Efektivitas Konseling Logoterapi Dalam Meningkatkan Resiliensi Remaja Broken Home EFEKTIVITAS KONSELING LOGOTERAPI DALAM MENINGKATKAN RESILIENSI REMAJA BROKEN HOME Ellyza Elma Sadiyah Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email : ellyza. 22110@mhs. Najlatun Naqiyah Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: najlatunnaqiyah@unesa. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konseling logoterapi dalam meningkatkan resiliensi remaja dari keluarga broken home. Desain penelitian yang digunakan adalah one group pretest posttest without control group. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Sejumlah 5 remaja dengan usia 18 dan 19 tahun berasal dari keluarga broken home dengan hambatan ekonomi dan memiliki tingkat resiliensi rendah berdasarkan hasil pretest dipilih sebagai partisipan penelitian. Intervensi dilakukan melalui konseling individu dengan pendekatan logoterapi, khususnya teknik socratic dialogue dan Instrumen yang digunakan adalah skala resiliensi berdasarkan karakteristik dari Wagnild . , alat ukur tersebut sudah teruji validitas dan reliabilitas . item, = 0. Teknik analisis data menggunakan uji parametrik paired sample t-test. Penelitian diperoleh hasil yaitu resiliensi terdapat perbedaan signifikan berdasarkan uji t dengan p value yang memperoleh nilai 0,007 . < 0,. Selanjutnya perhitungan effect size melalui perhitungan CohenAos d menunjukkan nilai d = 2,24 . Ou 0,. yang tergolong tinggi, menunjukkan bahwa logoterapi memiliki dampak besar dalam meningkatkan resiliensi remaja broken home. Dengan demikian, konseling logoterapi dapat dijadikan alternatif layanan konseling dalam meningkatkan resiliensi remaja broken home. Kata Kunci: konseling logoterapi, socratic dialogue, dereflection, broken home, resiliensi. Abstract This study aims to determine the effectiveness of logotherapy counseling in improving the resilience of adolescents from broken homes. The research design used is a one-group pretest-posttest without a control The sampling technique used is purposive sampling. A total of five adolescents aged 18 and 19 years old from broken homes with economic difficulties and low resilience levels based on the pretest results were selected as research participants. The intervention was carried out through individual counseling using a logotherapy approach, specifically the Socratic dialogue and dereflection techniques. The instrument used was a resilience scale based on the characteristics of Wagnild . , which had been tested for validity and reliability . items, = 0. The data analysis technique used a paired sample ttest. The study found that there was a significant difference in resilience based on the t-test with a p-value 007 . < 0. Furthermore, the effect size calculation using Cohen's d showed a value of d = 2. Ou 0. , which is classified as high, indicating that logotherapy has a significant impact on increasing the resilience of broken home adolescents. Thus, logotherapy counseling can be used as an alternative counseling service to increase the resilience of broken home adolescents. Keywords: logotherapy counseling, socratic dialogue, dereflection, broken homes, resilience. PENDAHULUAN Coleman & Hagell . masa remaja mempunyai beberapa faktor resiko, antara lain kondisi kemiskinan, keterbatasan, gangguan mental, hingga latar belakang keluarga yang tidak berfungsi. Namun setiap individu tumbuh dan berkembang dalam latar belakang keluarga yang berbeda. Bagi sebagian remaja, hidup tanpa peran orang tua yang utuh akibat perceraian atau hal lainnya menjadi tantangan besar. Keharmonisan keluarga bagi pemenuhan kasih sayang dan perkembangan optimal anak, sehingga ketidakharmonisan seringkali mengurangi Masa remaja adalah fase perkembangan yang ditandai dengan perubahan cepat dan dramatis, sehingga sering dipandang sebagai periode resiko dan berpotensi memunculkan berbagai masalah. (Gunarsa & Gunarsa. Coleman & Hagell, 2. Di Indonesia, ketahanan keluarga menjadi isu yang