MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 Artikulasi Nalar Kekerasan dalam Beragama (Analisis Kultural Film Televisi AuAzabA. *Rose Kusumaning RatriA AInstitut Agama Islam Nahdlatul Ulama Kebumen Email: rsratri@gmail. DOI: https://doi. org/10. 35878/muashir. Article Info Article history: Received : 06-07-2024 Revised : 29-11-2024 Accepted : 30-11-2024 ABSTRACT This study examines the audience's response to the FTV Azab show by focusing on the construction of violent discourse, retaliation, and its influence on religious understanding. Using a qualitative approach with indepth interviews with six informants, the study found that although the show was perceived as a commercial product, most of the informants accepted the moral value offered but rejected packaging that lacked FTV Azab builds violent discourse as a method to overcome problems, which has the potential to strengthen fanaticism and extremism. The informants tend to reject the concept of retribution as the basis of faith and emphasize sincerity and hope in religion. The results of the study show that religious media must highlight the humanitarian side, hope, and positive motivation, as well as avoid violent narratives that can exacerbate religious stereotypes and encourage a more simplified understanding of religious teachings. This research contributes to the understanding of the influence of the media on the perception of religion in society. Keywords: FTV Azab, discourse of violence, retribution, religious understanding, religious media. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji respons penonton terhadap tayangan FTV Azab dengan fokus pada konstruksi wacana kekerasan, pembalasan, dan pengaruhnya terhadap pemahaman agama. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam. P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. Copyright A2024 TheAuthor. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 mendalam terhadap enam informan, penelitian ini menemukan bahwa meskipun tayangan tersebut disadari sebagai produk komersial, sebagian besar informan menerima nilai moral yang ditawarkan namun menolak pengemasan yang minim FTV Azab membangun wacana kekerasan sebagai metode untuk mengatasi permasalahan, yang berpotensi memperkuat fanatisme dan ekstremisme. Para informan cenderung menolak konsep pembalasan sebagai dasar keimanan dan lebih menekankan keikhlasan serta harapan dalam Hasil penelitian menunjukkan bahwa media religi harus lebih menonjolkan sisi kemanusiaan, harapan, dan motivasi positif, serta menghindari narasi kekerasan yang dapat memperburuk stereotip agama dan mendorong pemahaman yang lebih simplistik terhadap ajaran agama. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang pengaruh media terhadap persepsi agama dalam masyarakat. Kata Kunci: FTV Azab, wacana kekerasan, pembalasan, pemahaman agama, media religi. *Corresponding author : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Kebumen Jl. Tentara Pelajar No. Panggel. Panjer. Kabupaten Kebumen. Jawa Tengah Email : rsratri@gmail. Pendahuluan Kajian mengenai televisi sebagai media komunikasi massa telah menjadi perhatian yang luas dalam studi budaya dan komunikasi. Salah satu fokus kajian adalah hubungan antara khalayak dan konsumsi televisi. Dalam konteks ini. Teori Kultivasi yang dirumuskan oleh George Gerbner memberikan landasan teoretis untuk memahami dampak kumulatif tayangan televisi terhadap konstruksi realitas sosial penonton. Gerbner membagi khalayak menjadi dua kelompok: heavy viewers dan light viewers. (Gerbner, 2. Penonton berat, yang menghabiskan lebih dari empat jam Vol. 2 No. November 2024 per hari menonton televisi, cenderung melihat dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya dibandingkan penonton ringan karena paparan terusmenerus terhadap tayangan televisi, termasuk yang mengandung Teori ini menunjukkan bahwa dampak televisi tidak bersifat langsung, tetapi bersifat kumulatif, membentuk pola pikir