HYMNOS Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon Volume 2 No. : 57-68 e-ISSN 3109-2586 DOI: https://doi. org/10. 64533/hymnos. Submitted, 10 September 2025. Revised, 03 Desember 2025. Accepted, 28 Desember 2025. Published, 30 Desember 2025 TRANSFORMASI PARADIGMA MISI KRISTEN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK: DARI EKSKLUSIVISME MENUJU INKLUSIVISME Angel Ribka Tintingon1. Vanny Nancy Suoth2 Universitas Kristen Indonesia Tomohon1. Universitas Kristen Indonesia Tomohon1, 2 angel13april04@gmail. Abstract: This article examines the transformation of the Christian mission paradigm from exclusivism to inclusivism within the context of pluralistic societies. The purpose of the study is to analyze how the church can shift the exclusive mindset of believers so that they are able to live and witness in an inclusive, open, and contextually relevant manner amidst social and cultural diversity. This research employs a qualitative method with a descriptive approach, including literature review on missiology, observation of pluralistic communities, and theological analysis of the concept of Missio Dei and mission practices in diverse societies. The findings indicate that exclusivism, while affirming the truth of the faith, can lead to closed-minded attitudes, discrimination, and social In contrast, the inclusivist paradigm emphasizes the churchAos participation in GodAos universal work, integrating the proclamation of the Gospel with spiritual education, interfaith dialogue, and cross-community social activities. This transformation of mindset not only strengthens the witness of faith but also positions the church as an agent of reconciliation, peace, and social transformation relevant to pluralistic societies. This study contributes to the field of missiology by offering a new perspective on the importance of inclusivism as a strategy for contemporary Christian mission. Keywords: Exclusivism. Inclusivism. Mission Abstrak: Artikel ini membahas transformasi paradigma misi Kristen dari eksklusivisme ke inklusivisme dalam konteks masyarakat majemuk. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis bagaimana gereja dapat mengubah pola pikir eksklusif umat percaya agar mampu hidup dan bersaksi secara inklusif, terbuka, dan relevan di tengah keberagaman sosial dan budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui kajian literatur teologi misi, observasi masyarakat plural, serta analisis teologis terhadap konsep Missio Dei dan praktik misi dalam masyarakat majemuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksklusivisme, meskipun menegaskan kebenaran iman, dapat menimbulkan sikap tertutup, diskriminasi, dan konflik sosial. Sebaliknya, paradigma inklusif menekankan partisipasi gereja dalam karya Allah yang universal, memadukan pewartaan Injil dengan pendidikan spiritual, dialog antaragama, dan kegiatan sosial lintas komunitas. Transformasi pola pikir ini tidak hanya memperkuat kesaksian iman, tetapi juga menjadikan gereja sebagai agen rekonsiliasi, perdamaian, dan transformasi sosial yang relevan dalam masyarakat plural. Penelitian ini memberikan kontribusi pada studi misiologi dengan menawarkan perspektif baru tentang pentingnya inklusivisme sebagai strategi misi Kristen Kata kunci: Eksklusivisme. Inklusivisme. Misi Copyright A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. PENDAHULUAN Kemajemukan masyarakat global dan lokal dewasa ini merupakan realitas sosiologis yang tidak dapat dihindari oleh gereja dan praktik misi Kristen. Interaksi lintas agama, budaya, dan identitas sosial telah membentuk ruang publik yang plural dan sensitif terhadap isu eksklusivitas 1 Dalam konteks ini, paradigma misi Kristen yang bersifat konfrontatif dan unidireksional semakin dipertanyakan relevansinya, khususnya ketika misi dipersepsikan sebagai ancaman bagi kohesi sosial dan kerukunan umat beragama. 2 Sejumlah kajian menunjukkan bahwa praktik misi yang tidak kontekstual berpotensi menimbulkan resistensi dan konflik dalam masyarakat majemuk, termasuk di Indonesia yang memiliki tingkat pluralitas tinggi. 