berperan dalam mendukung tumbuh kembang anak dan remaja, serta berdampak pada perkembangan psikologisnya dalam jangka panjang (Harahap et al. , 2. Selaras dengan pandangan Efektivitas Konseling Logoterapi Dalam Meningkatkan Resiliensi Remaja Broken Home dukungan yang diterima oleh remaja (Putri, 2. Kondisi demikian sering disebut dengan istilah broken Fenomena broken home ini sering dijumpai di Indonesia, dan salah satunya dapat dilihat dari tingginya angka perceraian di negara ini. Pada tahun 2024, situasi perceraian di Indonesia tampak cukup mengkhawatirkan. Badan Peradilan Agama (Badila. Mahkamah Agung mencatat adanya 446. 359 kasus perceraian. Angka ini Pada tahun 2023, jumlah perceraian tercatat Pada waktu yang sama, total pernikahan yang dilaporkan oleh Ditjen Bimas Islam Kemenag pada 2024 adalah 1. Angka ini juga menunjukkan penurunan yang signifikan, mengingat pada tahun 2023 tercatat 1. 493 orang yang menikah. Meskipun mengakibatkan kondisi broken home, jumlah ini menjadi indikasi kuat bahwa semakin banyak anak yang berisiko dibesarkan dalam keluarganya yang tidak berfungsi dengan baik (Harahap et al. , 2. Secara etimologis, broken home merujuk pada kerusakan fungsi keluarga sebagai lingkungan tumbuh kembang anak. Willis . mengungkapkan bahwa kondisi tersebut dapat dipandang dari dua sudut, yaitu ketika keluarga tidak utuh karena kehilangan salah satu orang tua akibat kematian atau perceraian, ataupun pada keluarga yang tetap utuh secara hukum tetapi dipenuhi pertengkaran dan minim kasih sayang. Selaras dengan itu. Goode . mengartikan broken home sebagai retaknya struktur keluarga akibat ketidakmampuan anggota keluarga menjalankan perannya, seperti konflik, meninggalkan rumah, atau menurunnya kualitas hubungan Keretakan ini dapat terjadi tanpa perceraian formal, misalnya ketika anak hidup dalam rumah tangga yang penuh konflik, orang tua yang terlalu sibuk, atau hubungan yang dingin tanpa kelekatan emosional (Ifdil et , 2. Hal tersebut diperkuat oleh Hastuti & Kirana . yang mengungkapkan bahwa pengalaman melihat ketidakharmonisan orang tua dapat tertanam hingga dewasa, menegaskan bahwa broken home lebih tepat dipahami sebagai tidak berfungsinya keluarga secara emosional, bukan sekadar ketidakutuhan secara hukum. Dampak keluarga broken home pada remaja telah diuji oleh beberapa penelitian, diantaranya remaja memiliki konsep diri rendah, penerimaan diri rendah, trauma inner child, perilaku maladaptive, kecemasan (Farisandy & Surjaningrum, 2021. Septiana & Muhid. Syam et al. , 2023. Muin et al. , 2024. Difebrian et , 2. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Pratiwi . mengenai rendahnya resiliensi pada remaja SMP, yang diberikan intervensi melalui konseling kelompok dengan metode Solution Focused Brief Counselling, menunjukkan peningkatan yang signifikan. Peningkatan terjadi pada seluruh aspek resiliensi, termasuk regulasi emosi, optimisme, empati, efikasi diri, hingga reaching Rendahnya resiliensi pada remaja yang berasal dari keluarga yang tidak utuh akan berpengaruh buruk dan perkembangan yang seharusnya (Pratiwi, 2. Oleh karena itu resiliensi dibutuhkan bagi remaja broken home karena tanpa kemampuan tersebut mereka rentan mengalami kecemasan, kesepian, rendah diri, penurunan motivasi, dan kecenderungan menarik diri, sehingga penguatan resiliensi menjadi langkah strategis agar mereka tumbuh lebih kuat, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan hidup. (Harahap et al. , 2. Wagnild . mengungkapkan resiliensi sebagai kemampuan seseorang untuk bangkit, beradaptasi, dan meneruskan hidup setelah menghadapi tekanan atau peristiwa traumatis. Selain itu, juga menyebutkan bahwa terdapat lima karakteristik resiliensi yaitu memiliki makna dan tujuan hidup . eaningful and purpose lif. , kegigihan . , kemandirian . elf relianc. , ketenangan atau kesabaran . menerima kesendirian . xistential alonenes. Wagnild meaningful and purpose life . ebermaknaan hidu. memiliki peran mendasar karena menjadi landasan bagi