Dalam kondisi posisi Magisterium yang tidak terlalu tegas dibutuhkan sebuah kontrol umpan balik untuk menegaskan keraguan Gereja dalam mengambil suatu sikap terhadap penilaian moral, di sini sensus ydei ydelis mengambil peran yang penting. Gereja perlu membandingkan ketiga aliran scientia ydei tentang homoseksualitas dengan sensus ydei kontekstual umat di Keuskupan masing-masing dan mengambil sikap mana yang paling cocok bagi pertumbuhan iman umat beriman. Dengan demikian. Gereja setempat tidak perlu kebingungan terhadap tiga aliran yang berbeda dalam menanggapi isu homoseksualitas. Gereja dapat melakukan pengecekan silang dengan sensus ydei umat yang ada dalam konteks Gereja masing-masing. Dalam hal ini, sensus ydei ydelis kontekstual menjadi sebuah mekanisme kontrol umpan balik terhadap ajaran Magisterium yang dikeluarkan atau pun terhadap aliran scientia ydei yang berbeda-beda. Dalam konteks Keuskupan Agung Jakarta, sebanyak 74. 2% responden menerima pribadi homoseksual namun menolak relasi homoseksual. 5% responden menolak pribadi homoseksual dan relasi homoseksual. 5% responden menerima pribadi homoseksual dan relasi homoseksual. Berdasarkan hasil pengumpulan data di tahun 2022 tersebut, dapat dilihat bahwa, kemungkinan, posisi moral yang paling cocok untuk umat beriman KAJ adalah sesuai dengan aliran scientia ydei yang ketiga atau yang berada dalam ajaran Magisterium AL di tahun 2016. PEMBAHASAN 3: CONSENSUS FIDELIUM SEBAGAI CITA CITA MORAL AD EXPERIMENTUM Salzman dan Lawler mengatakan bahwa metodologi antropologi mengalami perkembangan dan dipengaruhi cara memandang dunia yang DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Perbedaan tersebut terletak dalam pergeseran dari pandangan dunia yang statis menjadi pandangan dunia yang historis. 37 Mary Rose Barral juga berpendapat bahwa manusia tidak dapat terlepas dari kesadaran akan pengalaman hidup dan historisitas. Sebagai contoh, pengalaman hidup di abad ke-21 mengalami perubahan dan memiliki banyak perbedaan dibandingkan abad-abad sebelumnya. Reyeksi akan manusia tidak bisa lepas dari dunia sekitar. Manusia berada dalam sejarah. Setiap interpretasi martabat manusia dikenali dalam pengaruh pemahaman sejarah. Sebagaimana pemahaman tentang kepenuhan manusia berevolusi dan berubah, demikian pula persepsi kita tentang kepenuhan martabat manusia. Kesadaran historis merupakan alat epistemologi yang esensial. Kesadaran ini membuat kita memahami bahwa kemanusiaan yang sejati tidak didasarkan semata-mata pada persepsi tunggal yang tetap, melainkan dibentuk dari dialog terus menerus masa kini dengan masa lalu dan menuju masa depan. Kesadaran manusia akan historisitas membentuk dimensi yang disebut dengan Auperkembangan. Ay Salah satu komponen esensial dalam historisitas manusia adalah berkembangnya konsep tentang nilai-nilai kebaikan dalam diri manusia. Pengenalan dan penyadaran nilai-nilai kebaikan bergantung pada perkembangan psikologi dan kedewasaan moral seseorang untuk memahami kebaikan-kebaikan dasar dan implikasinya dalam kehidupan bersama. 37 Salzman and Lawler. The Sexual Person: Toward a Renewed Catholic Anthropology (Washington. : Georgetown University Press, 2008,) p. 38 Lihat Mary Rose Barral. AuIn the Moral Sense and Its Foundational Siginiycance: Self. Person. Historicity. Community,Ay dalam Anna Teresa Tymieniecka . The Phenomenologico-Sociological Conception of the AoHuman Being on the Brink-of ExistenceAo: A New Approach To Socio-Communal Psychiatry (Dordrecht. Boston. London: Kluwer Academic Publishers, 1. , p. 39 Salzman and Lawler. The Sexual Person: Toward a Renewed Catholic Anthropology, p. 40 Salzman and Lawler. The Sexual Person: Toward a Renewed Catholic Anthropology, p. Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg menganalogikan perkembangan pemahaman konsep-konsep kehidupan seperti layaknya perkembangan reyeksi nilai-nilai yang terjadi oleh seseorang dari anak kecil sampai dengan usia dewasa. Perkembangan tersebut terjadi karena ada unsur-unsur pengetahuan baru yang diterima dalam proses seseorang menjadi dewasa. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. Pemahaman nilai-nilai kebaikan banyak dibentuk oleh kultur. Nilai-nilai ini merupakan entitas yang transenden dan berada dalam kultur. Setiap hermeneutika mengalami dialog dengan budaya dan pemahaman manusia dalam kultur tersebut. Hubungan nilai-nilai kebaikan dan kultur serupa dengan dialog antara manusia dan masyarakat. Nilai-nilai kebaikan kerap dijadikan sebagai kritik terhadap sebuah kultur, tetapi juga kultur membantu pembentukan sebuah nilai-nilai kebaikan. Richard W. McCarty melihat bahwa tuntutan perubahan nilai selalu disertai dengan adanya resistensi dari kelompok tradisional baik partikular ataupun institusional. 42 Hal inilah yang menimbulkan tegangan dalam proses perkembangan reyeksi atas suatu peristiwa. Meskipun demikian, perubahan selalu hadir dalam historisitas manusia. Pandangan moral terhadap seksualitas manusia mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Sebagai contoh. Gregorius dari Nyssa berpendapat bahwa seksualitas tidak mendapat bagian dalam kehidupan di Taman Eden. Sebagaimana disampaikan oleh Phil Sherrard. Gregorius melihat kehidupan manusia sebelum peristiwa AukejatuhanAy dipenuhi oleh kekekalan dan keutuhan. Kedua kondisi itu mengandaikan absennya dimensi seksualitas. Saat ini, pandangan Gereja Katolik tentang seksualitas tidaklah semata-mata seperti apa yang telah dikatakan oleh Gregorius Nyssa. Seksualitas lebih dianggap sebagai bagian yang integral dalam hidup manusia. Gereja menerima pandangan yang mengatakan bahwa pribadi manusia secara mendalam dipengaruhi oleh seksualitas. Bahkan seksualitas manusia mempengaruhi dimensi biologi, psikologi, spiritual dan karakter 41 Salzman and Lawler. The Sexual Person: Toward a Renewed Catholic Anthropology, p. 42 Richard W. McCarty. Sexual Virtue: An Approach to Contemporary Christian Ethics (New York: Sunypress, 2. , p. 43 McCarty. Sexual Virtue: An Approach to Contemporary Christian Ethics, p. 44 PH Artikel 1. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Sebagaimana pengayaan dan perkembangan konsep umum seksualitas semenjak zaman Bapa-bapa Gereja sampai dengan saat ini, demikian juga secara khusus konsep orientasi seksual perlahan-lahan mendapat pengayaan pandangan yang baru. Pandangan-pandangan baru ini tidak serta merta menghilangkan atau menegasi pandangan yang lama melainkan melengkapi dan menambah kekayaan reyeksi Gereja. Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan dalam Lumen Gentium bahwa Roh meremajakan Gereja dan tiada henti memperbaruinya. 45 Gereja terus melakukan dialog dengan perkembangan zaman. Agustinus dalam perkembangan teologinya pun mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pandangannya tentang Gereja berubah seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dialog yang ia alami. Perubahan cara pandang inilah yang kami duga menyebabkan ajaran Magisterium di tahun 2016 (AL) paling cocok dengan hasil survei sensus ydei 74,2% umat KAJ di tahun 2022 dibandingkan dengan ajaran Magisterium di tahun 1986 yang hanya sesuai dengan sensus ydei 14. Namun demikian, seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan kedua, sensus ydelis Ausemata-mataAy merupakan sebuah mekanisme umpan balik untuk menguji atau mengambil sikap dari pandangan Magisterium yang tidak terlalu tegas atau memilih salah satu pandangan dari aliran scientia ydei yang ada. Untuk menjadikan sensus ydelis sebagai ajaran iman atau pandangan moral dibutuhkan sebuah kesepakatan . Consensus ydelium . esepakatan ima. adalah kriteria pasti untuk menentukan apakah suatu doktrin atau praktik tertentu termasuk dalam iman apostolik. 45 Lihat. Lumen Gentium, dalam R. Hardawiryana. SJ (Penerjema. Dokumen Konsili Vatikan II (Jakarta: OBOR, 2. Artikel 4. 