794 JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Pendampingan Kegiatan Membatik Untuk Mengenalkan Batik Banten Indonesia Dan Batik Malaysia Di Tadika Upsi Wulan Fauzia1. Umayah2 Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini. UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Indonesia E-mail: wulan. fauzia@uinbanten. Umayah@uinbanten. Article History: Received: 07 April 2025 Revised: 01 Mei 2025 Accepted: 04 Mei 2025 Keywords: anak usia dini, pelestarian budaya. Batik Banten. Batik Malaysia PENDAHULUAN Abstract: Kegiatan pelestarian budaya melalui pengenalan batik sejak usia dini menjadi langkah penting dalam membentuk pemahaman dan apresiasi terhadap warisan budaya bangsa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengenalkan Batik Banten Indonesia dan Batik Malaysia kepada anakanak di TADIKA UPSI melalui kegiatan membatik yang edukatif dan menyenangkan. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan tahapan sosialisasi, demonstrasi, dan praktik langsung membatik menggunakan media kain mori dan pewarna. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa anak-anak antusias dan mampu mengenali motif khas dari kedua negara, serta menunjukkan ketertarikan tinggi dalam proses membatik. Pembahasan menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang interaktif untuk menanamkan nilainilai budaya. Kesimpulannya, kegiatan ini efektif meningkatkan pemahaman budaya lintas negara sejak dini. Disarankan agar kegiatan serupa dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan lebih pengalaman belajar anak. Indonesia dan Malaysia memiliki akar budaya yang identik, tercermin dari kesamaan dalam berbagai aspek seperti bahasa, makanan, tarian, dan busana tradisional. Kedua negara ini berbagi warisan budaya Melayu yang kuat dan terdiri dari beragam kelompok etnis seperti Tionghoa. India, dan berbagai suku pribumi (Abdullah, 2011. Anwar, 2010. Arifin, 2. Di antara berbagai elemen budaya yang dimiliki bersama, batik merupakan warisan budaya yang signifikan bagi kedua negara. Batik, yang berasal dari bahasa Jawa "amba" dan "nitik" . enuliskan atau menorehkan titik-titi. , merupakan kain berpola yang dibuat dengan teknik tahanan menggunakan lilin malam (Iskandar & Kustiyah, 2. Di Indonesia, perkembangan batik erat kaitannya dengan kerajaan-kerajaan kuno seperti Majapahit. Solo, dan Yogyakarta (Trixie, 2. Sementara di Malaysia, batik mulai diproduksi pada tahun 1920-an, dibawa oleh orang-orang Jawa yang bermigrasi dari Indonesia (Wahed. Amin. Mohamad Bohari. Pindah, & Azmi, 2. Kedua tradisi batik ini memiliki kemiripan dalam motif-motif yang terinspirasi dari flora dan fauna lokal serta pola geometris khas, yang mencerminkan nilai budaya dan kearifan lokal masing-masing. Mengingat pentingnya batik sebagai identitas budaya, kedua negara telah a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 mengajukan batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia kepada UNESCO. Salah satu cara efektif untuk melestarikan warisan budaya ini adalah dengan memperkenalkannya kepada anakanak sejak usia dini (Yudiati. Annisa, & Susilowati, 2. Pengenalan batik pada anak-anak tidak hanya berfungsi sebagai upaya pelestarian budaya, tetapi juga memberikan berbagai manfaat perkembangan bagi anak-anak itu sendiri. Kegiatan membatik menawarkan manfaat beragam untuk perkembangan anak. Dari segi kreativitas, ketika membatik, anak-anak dihadapkan pada berbagai pilihan seperti warna, motif, dan strategi pengaplikasian lilin. Mereka dapat mengkombinasikan berbagai warna yang disukai, membuat motif baru, atau menggabungkan motif-motif yang sudah ada. Secara tidak langsung, anak-anak juga belajar merencanakan dan memecahkan masalah untuk mencapai efek visual yang diinginkan (Buchori, 2. Kreativitas anak dapat berkembang lebih jauh melalui eksperimentasi dengan berbagai teknik dan alat, seperti canting, kuas, atau cap bambu, untuk menghasilkan tekstur dan efek visual yang berbeda. Selain meningkatkan kreativitas, (Buchori, 2. juga