Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Menimbang Ulang Pemahaman Wahyu Supra-Historis Dalam Pembacaan Kita Suci Dalam Hubungannya Dengan Konteks Gender Triardi Samuel Zacharias Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta ardyzacharias05@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract This article reviews the concept of revelation and its impact on gender-biased interpretation of Biblical texts. Based on the experience of direct encounters with one of the GMIT congregations located in the interior of NTT, the author criticizes how verses such as 1 Timothy 2:8-14 are often used to support patriarchal culture. This article challenges the concept of supra-historical revelation, which considers the Holy Bible to be free from human context, by showing that the texts of the Holy Bible were born from the patriarchal culture of a certain time. The author proposes Keith WardAos model of encounter revelation which embraces both divine and human aspects in revelation. This model is enriched by a critical hermeneutic approach, including the feminist perspective of Elisabeth Schyssler Fiorenza, which emphasizes the importance of dismantling patriarchal assumptions in texts and making space for womenAos experiences. This approach not only reveals potential injustices in the text, but also creates new meaning that is relevant for todayAos readers. In conclusion. Scripture needs to be understood dialectically, as a dialogue between divine revelation, its historical context, and the experience of the modern reader. This approach does not weaken the authority of the Holy Bible, but rather strengthens its relevance in building a more just and equal life, especially on gender issues. Keywords: supra-historical revelation. Holy Bible, encounter revelation, feminist perspective, patriarchal culture. Menimbang Ulang Pemahaman Wahyu Supra-Historis dalam Pembacaan Kita Suci dalam Hubungannya dengan Konteks Gender Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Abstrak Tulisan ini mengkaji ulang konsep pewahyuan dan dampaknya terhadap penafsiran teks-teks Kitab Suci yang bias gender. Dengan berangkat dari pengalaman perjumpaan langsung dengan salah satu jemaat GMIT yang berlokasi di pedalaman NTT, penulis mengkritisi bagaimana ayat seperti 1 Timotius 2:8-14 kerap digunakan untuk mendukung budaya patriarki. Tulisan ini menantang konsep wahyu supra-historis, yang menganggap Kitab Suci bebas dari konteks manusiawi, dengan menunjukkan bahwa teks-teks Kitab Suci lahir dari budaya patriarki pada masa tertentu. Penulis mengusulkan model wahyu perjumpaan dari Keith Ward yang merangkul aspek ilahi dan manusiawi dalam pewahyuan. Model ini diperkaya dengan pendekatan hermeneutik kritis, termasuk perspektif feminis dari Elisabeth Schyssler Fiorenza, yang menekankan pentingnya membongkar asumsi patriarki dalam teks dan memberi ruang bagi pengalaman perempuan. Pendekatan ini tidak hanya mengungkap potensi ketidakadilan dalam teks, tetapi juga menciptakan makna baru yang relevan bagi pembaca masa kini. Kesimpulannya. Kitab Suci perlu dipahami secara dialektis, sebagai dialog antara wahyu ilahi, konteks historisnya, dan pengalaman pembaca modern. Pendekatan ini tidak melemahkan otoritas Kitab Suci, melainkan memperkuat relevansinya dalam membangun kehidupan yang lebih adil dan setara, terutama dalam isu-isu gender. Kata-kata kunci: wahyu supra-historis. Kitab Suci, wahyu perjumpaan, perspektif feminis, budaya patriarki. Pendahuluan Penulis membuka tulisan ini dengan menceritakan sebuah pengalaman menarik ketika berstage di salah satu jemaat GMIT yang berlokasi di pedalaman NTT sekitar tahun 2019 Pada suatu momen ibadah pemuda yang kala itu dipimpin oleh seorang