www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP ALJABAR MAHASISWA CALON GURU MELALUI PETA KONSEP PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS ABULYATAMA ACEH Ade Irfan1, Anzora2 1) 2) Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Abulyatama Jl. Blang Bintang Lama Km 8,5 Lampoh Keude Aceh Besar email: adeirfan_usra@yahoo.co.id, anzora199@gmail.com Abstract: Understanding is the ultimate goal to be achieved from each strategy applied learning in the learning process. However, teachers generally do not know the specific tool that can measure the understanding and misconceptions. Novak refers to the theories Ausubel said that these problems can be solved with a concept map. According to Novak, Concept Map can be applied with the purpose of (1) investigate what is already known by students, (2) learn how to learn, (3) reveal misconceptions, and (4) an evaluation tool. Algebra is one of the materials that are important in mathematics. The mistake in understanding the concept of algebra will impact on the erroneous understanding of other materials, because algebra is one of the foundations of mathematics. Therefore, understanding the concepts and misconceptions that occur in algebra important to know. This study aimed to describe understanding of algebra concepts, find misconceptions as well as evaluating the lecturing process that has been going on mathematics education of Abulyatama University. To achieve these objectives, the researchers used a method-descriptive exploratory study with a qualitative approach. Subjects were pre-service teacher in mathematics education, The Faculty of Education, Abulyatama University. Researchers became the main instrument, while supporting instruments namely; concept mapping assignment sheet (LTPK), the questionnaire, questionnaire responses and the recorder. Data validity checking carried out by the same method on different sources, called triangulation method. Data analysis was performed with the stage offered by Miles and Huberman, namely; (1) data reduction, (2) presentation of data, and (3) conclusion. The results showed that the understanding of algebra concept of pre-service teacher using a concept map on Mathematics Education is at the level of misconceptions portion (MSG). The misconception algebra of pre-service teacher in mathematics education using concept maps happen to identify a secondary idea, in determining the type of map concepts and reasons for selecting it, and in clarifying the relationship with the main idea of secondary ideas. The response of pre-service teacher to the lecture algebra is positive (3.27). Keywords : Understanding of Concepts, Concept Maps, Algebra Abstrak: Pemahaman merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai dari setiap strategi pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Namun, para pengajar umumnya belum mengetahui alat khusus yang dapat mengukur pemahaman dan kesalahan konsep. Novak mengacu pada teori Ausubel mengatakan bahwa permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan peta konsep. Menurut Novak, Peta konsep dapat diterapkan dengan tujuan (1) menyelediki apa yang telah diketahui siswa, (2) belajar bagaimana belajar, (3) mengungkap konsepsi salah, dan (4) alat evaluasi. Aljabar merupakan salah satu materi yang penting dalam matematika. Kekeliruan dalam memahami konsep aljabar akan berdampak kelirunya terhadap pemahaman pada materi lainnya. Hal ini dikarenakan aljabar merupakan salah satu pondasi matematika. Oleh karena itu, pemahaman konsep dan kesalahan konsep yang terjadi pada aljabar penting untuk diketahui. Penelitian ini bertujuan mendeskpripsikan pemahaman konsep aljabar, menemukan miskonsepsi serta mengevaluasi proses perkuliahan yang telah berlangsung pada prodi pendidikan matematika Universitas Abulyatama. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian eksploratif-deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah Volume 1, No. 1, Januari 2017 1 www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan mahasiswa pada program studi pendidikan matematika FKIP Universitas Abulyatama. Peneliti menjadi instrumen utama, sedangkan instrumen pendukung yaitu; lembar tugas pemetaan konsep (LTPK), lembar wawancara, angket respon dan alat perekam. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan metode yang sama pada sumber yang berbeda, disebut triangulasi metode. Analisis data dilakukan dengan tahapan yang ditawarkan oleh Miles dan Huberman, yaitu; (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konsep aljabar mahasiswa calon guru melalui peta konsep pada program studi pendidikan matematika FKIP Universitas Abulyatama Aceh berada pada tingkatan miskonsepsi sebagian (MSG). Adapun kesalahan konsep aljabar mahasiswa calon guru di prodi pendidikan matematika FKIP Universitas Abulyatama Aceh melalui peta konsep terjadi pada mengidentifikasi ide sekunder, dalam menentukan jenis peta konsep dan alasan memilihnya, serta dalam menjelaskan hubungan ide pokok dengan ide sekunder. Respon mahasiswa terhadap proses perkuliahan aljabar adalah positif (3,27). Kata kunci : pemahaman konsep, peta konsep, Aljabar Pemahaman terhadap materi (content) dalam Salah satu materi yang penting dan mendasar matematika telah menjadi hal yang penting dan dalam matematika adalah aljabar. Hal ini mendapat dikarenakan perhatian luas dari para pakar aljabar merupakan cabang matematika. Bukan saja perhatian terhadap matematika yang dicirikan sebagai generalisasi pemahaman siswa dalam belajar matematika, dari bidang aritmetika, dan aritmatika merupakan namum juga kemampuan mahasiswa calon guru salah satu pondasi dasar matematika. Hasil dalam memahami suatu konsep materi ajar jauh penelitian menunjukkan bahwa kesalahpahaman lebih penting, karena mahasiswa calon guru konsep pada materi aljabar akan berdampak merupakan generasi selanjutnya yang akan terhadap materi lainnya, misalnya pada konsep bertanggungjawab dalam melaksanakan proses menghitung luas persegi panjang berikut ini: belajar mengajar di kelas. Katona (dalam Orton, 1992: 102) menyatakan bahwa salah satu alasan pentingnya “pemahaman” karena “memahami” lebih memiliki dampak terhadap perkembangan kognitif calon guru daripada belajar dengan hafalan. Memahami atau mengerti merupakan kegiatan mental (Kaur : 39) Kesalahan konsep ini tidak hanya terjadi pada siswa tetapi juga sering ditemukan pada intelektual yang megorganisasikan materi yang mahasiswa calon guru. Disadari bahwa kesalahan telah diketahui (Gulo, 2002). Sementara itu, konsep terjadi salah satunya disebabkan kekeliruan Ausubel (dalam Dahar, 1988: 134) mengatakan dalam pemahaman terhadap konsep. Hal ini tentu bahwa proses mengaitkan informasi yang baru akan mengakibatkan kesulitan dalam belajar yang dengan struktur kognitif yang telah ada disebut berujung pada rendahnya hasil belajar. dengan pembelajaran bermakna. Struktur kognitif Dengan demikian, pemahaman tidak bisa yang dimaksud berupa fakta, konsep, dan dipandang generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh matematika. Mengejar ketuntasan materi dan seseorang. mengabaikan pemahaman, seperti yang selama ini Volume 1, No. 1, Januari 2017 sebelah mata oleh para pakar 2 www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan sering ditemukan dalam proses pembelajaran di Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa perkuliahan dan sekolah merupakan tindakan yang pemahaman konsep dapat diketahui dengan keliru. Hal ini seumpama bagai menuang air di menggunakan pemetaan konsep. Selain itu, daun keladi. pemetaan konsep juga bisa menjadi alat untuk Pemahaman hanya akan diperoleh melalui pembelajaran (meaningfull terhadap proses perkuliahan yang selama ini learning). Hal ini disebabkan dengan pembelajaran berlangsung pada prodi pendidikan matematika bermakna seseorang akan lebih mudah memahami FKIP Universitas Abulyatama. Hal ini membuat dan mengingat sesuatu daripada menghafal. peneliti tertarik menggunakan peta konsep untuk Ausubel yang bermakna mengungkap miskonsepsi serta alat evaluasi menjelaskan bahwa untuk menganalisis pemahaman konsep aljabar sekaligus mewujudkan pembelajaran bermakna maka setiap mengungkap konsepsi salah serta mengevaluasi individu yang belajar harus dapat mengaitkan proses perkuliahan yang selama ini berlangsung pengetahuan baru ke konsep atau proposisi pada program studi pendidikan matematika (hubungan antar konsep) relevan yang telah Universitas Abulyatama Aceh. diketahui (dalam Herawati, 1999). Namun, Tujuan dari penelitian ini adalah: Ausubel tidak menjelaskan secara rinci tentang 1. Untuk mendeskripsikan pemahaman konsep cara mengetahui konsep-konsep/pengetahuan awal aljabar mahasiswa calon guru melalui peta yang telah dimiliki oleh seseorang (siswa). Dengan konsep di prodi pendidikan matematika FKIP kata lain, Ausubel belum menyediakan suatu alat Universitas Abulyatama Aceh. atau cara bagi para guru/mahasiswa calon guru yang dapat digunakan untuk 2. Untuk mendeskripsikan miskonsepsi materi mengetahui aljabar yang terjadi pada mahasiswa calon pembelajaran yang terjadi apakah sudah bermakna. guru di program studi Pendidikan Matematika Novak (dalam Dahar, 1988: 149) menjelaskan FKIP Universitas Abulyatama Aceh. bahwa permasalahan tersebut dapat diselesaikan 3. Untuk mengevaluasi proses perkuliahan yang dengan menggunakan peta konsep atau pemetaan selama ini berlangsung pada program studi konsep. Pendidikan Matematika FKIP Universitas Pemetaan konsep dapat menjadi alat yang Abulyatama Aceh tepat untuk menyelidiki apa yang telah diketahui oleh mahasiswa calon guru. Hal ini penting dilakukan mengingat mahasiswa calon guru sebagai pendidik di masa yang akan datang agar terhindar dari kesalahan terutama kesalahan konsep ketika mengajar di kelas. Selain itu, pemetaan konsep juga dapat menjadi alat evaluasi terhadap proses pembelajaran atau perkuliahan yang selama ini berlangsung. Volume 1, No. 1, Januari 2017 Sebagai suatu karya ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dengan menjadi alat evaluasi dan instrospeksi bagi dosen-dosen di program studi pendidikan matematika FKIP Universitas Abulyatama dalam rangka memperbaiki strategi perkuliahan demi tercapainya pemahaman konsep yang benar melalui 3 www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan pembelajaran yang bermakna sehingga dapat mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan melahirkan lulusan-lulusan yang bermutu dan setiap masalah dengan benar. Sesuai dengan hal mempunyai daya saing tinggi. tersebut, Depdiknas (2003:2) mengungkapkan bahwa, pemahaman konsep merupakan salah satu KAJIAN PUSTAKA kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai kata matematika yaitu dnegan understanding(Sumarno, 1987). Sementara Amran pemahaman konsep (2002:427-428), mengatakan bahwa pemahaman dipelajarinya, menjelaskan keterkaitan antarkonsep adalah sesuatu yang kita pahami dan kita mengerti dan mengaplikasikan konsep atau logaritma secara dengan benar. Sedangkan Sadiman (1946:109) luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan menyatakan bahwa pemahaman adalah suatu masalah. Pemahaman Konsep Pemahaman kemampuan diartikan seseorang dari dalam mengartikan, Berdasarkan kajian dalam menunjukkan matematika teori belajar yang yang telah menafsirkan, menerjemahkan, atau menyatakan dikemukakan di atas, maka pemahaman konsep sesuatu tentang pada penelitian ini diartikan sebagai kemampuan pengetahuan yang pernah diterimanya. Suharsimi mahasiswa calon guru dalam mengkonstruksi (2009: 118-137) menyatakan bahwa pemahaman konsep-konsep dengan caranya sendiri melalui (comprehension) adalah bagaimana seseorang pemetaan konsep. dengan caranya mempertahankan, (estimates), sendiri menduga Adapun indikator pemahaman konsep aljabar memperluas, mahasiswa calon guru melalui pemetaan konsep membedakan, menerangkan, menyimpulkan, mengeneralisasikan, memberikan dijelaskan pada Tabel 1 berikut ini: contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. Tabel 1. Indikator Pemahaman Konsep Aljabar Melalui Pemetaan Konsep. Tingkatan No. Indikator Pemahaman Dapat membuat peta konsep aljabar yang lengkap memuat konsep utama dan Paham Seluruhnya konsep pendukung 1. (PSA) yang disusun secara hirarki dan sesuai dengan langkahlangkah pembuatan peta konsep. Dapat membuat peta konsep aljabar paling sedikit memuat satu konsep utama dan dua Paham Sebagian konsep pendukung 2. (PSG) disusun secara hirarki dan sesuai dengan langkah-langkah pembuatan peta.konsep Pemahaman konsep merupakan salah satu kecakapan yang penting yang harus dimiliki oleh setiap siswa (mahasiswa).Sementara itu, konsep diartikan sebagai ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan sekelompok objek (Depdiknas, 2003: 18). Duffin dan Simpson (2000) pemahaman konsep sebagai kemampuan siswa untuk: (1) menjelaskan konsep, dapat diartikan siswa mampu untuk mengungkapkan kembali apa yang telah dkomunikasikan kepadanya, (2) menggunakan konsep pada berbagai situasi yang berbeda, dan (3) mengembangkan beberapa akibat dari adanya suatu konsep, dapat diartikan bahwa siswa paham terhadap konsep akibatnya siswa Volume 1, No. 1, Januari 2017 4 www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan Tingkatan Pemahaman No. 3. Miskonsepsi Sebagian (MSG) 4 Miskonsepsi . (MKS) 5 Tidak . (TPM) Paham Indikator Dapat membuat peta konsep aljabar yang memuat konsep utama dan konsep pendukung namun tidak disusun secara hirarki dan adanya kekeliruan dalam penyusunan langkahlangkah pembuatan peta konsep. Dapat membuat peta konsep aljabar namun tidak jelas antara konsep utama dan konsep pendukung dan tidak disusun secara hirarki dan tidak sesuai dengan langkahlangkah pembuatan konsep. Tidak dapat membuat peta konsep, hanya mengulang pertanyaan serta hasil kerja kosong. (2005: 331) menamakannya triangulasi metode. Data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan alur kegiatan analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1992), yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Respons mahasiswa yang diperoleh melalui angket dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dengan persentase. Menurut Mukhlis (2005), persentase dari setiap respons mahasiswa dihitung dengan rumus: Jumlah responssiswa tiap aspek yang muncul x100% Jumlah seluruhrespon siswa . Respon mahasiswa dikatakan efektif jika jawaban mahasiswa terhadap pernyataan positif untuk setiap aspek yang direspons pada setiap komponen pembelajaran diperoleh persentase  80 % . METODE PENELITIAN HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis penelitian ini digolongkan sebagai Hasil kerja mahasiswa calon guru dalam penelitian deskriptif-eksploratif dengan pendekatan membuat peta konsep disajikan dalam Gambar 1 kualitatif. Penelitian ini