dan persepsi jangka panjang terhadap dunia. Di Indonesia, televisi menjadi medium utama yang menjangkau masyarakat luas, menyajikan beragam program yang mencakup hiburan, edukasi, hingga moralitas. Salah satu program yang menarik perhatian adalah film televisi (FTV) Azab yang ditayangkan di Indosiar antara tahun 2018 dan 2019. Diproduksi oleh Mega Kreasi Film (MKF). FTV ini mengangkat tema religi dengan konsep cerita yang menampilkan balasan langsung berupa azab atas perbuatan jahat tokoh Setiap episode memiliki alur serupa: seorang tokoh melakukan perbuatan tercela seperti mencuri, zalim, durhaka, atau korupsi, lalu mendapat hukuman berupa azab yang divisualisasikan secara dramatis, sadistis, dan terkadang irasional. Sebagai contoh, jenazah tokoh antagonis ditampilkan mengalami peristiwa tidak lazim seperti tersambar petir, jatuh ke selokan, atau bahkan makamnya meledak. Tayangan ini memicu respons beragam dari khalayak. Pihak yang mendukung menganggap Azab sebagai media pembelajaran moral yang memperingatkan penonton untuk menjauhi perilaku buruk dan menjalankan perintah agama. Namun, pihak yang kontra mengkritik tayangan ini karena pola cerita yang repetitif, hitam putih dalam karakterisasi, serta visualisasi kekerasan yang vulgar dan tidak logis. Kritik ini mencuatkan kekhawatiran akan dampak negatif tayangan terhadap anak-anak dan remaja yang menjadi bagian dari audiens televisi. Teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tahun 2018, terkait visualisasi jenazah yang mengerikan dalam salah satu episodenya, menunjukkan bahwa Azab melampaui batas norma penyiaran, khususnya terkait perlindungan anak. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 Di sisi lain, penghargaan Panasonic Gobel Award 2018 yang diraih oleh Azab dalam kategori Sinetron Nonserial (Tempo, 2. , menunjukkan bahwa tayangan ini berhasil menarik minat khalayak dalam jumlah besar. Berdasarkan laporan Tirto. Azab berkontribusi pada peningkatan pendapatan PT Surya Citra Media Tbk, dengan pendapatan naik sebesar 10,82% pada tahun 2018 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa tayangan Azab tidak hanya menarik dari sisi moralitas, tetapi juga menjadi alat ekonomi yang signifikan bagi industri Fenomena Azab merepresentasikan dinamika kompleks dalam budaya media, yang diorganisasi dalam kerangka produksi massa untuk tujuan komersial. Sebagai bagian dari industri budaya. Azab tidak lahir dari ruang kosong, tetapi didasarkan pada imajinasi produser yang mempertimbangkan apa yang akan menarik perhatian khalayak. Tayangan ini menjadi komoditas budaya yang dirancang untuk memenuhi ekspektasi pasar, mengikuti genre, kode, dan aturan yang telah mapan dalam industri Dalam konteks ini. Azab mencerminkan ekspresi kultural yang sarat dengan wacana sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Lebih jauh. Azab menunjukkan bahwa media massa, meskipun sering dianggap sebagai alat hiburan sederhana, adalah arena di mana berbagai nilai, ideologi, dan kepentingan saling bertarung untuk merebut perhatian publik. Keberhasilan Azab menunjukkan bagaimana budaya media mampu menarik massa meski tayangannya kontroversial. Namun, kritik dan teguran menunjukkan adanya tanggung jawab moral dan etika yang melekat dalam setiap produksi budaya media. (Kellner, 2. Dengan demikian, muncul pertanyaan mendasar terkait tema kekerasan yang sering diangkat dalam Azab. Apakah nalar kekerasan adalah sesuatu yang inheren dalam diri manusia dan berperan dalam membentuk motivasi religius? Apakah kekerasan selalu menjadi elemen yang tak terpisahkan dalam praktik keagamaan, sehingga turut membentuk sikap kesalehan? Vol. 2 No. November 2024 Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi relevan untuk mengeksplorasi relasi antara kekerasan, agama, dan ekspresi budaya media melalui kasus FTV Azab. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mengeksplorasi interpretasi khalayak terhadap tayangan televisi Azab. Mahasiswa Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen dipilih sebagai informan karena dianggap sebagai khalayak aktif yang mampu memberikan pembacaan kritis terhadap tayangan tersebut. Dalam konteks ini, penelitian memfokuskan pada hubungan antara narasi kekerasan yang ditampilkan dalam tayangan dengan potensi pembentukan nalar kekerasan yang berkontribusi pada kesalehan beragama. Sebanyak 21 mahasiswa dilibatkan dalam penelitian, di mana enam di antaranya dipilih sebagai informan kunci berdasarkan pertimbangan latar belakang pendidikan, riwayat akademik, dan jenis kelamin. Para mahasiswa berasal dari berbagai program studi, seperti Komunikasi Penyiaran Islam. Ilmu Quran Tafsir. Pendidikan Agama Islam. Manajemen Pendidikan Islam, dan Perbankan Syariah. Pemilihan informan kunci dilakukan melalui proses seleksi yang mempertimbangkan kemampuan memberikan data yang relevan dan mendalam terkait tema penelitian. Data penelitian diperoleh melalui beberapa teknik, yaitu fokus grup diskusi (FGD), observasi, wawancara mendalam, dan tinjauan pustaka. Fokus grup diskusi dilakukan sebanyak tiga kali dengan melibatkan seluruh 21 mahasiswa untuk menggali pandangan umum dan pola interpretasi mereka terhadap tayangan Azab. Hasil dari FGD ini digunakan untuk mengidentifikasi tema-tema awal yang kemudian dikembangkan lebih mendalam melalui wawancara. Observasi dilakukan terhadap enam informan kunci untuk mengamati respons mereka saat menyaksikan tayangan, baik secara verbal maupun nonverbal. Proses observasi ini juga MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 berfungsi untuk memahami konteks interpretasi mereka terhadap narasi kekerasan dalam tayangan. Wawancara mendalam dilakukan secara berulang terhadap enam informan kunci hingga mencapai titik jenuh data, yaitu ketika tidak ada informasi baru yang signifikan ditemukan. Dalam wawancara ini, eksplorasi difokuskan pada bagaimana informan memaknai kekerasan dalam tayangan, dampaknya terhadap pemahaman keagamaan, dan refleksi pribadi mereka terhadap pesan yang disampaikan. Selain itu, tinjauan pustaka dilakukan untuk memperkuat analisis melalui referensi teori dan literatur yang relevan, seperti kajian tentang teori encoding decoding dan perspektif wacana dalam studi budaya. Proses analisis data dilakukan secara tematik dengan beberapa langkah utama, termasuk transkripsi data dari FGD dan wawancara, pengelompokan berdasarkan tema-tema yang muncul, pengkodean, dan interpretasi pola-pola yang ditemukan. Data yang diperoleh juga divalidasi melalui triangulasi, dengan membandingkan hasil dari berbagai sumber seperti FGD, observasi, wawancara, dan literatur pustaka. Hal ini bertujuan untuk memastikan konsistensi dan keakuratan temuan dalam penelitian Penelitian ini diarahkan untuk memahami bagaimana narasi kekerasan dalam tayangan Azab diterima oleh mahasiswa sebagai khalayak, serta bagaimana proses interpretasi tersebut menunjukkan artikulasi nalar kekerasan yang berkontribusi pada pembentukan kesalehan beragama. Dengan pendekatan ini, penelitian berupaya memberikan wawasan yang mendalam mengenai hubungan antara media, khalayak, dan dinamika kesadaran beragama dalam konteks masyarakat Vol. 2 No. November 2024 Hasil dan Pembahasan Proses Encoding dan Decoding Tayangan Televisi Pemahaman mengenai bagaimana khalayak menerima, memaknai, dan menanggapi pesan dari media massa dapat dianalisis menggunakan teori encoding-decoding yang dikemukakan oleh Stuart Hall. Teori ini menjelaskan bahwa komunikasi media merupakan sebuah proses yang berlangsung dalam sirkulasi makna, melibatkan tiga tahapan utama: produksi pesan . , distribusi melalui media, dan konsumsi atau interpretasi pesan oleh khalayak . (Hall, 2. Tahapan awal dalam proses komunikasi media adalah encoding, yaitu proses bagaimana pesan atau tayangan dikonstruksi oleh produsen Pada tahap ini, produsen media tidak hanya mengemas informasi, tetapi juga membangun wacana tertentu yang mengarahkan pemahaman Menurut