Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS V SDN 124395 PEMATANG SIANTAR Lina Herlina1. Fauza Shafira2. Wendi Leonardo Purba3 Universitas Efarina. Indonesia ARTICLE INFORMATION A B S T R A C T Received: 25 Oktober 2022 Revised: 30 November 2022 Available online: 17 Desember 2022 Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran IPS agar dapat menyenangkan dan membuat siswa menjadi aktif. Penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 124395. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart, dengan subjek penelitian yaitu siswa kelas V SDN 124395 yang berjumlah 29 siswa dan objek dalam penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan model ikuiri dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar siswa ini dilihat dari meningkatnya kemampuan siswa dalam mencari jawaban dari permasalah melalui berbagai tahapan dalam model inkuiri yaitu orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan dan atau informasi, melakukan uji hipotesis, merumuskan kesimpulan. Peningkatan hasil belajar siswa dilihat dari meningkatnya persentase ketuntasan hasil tes siswa dimana pada pra tindakan persentasenya 31,03%, pada siklus I meningkat menjadi 55,17%, dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 82,76% KEYWORDS Model Pembelajaran. Inkuiri. Hasil Belajar CORRESPONDENCE E-mail: linaherlinaunefa167@gmail. INTRODUCTION Peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dapat ditempuh melalui berbagai cara antara lain peningkatan bekal awal siswa baru, peningkatan kompetensi guru, peningkatan isi kurikulum peningkatan kualitas pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa, penyediaan bahan ajar yang memadai dan penyediaan sarana belajar dan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tersebut seorang guru tidak hanya memiliki jenjang pendidikan yang tinggi tetapi dituntut untuk menciptakan suatu pembelajaran yang kreatif dan inovatif, karena salah satu masalah dalam pembelajaran pada pendidikan formal . dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini nampak dari rerata hasil belajar siswa yang senantiasa masih terlihat sangat Oleh karena itu seorang guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat sehingga menuntut profesionalitasnya dalam menciptakan suatu pembelajaran yang efektif dan Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau inovatif agar pembelajaran yang didapat merupakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. IPS juga merupakan mata pelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa di sekolah, keberhasilan belajar siswa tersebut tidak terlepas atas dukungan dan bantuan dari guru. Dalam proses pembelajaran guru sangat berperan penting, memiliki tanggung jawab yang berat sehingga dituntut profesionalitas yang tinggi dalam proses pembelajaran seperti penggunaan media dalam pembelajaran agar siswa lebih mudah memahami pembelajaran yang disampaikan, model pembelajaran yang digunakan lebih bervariasi sehingga pembelajaran tidak bersifat monoton hal ini diupayakan demi meningkatkan hasil belajar siswa yang optimal. Namun pada kenyataannya yang terjadi di sekolah dasar IPS dianggap mata pelajaran yang membosankan yang disebabakan oleh proses pembelajaran yang hanya berpusat pada guru dan dalam penyampaian materi lebih banyak menggunakan ceramah dan pemberian tugas. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas V selama kegiatan magang yang dilaksanakan dari tanggal 04 Agustus sampai 04 September 2022 di SDN 124395 memperoleh informasi dimana ketika guru menyampaikan materi pembelajaran IPS hanya sebatas menjelaskan dan memberikan tugas sehingga siswa kurang tertarik dan cepat merasa bosan. Hal ini menyebabakan siswa kurang memiliki motivasi dan semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu, kurangnya keterlibatan atau keaktifan siswa secara langsung dalam kegiatan proses belajar mengajar sehingga siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran yang juga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V, yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 29 Agustus 2022 di SDN 124395, mendapatkan informasi bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS masih kurang optimal hal ini dilihat dari nilai rata-rata mata pelajaran IPS lebih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya seperti PKn. Bahasa Indonesia. IPA dan Matematika. Hasil belajar IPS siswa masih mencapai rata-rata 59,31 dimana dari jumlah siswa yaitu 29 hanya 9 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sementara yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal masih terdapat 20 siswa, padahal batasan KKM yang diterapkan di SDN 124395 adalah 75. Sehingga perbandingan antara siswa yang sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal dan siswa yang belum mencapai sangatlah tidak seimbang. Berikut ini