penatua lakilaki sembari mengkhotbahkan teks 1 Timotius pasal 2:8-14, secara tiba-tiba berhenti di tengah perenungannya karena merasa terganggu dengan tingkah seorang pemudi yang tampaknya asyik berdiskusi dengan salah satu temannya entah apa topiknya. Namun, setelah terdiam cukup lama, sang penatua langsung melontarkan teguran keras kepada sang pemudi lalu berkata bahwa apa yang sedang dilakukan oleh pemudi tersebut sebagai dosa karena melanggar perintah Alkitab di ayat 8, yakni Auseharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuhAy. Mungkin dalam benak sang penatua, seorang perempuan memang tidak pantas bersuara saat pemberitaan firman dibacakan, padahal ada juga laki-laki di situ yang melakukan hal yang sama tetapi tidak ditegur. Kasus lainnya terjadi ketika rapat majelis untuk Triardi Samuel Zacharias Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies membicarakan realisasi program pelayanan, setelah banyak majelis laki-laki menyampaikan pendapatnya, pendeta meminta para majelis perempuan untuk menyampaikan juga pendapat Akan tetapi, tidak satu majelis perempuan pun yang mau berbicara dengan alasan bahwa apa yang sudah disampaikan majelis laki-laki cukup mengakomodir pendapat mereka. lalu, tanpa diduga seorang majelis perempuan berbisik kepada saya. AuAlkitab mengatakan bahwa kami perempuan tidak boleh memerintah laki-laki. Ay Pengalaman penulis menjadi contoh nyata bahwa pada umumnya orang-orang Kristen memahami dan menerima Alkitab sebagai sumber kebenaran yang berotoritas dalam menata kehidupan mereka. Apa yang dikatakan oleh Alkitab dipegang sebagai norma tertinggi yang tidak bisa dibantah. Bukan hanya Alkitab, tetapi Kitab-kitab Suci dari agama-agama lain pun dipahami dalam kerangka otoritatif dan berlaku secara universal. Padahal, di dalam kitab-kitab suci terkandung narasi-narasi bias gender, ayat-ayat polemik, serta teks-teks kekerasan yang bila diterima begitu saja dapat memunculkan persoalan-persoalan etis-teologis. Desa yang menjadi tempat stage penulis tersebut hidup dalam sebuah konstruksi budaya patriarki yang amat kuat sehingga narasi-narasi bias gender seperti 1 Timotius pasal 2 dan lain-lain justru akan semakin memperkuat dominasi patriarki bila ditafsirkan apa adanya. Penulis mencoba mengajukan kritik sosio-historis terhadap teks 1 Timotius pasal 2 dengan menjelaskan bahwa kata-kata Paulus mengenai laki-laki dan perempuan dalam teks itu perlu dipahami dalam konteks budaya patriarki yang dihidupi oleh Paulus sendiri sebagai anggota masyarakat Yahudi di masa itu. Namun penjelasan tersebut justru menimbulkan kebingungan bagi jemaat. Klaim otoritas Kitab Suci sebagai sumber kebenaran universal ditempatkan pada bingkai pemahaman tentang pewahyuan. Konsep pewahyuan dalam tradisi agama-agama Abrahamik kemudian diterjemahkan menjadi firman Tuhan atau firman Allah. Alkitab. Al-qurAoan, serta Tenakh oleh para pemeluknya diterima sebagai firman Allah yang bersifat supra-historis . idak dipengaruhi kontek. , transendental, serta universal. 1 Firman Allah sebagai wahyu tidak mungkin salah dan partikular. Mungkin konsep pewahyuan seperti itulah yang tertanam kuat dalam benak jemaat tempat saya melayani atau mungkin oleh sebagian besar penganut agama-agama Abrahamik sehingga ketundukan terhadap Kitab Suci menjadi sedemikian Reaksi AukebingunganAy yang timbul dari antara jemaat ketika saya membangkitkan kesadaran akan konteks sosio-historis yang melingkupi dan beroperasi di balik teks barangkali memicu benturan konseptual antara Kitab Suci sebagai wahyu yang supra-historis dan universal dengan wahyu yang historis dan partikular. Kenyataan bahwa narasi-narasi bias gender dalam Kitab Suci kerapkali dipergunakan sebagai legitimasi untuk melanggengkan