Jurnal Keperawatan Majampangi, 1 . Desember 2024, pp. ISSN x-x (Onlin. ISSN x-x (Prin. doi: DOI HERE STIMULASI TERAPI OKUPASI MENGGUNTING PADA PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK AUTIS Herlindawati nC. Supratti . Syamsidar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Mamuju. Indonesia ARTICLE INFO Article history Submitted : 2024-10-31 Revised : 2024-12-21 Accepted : 2024-12-22 Keywords: Nursing Care. Occupational Therapy. Cutting. Autistic Children. Fine Motor Kata Kunci: Intervensi Keperawatan. Terapi Okupasi. Menggunting. Anak Autis. Motorik Halus This is an open access article under the CC BY-SA nC Corresponding Author: Herlindawati Telp. Email: wherlinda053@gmail. ABSTRACT Delays in the development of fine motor skills in autistic children make it difficult for children to cut, write, wear clothes or other important activities that require eye and finger coordination. Scissor occupational therapy for autistic children can help strengthen and improve muscle skills and eye coordination. To improve the fine motor skills of autistic children through scissor occupational therapy at SLBN Pembina. West Sulawesi Province. Mamuju. Research design using descriptive case studies, 5 autistic respondents according to the diagnosis The selected doctor was assisted by the school to carry out scissor occupational therapy, over 12 meetings. Based on the research conducted, it was found that the results of cutting patterns before the intervention were 3 respondents in the BB category (Not yet Develope. and 2 respondents in the BSH category (Developing According to Expectation. , during the intervention 2 respondents increased from BSH to BSB (Very Well Develope. , 2 respondents others increased from the MB (Starting to Develo. to BSH (Developing According to Expectation. category, continued to increase to BSB (Developing Very Wel. and 1 respondent increased from MB (Starting to Develo. to BSH (Developing According to Expectation. After the intervention, 4 respondents were in the BSB category, 1 respondent was in the BSH category. The results of the research show that there has been an increase in the development of fine motor skills in cutting flat patterns in the five respondents. The results of this research can be used as a reference in the world of education and health, especially the fine motor skills of autistic ABSTRAK Keterlambatan perkembangan motorik halus anak autis, membuat anak sulit menggunting, menulis, memakai pakaian atau kegiatan penting lainnya yang membutuhkan koordinasi mata dan jari-jemari. Terapi okupasi menggunting untuk anak autis dapat membantu menguatkan, memperbaiki keterampilan otot serta koordinasi mata. Untuk meneningkatkan motorik halus anak autis melalui terapi okupasi menggunting di SLBN Pembina Provinsi Sulawesi Barat Mamuju. Desain penelitian menggunakan deskriptif studi kasus, 5 responden autis sesuai dengan diagnosis dokter yang telah dipilih dibantu oleh pihak sekolah untuk dilakukan terapi okupasi menggunting, selama 12 kali pertemuan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil menggunting pola sebelum intervensi 3 responden dalam kategori BB (Belum Berkemban. dan 2 responden kategori BSH (Bekembang Sesuai Harapa. , selama intervensi 2 responden meningkat dari BSH ke BSB (Berkembang Sangat Bai. , 2 responden lainnya meningkat dari kategori MB (Mulai Berkemban. ke BSH (Berkembang Sesuai Harapa. , terus meningkat ke BSB (Berkembang Sangat Bai. dan 1 responden meningkat dari MB (Mulai Berkemban. ke BSH (Berkembang Sesuai Harapa. setelah intervensi 4 responden dalam kategori BSB 1 responden kategori BSH. Dari hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan perkembangan motorik halus menggunting pola bangun datar pada ke lima responden Hasil penelitian ini dapat sebagai acuan dalam dunia pendidikan dan kesehatan, khususnya kemampuan motorik halus anak Autis. Volume 1. Nomor 1. Desember 2024 Stimulasi Terapi Okupasi Menggunting pada Perkembangan . PENDAHULUAN Memiliki anak sempurna yang sehat adalah harapan setiap orang tua karena anak dapat menjadi salah satu alasan hubungan keluarga yang bahagia dan harmonis (Iskandar, 2. Kehadirannya anak yang diharapkan, ditungu dan disambut penuh kebahagian. Semua orang tua menginginkan anak yang sehat, membanggakan, dan sempurna, namun terkadang kenyataan tidak sesuai dengan keinginan, sebagian orang tua mendapatkan anak yang diinginkan dan sebagian lagi tidak. Beberapa antaranya memiliki anak berkebutuhan khusus, seperti anak dengan autis (Hasnita & Hidayati, 2. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang sangat berbeda dari anak lainya, secara fisik, psikis, kognitif dan sosial. Keberadaan anak berkebutuhan khusus di Indonesia tidak dapat diabaikan mengingat jumlah mereka yang bertambah beberapa tahun terakhir. seperti anak autis yang mengalami peningkatan setiap tahunya (Lara, 2. Autis atau autism spectum disorder (ASD) merupakan gangguan pada sistem saraf . yang unik karena diagnosisnya hanya dapat dilakukan oleh seseorang Kelainan ini sering didiagnosis pada umur 18 sampai 30 bulan, dokter dan orang tua baru menyadari setelah ada keterlambatan bicara dan disertai gangguan perilaku, interaksi sosial (Iskandar,2. Autis merupakan penyakit yang mengganggu perkembangan khusus secara menyeluruh terjadi pada masa kanak-kanak yang membuat seseorang seolah mereka hidup dalam dunianya sendiri dan belum ada obat yang dapat memperbaiki struktur otak atau saraf yang mendasari autis (Rahayu, 2. Pada tumbuh kembang anak autis di antaranya memerlukan perhatian salah satunya adalah gangguan pada motorik halus yang merupakan bagian dari perkembangan motorik yang meliputi perkembangan koordinasi mata, tangan atau jari-jemari. Keterampilan motorik anak autis sangat berbeda dengan anak pada umumnya, dapat dilihat dari perkembangan motoriknya yang lebih lambat dan hampir semua anak autis mempunyai perkembangan motorik halus yang kurang baik, gerak geriknya kasar, sulit menggunting, menulis, dan kurang luwes dibandingkan dengan anak-anak yang seumurannya (Faz. Menurut Sofyan, 2018. Pura dan Asnawati, 2019, ketika anak semakin dewasa, maka kegiatan yang membutuhkan kemampuan motorik halus akan semakin kompleks seperti memakai pakaian, mengikat tali sepatu serta kegiatan penting lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Gangguan tersebut dapat memberikan dampak bagi penyandang, keluarga, linkungan, serta negara (Alfinna et al. , 2. Meskipun begitu mereka Masihh memiliki potensi untuk dilatih untuk menolong dan mengurus diri dan beberapa pekerjaan yang memerlukan latihan secara mekanis (Serlina et al. , 2. Masalah anak autis dalam 10 tahun terakhir ini, meningkat pesat di seluruh dunia. UNESCO menyatakan, terdapat 35 juta, penyandang autis dengan rata- rata 6 dari 1000 orang mengalami autis. Menurut pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat. Pada tahun 2012 cukup memprihatinkan karena terjadi peningkatan dengan jumlah rasio 1:88 anak. Di Asia, penelitian Hongkong Study melaporkan tingkat kejadian dengan anak autisme dengan prevalensi 1,68 per 1. anak di bawah 15 tahun (Hasnita & Hidayati, 2. Berdasarkan data Badan Penelitian Statistik (BPS) terdapat 140 ribu anak di bawah usia 17 tahun menyandang autis (Serpong & Tangerang, 2. Menurut data (WHO, 2. World Health Organization memprediksi 1 dari 60 anak di dunia menderita gangguan autis, sedangkan jumlah penderita gangguan autis di Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan 500 orang setiap tahunnya. Periode tahun 2020-2021 dilaporkan sebanyak 530 kasus gangguan perkembangan pada anak termasuk gangguan autis yang mendapatkan layanan Data dari Kementerian Kesehatan melaporkan penderita anak autis di Indonesia mengalami peningkatan drastis mencapai 2,4 juta diperkirakan jumlah penderita mengalami peningkatan 500 orang setiap tahun (Kemenkes, 2. Sedangkan di Provinsi Sulawesi Barat menunjukkan anak berkebutuhan khusus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2024 dengan jumlah 593 jiwa (Prov sulbar, 2. Berdasarkan data tahun 2023 