berkembangnya karakteristik resiliensi lainnya (Oktaviani. Semakin tinggi resiliensi semakin besar pula rasa bahwa hidup AubermaknaAy meskipun berasal dari keluarga yang kurang harmonis (Santoso & Huwae, 2. Selaras dengan studi pendahuluan, pekerja sosial di UPT PSBR X menyampaikan bahwa sebagian besar remaja penerima manfaat menunjukkan resiliensi yang lemah, ditandai dengan kebingungan identitas, sulit menemukan arah hidup, dan ketidakmampuan merumuskan langkah masa Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemahaman diri dan ketidakjelasan tujuan menjadi hambatan dalam pengembangan resiliensi. AuSebenarnya engga semua dari mereka broken home yang cerai gitu dek tapi memang rata-rata mereka dari keluarga yang ekonomi maaf kurang mampu dan emang mereka kan udah engga sekolah terus bingung mau ngapain jadi ya mengalami krisis identitas juga, kebingungan gitu dek menentukan arah hidup. Ay-TS Hal tersebut sesuai dengan pendapat Lewis et al. , 2023. Sutin et al. , 2024 yang menjelaskan bahwa memiliki tujuan hidup yang kuat berhubungan dengan kesehatan kognitif yang lebih baik serta pengurangan tingkat stres, sehingga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan dan resiliensi remaja dalam menghadapi berbagai Efektivitas Konseling Logoterapi Dalam Meningkatkan Resiliensi Remaja Broken Home UPT PSBR X merupakan Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Bina Remaja di bawah Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur yang berfokus pada pembinaan remaja yang mengalami permasalahan sosial supaya dapat berfungsi kembali dalam masyarakat, mandiri, dan memiliki keterampilan produktif. Layanan yang diberikan meliputi pelatihan keterampilan saat ini terdiri dari tata rias dan pengelasan, bimbingan sosial, pembinaan karakter, serta pelatihan life-skill melalui kegiatan kewirausahaan, dan kerja sama dengan Koramil maupun lembaga lokal, dengan pemberian bekal alat usaha bagi penerima manfaat yang telah menyelesaikan program selama A enam bulan. Salah satu pekerja sosialnya mengungkapkan sebagian besar remaja penerima manfaat memiliki latar belakang ekonomi yang tidak menguntungkan serta menghadapi berbagai tantangan sosial dalam kehidupan keluarga mereka sehingga berdampak pada kondisi psikologisnya. Beliau juga menambahkan karena keterbatasan waktu pelaksanaan konseling individu belum dapat dilakukan, sehingga dialihkan ke bimbingan sosial yang menekankan pengelolaan emosi dan konsep diri. Resiliensi dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi berbagai kesulitan dan tekanan yang muncul dalam hidupnya, serta belajar menyesuaikan diri dengan situasi dan berusaha bangkit untuk memulai kehidupan yang lebih baik (Salim, 2. Afdal et al. menemukan bahwa remaja yang dapat menemukan makna hidup cenderung lebih tahan terhadap Selain itu, beberapa remaja terdorong untuk tumbuh dewasa ketika orang tua mereka berpisah, karena mereka harus memikul tanggung jawab baru dalam keluarga (Laalah & Rahayu, 2. Salah satu remaja penerima manfaat di UPT PSBR X mengungkapkan bahwa ia sejak kecil harus mandiri dan bekerja untuk kebutuhan hidupnya. X1 . AuAku kan ket cilik tinggal sama kakek nenek mbak soal e orang tuaku udah pisah. Terus aku ya dari smp udah kerja juga buat kebutuhan hidup engga mau ngrepoti kakek nenek. Kadang ya iri mereka kalau mau apa-apa iso langsung beli sedangkan aku kudu kerja sek. Ini HP aku juga beli sendiri, ini mau ganti tapi sek gatau Ay Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan sebelumnya, logoterapi dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan resiliensi remaja di UPT PSBR X agar mampu untuk menentukan arah hidupnya yang lebih baik. Logoterapi Viktor Frankl menawarkan pandangan tentang manusia yang didasarkan pada tiga pilar filosofis yang saling terkait satu sama lain, yaitu hak untuk memilih (The Freedom of Wil. , hasrat untuk mencari makna (The Will to Meanin. dan makna hidup (Meaning of Lif. memiliki tujuan yang serupa. Corey . menyatakan bahwa logoterapi