PENGARUH KEPEMIMPINAN ALTRUISTIC TERHADAP PERILAKU MENOLONG. DIMEDIASI OLEH WORK ENGAGEMENT DAN EMOSI POSITIF Rony Tondy Arifin S1. Rasyid Abdillah2. Indarti3 Pascasarjana Universitas Lancang Kuning Jln. Yos Sudarso Km 08 Rumbai Telp. 52581 Fax. E-mail : ronytondy@gmail. com (Korespondin. Abstract: This study aims to analyze the effect of altruistic leadership on helping behavior among village officials, using work engagement and positive emotions as mediating variables. This study used a quantitative approach with data collection through closed-ended questionnaires distributed to 156 village officials in several villages within the administrative area of Sialang Pasung Village. The research instrument was developed based on indicators from theory and previous studies. Data analysis used the Partial Least Squares-based Structural Equation Modeling (SEM-PLS) method to test the direct and indirect relationships between variables. The results showed that altruistic leadership significantly influenced helping behavior, both directly and through the mediation of work engagement and positive Work engagement was found to be the strongest mediator in strengthening this These findings confirm that a leadership style that emphasizes caring and sincerity contributes significantly to building work morale and encouraging prosocial behavior within village officials. Therefore, strengthening altruistic values in leadership practices is a strategic step in realizing more humanistic, productive, and collaborative village Keywords: Altruistic Leadership. Helping Behavior. Work Engagement. Positive Emotions. SEM-PLS Kinerja organisasi publik pada tingkat desa sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya, khususnya dalam aspek kolaborasi, kepedulian, dan kesadaran kolektif dalam menjalankan fungsi pelayanan Dalam dinamika kerja seharihari, pegawai tidak hanya dituntut menyelesaikan tugas pokok dan fungsi administratif, tetapi juga untuk menunjukkan perilaku ekstra-rol seperti membantu rekan kerja, menunjukkan loyalitas organisasi, dan bekerja melebihi standar yang ditentukan. Perilaku seperti ini dikenal dengan istilah helping behavior, yakni kecenderungan individu untuk memberikan bantuan kepada rekan kerja secara sukarela dan tanpa imbalan langsung (Podsakoff et al. , 2. Helping behavior merupakan bagian dari Organizational Citizenship Behavior (OCB) dan telah terbukti meningkatkan penyelesaian tugas, serta memperkuat iklim kerja yang positif. Namun demikian, tidak semua lingkungan kerja mampu mendorong tumbuhnya perilaku helping behavior. Salah satu faktor kunci yang mempengaruhi terbentuknya perilaku ini adalah gaya Berdasarkan pada teori Goal Setting Theory awalnya dikemukakan oleh (Locke 1. dan Expectancy theory (Teori Harapa. dikembangkan oleh (Vroom 1. , maka dapat dikembangkan sebuah model penelitian terkait dengan pengaruh dari kualitas kehidupan kerja terhadap kinerja, baik secara langsung maupun dengan kepuasan dan Perilaku Kewargaan Organisasi sebagai variabel perantara . Kedua teori tersebut menekankan bahwa kepuasan kerja dan perilaku positif (OCB) meningkatkan kinerja. Kepuasan kerja dan OCB dianggap berfungsi sebagai mediator yang menjembatani hubungan antara lingkungan kerja dan hasil kinerja. Adapun variabel pertama yang menjadi pendorong Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi Oleh Work Engagement dan Emosi Positif (Rony Tondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. pencapaian kinerja karyawan adalah terkait dengan Perilaku Kewargaan Organisasi. Perilaku Kewargaan Organisasi merupakan perilaku yang sangat dibutuhkan oleh organisasi dan juga karyawan. Karyawan yang memiliki perilaku yang baik tentu saja akan memberikan hasil pekerjaan yang terbaik, begitu juga sebaliknya, karyawan yang memiliki perilaku kerja yang kurang baik, akan cenderung menghasilkan kinerja yang kurang baik pula. Permasalahan Helping behavior tentu saja bisa ditingkatkan dengan mengkaji berbagai faktor yang dapat mempengaruhi perilaku menolong tersebut. Menurut Gibson dalam Tsauri, . secara teoritis ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja, yaitu: variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis. Kepemimpinan ini ditandai oleh tindakan pemimpin yang menempatkan kepentingan bawahan di atas kepentingan pribadi, menunjukkan empati, kemurahan hati, serta kesediaan untuk membantu dan mendampingi bawahannya tanpa pamrih (Barbuto & Wheeler, 2. Pemimpin altruistik tidak hanya memotivasi melalui instruksi atau target, tetapi melalui teladan sikap dan nilai-nilai kemanusiaan. Menurut penelitian (Abdillah. Wu, and Anita 2. , kepemimpinan altruistik memiliki pengaruh signifikan dalam menurunkan perilaku negatif seperti knowledge hiding dan meningkatkan relasi positif dalam organisasi melalui pemicu emosi positif dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan (LMX). Emosi positif yang ditimbulkan dari perlakuan pemimpin juga memengaruhi perilaku prososial. Fredrickson . dalam Broaden-and-Build Theory menyatakan bahwa emosi positif memiliki efek memperluas pikiran dan tindakan individu, yang pada akhirnya membangun sumber daya pribadi seperti empati, keterhubungan sosial, dan dorongan untuk membantu Dalam konteks organisasi, pegawai yang mengalami emosi positif cenderung lebih mudah menginisiasi bantuan kepada Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. rekan kerja, menjadi lebih ramah, dan menunjukkan sikap kooperatif. Emosi positif merupakan keadaan psikologis yang mencerminkan perasaan senang, bangga, bersyukur, puas, dan antusias yang timbul dalam diri individu sebagai respons terhadap pengalaman kerja yang positif. Dalam konteks organisasi publik, emosi positif memiliki peran penting dalam membentuk perilaku kerja yang konstruktif, seperti peningkatan motivasi, kerja sama, loyalitas, dan perilaku prososial seperti helping behavior. Berdasarkan pengamatan awal di Desa Sialang Pasung, terlihat bahwa masih terdapat tantangan dalam membangun kerja sama antarpersonel perangkat desa. Beberapa kecenderungan kerja individualistik, enggan berbagi beban kerja, dan kurang inisiatif dalam membantu rekan kerja saat Di sisi lain, kepala desa dinilai memiliki gaya kepemimpinan yang cukup dekat dengan nilai-nilai altruistik, seperti kerap turun langsung membantu pegawai, memberi ruang aspirasi, dan terbuka terhadap komunikasi informal. Namun, dampak gaya kepemimpinan tersebut terhadap perubahan sikap pegawai belum terukur secara sistematis. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah kepemimpinan altruistik yang dijalankan benar-benar berdampak terhadap helping behavior pegawai? Jika ya, bagaimana peran work engagement dan emosi positif dalam menjembatani pengaruh tersebut? Husein Umar . menjelaskan MSDM adalah bagian dari manajemen organisasi yang fokus pada pengelolaan sumber daya manusia untuk mencapai kepuasan kerja bagi karyawan. Lebih lanjut Suwanto dan Prisa . mengatakan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) adalah suatu cabang manajemen pengaturan, implementasi, dan pengawasan. Pendapat Hasibuan . menyatakan MSDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan serta peranan tenaga kerja agar ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Work Engagement dan Emosi Positif (Rony 690 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi OlehTondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. efektif dalam mencapai tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Kepemimpinan altruistik merupakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan kesejahteraan bersama, di mana seorang pemimpin secara sadar menempatkan kepentingan bawahan di atas kepentingan pribadinya. Pemimpin altruistik dicirikan oleh sikap tanpa pamrih, empati, kerendahan hati, kasih sayang, serta kesediaan untuk membantu dan membimbing mengharapkan imbalan. dan kepuasan kerja di lingkungan organisasi. Pendapat (Schaufeli. Salanova. Gonzalez-Roma. Baker, dalam(Adi and Fithriana 2. Engagement adalah perasaan positif, bersungguh-sungguh secara lahiriah dan batiniah, pekerjaan dilakukan dengan vigor, dedication, dan Vigor keinginan kuat untuk mengeluarkan energi besar dan kuat dalam mencapai tujuan Dedication adalah terlibat penuh dalam satu pekerjaan. Absorption adalah terlibat dalam satu pekerjaan dan ketika dalam pelibatan tersebut merasa waktu berlalu dengan cepat. Menurut (Sari. Amin, and Kurniawan 2. Emosi positif didefinisikan sebagai perasaan menyenangkan yang muncul saat psikologis, dan hal tersebut dapat mendorong semangat kerja serta peningkatan performa secara menyeluruh. Sementara itu (Firdaus 2. emosi positif merupakan bagian dari dimensi afek yang mencakup perasaan seperti senang, antusias, dan puas. (Asti. Widyaningsih, and Priyadi 2. menjelaskan emosi positif merujuk "kekayaan memperkuat karakter manusia dan secara langsung meningkatkan kinerja karyawan. Emosi ini termasuk semangat, antusiasme, dan suasana hati yang kondusif untuk produktivitas kerja yang lebih baik. (Qasim et al. Helping behavior didefinisikan sebagai tindakan sukarela yang dilakukan untuk membantu orang lain dalam menyelesaikan tugas atau masalah pekerjaan. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. dan merupakan bagian dari organizational citizenship behavior (OCB), yakni perilaku meskipun tidak diwajibkan secara formal. (Artha and Etikariena 2. Helping behavior dipahami sebagai aktivitas yang dilakukan oleh karyawan di luar tugas menyelesaikan permasalahan personal maupun pekerjaan rekan kerja. Perilaku ini dipengaruhi oleh empati dan rasa peduli terhadap kondisi rekan kerja di lingkungan METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian Penelitian kausalitas adalah pengaruh antar variabel dalam bentuk sebab-akibat (Cause-effec. antar beberapa konsep atau beberapa variabel atau beberapa strategi yang dikembangkan dalam manajemen (Augusty Ferdinand Sedangkan pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan Kuantitatif bertujuan untuk membantu peneliti dalam mengevaluasi sejauh mana data yang dihasilkan melalui metode tertentu valid dan benar-benar merefleksikan realitas yang ada. Penelitian kuantitatif bertujuan untuk mengukur faktafakta yang objektif dengan memfokuskan pada variabel-variabel penelitian (Neuman Adapun metode yang digunakan adalah dengan survei. Yaitu mengkaji populasi besar maupun kecil dengan menyeleksi dan mengkaji sampel yang dipilih untuk menemukan insidensi, distribusi, dan interrelasi relative dari variabel-variabel (Kerlinger 2. HASIL Kepemimpinan Altruistik Kepemimpinan altruistik merupakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan kesejahteraan bersama, di mana seorang pemimpin secara sadar menempatkan kepentingan bawahan di atas kepentingan pribadinya. Adapun rekapitulasi tanggapan responden terhadap ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi Oleh Work Engagement dan Emosi Positif (Rony Tondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. pernyataan terkait dengan indikator-indikator Kepemimpinan altruistik, maka dapat dilihat dari tabel berikut: Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Penelitian terhadap Pernyataan Variabel Kepemimpinan altruistic Indikator/ Pernyataan Alternatif Jawaban T K S S S S 1 6 6 1 2 1 7 6 Atasan saya melakukan segala yang bisa ia lakukan untuk melayani Atasan memenuhi kebutuhan saya. Atasan Atasan saya melakukan sesuatu melebihi tugas dan tanggung kebutuhan saya. Rata-Rata Sumber: Data Olahan, 2025 Berdasarkan hasil rekapitulasi data penelitian, tingkat kepemimpinan altruistik yang ditunjukkan oleh kepala desa secara umum berada pada kategori Baik, dengan rata-rata nilai sebesar 3,6 pada skala penilaian yang digunakan. Angka ini mencerminkan bahwa mayoritas responden memiliki persepsi positif terhadap perilaku kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan orang lain, termasuk dalam hal pengabdian, empati, dan tanggung jawab sosial yang dimiliki oleh kepala desa. Rendahnya skor pada indikator ini dapat diinterpretasikan sebagai cerminan perangkat desa dan praktik kepemimpinan yang dirasakan di lapangan. Beberapa kemungkinan penyebabnya antara lain keterbatasan waktu, sumber daya, atau strategi pelayanan yang belum menyentuh kebutuhan nyata masyarakat dan aparatur desa secara menyeluruh. Hal ini menjadi penting untuk dicermati, mengingat salah satu esensi utama dari kepemimpinan altruistik adalah kemampuan pemimpin untuk mendahulukan kepentingan publik serta menunjukkan komitmen kuat dalam melayani masyarakat tanpa pamrih. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. Emosi Positif Emosi positif berperan sebagai katalisator psikologis yang meningkatkan (Emosi komitmen organisasi, kreativitas, dan kinerja kerja yang optimal. Adapun rekapitulasi tanggapan responden terhadap pernyataan terkait dengan indikatorindikator Emosi positif, maka dapat dilihat dari tabel berikut: Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Penelitian terhadap Pernyataan Variabel Emosi positif Indikator/ Pernyataan Setiap dengan Atasan langsung saya. Saya merasa dengan Atasan langsung saya. Saya merasa dengan Atasan langsung saya. Saya merasa senang ketika Atasan langsung saya. Berinteraksi dengan Atasan langsung saya Perkataan dan tingkah laku Atasan langsung saya bagi saya. Saya kenangankenangan yang Atasan langsung saya. Ingatan tentang Atasan langsung saya membuat saya Alternatif Jawaban Ratarata 3,54 3,47 3,67 3,55 3,55 3,54 3,52 3,54 ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Work Engagement dan Emosi Positif (Rony 692 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi OlehTondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Penelitian terhadap Pernyataan Variabel Work Engagement (Keterikatan Kerj. Rata-Rata Sumber: Data Olahan, 2025 Berdasarkan penelitian terhadap variabel Emosi Positif, secara keseluruhan diperoleh rata-rata nilai sebesar 3,55, yang menunjukkan bahwa persepsi responden berada dalam kategori Baik. Hasil ini mencerminkan bahwa perangkat desa pada umumnya merasakan emosi positif dalam lingkungan kerjanya, yang dapat berupa rasa antusias, puas, nyaman, dan optimis dalam menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari. Namun demikian, di balik capaian rata-rata yang tergolong baik tersebut, analisis lebih lanjut terhadap indikator-indikator yang membentuk variabel ini menunjukkan adanya satu indikator yang memiliki nilai rata-rata di bawah rata-rata keseluruhan variabel. Temuan ini memberikan sinyal penting bahwa meskipun secara umum menumbuhkan emosi positif, kualitas hubungan interpersonal antara atasan langsung dan bawahan masih perlu mendapat perhatian khusus. Interaksi yang kurang menyenangkan atau minimnya kehangatan emosional dalam komunikasi dengan atasan dapat berpengaruh terhadap penurunan semangat kerja, menurunnya keterikatan berkurangnya rasa nyaman di lingkungan Work Engagement (Keterikatan Kerj. Merupakan karyawan yang merasa terikat dengan tempat mereka bekerja, sehingga karyawan yang memiliki engagement dapat ditunjukkan dari perilaku bersungguh-sungguh dalam bekerja. Adapun rekapitulasi tanggapan responden terhadap pernyataan terkait dengan indikatorindikator Work Engagement (Keterikatan Kerj. maka dapat dilihat dari tabel berikut: Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. Indikator/ Pernyataan merasa enerjik. pekerjaan saya. Ketika bangun di pagi merasa senang Saya antusias pekerjaan saya. Pekerjaan saya inspirasi pada Saya bangga pekerjaan yang saya lakukan. Saya merasa senang ketika serius bekerja. Saya pekerjaan saya. Kecintaan saya pada pekerjaan membuat saya Alternatif Jawaban Ratarata 3,56 3,62 3,74 3,66 3,56 3,63 3,69 3,63 3,72 Rata-Rata 3,65 Sumber: Data Olahan, 2025 Berdasarkan penelitian terhadap variabel Keterikatan Kerja, secara umum diperoleh rata-rata nilai sebesar 3,65. Nilai ini mencerminkan bahwa secara keseluruhan, persepsi responden terhadap keterikatan kerja berada dalam kategori "Baik", yang berarti bahwa sebagian besar responden merasa cukup terlibat secara emosional, kognitif, dan fisik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka di lingkungan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas individu yang diteliti menunjukkan antusiasme dan Namun demikian, analisis lebih lanjut terhadap masing-masing indikator dalam variabel keterikatan kerja menunjukkan bahwa masih terdapat aspekaspek yang perlu mendapatkan perhatian ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi Oleh Work Engagement dan Emosi Positif (Rony Tondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. lebih lanjut, karena memiliki rata-rata nilai di bawah rata-rata total variabel. Dua indikator yang menonjol dengan nilai relatif lebih rendah adalah: "Saya merasa enerjik dalam bekerja", dengan rata-rata skor 3,56. "Pekerjaan saya memberikan inspirasi pada saya", dengan rata-rata skor 3,56. Rendahnya skor pada indikator enerjik mengindikasikan bahwa tidak semua responden merasakan dorongan energi positif saat bekerja. Hal ini dapat disebabkan oleh beban kerja yang tinggi, lingkungan kerja yang monoton, atau kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan semangat dan motivasi kerja dalam jangka panjang. Perilaku Menolong Perilaku Menolong adalah tindakan sukarela untuk membantu rekan kerja dalam menyelesaikan tugas atau menghadapi masalah di lingkungan kerja, baik berupa bantuan informasi, bantuan praktis, maupun dukungan emosional Ai yang tidak bersifat wajib tetapi memberikan manfaat bagi individu, tim, dan organisasi. Adapun rekapitulasi tanggapan responden terhadap pernyataan terkait dengan indikator-indikator Perilaku Menolong, maka dapat dilihat dari tabel berikut: Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Penelitian