praktik-praktik penindasan terhadap perempuan dengan dalil pewahyuan supra-historis, membuat perlu Wilfred Cantwell Smith. What Is Scripture? A Comparative Approach. Fortress Press ex libris publ (Minneapolis. MN: Fortress Press, 2. , hlm. Menimbang Ulang Pemahaman Wahyu Supra-Historis dalam Pembacaan Kita Suci dalam Hubungannya dengan Konteks Gender Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. adanya sebuah upaya rekonseptualisasi terhadap pemahaman wahyu sehingga penafsiranpenafsiran terhadap narasi-narasi bias gender dapat diolah secara kritis-dialektis. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, saya akan memfokuskan pembahasan pada upaya rekonseptualisasi pemahaman wahyu dengan berpijak pada teori Keith Ward tentang model wahyu perjumpaan serta bagaimana implikasinya terhadap persoalan ketidakadilan gender. Metode Penelitian Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur sebagai dasar Penulis memadukan metode hermeneutik kritis untuk menganalisis teks Kitab Suci, khususnya yang mengandung bias gender, dengan teori-teori teologi dan gender. Hermeneutik kritis yang digunakan melibatkan beberapa tahap, termasuk hermeneutik kecurigaan untuk membongkar asumsi patriarki dalam teks, hermeneutik proklamasi untuk menyuarakan aspek ketidakadilan, serta hermeneutik kreativitas untuk membangun makna baru yang relevan bagi pembaca modern. Sebagai kerangka konseptual, tulisan ini mengacu pada model wahyu perjumpaan yang dikembangkan oleh Keith Ward, yang melihat pewahyuan sebagai dialog antara dimensi ilahi dan manusiawi. Pendekatan ini digabungkan dengan teori feminis kritis Elisabeth Schyssler Fiorenza, yang menekankan pentingnya pengalaman perempuan sebagai salah satu elemen otoritatif dalam menafsirkan teks. Penulis juga melakukan analisis sosio-historis terhadap teks Kitab Suci, khususnya 1 Timotius 2:8-14, untuk menunjukkan keterkaitannya dengan budaya patriarki pada masa itu. Metode ini diperkaya dengan kajian konteks linguistik dan kultural teks, termasuk bagaimana bahasa dan ideologi zaman memengaruhi penyusunannya. Dengan pendekatan ini, tulisan bertujuan untuk menawarkan reinterpretasi kritis yang dapat menjembatani kesenjangan antara konteks historis teks Kitab Suci dan kebutuhan pembaca modern dalam menghadapi isu-isu ketidakadilan, khususnya gender. Mempersoalkan Konsep Wahyu Supra-Historis Pemahaman dasar mengenai wahyu supra-historis bersumber dari klaim teologis bahwa setiap kata dan kalimat yang tertulis dalam Kitab Suci berasal dari Allah yang berdiam di surga. Konsep mengenai wahyu supra-historis sangat kuat dipegang oleh agama Islam yang meyakini bahwa wahyu yang diterima oleh nabi Muhammad selama 23 tahun murni berasal dari Allah tanpa melibatkan intervensi aspek kemanusiaannya. 2 Pola yang serupa juga terjadi dalam agama Hindu dimana wahyu Brahman melalui Maha Rsi . rang suc. berupa suara sakral atau sruti Smith. , hlm. Triardi Samuel Zacharias Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies yang dilafalkan dengan nyanyian diyakini sebagai bahasa suci yang tidak boleh diperlakukan 3 Penekanan pada aspek kemurnian wahyu tidak membuka ruang sama sekali terhadap pengaruh pikiran manusia. Meskipun manusia menjadi media pewahyuan, namun peran manusia hanya menerima secara pasif. Kemurnian wahyu dipastikan melalui pengalaman supranatural tertentu yang dilakukan oleh orang suci atau nabi misalnya meditasi atau semedi. Walaupun demikian, dalam beberapa kasus wahyu bisa diturunkan pada kondisi-kondisi normal, bahkan kadang-kadang pada situasi kekacauan seperti konflik atau perang. Keith Ward mengkategorikan konsep wahyu dimana manusia menerima secara pasif wahyu ilahi sebagai model wahyu proposisional. Kekristenan dan Yudaisme juga termasuk dalam model proposisional namun penekanan terhadap kepasifan manusia tidak mutlak. Kelompok fondasionalisme Kristen cenderung mempertahankan konsep wahyu supra-historis untuk melegitimasi otoritas ajaranajaran fundamental yang mereka rumuskan. 