adalah sebuah teknik intervensi yang dibuat untuk mendukung seseorang dalam mengurangi perasaan tidak bermakna dan kekosongan dengan cara menemukan makna hidup. Ada sejumlah penelitian terdahulu yang menguraikan tentang efektivitas logoterapi yang diterapkan pada remaja atau dewasa awal, yaitu untuk meningkatkan harga diri remaja pecandu narkoba, meningkatkan self esteem dan kebermaknaan hidup remaja dengan skizofrenia, meningkatkan kebermaknaan hidup remaja di panti asuhan, meningkatkan makna hidup perempuan produktif dengan HIV/AIDS (ODHIV) (Naraasti & Astuti, 2019. Anggoro, 2025. Haryanto, 2025. Siga & Pantur, 2. Terkait resiliensi, logoterapi juga efektif dalam meningkatkan resiliensi. Yusri . melakukan penelitian untuk mengetahui penerapan konseling logoterapi untuk meningkatkan resiliensi pada lima anak tunagrahita di SLB-C YPPLB Makassar. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa logoterapi dengan teknik persuasif playing efektif untuk mengembangkan resiliensi pada anak tunagrahita dibanding dengan hanya menggunakan perlakukan intervensi konvensional seperti metode ceramah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis ingin mengetahui apakah logoterapi dapat meningkatkan resiliensi remaja di Indonesia, khususnya remaja yang berada di UPT PSBR X. Berdasarkan kerangka teoritis dan temuan empiris tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji secara empiris penerapan konseling individu dengan logoterapi terhadap peningkatan resiliensi remaja broken home khususnya di UPT PSBR X. Diharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam logoterapi yang aplikatif agar remaja mampu mengenali makna hidupnya, serta bangkit dari pengalaman sulit secara lebih positif. METODE Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan pre-experiment yaitu one group pretest - posttest. Design yang melibatkan satu kelompok eksperimen yang akan diberikan treatment kemudian dilakukan observasi hingga memperoleh sebuah hasil (Hardani et al. , 2. Pretest (O. dilakukan sebelum subjek menerima treatment, sedangkan posttest (O. dilakukan setelah seluruh rangkaian treatment diberikan. Subjek dalam hal ini merujuk pada partisipan yang menjalani layanan konseling individu dengan dengan teknik logoterapi (X). Pelaksanaan konseling individu dilaksanakan selama 4 kali pertemuan dengan durasi A 50 menit tiap pertemuan. Efektivitas Konseling Logoterapi Dalam Meningkatkan Resiliensi Remaja Broken Home Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu menggunakan angket tertutup dengan skala likert rentang 1 sampai 4 untuk pengukurannya. Instrumen yang digunakan mengacu pada lima karakteristik resiliensi oleh Wagnild . yaitu memiliki makna dan tujuan hidup . eaningful and purpose lif. , kegigihan . , kemandirian . elf relianc. , ketenangan atau kesabaran . menerima kesendirian . xistential alonenes. Instrumen tersebut telah melalui uji validitas dengan bantuan program SPSS versi 29. Berdasarkan hasil uji validitas, ditemukan 4 item pernyataan yang tidak valid dari 20 item pernyataan, sehingga 16 item yang dinyatakan valid. Sedangkan hasil uji reliabilitas, didapatkan nilai koefisien cronbachAos alpha pada angket resiliensi yaitu 0,715 yang mengindikasikan tingkat keandalan pada kategori andal. Pengambilan sampel dalam penelitian yaitu menggunakan purposive sampling. Hardani et al. , 2020 menjelaskan pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu dikenal sebagai purposive sampling. Subjek dipilih berdasarkan hasil skor resiliensi yang rendah kemudian dilakukan konfirmasi dengan pekerja sosial yang berwenang terkait latar belakang keluarga remaja, apakah termasuk dalam kategori broken home, seperti kurangnya komunikasi antar anggota keluarga, sikap egosentris, permasalahan ekonomi, kesibukan orang tua, rendahnya tingkat pendidikan orang tua, terjadinya perselingkuhan, serta lemahnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama . alam Willis 2. Dengan demikian didapatkan 5 remaja yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel penelitian. Treatment berupa konseling logoterapi . eaningbased and value-centered psychiatric therap. merujuk pada teknik utama yang dikembangkan oleh Viktor E. Frankl yaitu paradoxical intention, dereflection, dan socratic dialogue . alam Rahgozar & Gimynez-Llort Dalam penelitian ini peneliti menerapkan dua teknik yaitu socratic dialogue dan dereflection yang tepat untuk remaja dari keluarga broken home dengan rendahnya resiliensi. Socratic dialogue digunakan untuk membantu remaja merenungkan makna hidup melalui percakapan yang mendalam, sementara dereflection berfungsi untuk mengalihkan fokus dari tekanan internal ke hal-hal yang lebih positif dan bermakna. Kedua metode tersebut dilaksanakan secara bertahap dan didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Prabu et al. serta Hunainah et al. yang menjelaskan keberhasilan penggabungan teknik-teknik tersebut dalam meningkatkan Teknik analisis data yang diterapkan adalah uji parametrik paired sample t-test untuk mengevaluasi adanya perbedaan antara skor resiliensi sebelum dan setelah penerapan intervensi logoterapi. Hal ini dilakukan karena data pretest dan posttest telah memenuhi asumsi yaitu data berdistribusi normal dan homogen. Data dinyatakan memiliki perbedaan signifikan p < 0,05. Data direpresentasikan dengan penelitian mean A SD. Semua analisis statistik menggunakan perangkat lunak SPSS untuk Windows versi 29. HASIL Pretest bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kondisi awal partisipan terkait topik penelitian sebelum diberikan intervensi. Pretest dilaksanakan dengan membagikan lembar angket resiliensi pada seluruh remaja penerima manfaat yang berjumlah 50 orang . Hasil pretest tersebut dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Kemudian diperoleh 5 subjek penelitian sebagai berikut: Inisial Nama Jenis Kelamin Laki-laki Pendidikan Terakhir SMP Usia Riwayat permasalahan sosial Depresi/Stress. Keterangan broken home Orang tua cerai hidup. Kenakalan Remaja, ikut nenek dan Putus Sekolah kakeknya, masalah Korban Bullying Orang tua sibuk. Skor Kategori Rendah Rendah Rendah Perempuan SMA masalah ekonomi Perempuan Depresi/Stress Orang tua sibuk, masalah ekonomi Perempuan Depresi/Stress Orang tua sibuk Rendah Laki-laki SMA Remaja Terlantar. Orang tua sering Rendah Korban Bullying bertengkar, masalah ekonomi, kurang kasih sayang dan perhatian Tabel 1. Gambaran Partisiapan Berdasarkan data pada tabel tersebut yang menunjukkan kondisi awal resiliensi partisipan sebelum diberikan treatment serta data lainnya seperti pendidikan terakhir, riwayat permasalahan sosial, keterangan broken Setelah ditetapkan sampel penelitian langkah berikutnya memberikan treatment berupa konseling individu dengan pendekatan logoterapi, khususnya teknik socratic dialogue dan dereflection. Ringkasan mengenai setiap sesi dalam konseling logoterapi diuraikan sebagai berikut: Sesi Tahap Pencarian makna hidup Kuat karena i Makna di Konseling Logoterapi Perkenalan, membangun rapport, menyampaikan tujuan konseling, melakukan diskusi mengenai konsep dasar makna hidup, dan memberikan ruang bagi konseli untuk berbagi pengalaman hidupnya. Menggunakan pertanyaan dialog socratic (Krisztina, 2. untuk membantu konseli menemukan pandangan baru tanpa memaksakan nilai atau keyakinannya sendiri seperti AuSituasi apa dalam hidupmu akhirakhir ini yang paling sering membuatmu merasa tidak nyaman?Ay. AuApa arti keluarga bagimu selama ini?Ay. AuBisakah kamu menceritakan contoh kejadian di rumah yang paling diingat?Ay. Menggunakan teknik dereflection untuk Efektivitas Konseling Logoterapi Dalam Meningkatkan Resiliensi Remaja Broken Home setiap langkah Aku siap menjadi diriku yang baru mengalihkan fokus perhatian dari diri sendiri atau gejala yang dialami menuju aspek kehidupan yang lebih bermakna, seperti AuWaktu kamu bilang kamu sering merasa sendirian dan sepi, kamu biasanya ngapain kalau perasaan itu muncul?Ay. AuDari semua hal yang sudah kamu lalui, menurut