46 Dalam Paul CV Vuntarde and Johannes Van Oort. AuAugustineAos Ecclesiology and Its Development Between 354 and 387 AD,Ay HTS: Theological Studies 69, no. Pemikiran Agustinus mengalami perkembangan dari periode lahir- 19 tahun, 19-28 tahun, 29 tahun Ae pertobatan, dan pertobatan Ae baptis. Dalam artikel tersebut tampak jelas bahwa Agustinus mengalami pandangan Eklesiologi yang dinamis dalam dialognya dengan kelompok Manikein dan Gereja Katolik Roma di Afrika Utara. 47 Sensus Fidei. Paragraf 3. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. Dalam menanggapi isu homoseksualitas, kami melihat bahwa consensus ydelium dapat dijadikan sebuah acuan moral dalam konteks zaman Konsep dinamis consensus ydelium harus tetap diberi tempat untuk memberi ruang terhadap pemahaman antropologi yang berkembang dari waktu ke waktu. Dengan demikian, consensus ydelium ini dapat menjadi sebuah acuan atau cita-cita moral yang bersifat ad experimentum. Penerimaan pribadi homoseksual dibarengi dengan penolakan terhadap hubungan seks sesama jenis adalah hasil 74. 2 % sensus ydei umat KAJ di tahun 2022. Hasil tersebut dapat dijadikan sebuah consensus ydelium atau sebuah acuan moral ad experimentum dalam memberikan sikap moral terhadap isu homoseksualitas di KAJ. Setidaknya sampai saat ini, naluri iman umat melihat relasi homoseksual atau hubungan seksual berdasarkan cinta sesama jenis tidak sesuai dengan ajaran dan tradisi moral Gereja. Naluri iman tersebut memberikan sebuah cita-cita moral bahwa pribadi homoseksual dapat mempraktikkan abstinensia dalam kehidupan Tidak menutup kemungkinan cita-cita moral ini dapat berubah di kemudian hari seiring dengan pemahaman yang lebih utuh terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara khusus seksualitas manusia. KESIMPULAN Berdasarkan ketiga pembahasan di atas, kami melihat bahwa Gereja Katolik memiliki kekayaan intelektual dalam bentuk scientia ydei yang dapat digunakan sebagai pertimbangan moral dalam menyikapi isu homoseksualitas. Namun demikian, tidak mudah untuk memilih salah satu dari tiga aliran scientia ydei yang berkembang dalam ranah intelektual Gereja Katolik. Oleh karena itu, konteks masyarakat setempat menjadi sebuah instrumen kontrol umpan balik dan pertimbangan dalam pengambilan posisi moral tertentu terhadap isu homoseksualitas tersebut. Dalam konteks KAJ, ditemukan bahwa 74. 2% sensus ydei ydelis KAJ sesuai dengan scientia ydei aliran ketiga yaitu menerima pribadi homoseksual dalam kehidupan bermasyarakat meskipun menolak hubungan seksual sesama jenis. Hal ini menunjukkan pengalaman iman umat KAJ membentuk sebuah sensus ydei ydelis yang menjunjung martabat setiap DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 manusia termasuk pribadi homoseksual. Dalam pengalaman historisitas yang berkembang, posisi moral umat KAJ dalam melihat hubungan seksual tetap berpegang pada relasi seksual yang bersifat heteronormatif. Fakta bahwa terdapat aliran scientia ydei yang menerima relasi seksual berdasarkan cinta sesama jenis . menunjukkan bahwa kemungkinan memandang relasi seksual di luar dominasi heteronormatif tetap terbuka. Dengan demikian instrumen kontrol umpan balik terhadap scientia ydei saat ini tidak pernah bersifat statis yang berarti terbuka terhadap pembaruan di kemudian hari apabila pandangan yang berlaku saat ini dalam arti tertentu dapat di-falsiykasi oleh pengalaman historisitas mendatang. Demikian pula sebaliknya bila di kemudian hari pengalaman iman umat memandang bahwa scientia ydei aliran pertama lebih cocok dalam suatu konteks zaman maka kemungkinan untuk menolak pribadi homoseksual dan relasi homoseksual tetap terbuka. Oleh karena itu, sensus ydei yang merupakan kontrol umpan balik sebuah scientia ydei atau ajaran Magisterium menjadi sebuah pandangan cita-cita moral yang bersifat ad experimentum. Dengan demikian kami menyimpulkan bahwa menerima pribadi homoseksual dan menolak tindakan homoseksual merupakan sebuah sikap rujukan moral ad experimentum dalam menyikapi isu homoseksualitas di Keuskupan Agung Jakarta di tahun 2022. DAFTAR RUJUKAN BUKU. DOKUMEN. ARTIKEL