terhadap Pernyataan Variabel Perilaku Menolong Indikator/ Pernyataan Alternatif Jawaban Saya secara n tips/caracara kerja terbaru atau yang efektif rekan-rekan di tempat Saya rekan-rekan yang baru di tempat kerja agar Rata -rata Ket 3,44 Bai 3,34 Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. an diri di kerja yang Saya berbagi tips secara aktif rekan-rekan di tempat Saya secara n bantuan rekan-rekan di tempat kerja ketika 3,58 Bai 3,46 Bai 3,45 Bai Rata-rata Sumber: Data Olahan, 2025 Berdasarkan penelitian terhadap variabel perilaku menolong, diperoleh rata-rata skor sebesar 3,45, yang tergolong dalam kategori Baik. Temuan ini menunjukkan bahwa secara umum responden telah menunjukkan sikap saling membantu dan peduli terhadap sesama rekan kerja dalam lingkungan Perilaku menolong dalam konteks ini mencakup kesediaan untuk memberikan bantuan, dukungan, serta kerja sama dalam menyelesaikan tugas maupun menghadapi tantangan di tempat kerja. Rendahnya skor pada indikator ini dapat mengindikasikan bahwa adaptasi sosial dan dukungan terhadap rekan kerja baru belum menjadi kebiasaan yang mengakar dalam lingkungan kerja tersebut. Padahal, perilaku membantu rekan kerja baru memiliki peranan penting dalam menciptakan suasana kerja yang inklusif, harmonis, dan kondusif. Ketika seorang pegawai baru merasa diterima dan didukung sejak awal masa kerjanya, hal tersebut akan meningkatkan rasa percaya diri, loyalitas terhadap institusi, serta mempercepat proses adaptasi terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Convergent Validity Convergent validity ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Work Engagement dan Emosi Positif (Rony 694 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi OlehTondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. pengukuran dapat dilihat dari korelasi antara skor indikator dengan skro kontruknya . oading facto. dengan kriteria nilai loading factor dari setiap indikator lebih besar dari 7 dapat dikatakan Valid. Akan tetapi, menurut Chin dalam (Ghozali 2018. , pada tahap awal dari pengembangan nilai loading factor lebih besar (>) dari 0. 5 Ae 0. 6 dapat dikatakan Valid. Adapun nilai loading factor dari setiap indikator adalah sebagai berikut: Gambar 4. Hasil Uji Convergent Validity Dengan melihat nilai loading Faktor Sumber: Data Olahan, 2025 Gambar 4. 1, menjelaskan besaranya pengaruh masing-masing indicator terhadap dimensi, maupun besaran pengaruh indicator terhadap variabel yang diteliti. Nilai loading factor yang digunakan adalah untuk menilai menguji konstruk laten dimensi ke Pada tahap pertama tersebut, akan ada perbaikan model terhadap konstruk laten dimensi terhadap indikator dari uji yang telah dilakukan. Nilai loading faktor yang diharapkan adalah lebih besar dari 0. Gambar 4. Jalur Hasil Pengujian Hipotesis Sumber: Data Olahan, 2025 Berdasarkan gambar dan tabel di atas, maka didapatkan hasil uji hipotesis sebagai Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Work Engagement Aparatur Desa Sialang Pasung. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepemimpinan altruistik memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap work engagement aparatur desa, dengan nilai koefisien sebesar 0. 752, nilai t-hitung 150 (> 1. , dan p-value 0. 000 (< Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kepemimpinan altruistik yang diterapkan oleh pimpinan desa, maka semakin tinggi pula tingkat keterlibatan kerja . ork engagemen. dari Artinya, nilai-nilai kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan bersama dan kepedulian terhadap orang lain mampu membangun keterikatan emosional, dedikasi, dan semangat kerja aparatur secara signifikan. Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Emosi Positif Aparatur Desa Sialang Pasung. Hasil pengujian juga menunjukkan berpengaruh secara signifikan terhadap emosi positif, dengan nilai koefisien 0. t-hitung 18. 229, dan p-value 0. Hal ini memperkuat dugaan bahwa pemimpin yang menunjukkan sikap empati, kepedulian, dan kerelaan membantu dapat menumbuhkan perasaan bahagia, antusias, dan puas dalam Dengan kepemimpinan altruistik tidak hanya memengaruhi aspek kognitif atau perilaku kerja, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk kondisi afektif yang positif di tempat kerja. Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Aparatur Desa Sialang Pasung. Analisis statistik menunjukkan bahwa pengaruh kepemimpinan altruistik terhadap perilaku menolong bersifat signifikan, meskipun dengan koefisien yang relatif kecil, yakni sebesar 0. 121, t-hitung 361, dan p-value 0. Hasil ini ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi Oleh Work Engagement dan Emosi Positif (Rony Tondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. menunjukkan bahwa sikap altruistik dari seorang pemimpin mampu mendorong aparatur untuk menampilkan perilaku prososial, seperti membantu rekan kerja atau Meskipun pengaruhnya tidak sebesar jalur tidak langsung . , namun pengaruh langsung tetap ada dan penting dalam konteks perilaku kerja sosial. Pengaruh Work Engagement Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Aparatur Desa Sialang Pasung. Temuan penelitian menunjukkan bahwa work engagement memiliki pengaruh yang sangat kuat dan signifikan terhadap perilaku menolong, dengan nilai koefisien 768, t-hitung 21. 609, dan p-value 0. Ini berarti keterlibatan kerja yang tinggi Ae ditunjukkan oleh semangat, dedikasi, dan konsentrasi terhadap tugas Ae secara nyata akan meningkatkan kecenderungan aparatur untuk membantu orang lain di lingkungan Semangat kerja yang tinggi menjadikan aparatur lebih proaktif dan peduli terhadap lingkungan sosialnya. Pengaruh Emosi Positif Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Aparatur Desa Sialang Pasung. Analisis terhadap pengaruh emosi positif terhadap perilaku menolong juga menunjukkan hasil yang signifikan, dengan 089, t-hitung 2. 