Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Pemaknaan Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau Karya M. Aan Mansyur Melalui Semiotik Riffaterre Maharani Intan Andalas1*. Aqilla Elza Dinasti2 Universitas Negeri Semarang ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Indonesian poetry has undergone significant development to date with the publication of various poetry anthologies and recognition of poets' achievements in their works through literary awards. Nevertheless, a study of the award-winning poetry is still required to reveal its meaning. The significance of poetry is inseparable from the sign system. Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau by M. Aan Masyur is a poetry anthology that won two literary awards in 2021. The poet's expressions, ideas, and feelings are manifested through the signs in the anthology. This research aims to reveal the significance of Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau by M. Aan Masyur by using Riffaterre's semiotic theory. The research method is qualitative, with steps in data determination, data collection, data analysis, and drawing conclusions. From the research results, the significance of awareness of life, deep love, and the human inability to explain everything that shows God's greatness is obtained in this anthology's poems. DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau. Semiotic. The significance of poetry This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. International License. Corresponding Author: Maharani Intan Andalas Universitas Negeri Semarang Sekaran. Gunung Pati. Semarang City. Central Java 50229. Indonesia Email: intan_andalas@mail. PENDAHULUAN Puisi Indonesia mengalami perkembangan yang berarti hingga saat ini dengan terbitnya berbagai antologi puisi dan pengakuan pencapaian penyair dalam karyanya melalui penghargaan sastra. Meskipun demikian, kajian atas karya puisi peraih penghargaan tetap diperlukan untuk mengungkapkan maknanya. Salah satu penyair yang berhasil meraih penghargaan atas antologi puisinya, yaitu M. Aan Mansur dengan Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (MLTMP). Antologi ini meraih dua penghargaan sekaligus pada tahun 2021 lalu, yaitu Kusala Sastra Khatulistiwa pada kategori karya puisi terbaik dan Penghargaan Sastra Kemdikbudristek yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk kategori puisi. Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan telah dicetak keempat kalinya pada Januari 2022. Sajak-sajak dalam kumpulan puisi ini penuh dengan tanda berupa kata, frase, dan kalimat yang memunculkan suasana spesifik dalam sajak. Oleh karena itu, kata, frase, dan kalimat dalam sajak-sajak pada antologi ini merupakan tanda yang secara semiotik berperan dalam mengungkapkan Pemaknaan puisi tidak terlepas dari sistem tanda di dalamnya. Pradopo . 7: . menyatakan bahwa hakikat puisi meliputi tiga aspek, yaitu fungsi estetik, kepadatan, dan ekspresi tidak langsung. Melalui tiga aspek tersebut pembaca mengidentifikasi puisi dan dapat dilanjutkan dengan memaknainya. Pemberian makna Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X pada puisi terikat oleh sistem atau konvensi tertentu, mengingat bahwa puisi bermediumkan bahasa, maka puisi tidak luput pula dari konvensi bahasa di samping juga konvensi sastranya (Pradopo 1995:. Mukarovsky . alam Teeuw, 1984: . menyatakan bahwa seni merupakan fakta semiotik . rts as semiotic fac. Hal tersebut disebabkan oleh adanya pergeseran minat dari struktur karya ke peranan pembaca sehingga struktur bersifat relatif, sastra berkaitan dengan kode-kode lainnya, dan pembaca sebagai subjek tidak kurang pentingnya dalam fungsi semiotik karya sastra daripada strukturnya. Teori semiotik puisi Riffaterre dapat dimanfaatkan untuk mengkaji tanda-tanda dalam kumpulan puisi MLTP. Dalam Semiotics of Poetry . Riffaterre mengemukakan bahwa perbedaan yang dirasakan secara empirik antara puisi dan bukan puisi dijelaskan oleh cara sebuah teks puitik membawakan arti. Riffaterre . 