dilakukan di program studi dan Gambar 2. Berdasarkan hasil kerja dan pendidikan wawancara matematika FKIP Universitas mahasiswa calon guru dalam Abulyatama Aceh. Pemilihan subjek penelitian menyelesaikan tugas pemetaan konsep aljabar dan dilakukan dengan teknik purposive sampling. analisis pada setiap langkah dalam pembuatan peta Instrumen pendukung berupa lembar tugas konsep aljabar tersebut dapat disimpulkan bahwa pemetaan konsep pedoman wawancara, (LTPK), angket respon, mahasiswa calon guru dapat membuat peta konsep alat perekam. aljabar yang memuat konsep utama dan konsep Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara pendukung namun tidak disusun secara hirarki dan berbasis tugas pemetaan konsep, dan angket. adanya kekeliruan dalam penyusunan langkah- Validasi data dalam penelitian ini dilakukan langkah dengan membandingkan hasil wawancara berbasis demikian, pemahaman konsep aljabar mahasiswa tugas pemetaan konsep aljabar beberapa sumber calon guru berada pada kategori miskonsepsi data berbeda dengan metode yang sama, Moleong sebagian (MSG). dan Volume 1, No. 1, Januari 2017 pembuatan peta konsep. Dengan 5 www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan Gambar 1. Peta Konsep Subjek R12 Gambar 2. Peta Konsep Subjek R13 Volume 1, No. 1, Januari 2017 6 www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan Miskonsepsi atau kesalahan konsep ini terjadi digunakan, mereka cenderung mengganggap hal diantaranya pada: (1) dalam menentukan konsep itu sebagai pohon faktor biasa. Mahasiswa calon pendukung (ide sekunder), dimana mahasiswa guru tidak menjelaskan hubungan antara ide utama calon guru tidak dapat menjelaskan dengan benar (ide pokok) dengan ide pendukung (ide sekunder). ide pendukung yang akan mendukung ide utama Mereka dapat membuat/menarik hubungan antara (ide pokok); mahasiswa calon guru juga belum ide mempunyai bayangan atau gambaran jelas menyelesaikan tugas pemetaan konsep aljabar mengenai banyaknya ide pendukung pada setiap meski keliru dalam setiap langkahnya. Dari hal langkah yang akan dilakukannya; (2) dalam tersebut diketahui bahwa mahasiswa calon guru menjelaskan jenis peta konsep yang digunakan, belum mampu untuk mengkonstruksi konsep- mahasiswa calon guru tidak dapat menjelaskan konsep melalui pemetaan konsep. Hal ini justru secara explisit akan peta konsep yang dibuatnya tidak berimbang dengan respon mahasiswa, dan tidak dapat menjelaskan jenis peta konsep dimana yang mereka gunakan. terhadap proses perkuliahan dengan nilai rata-rata Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, utama dengan  80 % ide sekunder ketika mahasiswa respon positif 3,27. respons mahasiswa dikatakan efektif jika jawaban Ketidaksesuaian antara data wawancara siswa terhadap pernyataan positif untuk setiap berbasis tugas pemetaan konsep dengan data dari aspek yang direspons pada setiap komponen angket respon siswa, menunjukkan bahwa adanya persentase  80 % kemauan dari mahasiswa calon guru belajar, demikian, respons namun pembelajaran (7 diperoleh pernyataan). Dengan dalam proses yang ketidaksesuaian antara mahasiswa terhadap proses perkuliahan yang berlangsung berlangsung Pendidikan mahasiswa dengan dosen pengajar di dalam ruang Matematika FKIP Universitas Abulyatama adalah perkuliahan sehingga pembelajaran cenderung positif, hal ini disebabkan karena 7 (tujuh) dari 9 pasif dan satu arah (Dosen ke Mahasiswa). Hal ini (sembilan) pernyatan mendapat respons positif (> dapat ditunjukkan dengan rendahnya respon 80%) dari mahasiswa. mahasiswa terhadap pernyataan “Saya tidak di program studi adanya perkuliahan Pemahaman konsep aljabar mahasiswa calon merasakan suasana yang aktif dalam kegiatan guru Program