5 Konsep wahyu supra-historis itu dibagi menjadi dua macam, yaitu wahyu umum dan wahyu khusus. Wahyu umum merujuk pada anggapan bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui pengalaman bangsa Israel dan penulis yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk tulisan setelah melewati proses tradisi lisan yang Kelompok fondasionalisme meyakini bahwa selama proses yang panjang tersebut. Allah senantiasa memelihara penulis agar mereka tidak terdistorsi oleh keterbatasan dunia dan konteks yang mengitarinya. Tulisan Alkitab yang lengkap dan sempurna disebut sebagai wahyu khusus. Wahyu khusus bersifat final dan finalitas tersebut membuat Alkitab menjadi satu-satunya akses untuk mengenal dan mengetahui siapa Allah. Gagasan tentang wahyu umum tidak lagi dipandang sebagai sumber pengenalan tentang Allah yang valid. Validitas pengalaman bersama Allah harus diletakkan di bawah otoritas Alkitab sebagai wahyu khusus dan final. Pandangan dualisme-hierarki kelompok fondasionalisme tentang konsep pewahyuan memunculkan pertanyaan mendasar lantas bukankah isi dari wahyu khusus atau Alkitab itu lahir dari pengalaman konkret perjumpaan antara komunitas orang percaya dengan Allah? Isinya bukan hanya konsep-konsep teologi atau refleksi religius antara manusia dengan Allah, tetapi juga di dalamnya terdapat ragam karya manusia seperti puisi, nyanyian, cerita-cerita, hukumRobert E. Van Voorst. Anthology of World Scriptures (Princeton. : Recording for the Blind & Dyslexic, , hlm. 22, 25 Keith Ward. Religion and Revelation: A Theology of Revelation in the WorldAos Religions (New York: Oxford University Press, 1. , hlm. Gaye Ortiz dan Clara A. Joseph, ed. Theology and literature: rethinking reader responsibility, 1st ed (New York: Palgrave Macmillan, 2. , hlm. AuWahyu Umum Dan Wahyu Khusus----Pandangan Seorang Vantillian | SABDA Space - Komunitas Blogger Kristen,Ay diakses 19 Desember 2023, https://w. org/wahyu_umum_dan_wahyu_khusus_ pandangan_seorang_vantillian. Menimbang Ulang Pemahaman Wahyu Supra-Historis dalam Pembacaan Kita Suci dalam Hubungannya dengan Konteks Gender Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. hukum etika-moral, norma-norma sosio-kultural, ideologi, dan lain sebagainya. Bila semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan konteks konkret dimana manusia berada, maka bagaimana mungkin isi wahyu Allah tersebut dapat relevan dengan konteks kehidupan manusia? Ward menjelaskan bahwa agama-agama tidak hanya terbatas pada model wahyu proposisional, tetapi juga model wawasan, yaitu respon manusia terhadap wahyu Allah secara aktif melalui pengamalan terhadap perintah-perintah moral yang ada di dalam Kitab Suci. Itu artinya, ada ruang bagi perjumpaan antara wahyu Ilahi dengan aspek-aspek kehidupan manusia seperti bahasa, budaya, konteks sosial, dan lain-lain bukan hanya sebagai faktor sekunder melainkan Wahyu dan Konteks: Hubungan Bahasa. Konteks Sosio-Kultural, dan Ideologi Wahyu Allah mewujud dalam bahasa manusia yang partikular dan terikat pada konteks sosiokultural tertentu. Konteks tersebut tidak bisa dilepaskan dari eksistensi manusia penerima wahyu entah itu nabi atau penulis bahkan pembaca atau komunitas penerima wahyu mula-mula. Peran komunitas pembaca wahyu beserta konteks kehidupannya sangat penting dalam menjaga otoritas kitab suci karena pesan-pesan yang termuat di dalamnya diyakini bermanfaat bagi pertumbuhan iman serta moralitas mereka. Oleh karena itu, peran bahasa sangat menentukan bagaimana pesan-pesan wahyu tersebut dapat diterima serta dihayati oleh komunitas pembaca. Wahyu Ilahi ternyata memiliki intensi terkait bahasa seperti apa yang menjadi perwujudannya. AlqurAoan muncul di Arab sehingga bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab. Alkitab dan Tenakh muncul dalam tradisi semit sehingga bahasa yang digunakan adalah bahasa Ibrani. Aram, serta Yunani . engaruh Helenisas. 