8:1-. menyatakan bahwa puisi mengekspresikan konsep dan sesuatu secara tidak langsung. Ketidaklangsungan arti dalam puisi dapat muncul melalui tiga cara, yaitu penggantian, penyimpangan, dan penciptaan arti. Secara lebih lanjut. Riffaterre . 8:1-. menyatakan bahwa Authe literary phenomenon, however, is a dialectic between text and readerAy. Pemaknaan puisi perlu memperhatikan karakteristik puisi, yaitu kesatuan formal dan kesatuan semantiknya. Kesatuan formal menunjuk pada arti . yang berupa informasi yang disampaikan oleh teks pada taraf mimetik, sedangkan kesatuan semantik menunjuk pada makna . Terdapat dua tahap pembacaan dalam semiotik puisi, yaitu pembacaan heuristik dan hermeneutik (Riffaterre,1978: 4-. Dalam pembacaan heuristik, pembaca melintasi mimetik yang di dalamnya suatu pembacaan berjalan dari awal sampai akhir teks dengan mengikuti asas sintagmatik. Pembacaan heuristik ini berdasar pada kompetensi linguistik, yaitu kemampuan pembaca memahami ketidakgramatikalan dalam teks. Selanjutnya, dalam pembacaan hermeneutik, pembaca mengingat kembali apa yang telah dibaca dan memodifikasi pemahamannya dalam perhatian atas apa yang baru saja ditafsirkan . Pembaca mengulas, meninjau, dan membandingkan . aca: tanda, kod. secara bolak-balik. Dengan demikian, pembaca melaksanakan penafsiran struktural . structural decodin. Pembaca bergerak menelusuri teks, ia mengenali bahwa pernyatan-pernyataan yang beruntun dan berbeda-beda, yang semula diperhatikan hanya sebagai ketidakgramatikalan . , sesungguhnya ekuivalen, karena tampak sebagai varian dari matriks struktural yang sama. Rifaterre . 8: 19-. menggunakan perumpamaan kue donat sebagai penggambaran yang lebih konkret dalam pemaknaan puisi. Puisi menyerupai donat dengan bagian pusat . yang menopang daging donat sebagai matriks. Lebih lanjut, sajak dihasilkan dari transformasi matriks berupa perubahan dari suatu kalimat minimal ke dalam parafrase yang lebih panjang dan kompleks. Matriks bersifat hipotesis dan hanya ada dalam aktualisasi gramatikal atau leksikal dalam sebuah struktur. Matriks dapat diwujudkan dalam sebuah kata yang tidak terdapat dalam teks dan selalu diaktualisasikan oleh varian-varian yang mengikutinya. Varian-varian ini ditentukan oleh aktualisasi utama matriks, yaitu model. Ciri utama dari model adalah kepuitisannya yang bersifat hipogramatik (Faruk, 1. Beberapa penelitian telah dilakukan atas puisi M. Aan Mansyur. Sejauh jangkauan peneliti, terdapat empat penelitian akademik atas dua kumpulan pusi karya M. Aan Mansyur, yaitu AuKajian Stilistika pada Kumpulan Puisi Melihat Api Bekerja Karya M. Aan MansyurAy (Herawati, 2. AuAnalisis Diksi dan Gaya Bahasa pada Kumpulan Puisi Melihat Api Bekerja Karya Aan Mansyur: Kajian SemantikAy (Waisna, 2. AuUnsur Semiotik pada Kumpulan Puisi Melihat Api Bekerja Karya M. Aan MansyurAy (Amalia, 2. , dan AuSemiotika Puisi Tak Ada Newyork Hari Ini Karya M. Aan MansyurAy (Taqwiem, 2. Keempat penelitian tersebut memberi pengetahuan tentang kekhasan dari dua kumpulan puisi karya M. Aan Mansyur, secara khusus pada aspek yang Di samping penelitian, terdapat ulasan yang dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono dalam pengantar kumpulan puisi Melihat Api Bekerja . Menurut Damono . alam Mansyur, 2019: 13-. , sajak M. Aan Mansyur berhasil melanjutkan tradisi perlawanan terhadap kualitas yang sudah dicapai Chairil Anwar. Ia tidak menulis sejenis Aoprosa lirisAo, tetapi sejenis sajak yang tidak lagi percaya pada keketatan wujud visual dan tirani Kalimat-kalimat dalam sajak tidak lain adalah episode-episode yang bermuculan Aobegitu sajaAo seperti yang didengar dari penyampaian lisan dan terdapat kemampuan penyair mempertahankan suasana yang menjadikan sajaknya suatu benda seni yang utuh dan kokoh dalam menyarankan makna. Ulasan tersebut relevan bagi penelitian ini karena mengungkapkan aspek bentuk yang cenderung naratif dan makna melalui suasana yang dipertahankan oleh penyair sehingga memilik fungsi estetis dalam kumpulan puisinya. Berbeda dengan penelitian terdahulu dan ulasan yang telah dilakukan, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan makna kumpulan puisi MLTMP melalui teori semiotik Riffaterre. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat kualitatif yang menggunakan metode semiotik dengan melihat substansi penelitian berdasar teori. Teori semiotik Riffaterre dimanfaatkan untuk membahas permasalahan penelitian. Sumber data Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X penelitian ini, yaitu kumpulan puisi MLTP yang terbit pertama kali pada tahun 2021, sedangkan data penelitian berupa kata, frase, larik, dan kalimat yang secara semiotik merupakan tanda. Kumpulan puisi MLTP terdiri atas lima bagian dan secara keseluruhan terdapat 41 sajak sebagai populasi Dari populasi data tersebut, dipilih sajak-sajak sebagai sampel bertujuan . urposive samplin. Salah satu ciri sampel bertujuan ialah sampel makin dipilih atas dasar fokus permasalahan penelitian (Indriyani dalam Jabrohim (Ed. ), 2015:. Dalam penelitian ini, sajak yang menjadi sampel tersebut, di antaranya AuPertanyaanPertanyaanAy. AuKata Membutuhkan RahasiaAy, dan AuJatuh CintaAy. Pengumpulan data dilakukan dengan cara baca-catat dan studi pustaka. Dalam mengumpulkan data, data dikategorikan menjadi dua, yaitu data arti . yang dicatat berdasar konvensi bahasa dalam teks puisi melalui pembacaan heuristik dan data makna . yang diperoleh berdasar konvensi sastra melalui pembacaan hermeneutik. Dengan demikian, penelitian dilakukan dengan cara sebagai berikut. Penentuan data penelitian. Pengumpulan data. Analisis data dengan memanfaatkan teori semiotik Riffaterre. Pembuatan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembacaan Heuristik Sajak AuPertanyaan-PertanyaanAy Pemaknaan MLTMP dilakukan dengan menganalisis sajak-sajak sampel melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik. Pada saat pembacaan heuristik, kompetensi linguistik yang dimiliki pembaca berperan untuk mengenali adanya ketidakgramatikalan, yaitu penggunaan bahasa yang menyimpang, baik dari struktur normatif maupun konvensi yang ada sehingga perlu dijelaskan arti bahasanya dan mengembalikan arti bahasa tersebut pada konvensi yang membentuknya. Selain itu, melalui kompentensi linguistik, pembaca mengenali juga gejala mimetik. Berikut ini dapat dilihat sajak tersebut. Pertanyaan-Pertanyaan AuThe stupidity of people comes from having an answer for everthing. Ay ---- Milan Kundera apakah hatiku mangkuk dangkal yang pecahAi yang alangkah mudah diisi, namun mustahil penuh? apakah mencintai diri sendiri berarti menjadi batu yang dilemparkan ke lautan lepas tanpa dasar? mengapa darah lebih api daripada api? mengapa luka tidak memaafkan pisauAi& mata pisau bisa membayangkan dirinya sebagai cermin? mengapa kita mesti memiliki banyak pengetahuan untuk bisa memahami betapa sedikit pengetahuan kita? mengapa orang kota bersandar pada humor untuk bisa bertahan hidup & mengapa orang desa harus bertahan hidup untuk bisa tertawa? mengapa usia seseorang tidak dihitung dari seberapa dekat dia dari kematian? bukankah manusia sudah terlalu tua sekarang? . eperti puisi ini, tidakkah hidupmu sudah dituliskanAi& ditafsirkan orang lain, bahkan sebelum kamu bisa membacanya?) Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Judul sajak AoPertanyaan-PertanyaanAo merupakan kata ulang yang dibentuk dari kata dasar AotanyaAo dengan afiks per-A-an yang berarti Aobanyak pertanyaanAo. Secara literal. AopertanyaanAo berarti perbuatan bertanya, permintaan keterangan. sesuatu yang ditanyakan, soal (KBBI, 2001: 1. Judul tersebut belum dapat mengungkapkan makna sajak sehingga perlu dilakukan pembacaan terhadap baris-baris di dalamnya. Dalam pembacaan heuristik, sajak ini dibaca dari awal hingga akhir teks berdasar kompetensi linguistik sebagai Apakah hatiku seperti mangkuk dangkal yang pecahAiyang alangkah mudah diisi, namun mustahil penuh? Apakah