Studi Pendidikan Matematika FKIP perkuliahan pada materi aljabar” dengan nilai rata- Universitas Abulyatama yaitu mengidentifikasi ide rata respon 2,83. Meskipun demikian, ada pokok (ide primer) dengan menuliskan pokok kecenderungan yang positif dari mahasiswa calon bahasan yang umum pada materi aljabar dan hal guru untuk belajar dengan berbagai variasi belajar yang mudah diingat, menuliskan ide sekunder (ide dengan nilai rata-rata 3,66. Hal ini dapat menjadi pendukung) namun tidak menjelaskannya hal masukan bagi dosen pengajar matakuliah aljabar tersebut sebagai ide pendukung. Mahasiswa calon dalam menerapkan strategi belajar yang variatif guru tidak menyebutkan jenis peta konsep yang sesuai dengan materi perkuliahannya. Penggunaan Volume 1, No. 1, Januari 2017 7 www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan modul sebagai bahan ajar dalam perkuliahan tanpa aljabar juga mendapat tanggapan yang positif dari pembuatannya. Dengan kata lain, mereka dapat mahasiswa sebesar 3,33. menulis, namun tidak memahami apa yang mereka Miskonsepsi yang terjadi pada mahasiswa mengetahui dengan pasti alasan tulis tersebut; mahasiswa calon guru juga calon guru dalam pemahaman konsep aljabar cenderung ragu dalam menyebutkan ide berada pada pada tingkatan miskonsepsi sebagian pendukung (ide sekunder) pada tahap selanjutnya (MSG). Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil dalam membuat peta konsep. analisis terhadap wawancara berbasis tugas Dalam hubungan ide pokok dengan ide pemetaan konsep yang dikerjakan oleh mahasiswa sekunder, mahasiswa calon guru tidak mampu calon guru diketahui bahwa mahasiswa calon guru menjelaskan hubungan yang dibuatnya dalam dapat membuat peta konsep aljabar yang memuat menghubungkan antara ide utama (ide pokok) konsep utama dan konsep pendukung namun tidak dengan ide pendukung (ide sekunder). Selain itu, disusun secara hirarki dan adanya kekeliruan mahasiswa calon guru masih ragu ketika dalam penyusunan langkah-langkah pembuatan mengatakan bahwa mereka mengetahui hubungan peta konsep. lain yang dapat dibuat antara ide pokok dengan ide Adapun kekeliruan tersebut terjadi pada saat sekunder. Adanya respon yang positif terhadap mahasiswa calon guru mengidentifikasi ide kebosanan yang dirasakan mahasiswa calon guru sekunder (ide pendukung), dimana para mahasiswa dalam pembelajaran aljabar merupakan penyebab tidak dapat menjelaskan dengan benar ide uatama mahasiswa calon guru tidak dapat pendukung yang akan mendukung ide utama (ide memahami dengan maksimal akan hubungan pokok); mahasiswa calon guru juga belum antara ide pokok dan ide sekunder yang mereka mempunyai bayangan atau gambaran jelas rumuskan dalam membuat pemetaan konsep. mengenai banyaknya ide pendukung pada setiap langkah yang akan dilakukannya. Hal ini sesuai dengan tanggapan mahasiswa sebesar 2, 83 yang merasa mudah mengingat konsep-konsep aljabar, karena penyajian materinya yang sistematis. Dalam menjelaskan jenis peta konsep yang digunakan, mahasiswa calon guru tidak dapat menjelaskan secara explisit akan peta konsep yang dibuatnya dan tidak dapat menjelaskan jenis peta konsep yang mereka gunakan. Selain itu, mereka juga tidak dapat menjelaskan dengan benar setiap langkah dalam membuat peta konsep yang dibuatnya. Mahasiswa calon guru cenderung menyamakan peta konsep dengan pohon faktor Volume 1, No. 1, Januari 2017 KESIMPULAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan terhadap hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Pemahaman konsep aljabar mahasiswa calon guru melalui pemetaan konsep di prodi pendidikan matematika FKIP Universitas Abulyatama Aceh berada pada tingkatan miskonsepsi sebagian (MSG). 