Association. American Psychological. AuThe Guidelines for Psychological Practice with Lesbian. Gay, and Bisexual Clients. Ay Washington. DC: Council of Representatives . Barral. Mary Rose. AuIn The Moral Sense and Its Foundational Siginiycance: Self. Person. Historicity. CommunityAy dalam Anna Teresa . ) Tymieniecka. The Phenomenologico-Sociological Conception of the AuHuman Being on the Brink-of ExistenceAy: A New Approach to Socio-Communal Psychiatry. Dordrecht. Boston. London: Kluwer Academic Publishers, 1990. Babcock. William S. AuAugustine on Sin and Moral Agency. Ay The Journal of Religious Ethics 16, no. : 28-55. Sensus Fidei Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (Albertus Adiwenant. Burkhard. John J. AuSensus ydei: Theological reyection since Vatican II: I. Ay Heythrop Journal 34, no. : 451-452. Fejes. Fred. Gay Rights and Moral Panic: The Origins of AmericaAos Debate on Homosexuality. New York: Palgrave Macmillan, 2008. Komisi Teologi Internasional. Sensus Fidei. Terj. Thomas Eddy Susanto. SCJ. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Wali Gereja Indonesia, 2022. Kongregasi Ajaran Iman. Some Considerations Concerning the Response to Legislative Proposals on the Non-Discrimination of Homosexual Persons. Vatikan, 1992. https://w. va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_19920724_homosexual-persons_en. Konsili Vatikan II. Lumen Gentium. Terj. Hardawiryana. SJ. dalam Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: OBOR, 2013. McCarty. Richard W. Sexual Virtue: An Approach to Contemporary Christian Ethics. New York: Sunypress, 2015. McNeill. John J. The Church and the Homosexual. e-book ed. Beacon Press. Nordlander. Andreas. AuThe Emergence of Soul: Retrieving AugustineAos Potentialism for Contemporary Theological Anthropology. Ay Modern Theology 35, no. : 122-37. Paul. Jay P. Joseph Catania. Lance Pollack. Judith Moskowitz. Jesse Canchola. Thomas Mills. Diane Binson, and Ron Stall. AuSuicide Attempts among Gay and Bisexual Men: Lifetime Prevalence and Antecedents. Ay American Journal of Public Health 92, no. : 1338-1345. Pope Francis. Amoris Laetitia. https://w. va/content/dam/ francesco/pdf/apost_exhortations/documents/papa-francesco_ esortazione-ap_20160319_amoris-laetitia_en. Ratzinger. Joseph. AuLetter to the Bishops of the Catholic Church on the Pastoral Care of Homosexual Persons. Ay Terj. Ignatius Sumarya. SJ dan Piet Go. Carm dalam Seri Dokumen Gerejawi No. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Wali Gereja Indonesia. Salzman. Todd A, and Michael G Lawler. The Sexual Person: Toward a Renewed Catholic Anthropology. Washington. : Georgetown University Press, 2008. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 2. Oktober 2023: 197-233 Septiani. Nia H. AuHubungan antara Tingkat Aktualisasi Diri dengan Kebermaknaan Hidup pada Pria Homoseksual. Ay Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi 4, no. : 263-77. Vuntarde. Paul CV, and Johannes Van Oort. AuAugustineAos Ecclesiology and Its Development between 354 and 387 Ad. Ay HTS: Theological Studies 69, no. : 1-5. Williams. Howell. Homosexuality and the American Catholic Church: Reconyguring the Silence, 1971Ae1999. Florida: The Florida State University. WEBSITE AuGay Rights. Ay https://w. com/topics/gay-rights/history-ofgay-rights. AuHistory. Ay https://w. org/about/history/. AuJohn J. Mcneill: AoBoth Feet Firmly Planted in Midair. My Spiritual JourneyAo. Ay https://w. org/john-j-mcneill-both-feet-yrmly-planted-in-midair-my-spiritual-journey/. AuJohn McNeill. Priest Who Pushed Catholic Church to Welcome Gays. Dies at 90,Ay https://w. com/2015/09/26/nyregion/john-mcneill-priest-who-pushed-catholic-church-to-welcome-gays-diesat90. html?searchResultPosition=2 AuStonewall Riots. Ay https://w. com/topics/gay-rights/ the-stonewall-riots. AuWhat Is the Most Widely Practiced Religion in the World?Ay, https://w. com/story/what-is-the-most-widely-practiced-religionin-the-world.