mencintai diri sendiri berarti seperti menjadi batu yang dilemparkan ke lautan lepas tanpa dasar? Mengapa darah lebih bagaikan api daripada api itu sendiri? Mengapa luka tidak memaafkan pisau? -- & mengapa mata pisau bisa membayangkan dirinya sebagai cermin? Mengapa kita mesti memiliki banyak pengetahuan untuk bisa memahami betapa sedikit pengetahuan kita? Mengapa orang kota bersandar pada humor untuk bisa bertahan hidup & mengapa orang desa harus bertahan hidup untuk bisa tertawa? Mengapa usia seseorang tidak tidak dihitung dari seberapa dekat dia dari kematian? Bukankah manusia sudah terlalu tua sekarang? . eperti puisi ini, tidakkah hidupmu sudah dituliskan--& sudah ditafsirkan orang lain, bahkan sebelum kamu bisa membacanya?) Pembacaan Heuristik Sajak AuKata Membutuhkan RahasiaAy Sajak AuKata Membutuhkan RahasiaAy dapat diikuti berikut ini. Selanjutnya, dilakukan pembacaan heuristik atas sajak tersebut. Kata Membutuhkan Rahasia setelah sajak AuNada AwalAy. Subagio Sastrowardoyo semakin sedikit kebenaran dalam kata-kata. kata pada mulanya pintu terbuka tetapi mereka mengubahnya menjadi jendela tetapi mereka mengubahnya menjadi jendela tertutup tetapi mereka mengubahnya menjadi dinding tetapi mereka mengubahnya menjadi tangga kau tidak bisa mengatakan sesuatu tanpa mendengar tubuh terjatuh kata pada mulanya rimba raya tetapi mereka mengubanya menjadi kota kau tidak bisa mengatakan sesuatu tanpa mendengar suara sirene kata pada mulanya pusat denyut tetapi mereka mengubahnya menjadi senjata kau tidak bisa mengatakan sesuatu tanpa mendengar jerit mautAi semakin banyak bahaya dalam kata-kata. tetapi sepi tetap mesti tepat menjadi maka sejak sejuta puisi yang lalu aku & kau dikitakan rahasia yang tidak sanggup dikatakan kata. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Sebagai judul sajak. AoKata Membutuhkan RahasiaAo merupakan kalimat aktif transitif yang berpola subjek, predikat, dan objek. Fungsi subjek diduduki oleh AokataAo, fungsi predikat diduduki oleh AomembutuhkanAo, dan fungsi objek diduduki oleh AorahasiaAo. Secara mimetik, judul sajak ini dapat diartikan bahwa AokataAo memerlukan hal yang tidak dapat diungkapkan atau AokataAo tidak selalu mampu mengungkapkan atau menjelaskan sesuatu. Pembacaan heuristik sajak ini sebagai berikut. Semakin sedikit kebenaran dalam kata-kata. Kata pada mulanya . pintu terbuka, tetapi mereka mengubahnya menjadi . Mereka mengubahnya menjadi . Mereka mengubahnya menjadi . Mereka mengubahnya menjadi . Kau tidak bisa mengatakan sesuatu . engan kat. tanpa mendengar . Kata pada mulanya . rimba raya, tetapi mereka mengubahnya menjadi . Kau tidak bisa mengatakan sesuatu . engan kat. tanpa mendengar . suara sirene. Kata pada mulanya . pusat denyut, tetapi mereka mengubahnya menjadi . Kau tidak bisa mengatakan sesuatu . engan kat. tanpa mendengar . jerit mautAisemakin banyak bahaya dalam kata-kata. (Aka. tetapi, sepi tetap mesti tepat menjadi Maka, sejak sejuta puisi yang lalu, aku & kau . rahasia yang tidak sanggup dikatakan kata. Pembacaan Heuristik Sajak Au Jatuh CintaAy Sajak AuJatuh CintaAy dapat diikuti berikut ini. Selanjutnya, dilakukan pembacaan heuristik atas sajak Jatuh Cinta aku selembar kertas yang terbakar tetapi aku gegabah diriku api. Judul sajak ini berupa frase verba dengan unsur kata AojatuhAo sebagai Aoyang diterangkanAo dan unsur kata AocintaAo sebagai Aoyang menerangkanAo. Unsur-unsur dalam frase ini membentuk satu kesatuan makna dan tidak dapat diartikan sendiri-sendiri karena bersifat idiomatik. Jatuh cinta berpadanan dengan Aojatuh hatiAo yang berarti menaruh cinta kepada atau menaruh belas kasihan kepada (KBBI, 2001:. Secara mimetik, judul sajak memiliki arti seseorang yang berada dalam keadaan jatuh cinta. Judul tersebut belum dapat mengungkapkan makna sajak sehingga perlu dilakukan pembacaan terhadap baris-baris di dalamnya. Dalam pembacaan heuristik, sajak ini dibaca dari awal hingga akhir teks berdasar kompetensi linguistik sebagai Aku . selembar kertas