2. Miskonsepsi materi aljabar yang terjadi pada mahasiswa calon guru di program studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Abulyatama Aceh terjadi pada saat 8 www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan mengidentifikasi ide sekunder, menentukan dan Biologi Fakultas MIPA, UM. memberikan alasan terhadap jenis peta konsep Hudojo, H. (2003). Pengembangan Kurikulum yang digunakan, serta menjelaskan hubungan dan Pembelajaran Matematika. Malang: antara ide utama (ide pokok) dengan ide IKIP Malang. sekunder. Kadir. (2004). Efektivitas Strategi Peta Konsep 3. Tanggapan (respon) mahasiswa terhadap proses dalam Pembelajaran Sains dan perkuliahan yang berlangsung pada prodi prodi Matematika. Jurnal Pendidikan dan pendidikan matematika FKIP Universitas Kebudayaan, No. 51. Abulyatama Aceh adalah positif. Kaur, Berinderjeet. Tanpa Tahun. Some Commen Misconceptions in Algbera. Singapore: Institute of Education. DAFTAR PUSTAKA Amran, Y.S Chaniago. (2002). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Cet. V. Bandung: Pustaka Setia. Arikunto, Suharsimi. (2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi) cet. IX. Jakarta: Bumi Aksara. Bell, F. (1978). Teaching and Learning Mathematics (In Secondary School). Iowa: Wim. C: Brown Company (1988). Teori-Teori Publisher. Dahar, Ratna Wilis. Belajar. Jakarta: Erlangga Depdiknas. (2003). Pengembangan Berbasis Pedoman Khusus Sistem Penilaian Kompetensi SMP. Jakarta: Depdiknas. Duffin, J. M & Simpson, A. P. (2000). A Search ForUnderstanding. Journal of Mathematical Behavior. Gulo, W. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo. Herawati. S. (1999). Pembelajaran Biologi dengan Pendekatan STM dan Filosofi Konsntruktivisme. Malang: Volume 1, No. 1, Januari 2017 Jurdik Mia, Aina. (2008). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Invertebrata dengan Menggunakan Teknik Peta Konsep. Percikan: Vol. 87 Edisi April 2008. Miles, M. B. & Huberman, A. M. (1992). Analisis oleh Data Tjetjep Kualitatif.Terjemahan R. Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press). Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda. Mukhlis. (2005). Pembelajaran Matematika Realistik Untuk Materi Pokok Perbandingan di Kelas VII SMP Negeri Pallangga. Tesis. Surabaya: PPs Universitas Negeri Surabaya Novak dan Gowin. (1984). Twelve years logitudinal case studies for sciences concept learning. Science Education. Orton, A. (1992). Learning Mathematics: Issues, Theory Practice.Second and Classroom Edition. London: Cassel Education. Rachmawati, Yeni. (2005). Penerapan Peta Konsep dan Pengaruhnya Terhadap 9 www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Jurnal Dedikasi Pendidikan Peningkatan Materi Sumarno. (1987). Kemampuan Pemamahan Perkuliahan Mahasiswa PGTK. Action dan Penalaran Matematik Siswa SMA Research pada Mata Kuliah Psikologi Dikaitkan Perkembangan II di PGTK FIP UPI Siswa dan Beberapa Unsur Proses (tidak dipublikasikan). Belajar Mengajar. Disertasi Pada PPs Rohana, Dkk. Penguasaan (2009). Penggunaan Peta Konsep Dalam Pembelajarn Statistika dengan Penalaran IKIP Bandung: tidak diterbitkan. Siswono, Tatag. Y. E. (2010). Penelitian Dasar Di Program Studi Pendidikan Pendidikan Matematika FKIP Universitas PGRI Unesa University Press. Palembang. Jurnal Pendidikan, 3(2). Sadiman, Arif Sukadi. (1946). Beberapa Aspek Pengembangan Sumber Belajar Cet. I. Logik Matematika. Surabaya: Trianto. (2009). Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivis. Jakarta: Prestasi Pustaka. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa. Sugiyono. (2012). Pendidikan Metode Penelitian pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Volume 1, No. 1, Januari 2017 10