tabel Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau tentang rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas V di SDN 124395 tahun ajaran 2022/2023 yang dapat dilihat dari nilai rata-rata sebagai berikut: Tabel 1. Perbandingan nilai rata-rata kelas V SDN 124395 tahun ajaran 2022/2023 Mata Pelajaran Nilai Rata-Rata Bahasa Indonesia Matematika IPS IPA PKn Sumber Daftar Nilai Murni Tahun 2022/2023 Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 124395 masih rendah. Diantara kelima mata pelajaran yang ada nilai mata pelajaran yang paling tinggi adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia sementara nilai rata-rata yang paling rendah adalah mata pelajaran IPS. Dengan bercermin pada alasan-alasan di atas oleh karena itu peneliti dan guru bermaksud untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan mengadakan suatu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan menerapkan model pembelajaran Inkuiri untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS siswa kelas V di SDN 124395. Berdasarkan deskripsi teori dan kerangka berpikir yang diungkapkan di atas, maka rumusan hipotesis dalam penelitian ini berbunyi Audengan menerapkan model pembelajaran Inkuiri pada mata pelajaran IPS di kelas V proses dan hasil belajar siswa semakin meningkat. RESEARCH METHOD Pada hakikatnya hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa akibat dari belajar. Perubahan perilaku disebabkan karena ia telah mencapai penguasaan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Pencapaian tersebut didasarkan atas pengalaman atau tujuan pengajaran yang ditetapkan dan hasil tersebut dapat berupa perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga aspek tersebut tidak berdiri sendiri melainkan saling berhubungan atau berkaitan satu dengan yang lainnya. Mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang dimana dalam pelaksanaan materi pada mata pelajaran IPS menggunakan pendekatan terpadu, dalam pendekatan ini sengaja mengaitkan Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau atau memadukan berbagai materi, dan tidak mengacu pada disiplin ilmu yang terpisah akan tetapi beroreantasi pada kehidupan dan kebutuhan nyata para siswa, sehingga proses belajar siswa menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan anak. Sehingga melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Pada penelitian ini model penelitian yang digunakan yaitu mengacu pada model penelitian yang dikembangkan oleh kemmis dan McTaggart (Suharsimi Arikunto, 2006:. yaitu dalam bentuk spiral mulai dari tahap rencana, tindakan, observasi dan refleksi. Berikut ini desain gambar yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart: Keterangan : Perencanaan Perlakuan dan pengamatan Refleksi Gambar 1. Alur Penelitian Tindakan Kelas Subyek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas V SDN 124395 tahun ajaran 2022/2023, yang berjumlah 29 siswa. Dengan rincian 10 siswa perempuan dan 19 siswa laki-laki. RESULTS ANDDISCUSSION Penelitian ini diawali dengan melakukan observasi dan diperoleh permasalahan bahwa dimana ketika guru menyampaikan materi pembelajaran IPS siswa kurang tertarik dan cepat merasa bosan sehingga siswa kurang memiliki motivasi dan semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, kurangnya keterlibatan atau keaktifan siswa secara langsung dalam kegiatan proses belajar mengajar sehingga siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V, yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 01 oktober 2022 di SDN 124395, mendapatkan informasi bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS masih kurang optimal hal ini dilihat dari hasil KKM yang diperoleh siswa. Dari jumlah siswa 29 hanya 9 siswa yang mencapai KKM sementara yang belum mencapai KKM masih terdapat 20 siswa, padahal batasan KKM yang diterapkan di SDN 124395adalah 75. Pelaksanaan pembelajaran dengan model seperti ini diperkirakan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan masih rendahnya hasil belajar IPS. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti bersama dengan guru kelas berusaha untuk meningkatkan permasalahan tersebut melalui penerapan model pembelajaran Inkuiri. Sehingga diharapkan melalui model pembelajaran Inkuiri ini hasil belajar IPS siswa dapat meningkat. Pada kegiatan penelitian tahap awal ini, peneliti juga mengadakan tes pra tindakan pada tanggal 20 Agustus 2022 untuk mengetahui data awal hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 124395. Dalam kegiatan pembelajaran ini, siswa hanya mendengarkan guru menjelaskan materi secara singkat kemudian mengerjakan soal uraian. Dari hasil nilai yang didapatkan siswa pada tabel di atas diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai KKM 75 adalah 9 siswa atau 31,03% dari jumlah siswa seluruhnya sedangkan 20 siswa atau 68,97% siswa belum mencapai