menjelaskan bahwa membatik dapat meningkatkan perkembangan motorik halus anak, yang berkaitan dengan koordinasi mata dan tangan. Ketika membatik, anak-anak belajar menggenggam alat-alat kecil seperti canting atau bambu dengan tangan dan jari mereka untuk membuat pola atau motif, yang memerlukan koordinasi mata-tangan yang presisi. Mereka juga perlu mengaplikasikan lilin dengan teliti dan hati-hati agar motif yang diinginkan dapat tergambar dengan baik. Selanjutnya, ketika mewarnai dan mengisi motif batik, anak-anak belajar mengontrol gerakan tangan mereka. Berbagai teknik membatik, seperti menggunakan canting atau cap, juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menggunakan tangan mereka dengan cara yang berbeda, sehingga memperkaya pengalaman motorik halus mereka. Perkembangan anak usia dini mencakup berbagai aspek yang saling terkait, termasuk perkembangan moral dan agama, bahasa, kognitif, fisik-motorik, sosial-emosional, dan seni. Semua aspek ini perlu dikembangkan secara holistik dan terintegrasi. Misalnya, perkembangan motorik halus dapat dikembangkan melalui aktivitas seni seperti menggambar atau melukis, yang juga merupakan ekspresi dari kemampuan kognitif anak. Pendekatan pembelajaran pada anak usia dini harus disesuaikan dengan karakteristik mereka, dengan fokus pada kegiatan bermain yang menyenangkan dan bermakna. Dengan mempertimbangkan kebutuhan pembelajaran tersebut, kegiatan membatik menjadi solusi yang ideal untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak sekaligus memperkenalkan mereka pada warisan budaya. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pendampingan dalam kegiatan membatik, dengan fokus pada pengenalan batik Banten dari Indonesia dan batik dari Malaysia kepada anak-anak di Tadika UPSI. Kegiatan pendampingan ini tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan anak-anak pada berbagai jenis batik dan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatannya, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk mencoba langsung praktik membatik. Melalui pengalaman langsung ini, anak-anak diharapkan dapat mengembangkan apresiasi terhadap seni batik sebagai bagian dari warisan budaya mereka, serta meningkatkan rasa ingin tahu mereka tentang teknik dan tradisi yang menyertainya. Signifikansi kegiatan ini terletak pada manfaatnya bagi berbagai Bagi guru, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk mengembangkan metode pengajaran yang lebih kreatif dan interaktif. Bagi anak-anak, kegiatan ini tidak hanya mengembangkan keterampilan motorik halus dan kreativitas, tetapi juga membantu mereka mengenal dan mengapresiasi warisan budaya. Bagi sekolah, kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk membangun komunitas yang lebih kuat dan terhubung, serta mempromosikan pendidikan berbasis budaya. Secara keseluruhan, kegiatan pengenalan membatik ini berfungsi sebagai a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan warisan budaya mereka, sekaligus memperkaya proses pendidikan di lingkungan sekolah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui program pendampingan intensif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Tadika Bitara UPSI. Malaysia, yang merupakan bagian dari National Child Development Research Center (NCDRC). Tadika Bitara UPSI dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki fasilitas yang mendukung, tenaga pengajar yang profesional, dan kurikulum yang berorientasi pada perkembangan holistik anak, menjadikannya tempat yang ideal untuk implementasi program pendampingan membatik. Gambar 1. Gedung NCDRC Penelitian dilaksanakan dengan memanfaatkan desain pengabdian masyarakat yang dibagi menjadi empat tahapan utama. Tahap pertama adalah persiapan, yang meliputi koordinasi dengan pimpinan Tadika UPSI Malaysia beserta para guru dan tenaga kependidikan untuk memetakan kebutuhan kegiatan. Pada tahap ini, dilakukan sosialisasi kepada seluruh guru di lokasi pengabdian dan penyusunan materi pelatihan dalam bentuk modul sederhana, persiapan fasilitas pelatihan, serta penataan ruang pelatihan. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Gambar 2. NCDRC Shared Values Tahap kedua adalah pelatihan yang bertujuan memberikan pengetahuan tentang konsep, prinsip, dan implementasi membatik yang sesuai dengan materi pembelajaran. Pelatihan ini diberikan kepada guru-guru Tadika UPSI dengan fokus pada pengenalan batik Banten dari Indonesia dan batik Malaysia. Materi pelatihan mencakup sejarah, filosofi, dan teknik pewarnaan batik yang dapat diimplementasikan pada anak usia dini. Gambar 3. Bagan Organisasi NCDRC a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Tahap ketiga adalah pendampingan praktik yang merupakan tindak lanjut dari pelatihan. Pendampingan ini dibagi menjadi empat sesi: . identifikasi pengenalan batik Banten dan batik Malaysia, . penyusunan perencanaan, analisis kebutuhan, dan simulasi kegiatan, . evaluasi kegiatan pelatihan, dan . program tindak pendampingan membatik. Dalam proses pendampingan, tim dosen program pengabdian dan mahasiswa terlibat langsung untuk membantu guru dan pihak sekolah dalam mengimplementasikan kegiatan pengenalan batik. Tahap keempat adalah pendampingan implementasi, di mana tim dosen mendampingi guru-guru Tadika UPSI untuk menerapkan hasil pelatihan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pada tahap ini, anakanak Tadika UPSI diperkenalkan dengan batik Banten dan batik Malaysia, serta dibimbing untuk belajar mewarnai batik dengan alat dan bahan yang telah disediakan dari Banten. Implementasi kegiatan membatik ini tidak hanya bertujuan untuk mengenalkan teknik pewarnaan batik, tetapi juga untuk melestarikan budaya Indonesia dan Malaysia, serta mengembangkan keterampilan motorik halus dan kreativitas anak. Penelitian diakhiri dengan evaluasi program untuk mengukur ketercapaian target pendampingan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Evaluasi dilakukan secara tertulis dengan memanfaatkan instrumen tes tertutup yang telah disiapkan. Data yang diperoleh dari hasil evaluasi kemudian dianalisis untuk mengetahui efektivitas program pendampingan membatik dalam meningkatkan pengetahuan anak tentang batik dan mengembangkan keterampilan motorik halus serta kreativitas anak. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Pengabdian kepada Masyarakat Internasional ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama yakni persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap persiapan, tim dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SMH Banten melakukan koordinasi dengan pihak Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) dan National Child Development Research Centre (NCDRC) Malaysia untuk menentukan materi pendampingan. Berdasarkan diskusi dan observasi kebutuhan, kegiatan membatik dipilih karena dapat mengembangkan motorik halus dan seni anak sekaligus melestarikan budaya bersama. Persiapan berlanjut dengan pemilihan bahan yang aman dan sesuai karakteristik anak, meliputi kain dengan motif sederhana, cat dengan warna dasar yang aman, dan kuas dari bambu. Berikut adalah alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan membatik: Gambar 4. Alat dan Bahan Membatik Tahap kedua berupa pelatihan yang memperkenalkan konsep membatik kepada guru, meliputi cara membatik, bahan-bahan yang diperlukan, teknik membatik untuk pemula, serta a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 prinsip implementasi membatik dalam aktivitas pembelajaran. Tahap ketiga adalah pendampingan praktik yang terdiri dari empat tahapan: . Identifikasi Pengenalan Batik, . Menyusun perencanaan dan analisis kebutuhan, . Evaluasi kegiatan pelatihan, dan . Program tindak pendampingan membatik. Pada saat pelaksanaan, anak-anak dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan lima anak per kelompok dan didampingi minimal dua guru. Anakanak menyimak penjelasan mengenai konsep membatik sebelum melakukan praktik. Gambar 5. Anak melakukan kegiatan membatik Gambar 6. Anak Menunjukan Hasil Membatik Output