kamu apa yang paling penting dalam hidup ini yang buat kamu bertahan sampai sekarang?Ay. AuKamu sempat bilang sering merasa kehilangan arah, ya. Kalau sekarang kamu coba pikir, hal apa yang membuat kamu merasa hidupmu punya tujuan?Ay. Kemudian. Memberikan tugas antar sesi menyenangkan pada lembar yang telah Mengulas hasil tugas dari sesi sebelumnya. Lalu menguatkan keyakinan diri konseli terhadap makna hidup dan tujuan yang ingin Serta memberikan penguatan positif dan menegaskan kembali nilai-nilai yang Terakhir menutup sesi dengan refleksi bersama dan ucapan apresiasi. Kemudian analisis terhadap data yang telah tersedia dilakukan untuk mengidentifikasi apakah terdapat perbedaan rata-rata antara skor pretest dan posttest dengan menggunakan statistik pretest dan posttest. Berikut adalah tabel hasil yang menunjukkan analisis parametrik dengan uji paired sample t-test: Paired Samples Statistics Pretest Posttest Pretest Ae Postest Skor Std. Error Mean 1,157 2,580 Mean Std. Deviation -11,800 5,263 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Error Lower Upper Mean 2,354 -18,335 -5,265 Sig. -5,013 0,007 Tabel 4: Hasil Uji Paired Sample T-Test Dari hasil t berpasangan, diketahui bahwa rata-rata nilai pretest . secara signifikan lebih rendah dari ratarata nilai posttest . Perbedaan rata-rata sebesar -11,8. Lalu standar deviasi perbedaan sebesar 5,26 yang berarti dampak treatment tidak sepenuhnya seragam, tetapi masih menunjukkan pola perubahan yang cukup konsisten. Dan standar error mean sebesar 2,35. Interval kepercayaan 95% untuk perbedaan rata-rata yaitu -18,335 hingga -5,265. Dengan nilai t sebesar -5,013 dan nilai p sebesar 0,007, yang dapat disimpulkan bahwa perbedaan pretest dan posttest signifikan secara statistik . <0,. Berdasarkan hasil uji hipotesis (Uji-. diketahui bahwa nilai Sig. -taile. = 0,007. Jika dalam ketetapan a . araf kesalaha. sebesar 5% adalah 0,05 maka dihasilkan 0,007 < 0,05, sehingga dapat diputuskan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Dari hasil keputusan tersebut dapat disimpulkan bahwa treatment berupa konseling individu dengan menggunakan pendekatan konseling logoterapi khususnya teknik socratic dialogue dan dereflection memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan resiliensi remaja broken home. Sebagai tambahan pada analisis statistik inferensial, dilakukan uji effect size untuk mengukur seberapa besar pengaruh intervensi konseling logoterapi terhadap resiliensi remaja broken home. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Cohen . yang mengungkapkan bahwa effect size digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh pengaruh setelah diberikan treatment . alam Agustika et al. , 2. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus CohenAos d: Setelah partisipan menyelesaikan seluruh rangkaian konseling selama 4 kali pertemuan akan diberikan posttest berupa lembar angket resiliensi yang sama dengan pretest. Berikut data hasil posttest: Inisial Nama N Std. Deviation 5 2,588 5 5,770 Paired Samples Test Tabel 2: Penerapan Treatment Mean 40,80 52,60 Kategori TINGGI SEDANG TINGGI TINGGI SEDANG Tabel 3: Hasil Posttest Partisipan Berdasarkan hasil sajian data diatas dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan skor resiliensi dari kelima partisipan sebelum dan setelah diberikan konseling logoterapi yang dapat dilihat pada perbandingan sebagai Grafik 1: Perbandingan Hasil Pretest dan Posttest Partisipan = 2,24 Efektivitas Konseling Logoterapi Dalam Meningkatkan Resiliensi Remaja Broken Home Perhitungan menghasilkan nilai effect size sebesar 2,24, yang tergolong dalam kategori sangat besar . Ou 0,. Dengan demikian, menunjukkan bahwa intervensi konseling logoterapi dengan menggunakan teknik socratic dialogue dan dereflection memberikan dampak praktis yang besar dalam meningkatkan resiliensi remaja broken home. PEMBAHASAN Partisipan kemampuan dalam membangun kekuatan diri, serta menemukan kembali arah dan makna hidup meskipun berada