ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Diterima : 10 Desember 2025 Direvisi : 18 Juni 2025 Dipublikasi : 21 JUni 2025 DOI : https://doi. org/10. 58518/darajat. FILSAFAT KEPENDIDIKAN ISLAM KLASIK: TELAAH ATAS PEMIKIRAN KEPENDIDIKAN PRESPEKTIF AL-GHAZALI Ratih Kusuma Ningtias Institut Agama Islam Tarbiyatut. Lamongan. Indonesia ratihkusuma@iai-tabah. Muhammad Aji Nugroho Universitas Islam Negeri Salatiga. Indonesia ajinugroho@uinsalatiga. Abstrak Tujuan tulisan ini yang akan membahas biografi singkatnya serta pemikiran tentang pendidikan Islam. Yang menyangkut tentang tujuan Pendidikan, kurikulum, adab guru dan murid, khususnya dalam pendidikan Islam. Dengan tujuan untuk memberi orang lebih banyak pengetahuan tentang pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan Islam. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan data dalam penelitian ini. Jenis penelitian kepustakaan adalah penelitian yang datanya diperoleh dari proses memeriksa buku, yang merupakan sumber data primer dan sekunder. Analisis konten adalah teknik analisis data yang memecahkan masalah menjadi susunan konseptual, kemudian diberi kode atau nama, dan kemudian hasilnya digunakan untuk membuat kesimpulan tentang pesan yang ada di dalam teks yang diteliti Hasil penelitian memberikan pengetahuan tantang pemikiran dalam perspektif Al-Ghazali, dimana dunia Pendidikan harus memprioritaskan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, yang dianggapnya penting. Konsekuensi dari penghormatan terhadap ilmu adalah penghormatan terhadap guru. Imam al-Ghazali juga menekankan pentingnya memperhatikan faktor-faktor yang urgens dalam dunia pendidikan. Selain itu, pemikiran al-Ghazali terkait hidup dan nilai-nilai kehidupan, pembentukan kurikulum sesuai dengan porsi ilmu dan minatnya yang besar terhadap ilmu pengetahuan juga menjadi elemenelemen penting dalam pembelajaran. Kata kunci: Al-Ghazali. Filsafat. Islam Klasik, pemikiran kependidikan Abstract The purpose of this paper is to discuss his brief biography and thoughts on Islamic education. Concerning the goals of education, curriculum, teacher and student manners, especially in Islamic education. With the aim of giving people more knowledge about Al-Ghazali's thoughts on Islamic education. The researcher used qualitative research methods to obtain data in this The type of library research is research whose data is obtained from the process of examining books, which are primary and secondary data sources. Content analysis is a data analysis technique that breaks down problems into conceptual arrangements, then codes or names, and then the results are used to draw conclusions about the messages in the text being The results of the study provide knowledge about thoughts in Al-Ghazali's perspective, where the world of education must prioritize respect for knowledge, which he 21 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat considers important. The consequence of respect for knowledge is respect for teachers. Imam al-Ghazali also emphasized the importance of paying attention to urgent factors in the world of education. In addition, al-Ghazali's thoughts on life and life values, the formation of a curriculum according to the portion of knowledge and his great interest in science are also important elements in learning. Keywords: Al-Ghazali. Philosophy. Classical Islam, educational thought PENDAHULUAN Dalam konteks pendidikan saat ini, khususnya di madrasah, terdapat upaya yang signifikan untuk mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kurikulum. Langkah ini merupakan respons terhadap kebutuhan mendesak untuk membentuk individu yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga berakhlak mulia. Pemikiran Al-Ghazali, yang menekankan pentingnya akhlak dalam pendidikan, memberikan dasar filosofis yang kuat untuk membangun kurikulum yang seimbang antara penguasaan ilmu dan pembentukan Menurut penelitian Lestari, penerapan nilai-nilai akhlak dalam sistem pendidikan mampu meningkatkan kualitas karakter siswa secara signifikan, mempersiapkan mereka menghadapi tantangan sosial di masa depan. Namun, dalam praktiknya, banyak lembaga pendidikan Islam mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut secara konsisten. Ketidaksesuaian antara teori pendidikan Islam yang diajarkan dan praktik di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan implementatif yang masih belum terpecahkan secara tuntas. Pemikiran Al-Ghazali, khususnya dalam aspek tujuan pendidikan, kurikulum, serta adab guru dan murid, dapat menjadi rujukan strategis untuk menjembatani kesenjangan Studi Nurhikmah menunjukkan bahwa prinsip-prinsip Al-Ghazali memiliki potensi untuk diaplikasikan secara kontekstual dalam kurikulum madrasah, namun belum banyak penelitian yang mengkaji secara mendalam bagaimana konsep pendidikan Al-Ghazali dapat diadaptasi ke dalam sistem pendidikan Islam kontemporer secara sistematis dan Saat