7 Unsur bahasa juga sedemikian dinamis sehingga para penulis atau penerima wahyu di zamannya juga menggunakan beraneka ragam bahasa dan gaya bahasa demi kepentingan komunitasnya. Misalnya. Alkitab Perjanjian Baru memang ditulis dalam bahasa Yunani, namun tidak semua penulis menggunakan jenis bahasa Yunani yang sama. Umumnya, pada ahli historis berpendapat bahwa Injil Markus menggunakan corak bahasa Yunani yang lebih sederhana ketimbang Lukas yang menggunakan gaya bahasa Yunani elitis mengingat latar belakang Lukas sebagai kaum terpelajar dan keadaan demografi komunitasnya yang beragam dari masyarakat kelas bawah sampai masyarakat kelas atas. Persoalan bahasa juga bersangkut paut dengan proses penerjemahan. Wahyu Allah tidak hanya mewujud dalam bahasa sehari-hari penulis dan komunitas pembaca mulaSmith. What Is Scripture?, hlm. Carson dan Douglas J. Moo. An Introduction to the New Testament, cet. 1 (Jawa Timur: Gandum Mas, , 229-231 Triardi Samuel Zacharias Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies mulanya, tetapi juga ditujukan kepada pembaca-pembaca kemudian di berbagai zaman dengan latar belakang budaya dan bahasa yang lebih beragam. Pengaruh Helenisasi membuat Alkitab Ibrani (Perjanjian Lam. diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuagint. agar generasi-generasi muda mereka sudah tidak lagi mengenal bahasa Ibrani dapat membacanya. Ketika Kekristenan kemudian berkembang di Barat. Alkitab kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, bahasa Inggris, dan oleh para missionaris dibawa ke tanah jajahan lalu kemudian diterjemahkan lagi dalam bahasa-bahasa lokal. Demikian pula dengan Kitab Suci Budha dan Hindu dalam bahasa Sansekerta diterjemahkan ke bahasa Pali, bahasan Jepang. Tiongkok, serta bahasa Tibet. 9 Meskipun seolah-olah Al-qurAoan mendapatkan perkecualian karena mempertahankan posisi bahasa Arab, namun proses penafsiran terhadap kata demi kata di berbagai daerah pun tetap saja berbeda-beda bergantung pada produksi pemaknaan seperti apa yang diinginkan oleh komunitas. Selain bahasa, konteks sosio-kultural dimana penulis, penerima wahyu, serta komunitas pembaca sangat mempengaruhi pesan seperti apa yang hendak dibangun dalam teks. Alkitab Kristen dan Tenakh Yahudi berasal dari konteks sosio-kultural yang didominasi oleh budaya patriarki serta androsentrisme. Oleh karena itu, di balik narasi-narasi Alkitab maupun Tenakh mengandung asumsi-asumsi yang mendiskriminasi posisi perempuan. Dalam konteks Perjanjian Lama, ada tuntutan kewajiban prokreasi sebagai wujud keberlanjutan nasib keluarga berhubungan dengan persoalan warisan serta martabat keluarga. Karena itu, perempuan yang mandul akan mengalami diskriminasi serta tekanan sosial yang luar biasa dahsyat. Bahkan kemandulan itu sendiri dianggap sebagai kutukan atau bagian dari hukuman Allah. 10 Kisahkisah yang dialami oleh Sara istri Abraham. Ribka, perempuan-perempuan di Gerar, serta Hana istri Elkana memperlihatkan bagaimana beban sosial yang harus mereka pikul di tengahtengah situasi ketertindasan seperti itu. Di Perjanjian Baru, diskriminasi terhadap perempuan justru tidak hanya terjadi dalam ranah domestik, tetapi juga publik. Bila merujuk pada kisah perempuan yang kedapatan zinah, perempuan tersebut mengalami ketertindasan ganda, yaitu sebagai obyek seksual dari laki-laki, tetapi juga menjadi obyek politik para Farisi untuk menjebak Yesus. Larangan Paulus terhadap perempuan Korintus untuk memimpin di depan umum sebenarnya bersangkut paut dengan persoalan ideologi. Paulus dibentuk dalam konstruksi Patriarki berhadapan dengan konteks masyarakat Yunani yang cenderung egaliter. 