di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Provinsi Sulawesi Barat tercatat Masih ditemukan adanya jumlah kasus penyandang autis pada 1 tahun terakhir sebanyak 5 kasus dan belum pernah dilakukan terapi okupasi menggunting untuk peningkatan motorik halus anak Saat dilakukan obervasi, sebagian besar anak autis mengalami keterlambatan perkembangan motorik khususnya motorik halus yang dinilai melalui kemampuan anak dalam menggunting beberapa Karena menurut (Iriani, 2. Kegiatan menggunting pada hakikatnya merupakan aktivitas untuk mengembangkan motorik halus pada diri individu karena adanya usaha individu melakukan latihan secara rutin. http://jurnal. id/index. Volume 1. Nomor 1. Desember 2024 Stimulasi Terapi Okupasi Menggunting pada Perkembangan . Salah satu penatalaksanaan anak autis secara non farmakologi adalah terapi okupasi. Terapi okupasi adalah terapi pada anak atau dewasa dengan penyandang autis untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan ototnya. Otot jari tangan sangat penting dilatih dan dikuatkan agar anak bisa menggunting dan melakukan semua hal keseharian yang membutuhkan keterampilan otot jari-jari tangan, seperti menulis, menunjuk, memegang, mengepal, memetik gitar, main piano, dan lain sebagainya (Fernando, 2. Menggunting kertas berpola merupakan salah satu terapi okupasi. Hal ini senada dengan yang diungkapkan menurut hasil penelitian Raharjo, terapi okupasi mengunting kertas berpola dilakukan dapat meningkatkan motorik halus pada anak autis karena dapat melatih perkembangan otot-otot kecil dan koordinasi mata dengan anggota tubuh lain sehingga terapi ini dapat membantu perkembangan saraf motorik halus (Mahdalena et al. , 2. Hasil penelitian Riza Mahdalena . , menunjukkan terapi okupasi menggunting dapat meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak autis (Faz, 2. Motorik halus adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan otot-otot kecil yang ada di dalam tangan. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih menggunakan otot-otot halus dengan benar (Hasnita & Hidayati, 2. Keterampilan menggunting memiliki pengaruh untuk meningkatkan motorik halus anak autis, hal ini sesuai dengan pendapat sujiono dkk . yaitu semakin baiknya gerakan motorik halus anak dapat membuat anak bisa menulis, mengunting kertas dengan bermacam- macam pola, berkreasi. Kegiatan ini sangat sesuai dengan karakteristik anak autis serta dapat memberikan pengalaman belajar yang baru bagi anak. Dalam penelitian Pramita dan Christian . , menggunting adalah kegiatan memotong atau memangkas dengan memakai alat gunting serta menggunting merupakan terapi yang dapat melatih anak agar dapat memanfaatkan alat dan melatih keterampilan dalam memotong objek gambar atau pola. Gerakan dari menggunting yang paling sederhana akan terus diikuti sampai dengan guntingan yang semakin kompleks ketika motorik halus anak semakin meningkat (Mahdalena et al. Terapi menggunting kertas berpola dilakukan sebanyak 2 kali seminggu selama 2 minggu dapat meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak autis ringan (Krysanti, 2. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran yang nyata tentang penerapan terapi untuk meningkatkan motorik halus anak autis melalui terapi okupasi menggunting di SLBN Pembina Provinsi Sulawesi Barat Mamuju . METODE Jenis Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif studi kasus, yaitu penulis akan menggambarkan bagaimana penerapan terapi okupasi menggunting. Subyek studi kasus dalam penelitian ini adalah anak yang berkebutuhan khusus . sebanyak 5 responden yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Provinsi Sulawesi Barat Mamuju adapun pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini, terdiri atas 3 tahap yaitu: Anamnesis. Observasi dan Evaluasi. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Provinsi Sulawesi Barat Mamuju. Waktu penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei Ae Juni 2024. Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah anak yang berkebutuhan khusus . sebanyak 5 responden yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Provinsi Sulawesi Barat Mamuju dengan kriteria sampel orang tua responden bersedia menjadi responden, autis kategori ringan, responden umur 7 Ae 12 tahun, responden dengan tingkat kesadaran composmentis. Pengumpulan Data Pengumpulan data studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lembar observasi pre test dan post test yang berisi komponen penilaian 8 pola gambar bangun datar: gambar persegi panjang, segi tiga, lingkaran, bela ketupat, layang-layang, persegi, trapesium, jajar genjar (Karmila, 2. , (Ulfatussaliha, 2. http://jurnal. id/index. Volume 1. Nomor 1. Desember 2024 Stimulasi Terapi Okupasi Menggunting pada Perkembangan . Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data pada studi kasus menggunakan teknik non-statistik, yaitu analisis kualitatif yang dapat dilakukan dengan cara naratif induktif, yaitu pengambilan kesimpulan umum berdasarkan hasilhasil observasi dan wawancara khusus. (Pahleviannur et al. , 2. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil observasi kontak mata kelima responden sangat kurang saat diajak untuk bicara. kontak mata kelima responden sangat mudah teralihkan dengan objek tidak tertentu. Gerakan kelima responden saat memegang gunting responden masih sangat kaku. Tabel 1. Karakteristik Responden Nama Responden Umur 11 Tahun 11 Tahun 10 Tahun 7 Tahun 7 Tahun Kelas Jenis Kelamin Perempuan Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Laki-Laki Kekhusuan Agama Autis ringan Autis ringan Autis ringan Autis ringan Autis ringan Islam Kristen Islam Islam Islam Sumber : Data Primer Tabel diatas menunjukkan karakteristik masing-masing responden pada ke 5 responden berkebutuhan khusus autis ringan sesuai dengan diagnosis yang telah didiagnosisi oleh dokter dan telah dipilih oleh pihak sekolah, berdasarkan umur, kelompok reponden yang paling muda yaitu berumur 7 tahun sebanyak 2 responden dan yang paling tua berumur 11 tahun sebanyak 2 responden. Berdasarkan jenis kelamin, 2 orang responden memiliki jenis kelamin perempuan dan 3 orang responden memiliki jenis kelamin laki-laki. Berdasarkan agama, 4 orang responden beragama Islam dan 1 responden beragama Kristen. Kelima responden berkebutuhan khusus autis ringan, berdasarkan kelas, 3 responden kelas empat dan 2 responden kelas 1. Penelitian ini melakukan intervensi terapi okupasi menggunting yang menggunakan beberapa alat seperti gunting khusus anak dan kertas berpola bangun datar. Pada kelima responden yang mengalami gangguan motorik halus yang sangat kurang terutama dalam melakukan aktivitas kreatifitas Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahap, yaitu pre test sebelum intervensi dilakukan, selama intervensi 12 kali pertemuan dan Post test setelah intervensi. Sebelum intervensi terapi okupasi menggunting dilakuan pre test dengan 8 pola gambar, hari ke 1 sampai 3 menggunting gambar persegi panjang, lingkaran dan segi tiga, pada hari ke 4 sampai ke 6 menggunting gambar segi empat dan Pada hari ke 7 sampai ke 9 menggunting trapesium, lingkaran dan jajar genjar. hari ke 10 sampai 12 menggunting layang-layang, lingkaran dan bela ketupat. Menggunting yang awalnya garis lurus, lingkaran, menggunting sesuai pola dari tingkat kesulitan yang bertahap dari mudah ke sulit (Widayati et al. , 2. Berdasarkan Tabel 2 dari pengamatan menunjukkan hasil dari lembar observasi perkembangan motorik halus sebelum pemberian intervensi terapi okupasi menggunting 2 responden dalam kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) yaitu responden 1 dan 2 sedangkan 3 responden dalam kategori Belum Berkembang (BB) yaitu responden 3, 4 dan 5. Selama dilakukan intervensi terapi okupasi menggunting pada responden pada tahap ini terjadi peningkatan dalam motorik halus menggunting dalam kategori (BSH) ke Berkembang Sangat Baik (BSB) pada responden 1 dan 2 mengalami peningkatan pada hari ke 6, responden 3 mengalami peningkatan dari (BB) ke Mulai Berkembang (MB) pada hari ke 6, responden 4 dan 5 mengalami peningkatan dari