ini, dunia pendidikan mengalami pergeseran paradigma menuju pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek intelektual, emosional, spiritual, dan moral. Dalam konteks ini, pemikiran Al-Ghazali yang menekankan kesatuan antara ilmu, akhlak, dan spiritualitas menjadi sangat relevan. Sayangnya, studi yang membahas filsafat pendidikan Islam klasik cenderung bersifat deskriptif-biografis dan belum banyak yang menelaah secara kritis relevansi pemikiran klasik tersebut dengan tantangan pendidikan Islam Artikel ini menjadi titik tolak dari tulisan ini: belum banyak kajian yang mengulas secara mendalam bagaimana pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan khususnya terkait kurikulum, tujuan pendidikan, dan adab pendidik dan peserta didik dapat diterjemahkan secara aplikatif dalam konteks madrasah saat ini. Dalam artikel ini akan mengeksplorasi 1 Ayu Lestari et al. AuEl-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Bangsa,Ay El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 2, no. Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Bangsa . , https://doi. org/10. 47467/elmujtama. 2 Jurnal Al Burhan and Al-Ghazali Nurhikmah. AuCHARACTER EDUCATION ISLAM FROM THE VIEWS OF IMAM AL-GHAZALI,Ay Jurnal Al Burhan 4, no. 1 (June 8, 2. : 53Ae66, https://doi. org/10. 58988/JAB. V4I1. 3 Yuliana Wardanik. Devy Habibi Muhammd, and Ari Susandi. AuKonsep Pendidikan Karakter Presfektif AlGhazali Dan Abdullah Nashin Ulwan,Ay Edumaspul: Jurnal Pendidikan 5, no. 2 (October 2, 2. : 480Ae87, https://doi. org/10. 33487/EDUMASPUL. V5I2. 22 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat konsep pendidikan Al-Ghazali, tetapi juga menelaah keterkaitannya dengan tantangan implementasi kurikulum pendidikan karakter di lembaga pendidikan Islam modern. Dengan demikian, tulisan ini berkontribusi dalam pengembangan model pendidikan Islam yang berlandaskan nilai-nilai klasik tetapi relevan dengan kebutuhan masa kini. Penelitian ini akan membahas pemikiran pendidikan Islam dalam perspektif AlGhazali, meliputi tujuan pendidikan, kurikulum, serta adab guru dan murid, dengan harapan dapat memberikan perspektif baru dan solusi konseptual bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang lebih integratif dan aplikatif. METODE Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan data dalam penelitian ini. Jenis penelitian kepustakaan adalah penelitian yang datanya diperoleh dari proses memeriksa buku, yang merupakan sumber data primer dan sekunder. Analisis konten adalah teknik analisis data yang memecahkan masalah menjadi susunan konseptual, kemudian diberi kode atau nama, dan kemudian hasilnya digunakan untuk membuat kesimpulan tentang pesan yang ada di dalam teks yang diteliti. Penelitian ini mengkaji tentang pendidikan menurut Al-Ghazali dengan menyelidiki teori-teori yang dikemukakan Al-Ghazali melalui studi. Studi kepustaan dalam penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teori-teori dan kosep . dalam hal ini peneliti mengumpulkan data yang valid dan saling menguatkan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif seperti buku dan literatur yang berkaitan dengan objek. Adapun sumber primer dalam penelitian ini menganalisis berbagai teori yang dikemukakan oleh Al-Ghazali di dalam karya pada artikel, jurnal, buku dan literasi lainnya. Langkah pengumpulan dalam penelitian kepustakaan meliputi Mengumpulkan literatur, mengklasifikasi sumber primer, dan sekunder, mengutip referensi, dan melakukan validasi data dari sumber utama atau sumber sekunder. PEMBAHASAN Biografi Al-Ghazali Abu Hamid ibn Muhammad Ibn Ahmad al-Ghazali atau orang sering menyebutnya dengan nama imam al-Ghazali dilahirkan di Ghazaleh yang terletak di daerah Thus, wilayah Khurasan pada tahun 450 M. Tokoh sufi, yang pemikirannya banyak diilhami oleh nilainilai tasawuf dan mendapatkan julukan al-Ghazali di masyarakat. Ia dapat menjadi seorang tokoh sufi yang diakui oleh orang dari generasi ke generasi dikarenakan ayahnya juga seorang sufi yang sholeh, tetapi meninggal pada saat al-Ghazali masih kecil. Pada akhirnya, ia dititipkan kepada seorang sufi lainnya untuk mendapatkan bimbingan dalam hidupnya. Sejak masih kecil al-Ghazali sudah terkenal sebagai pribadi yang mencintai ilmu pengetahuan dan penggila kebenaran yang hakiki. Meskipun duka ditinggal ayah menerpanya, ia tetap semangat dalam mencari ilmu. Al-Ghazali memulai karir kejayaannya ketika ia berpindah menuju ke Istana Nizam Mulk dan menjabat sebagai perdana menteri dari Sultan Bani Saljuk. Partisipasi seorang al-Ghazali di sekolompok para intelektual sangat menarik perhatian dari Nizham Mulk. Kecerdasan yang dimiliki, kefasihan lidahnya. Miza Nina Adlini et al. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,Ay Edumaspul: Jurnal Pendidikan 6, no. (March 1, 2. : 974Ae80, https://doi. org/10. 33487/EDUMASPUL. V6I1. 5 Prof. DR. Sugiyono. AuMetode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif Dan R&D,Ay 2013. 