11 Fenomena dimana perempuan Yunani di Korintus mendapatkan posisi sebagai pemimpin dirasa dapat Van Voorst. Anthology of World Scriptures. , hlm. Philip J. King dan Lawrence Stager. Life in Biblical Israel, cet. 2 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , hlm. Carson dan Moo. An Introduction to the New Testament. , hlm. Menimbang Ulang Pemahaman Wahyu Supra-Historis dalam Pembacaan Kita Suci dalam Hubungannya dengan Konteks Gender Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. mengancam stabilitas kepemimpinan laki-laki dan identitas Kekristenan yang plural (Kristen Yahudi. Kristen Yunani, dan sebagainy. Oleh karena itu, larangan Paulus terhadap para perempuan dapat dipahami sebagai upaya Paulus menekan ancaman sekaligus menarik garis batas identitas antara kelompok masyarakat Kristen dan non-Kristen. Dalam konteks kitab suci Hindu dan Budha, diskriminasi terhadap perempuan bersangkut paut dengan sistem pembagian kasta di masyarakat India. Hal itu terlihat dari bagaimana penggambaran dewidewi dalam kitab suci justru mendapatkan tempat yang lebih dominan dalam kitab suci, sedangkan perempuan biasa dituntut dengan berbagai macam keharusan serta stereotip yang melekat padanya. Bahasa dan konteks sosio-kultural yang membentuk Kitab Suci menunjukkan bahwa gagasan wahyu supra-historis sulit sekali dipertahankan dan dipertanggungjawabkan. Bila tetap dipertahankan, maka hal itu akan menimbulkan problem serius berkaitan dengan eksistensi dan gambaran Allah itu sendiri. Apakah Allah memang bias gender? Apakah Allah memang merepresentasikan budaya patriarki? Apakah Allah menganjurkan pertentangan ideologi yang hanya menguntungkan pihak laki-laki sedangkan membiarkan penindasan terhadap perempuan terus berlangsung? Konteks sosio-kultural yang membentuk Kitab Suci mungkin merupakan bentuk normalitas di zaman itu, namun bagaimana dengan komunitas pembaca modern yang hidup di zaman dimana kesadaran emansipatoris gender mulai diperjuangkan dan normalitas terhadap diskriminasi gender mulai digugat secara kritis? Bukankah narasi Alkitab yang diterima begitu saja akan bersumbangsih pada menguatnya praktik-praktik diskriminasi gender? Lantas apakah bila pembaca bersikap kritis terhadap teks, hal itu akan membuat sifat pewahyuannya menghilang? Pada intinya, komunitas pembaca modern berhadapan dengan kesenjangan konteks antara konteks Alkitab dan konteks masa kini yang mau tidak mau mesti Berada di Antara Wahyu dan Konteks: Model Perjumpaan. Hermeneutik Kritis sebagai Jembatan? Ward mengusulkan sebuah model wahyu perjumpaan. Model ini tidak mengantitesiskan antara wahyu proposisional dan wahyu wawasan atau antara wahyu supra-historis dan konteks, tetapi merangkul keduanya. Allah yang tidak terbatas itu menyingkapkan diri-Nya bagi manusia di setiap zaman dengan melibatkan aspek-aspek kehidupannya yang terbatas. Oleh karena itu, mau tidak mau keterbatasan pasti menjadi bagian integral dari wahyu yang dimanifestasikan dalam Kitab Suci. Ketegangan antara otoritas pewahyuan serta pengakuan terhadap konteks Barbara Crandall. Gender and Religion: The Dark Side of Scripture, 2nd ed (London: Continuum International Pub. Group, 2. , hlm. Triardi Samuel Zacharias Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies sosio-kultural yang membentuk teks tetap ada. Namun pemaknaan terhadap ketegangan tersebut bukan dalam sebuah pola pikir