CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Penguatan Dimensi Kebhinekaan Global Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi Berbasis Kearifan Lokal Masjid Al-Mahmudiyah (Sur. Palembang Suzana Paranita1*. Yuli Fitrianti2. Liana Septy3. Maha Rana Febriani4 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang 1234 *Coresponding Author: suzanaparanita_uin@radenfatah. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis penguatan dimensi kebhinekaan global melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis kearifan lokal Masjid Al-Mahmudiyah Palembang dalam pembelajaran matematika. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di SMP Negeri 46 Palembang dengan subjek 36 peserta didik kelas VII dan guru matematika sebagai informan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berbasis kearifan lokal mampu memperkuat dimensi kebhinekaan global peserta didik. Pembelajaran mendorong kolaborasi dan interaksi antar siswa, menumbuhkan sikap saling menghargai perbedaan kemampuan, serta mengembangkan komunikasi yang inklusif. Integrasi miniatur tiang masjid sebagai konteks materi volume kubus meningkatkan apresiasi terhadap budaya lokal, kesadaran identitas kebangsaan, sikap reflektif, serta tanggung jawab sosial. Dengan demikian, pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep matematika, tetapi juga memperkuat karakter kebhinekaan global sesuai Profil Pelajar Pancasila. Kata kunci: Kebhinekaan global, pembelajaran berdiferensiasi, kearifan lokal, etnomatematika, pembelajaran matematika Abstract This study aims to analyze the strengthening of the global diversity dimension through the implementation of differentiated instruction based on the local wisdom of Al-Mahmudiyah Mosque. Palembang, in mathematics learning. The research employed a qualitative descriptive approach conducted at SMP Negeri 46 Palembang, involving 36 seventh-grade students and a mathematics teacher as the main informants. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data display, and conclusion Data validity was ensured through source and technique triangulation. The findings indicate that differentiated instruction based on local wisdom strengthens studentsAo global diversity dimension. The learning process promotes collaboration and interaction among students, fosters respect for differences in abilities, and develops inclusive communication. The integration of mosque pillar miniatures as the context for learning cube volume enhances appreciation of local culture, strengthens national identity awareness, and encourages reflective attitudes and social responsibility. Therefore, this approach not only improves studentsAo understanding of mathematical concepts but also plays a strategic role in strengthening global diversity character in line with the Pancasila Student Profile. Keywords: Global diversity, differentiated learning, local wisdom, ethnomathematics, mathematics learning JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Pendahuluan Kurikulum Merdeka hadir sebagai respon atas kebutuhan transformasi pendidikan di Indonesia yang lebih fleksibel dan berpihak pada perkembangan peserta didik. Kurikulum ini memberi ruang bagi sekolah dan guru untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dan kontekstual dengan mengutamakan pengembangan potensi, minat, serta bakat peserta didik sejak dini (Swandari. Salah satu bentuk implementasinya adalah pembelajaran berdiferensiasi, yaitu strategi pembelajaran yang menyesuaikan proses belajar berdasarkan kesiapan, minat, dan profil belajar peserta didik sehingga pembelajaran menjadi lebih inklusif dan tidak seragam. Sebagaimana menurut (Devian, et al, 2. bahwa pembelajaran berdiferensiasi merupakan sebuah upaya dalam rangkaian pembelajaran yang mempertimbangkan kebutuhan peserta didik berdasarkan kesiapan belajar, profil belajar, serta minat dan bakat mereka. Hal tersebut selaras dengan realitas di kelas bahwa kemampuan peserta didik dalam memahami konsep matematika tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Pada pembelajaran matematika, kemampuan peserta didik dalam memahami konsep seringkali bervariasi, baik dari segi kesiapan belajar, minat, maupun gaya berpikir. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang mampu mengakomodasi perbedaan tersebut agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang optimal. Penerapan prinsip pembelajaran berdiferensiasi sejalan dengan arah pengembangan Kurikulum Merdeka yang tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan akademik, tetapi juga pengembangan karakter peserta didik secara menyeluruh. Salah satu karakter yang ingin dibentuk melalui Kurikulum Merdeka adalah dimensi kebhinekaan global dalam Profil Pelajar Pancasila. Dalam kerangka Profil Pelajar Pancasila, dimensi kebhinekaan global memiliki empat elemen utama, yaitu: . mengenal dan menghargai budaya, . komunikasi dan interaksi antarbudaya, . refleksi dan tanggung jawab sebagai warga dunia, serta . berkeadilan sosial dalam kebhinekaan. Keempat elemen tersebut saling berkaitan dan menjadi indikator perkembangan karakter peserta didik dalam menghargai Adapun (Nur Wijayanti, et al, 2. menyebutkan bahwa kebhinekaan global merupakan usaha untuk melestarikan budaya luhur, identitas dan lokalitasnya, serta tetap mempunyai keterbukaan berinteraksi dengan budaya lain, hingga mampu menanamkan sikap toleransi yang tidak melanggar budaya leluhur yang dimiliki bangsa Indonesia. Dengan demikian, penguatan dimensi ini tidak hanya berdampak pada pembentukan karakter toleran, tetapi juga meningkatkan kemampuan sosial peserta didik dalam kolaborasi kelompok. Adapun penguatan kebhinekaan global tidak hanya terbatas pada mata pelajaran sosial atau humaniora, tetapi juga dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran matematika melalui konteks budaya dan lingkungan belajar yang dekat dengan kehidupan siswa. Pada konteks pendidikan matematika, penguatan kebhinekaan global dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang memberi ruang interaksi antar siswa. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 terutama ketika guru menerapkan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi. Peserta didik yang memiliki kemampuan matematis beragam dapat bekerja sama dalam kelompok heterogen, bertukar ide dalam menyelesaikan masalah, serta belajar menerima perbedaan strategi dan hasil pemikiran temannya. Interaksi tersebut menjadi media alami bagi siswa untuk belajar menghargai perbedaan, bersikap toleran, dan membangun empati dalam aktivitas belajar. Selain itu, integrasi kearifan lokal sebagai konteks pembelajaran matematika juga berperan penting dalam menguatkan dimensi kebhinekaan global. Pemanfaatan Masjid AlMahmudiyah Palembang . sebagai objek kajian, tidak hanya membantu peserta didik memahami konsep bangun ruang secara konkret, tetapi juga mengenalkan nilai budaya Islam Melayu yang melekat pada masyarakat Palembang. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman matematis, tetapi juga pengalaman budaya yang dapat menumbuhkan rasa bangga dan penghargaan terhadap warisan lokal. Melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi, peserta didik diberikan ruang belajar yang sesuai dengan profil belajar dan kemampuan masing-masing. Proses ini memungkinkan mereka untuk saling berkolaborasi, bertukar strategi penyelesaian soal matematika, dan menghargai keberagaman ide dalam kelompok Kondisi tersebut menjadi wadah yang efektif untuk menumbuhkan nilai kebhinekaan global, karena peserta didik belajar memahami perbedaan tanpa diskriminasi, bersikap inklusif terhadap cara berpikir teman, serta mengembangkan sikap toleransi dalam proses belajar. Integrasi kearifan lokal Masjid AlMahmudiyah pada materi bangun ruang semakin memperkuat pembentukan karakter tersebut, karena siswa tidak hanya belajar matematika secara konseptual, tetapi juga menanamkan nilai budaya lokal sebagai bagian dari identitas Indonesia sebagai negara yang kaya akan warisan budaya memiliki potensi besar dalam mendukung pembelajaran matematika berbasis konteks kearifan lokal. Masjid Al-Mahmudiyah Palembang sebagai bangunan bersejarah tidak hanya merepresentasikan nilai religius, tetapi juga mencerminkan konsep kebhinekaan melalui akulturasi budaya lokal Palembang. Islam, dan pengaruh arsitektur Melayu. Bentuk