Stuart Hall, proses produksi pesan dalam media dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tuntutan pasar, ideologi profesional, asumsi tentang audiens, serta keterampilan teknis dan rutinitas Hall menjelaskan: "The production process is not without its AodiscursiveAo aspect: it, too, is framed throughout by meanings and ideas: knowledge-inuse concerning the routines of production, historically defined technical skills, professional ideologies, institutional knowledge, definitions and assumptions, assumptions about the audience, and so on frame the constitution of the programme through this production structure" (Hall, 2. Dalam konteks tayangan televisi seperti FTV Azab, tematema yang diangkat seperti azab sebagai balasan atas tindakan amoral mencerminkan konstruksi makna yang sengaja dirancang oleh produsen untuk memenuhi kebutuhan pasar dan ekspektasi khalayak. Produsen memilih elemenelemen dramatis dan simbolis, seperti visualisasi azab yang mencolok dan dialog yang sarat dengan pesan moral, untuk memperkuat MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 tema religius yang populer di masyarakat Indonesia. Konstruksi pesan ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk hiburan, tetapi juga sebagai upaya untuk memperkuat nilai-nilai moral tertentu yang dianggap relevan oleh Tahap berikutnya dalam proses komunikasi media adalah decoding, yaitu saat khalayak memaknai pesan yang diterima dari media. Proses decoding tidak bersifat pasif. Khalayak tidak hanya menerima pesan sebagaimana adanya, melainkan secara aktif membongkar kode-kode dalam tayangan sesuai dengan latar belakang, pengalaman, dan kerangka budaya mereka masing-masing. Menurut Stuart Hall, interpretasi yang dilakukan oleh khalayak dapat menghasilkan tiga kemungkinan posisi decoding: 1. Hegemoni Dominan. Pada posisi ini, khalayak sepenuhnya menerima pesan sebagaimana dimaksudkan oleh produsen. Tidak ada perbedaan antara makna yang dikodekan oleh produsen dan makna yang diterima oleh khalayak. Misalnya, dalam konteks FTV Azab, khalayak pada posisi hegemoni dominan mungkin menerima pesan moral tentang pentingnya menjalankan hidup sesuai dengan ajaran agama, tanpa mempertanyakan elemenelemen lain dalam tayangan tersebut. Negosiasi. Pada posisi ini, khalayak menerima sebagian pesan yang dikodekan, tetapi menolak atau mengubah sebagian lainnya berdasarkan pengalaman pribadi atau konteks sosial mereka. Dalam kasus FTV Azab, khalayak mungkin setuju dengan pesan moral tentang keadilan ilahi, tetapi menolak visualisasi azab yang dianggap terlalu berlebihan atau tidak Oposisi. Pada posisi decoding oposisi, khalayak sepenuhnya menolak pesan yang disampaikan oleh produsen. Mereka membangun interpretasi yang bertentangan dengan maksud produsen dan bahkan dapat mengkritik atau menantang tayangan tersebut. Sebagai contoh, khalayak yang berada pada posisi ini mungkin menganggap FTV Azab sebagai hiburan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama atau sebagai upaya manipulasi moral untuk keuntungan komersial. Vol. 2 No. November 2024 Dalam praktiknya, respons khalayak terhadap FTV Azab menunjukkan keragaman posisi decoding ini. Sebagian khalayak mungkin berada pada posisi hegemoni dominan, menerima pesan moral tanpa kritik. Sebagian lainnya memilih posisi negosiasi, menyetujui tema-tema tertentu tetapi menolak aspek-aspek lain seperti gaya penyampaian. Sementara itu, khalayak yang berada pada posisi oposisi dapat menunjukkan kritik yang tajam terhadap tayangan ini. (Morissan & Hamid, 2. Hal ini menunjukkan bahwa proses decoding merupakan bagian penting dari komunikasi media, di mana makna yang dikodekan oleh produsen tidak selalu diterima secara seragam oleh khalayak. Sebaliknya, khalayak berperan aktif dalam membentuk makna yang sesuai dengan latar belakang sosial, pengalaman pribadi, dan nilai-nilai budaya mereka masing-masing. Dinamika ini memperlihatkan bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai saluran penyampaian pesan, tetapi juga sebagai ruang untuk pertarungan ideologi, wacana, dan makna. Sirkulasi Makna dalam Media Proses komunikasi melalui media massa tidak selalu simetris atau Makna yang dirancang oleh produsen dalam tahap encoding tidak selalu diterima secara identik oleh khalayak dalam tahap decoding. Menurut Douglas Kellner, perbedaan ini merupakan bagian dari dinamika sirkulasi makna yang memungkinkan beragam interpretasi oleh khalayak. (Kellner, 2. Sirkulasi makna ini mencerminkan bagaimana budaya dan ideologi dominan bekerja, sekaligus menunjukkan ruang bagi resistensi dan negosiasi dalam praktik komunikasi media. Sebagai bagian dari proses encoding dan decoding, wacana memainkan peran penting dalam membentuk makna dan persepsi khalayak. Michel Foucault menjelaskan bahwa wacana adalah praktik diskursif yang memproduksi gagasan, konsep, atau efek tertentu yang membentuk realitas sosial. Dalam FTV Azab, wacana azab mengonstruksi pemahaman khalayak tentang moralitas, keadilan ilahi, dan hubungan manusia dengan agama. Eriyanto MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 menambahkan bahwa wacana membatasi pandangan khalayak dan mengarahkan mereka pada cara berpikir tertentu dalam kerangka ideologi Stuart Hall memperkuat argumen ini dengan menyatakan bahwa ideologi bekerja melalui penguatan pengertian bersama dalam masyarakat sehingga nilai-nilai tertentu tampak wajar dan alami. (Eriyanto, 2. Dalam teori encoding-decoding Stuart Hall, proses sirkulasi makna dapat dirangkum dalam bagan berikut: Produksi (Encodin. Ie Distribusi Media Ie Konsumsi (Decodin. Pada setiap tahap, terjadi interaksi antara wacana, ideologi, dan budaya yang memengaruhi bagaimana pesan dikonstruksi, disampaikan, dan diinterpretasikan. Dalam konteks FTV Azab, proses encoding oleh produsen mencakup penggunaan elemen-elemen dramatis dan visualisasi azab yang mencolok untuk menyampaikan pesan moral. Namun, saat memasuki tahap decoding, khalayak memberikan beragam interpretasi berdasarkan pengalaman dan nilai-nilai mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tayangan media tidak hanya menjadi alat penyampai pesan, tetapi juga arena pertarungan ideologi dan wacana budaya. Mengurai Preferred Meanings Film Televisi "Azab" Proses encoding dan decoding dalam kajian media melibatkan dua tahapan penting. Tahapan pertama adalah mengurai encoding atau pembentukan kode yang dikonstruksi oleh pembuat tayangan. Pada tahapan ini, penulis berfokus untuk memperoleh preferred meanings atau makna yang ditawarkan oleh pembuat film televisi Azab. Untuk menganalisis makna yang ditawarkan ini, penulis menggunakan teori semiotika Charles Sanders Pierce yang memandang tanda sebagai bagian dari proses komunikasi yang membentuk makna melalui hubungan antara tanda, objek, dan interpretasi. Vol. 2 No. November 2024 Sebagai sampel penelitian, penulis memilih judul dari salah satu episode Azab, yaitu AuKeranda Jenazah Berat Sampai Jembatan Ambruk Karena Semasa Hidup ZalimAy, yang menggambarkan balasan azab yang diterima seseorang yang berbuat zalim selama hidupnya. Sebagai referensi pembanding, juga dikaji judul AuAzab Pemandi Jenazah Tukang GosipAy untuk memperluas pemahaman tentang bagaimana pesan dan makna tentang azab dan perbuatan zalim dibentuk dalam tayangan tersebut. Selain itu, karena penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keseluruhan struktur film televisi Azab, penulis juga memeriksa struktur cerita yang menjadi pola umum dalam setiap episode Azab, yang terdiri dari tema, amanat, alur, dan penokohan. Setelah mengkaji preferred meanings yang ditawarkan oleh pembuat tayangan, tahapan berikutnya adalah mengurai proses decoding yang dilakukan oleh penonton. Dalam hal ini, penonton yang dimaksud adalah informan kunci, yaitu enam mahasiswa yang dipilih melalui proses seleksi setelah mengikuti fokus grup diskusi (FGD). Informan kunci ini terdiri dari Titin . erempuan, 19 tahu. Ami . erempuan, 19 