yang dualistik, melainkan dialektis dan kritis. Hermeneutik berfungsi sebagai poros dialektis-kritis yang mencoba menghubungkan antara dimensi pewahyuan dan dimensi konteks melalui upaya memproduksi makna teks sehingga pesan Kitab Suci tetap selalu relevan dengan perubahan zaman dan konteks Friedrich Schleiermacher atau yang lebih dikenal sebagai bapak hermeneutik modern mengusulkan pembacaan terhadap teks dengan memperhatikan interpretasi gramatis . kemudian masuk ke interpretasi psikologis . aksud asli penulis, dunia atau konteks historis yang mengitariny. Setelah melakukan interpretasi gramatis dan psikologi tersebut, barulah makna teks diterapkan ke dalam konteks pembaca. Hal yang ingin ditegaskan oleh Schleiermacher ialah penting untuk mengetahui bagaimana maksud asli penulis dalam terang konteks di zamannya supaya kita sebagai pembaca masa kini tidak salah paham dengan apa maksud dari teks tersebut. Upaya Schleiermacher sebenarnya bertujuan untuk melampaui penafsiran literalisme yang menerapkan secara harafiah langsung ke konteks pembaca. Akibatnya teks-teks kekerasan maupun teks-teks bias gender diterapkan begitu saja dengan tidak bertanggung jawab. Pandangan Hermeneutik Schleiermacher membuka pintu masuk ke dalam model hermeneutik kritis yang berupaya untuk menyeimbangkan antara teks dan konteks. Meskipun demikian, seiring dengan perkembangan studi hermeneutik, pandangan hermeneutik Schleiermacher menuai banyak kritik karena masih mengasumsikan paradigma obyektivisme Barat yang masih belum mampu mengakomodir peran pembaca sebagai agen produksi Oleh karena itu, perspektif pos-strukturalis dan poskolonial mengisi ruang kosong dalam model hermeneutik kritis dengan tidak hanya menekankan pada kepentingan teks, tetapi juga kepentingan pembaca atau penafsir. Roland Barthes mengemukakan teorinya yang terkenal, yaitu Authe dead of writerAy . ematian penuli. untuk menegaskan bahwa ketika suatu teks ditulis, maka proses pemaknaan sepenuhnya berada di tangan pembacanya. 15 Maksud asli penulis mungkin masih ada, tapi makna itu bukan lagi satu-satunya suara. Dalam konteks Alkitab, maksud asli penulis sudah benar-benar tidak diketahui. Dale B. Martin mempertegas maksud Barthes dengan mengatakan bahwa para pembaca membuat makna-makna dari Alkitab sehingga Alkitab benar-benar tidak berbicara di dalam dan dari dirinya sendiri tanpa penafsiran-penafsiran manusia. Ward. Religion and Revelation. , hlm. Budi Hardiman. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, cet. 5 (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. Malory Nye. Religion: The Basics, 2nd ed. , transferred to digital printing (London: Routledge, 2. , hlm. Tat-siong Benny Liew, ed. Colonialism and the Bible: contemporary reflections from the global south. Menimbang Ulang Pemahaman Wahyu Supra-Historis dalam Pembacaan Kita Suci dalam Hubungannya dengan Konteks Gender Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Penekanan utama Barthes dan Martin pada peran serta kepentingan pembaca dipoles dengan lebih tajam oleh Elisabeth Schussler Fiorenza melalui teori hermeneutik feminis Fiorenza melakukan reorientasi terhadap otoritas teks ke pengalaman perjuangan perempuan melawan penindasan. Sederhananya, pengalaman perjuangan perempuan juga berotoritas dalam memberikan penilaian, evaluasi, serta penafsiran terhadap teks-teks yang mengandung asumsi-asumsi patriarki dan androsentrisme. Implikasinya, otoritas Alkitab tidak lagi mutlak karena pengalaman pembaca, yakni pengalaman para perempuan dalam menghadapi penindasan juga berotoritas. Kerangka kerja hermeneutik feminis kritis berfokus pada empat tahap utama, yaitu hermeneutik kecurigaan, proklamasi, mengingat, serta Tahap hermeneutik kecurigaan