bangunan masjid yang menyerupai kubus dapat dimanfaatkan sebagai media konkret dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi volume Pemanfaatan objek budaya ini sejalan dengan pandangan etnomatematika, yang menyatakan bahwa konsep matematika sesungguhnya hadir dan berkembang dalam aktivitas serta artefak budaya masyarakat (DAoAmbrosio, 1. Namun, kenyataannya pembelajaran matematika sering masih bersifat klasikal dan tidak memperhatikan variasi kemampuan peserta didik. Hal tersebut menyebabkan sebagian siswa kesulitan memahami konsep secara mendalam dan berdampak pada rendahnya motivasi belajar. Oleh karena itu, penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis kearifan lokal menjadi solusi strategis untuk menciptakan pembelajaran matematika yang lebih adaptif, bermakna, dan membentuk karakter kebhinekaan global. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini difokuskan untuk menganalisis bagaimana pembelajaran berdiferensiasi berbasis kearifan lokal Masjid Al-Mahmudiyah Palembang dapat memperkuat dimensi kebhinekaan global dalam pembelajaran matematika. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan kemampuan matematis, tetapi juga membentuk karakter peserta didik yang mampu hidup harmonis dalam keberagaman. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan penguatan dimensi kebhinekaan global melalui pembelajaran berdiferensiasi berbasis kearifan lokal Masjid Al-Mahmudiyah Palembang pada pembelajaran matematika. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan karena berfokus pada pemahaman fenomena secara naturalistik dan mendalam, bukan pada uji statistik (Rustamana, 2. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 46 Palembang, dengan subjek siswa kelas VII dan guru matematika sebagai informan utama. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan Observasi digunakan untuk melihat penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan perilaku siswa terkait nilai kebhinekaan global, wawancara untuk menggali persepsi serta pengalaman guru dan siswa, sedangkan dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa foto kegiatan. LKPD, serta catatan Analisis data dilakukan menggunakan model Miles & Huberman meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sementara keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik (Ash-Shiddiqi. et al. , 2. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 46 Palembang yang beralamat di Jl. Sukabangun II Km. Kelurahan Sukajaya. Kecamatan Sukarami. Kota Palembang, dengan subjek penelitian yaitu 36 peserta didik kelas VII. Berdasarkan hasil analisis data dan dokumentasi pembelajaran yang dilakukan pada kelas tersebut, penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis kearifan lokal Masjid AlMahmudiyah Palembang menunjukkan adanya perkembangan dalam kemampuan kognitif siswa sekaligus penguatan karakter pada dimensi kebhinekaan global. Data hasil belajar yang diperoleh dari penelitian memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan siswa setelah diterapkannya pembelajaran Namun pada penelitian ini, fokus pembahasan diarahkan pada bagaimana pendekatan tersebut berkontribusi terhadap penguatan kebhinekaan global dalam pembelajaran matematika. Dalam kerangka Profil Pelajar Pancasila, dimensi kebhinekaan global mencakup empat elemen utama yaitu: . mengenal dan menghargai budaya, . komunikasi dan interaksi antarbudaya, . refleksi dan tanggung jawab sebagai warga dunia, serta . berkeadilan sosial dalam kebhinekaan (Kemendikbudristek. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Keempat elemen ini menjadi landasan analisis temuan penelitian, sehingga indikator kebhinekaan global dijadikan tolok ukur untuk melihat perubahan sikap dan perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran. Integrasi kearifan lokal melalui penggunaan miniatur tiang Masjid Al-Mahmudiyah pada materi volume kubus menjadikan pembelajaran lebih kontekstual dan dekat dengan lingkungan budaya Integrasi kearifan lokal melalui penggunaan miniatur tiang Masjid AlMahmudiyah pada materi volume kubus menjadikan pembelajaran matematika lebih kontekstual dan dekat dengan lingkungan budaya siswa. Pendekatan ini sejalan dengan konsep etnomatematika yang menekankan bahwa ide dan praktik matematika tumbuh serta berkembang dalam aktivitas dan artefak budaya masyarakat (DAoAmbrosio, 1. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian hasil belajar matematika, tetapi juga pada internalisasi nilai budaya dan karakter kebhinekaan global. Adapun temuan penelitian kemudian dirumuskan ke dalam beberapa fokus utama sebagai berikut: Pembelajaran diferensiasi mendorong kolaborasi dan interaksi antar siswa Data awal menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik berada pada kategori paham utuh, paham sebagian dan tidak paham. Setelah penerapan pembelajaran berdiferensiasi, terjadi peningkatan kemampuan kognitif yang terlihat pada nilai posttest yang lebih tinggi. Pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan membagi siswa dalam kelompok heterogen berdasarkan hasil asesmen awal, sehingga siswa dengan pemahaman lebih baik mendampingi siswa yang masih kesulitan. Hal ini menguatkan teori (Tomlinson. Carol A. , 2. bahwa diferensiasi memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai kesiapan belajar, minat, dan profil belajarnya. Selain itu, praktik kerja kelompok heterogen juga sejalan dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky (As Sayfullooh. , et al. , 2. yang menegaskan bahwa proses belajar terjadi secara optimal melalui interaksi sosial, khususnya ketika siswa yang lebih mampu membantu siswa lain. Melalui interaksi tersebut, peserta didik tidak hanya mengkonstruksi pemahaman konsep matematika secara bersama-sama, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial seperti komunikasi, kerja sama, dan empati. Dalam konteks penguatan dimensi kebhinekaan global, pembelajaran berdiferensiasi yang mendorong kolaborasi antar siswa ini membentuk sikap saling menghargai perbedaan kemampuan, cara berpikir, dan latar belakang. Hal ini sesuai dengan indikator komunikasi dan interaksi antarbudaya dalam Profil Pelajar Pancasila, yang menekankan kemampuan peserta didik untuk berinteraksi secara terbuka, menghargai perbedaan, dan bekerja sama dalam keberagaman (Kemendikbudristek, 2. Dengan demikian, pembelajaran matematika tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengembangan kemampuan kognitif, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter kebhinekaan global melalui pengalaman belajar kolaboratif. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Gambar 1: Aktivitas kolaborasi siswa dalam pembelajaran berdiferensiasi sebagai wujud komunikasi dan interaksi antarbudaya Dalam konteks kebhinekaan global, kondisi ini membentuk interaksi sosial yang saling menghargai perbedaan kemampuan, yang merupakan bagian dari indikator komunikasi dan interaksi antarbudaya dalam Profil Pelajar Pancasila (Kemendikbudristek, 2. Integrasi kearifan lokal Masjid Al-Mahmudiyah membentuk apresiasi budaya Pembelajaran yang memanfaatkan miniatur tiang Masjid Al-Mahmudiyah dan struktur bangunan masjid sebagai media pembelajaran membantu siswa memahami konsep volume kubus secara lebih konkret. Data dokumentasi kegiatan menunjukkan bahwa siswa mampu mengaitkan konsep matematika dengan fenomena budaya yang ada di lingkungan sekitar mereka. Penggunaan konteks budaya lokal ini berfungsi sebagai jembatan antara konsep matematika yang bersifat abstrak dengan pengalaman nyata siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Temuan ini sejalan dengan konsep etnomatematika yang menyatakan bahwa pembelajaran matematika akan lebih efektif apabila dikaitkan dengan artefak dan praktik budaya yang dekat dengan kehidupan peserta didik (DAoAmbrosio, 1. Selain itu, hasil penelitian ini memperkuat temuan (Abidin, 2. yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal berkontribusi dalam meningkatkan literasi budaya serta kesadaran identitas daerah peserta didik. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa budaya lokal yang diintegrasikan dalam pembelajaran memperkuat karakter siswa, termasuk sikap toleransi dan apresiasi budaya (Habibie, et al. , 2. Artinya, integrasi budaya lokal dalam pembelajaran mampu menumbuhkan sikap apresiatif terhadap warisan budaya serta memperkuat karakter siswa dalam menghargai keberagaman. Dengan demikian, pembelajaran matematika yang mengintegrasikan kearifan lokal Masjid Al-Mahmudiyah tidak hanya berorientasi pada pencapaian kompetensi kognitif, tetapi juga berperan dalam penguatan dimensi kebhinekaan global, khususnya pada elemen mengenal dan menghargai budaya sebagai bagian dari identitas bangsa (Kemendikbudristek. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Gambar 2: Aktivitas pembelajaran matematika berbasis kearifan lokal Masjid AlMahmudiyah dalam menguatkan dimensi kebhinekaan global Pembelajaran kontekstual mengembangkan rasa reflektif dan tanggung jawab sosial siswa Perubahan capaian indikator soal dari sebelum ke sesudah perlakuan menunjukkan bahwa siswa tidak hanya menguasai konsep dasar volume kubus, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan konteks nyata di lingkungan sekitar. Kegiatan perhitungan volume tiang Masjid Al-Mahmudiyah mendorong siswa untuk menyadari bahwa budaya dan matematika tidak terpisah, melainkan saling berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learnin. Johnson yang menekankan keterkaitan antara materi pembelajaran dengan situasi nyata sehingga mendorong peserta didik untuk berpikir reflektif terhadap pengalaman belajarnya (Hasudungan, 2. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian (Widiyanti et al. , 2. yang menyatakan bahwa pembelajaran yang dihubungkan dengan budaya lokal mampu menumbuhkan rasa bangga, kepedulian, serta tanggung jawab peserta didik terhadap warisan budaya daerah. Selain itu, pembelajaran berbasis konteks budaya juga memberikan ruang bagi siswa untuk merefleksikan peran mereka dalam menjaga nilai-nilai budaya sebagai bagian dari identitas sosialnya sebagaimana menurut (Latuwael, et al, 2. integrasi budaya lokal dalam pendidikan dapat meningkatkan motivasi belajar dan membantu siswa memahami nilai-nilai kearifan lokal serta memperkuat karakter siswa melalui konteks budaya lokal. Berdasarkan data observasi, selama proses pembelajaran siswa terlihat aktif berdiskusi mengenai fungsi dan makna tiang masjid, serta mengaitkannya dengan perhitungan volume kubus. Siswa menunjukkan sikap antusias dan kesadaran bahwa bangunan masjid merupakan bagian penting dari budaya dan kehidupan masyarakat Palembang. Data wawancara dengan beberapa siswa menunjukkan bahwa mereka merasa pembelajaran menjadi lebih bermakna karena materi matematika dapat diterapkan pada objek nyata yang mereka kenal, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk menghargai dan menjaga warisan budaya di lingkungan sekitar. Dalam kerangka Profil Pelajar Pancasila, temuan ini menunjukkan penguatan dimensi kebhinekaan global, khususnya pada elemen refleksi dan tanggung jawab sebagai warga dunia, yaitu kemampuan peserta didik JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 untuk merefleksikan pengalaman kebhinekaan dan menunjukkan sikap bertanggung jawab dalam menghargai keberagaman budaya lokal sebagai bagian dari masyarakat global (Kemendikbudristek, 2. Budaya lokal membentuk pembelajaran inklusif dan berkeadilan Peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa berdasarkan nilai posttest menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis kearifan lokal memberikan ruang belajar yang adil bagi setiap peserta didik. Strategi diferensiasi yang diterapkan melalui penggunaan LKPD berbasis kearifan lokal masjid Al-Mahmudiyah, serta pengelompokan belajar yang fleksibel memungkinkan siswa dengan kemampuan tinggi tidak mendominasi proses pembelajaran, sementara siswa yang masih mengalami kesulitan tetap memperoleh dukungan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Temuan ini sejalan dengan prinsip equity-based learning, yang menekankan keadilan dalam pembelajaran melalui pemberian layanan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Tomlinson. Carol A. , 2. Hasil penelitian ini memperkuat temuan (Kurniasandi, et al, 2. pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajar individual siswa sehingga semua peserta didik merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini dianggap mampu menciptakan lingkungan belajar inklusif dengan