6 Wardanik. Muhammd, and Susandi. AuKonsep Pendidikan Karakter Presfektif Al-Ghazali Dan Abdullah Nashin Ulwan. Ay 23 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat tingginya ilmu filasafat, dan argumen-argumen hebatnya menjadikan kesan mendalam bagi seorang Sultan Nizham Mulk. Al Ghazali adalah seorang ahli pikir Islam yang dalam ilmunya dan mempunyai nafas panjang dalam karangan-karangannya. Puluhan buku telah ditulisnya. Meliputi berbagai lapangan ilmu pengetahuan, antara lain: Filsafat. Ilmu Kalam. Fiqih. Ushul Fiqih. Tafsir. Tasawuf. Ahklak dan Otobiografinya. Pemikiran dari Al Ghazali sendiri masih ditandai oleh pikiran yang jernih, wawasan yang luas, pembahasan yang mendalam, penyelidikan yang teliti, kekuatan berfikir yang sama sekali tidak berpengaruh hahl-hal yang bersifat rendah, sikap yang konsisten, berani dan pantang mundur dalam menghadapi tantangan zaman dan mampu menjelaskan kebenaran serta memisahkan kebenaran dari segala hal yang menodai sepanjang sejarah perjalanan Islam. Diantara pemikirannya tentang Pendidikan Islam dapat kita rasakan hingga saat ini melalui buku karangannya, yaitu:9 Ihya AoUlum al-Din . Minhaj al-AoAbidin. Kimiya al-SaAoadah, al-Munqis min al-Dhalal. Akhlak al-Abrar wa al-Najah min al-Asyrar. Misykah al-Anwar. Asrar AoIlm al-Din. Al-Durar al-Fakhirahfi Kasyf AoUlum al-Akhirah . Al Qurbah ila Alla AoAzza wa Jalla. Adab al-Sufiyah. Ayyuha al-Wallad. Al Adab fi al-Din. Al-Risalah al-Laduniyah . Al-Basit. Al-Wasit. Al-Wajiz. Al-ZariAoah ila Makarim al-SyariAoah . Al-Tibr al-Masbuk fi Nasiha al-Mulk. Al-Mankhul min TaAoliqat al-Ushul. Syifa al-Ghalil fi Bayan al-Syabah wa al-Mukhil wa Masalik al-TaAolil. Tahzib al-Ushul. Al-Mustashfa min AoIlm al-Ushul. Al-Wajiz fi al-Fiqh al-Imam alSyafiAoI. Kitab Asas al-Qiyas. Maqasid al-Falasifah. Tahafut al-Falasifah. Mizan al-AoAmal. MiAoyar al-AoIlm fi al-Mantiq . Bidang Teologi dan Ilmu Kalam. Al-IAotisad fi al-IAotiqad. Fais al atTafriqah bain al-Islam wa az- Zandaqah. Al-Qisthas al-Mustaqim. Iljam al-AoAwam Aoan AoIlm alKalam. Jawahir al-QurAoan. Yaqut at-TaAowil fi Tafsir at-Tanzil. Fadhaih al-Batiniyah wa Fadhail alMustazhiriyah Fatihat al-AoUlum. Suluk as-Sulthaniyah. Al-ZariAoah ila Makarim alSyariAoah. Al-Tibr al-Masbuk fi Nasiha al-Mulk. Dari karangan tersebut sudah jelas Al-Ghazali merupakan sosok ulama yang menaruh perhatian terhadap proses transinternalisasi ilmu dan pelaksana Pendidikan. Menurut Al-Ghazali transsinternalisasi ilmu dan proses Pendidikan merupakan sarana ulama untuk menyiarkan agama islam, memelihara jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karen itu, pemdidikan merupakanjalan untuk mendekatkan kualoitas diri. Pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Secara sistematis, pemikirannya mempunyai corak tersendiri. Ia secara jelas dan tuntas mengungkapkan Pendidikan sebagai suatu system yang terdiri dari beberapa Totalitas padangannya meliputi hakikat tujuan Pendidikan, pendidik, peserta didik, materi, dan metode Pendidikan. Tujuan dan kurikulum Pendidikan Tujuan pendidikan dalam pandangan Islam merupakan sebuah ikhtiar yang diarahkan untuk meraih kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam kerangka ini, manusia dipandang sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. yang memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai hamba dan sebagai khalifah di muka bumi. Oleh karena itu, pendidikan diposisikan sebagai sarana utama untuk membentuk kesadaran pemikiran yang mampu meneguhkan eksistensi manusia dalam mengemban tanggung jawabnya sebagai hamba Allah. Dalam perspektif Al-Ghazali, tujuan pendidikan tidak hanya terbatas 7 prof. Dr. Ramayulis. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, 2005. 8 (Assegaf, 2013. 10 Jalaludin. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep Dan Perkembangan, 1996. 24 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat pada aspek intelektual, tetapi lebih dalam lagi menyentuh aspek spiritual dan moral. menekankan bahwa mempelajari ilmu pengetahuan harus dimaknai sebagai bentuk ibadah kepada Allah, bukan semata-mata untuk kepentingan duniawi. Pendidikan Islam, menurutnya, bertujuan utama membentuk akhlaq al-karimah pada diri peserta didik, agar mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kematangan moral dan Lebih dari itu, pendidikan harus mampu menjadi jalan bagi peserta didik untuk meraih kebahagiaan hakiki, yakni keseimbangan hidup dunia dan akhirat yang menjadi tujuan akhir dari keberadaan manusia. Dengan tujuan ini Al-Ghazali ini diharapkan Pendidikan yang diprogramkan akan mampu mengantarkan peserta didik kepada kedekatan diri kepada Allah. Sedangkan kurikulum yang dimaksudkan dalam pemikiran Al-Ghazali yaitu seperangkat ilmu yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik agar dapat mencapai tujuan yang telah Klasifikasi keilmuan menurut Al-Ghazali, ilmu dibedakan berdasarkan bidang, objek, dan status