3 Oleh karena itu, refleksi kritis terhadap paradigma misi Kristen menjadi kebutuhan mendesak agar kesaksian gereja tetap bermakna, etis, dan konstruktif dalam ruang sosial yang plural. Literatur teologi misi kontemporer memperlihatkan adanya pergeseran signifikan dari paradigma misi yang berorientasi pada ekspansi gereja menuju pemahaman misi sebagai partisipasi dalam missio Dei. 4 Ming dan Daliman menegaskan bahwa misi bukan terutama aktivitas gereja, melainkan karya Allah sendiri yang melibatkan gereja sebagai partisipan dalam pemulihan Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan ini mendorong lahirnya teologi misi yang lebih dialogis dan kontekstual, khususnya dalam masyarakat plural. 5 Kajian-kajian dari para sarjana juga menyoroti pentingnya inklusivisme teologis sebagai alternatif terhadap eksklusivisme sempit, dengan menekankan bahwa Allah dapat berkarya di luar batas institusional gereja tanpa meniadakan keunikan Kristus. 6 Lebih lanjut. Pandey dan Lasino menunjukkan bahwa dalam masyarakat majemuk, misi Kristen tidak dapat dilepaskan dari realitas pluralisme agama dan budaya, sebab kehadiran gereja di ruang publik menuntut pendekatan dialogis yang menghormati keberadaan iman lain tanpa kehilangan identitas kristologisnya. 7 Dalam dimensi praksis. Mawikere dan Hura menegaskan bahwa misi transformatif dan inklusif menuntut keterlibatan gereja dalam Ahmad Zamakhsari. AuTeologi Agama-Agama Tipologi Tripolar. Eksklusivisme. Inklusivisme Dan Kajian Pluralisme,Ay Tsaqofah: Jurnal Agama dan Budaya 18, no. 1 (June 28, 2. : 35Ae51, https://doi. org/10. 32678/tsaqofah. Haposan Silalahi. AuBermisi Dalam Aksi,Ay TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 10, no. (December 26, 2. : 25Ae47, https://doi. org/10. 51828/td. Ester Widiyaningtyas. Eirene Victoria Sele Barail, and Resa Junias. AuMewujudkan Kasih Kristus Dalam Keberagaman Agama: Pendekatan Teologi Agama-Agama,Ay Journal Of Spirituality And Practical Theology 2, no. : 62Ae75, https://doi. org/10. 69668/josaprat. Bosch. Transforming Mission: Paradigm Shifts in Theology of Mission. (Maryknoll. New York: Orbis Books, 2. , 46-47. David Ming and Muner Daliman. AuMission Theology in the Context of a Multiple Society,Ay Pharos Journal of Theology 103, no. : 1Ae12, https://doi. org/10. 46222/pharosjot. Patricia Enedudu Idoko. AuThe Possibility of an Inclusivist View of Religions,Ay Journal of Religion and Theology 6, 1 . : 81Ae86, https://doi. org/10. 22259/2637-5907. Dylfard Edward Pandey and Lasino Lasino. AuSoteriologi Alkitab Di Tengah Eksklusivisme. Inklusivisme. Dan Pluralisme,Ay EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 2, no. 2 (November 27, 2. : 104Ae117, https://doi. org/10. 62738/ej. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 pengabdian kepada masyarakat melalui pemberdayaan kaum marginal, perjuangan keadilan sosial, rekonsiliasi, serta pelayanan kasih yang nyata. 8 Kobak dan Seldjatem menjelaskan bahwa pluralisme dalam teologi Kristen dipahami sebagai pengakuan terhadap keragaman iman dan keyakinan sebagai realitas sah dalam kehidupan bersama, yang menuntut keterbukaan, dialog, dan kerja sama lintas agama. Sebaliknya, eksklusivisme menegaskan klaim keselamatan tunggal yang menutup validitas keyakinan di luar iman Kristen. 9 Sementara Kobak dan Simbolon, menyimpulkan bahwa penerapan moderasi dalam Missio Dei merupakan kebutuhan teologis sekaligus praktis bagi gereja di era globalisasi dan digitalisasi. Gereja dipanggil untuk menjaga keseimbangan antara kesetiaan iman dan keterbukaan terhadap keragaman, sehingga misi Kristen tetap relevan, transformatif, dan berdampak positif bagi masyarakat luas. 10 Dengan demikian, misi menjadi sarana pembaruan struktur masyarakat yang rusak akibat dosa dan ketidakadilan. Dalam konteks Indonesia, teologi misi lintas budaya dan dialog antariman semakin dipahami sebagai bagian integral dari kesaksian Kristen di tengah keberagaman. Meskipun diskursus tentang eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme telah banyak dibahas dalam teologi agama-agama, masih terdapat kesenjangan penelitian dalam mengelaborasi transformasi paradigma misi Kristen secara sistematis dan aplikatif dalam konteks masyarakat Soegianto dan Lolong mengungkap bahwa dalam kompleksitas konteks multikultural dalam lingkup penginjilan maka diperlukan perspektif dan kemampuan yang baik dari penginjil untuk mengkontekstualisasikan pesan Injil untuk membangun pendekatan yang efektif dan bermakna dalam konteks multikultural. 