yang terbakar, tetapi aku gegabah menganggap diriku . Pembacaan Hermeneutik Sajak AuPertanyaan-PertanyaanAy. AuKata Membutuhkan RahasiaAy, dan AuJatuh CintaAy Setelah dilakukan pembacaan heuristik terhadap sajak-sajak di atas, dilanjutkan dengan pembacaan Pembacaan ini merupakan pembacaan ulang dengan tujuan menemukan makna sajak. Makna sajak dapat direbut apabila diletakkan dalam sistem semiotik dengan memperhatikan ketidaklangsungan Dalam sajak AuPertanyaan-PertanyaanAy, ketidaklangsungan ekspresi muncul melalui penggantian arti yang disebabkan oleh simile dan gaya retorik serta penciptaan arti yang disebabkan oleh paralelisme. Sajak ini mempertanyakan berbagai hal dengan menggunakan kata tanya, yaitu: apakah, mengapa, bukankah, dan Kata tanya AoapakahAo berfungsi untuk menanyakan benda bukan manusia, nama . ifat, jeni. , dan menyatakan pilihan serta menegaskan informasi yang ingin diketahui. Apakah hatiku mangkuk dangkal yang pecahAiyang alangkah mudah diisi, namun mustahil penuh? Pada baris tersebut, aku lirik bertanya tentang hatinya melalui perumpaan. Hati diibaratkan mangkuk yang tidak dalam yang pecah atau secara kiasan. AodangkalAo berarti belum mendalam benar pemahamannya. Baris ini dapat ditafsirkan dengan pertanyaan tentang diri manusia yang mencoba untuk mengerti, memahami sesuatu, tetapi pemahaman itu tidak sempurna. Selanjutnya, kata tanya AomengapaAo berfungsi untuk menanyakan alasan atas suatu hal, sedangkan kata tanya Aobukankah dan tidakkahAo berfungsi untuk mengukuhkan isi atau maksud suatu pernyataan. Semua pertanyaan dalam baris-baris sajak ini bergaya retorik, yaitu gaya bahasa yang tidak memerlukan jawaban karena penutur dan lawan tutur telah memaklumi bersama . pertanyaan tersebut. Menurut Abrams . 9:271-. , pertanyaan retoris adalah kalimat berbentuk pertanyaan gramatikal yang diajukan bukan untuk meminta keterangan atau mengundang jawaban, melainkan untuk mencapai daya ekspresi yang lebih besar dibandingkan dengan peryataan langsung. Lebih lanjut, dinyatakan bahwa dalam hal ini konteks puitis Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X mungkin menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut dibiarkan begitu saja karena tidak dapat dijawab sehingga menimbulkan masalah yang tidak ada penyelesaian pastinya. Mengapa darah lebih api daripada api? Mengapa luka tidak memaafkan pisau? Baris sajak yang pertama ditafsirkan dengan membandingkan kedua unsurnya, yaitu darah dengan api, sedangkan baris yang kedua ditafsirkan dengan menjelaskan gaya personifikasi atas kata AolukaAo dan AopisauAo. Kata AodarahAo secara kiasan berarti keturunan atau pembawaan, sedangkan kata AoapiAo secara kiasan berarti perasaan yang menggelora atau Pertanyaan dalam baris sajak ini mengandung pernyataan bahwa hubungan keturunan dan pembawaan pada diri manusia lebih AomenggeloraAo dibandingkan api sebagai benda panas dan cahaya yang berasal dari sesuatu yang terbakar. Kemudian, kata AolukaAo dan AopisauAo dipersonifikasikan atau seolah-olah mampu bertingkah laku seperti manusia yang bisa membenci atau tidak memaafkan. Pertanyaan dalam baris sajak ini mengandung pernyataan bahwa kesedihan atau penderitaan manusia . aca: seperti luk. dapat disebabkan oleh sesuatu hal . aca: seperti pisa. Luka atau penderitaan tersebut dapat menimbulkan bekas yang berarti bahwa kesedihan atau penderitaan tersebut tidak mudah untuk dilupakan. Ketika manusia tidak bisa melupakan penderitaan dan mempertanyakannya, hal tersebut dapat dimaknai sebagai ketidaksempurnaan manusia yang tidak mampu memahami sesuatu atau memaafkan orang yang menyakitinya. Baris-baris dalam sajak ini menggunakan paralelisme yang disusun dengan memperhatikan enjambemen . erloncatan bari. yang saling terkait. Hal ini menimbulkan penciptaan arti karena homologues . ersamaan-persamaan posisi dalam Baris-baris sajak tersebut mempertanyakan benda-benda, manusia, dan kehidupan dengan gaya Dalam sajak ini, terdapat satu kata tanya AobukankahAo dan