berfungsi untuk mendeteksi kemudian membongkar asumsi-asumsi patriarki dan androsentrisme yang beroperasi di balik teks dan berpotensi menimbulkan ketidakadilan. Misalnya, dalam teks 1 Timotius 2 : 8-14, kita mencurigai maksud Paulus ketika melarang perempuan untuk mengajar dan memerintah laki-laki. Jangan-jangan di balik larangan tersebut ada maksud tersembunyi untuk membungkam suara perempuan karena dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan laki-laki. Yang kedua, yaitu tahap proklamasi, yaitu tahap dimana pembaca menyuarakan aspek-aspek ketidakadilan yang ia rasakan dari teks dan hal itu beresonansi dengan pengalaman pribadinya. Misalnya, mengenai larangan untuk mengajar, menyampaikan pendapat, kesempatan untuk memimpin dan lain Ketiga, yaitu tahap mengingat. Ini adalah proses dimana pembaca mengingat kembali kiprah perempuan ketika berkontribusi positif bagi kehidupan bersama atau bagi dirinya sendiri. Dan tahap yang terakhir, yaitu tahap kreativitas dimana pembaca membangun konstruksi baru pemaknaan terhadap teks sehingga dapat bermuara pada aksi-aksi konkret serta bertanggung jawab. Konsep hermeneutik feminis kritis yang ditawarkan oleh Fiorenza memberi gambaran baru terhadap bagaimana teks Alkitab sebagai Teks Suci dan Wahyu berdialog . dengan pengalaman, perspektif, serta tradisi pembaca sedemikian rupa dalam relasi yang setara dan seimbang sehingga menghasilkan makna-makna baru yang konstruktif, etis, serta memberi manfaat. Saya teringat pada komentar singkat J. Banawiratma pada buku Bergulat di Tepian yang kira-kira penggalannya seperti ini: AuPerlakuan kita terhadap teks Alkitab mesti memilih antara Alkitab sebagai monoteks dan Alkitab sebagai salah satu teks dalam perjumpaan dengan banyak teks lain. Monarki Alkitab akan membuat Alkitab Postcolonial and decolonial studies in religion and theology (Lanham: Lexington Books, 2. , hlm. Elisabeth Schyssler Fiorenza. Bread Not Stone: The Challenge of Feminist Biblical Interpretation: With a New Afterword, 10th anniversary ed (Boston: Beacon Press, 1. , hlm. Triardi Samuel Zacharias Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies semakin kehilangan wibawanya. dan seterusnyaAy. 18 Menurut saya, kalimat singkat tersebut memberi nuansa paradigmatis yang sangat mendalam mengenai posisi Alkitab berhadapan dengan ragam Auteks-teksAy di sekitarnya. Alkitab tidak akan kehilangan wibawanya hanya karena ia berada dalam relasi yang setara dengan konteks, pengalaman, dan tradisi komunitas Justru melalui hubungan dialogis yang setara tersebut. Alkitab akan berbicara lebih banyak dan lebih berwibawa karena memproklamasikan semangat cinta kasih Allah yang mentransformasi iman dan kehidupan bersama menjadi lebih baik dan adil. Kesimpulan Pemahaman mengenai wahyu supra-historis tentang Kitab Suci sudah tidak bisa dipertahankan ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa Kitab Suci terikat dan terbentuk dalam suatu konteks sosio-kultural serta bahasa tertentu. Ditambah lagi, berhadapan dengan isu-isu mengenai ketidakadilan gender yang terjadi di sekitar kita, teks-teks bias gender yang terkandung dalam Kitab Suci sudah seharusnya direinterpretasikan kembali secara etis, dialektis, dan kritis. Oleh karena itu, upaya rekonseptualisasi terhadap pemahaman wahyu perlu dihubungkan dengan wacana hermeneutik kritis yang ditempatkan pada model perjumpaan dimana teks Alkitab ada dalam interaksi yang setara dengan pengalaman, perspektif, serta tradisi pembaca, yakni perempuan yang mengalami ketertindasan. Dengan demikian, proses hermeneutik terhadap teks-teks bias gender dapat direkonstruksi dan menghasilkan makna-makna baru yang berdaya transformatif bagi kehidupan bersama yang lebih baik. Daftar Pustaka