12 Studi ini memberikan wawasan berharga bagi gereja dan penginjil yang beroperasi di lingkungan multikultural, memicu diskusi tentang peran kontekstualisasi dalam menyebarkan pesan Injil di masyarakat yang semakin beragam. Sebagian penelitian masih terjebak pada tipologi konseptual antara eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme tanpa menjelaskan dinamika perubahan paradigma misi dalam praksis gerejawi. Marde Christian Stenly Mawikere and Sudiria Hura. AuTEOLOGI MISI TRANSFORMATIF DAN INKLUSIF DALAM PERJANJIAN BARU SEBAGAI BASIS PENGABDIAN KRISTIANI KEPADA MASYARAKAT,Ay Mata Guru: Jurnal Pendidik dan Tenaga Kependidikan 1, no. : 31Ae46. Hulu Kobak and Cristian Seldjatem. AuAnalisis Terhadap Pandangan Pluralisme Dan Eksklusivisme Di Kalangan Gereja-Gereja Di Papua Pada Masa Kini,Ay Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik 2, no. 3 (September 7, 2. 183Ae192, https://doi. org/10. 61132/jbpakk. Hulu kobak and Titus Simbolon. AuMODERASI DALAM MISSIO DEI: MENGHADAPI TANTANGAN SENSIVITAS SOSIAL KERAGAMAN BERAGAMA,Ay Psikosospen : Jurnal Psikososial dan Pendidikan 1, no. : 520Ae532, https://w. jp/500/page/0000174493. Paul Yonggap Jeong. Au'Mission in Weakness and VulnerabilityAo in Selected Writings: From Lesslie NewbiginAos and David BoschAos Missiological Books,Ay Missio DEI 36, no. : 36Ae49, https://missiodeijournal. com/issues/md-4-1/authors/md-4-1-jeong. Febriaman Lalaziduhu Harefa and Jeane Paath. AuCross-Cultural Mission Theology In Indonesia,Ay SCRIPTA: Jurnal Teologi & Pelayanan Kontekstual 15, no. : 90Ae101, https://doi. org/10. 47154/sjtpk. Soegianto Soegianto and Prinsipessia Putri Abigail Lolong. AuThe Dynamics of Evangelism in a Multicultural Context: Challenges and Opportunities for Contextualization,Ay Journal Didaskalia 6, no. 2 (October 26, 2. : 48Ae55, https://doi. org/10. 33856/didaskalia. Daniel Lucas Lukito. AuEksklusivisme. Inklusivisme. Pluralisme. Dan Dialog Antar Agama,Ay Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 13, no. 2 (October 1, 2. : 251Ae279. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Selain itu, kajian teologi misi di Indonesia cenderung fokus pada isu kerukunan atau dialog antaragama secara normatif, namun belum banyak mengintegrasikan kerangka missio Dei dengan implikasi etis dan sosial dari misi inklusif. Berdasarkan kesenjangan tersebut, artikel ini menegaskan tesis bahwa transformasi paradigma misi Kristen dari eksklusivisme menuju inklusivisme merupakan kebutuhan teologis dan praksis dalam masyarakat majemuk. Inklusivisme misiologis dalam penelitian ini dipahami bukan sebagai relativisasi iman Kristen, melainkan sebagai ekspresi kesetiaan terhadap missio Dei yang bersifat relasional, dialogis, dan kontekstual. 15 Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kerangka teologis misi inklusif yang mampu menjembatani komitmen kristologis dengan tanggung jawab sosial dalam masyarakat plural. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat memperkaya diskursus teologi misi kontemporer, memberikan landasan etis bagi praktik misi gereja di ruang publik, serta mendorong gereja berperan aktif sebagai agen perdamaian dan transformasi sosial di tengah METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian misiologi yang bertujuan memahami makna dan fenomena secara mendalam, bukan sekadar mengukur data secara Pendekatan ini menekankan pada interpretasi terhadap realitas sosial dan keagamaan sebagaimana dialami oleh individu atau kelompok. 16 Teknik yang digunakan adalah observasi dan studi literatur. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung perilaku, interaksi, dan praktik kehidupan beragama agar diperoleh data yang kontekstual dan faktual. Sedangkan studi literatur digunakan untuk menelaah berbagai sumber ilmiah seperti buku, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu guna memperkuat dasar teori dan menemukan celah penelitian. 