dari kegiatan ini berupa produk batik yang dihasilkan anak sendiri dan peningkatan pengetahuan serta keterampilan motorik halus mereka. Pada evaluasi akhir, ditemukan bahwa pengelompokan anak menjadi faktor kunci keberhasilan kegiatan, meskipun beberapa anak belum menyelesaikan tugas membatik karena keterbatasan waktu dan karakteristik kegiatan yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Dinamika Keilmuan Kegiatan membatik memiliki kaitan erat dengan teori perkembangan anak. Menurut Piaget, anak umur 4-6 tahun berada pada tahap operasional konkret di mana mereka mulai a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 mengembangkan kemampuan berpikir logis tentang objek nyata, termasuk manipulasi benda dengan tangan. Gesell dan McGraw juga menegaskan bahwa anak usia 4-6 tahun menunjukkan peningkatan kemampuan koordinasi mata-tangan, kontrol jari, dan pengendalian gerakan halus tubuh lainnya. Dari perspektif perkembangan seni. Lowenfeld mengidentifikasi anak usia 3-5 tahun berada pada Tahap Sensorimotor dimana mereka fokus pada eksplorasi bentuk dan warna tanpa perhatian pada representasi realistis. Pada usia 5-7 tahun (Tahap Praperformanc. , anak mulai menunjukkan keterampilan menggambar yang lebih terstruktur meskipun belum memikirkan proporsi atau perspektif yang benar. Membatik menjadi solusi efektif dalam mendukung perkembangan seni dan motorik halus anak karena melibatkan kreativitas visual, koordinasi mata-tangan, kemampuan fokus, dan kontrol motorik halus. Kegiatan ini memerlukan keterampilan khusus dalam menggunakan alat seperti kuas bambu, yang melatih koordinasi tangan dan jari serta pengendalian otot-otot kecil. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pendampingan membatik untuk anak telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan anak usia dini. Melalui pendekatan yang sistematis dan terstruktur, penelitian ini berhasil mengidentifikasi peran penting kegiatan membatik dalam mengembangkan keterampilan motorik halus, kreativitas, dan identitas budaya anak. Data observasi menunjukkan bahwa anakanak mengalami peningkatan dalam koordinasi tangan-mata, kontrol gerakan halus, dan kemampuan mengekspresikan ide melalui pola dan warna. Pendampingan langsung dalam proses membatik terbukti efektif sebagai metode pembelajaran yang memungkinkan anak untuk menguasai teknik secara bertahap sambil mengembangkan kemampuan fokus dan kesabaran. Temuan penting dari penelitian ini adalah efektivitas pembelajaran berbasis proyek dan pendekatan kelompok dalam kegiatan membatik. Pengelompokan anak menjadi unit-unit kecil dengan pendampingan guru intensif memungkinkan instruksi yang lebih personal dan bantuan langsung saat diperlukan. Meskipun demikian, keterbatasan waktu dan karakteristik kegiatan membatik yang memerlukan ketekunan tinggi menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi anakanak yang masih dalam proses pengembangan konsentrasi dan kesabaran. Dari perspektif keilmuan, penelitian ini memperkuat teori Piaget dan Lowenfeld tentang perkembangan anak, khususnya dalam aspek operasional konkret dan perkembangan seni. Kegiatan membatik memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi material seni, mengembangkan koordinasi motorik halus, dan mengekspresikan kreativitas dalam konteks budaya yang bermakna. Pendampingan membatik juga berhasil menjembatani pelestarian budaya tradisional dengan perkembangan anak modern. Anak-anak tidak hanya belajar teknik membatik tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai budaya dan identitas lokal. Hal ini mendukung pembentukan kesadaran dan penghargaan terhadap warisan budaya sejak dini. Secara keseluruhan, penelitian ini mendemonstrasikan pentingnya integrasi aktivitas seni tradisional dalam kurikulum pendidikan anak usia dini sebagai metode efektif untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak sekaligus melestarikan kearifan lokal. Refleksi Perubahan Kegiatan pendampingan membatik untuk anak usia dini dalam pengabdian kepada masyarakat