memberikan dukungan yang sesuai bagi masing-masing siswa. Artinya, pebelajaran berdiferensiasi mampu menciptakan proses belajar yang lebih inklusif dan berkeadilan, karena setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang setara tanpa mengabaikan perbedaan kemampuan. Selain itu, integrasi budaya lokal berkontribusi dalam menciptakan suasana kelas yang inklusif, karena materi pembelajaran dekat dengan kehidupan dan latar belakang budaya mereka. Adapun berdasarkan data observasi, selama proses pembelajaran siswa terlihat terlibat secara aktif sesuai dengan tingkat kemampuannya masing-masing dan tidak ditemukan dominasi siswa tertentu dalam diskusi kelompok, dan siswa yang sebelumnya pasif mulai berani mengemukakan pendapat ketika menggunakan media konkret dan LKPD yang disesuaikan. Data wawancara dengan guru menunjukkan bahwa penerapan diferensiasi memudahkan guru dalam mengakomodasi perbedaan kemampuan siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih adil dan kondusif. Gambar 3: Keterlibatan siswa secara aktif dalam diskusi kelompok JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 Dalam perspektif Profil Pelajar Pancasila, temuan ini menunjukkan penguatan dimensi kebhinekaan global, khususnya pada elemen berkeadilan sosial dalam kebhinekaan, yaitu kemampuan peserta didik untuk mengalami dan mempraktikkan keadilan dalam lingkungan belajar yang menghargai perbedaan kemampuan, latar belakang, dan potensi setiap individu (Kemendikbudristek. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis kearifan lokal Masjid AlMahmudiyah Palembang berkontribusi secara signifikan dalam penguatan dimensi kebhinekaan global peserta didik pada pembelajaran matematika. Pembelajaran yang mengintegrasikan miniatur tiang masjid sebagai konteks materi volume kubus tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep matematika, tetapi juga membentuk sikap sosial dan karakter siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran diferensiasi mendorong terjadinya kolaborasi, interaksi, dan keterlibatan aktif siswa dalam kelompok Siswa mampu bekerja sama, saling membantu, serta menghargai perbedaan kemampuan dan cara berpikir. Temuan ini menguatkan indikator komunikasi dan interaksi antarbudaya dalam dimensi kebhinekaan global. Data dokumentasi kegiatan pembelajaran dan hasil kerja siswa memperlihatkan bahwa penggunaan konteks budaya lokal menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual, serta menumbuhkan sikap apresiatif terhadap budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa. Selain itu, hasil wawancara dengan siswa dan guru menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal mendorong siswa untuk merefleksikan keterkaitan antara matematika dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa menyadari pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya, sehingga terbentuk sikap reflektif dan rasa tanggung jawab sosial. Temuan ini menunjukkan penguatan elemen refleksi dan tanggung jawab sebagai warga dunia dalam kebhinekaan global. Lebih lanjut, pembelajaran berdiferensiasi menggunakan LKPD berkonteks budaya lokal, media konkret, dan pengelompokan siswa menciptakan proses pembelajaran yang inklusif dan berkeadilan. Setiap siswa memperoleh kesempatan belajar sesuai dengan kebutuhannya, tanpa adanya dominasi dari siswa berkemampuan tinggi. Hal ini diperkuat oleh data observasi dan wawancara guru yang menunjukkan terciptanya suasana kelas yang adil, kondusif, dan menghargai perbedaan, sehingga menguatkan elemen berkeadilan sosial dalam kebhinekaan. Dengan demikian, pembelajaran berdiferensiasi berbasis kearifan lokal Masjid Al-Mahmudiyah Palembang terbukti tidak hanya efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika, tetapi juga berperan strategis dalam menanamkan nilai kebhinekaan global melalui pengalaman belajar yang kontekstual, reflektif, inklusif, dan berkeadilan. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran matematika dapat menjadi salah satu JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 2 Edisi Bulan Desember 2025 pendekatan yang relevan untuk mendukung implementasi Profil Pelajar Pancasila di satuan pendidikan. Referensi