17 Kombinasi kedua teknik ini membantu peneliti memperoleh pemahaman yang utuh baik dari pengalaman lapangan maupun dari kajian teoritis sehingga hasil penelitian lebih mendalam dan relevan yang berkaitan dengan paradigma teologi misi dalam masyarakat majemuk dari ekslusiv ke inklusiv. Tonny Andrian and Waharman Waharman. AuMISIOLOGI KONTEKSTUAL DI INDONESIA: SOLUSI TEOLOGIS DAN SOSIAL UNTUK MASYARAKAT PLURALIS,Ay Manna Rafflesia 11, no. 1 (October 29, 2. : 186Ae201, https://doi. org/10. 38091/man_raf. Yakup Hariyanto. AuPeluang Dan Tantangan Iman Kristen Dalam Bingkai Teologi Agama-Agama,Ay Sinar Kasih: Jurnal Pendidikan Agama dan Filsafat 3, no. 2 (May 31, 2. : 145Ae154, https://doi. org/10. 55606/sinarkasih. Rezky Alfero Josua et al. AuKajian Missio Dei Terhadap Tanggung Jawab Orang Percaya Berdasarkan 2 Korintus 5:18-20,Ay Integritas: Jurnal Teologi 5, no. : 80Ae95. Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 6. Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 82. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . TEMUAN DAN PEMBAHASAN Paradigma Misi Paradigma misi adalah kerangka konseptual yang digunakan untuk memahami, merancang, dan melaksanakan misi gereja dalam konteks kehidupan nyata. Kerangka ini tidak hanya berfokus pada strategi penginjilan semata, tetapi juga menekankan pemahaman teologis, konteks sosial, budaya, dan dinamika masyarakat yang dihadapi gereja. Dengan demikian, paradigma misi menjadi alat penting bagi gereja untuk merespons tantangan zaman secara efektif, tetap relevan, dan berakar pada nilai-nilai iman Kristen. 18 Secara teologis, paradigma misi berakar pada konsep Missio Dei, yakni gagasan bahwa misi sejati berasal dari Allah sendiri. Dalam konsep ini, gereja bukanlah penggerak utama, melainkan peserta aktif dalam karya Allah yang sudah berjalan di dunia. Allah mengutus gereja untuk menjadi saksi dan agen transformasi, sehingga misi gereja bersifat partisipatif: mengikutsertakan jemaat dalam membawa kasih, keadilan, dan rekonsiliasi Allah ke tengah masyarakat. Paradigma ini menegaskan bahwa misi tidak terbatas pada penyebaran doktrin atau konversi semata, melainkan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk sosial, budaya, ekonomi, dan Selain itu, paradigma misi menekankan kontekstualitas, yakni kemampuan gereja menyesuaikan pendekatan misi dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Konteks sosial, budaya, maupun ekonomi memengaruhi cara gereja melaksanakan misi. Misalnya, dalam masyarakat yang majemuk, paradigma misi menuntut sikap inklusif dan dialogis, menghargai perbedaan, sekaligus tetap setia pada inti iman Kristen. Pendekatan ini mendorong gereja untuk memahami masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya dari perspektif teologis, tetapi juga dari pengalaman nyata umat dan kebutuhan sosial mereka. Dengan kata lain, paradigma misi tidak hanya menjadi teori atau konsep abstrak, tetapi menjadi pedoman praktis bagi gereja dalam menyesuaikan strategi pelayanan dengan tantangan zaman. Paradigma ini menegaskan bahwa setiap tindakan misi harus didasari pada pemahaman akan karya Allah yang universal, sekaligus mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan manusia, baik dalam dimensi rohani maupun Dengan demikian, misi gereja menjadi partisipasi yang holistik dalam rencana Allah bagi seluruh ciptaan, menyatukan dimensi iman, etika, dan tindakan nyata dalam satu kesatuan tujuan. Paradigma Misi Dalam Masyarakat Majemuk Pelaksanaan misi Kristen di tengah masyarakat majemuk menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan berlapis. Kemajemukan dalam konteks ini bukan hanya berbicara tentang perbedaan agama, tetapi juga meliputi perbedaan budaya, etnis, bahasa, serta pandangan hidup Bosch. Transformasi Misi Kristen: Sejarah dan Teologi Misi dalam Perspektif Baru, 389. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 yang membentuk dinamika sosial masyarakat. Dalam situasi yang penuh warna ini, gereja tidak dapat melaksanakan misi secara sempit dan eksklusif, melainkan perlu mengembangkan cara pandang dan pendekatan yang kontekstual, terbuka, serta selaras dengan realitas kehidupan sosial tanpa kehilangan esensi Injil Kristus. Salah satu tantangan utama dalam misi di tengah masyarakat plural adalah persoalan Ajaran dasar iman Kristen menegaskan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, sebagaimana firman-Nya dalam Yohanes 14:6. AuAkulah jalan dan kebenaran dan tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. Ay Pandangan ini bersifat fundamental bagi iman Kristen, namun seringkali menimbulkan gesekan dalam konteks masyarakat yang pluralistik. Dalam pandangan sebagian pihak, eksklusivisme dianggap menutup diri dan tidak menghargai keberagaman keyakinan, sehingga berpotensi menimbulkan prasangka bahwa kekristenan bersifat intoleran terhadap agama lain. Misi Kristen di era pluralisme tidak boleh semata-mata berorientasi pada konversi, tetapi harus diarahkan pada perjumpaan yang membawa transformasi dan kesaksian tentang kasih Allah yang menyelamatkan seluruh dunia tanpa 19 Artinya. Injil tetap menjadi pusat pewartaan, tetapi penyampaiannya harus dilakukan dengan sikap dialogis, rendah hati, dan penuh hormat terhadap sesama manusia yang berbeda Selain tantangan teologis, misi Kristen juga menghadapi tantangan sosiologis dalam menjaga keseimbangan antara semangat penginjilan dan penghormatan terhadap keberagaman. Indonesia, misalnya, adalah contoh nyata masyarakat majemuk di mana berbagai agama, suku, dan budaya hidup berdampingan. 20 Dalam situasi seperti ini, pelaksanaan misi yang tidak sensitif terhadap konteks sosial dan budaya dapat menimbulkan kesalahpahaman, bahkan konflik antarumat beragama. Karena itu, misi perlu dilakukan dengan pendekatan inkarnasi dan kontekstualisasi, yaitu menghadirkan Injil dalam bentuk yang bisa dipahami dan diterima oleh masyarakat setempat tanpa mengubah substansi kebenarannya. Setiap kegiatan misi harus dilakukan dengan memahami konteks budaya sebagai tempat di mana Allah juga hadir dan 21 Dengan demikian, pewartaan Injil tidak boleh bersifat memaksakan nilai-nilai asing, tetapi justru mencari titik perjumpaan antara iman dan budaya agar pesan kasih Kristus dapat dihayati secara nyata. Dalam konteks ini, gereja dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13Ae. , bukan hanya melalui penginjilan secara verbal, tetapi melalui kesaksian hidup yang menampilkan kasih, keadilan, dan perdamaian di tengah perbedaan. Tantangan berikutnya adalah tantangan etis dan praktis, yakni bagaimana misi Kristen tetap relevan di tengah perkembangan globalisasi, modernisasi, dan sekularisasi. Banyak orang, terutama generasi muda, kini lebih tertarik Bosch, 487. Jusen. AuPemahaman Pluralisme Agama Dan Strategi Misi Dalam Pertumbuhan Jemaat,Ay Jurnal Dikaiosunen 1, 2 . : 61Ae67. Bevans. Models of Contextual Theology, 25. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 pada nilai-nilai universal seperti kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan keadilan sosial dibandingkan dengan dogma keagamaan yang dianggap kaku dan tidak aplikatif. Dalam situasi seperti ini, gereja perlu memperluas pemahaman misi bukan hanya sebagai penginjilan verbal yang menekankan perubahan keyakinan, melainkan sebagai panggilan untuk menghadirkan kasih Allah melalui tindakan nyata baik dalam pelayanan sosial, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, maupun advokasi keadilan bagi kelompok yang tertindas. Misi Kristen sejati tidak hanya berbicara tentang keselamatan jiwa, tetapi juga mencakup pembaruan seluruh ciptaan melalui kasih dan keadilan Allah. 22 Oleh sebab itu, misi Kristen dalam masyarakat majemuk harus bersifat holistik, mencakup aspek rohani, sosial, dan kemanusiaan secara seimbang. Pewartaan Injil tidak cukup hanya dilakukan dengan kata-kata, tetapi juga melalui tindakan kasih yang membawa dampak nyata bagi kehidupan bersama. 