020, dan p-value Meskipun nilai koefisiennya tidak besar, namun hasil ini menunjukkan bahwa aparatur desa yang merasakan emosi positif seperti rasa bahagia, optimisme, dan kepuasan kerja, cenderung lebih bersedia untuk menolong orang lain. Ini mendukung teori bahwa suasana hati yang baik menunjukkan perilaku prososial. Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Dimediasi Work Engagement Aparatur Desa Sialang Pasung. Hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa kepemimpinan altruistik berpengaruh Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. signifikan terhadap perilaku menolong melalui work engagement, dengan nilai koefisien mediasi sebesar 0. 578, t-hitung 204, dan p-value 0. Temuan ini menegaskan bahwa engagement merupakan menjembatani pengaruh kepemimpinan altruistik terhadap perilaku menolong. Dengan kata lain, kepemimpinan yang penuh empati dan kepedulian mampu meningkatkan keterlibatan kerja aparatur, yang pada gilirannya mendorong mereka untuk bersikap lebih membantu dan Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Dimediasi Emosi Positif Aparatur Desa Sialang Pasung. Mediasi melalui emosi positif juga terbukti signifikan, dengan nilai koefisien 062, t-hitung 2. 023, dan p-value 0. Meskipun efeknya lebih kecil dibandingkan mediasi melalui engagement, hasil ini menunjukkan bahwa emosi positif berperan sebagai jalur penting dalam memediasi pengaruh kepemimpinan altruistik terhadap perilaku menolong. Artinya, kepemimpinan yang menyentuh sisi emosional bawahan mampu membentuk iklim afektif yang mendukung terwujudnya perilaku prososial di lingkungan kerja. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis dengan melakukan uji regresi dan uji hipotesis, dengan menggunakan program SPSS, maka dapat diketahui bahwa: Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Work Engagement Aparatur Desa Sialang Pasung. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepemimpinan altruistik secara signifikan berpengaruh terhadap work engagement. Temuan ini mendukung teori dan studi terdahulu yang menyatakan bahwa gaya keterlibatan mereka dalam pekerjaan. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Work Engagement dan Emosi Positif (Rony 696 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi OlehTondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. Aparatur desa yang merasakan bahwa pemimpinnya peduli, mendengarkan, dan rela berkorban untuk kepentingan bersama cenderung merasa dihargai dan memiliki dorongan intrinsik yang lebih kuat untuk komitmennya terhadap pekerjaan. Kepemimpinan altruistik merupakan gaya kepemimpinan yang menekankan nilainilai kebaikan, keikhlasan, dan kepedulian Pemimpin dengan karakter altruistik tidak hanya memikirkan tujuan organisasi, tetapi juga menunjukkan perhatian pribadi terhadap kebutuhan dan emosi pegawai. Gaya menumbuhkan rasa keterikatan emosional Firdaus . menjelaskan bahwa keterlibatan kerja atau work engagement terdiri dari semangat . , dedikasi, dan keterlibatan mendalam . dalam pekerjaan, yang tumbuh dari lingkungan kerja yang mendukung dan Pemimpin menciptakan makna tersebut melalui perhatian personal, keteladanan etis, dan dukungan yang konsisten, sebagaimana juga ditegaskan oleh Wan et al. bahwa kepemimpinan yang emosional mendorong keterlibatan kerja melalui pengaruh afektif. Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Emosi Positif Aparatur Desa Sialang Pasung. Diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan altruistik memiliki kontribusi kuat dalam membentuk emosi positif pada diri aparatur. Emosi positif, seperti rasa bahagia, puas, bangga, dan antusias, muncul sebagai respons terhadap interaksi interpersonal yang harmonis dan penuh makna. Ketika pemimpin menunjukkan kejujuran, empati, dan ketulusan dalam mendukung stafnya, maka aparatur akan lebih mudah mengalami emosi yang menyenangkan, yang pada gilirannya memperkuat semangat dan produktivitas kerja. Secara psikologis. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. persepsi dan pengalaman emosional kepercayaan dan hubungan yang hangat. Temuan ini penting dalam menciptakan budaya kerja yang sehat dan kondusif di lingkungan pemerintahan desa. Pemimpin empati, kemurahan hati, dan dukungan moral secara langsung mampu membangun suasana emosional yang kondusif di tempat Asti . menyatakan bahwa emosi hubungan interpersonal yang sehat, yang salah satunya datang dari kepemimpinan yang memperhatikan nilai kemanusiaan. Dukungan ini diperkuat oleh penelitian Wang et al. yang menemukan bahwa pemimpin yang menampilkan emosi positif seperti humor, optimisme, dan kelegaan akan menularkan emosi serupa kepada bawahannya, meningkatkan psychological safety dan memperkuat afek positif dalam Oleh karena itu, kepemimpinan altruistik memainkan peran signifikan dalam membentuk emosi positif karyawan. Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Aparatur Desa Sialang Pasung. Hasil Penelitian pengaruh langsung yang signifikan meskipun dengan kekuatan pengaruh yang relatif kecil. Hasil ini menunjukkan bahwa munculnya perilaku prososial atau perilaku menolong di antara aparatur. Dalam konteks organisasi sektor publik seperti pemerintahan desa, perilaku menolong membantu antar rekan kerja, mendukung tugas bersama, dan memberikan informasi atau solusi tanpa diminta. Pengaruh langsung ini mengindikasikan bahwa pemimpin yang memberi contoh dalam sikap membantu dan tidak egois cenderung ditiru oleh bawahannya. Sikap teladan dari pemimpin menumbuhkan norma sosial dalam kelompok kerja untuk saling peduli dan mendukung satu sama lain. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi Oleh Work Engagement dan Emosi Positif (Rony Tondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. Ouakouak et al. dalam penelitian mereka menunjukkan bahwa kepemimpinan berbasis nilaiAitermasuk altruistikAimendorong peningkatan kerja sama dan kemauan untuk membantu antar anggota tim. Dalam konteks aparatur desa, nilai gotong royong dan kepedulian sosial semakin diperkuat ketika pemimpinnya menjadi contoh dalam perilaku menolong tersebut. Pengaruh Work Engagement Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Aparatur Desa Sialang Pasung. Temuan ini memperlihatkan bahwa keterlibatan kerja yang tinggi berkorelasi erat dengan perilaku menolong. Aparatur yang memiliki antusiasme tinggi terhadap pekerjaan, merasa bangga dengan peran mereka, dan secara aktif terlibat dalam aktivitas kerja, lebih cenderung menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Dari perspektif teori keterlibatan kerja . ngagement theor. , ketika individu merasa energik, fokus, dan terdorong oleh tujuan kerja yang bermakna, mereka akan menunjukkan perilaku ekstraperan (OCB) seperti membantu rekan kerja, karena mereka merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar dan bermakna. Ini engagement untuk membangun tim kerja yang saling mendukung. Yeni Karmilasari et al. dalam penelitiannya menyatakan bahwa work membentuk perilaku di luar peran formal . xtra-role behavior, karena individu merasa lebih puas dan antusias dalam bekerja Firdaus . menciptakan semangat dan kedekatan emosional terhadap pekerjaan, yang berujung pada kontribusi ekstra peran, termasuk perilaku menolong. Dengan demikian, semakin tinggi keterlibatan kerja, semakin menunjukkan helping behavior. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. Pengaruh Emosi Positif Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Aparatur Desa Sialang Pasung. Emosi positif seperti rasa puas, bahagia, atau bangga ternyata mampu Ini konsisten dengan broaden-and-build theory oleh Fredrickson, yang menyatakan bahwa emosi positif memperluas cara berpikir dan bertindak individu, termasuk meningkatkan kemungkinan mereka untuk bertindak Aparatur yang berada dalam kondisi emosional yang baik lebih terbuka dalam merespons kebutuhan orang lain dan interpersonal yang positif. Fredrickson . dalam teorinya Broaden-and-Build menegaskan bahwa emosi positif memperluas cakupan kognitif mendorong tindakan prososial seperti membantu orang lain. Dalam lingkungan kerja, pegawai yang merasa bahagia, bangga, dan dihargai akan lebih cenderung menawarkan bantuan, bekerja sama, dan Penelitian Hasanah dan Mubah . serta Abdillah et al. menguatkan bahwa emosi positif yang terbentuk dari interaksi pemimpin dan rekan kerja sangat berpengaruh terhadap terbentuknya perilaku membantu di lingkungan organisasi. Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Dimediasi Work Engagement Aparatur Desa Sialang Pasung. Temuan ini menunjukkan bahwa work engagement berfungsi sebagai mediator penting dalam hubungan antara kepemimpinan altruistik dan perilaku Ini berarti bahwa pengaruh kepemimpinan altruistik terhadap perilaku menolong tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi lebih kuat lagi jika melalui peningkatan engagement. Ketika pemimpin menunjukkan kepedulian, keikhlasan, dan dukungan terhadap bawahannya, hal itu meningkatkan semangat kerja, dedikasi, dan ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Work Engagement dan Emosi Positif (Rony 698 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi OlehTondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. fokus aparatur dalam menjalankan tugas. Keterlibatan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi munculnya perilaku menolong dalam organisasi. Proses ini mencerminkan nilai-nilai menjadi perilaku kerja yang produktif dan Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong (Helping Behavio. Dimediasi Emosi Positif Aparatur Desa Sialang Pasung. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa emosi positif juga menjadi mediator yang signifikan, meskipun efeknya lebih kecil dibandingkan mediasi melalui engagement. Artinya, kepemimpinan altruistik yang membangun hubungan emosional yang positif akan mendorong aparatur untuk memiliki kecenderungan menolong sesama. Ini menunjukkan peran penting dari kondisi afektif dalam proses terbentuknya perilaku sosial di tempat kerja. Kondisi menggerakkan mereka untuk bersikap kooperatif dan membantu rekan kerja. Temuan Salas-Vallina et al. dan Abdillah et al. mendukung peran penting emosi positif sebagai mediator dalam model perilaku organisasi modern yang berbasis nilai-nilai kemanusiaan Selain keterlibatan kerja, jalur afektif dalam bentuk emosi positif juga menjadi jalur mediasi Pemimpin yang altruistik memicu emosi positif dalam diri karyawan, yang pada gilirannya memperkuat niat dan aksi dalam menolong rekan kerja. Sejalan dengan Asti . dan Wang et al. , emosi positif berfungsi sebagai jembatan psikologis antara pengaruh interpersonal dari pemimpin dengan hasil perilaku karyawan. Ketika karyawan merasa bahagia, percaya diri, dan optimis, mereka lebih terbuka untuk memberi bantuan dan menciptakan iklim kerja yang saling mendukung. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: Kepemimpinan altruistik berpengaruh Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. signifikan terhadap work engagement. Artinya, semakin tinggi kualitas kepemimpinan yang ditunjukkan oleh kepala desa melalui sikap peduli, empatik, dan rela berkorban, maka semakin tinggi pula keterlibatan kerja para aparatur dalam menjalankan tugas Pemimpin yang altruistik intrinsik dan dedikasi kerja yang lebih besar dari bawahannya. Kepemimpinan berpengaruh positif terhadap emosi Hal ini menunjukkan bahwa bawahannya dengan kasih sayang, ketulusan, dan kepercayaan, mampu menciptakan suasana emosional yang menyenangkan bagi aparatur. Emosi positif seperti rasa bahagia, bangga, dan puas lebih mudah tumbuh dalam iklim kerja yang humanis. Kepemimpinan memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku menolong. Meskipun bukan merupakan jalur yang paling kuat, namun hubungan langsung ini tetap Pemimpin menunjukkan perilaku menolong