kategori (BB) ke Mulai Berkembang (MB) pada hari ke 4. Setelah intervensi terapi okupasi menggunting diberikan, kemampuan menggunting terus meningkat dari kategori MB. BSH ke BSB (Berkembang sangat bai. pada responden 1, 2, 4 dan 5 sedangkan responden 3 dalam kategori (BSH) Berkembang Sesuai Harapan. http://jurnal. id/index. Volume 1. Nomor 1. Desember 2024 Stimulasi Terapi Okupasi Menggunting pada Perkembangan . Tabel 2. Lembar Observasi Perkembangan Motorik Halus Nama Sebelum Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7 Hari 8 Hari 9 Hari 10 Hari 11 Observasi Perkembangan Motorik halus Menggunting Pola Bangun Datar BSH BSH BSH BSH BSH BSH BSH BSH BSH BSH BSH BSH BSH BSB BSB BSH BSB BSB BSH BSB BSB BSB BSB BSH BSB BSB BSB BSB BSH BSB BSB BSB BSB BSH BSB BSB BSB BSB BSH BSB BSB Hari 12 Sesudah BSB BSB BSB BSB BSH BSH BSB BSB BSB BSB Sumber: Data Primer Keterangan: BB (Belum Berkemban. MB (Mulai Berkemban. BSH (Berkembang Sesuai Harapa. BSB (Berkembang Sangat Bai. PEMBAHASAN Motorik halus merupakan gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil, seperti keterampilan menggunakan jari jemari tangan dan gerakan pergelangan tangan yang tepat oleh karena itu, gerakan ini tidak perlu membutuhkan tenaga, namun gerakan ini membutuhkan kecepatan serta koordinasi mata dan tangan yang cermat (Siahaan & Maemunah, 2. Berdasarkan pengamatan dari hasil lembar observasi sebelum intervensi diperoleh hasil responden 1 menunjukkan perkembangan motorik halus menggunting dalam kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dilihat dari cara menggunting pola garis lurus dan lingkaran responden menggunting sendiri sesuai pola namun belum rapi. Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari et al. , . mengatakan keterampilan motorik halus yang tertunda dikarenakan beberapa alasan yang berbeda antara lain yaitu kurangnya motivasi untuk berpartisipasi dalam jenis kegiatan, keterbatasan kekuatan tangan, keterlambatan kognitif, dan kesulitan pemecahan masalah (Puspitasari et al. , 2. Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rahayu, . mengatakan bahwa penyebab autis sangat kompleks, yang telah diketahui sekarang adalah adanya gangguan pada fungsi syaraf pusat sehingga menyebabkan keterlambatan atau berbagai masalah pada anak (Rahayu, 2. Selama intervensi responden diberikan berbagai macam pola pada tahap ini terjadi peningkatan responden 1 pada hari ke 6 kemampuan motorik halus menggunting dari (BSH) ke Berkembang Sangat Baik (BSB). Hal ini disebabkan responden sangat antusias serta fokus pada saat melakukan kegiatan menggunting dilihat dari cara menggunting pola garis lurus dan lingkaran responden menggunting sendiri sesuai pola tanpa bantuan selama menggunting responden sudah mampu untuk memegang dan mengarahkan arah guntingan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Karmila, 2. mengatakan peningkatan dapat terjadi karena anak sangat antusias melakukan kegiatan menggunting berbagai macam bentuk pola seperti garis lurus, lengkungan dapat menarik minta anak yang awalnya hanya menggunting lurus, kemudian menggunting dengan asal-asalan tidak sesuai pola anak http://jurnal. id/index. Volume 1. Nomor 1. Desember 2024 Stimulasi Terapi Okupasi Menggunting pada Perkembangan . menggunakan jari-jari tangannya dengan hati-hati sehingga menghasilkan guntingan yang sesuai (Karmila, 2. Setelah intervensi terapi okupasi responden 1 telah mengalami peningkatan kategori Berkembang sangat Baik (BSB) ditandai dengan responden menggunting garis lurus, lingkaran tanpa bantuan sesuai pola dan rapi. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Faz, . yang mengungkapkan bahwa sesudah diberikan Terapi Okupasi dari 8 responden, sesudah diberikan terapi okupasi motorik halus pada anak autis yang kurang baik sebanyak 4 responden . ,0%), dan motorik halus pada anak autis yang baik sebanyak 4 responden . ,0%) (Faz, 2. Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh. Mahdalena et al. , . yang mengatakan bahwa adanya peningkatan dikarenakan saat menggunting merupakan kegiatan memotong berbagai macam kertas atau bahan lain melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan diawali dengan adanya perkembangan otot-otot kecil seperti penggunaan jari-jemari, koordinasi mata anak yang melatih gerak halus tangan dan integrasi dari gerakan dasar sehingga menggunting dapat meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak autis (Mahdalena et al. , 2. Berdasarkan pengamatan dari hasil lembar observasi sebelum intervensi diperoleh hasil responden 2 menunjukkan perkembangan motorik halus menggunting dalam kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dilihat dari cara menggunting pola garis lurus dan lingkaran responden menggunting sendiri sesuai pola namun belum rapi hal ini di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu responden sangat suka bermain gunting selama melakukan kegiatan menggunting anak lebih fokus serta dapat mengarahkan guntingan dengan baik. Selama interventi responden diberikan berbagai macaman pola pada tahap ini terjadi peningkatan kemampuan motorik halus pada responden 2 pada hari ke 6 dari kategori (BSH) ke Berkembang Sangat Baik (BSB) ditandai dengan responden menggunting garis lurus, lingkaran tanpa bantuan sesuai pola dan rapi hal ini dikarenakan responden fokus ketika melakukan intervensi. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari et al. , . mengatakan menggunting adalah sebagai alat untuk melatih motorik halus, meningkatkan koordinasi jari-jemari, koordinasi mata dan untuk mengembangkan kreativitas sedangkan kesabaran anak akan terlatih ketika anak berusaha untuk menyelesikan hasil guntingannya dengan tekun (Lestari et al. , 2. Setelah intervensi terapi okupasi menggunting pada responden 2 adanya peningkatan kategori Berkembang sangat Baik (BSB) ditandai dengan responden menggunting garis lurus, lingkaran tanpa bantuan sesuai pola dan rapi. Hal ini disebabkan responden suka bermain gunting serta fokus pada saat melakukan kegiatan menggunting dilihat dari cara menggunting pola garis lurus dan lingkaran responden menggunting sendiri sesuai pola tanpa bantuan selama menggunting responden mampu untuk memegang dan mengarahkan arah guntingan. Berdasarkan pengamatan dari hasil dari lembar observasi sebelum intervensi diperoleh hasil responden 3 menunjukkan perkembangan motorik halus masih sangat kurang dalam kategori (BB) Belum Berkemabang ditandai responden menggunting pola garis lurus tanpa bantuan namun garis lingkaran belum hal ini dipengaruh karena anak kurang fokus saat melakukan kegiatan menggunting. Hal ini juga disebutkan pada penelitian yang dilakukan oleh Mahdalena et al. , . mengatakan bahwa anak mengalami kesulitan dalam pengembangan motorik halus, yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor lingkungan, kematangan, kesempatan, belajar dan berlatih. Faktor penyebab yang lain yaitu lemahnya koordinasi mata dengan otot-otot tangan (Mahdalena et al. , 2. Selama intervensi terapi okupasi menggunting berbagai macam pola kemampuan motorik halus menggunting pada responden 3 telah mengalami peningkatan pada hari ke 6 dari kategori (BB) ke Berkembang sesuai Harapan (BSH) ditandai responden menggunting pola tanpa bantuan sesuai garis lurus dan garis lingkaran namun belum rapi. Hal ini dipengaruh karena anak kurang fokus saat melakukan kegiatan menggunting serta masih kaku saat mengarahkan arah guntingan dan kurang tertarik ketika diberikan instruksi oleh peneliti. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adiningsih & Syafrina, . mengatakan bahwa motorik halus merupakan gerakangerakan tubuh yang dimotori dengan kerjasama antar otot, otak dan saraf. Ciri-ciri gerakan motorik halus ialah dilakukan dengan tidak sengaja, tidak ditujukan untuk maksud-maksud tertentu (Adiningsih & Syafrina, 2. Setelah intervensi kemampuan motorik halus responden 3 mengalami peningkatan dalam kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) ditandai dengan responden menggunting sesuai garis lurus dan http://jurnal. id/index. Volume 1. Nomor 1. Desember 2024 Stimulasi