AotidakkahAo. Bukankah manusia sudah terlalu tua sekarang? . eperti puisi ini, tidakkah hidupmu sudah dituliskan--& ditafsirkan orang lain, bahkan sebelum kamu bisa membacanya?). Baris sajak tersebut menggunakan gaya perbandingan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan untuk menegaskan maksudnya, yaitu bahwa manusia dan kehidupan itu sendiri telah ada sejak dahulu kala menyerupai puisi yang AodituliskanAo dan AoditafsirkanAo meskipun manusia belum bisa AomembacanyaAo. Dengan demikian, dalam pembacaan hermeneutik, makna sajak ini ialah manusia yang mempertanyakan peristiwa-peristiwa atau suatu hal yang dialaminya . ebahagiaan, kesediha. , tetapi sesungguhnya kehidupan yang dialami merupakan sebuah keniscayaan, tidakkah hidupmu sudah dituliskan? Pemahaman atas peristiwa yang dialami sebagai takdir dan tentang diri manusia itu sendiri tidak sempurna. Meskipun demikian, manusia tetap perlu mencoba memahaminya yang menunjukkan kesadaran akan Dalam sajak AuKata Membutuhkan RahasiaAy, terdapat ketidaklangsungan ekspresi berupa penggantian arti melalaui metafora eksplisit serta penciptaan arti melalui enjambemen dan paralelisme. Sajak ini membandingkan AokataAo dengan Aopintu terbukaAo. AojendelaAo. Aojendela tertutupAo. AodindingAo, dan AotanggaAo pada bait membandingkan kata dengan Aorimba rayaAo dan AokotaAo pada bait empat. serta Aopusat denyutAo dan AosenjataAo pada bait keenam. Selanjutnya. AokataAo juga dibandingkan dengan suara Aotubuh terjatuhAo dan AosireneAo pada bait ketiga dan kelima. Perbandingan antara AokataAo sebagai term pokok . dengan benda-benda, tempat, keadaan, dan bunyi sebagai term kedua . berarti menyamakan sifat di antara keduanya meskipun sebenarnya tidak sama. Kemudian adanya kesejajaran posisi melalui paralelisme dan perloncatan baris membentuk kesatuan arti dalam bait-bait tersebut yang mengintensifkan makna. Bait akhir sajak ini tetapi sepi tetap mesti tepat menjadi kita yang didahului dengan baris kau tidak bisa mengatakan sesuatau tanpa mendengar jerit maut dapat dimaknai sebagai kematian atau eksistensi manusia sebagai yang fana. sedangkan pada baris maka sejak sejuta puisi yang lalu aku & kau dikitakan rahasia yang tidak sanggup dikatakan kata dapat dimaknai sebagai penekanan ketidakmampuan manusia menjelaskan segala hal. Secara semiotik, baris-baris tersebut juga mengandung tanda yang bersifat hipogramatik dengan sajak AuNada AwalAy karya Subagio Sastrowardoyo. Dengan demikian, pembacaan hermeneutik sajak ini ialah AoketidakberdayaanAo manusia untuk mengungkapkan ataupun menjelaskan segala hal dan kehidupan itu sendiri terdapat suatu hal yang tidak dapat dimengerti manusia yang justru dapat dimaknai sebagai keagungan Tuhan. Dalam sajak AuJatuh CintaAy, terdapat penggantian arti melalui metafora dan depersonifikasi. Hal yang dibandingkan ialah manusia . , sedangkan hal untuk membandingkannya ialah selembar kertas yang terbakar dan api. Tanda tersebut dapat dimaknai sebagai penggambaran keadaan manusia saat jatuh cinta yang seperti kertas yang terbakar atau seperti api yang dapat membakar. Pembacaan hermeneutik sajak ini ialah cinta yang dalam yang dirasakan seorang manusia menyebabkan dirinya menjadi tidak berdaya, tidak mampu melawan atau menolak yang dicintainya karena ia menganggap dirinya mampu melakukan apa saja demi yang Aku lirik gegabah menganggap dirinya sebagai api alih-alih selembar kertas yang terbakar. Dalam tindakan mencintai sekalipun pada sajak ini, manusia luput atau tidak menyadari telah mengorbankan diri demi yang dicintai sehingga ia menjadi Aojatuh . cintaAo. Hal tersebut menunjukkan bahwa cinta dapat menyebabkan manusia bertindak irasional. Secara semiotik, sajak ini mengandung tanda yang bersifat Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X hipogramatik dengan sajak AuAku InginAy karya Sapardi Djoko Damono. Dengan demikian, pembacaan hermeneutik sajak ini ialah Aocinta yang dalamAo yang menekankan pada ketidakrasionalan cinta. 