dan tidak egois akan mendorong aparatur untuk meniru sikap tersebut dalam interaksi kerja sehari-hari, seperti membantu rekan atau memberikan dukungan tanpa diminta. Work engagement berpengaruh besar terhadap perilaku menolong. Aparatur yang memiliki semangat kerja, dedikasi tinggi, dan fokus terhadap tugastugasnya lebih cenderung menunjukkan perilaku prososial. Keterlibatan kerja menjadikan seseorang merasa memiliki terhadap organisasi, sehingga mereka terdorong untuk berkontribusi lebih, termasuk dengan membantu rekan Emosi positif juga berpengaruh terhadap perilaku menolong. Perasaan emosional yang positif mendorong aparatur untuk lebih terbuka, ramah, dan peduli terhadap sesama. Dalam ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi Oleh Work Engagement dan Emosi Positif (Rony Tondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. suasana hati yang baik, individu lebih mudah menunjukkan tindakan-tindakan membantu yang tulus dan spontan. Work engagement memediasi pengaruh Artinya, kepemimpinan yang berlandaskan pada kepedulian dan ketulusan tidak hanya memengaruhi perilaku menolong secara peningkatan keterlibatan kerja. Ini menunjukkan bahwa work engagement memperkuat pengaruh kepemimpinan terhadap perilaku prososial. Emosi positif juga menjadi mediator dalam hubungan antara kepemimpinan altruistik dan perilaku menolong. Meskipun pengaruhnya tidak sekuat mediasi melalui work engagement, jalur ini tetap penting. Pemimpin yang mampu membangun iklim kerja yang emosional positif akan mendorong aparatur untuk lebih peduli dan siap membantu satu sama lain. DAFTAR RUJUKAN Abdillah, and Hartono. Partial Least Square (PLS). Yogyakarta: Andi. Abdillah. Muhammad Rasyid. Weishen Wu, and Rizqa Anita. AiCan Altruistic Leadership Prevent Knowledge-Hiding Behaviour? Testing Dual Mediation Mechanisms. An Knowledge Management Research and Practice 20. :352Ae66. 1080/14778238. Adi. Agung Nugroho, and Noora Fithriana. Employee Engagement Pada Sektor Bisnis Dan Publik. Arikunto. Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Artha. Bunga Indira, and Arum Etikariena. AiImpact of Workplace Empathy Training on EmployeesAo Helping Behavior. An 494(Iciap 2. :243Ae54. 2991/assehr. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. Asti. Pindo. Dewi Widyaningsih, and Agus Priyadi. AiEmployee Emotions Employee Performance: The Role of Human Character. An Jesya 5. :2063Ae76. doi: 10. 36778/jesya. Bailey. Catherine. Adrian Madden. Kerstin Alfes, and Luke Fletcher. AiThe Meaning. Antecedents and Outcomes Employee Engagement: Narrative Synthesis. An International Journal of Management Reviews 19. :31Ae doi: 10. 1111/ijmr. Bakker. Arnold B. AiAn EvidenceBased Model Work Engagement. An Current Directions Psychological Science 20. :265Ae269. Bakker. Arnold B. , and Wilmar B. Schaufeli. AiWork Engagement : Business Academia. An The Blackwell Encyclopedia of Management: Organizational Behaviour . :1Ae7. Bambale. Abdu Jafaru. Sulaiman Ibrahim Kassim, and Leah Musa. AiEffect of Emotional Intelligence on Employee Performance among Staff of Tertiary Institutions in Gombe. An Journal of Resources Development and Management 19. :23Ae30. Becuwe. Audrey. Waleed Omri. Isabelle Chalamon. Amina Amri, and Sergey Kovalev. AiFostering Innovative Workplace Behaviour through Employee Recognition: The Mediating Role of Helping Behaviour. An Journal of Innovation Economics & Management NA 37. :177Ae204. 3917/jie. Fan. Peihua. Yuzhao Liu. Haowen Liu, and Mingjun Hou. AiThe Multilevel Influence of Supervisor Helping Behavior on Employee Voice Behavior: A Moderated Mediation Model. An Frontiers in ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Work Engagement dan Emosi Positif (Rony 700 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi OlehTondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. Psychology 13(Augus. :1Ae11. 3389/fpsyg. Ferdinand. Augustly. Metode Penelitian Manajemen : Pedoman Penelitian. Untuk Skripsi. Tesis. Disertasi Ilmiah Manajemen. Semarang: BPFE Universitas Diponegoro. Ferdinand. Augusty. Metode Penelitian Manajemen: Pedoman Penelitian Untuk Skripsi. Tesis Dan Disertai Ilmu Manajemen. Semarang: BPFE Universitas Diponegoro. Ferreras-Myndez. Josy Luis. Julia OlmosPeyuela. Andrys Salas-Vallina, and Joaquyn Alegre. AiEntrepreneurial Orientation and New Product Development Performance SMEs: The Mediating Role of Business Model Innovation. An Technovation 108(Jun. 1016/j. Firdaus. Nerinda Rizky. AiThe Role of Positive Emotion as a Mediator between Psychological Capital and Work Engagement. An Journal of Educational. Health and Community Psychology 8. :85. 12928/jehcp. Gallup. State of the Global Workplace: Employee Engagement Insight for Business Leaders Wordwide. New Jersey: Gallup. Inc. Ghozali. Imam. Desain Penelitian Eksperimental. Semarang: BPFE Universitas Diponegoro. Ghozali. Imam. Structural Equation Modeling. Metode Alternatif Dengan Partial Least Square. PLS. Semarang: BPFE Universitas Diponegoro. Gultom. Syawal. Eka Daryanto. Edy Dharma, and Universitas Negeri Medan. AiPengaruh Kepemimpinan Altruistik Dan Talent Management Terhadap Kinerja Guru Di SMA Swasta: Studi Kuantitatif Di Pematangsiantar. An Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. Penelitian Dan Inovasi 5. 59818/jpi. Hasanah. Iswatun, and Hilmi Qosim Mubah. AiKepemimpinan Altruis Dalam Membentuk Organizational Citizenship Behaviour Pada Pegawai Di SMP Plus Nurul Hikmah Pamekasan. An Re-JIEM 5. :1Ae14. Irma Yuliani. Manajemen Sumber Daya Manusia. Depok: Raja Grafindo Persada. Kahn. William A. AiPsychological Conditions Personal Engagement and Disengagement at Work. An Academy of Management Journal 33. :692Ae724. 