dalam kondisi keluarga broken home. Secara teoritis, temuan ini sejalan dengan prinsip logoterapi yang menekankan pencarian makna sebagai salah satu dasar kekuatan hidup, sebagaimana ditegaskan Frankl dan didukung oleh kajian Prabu et al. yang menunjukkan bahwa logoterapi efektif meningkatkan sense of purpose, makna hidup, dan kebahagiaan pada remaja dan dewasa muda. Peningkatan resiliensi partisipan dalam penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Santoso & Huwae . yang menemukan bahwa remaja broken home dengan tingkat meaningfulness yang lebih tinggi cenderung memiliki resiliensi yang lebih baik. Naqiyah et al. juga mengungkapkan bahwa upaya individu dalam mencari meaning and purpose of life berguna untuk memperkuat kemampuan resiliensi. Selain itu, penelitian Hunainah et . mengungkapkan bahwa logoterapi mampu memperkuat resiliensi keluarga melalui penguatan nilai hidup dan pemaknaan terhadap pengalaman sulit, sedangkan Yusri . membuktikan bahwa logoterapi dapat meningkatkan resiliensi anak tunagrahita melalui proses penemuan makna dan penguatan spiritualitas. Pada penelitian ini seluruh partisipan merupakan broken home dengan hambatan ekonomi keluarga yang berdampak pada pola asuh tidak konsisten, rendahnya kehadiran emosional, dan meningkatnya tekanan keluarga. Kondisi tersebut sejalan dengan Naim . mengungkapkan bahwa kemiskinan dan ketidakstabilan ekonomi menjadi faktor pemicu kerentanan broken home karena memperburuk konflik, melemahkan komunikasi, serta membuat remaja kehilangan arah hidup. Mayfani et . mengungkapkan bahwa remaja broken home yang mampu membangun konsep diri positif dan makna hidup memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi. Selain itu sense of purpose juga terbukti dapat menjadi strategi mengatasi masalah bagi remaja terutama dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi dalam menghadapi tekanan lingkungan (Hashim et al. , 2023. Reba & Muttaqin, 2025. Lewis et al. , 2. Selaras dengan temuan tersebut. Wagnild . menekankan bahwa individu dengan tingkat resiliensi tinggi mampu hidup selaras dan nyaman dengan diri sendiri, suatu kondisi yang berakar pada pemahaman diri yang mendalam. Penelitian Setiawati et , 2018 juga mengungkapkan apabila individu memiliki resiliensi rendah maka akan mudah terpengaruh hal negatif dan sebaliknya apabila individu memiliki resiliensi tinggi maka akan cepat menyesuaikan diri dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya. Tugas antar sesi juga berkontribusi terhadap peningkatan resiliensi partisipan. Pada akhir sesi pertama, partisipan menuliskan pengalaman hidup yang paling membekas sebagai bentuk refleksi atas nilai pengalaman yang dimiliki. Kemudian, pada akhir sesi ketiga, partisipan diminta mencatat hal-hal sederhana yang bermakna pada tabel untuk melatih kemampuan menemukan dan menghargai makna dalam setiap langkah Secara teoritis, hal tersebut selaras dengan konsep Breitbart . bahwa makna hidup dapat ditemukan melalui nilai pengalaman, nilai kreatif, nilai bersikap, dan nilai warisan . alam Farisandy & Surjaningrum, 2. Melalui eksplorasi pengalaman bermakna serta penghayatan aspek-aspek positif seperti kasih sayang, kebahagiaan, dan humor dengan orang terdekatnya, partisipan mulai mampu terhubung kembali dengan hal-hal yang memberi arah dan tujuan hidupnya (Farisandy & Surjaningrum, 2. Keberhasilan tugas ini juga didukung oleh keterbukaan dan keaktifan partisipan selama proses konseling, sejalan dengan penelitian Farisandy & Surjaningrum . yang mengungkapkan bahwa keterlibatan aktif merupakan faktor penting dalam efektivitas logoterapi. PENUTUP Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan logoterapi dengan teknik socratic dialogue dan dereflection terbukti efektif dalam meningkatkan resiliensi pada remaja dari keluarga broken home. Hal ini dibuktikan dengan analisis statistik terjadi peningkatan yang signifikan pada skor resiliensi serta dengan observasi terjadi penguatan aspek-aspek resiliensi. Logoterapi