5 Hipogram Hipogram, matriks, dan model dalam teori Riffaterre berhubungan dengan makna sajak. Pembaca yang melakukan dua tahap pembacaan melalui tanda-tanda di dalam teks puisi menguraikan, menafsirkan tanda tersebut sehingga dapat mengetahui adanya matriks atau pusat makna yang diaktualisasikan oleh kata, frase, ataupun kalimat sebagai modelnya yang bersifat hipogramatik. Antologi puisi MLTMP banyak mengandung tanda yang bersifat hipogramatik. Beberapa sajak sampel yang dianalisis terdapat tanda yang menghubungkan teks sajak dengan teks sebelumnya. Secara eksplisit, lima bagian antologi ini diawali dengan epigraf yang berasal dari beberapa tokoh, yakni Adrienne Rich . agian I). Naomi Shihab Nye . agian II). Rebecca Solnit . Bertolt Brecht . agian IV), dan Donella Meadows . agian V). Epigraf merupakan kalimat atau bagian kalimat pada bagian awal karya sastra yang menggambarkan tema. prasasti (KKBI, 2001:. Di samping lima epigraf di setiap bagian puisi, terdapat sebuah epigraf yang berasal dari Mary Ruefle yang membuka antologi puisi. Epigraf dari para tokoh tersebut dapat diinterpretasikan sebagai teks hipogram potensial bagi sajak-sajak di dalamnya, sedangkan epigraf yang menjadi bagian teks sajak dapat diintrepretasikan sebagai teks hipogram aktual yang menunjukkan matriks atau pusat makna dalam sajak. Dalam sajak AuPertanyaan-PertanyaanAy, teks sajak dibuka dengan epigraf dari Milan Kundera the stupidity of people comes from having an answer for everything . ebodohan orang berasal dari mempunyai jawaban untuk segalany. Jika dikaitkan dengan epigraf tersebut sebagai hipogram aktual, mengapa luka tidak memaafkan pisau pada baris keenam dapat dianggap sebagai model bagi sajak ini. Model tersebut bersifat hipogramatik yang menggarisbawahi AoketidaksempurnaanAo manusia. Sajak ini meneruskan makna yang terhubung dengan epigrafnya tentang kesadaran manusia atas kebodohannya bahwa tidak semua pertanyaan mempunyai jawaban atau penyelesaiannya. Selain itu, model tersebut diaktualisasikan melalui baris-baris sajak yang menjadi varian-varian yang mengungkapkan dua hal, yaitu pertanyaan tentang jati diri dan pertanyaan tentang kehidupan. Sebagai model, mengapa luka tidak memaafkan pisau, juga menjadi tanda yang terhubung dengan sajak lain dalam antologi puisi ini, secara khusus pada sajak AuCara Lain Membaca Sajak CintaAy. Dalam sajak yang terakhir tersebut, terungkap pula makna kesadaran atau perenungan manusia . ku liri. atas kehidupan yang mengandung hal-hal yang tidak menyenangkan . aca: penderitaa. Dalam sajak AuKata Membutuhkan RahasiaAy, teks sajak dibuka dengan pernyataan yang dicetak dalam huruf miring, yaitu setelah sajak AuNada AwalAy. Subagio Sastrowardoyo. Pernyataan tersebut secara hipogramatik menghubungkan teks sajak ini dengan sajak penyair yang disebut sebelumnya. Dengan demikian, sajak ini secara intertekstual memiliki latar penciptaan berupa sajak AuNada AwalAy karya Subagio Sastro Wardoyo dalam kumpulan puisi Simfoni Dua . Berikut ini sajak tersebut. Nada Awal Tugasku hanya menterjemah gerak daun yang bergantung di ranting yang letih. Rahasia membutuhkan kata yang terucap di puncak sepi. Ketika daun jatuh takada titik darah. Tapi di ruang kelam ada yang merasa kehilangan dan mengaduh pedih. Sajak di atas terdiri atas delapan larik seuntai dengan enjamben yang berfungsi menekankan kata pada akhir larik dan awal larik berikutnya sehingga memunculkan kesatuan arti secara sintaksis. Oleh karena itu, sajak ini seolah bercerita meskipun kecenderungan lirik tetap tampak. Aku lirik di dalam sajak ini melakukan AoperenunganAo tentang kehidupan yang fana. Larik Rahasia/ membutuhkan kata yang terucap merupakan Pernyataan tersebut seolah-olah bertentangan, tetapi sesungguhnya tidak yang berarti bahwa untuk menyampaikan suatu AorahasiaAo diperlukan kata untuk mengucapkannya. Namun, hal itu tidaklah mudah karena harus berada di puncak sepi. Jadi, nada awal sebagaimana yang dimaksudkan dalam judul sajak ini ialah sebuah sikap perenungan atau pemikiran atas ketidakabadian kehidupan . secara subtil sehingga memunculkan kesadaran --di ruang kelam ada yang merasa/ kehilangan dan mengaduh pedihAiakan Sang Pencipta. Menurut Hae . 