23 Selain itu, gereja juga menghadapi tantangan internal, yaitu pemahaman yang sempit tentang hakikat misi. Masih banyak jemaat yang memandang misi hanya sebagai kegiatan penginjilan atau pekabaran Injil di daerahdaerah tertentu. Padahal, misi adalah identitas dan panggilan setiap orang percaya dalam kehidupan sehari-hari. 24 Gereja perlu memperbarui pemahaman umatnya bahwa misi bukanlah tugas segelintir orang, melainkan perwujudan kasih Kristus yang hidup dalam setiap tindakan dan relasi sosial. Dari berbagai tantangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa misi Kristen di tengah masyarakat majemuk menuntut sikap yang bijaksana, terbuka, dan kontekstual. Gereja harus mampu menjadi saksi Kristus melalui kasih yang melampaui batas-batas agama, budaya, dan etnis. Dengan mengedepankan pendekatan dialogis dan pelayanan yang holistik, misi Kristen dapat menjadi kekuatan transformatif yang menghadirkan damai sejahtera, keadilan, dan harapan di tengah dunia yang plural. ANALISA Misi Kristen Dalam Mengubah Paradigma Yang Ekslusivisme ke Inklusivisme Misi Kristen tidak hanya terbatas pada penyebaran Injil secara verbal atau penginjilan tradisional, tetapi juga mencakup transformasi paradigma berpikir umat percaya agar mampu menanggapi realitas masyarakat yang majemuk dengan sikap inklusif dan terbuka. Paradigma ini John Stott. Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2. Aprilano Aska Pattinaja. AuMenyuarakan Iman Di Tengah Penindasan: Analisis Naratif Tematik Kisah Gadis Tawanan Dari 2 Raja-Raja 5:1-5,Ay Sabda : Jurnal Teologi Kristen 6, no. : 1Ae20, https://doi. org/10. 55097/sabda. Raja Oloan Tumanggor. Misi Dalam Masyarakat Majemuk (Cengkareng. Jakarta: Genta Pustaka Lestari, 2. , 34-37 http://w. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 menekankan bahwa misi adalah partisipasi dalam karya Allah yang bersifat universal, sehingga jemaat dipanggil untuk menumbuhkan kesadaran bahwa keselamatan Allah tidak terbatas pada ruang sempit atau kelompok tertentu, tetapi menyentuh seluruh ciptaan. Salah satu tantangan utama dalam sejarah misi adalah kecenderungan eksklusivisme, yaitu pandangan yang menekankan bahwa keselamatan hanya tersedia bagi mereka yang secara eksplisit menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sehingga orang lain yang berbeda keyakinan, budaya, atau praktik keagamaan dipandang Audi luarAy rencana keselamatan Allah. 25 Pandangan eksklusivistik ini meskipun menegaskan kebenaran iman, dalam praktiknya sering menimbulkan berbagai konsekuensi sosial yang serius, termasuk sikap tertutup, prasangka, diskriminasi, dan bahkan konflik antarumat beragama, terutama dalam masyarakat plural yang heterogen. Dalam konteks dunia modern, eksklusivisme dapat menjadi hambatan bagi pewartaan Injil yang efektif, karena masyarakat semakin sadar akan hak-hak asasi, kebebasan beragama, dan keberagaman budaya. Hal ini menuntut gereja untuk merefleksikan kembali pendekatan misi dengan memadukan keteguhan iman Kristiani dengan sensitivitas sosial, sehingga misi tidak hanya menyampaikan doktrin tetapi juga membentuk sikap dan tindakan yang mencerminkan kasih, toleransi, dan pengertian terhadap perbedaan. Dengan kata lain, misi Kristen harus berperan dalam mentransformasikan pola pikir umat, dari perspektif yang eksklusif dan kaku menjadi perspektif yang inklusif dan kontekstual, sehingga jemaat mampu hidup secara konstruktif di tengah masyarakat majemuk. Transformasi ini juga memungkinkan gereja untuk menjadi saksi yang relevan, menghadirkan Injil melalui kasih yang nyata, dan menjembatani perbedaan tanpa mengurangi integritas teologis iman Kristen. Paradigma ini menekankan bahwa misi bukan sekadar tujuan pengikut Kristus bertambah, tetapi lebih pada pembentukan sikap, karakter, dan pemahaman spiritual yang mampu menyesuaikan diri dengan kompleksitas sosial, sambil tetap setia pada panggilan Allah. 