hukumnya dalam Islam. Berdasarkan bidangnya, ilmu terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu ilmu syariAoat dan ilmu non-syariAoat. Ilmu syariAoat mencakup ilmu ushul seperti ilmu Al-QurAoan dan sunnah Nabi, ilmu furuAo seperti fikih serta ilmu tentang kondisi hati dan akhlak, ilmu pengantar seperti bahasa dan gramatika Arab, serta ilmu pelengkap seperti ilmu tafsir, nasikh-mansukh, dan sejarah. Sementara itu, ilmu nonsyariAoat diklasifikasikan menjadi tiga: ilmu yang terpuji seperti kedokteran, pertanian, tata pemerintahan, dan keterampilan teknis. ilmu yang diperbolehkan seperti kebudayaan, sastra, dan puisi. serta ilmu yang tercela seperti tenung, sihir, dan cabang tertentu dari Jika dilihat dari objek kajiannya, ilmu juga dibedakan menjadi tiga kelompok. Pertama, ilmu yang secara mutlak tercela seperti sihir, azimat, nujum, dan ramalan nasib karena tidak memiliki nilai manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Kedua, ilmu yang terpuji secara mutlak baik dalam jumlah sedikit maupun banyak, seperti ilmu agama dan ilmu ibadah, karena dapat menyucikan jiwa, menghindarkan dari perbuatan tercela, dan mendorong kepada kebaikan. Ketiga, ilmu yang dalam batas tertentu dapat dipuji, namun jika diperdalam secara berlebihan dapat menjadi tercela, seperti filsafat naturalistik. Menurut Al-Ghazali, pendalaman berlebihan terhadap ilmu-ilmu semacam ini dapat menimbulkan keraguan dan kebingungan yang pada akhirnya mengarahkan seseorang pada kekufuran. Dari segi hukum mempelajarinya, ilmu dibedakan menjadi fardhu Aoain dan fardhu Ilmu fardhu Aoain adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu Muslim, seperti ilmu agama dan cabang-cabangnya, karena menyangkut kewajiban personal dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang tidak wajib dipelajari oleh setiap individu, tetapi harus ada sebagian dari komunitas Muslim yang Jika tidak ada yang mempelajarinya, maka seluruh komunitas akan menanggung dosa. Ilmu kedokteran, matematika, pertanian, politik, pengobatan 11 Imroh Atul Musfioh. AuPemikiran Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali,Ay SYAMIL: Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Educatio. 2, no. 1 (June 1, 2. : 14Ae14, https://doi. org/10. 21093/SY. V2I1. 12 Telaah Pemikiran Al-Ghazali dan Al-Zarnuji St Noer Farida Laila. Kata Kunci, and Pemikiran Al-Ghazali. AuDIKOTOMI KEILMUAN DALAM ISLAM ABAD PERTENGAHAN (Telaah Pemikiran Al-Ghazali Dan Al-Zarnuj. ,Ay Jurnal Dinamika Penelitian 16, no. 2 (December 11, 2. : 383Ae99, https://doi. org/10. 21274/DINAMIKA. 13 Carol L. Bargeron. AuSufismAos Role in Al-GhazAlAos First Crisis of Knowledge,Ay Medieval Encounters 9, no. : 32Ae78, https://doi. org/10. 1163/157006703322576538. 25 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat tradisional, dan keterampilan praktis seperti menjahit termasuk dalam kategori ini karena memiliki peran penting dalam menunjang kehidupan umat secara kolektif. Adab Pendidik dan Peserta Didik Dalam prespektif Al-Ghazali, pendidi adalah orang yang berusaha membimbing meningkatkan menyempurnakan dan mensucikan hari sehingga menjedi dekat dengan Tugas ini berdasarkan pandangan bahwa manusia merupakan makhluk yang mulia kesempurnaan manusia terletak pada kesucian hatinya. untuk itu, pendidik dalam prespektif islam melaksanakan proses Pendidikan hendaknya diarahkan pada aspek tazkiyah nafs. Seorang pendidik dituntut untuk memiliki beberaoa sifat keutamaan yang menjadi kepribadiannya. di antara sifat-sifat tersebut adalah:14 . Sabar dalam menghadapi pertanyaan murid, . Senantiasa bersifat kasih, tanpa pilih kasih, . Duduk dengan sopan, tidak riya, atau pamer, . Tidak takabur, kecuali dengan orang zalim, . bersikap tawadhu dalam setiap pertemuan ilmiyah, . Sikap dan pembicaraan hendaknya tertuju pada topik persoalan, . Memiliki sifat bersahabat terhadap semua murid, . Menyantuni dan tidak membentak orang-orang bodoh, . Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara sebaik-baiknya. Berani berkata tidak tahu terhadap masalah yang anda persoalkan, dan . Menampilkan hujjah yang benar Dalam proses pembelajaran, menurutnya, pendidik merupakan suatu keharusan. Eksistensi pendidik merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan suatu proses Pendidikan Pendidik dianggap sebagai maslikhul Kabir, bahkan dapat dikatakan bahwa pada satu sisi, pendidik mempunyai jasa dibandaingkan kedua orang tuanya. Lantaran kedua orang tua menyelamatkan anaknya dari sengatan api neraka dunia, sedangkan pendidik menyelamatkan dari sengatan api neraka dan dunia. 15 Sebagai pendidik hendaknya memandang peserta didik sebagai anaknya sendiri. Rasulullah sendiri yang mencontohkan pada waktru beliau berada ditengah sahabatnya. Sebagaimana dalam hadits yang artinya: Ausesungguhnya saya dengan kamu itu adalah seperti bapak dan anaknyaAy. (H. Abu Daud, an-NasaAo. Dalam kaitannya dengan peserta didik, lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka adalah makluk yang telah dibelaki dengan potensi atau fitrah untuk beribadah kepada Allah SWT. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah SWT sesuai dengankejadian manusia , cocok dengan tabiat dasarnya yang memang yang cenderung keapda agama/ Untuk itu tugas seorang pendidik adalah membimbing dan mengarahkan fitrah tersebut agar ia tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan penciptanya. Menurut alghazali dalam menuntut ilmu peserta didik memiliki tugas dan kewajiban, yaitu Mendahulukan kesucian jiwa, bersedia merantau dan menuntut ilmu, jangan menyombongkan ilmu dan nementang guru, dan mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan Menurut Al-Ghazali. Dalam pandangan pendidikan Islam yang ideal, proses belajar harus dilandasi oleh niat ibadah semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlakul karimah dan penyucian Seorang pelajar didorong untuk tidak terjebak dalam kecenderungan duniawi, melainkan lebih mengutamakan orientasi ukhrawi. Ia juga dituntut untuk bersikap rendah hati dengan menanggalkan kepentingan pribadi dalam menuntut ilmu, menjaga pikiran dari pengaruh negatif serta tidak terjebak dalam pertentangan antar aliran pemikiran. Dalam memilih ilmu, dianjurkan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang terpujiAibaik yang bermanfaat untuk akhirat maupun duniaAisecara bertahap, dimulai dari yang mudah ke 14 AL-Rasyidin. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: PT CIPUTAT PRESS, 2. 15 Mahyuddin Barni and Diny Mahdany. AuAl GhazAliAos Thoughts on Islamic Education Curriculum,Ay Dinamika Ilmu. December 31, 2017, 251Ae60, https://doi. org/10. 21093/DI. V17I2. 26 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat yang sulit, serta mengutamakan ilmu fardhu Aoain sebelum beralih ke fardhu kifayah. Proses pembelajaran pun harus dilakukan secara tuntas sebelum berpindah ke cabang ilmu lain, agar peserta didik memiliki pemahaman yang mendalam dan mampu menguasai bidang keilmuan secara spesifik. Mengajarkan ilmu pengetahuan, seorang pendidik harus memberikan tekanan pada upaya membimbing dan membiasakan agar Ilmu yang dipelajarinya tidak hanya dipahami, dikuasai atau dimiliki oleh peserta didik, akan tetapi lebih dari itu perlu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaanya, semua meytode Pendidikan yang memiliki relevansi terhadap upaya Pendidikan hendaknya dapat digunakan pendidik dalam proses belajar mengajar. Penggunaan setiap metode Pendidikan hendaknya diselaraskan dengan tujuan Pendidikan yang telah dirumuskan, tingkat usia peserta didik, kecerdasan, bakat dan fitrahnya. Metode Dan Media Pembelajaran Metode mempunyai kedudukan penting dalam pembelajaran dan interaksi edukatif, guru menjadi teladan bagi murid-muridnya. Metode ini cepat dan mudah dicerna, karena murid akan langsung melihat perilaku dan sikap gurunya yang kemudian menirunya secara selektif sesuai dengan kualitas perangai gurunya. Salah satu Metode yang digunakan yaitu keteladanan digunakan untuk merealisasikan pendidikan Islam dengan memberi contoh dan cermin yang baik kepada murid agar mereka dapat berkembang, baik fisik maupun mental dan memiliki akhlak yang mulia. Keteladanan memberikan kontribusi yang besar dalam pendidikan ibadah, akhlak, kesenian, dan lain-lain. Dalam penanaman pendidikan di sekolah metode keteladanan adalah metode yang lebih efektif dan efisien, karena peserta didik . erutama siswa sekolah dasar dan menenga. pada dasarnya cenderung meneladani . guru atau pendidiknya. Karena hal ini memang secara psikologis siswa memang senang meniru. Pendidikan yang lebih menekankan pada masalah praktek dalam pembelajarannya atau yang sering disebut dengan metode keteladanan hendaknya diterapkan dalam proses pembelajaran pendidikan karakter anak. Karena metode keteladanan ini merupakan metode yang efektif karena anak langsung meniru perilaku yang diamatiya. Ay Dalam kitab Ayyuhal Wallad Al Ghazali memberi nasihat:AuDuhai anakku! Apa yang kalian katakan dan kerjakan disesuaikan dengan syaraAo, sebab Ilmu dan amal kalau tidak disesuaikan dengan syariat adalah sasar . Ay Tentang pentingnya keteladanan ini dikaitkan dengan pandangannya tentang pekerjaan mengajar. Mengajar adalah pekerjaan yang mulia. Guru bertugas menyempurnakan, menghias, mensucikan, dan menuntun peserta didiknya mendekati Allah SWT. Dengan demikian mengajar adalah bentuk lain bagian keteladanan guru bagi Jika konsep ini diketahui, dipahami, dan ditiru oleh peserta didiknya, maka akan melahirkan pendidik pendidik idealis yang menjadikan kegiatan mengajar dan mendidik sebagai pengabdian yang akan mengangkat kemuliaan dirinya. Al Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad berpendapat tentang nasihat sebagai berikut: AuWahai anak Nasihat itu mudah dan yang sulit adalah menerimanya, karena bagi pengikut hawa nafsu rasanya pahit. Sebabnya ialah hati mereka menyukai larangan-larangan, khususnya penuntut ilmu yang resmi dan sibuk megurusi kesenangan nafsu dan kebaikan 16 Muhammad Yusuf Fadhil and Saliha Sebgag. AuSufi Approaches to Education: The Epistemology of Imam Al- Ghazali,Ay Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam 4, no. 1 (March 1, 2. : 91Ae107, https://doi. org/10. 