Terapi Okupasi Menggunting pada Perkembangan . lingkaran tanpa bantuan namun belum rapi. Menurut asumsi peneliti ini disebabkan karena saat melakukan terapi okupasi menggunting pola responden nampak kurang tertarik untuk mengikuti instruksi yang diberikan peneliti. Penelitian ini sejelan dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari et al. , . mengatakan keterampilan motorik halus yang tertunda dikarenakan beberapa alasan yang berbeda antara lain yaitu kurangnya motivasi untuk berpartisipasi dalam jenis kegiatan, keterbatasan kekuatan tangan, keterlambatan kognitif, dan kesulitan pemecahan masalah (Puspitasari et , 2. Berdasarkan pengamatan dari hasil lembar observasi sebelum intervensi diperoleh hasil responden 4 menunjukkan perkembangan motorik halus masih sangat kurang dalam kategori (BB) Belum Berkemabang ditandai responden menggunting pola garis lurus tanpa bantuan namun garis lingkaran belum hal ini dipengaruh karena anak kurang fokus serta kaku saat mengarahkan arah guntingan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nafisa & Widayati, . hasil observasi yang dilakukan peneliti selama tiga hari mengatakan ketika menggunting banyak anak yang mengeluh karena merasa kesulitan menggerakkan gunting serta meminta bantuan kepada guru kelasnya. Anak-anak cenderung kaku dalam memegang gunting sehingga hasil yang didapat saat menggunting kurang maksimal (Nafisa & Widayati, 2. Selama intervensi terapi okupasi menggunting berbagai macam pola kemampuan motorik halus menggunting pada responden 4 telah mengalami peningkatan pada hari ke 4 dari kategori (BB) ke Berkembang sangat Baik (BSB) ditandai responden menggunting tanpa bantuan sesuai garis lurus dan lingkaran sesuai pola dan rapi hal ini dipengaruhi karena anak fokus saat melakukan kegiatan menggunting serta dapat mengarahkan arah guntingan dengnan baik. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nafisa & Widayati, . dalam penelitiannya bahwa terapi okupasi menggunting selain untuk meningktakan motorik juga mampu mengkoordinasikan gerak mata dengan tangan untuk melakukan hal yang rumit dan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk serta meningkatkan konsentrasi, kepercayaan diri, lancar dalam menulis dan ungkapan ekspresi (Nafisa & Widayati, 2. Setelah intervensi adanya peningkatan perkembangan motorik halus menggunting pada responden 4 dalam kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) ditandai dengan responden menggunting sesuai garis lurus dan lingkaran tanpa bantuan dan rapi. Menurut asumsi peneliti hal ini disebabkan karena anak fokus saat melakukan kegiatan menggunting serta dapat mengarahkan arah guntingan dengnan baik. Berdasarkan pengamatan dari hasil lembar observasi sebelum intervensi diperoleh hasil responden 5 menunjukkan perkembangan motorik halus masih sangat kurang dalam kategori (BB) Belum Berkemabang ditandai responden menggunting pola garis lurus tanpa bantuan namun garis lengkung belum keterlambatan ini dibpengaruhi beberapa faktor yaitu anak masih kurang fokus serta memiliki gerakan tangan yang masih sangat kaku. Selama intervensi terapi okupasi menggunting berbagai macam pola kemampuan motorik halus menggunting pada responden 5 telah mengalami peningkatan pada hari ke 4 dari kategori (BB) ke Berkembang sangat Baik (BSB) ditandai responden menggunting tanpa bantuan sesuai garis lurus dan lingkaran sesuai pola dan rapi hal ini dipengaruhi karena anak sudah mulai fokus saat melakukan kegiatan menggunting serta dapat mengarahkan arah guntingan dengnan baik. Setelah intervensi pada responden 5 terus mengalami peningkatan dalam kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) ditandai dengan responden menggunting sesuai garis lurus dan lingkaran tanpa bantuan dan rapi. Menurut asumsi peneliti saat melakukan terapi okupasi menggunting pola responden nampak fokus dan pergerakan tangan responden saat megarakan arah gunting sudah tepat terlihat ketika Pelaksanaan penelitian ini menemukan ada 1 orang responden mengalami keterlambatan perkembangan motorik halus