27 Tugas misi Kristen di era modern tidak hanya terbatas pada penyebaran ajaran atau penginjilan tradisional, tetapi juga menekankan transformasi pola pikir dan paradigma teologis umat percaya. Salah satu tanggung jawab utama gereja adalah mendorong perubahan dari eksklusivisme yang melihat keselamatan hanya tersedia bagi mereka yang secara eksplisit menerima Kristus menuju inklusivisme, di mana gereja tetap setia pada inti iman Kristen namun juga menghargai keberadaan dan potensi kebenaran yang mungkin ada dalam tradisi keagamaan lain. Paradigma inklusif ini menegaskan bahwa identitas iman Kristen tidak berkurang ketika gereja mengakui karya Allah yang bersifat universal dan mampu bekerja di luar batas-batas institusional Dengan demikian, misi Kristen tidak lagi bersifat unilateral atau dominatif, melainkan dialogis Bosch. Transformasi Misi Kristen: Sejarah dan Teologi Misi dalam Perspektif Baru, 412. Stephen Neill. A History of Christian Missions (London: Penguin Books, 1. , 12. Lesslie Newbigin. The Gospel in a Pluralist Society (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 45. Bosch. Transformasi Misi Kristen: Sejarah dan Teologi Misi dalam Perspektif Baru, 412. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 dan kontekstual, menyesuaikan cara pewartaan Injil dengan situasi sosial, budaya, dan nilai-nilai masyarakat yang plural. Pendekatan inklusif menekankan bahwa misi bukan sekadar soal konversi, tetapi juga penghayatan kasih, pelayanan sosial, dan rekonsiliasi sebagai manifestasi nyata dari Injil dalam kehidupan sehari-hari. 30 Gereja dipanggil untuk hadir sebagai agen transformasi yang membangun relasi harmonis antarumat beragama, mengedepankan toleransi, dan mendorong kerja sama dalam kebaikan bersama. Dengan demikian, misi Kristen yang inklusif tidak hanya menyampaikan pesan keselamatan secara teologis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kasih, keadilan, dan perdamaian yang dapat dirasakan secara konkret oleh masyarakat di sekitar jemaat. Paradigma misi ini menekankan bahwa pewartaan Injil yang efektif di era modern harus seimbang, teguh dalam iman, namun sensitif terhadap konteks sosial dan budaya, sehingga gereja mampu menjadi saksi Allah yang relevan, adaptif, dan transformatif di tengah dunia yang majemuk dan dinamis. Proses transformasi pola pikir umat dari eksklusivisme menuju inklusivisme dilakukan melalui langkah-langkah strategis yang saling mendukung. Salah satunya adalah pendidikan dan pembinaan spiritual bagi jemaat, yang menekankan bahwa inklusivisme bukanlah bentuk kompromi terhadap iman Kristen, melainkan manifestasi kasih Kristus dalam konteks masyarakat yang Melalui pendidikan ini, jemaat didorong untuk memahami nilai-nilai teologis inklusif, menginternalisasi prinsip kasih, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Langkah strategis berikutnya adalah pelibatan aktif dalam dialog antaragama dan kegiatan sosial lintas komunitas, yang berfungsi sebagai sarana praktik nyata dari misi inklusif. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat relasi antarumat beragama, tetapi juga menanamkan sikap toleransi, empati, dan kesadaran akan keragaman budaya serta keyakinan. Dengan demikian, gereja tidak sekadar menjadi pengajar doktrin, tetapi juga saksi kasih dan keadilan Allah melalui tindakan nyata di tengah Hasil dari perubahan paradigma ini terlihat jelas dalam kemampuan gereja untuk berperan sebagai agent of peace dan reconciliation di tengah masyarakat yang majemuk dan plural. Gereja yang berhasil menginternalisasi prinsip inklusivisme tidak hanya menyampaikan Injil sebagai ajaran teologis semata, tetapi juga menghidupkannya sebagai gaya hidup nyata yang mencerminkan kasih, pengertian, dan toleransi dalam interaksi sehari-hari. Transformasi ini menunjukkan bahwa misi Kristen bukan sekadar upaya untuk menambah jumlah pengikut, tetapi merupakan sarana pembentukan karakter dan komunitas yang harmonis, adil, dan inklusif yang menghasilkan para Aska Aprilano Pattinaja. Andris Kiamani, and Pulela Dewi Loiksoklay. AuKajian Metode Kontekstual Paulus AoMenjadi SepertiAo Menurut 1 Korintus 9:19-23 Sebagai Implementasi Karakter Misionaris,Ay Voice of HAMI 6, no. 72Ae84, https://doi. org/10. 1111/irom. Rannu Sanderan. Teologi Misi dan Dialog di Tengah Kemajemukan (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 78. Harianto GP. Teologi Misi: dari Missio Dei menuju Missi Ecclesia (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2. , 95. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 murid yang siap memberitakan injil. 32 Gereja yang berpikir inklusif mampu menghadirkan Injil secara kontekstual, sehingga nilai-nilai kasih, rekonsiliasi, dan keadilan yang diajarkan Kristus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sosial. Dengan demikian, misi Kristen berfungsi ganda, yaitu sebagai transformasi spiritual bagi jemaat dan transformasi sosial bagi masyarakat luas, membangun komunitas yang tetap berpusat pada nilai-nilai Injil sekaligus responsif terhadap kompleksitas kehidupan modern. Singkatnya, tugas misi Kristen dalam masyarakat majemuk bukan hanya sebatas penyebaran ajaran atau penginjilan, melainkan juga mendorong umat percaya keluar dari pola pikir eksklusif yang kaku menuju paradigma inklusif yang terbuka, adaptif, dan relevan dengan konteks sosial budaya di sekitarnya. Paradigma inklusif ini menegaskan bahwa pewartaan Injil tidak sekadar bertujuan menambah jumlah pengikut, tetapi juga mengubah cara berpikir, sikap, dan tindakan jemaat, sehingga mereka mampu hidup sebagai saksi Allah yang nyata dan efektif di tengah dunia yang plural dan dinamis. Melalui pendekatan ini, gereja dipanggil untuk menjadi agen transformasi yang menginternalisasi nilai-nilai kasih, toleransi, dan rekonsiliasi dalam setiap tindakan, sambil tetap berakar kuat pada ajaran Kristus. Dengan kata lain, misi Kristen yang inklusif mengintegrasikan dimensi spiritual dan sosial, sehingga jemaat tidak hanya memahami Injil secara teologis, tetapi juga mampu menghidupinya dalam interaksi nyata dengan masyarakat yang beragam, menghadirkan kesaksian iman yang kontekstual, relevan, dan berdampak bagi perdamaian dan keharmonisan bersama. KESIMPULAN Tugas misi Kristen tidak hanya bersifat penginjilan verbal, tetapi juga transformasi pola pikir umat agar mampu menanggapi realitas masyarakat yang plural dengan sikap inklusif. Penelitian ini menunjukkan bahwa eksklusivisme, meskipun menegaskan kebenaran iman, sering menimbulkan sikap tertutup, diskriminasi, dan konflik sosial, sehingga perlu dikaji ulang dalam konteks masyarakat majemuk. Berdasarkan pembahasan yang telah dianalisis, dapat disimpulkan bahwa transformasi paradigma misi Kristen dari eksklusivisme menuju inklusivisme merupakan respons teologis yang niscaya terhadap realitas masyarakat majemuk. Eksklusivisme yang menekankan klaim kebenaran secara sempit terbukti berpotensi menciptakan jarak sosial, resistensi dialog, dan ketegangan antarumat beragama, sehingga melemahkan kesaksian gereja di ruang publik. Sebaliknya, paradigma misi yang berakar pada missio Dei, bersifat inklusif, dialogis, dan transformatifAisebagaimana ditegaskan dalam berbagai kajian teologi misi kontemporerAi memungkinkan gereja tetap setia pada kristologi Injili sekaligus hadir sebagai agen perdamaian. Frederik R. Coetzee. Malan Nel, and Johannes J. Knoetze. AuEvangelism as an Invitation to Missional Discipleship in the Kingdom of God,Ay Verbum et Ecclesia 44, no. 1 (February 27, 2. : 1Ae8, https://doi. org/10. 4102/ve. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 keadilan sosial, dan pemulihan relasi dalam konteks pluralitas. Inklusivisme misiologis tidak dimaknai sebagai relativisme iman, melainkan sebagai ekspresi kedewasaan teologis yang mengintegrasikan komitmen iman dengan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menekankan bahwa misi tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial, sehingga gereja dapat menjadi agen rekonsiliasi, perdamaian, dan transformasi sosial di tengah dunia yang majemuk. Temuan ini diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan studi misiologi, pembinaan jemaat, serta strategi pelayanan gereja yang kontekstual dan inklusif. Berdasarkan temuan ini, penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk mengkaji secara empiris praktik misi inklusif di tingkat lokal gereja, khususnya dalam relasi antari man dan kontribusi sosial gereja, serta mengembangkan model misi kontekstual yang mengintegrasikan refleksi teologis, sensitivitas budaya, dan dinamika sosial masyarakat majemuk. DAFTAR PUSTAKA