dapat dilihat sebagai upaya untuk memberikan pengalaman belajar yang kreatif dan mendidik, serta memberikan dampak positif baik pada sisi keterampilan maupun perkembangan anak-anak. Refleksi perubahan ini dapat dilihat dari berbagai aspek penting pada perkembangan Perubahanyang pertama dapat terlihat dari perubahan motoric halus anak. Kegiatan membatik melibatkan penggunaan tangan untuk menggambar pola dan mewarnai dengan lilin atau pewarna. Hal ini secara langsung dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak, a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 seperti koordinasi tangan-mata, kemampuan memegang alat dengan presisi, serta ketelitian dalam mewarnai pola. Selain motoric halus, membatik juga berkaitan dengan daya imajinasi anak. Anak-anak belajar untuk mengekspresikan diri mereka melalui desain dan warna. Membatik mengajarkan mereka untuk berpikir kreatif dan membuat karya seni yang unik sesuai dengan imajinasi masing-masing. Dengan mengenalkan teknik membatik kepada anak usia dini, mereka tidak hanya belajar sebuah keterampilan, tetapi juga diperkenalkan dengan warisan budaya yang Ini dapat memperkuat rasa identitas dan kebanggaan terhadap budaya lokal serta memperkenalkan keberagaman seni tradisional. Pada kegiatan membatik ini, anak diperkenalkan berbagai jenis motif batik yang berbeda- beda dan beragam. Anak-anak dapat lebih menghargai seni tradisional dan mempelajari cara-cara untuk melestarikannya. Pendampingan ini memperkenalkan mereka pada nilai-nilai estetika yang terkandung dalam seni batik. Kegiatan membatik juga kurang lebih berkaitan dengan perkembangan sosial emosional anak. Dalam kegiatan membatik kelompok, anak-anak belajar bekerja sama dengan teman-temannya, berbagi bahan, serta saling memberi ide dan inspirasi. Ini membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan sosial seperti berbicara, berbagi, dan mendengarkan. Anak-anak yang berhasil menyelesaikan sebuah karya batik cenderung merasa bangga dan lebih percaya diri dengan kemampuan diri mereka. Hal ini juga membantu mereka membangun rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan. Membatik juga mengajarkan anak akan sebuah Dalam membatik, hasil akhir tidak datang dengan cepat. ada serangkaian langkah yang harus diikuti dengan cermat, seperti menggambar pola, mencelupkan kain ke dalam pewarna, dan lain sebagainya. Anak-anak belajar untuk menghargai proses, serta memahami pentingnya kesabaran dan ketekunan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Proses membatik memungkinkan anak-anak untuk menerima ketidaksempurnaan. Jika hasil batik mereka tidak sesuai harapan, mereka diajarkan untuk tidak cepat menyerah, tetapi belajar dari kesalahan dan terus berusaha. Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan membatik diajarkan untuk menyelesaikan proyek dalam waktu tertentu, memberikan mereka pelajaran tentang perencanaan waktu dan pengelolaan tugas. Anak-anak belajar untuk memanfaatkan bahan-bahan yang ada secara efisien, serta menjaga kebersihan dan keteraturan selama proses menciptakan karya seni. Pada proses pembuatan batik yang ramah lingkungan atau menggunakan bahan-bahan alami, anak-anak dapat belajar tentang keberlanjutan dan pentingnya menjaga lingkungan. Penggunaan bahan alami dalam pembuatan batik, seperti pewarna dari tumbuhan atau bahan yang ramah lingkungan, dapat memberikan pemahaman tentang pentingnya berkreasi dengan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak. Tidak hanya perubahan pada anak, guru- guru pun dapat merasakan beberapa perubahan setelah kegiatan pendampingan ini. Pada kegiatan ini, peran guru atau pendamping tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong anak untuk mengekspresikan ide dan imajinasi mereka secara bebas. Ini memberikan anak-anak kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung. Pendampingan yang dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan penuh kasih dapat memperkuat hubungan antara pendamping dan anak-anak. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi pendamping untuk mengenali potensi anak lebih Proses membatik yang melibatkan berbagai tahap, mulai dari menyiapkan bahan hingga menyelesaikan desain, dapat mengajarkan anak-anak untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap tugas yang mereka jalani. Setelah selesai membatik, anak-anak merasa memiliki produk yang mereka buat sendiri. Hal ini mengajarkan mereka tentang rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Pendampingan kegiatan membatik untuk anak usia dini tidak hanya melibatkan pembelajaran teknik seni, tetapi juga memberikan dampak positif dalam berbagai aspek perkembangan anak, mulai dari keterampilan motorik hingga pengembangan sosial dan emosional. Selain itu, kegiatan ini berperan dalam memperkenalkan budaya, a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 membangun kemandirian, serta meningkatkan kesadaran lingkungan. Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini juga memberikan kontribusi dalam pendidikan karakter dan budaya yang dapat diteruskan ke generasi mendatang. Follow Up Pembahasan mengenai teori dan implementasi yang telah dijelaskan menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan ini memberikan dampak positif yang signifikan. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa tantangan dan kekurangan. Dampak positif yang telah dicapai perlu dipertahankan dan dikembangkan, sementara kekurangan yang ada harus diatasi jika kegiatan serupa dilaksanakan di masa depan. Beberapa langkah tindak lanjut mungkin diperlukan untuk waktu yang akan datang. Pelaksanaan kegiatan pendampingan ini perlu diperluas ke sekolah- sekolah lain di berbagai negara,agar perubahan yang terjadi dapat memberikan dampak yang lebih luas dan mendalam, sesuai dengan harapan pendidikan. Proses pendampingan ini dapat terus dilanjutkan, salah satunya dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi yang tersedia, sehingga peserta dapat melakukan konsultasi dengan para pendamping. KESIMPULAN Kegiatan Pendampingan Membatik Untuk Mengenalkan Batik Banten Indonesia Dan Batik Malaysia Di Tadika UPSI bertujuan untuk mengenalkan seni batik kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan edukatif, serta mengembangkan kreativitas mereka melalui kegiatan seni yang tradisional. Setelah kegiatan berlangsung, dilakukan evaluasi untuk menilai efektivitas dan dampak yang dihasilkan. Evaluasi ini mencakup lima aspek penting: penilaian dari peserta . nak-ana. , guru, tim pelaksana kegiatan, serta umpan balik secara lisan dan tertulis yang digunakan untuk perbaikan lebih lanjut. Penilaian dari anak-anak sebagai peserta kegiatan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sejak awal kegiatan, anak-anak menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka sangat tertarik dengan bahan dan alat yang digunakan dalam membatik, seperti canting dan kain mori. Selama sesi, anak-anak terlihat aktif berpartisipasi, dengan banyak dari mereka yang merasa senang mencoba menggambar motif batik sederhana pada kain. Hasil karya mereka menunjukkan kemajuan dalam keterampilan motorik halus, seperti mewarnai pola dan menggunakan alat dengan lebih tepat. Banyak anak-anak yang merasa bangga dengan hasil batik mereka dan tidak ragu untuk menunjukkan karya tersebut kepada teman-teman dan guru. Di sisi lain, kegiatan ini juga melatih kreativitas anak-anak. Beberapa anak mampu mengembangkan ide-ide baru dalam memilih motif dan kombinasi warna. Walaupun tidak semua anak dapat menyelesaikan karya mereka dengan sempurna, namun mereka tetap menunjukkan proses belajar yang positif. Anak-anak yang awalnya ragu untuk bereksperimen akhirnya mulai berani mengubah desain mereka dan mencoba teknik baru. Hal ini mencerminkan keberhasilan kegiatan dalam mendorong pengembangan kreativitas mereka. Dari sisi guru, kegiatan pendampingan batik dinilai berhasil dalam mendukung tujuan pembelajaran di sekolah. Guru melihat bahwa kegiatan ini berhasil memperkenalkan seni batik kepada anak-anak dengan