Belum Berkembang yaitu responden 3 dari Belum Berkembang (BB) menjadi Mulai Berkembang (MB) di hari 6. Menurut asumsi peneliti hal ini disebabkan karenakan selama melakukan terapi okupasi menggunting pola responden nampak kurang tertarik untuk mengikuti instruksi yang diberikan peneliti serta kurang fokus saat dilakukan intervensi responden memiliki gerakan tangan yang sangat kaku ketika dibimbing untuk menggunting, terus mengucapkan kata-kata yang sama, responden juga memiliki perilaku berulang yang mengganggu keberfungsian terapi yang http://jurnal. id/index. Volume 1. Nomor 1. Desember 2024 Stimulasi Terapi Okupasi Menggunting pada Perkembangan . Dari hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasnita & Hidayati, . mengatakan berdasarkan pengamatan dari 6 responden terdapat 3 responden yang tidak mengalami peningkatan kemampuan motorik halus walaupun telah diberikan intervensi selama 4 kali selama 2 minggu, responden tidak tertarik untuk mengikuti instruksi yang diberikan oleh peneliti maupun guru yang mendampingi, responden mempunyai perilaku berulang terbatas yang mengganggu keberfungsian suatu tindakan, perlu dilakukan intervensi lebih dari 2 minggu dan secara rutin untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak (Hasnita & Hidayati, 2. Hasil penelitian yang dilakukan kepada kelima responden dari tanggal 27 Mei - 14 Juli 2024 diperoleh hasil adanya peningkatan motorik halus pada responden seperti koordinasi tangan untuk menggunting dengan kategori (BSB) dan (BSH). Hasil yang diperoleh sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahdalena et al. , . dikarenakan saat menggunting, jari jemari anak akan bergerak sesuai bentuk pola yang akan digunting seperti melengkung, garis lurus dan berbagai bentuk pola lainnya akan semakin kuat jika sering dilakukan dari guntingan sederhana sampai yang kompleks. Menggunting memotong berbagai jenis kertas atau bahan lain dengan mengikuti alur, garis atau bentuk tertentu yang merupakan kegiatan untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak serta koordinasi mata dan tangan dapat berkembang dengan adanya kegiatan menggunting (Mahdalena et al. Dari hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan motorik halus respoden namun adanya perbedaan peningkatan pada motorik halus masing-masing responden berdasarkan umur ada 2 orang responden berumur 7 tahun dan 3 responden berumur 10 tahun 2 orang lainnya mengalami peningkatan yang cepat dan ada yang lambat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari et al. , . sebelumnya mengatakan bahwa usia tidak berpengaruh terhadap peningkatan motorik halus pada anak autis dengan usia yang lebih tua tidak menjadi acuan bahwa kemampuan motorik halusnya lebih baik dari anak yang lebih mudah (Puspitasari et al. , 2. Pelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Padhila et al. , . yang mengemukakan bahwa ditemukan jenis kelamin terhadap peningkatan motorik halus pada anak autis tidak dapat mempengaruhi peningkatan motorik halus pada anak autis, berdasarkan kelas anak autis tidak ada hubungan dengan peningkatan motorik halus (Padhila et al. , 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Raharjo, . mengemukakan bahwa anak yang duduk di kelas 1 dan memiliki kemampuan motorik halus lebih baik dibandingkan anak di kelas dua dan tiga (Raharjo, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Masfufah janah . kepada 12 responden anak autis dengan terapi okupasi mengunting menunjukkan adanya peningkatan efektif untuk meningkatkan keterampilan motorik halus lebih baik (Masfufah janah 2. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian Stimulasi terapi okupasi menggunting pada perkembangan motorik halus anak autis Di SLBN Pembina Provinsi Sulawesi Barat Mamuju kepada ke 5 responden selama 12 hari peneliti menyimpulkan adanya peningkatan perkembangan motorik halus kemudian hasil penelitian ini dapat sebagai acuan dalam dunia pendidikan dan kesehatan, khususnya kemampuan motorik halus anak dalam kegiatan menggunting. DAFTAR PUSTAKA