31538/NZH. V4I1. 17 Syamsul Kurniawan. AuPendidikan Menurut Al-Ghazali,Ay At-Turats 3, no. 1 (December 14, 2. , https://doi. org/10. 24260/AT-TURATS. V3I1. 27 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Ia menyangka bahwa ilmu semata-mata akan menyebabkan keselamatannya dan tidak membutuhkan amal. Ay18 Menurut Al Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad, nasihat ini dilakukan dengan cara yang halus, baik melalui sindiran maupun kiasan, karena jika dilakukan dengan terangterangan, hal ini akan merendahkan harga diri siswa. Dalam hal ini Al Ghazali sangat mengutamakan penanaman akhlak mahmudah . khlak terpuj. dan melarang murid mempunyai khlak madzmumah. khlak tercel. , karena hal ini selain merugikan siswa secara individual, juga akan membawa dampak negatif untuk teman dan lingkungan Metode nasehat merupakan metode yang paling mudah dan setiap orang dapat Dalam penerapan metode nasihat tidak harus dilakukan oleh seorang pendidik dan dilakukan di sekolah atau lembaga formal lainnya. Penerapan metode nasihat dalam pendidikan karakter dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dan dapat dilakukan semua orang. Dengan catatan pemberian nasihat kepada anak harus menggunakan bahasa yang baik agar tidak menyinggung serta mimik wajah yang menyenangkan agar nasihat mudah diingat oleh anak. Sesuai dengan yang dijelaskan oleh imam Ghazali nasihat diberikan kepada anak dengan menanamkan akhlakul karimah dan meninggalan akhlak Metode kisah mengandung arti sebagai suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan cara menceritakan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya suatu hal, yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan orang lain baik yang sebenarnya terjadi atau rekaan saja. Metode kisah yang disampaikan merupakan salah satu metode pendidikan yang masyhur dan terbaik, sebab kisah itu mampu menyentuh jiwa jika didasarkan oleh ketulusan hati yang mendalam. Kitab Ayyuhal Walad banyak menggunakan metode ini diataranya adalah sebuah cerita yang berhubungan dengan seseorang yang bermimpi melihat imam Junaid al Baghdadi sesudah meninggal dunia, orang tadi bertanya kepada imam Junaid, bagaimana kabarmu wahai Abal Qasim? Ia berkata: telah hilang ibarat, telah lenyap isyarat, tidak ada yang bermanfaat bagi kami kecuali beberapa rakaat yang kami lakukan ditengah malam. Seseorang yang membaca atau mendengarkan kisah tersebut dapat mengambil hikmahnya bahwa seseorang yang hidup di dunia itu harus beribadah dan dapat menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Karena setelah meninggal dunia yang kita bawa hanyalah amal ibadah bukan harta benda. Seperti jawaban adalah beberapa rakaat yang dilakukannya di setiap malam. Metode pembelajaran melalui kisah sepertiini memiliki efek yang sangat kuat bagi perkembangan aspek perkembangan spiritual (SQ = Spiritual Quotie. karena kisah-kisah tadi dapat diambil sebagai pelajaran. Dan anak pada umumnya lebih senang mendengarkan cerita dibandingkan dengan mendengarkan nasihat dengan nada tinggi atau nasihat yang disertai nada ancaman. Hal ini membuat anak susah untuk mencerna atau melakukan perintah yang dinginkan orang tua atau guru karena sebelum melakukan anak sudah merasa ketakutan. Metode Pembiasaan yang ditawarkan Imam Al Ghazali ini dicontohkan dengan jalan mujahadah dan riyadah nafsiyyah . ekuatan dan latiha. , yakni membebani jiwa dengan amal-amal perbuatan yang ditujukan pada akhlak yang baik. Maksud mujahadah di sini adalah usaha sungguh-sungguh melatih jiwa agar tunduk kepada Allah dan menjauhi Adapun riyadhah adalah melatih diri, yakni berupaya maksimal melakukan perbuatan yang bersumber pada akhlak yang baik, sehingga menjadi suatu kebiasaan. 18 Muhammad Salem. Risalah Ayyuhal Walad (Bairut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah. , 2. 28 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Menurut Ramayulis Mengenai metode dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran dalam prespektif Al-Ghazali harus dilihat secara psikologis, sosiologis, maupun pragmatis dalam rangka keberhasilan proses pembelajaran. Metode pengajaran tidak boleh monoton, demikian pula pada media pembelajaran. Perihal kedua masalah ini, banyak sekali pendapat Al-Ghazali tentang metode dan media pembelajaran. Untuk metode pembelajaran misalnya metode mujahadah dan Pendidikan praktek kedisiplinan, pembiasaan dan penyajian dalil naqli dan aqli, serta bimbingan dan nasehat. Sedangkan pada media/ alat pembelajaran. Al-Ghazali menyetujui adanya pujian dan hukuman. Disamping kaharusan menciptakan tujuan kondisi yang mendukung terwujudnya akhlak yang mulia. Dalam