cara yang mudah dipahami. Guru merasa teknik-teknik yang diajarkan, seperti menggambar pola batik sederhana dan mewarnai dengan menggunakan lilin, cukup efektif untuk anak-anak usia dini. Mereka merasa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan keterampilan motorik halus, seperti keterampilan menggenggam alat dan menekan canting pada kain. Dari segi penerapan pembelajaran, guru mengamati bahwa kegiatan ini tidak hanya mendukung pembelajaran seni, tetapi juga membantu mengembangkan kemampuan kognitif a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 anak-anak, seperti kemampuan dalam memecahkan masalah ketika mereka dihadapkan pada tantangan saat menggambar motif. Selain itu, guru juga mencatat adanya perubahan perilaku positif pada anak-anak. Banyak dari mereka yang lebih percaya diri dan antusias dalam mengeksplorasi seni di luar kegiatan membatik, dan ada juga anak-anak yang mulai menunjukkan minat terhadap kerajinan tangan lainnya. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman baru bagi anak-anak yang sebelumnya tidak pernah terpapar seni batik Tim pelaksana kegiatan juga melakukan evaluasi terhadap keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Secara umum, kegiatan ini berjalan sesuai rencana, meskipun ada beberapa tantangan logistik yang perlu diperhatikan untuk kegiatan berikutnya. Salah satu tantangan utama adalah pengadaan bahan batik yang memadai, seperti kain mori dan lilin batik. Beberapa anak membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan teknik membatik, sehingga diperlukan lebih banyak waktu dalam sesi untuk memastikan setiap anak mendapat kesempatan untuk mencoba dan menyelesaikan karya Dalam hal pengelolaan waktu, tim merasa bahwa durasi kegiatan yang ditentukan sudah cukup, namun beberapa sesi perlu diberi waktu lebih untuk memastikan anak-anak dapat bekerja lebih leluasa. Selain itu, tim pengabdi juga mencatat pentingnya penyesuaian metode pengajaran. Beberapa anak masih kesulitan memahami teknik menggambar motif, sehingga tim perlu menyesuaikan materi yang diajarkan untuk lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Tim pengabdi merasa bahwa kegiatan ini memberikan pembelajaran berharga, baik dalam hal pengajaran seni batik maupun dalam hal pengelolaan kegiatan untuk anak-anak usia dini. Untuk memperkaya pengalaman peserta, dapat diperkenalkan teknik batik yang lebih kompleks, seperti batik tulis atau batik cap dengan desain yang lebih variatif. Selain itu, dapat juga dipertimbangkan penggunaan pewarna alami atau teknik batik modern yang memadukan teknologi dalam proses pembuatannya. Ini akan memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang keragaman teknik batik dan memperluas keterampilan peserta. DAFTAR REFERENSI Abdullah. The Role of Batik in Shaping Malaysian Cultural Identity. Anwar. Batik: A Shared Heritage of Malaysia and Indonesia. Journal of Southeast Asian Studies, 37. , 267Ae285. Arifin. The Cultural Significance of Batik: Comparing Malaysia and Indonesia. Malaysian Journal of Society and Space, 13. , 1-13. , 13. , 1Ae13. Buchori. Seni Lukis Batik untuk Pendidikan dan Kesenian. In Jakarta: Grasindo. Iskandar, & Kustiyah. Eny. Batik Sebagai Identitas Kultural Bangsa Indonesia Di Era Globalisasi. GEMA, 56, 2456Ae2472. Trixie. Alicia Amaris. FILOSOFI MOTIF BATIK SEBAGAI IDENTITAS BANGSA INDONESIA. Folio: Journal of Design and Creative Industry, 1. , 1Ae9. Retrieved from https://journal. id/index. php/FOLIO/article/view/1380/1148 Wahed. Wan Juliana Emeih. Amin. Halina. Mohamad Bohari. Asmah Alia. Pindah. Chrisna, & Azmi. Safrina. Malaysian Batik. Our Pride: A Systematic Literature Review. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 12. , 242Ae https://doi. org/10. 6007/ijarbss/v12-i10/14950 Yudiati. Rini. Annisa. Anni, & Susilowati. Arda Gusema. Pentingnya Memperkenalkan Budaya Lokal Sejak Dini Di Era Digital. RampaAo Naong Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2. , 23Ae27. https://doi. org/10. 24929/rn. ISSN : 2828-5700 .