KKM. Jika dibuat dalam bentuk diagram maka datanya sebagai berikut: Tuntas Belum Tuntas Gambar 2. Diagram Pra Tindakan Pelaksanaan tindakan siklus 1 didasarkan pada hasil dari pra tindakan dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 124395. Pelaksanaan tindakan siklus I ini dilakukan berdasarkanperencanaan yang telah dibuat. Pada tahap ini guru dan peneliti berkolaborasi Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau dimana guru sebagai pengajar sedangkan peneliti sebagai asisten guru serta observer. Namun selain peneliti, ada satu observer juga yang membantu peneliti dalam mengamati pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model Inkuiri ini. Pelaksanaan tindakan siklus I ini dibagi menjadi 2 kalipertemuan dengan pembagian waktu serta penjelasan dari tiap-tiap pertemuan. Pelaksanaan tes pada akhir siklus bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh dari penerapan model Inkuri dalam pembelajaran IPS terkait dengan materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan siswa kelas V SDN 124395. Tes tersebut terdiri dari 10 soal yang mencakup namanama tokoh perjuangan serta usaha para tokoh dalam mempertahankan kemerdekaan. Dari hasil tersebut sebagian siswa masih ada yang menjawab salah. Setelah dikoreksi oleh guru dan peneliti ada satu siswa yang mendapatkan nilai terendah 30 dan nilai tertinggi adalah 95. Adapun hasil tes uraian yang diperoleh siswa kelas V SDN 124395 sebagai berikut: Tabel 2. Nilai Siswa Siklus I Jumlah Siswa Persentase BelumTuntas Belum Tuntas Rata-rata Tuntas KKM Tuntas KKM KKM KKM 55,17% 44,83% 75,72 Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan pada siklus I yang berarti melalui model Inkuiri ini hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 124395 meningkat. Peningkatan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menerapkan model Inkuiri dapat dilihat pada grafik berikut ini: Pra Tindakan Siklus I Gambar 3. Diagram Perbandingan Hasil Nilai Tes Pra Tindakan dan Siklus I Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Hal ini menunjukan bahwa ada peningkatan jumlah siswa yang sudah mencapai KKM sehingga bisa dikatakan bahwa ada peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 124395 setelah menerapkan model Inkuiri. Namun karena masih banyak siswa yang belum mencapai KKM pada siklus I yakni sebanyak 13 siswa tentunya hal ini juga berpengaruh pada hasil terhadap nilai siswa sehingga jumlah siswa yang sudah mencapai KKM belum mencapai target yang diharapkan yaitu 75% dari jumlah siswa maka siklus I dikatakan belum berhasil sehingga perlu diadakan siklus II. Perencanaan siklus II didasarkan pada hasil refleksi siklus I. Pelaksanaan siklus II sama dengan siklus I baik dari segi materi maupun kegaiatan pembelajarannya. Terkait dengan langkahlangkah inkuiri pada siklus II difokuskan pada pemahaman terkait dengan merumuskan hipotesis dan kesimpulan dengan cara guru memberikan instruksi yang lebih jelas terkait dengan cara merumuskan hipotesis dankesimpulan serta memberikan contohnya agar siswa lebih paham. Pelaksanaan tindakan siklus II ini merupakan lanjutan dari siklus 1 dengan mengulang kembali materi yang diberikan pada siklus I. Pembelajaran pada siklus II ini diawali dengan memeritahukan kepada siswa bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan masih sama pada pembelajaran pada siklus I yaitu melalui penerapan model inkuiri hanya saja lebih ditekankan pada penjelasan tiap tahap-tahap inkuiri lebih jelas jelas terutama pada tahapan merumuskan hipotesis dan merumuskan kesimpulan sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan LKS berdasarkan tahapan-tahapan inkuiri serta bimbingan guru dalam menyelesaikan tahapan-tahapan tersebut sangat diperlukan sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Kemudian dalam mengumpulkan data atau mencari informasi, sumber yang digunakan harus lebih luas seperti membawa atau mengarahkan siswa untuk mencari informasi di perpustkaan. Pelaksanaan tes siklus II ini dilaksanakan diakhir pertemuan kedua bertujuan untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran dan hasil belajar IPS siswa kelas V dapat meningkat melalui penerapan model Inkuiri. Soal tes yang digunakan untuk siklus II ini masih dengan soal tes yang digunakan pada Pra tindakan dan Siklus I karena masih banyak soal yang belum dapat dijawab dengan baik oleh siswa. Selain itu juga pertimbangan lainya dari guru dan peneliti adalah semakin sering dipelajari maka siswa semakin memahami dan harapannya nilai yang diperoleh siswa untuk Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau soal yang sama dapat lebih baik dari hasil tes sebelumnya pada pra tindakan dan siklus I. Adapun hasil dari tes siklus II ini adalah sebagai berikut : Tabel 3. Nilai Siswa Siklus I Jumlah Siswa Persentase BelumTuntas Belum Tuntas Rata-rata Tuntas KKM