pemikiran kependidikan Al-Ghazali yang berupaya mengedepankan dalam pembentukan insan paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. Menurut Al-Ghazali pula manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila berusaha mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadhilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajari. Kehebatan Al-Ghazali telah memberi kesan mendalam dijiwa umat Islam dari segi pemikiran, budi pekerti, dan Pendidikan. Keilmuannya santa luas dalam berbagai ilmu pengetahuan, terutama dalam ilmu tasawuf, fikih, akidah, falsafah, kalam, politik dan Pendidikan. Bisa kita lihat di atas, beberapa pernyataan tentang tujuan Pendidikan menurut AlGhazali yang paling utama sesungguhnya hanyalah mendekatkan diri kepada Allah semata. Begitu juga pandangan Al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandangan mengenai ilmu pengetahuan dan membagi atas beberapa klasifikasi ilmu pengetahuan. Hal ini sudah jelas bahwa Dan sudah barang tentu ilmu itu disampaikan dengan pengajaran lah seseorang akan mendapatkan kedekatan dirinya kepada Allah SWT setelah mendaptkan ilmu pengetahuan, dan juga ilmu pengetahuan tidak akan diperoleh jika tidak melalui dengan pengajaran dan pembelajaran. Dengan pernyataan tersebut bisa diambil inti dari pengajaran yaitu malalui pembinaan mental dan pensucian jiwa. Dengan adanya hal tersebut harapannya bisa memperbaiki akhlak dan ketakwaan pada setiap individu. Dan pada akhirnya akan menyebar luas di tengah masyarakat luas dengan terbentuknya kesalehan sosial. Sehingga apapun jalan dan prosesnya suatu pembelajaran, hanyalah dengan niat mengarah pada usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah semata. Guru dan murid atau pendidik dan peserta didik, cara mengajarkan ilmu pengetahuan, seorang pendidik harus memberikan tekanan pada upaya membimbing dan membiasakan agar Ilmu yang dipelajarinya tidak hanya dipahami, dikuasai atau dimiliki oleh peserta didik, akan tetapi lebih dari itu perlu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaanya, semua meytode Pendidikan yang memiliki relevansi terhadap upaya Pendidikan hendaknya dapat digunakan pendidik dalam proses belajar mengajar. Penggunaan setiap metode Pendidikan hendaknya diselaraskan dengan tujuan Pendidikan yang telah dirumuskan, tingkat usia peserta didik, kecerdasan, bakat dan fitrahnya. Dari gambaran tersebut dapat diketahui bahwa kepribadian guru akan lebih besar pengaruhnya dari pada kepandaian dan ilmunya. Sebab itu setiap guru hendaknya memiliki kepribadian yang patut dicontoh dan diteladani anak didik, baik diteladani secara sengaja ataupun tidak. 19 Ramayulis. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam. 20 Devi Syukri Azhari and Mustapa Mustapa. AuKONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IMAM AL-GHAZALI,Ay Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran (JRPP) 4, no. 2 (November 13, 2. : 271Ae78, https://doi. org/10. 31004/JRPP. V4I2. 29 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Sikap Murid Kepada Guru Begitu beratnya syarat menjadi seorang guru atau pembimbing bagi penempuh jalan . eserta didi. sehingga sebagai peserta didik haruslah berbalas budi kepada guru dengan memberi penghormatan kepada guru. Dijelaskan Al Ghazali bahwa seorang murid yang mendapat guru atau pembimbing sesuai syarat diatas haruslah memberi penghormatan secara lahir dan batin. Sebagaimana wasiat beliau. AuAdapun penghormatan yang lahir ialah tidak mendebatnya dan tidak sibuk mengemukakan hujjah bersamanya dalam setiap masalah, meskipun ia mengetahui Janganlah ia menggelar sajadah dihadapannya kecuali pada waktu menunaikan sholat. Apabila sudah selesai ia angkat sajadah itu. Jangan ia memperbanyak solat nafilah dihadapan syeikh. Ia kerjakan amal-amal yang disuruh oleh syeikh sesuai kemampuan dan tenaganya. Ay. AuAdapun penghormatan batin ialah setiap yang didengarnya dan diterimanya pada lahirnya tidak boleh ia mengingkarinya di dalam batin, baik perbuatan maupun perkataan supaya tidak memiliki sifat munafik. Jika dia tidak mampu maka ia berhenti memenemaninya hingga batinnya sesuai dengan lahirnya. Ay22 Guru dan murid memiliki etika yang tidak terpisahkan satu sama lain dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, muridpun harus memiliki sikap sebagai murid yang harus menghormati para gurunya, baik lahir maupun batin. Adapun penghormatan batin dengan cara mendebatnya dan tidak sibuk meminta argumen kepadanya pada setiap persoalan meski ia tahu kesalahan sang guru. Maksud dalam hal ini, hal yang dilarang oleh imam Al Ghazali adalah pertanyaan yang tujuannya untuk membantah dan mendebat sang guru. Adapun pertanyaan yang mengantarkan kepada ilmu tidaklah dilarang. Dan tidak menghamparkan sajadah dihadapannya, kecuali saat mengerjakan sholat. Jika selesai sholat ia ambil sajadahnya serta tidak banyak melakukan shalat sunnah dihadapan guru. juga melakukan apa yang diperintahkan oleh guru sejauh kekuatan dan kemampuannya. Adapun penghormatan batin berupa tidak mengingkari secara batin segala sesuatu yang ia dengar dari sang guru dan ia terima secara lahir, baik dengan perbuatan maupun ucapan, agar tidak memiliki sikap munafik. Meski demikian, adab ini tidak bertujuan untuk menciptakan fanatisme terhadap guru, melainkan untuk menunjukkan penghormatan kepada seorang guru. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, metode ini sangat tepat digunakan dalam pendidikan dasar. Oleh karena itu, sebaiknya Keteladanan . swah hasana. itu penting disemua jenjang pendidikan. Sampai kapanpun seorang guru tetaplah teladan bagi murid-muridnya, baik ketika berhadapan langsung dan saat masih dalam proses pendidikan, maupun ketika tidak berhadapan langsung dan ketika tidak dalam proses pendidikan. Artinya, seorang guru harus tetap menjaga akhlak mereka karena hal itu akan menjadi teladan bagi muridmuridnya. Dengan kata lain pula, bagi seorang pendidik harus mengamalkan ilmunya. Al-Ghazali termasuk dalam golongan sufi yang sangat memperhatikan pendidikan, karena ia menyadari bahwa pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk pola kehidupan suatu masyarakat dan pemikiran individu. Menurutnya, pendidikan seharusnya didasarkan pada niat baik untuk mencapai kebaikan moral dan spiritual, bukan hanya pengetahuan akademis. Etika dan moralitas menjadi fokus utama, dan Pendidikan diharapkan membentuk karakter dan perilaku yang baik. Al-Ghazali menganggap pengetahuan tentang Tuhan . a'rifatulla. sebagai tujuan utama, menekankan pentingnya pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, emosional, intelektual, dan spiritual. 21 Salem. Risalah Ayyuhal Walad. 22 Salem. 30 Filsafat Kependidikan Islam. | Ratih Kusuma Ningtias. Muhammad Aji Nugroho Darajat. Volume 8. Nomor1. Juni 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Keterampilan praktis juga dianggap penting, dan pendidikan dipandang sebagai proses transformasi diri, bukan sekadar transfer pengetahuan. Pemikiran Al-Ghazali telah memberikan landasan untuk pengembangan pendidikan Islam, dengan penekanan pada nilai-nilai moral, spiritual, dan holistik. Sementara itu H. M Arifin, guru besar dalam bidang pendidikan mengatakan, bila dipandang dari segi filosofis, al-Ghazali adalah penganut faham idealisme yang konsekuen terhadap agama sebagai dasar pandangannya. 24 Dalam konteks pendidikan, al-Ghazali lebih condong ke arah paham empirisme. Hal ini disebabkan oleh penekanannya yang kuat terhadap pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya, perkembangan seorang anak sangat bergantung pada peran orang tua dan pendidikannya. Al-Ghazali melihat hati seorang anak sebagai sesuatu yang bersih, murni, seperti permata yang sangat berharga, sederhana, dan bebas dari segala pengaruh atau pemahaman yang negatif. Secara umum, sistem pendidikan Islam memiliki karakter religius dan kerangka etika yang mencakup tujuan dan sasarannya. Pemikiran pendidikan al-Ghazali dapat dijelaskan sebagai religius-etis, yang dipengaruhi oleh pemahamannya dalam bidang Bagi Al-Ghazali, pendidikan yang benar dianggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta menjadi sarana untuk menyebarkan keutamaan. Dalam perspektif AlGhazali, dunia Pendidikan harus memprioritaskan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, yang dianggapnya sebagai kawan di waktu sendirian, sahabat di waktu sunyi, penunjuk jalan pada agama, dan pendorong ketabahan di saat kekurangan dan kesukaran. Oleh karena itu, konsekuensi dari penghormatan terhadap ilmu adalah penghormatan terhadap guru. Imam al-Ghazali juga menekankan pentingnya memperhatikan faktorfaktor yang urgens dalam dunia pendidikan. Selain itu, pemikiran al-Ghazali terkait hidup dan nilai-nilai kehidupan, pembentukan kurikulum sesuai dengan porsi ilmu dan minatnya yang besar terhadap ilmu pengetahuan juga menjadi elemen-elemen penting dalam KESIMPULAN Pemikiran pendidikan Islam klasik dalam perspektif Al-Ghazali menekankan pentingnya niat yang tulus dalam belajar, yakni sebagai bentuk ibadah dan upaya mendekatkan diri kepada Allah. Pendidikan tidak semata bertujuan untuk pencapaian duniawi, tetapi lebih diarahkan pada pembentukan akhlak mulia dan penyucian jiwa. Oleh karena itu, peserta didik harus diarahkan untuk memiliki sikap rendah hati, menjauh dari kepentingan duniawi, menjaga stabilitas pemikiran dari pengaruh aliran yang menyesatkan, serta memilih ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Proses belajar harus dilakukan secara bertahap dan tuntas, dimulai dari ilmu yang wajib individual . ardhu Aoai. hingga ilmu yang bersifat kolektif . ardhu kifaya. , agar menghasilkan pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral. Konsep ini relevan untuk diterapkan dalam sistem pendidikan Islam kontemporer guna menjawab tantangan integrasi antara ilmu, akhlak, dan spiritualitas dalam membentuk insan kamil DAFTAR PUSTAKA