membantu partisipan untuk lebih menerima pengalaman hidup dan mulai merancang arah hidup yang lebih Namun, tentu saja masih memerlukan perhatian yang lebih besar agar kemampuan resiliensi semakin meningkat. Ini menunjukkan perlunya pendampingan lanjutan dan pendekatan yang lebih Keterbatasan dari studi ini mencakup tidak adanya kelompok kontrol, ukuran sampel kecil, serta kendala waktu, sehingga penelitian lebih lanjut disarankan untuk menggunakan desain eksperimen yang lebih kuat, jadwal intervensi yang konsisten, dan evaluasi jangka Efektivitas Konseling Logoterapi Dalam Meningkatkan Resiliensi Remaja Broken Home panjang untuk menilai efektivitas berkelanjutan dari intervensi tersebut. Saran Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut : Bagi pekerja sosial atau guru BK Konseling logoterapi terbukti efektif dalam meningkatkan resiliensi remaja dari keluarga broken home, terutama dalam hal memaknai hidup, kegigihan, dan penerimaan diri. Dengan demikian, pekerja sosial dan guru BK dapat menggunakan pendekatan logoterapi sebagai salah satu pilihan layanan intervensi, baik dalam bentuk konseling individu maupun kelompok. Penerapan teknik socratic dialogue dan dereflection dapat disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan remaja, serta dapat berkesinambungan agar remaja dapat menemukan arti hidup dan mengembangkan sikap resilien yang Bagi penelitian lain Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu referensi penting dalam penelitian selanjutnya. Peneliti selanjutnya disarankan untuk melanjutkan penelitian ini dengan melibatkan lebih banyak partisipan serta latar belakang yang lebih beragam, sehingga hasil penelitian dapat diterapkan secara lebih umum. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat menerapkan konseling logoterapi dalam durasi waktu yang lebih konsisten dan jumlah pertemuan yang lebih banyak. Konsep Diri Remaja Di Panti Sosial. Gadjah Mada Journal of Professional Psychology (GamaJPP), 7. , 24. Goode. William J. Sosiologi Keluarga. Jakarta: Bumi Aksara Gunarsa. Psikologi perkembangan anak dan BPK Gunung Mulia. Harahap. Lubis. , & Daulay. Efektivitas Layanan Konseling Individu Dengan Teknik Miracle Question dalam Meningkatkan Resiliensi Siswa Broken Home. MUDABBIR Journal Research and Education Studies, 5. Hardani. Auliya. Andriani. Fardani. Ustiawaty. Utami. Sukmana. , & Istiqomah. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif (H. Abadi . )). CV. Pustaka Ilmu Group Yogyakarta. Haryanto. Efektivitas Konseling Kelompok Teknik Logoterapi Dalam Meningkatkan Kebermaknaan Hidup Remaja Panti Asuhan AlHidayah Gunungpati (Doctoral Dissertation. Universitas Ive. Hashim. Alias. Dahlan. Radzi. & Yunus. Identifying types of purpose in life (PIL): A comparative study between high ability and typical adolescents. International Journal of Academic Research in Progressive Education and Development, 12. , 1Ae12. Hastuti. , & Kirana. Kesejahteran psikologis pada individu yang mengalami broken Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia (JIKI), 14. , 60-67. Hunainah. Mujib. Tarihoran. Aspandi. Riswanto. , & Rahma. Enhancing Resilience in Indonesian Muslim Families Logotherapy Counseling. Bulletin Counseling Psychotherapy, 6. Ifdil. Sari. , & Putri. Psychological well-being remaja dari keluarga broken SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling, 5. , 35. Krisztina. Belsc-team a szynpadon. Logoterypia ys egzisztenciaanalyzisAe2017, 25. Laalah. , & Rahayu. Hubungan self-compassion dengan resiliensi pada remaja dengan orang tua bercerai. GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling, 14. , 454. Lewis. Hofer. Bennett. , & Hill. Sense of Purpose in Life Predicts Reduced Risk for and Delayed Onset of Mild Cognitive Impairment: A Multistate Survival Model. Alzheimers & Dementia, 19(S. Mayfani. Adiwinata. , & Nadhirah. Resilience and self-esteem of broken home Journal of Educa Muin. Hermatasiyah. , & Muttaqin. Implementasi Konseling Kelompok DAFTAR PUSTAKA