Tuntas KKM KKM KKM 82,76% 17,24% 84,83 Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa siswa yang sudah mencapai KKM Ou75 sebanyak 24 siswa atau 82,76% dari jumlah siswa sedangkan yang belum mencapai KKM ada 5 siswa atau 17,24% dari jumlah siswa. sehingga bisa dikatakan bahwa ada peningkatan proses pembelajaran dan hasil belajar IPS siswa kelas V di siklus II. Adapun peningkatan peresentase ketuntasan siswa berdasarkan perbandingan jumlah siswa yang sudah mencapai KKM saat Pra tindakan. Siklus I dan Siklus II dapat dilihat pada bagan berikut ini : Tuntas Pra tindakan Siklus I Siklus II Gambar 0 3 Diagram Perbandingan Hasil Nilai Tes Siswa saat Pra Tindakan. Siklus I dan Siklus II Dari hasil penelitian yang dilakukan pada siklus I penerapan model inkuiri belum dilaksanakan secara maksimal atau optimal. Hal tersebut terlihat pada proses pembelajaran siswa kurang memahami tahap merumuskan hipotesis dan merumuskan kesimpulan hal ini terjadi karena kurangnya bimbingan dan penjelsan atau instruksi mengenai tahapan tersebut serta dalam mengumpulkan data atau informasi sumber yang dibutuhkan hanya berpatokan pada buku pegangan siswa saja sehingga hal ini juga dapat mempengaruhi persentase hasil belajar IPS siswa kelas V Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau SDN 124395 yang belum mencapai KKM 75. Bersarkan temuan-temuan tersebut dari hasil refleksi siklus I maka penelitian ini dilanjutkan ke siklus II. Pada siklus II, penelitian yang dilakukan masih terkait penerapan model inkuiri pada mata pelajaran IPS dengan materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan tokoh-toh nasional. Adapun hasil penelitian pada siklus II menunjukan bahwa dalam proses dan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 124395 dapat meningkat dari siklus I dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Hal ini sesuai dengan yang direncanakan dan berdampak positif meningkatkan hasil belajar siswa dimana pada pra tindakan jumlah siswa yang sudah tuntas hanya 9 orang atau sebesar 31,03%, pada siklus I jumlah siswa yang tuntas meningkat menjadi 16 orang atau sebesar 55,17% dan pada siklus II jumlah siswa yang sudah mencapai KKM juga meningkat menjadi 24 orang atau sebesar 82,75%. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan karena model inkuiri merupakan salah satu model yang memiliki kelebihan dimana siswa diberi ruang kepada peserta didk untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Siswa lebih mudah memahami materi-materi pelajaran yang sulit dengan cara mencari atau menemukan sendiri terhadap permasalahan yangdikaji. CONCLUSION Penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan proses dan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 124395. Hal ini dikarenakan rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam model Inkuiri membuat siswa lebih aktif dan lebih meenyenangkan. Dalam penerapan model inkuiri ini dilakukan secara bertahap mulai dari Orientasi dimana pada tahap ini siswa memperhatikan penjelasan guru terkait topik dan tujuan pembelajaran serta tahapan-tahapan inkuiri, merumuskan masalah dimana siswa dengan biimbingan guru dapat merumuskan pertanyaan dengan baik, merumuskan hipotesis setelah adanya perbaikan pada siklus II siswa sudah bisa merumuskan hipotesis dengan benar, mengumpulkan data atau informasi pada tahap ini juga siswa diarahkan untuk mencari informasi di perpustakaan hal ini dilakukan agar referensi siswa lebih luas dan siswa tidak bosan, menguji hipotesis dan terakhir merumuskan kesimpulan dimana siswa sudah bisa membuat kesimpulan dari permasalahan yang dibahas. Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 16 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Peningkatan proses pembelajaran dapat terlihat dari antusias siswa dalam belajar yang pada awalnya siswa merasa bosan dan tidak menyenangkan serta membuat siswa kurang aktif menjadi aktif setelah guru menerapkan model Inkuiri dimana siswa akan belajar secara aktif dan guru hanya sebagai fasilitator dan terlihat pada siklus II proses pembelajaran meningkat dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus I yaitu siswa dengan instruksi atau bimbingan guru sudah bias merumuskan hipotesis dan merumuskan kesimpulan dan juga karena pengumpulan data atau informasi yang dibutuhkan sudah diperoleh dari sumber yang mendukung yaitu dengan mencari informasi dari buku-buku terkait materi yang dibahas yang terdapat di perpustakaan. Pada tahap awal hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPS tergolong rendah pada Pra tindakan yaitu 31,03 %, pada siklus I setelah penerapan model inkuiri hasil belajar siswa meningkat menjadi 55,17% dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 82,76% dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas V SDN 124395 meningkat melalui penerepan model inkuiri. REFERENCES