3: . Subagio Sastrowardoyo merupakan penyair yang puisi-puisinya kuat dengan tema kematian dan perenungan filosofis. Dari pembacaan sajak AuNada AwalAy sebagai hipogram sajak AuKata Membutuhkan RahasiaAy di atas, jelas bahwa sajak yang disebut kemudian AomentransformasikanAo tema kematian secara berbeda melalui varian-varian dalam baris-barisnya yang mengungkapkan dua hal, yaitu kesadaran akan eksistensi manusia sebagai yang fana dan kesadaran akan ketidakmampuan manusia untuk menjelaskan atau memahami segala hal. Matriks sajak ini Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X yang terwujud dalam aktualisasinya berupa model pada baris kau tidak bisa mengatakan sesuatu tanpa mendengar/ jerit maut ialah kematian dan ketidakberdayaan manusia yang menunjukkan keagungan Tuhan. Selanjutnya, sajak AuJatuh CintaAy terdiri atas dua bait yang hubungan antarbaitnya berupa pertententangan. Larik aku selembar kertas/ yang terbakar merupakan model dalam sajak tersebut yang berhipogram dengan bait kesatu sajak AuAku InginAy karya Sapardi Djoko Damono. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu. Menurut Faruk . alam Riris K. Toha- Sarumpaet dan Melani Budianta, 2010: 170-. , puisi Sapardi menunjukkan paradoks penyairnya yang mencari yang tidak ada dalam ada. Yang tiada itu sendiri mungkin saja berupa maut atau mungkin juga tidak. Lebih lanjut, makna puisi Sapardi terletak pada ruang kosong dan sekaligus dalam semua yang ada dan yang mengadakan tiada itu. Semua yang ada itu adalah obyek-obyek sepele yang ada dalam keseharian dan proses-proses yang juga tiada atau AoditiadakanAo, obyek-obyek dan proses-proses yang dapat disebut sederhana. Dengan demikian, sajak AuAku InginAy memiliki makna cinta yang sederhana, tetapi juga rumit . aca: dala. dengan kesadaran aku lirik untuk mau mengorbankan diri bagi yang dicintainya. Meskipun tampak adanya penerusan makna dari sajak hipogramnya, sajak AuJatuh CintaAy menampilkan pula perbedaan Aku lirik menunjukkan cinta yang dalam melalui pengorbanan diri meskipun tergesa-gesa--tetapi aku gegabah/ menganggap/ diriku api-- yang memperlihatkan ketidakrasionalan cinta. KESIMPULAN Berdasarkan tujuan penelitian dan pembahasan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemaknaan terhadap antologi puisi MLTMP melalui analisis semiotik Riffaterre berhasil mengungkapkan makna sajaksajaknya. Sajak sampel yang masing-masing berjudul AuPertanyaan-PertanyaanAy. AuKata Membutuhkan RahasiaAy, dan AuJatuh CintaAy dianalisis melalui dua tahap pembacaan dan dilanjutkan dengan pencarian hipogram serta matriksnya. Hasil analisis tersebut, yaitu sajak AuPertanyaan-PertanyaanAy memiliki makna manusia yang mempertanyakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya, tetapi kehidupan yang dialami merupakan sebuah keniscayaan. Manusia tetap perlu mencoba memahami takdirnya yang menunjukkan kesadaran akan kehidupan. Sajak AuKata Membutuhkan RahasiaAy memiliki makna AoketidakberdayaanAo manusia untuk menjelaskan segala hal dan dalam kehidupan itu sendiri, terdapat hal yang tidak dimengerti manusia yang dapat dimaknai sebagai keagungan Tuhan. Sajak Aujatuh CintaAy memiliki makna Aocinta yang dalamAo yang menekankan pada ketidakrasionalan cinta. Ketiga sajak tersebut memiliki hipogram aktual yang berbeda di samping hipogram potensialnya. Hipogram aktual sajak AuPertanyaan-PertanyaanAy ialah epigraf dari Milan Kundera. Hipogram aktual sajak AuKata Membutuhkan RahasiaAy ialah sajak AuNada AwalAy karya Subagio Sastrowardoyo, sedangkan hipogram sajak AuJatuh CintaAy ialah sajak AuAku InginAy karya Sapardi Djoko DamonoAy. Dengan demikan, makna kesadaran hidup, cinta yang mendalam, dan ketidakmampuan manusia menjelaskan segala sesuatu yang menunjukkan kebesaran Tuhan terdapat dalam antologi ini. DAFTAR PUSTAKA