5465/256287. Kahn. William A. AiPsychological Conditions Personal Engagement and Disengagement at Work. An Academy Manage 1. :692Ae724. Karmilasari. Yeni, and Adi Rahmat. AiPerilaku Altruistik Pemimpin Dan Kebahagiaan Di Tempat Kerja: Mekanisme Kemampuan Belajar Organisasi. An Bisnis Terapa. :129Ae40. Kock. Ned. AiUsing WarpPLS in ECollaboration Studies : Descriptive Statistics. Settings, and Key Analysis Result. An International Journal ECollaboration 7. :1Ae18. Lestari. Silvi Harum Indah, and SamiAoan. AiHelping Behavior : A Systematic Review of The Literature. An HIV/AIDS Adolescents . :21Ae69. 1007/978-981-13-5989-7_2. Lim. Jae Young, and Kuk Kyoung Moon. AiTransformational Leadership EmployeesAo Helping Behavior in Public Organizations: Does Organizational Structure Matter?An Public Personnel Management 50. :485Ae508. 1177/0091026020977565. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi Oleh Work Engagement dan Emosi Positif (Rony Tondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. Locke. Edwin A. AiToward a Theory of Task Motivation and Incentives. An Organizational Behavior Human Performance 3. :157Ae89. doi: 10. 1016/0030-5073. Macey. Benjamin Schneider. Karen M. Barbera, and Scott A. Young. Macey. Benjamin Schneider. Karen Barbera, and Scott A. Young. London: Blackwell. Melinda. Sherlya. AiAnalisis Wacana Kritis Pada Podcast AKita Yang Bodoh Atau Sekolah Yang Bodoh. AoAn CaLLs (Journal of Culture. Arts. Literature. Linguistic. :175. 30872/calls. Mohsen Ghafel. Hisham, and Ahmed Abdul Hussein Atiyah. AiHelping Behavior of University Employees. An Journal Positive School Psychology 2022. :3864Ae71. Peng Sun, and Xiaode Zuo. AiUnleashing the Power of Employee Helping Behavior: Comprehensive Study. An International Journal of Science and Business 25. :34Ae66. 58970/ijsb. Qasim. Samina. Muhammad Usman. Usman Ghani, and Kalimullah Khan. AiInclusive Leadership EmployeesAo Helping Behaviors: Role of Psychological Factors. An Frontiers in Psychology 13(Jul. :1Ae doi: 10. 3389/fpsyg. Rahim. Bambang Supeno, and Fahmi Oemar. AiDeterminan Kepemimpinan Altruistik. Intensitas Konflik. Kualitas Pengembangan Diri Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai. An JMBT (Jurnal Manajemen Dan Bisnis Terapa. :12Ae21. Riduwan. Metode & Teknik Menyusun Proposal Penelitian. Bandung: Alfabeta. Robert A. Baron. Donn Byrne. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. Rokhman. Wahibur. Muhammad Qoes Atieq. Forbis Ahamed. Shuana Zafar Nasir, and Sehrish Sahid. AiExploring Workplace Happiness: Islamic Leadership and Work Ethics Driving Engagement and Helping Behaviour. An Islamic Guidance and Counseling Journal 8. :1Ae20. 25217/0020258558400. Romaita. Adi Rahmat, and Ali Asfar. AiKepemimpinan Altruistik Kepala Desa Terhadap Organizational Citizenship Behavior Dengan Kepercayaan Pada Pemimpin Sebagai Mediasi. An Jurnal Manajemen Dan Bisnis Terapan 4. :97Ae112. 31849/jmbt. Rumawas. Manajemen Sumber Daya Manusia. Manado: Universitas Sam Ratulangi Press. Saks. AiAntecedents and Consequences Employee Engagement Revisited. An Journal of Organizational Effectiveness 6. :19Ae38. Saks. Alan M. AiAntecedents and Consequences Employee Engagement. An Journal Managerial Psychology, 7. :600Ae619. Saputra. Nopriadi. Sasmoko, and Sri Bramantoro Abdinagoro. AiThe Holistic Work Engagement: A Study In Indonesia Oil Palm Industry. An International Journal of Engineering Technology(UAE) 7. :1Ae7. 14419/ijet. Sari. Lili Puspita. Adolf Bastian, and Arizal. AiKepemimpinan Altruistik Terhadap Komitmen Profesional Guru Dan Peran Psikologi DI SMKN 1 Pangkalan Kerinci. An Jurnal Komunitas Sains Manajemen 2. :136Ae47. Sari. Yulia Novifita. Shofia Amin, and Dwi Kurniawan. AiMediating Effect of Positive Emotions on ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Work Engagement dan Emosi Positif (Rony 702 Pengaruh Kepemimpinan Altruistic Terhadap Perilaku Menolong. Dimediasi OlehTondy Arifin S. Rasyid Abdillah. Indart. Work-Life Balance and Employee Performance. An BISMA: Jurnal Bisnis Dan Manajemen 16. :20. doi: 10. 19184/bisma. SCHAUFELI. WILMAR B. MARISA SALANOVA. VICENTE GONZ AALEZ-ROMA, and ARNOLD B. BAKKER. AiRelaxation of Classical Particles TwoDimensional Anharmonic SingleWell Potentials. An Physical Review E - Statistical Physics. Plasmas. Fluids. Related Interdisciplinary Topics 63. :5. doi: 10. 1103/PhysRevE. Sentoso. Antony, and Fendi Sang Putra. AiAnalysis of the Ethical Effect of Leadership on Employee Performance and Moderated With Employee Engagement Organizational Citizenship Behavior. An Business and Accounting Research (IJEBAR) Peer ReviewedInternational Journal 5. :447Ae Simon L. Albrecht. Handbook of Employee Engagement Perspectives. Issues. Research and Practice. United Kingdom: Edward Elgar. Publishing. Sofyan. Yamin, and Heri Kurniawan. Generasi Baru Mengolah Data. Penelitian Dengan Partial Least Square Path Modeling. Jakarta: Salemba Empat. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif. Dan R&D. Bandung: Alfabeta. Supriadi. Adih. Ani Kusumaningsih. Kohar. Andri Priadi. Andi Yusniar Mendo. Lisda L. Asi. Robiyati Podungge. Afriyana Amelia Nuryadin. Agus Hakri Bokingo, and Fiesty Utami. Manajemen Sumber Daya Manusia. Sukoharjo: Tahta Media Group All. Tsauri. Sofyan. Manajemen Kinerja Performance Management. Jurnal Daya Saing (Vol. XI. No. i Oktober 2. by K. RifaAoI. Jember: STAIN Jember Press. Valliyres. Frydyrique. Eilish McAuliffe. Philip Hylanda, and Annette Ghee Marie Galliganb. AiMeasuring Work Engagement Community Health Workers Sierra Leone: Validating the Utrecht Work Engagement Scale. An Journal of Work Organizational Psychology 29. :127Ae34. Vroom. Victor. Work and Motivation. Vol. San Francisco: CA: Jossey-Bass. Wang. Cong. Jidong Yao, and Lei Gao. AiHow Do LeadersAo Positive Emotions Improve EmployeesAo Psychological Safety in China? The Moderating Effect of LeaderMember Exchange. An Heliyon 10. :e25481. 1016/j. Widyaningrum. Mahmudah Enny, and Endang Siswati. Manajemen Sumber Daya Manusia. Surabaya: Ubhara Press ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356