tahu. Miati . erempuan, 25 tahu. Hamzah . aki-laki, 27 tahu. Nur . aki-laki, 24 tahu. , dan Hidayat . aki-laki, 23 tahu. Keenam informan ini digolongkan sebagai khalayak aktif yang memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan tayangan Azab berdasarkan latar belakang pendidikan dan pemahaman mereka terhadap pesan-pesan yang terkandung dalam tayangan tersebut. Melalui analisis semiotik Pierce, dapat dipahami konstruksi makna yang hendak ditawarkan oleh pembuat Azab. Makna yang ingin dikonstruksikan dalam tayangan ini adalah bahwa perbuatan zalim semasa hidup akan mendatangkan balasan azab dari Tuhan. Azab ini digambarkan melalui kejadiankejadian yang tidak biasa dan kematian yang tidak wajar. Misalnya, jenazah yang mengalami kesulitan dalam proses penguburan, seperti keranda yang jatuh ke sungai, liang lahat yang penuh sampah, dan bau busuk yang mengeluarkan aroma tidak sedap. Semua ini digambarkan MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 sebagai bentuk azab yang diterima oleh mereka yang hidup dengan perbuatan zalim. Pembuat tayangan berusaha menunjukkan bahwa tindakan jahat semasa hidup akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatan tersebut. Lebih lanjut, unsur-unsur naratif dalam Azab juga memiliki pola yang konsisten yang mencakup tema, penokohan, konflik, plot, dan Tema dari Azab secara umum dapat diringkas sebagai "perbuatan jahat akan mendapatkan balasan azab dari Tuhan". Tema ini menjadi landasan bagi setiap episode dan mengarahkan cerita pada penggambaran akibat dari perbuatan zalim yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Penokohan dalam Azab cenderung menggunakan pendekatan hitam-putih yang statis dan sederhana. Tokoh protagonis yang berperilaku baik sejak awal hingga akhir cerita, serta tokoh antagonis yang selalu melakukan perbuatan jahat tanpa ada perkembangan karakter yang Selain dua tokoh utama, karakter-karakter pendukung lainnya juga digambarkan dengan perwatakan yang sangat sederhana tanpa perubahan yang berarti sepanjang cerita. Plot dalam Azab sering kali mengandalkan teknik deus ex machina, di mana penyelesaian konflik tidak datang dari tindakan tokoh protagonis, melainkan campur tangan dari kekuatan ilahi. Dalam banyak episode, perbuatan zalim yang dilakukan oleh tokoh antagonis berakhir dengan cara yang tidak terduga, seperti petir yang menyambar secara tiba- tiba. Teknik ini menunjukkan bahwa penyelesaian masalah tidak selalu harus melalui proses yang rasional atau logis, melainkan melalui intervensi kekuatan Tuhan yang datang secara mendadak dan luar biasa. Amanat yang ingin disampaikan oleh Azab adalah bahwa Tuhan akan hadir untuk menyelesaikan permasalahan umat manusia. Konflik utama dalam setiap episode berasal dari hubungan antar manusia, di mana Vol. 2 No. November 2024 tokoh antagonis melakukan perbuatan jahat terhadap tokoh lain. Namun, meskipun konflik tersebut seringkali dipicu oleh faktor-faktor manusiawi seperti iri, dengki, dan kebencian, penyelesaian akhir dari perbuatan zalim selalu melibatkan campur tangan ilahi sebagai penebus dan penyelesaian dari segala masalah. Secara keseluruhan, makna yang ditawarkan oleh tayangan Azab menekankan konsep balasan azab bagi perbuatan zalim serta kehadiran Tuhan sebagai penyelesaian akhir dari masalah-masalah manusia. Dalam proses decoding, khalayak, yang diwakili oleh informan kunci, akan memaknai dan menginterpretasikan makna ini sesuai dengan pemahaman dan perspektif masing-masing, yang dapat bervariasi tergantung pada pengalaman dan latar belakang individu. Menafsirkan Kode dan Pesan dalam FTV Azab Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan kode dan pesan yang terkandung dalam Film Televisi (FTV) Azab, dengan fokus utama pada adegan-adegan yang mengandung unsur kekerasan. Kekerasan dalam konteks ini mengacu pada definisi yang tercantum dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2018 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, yang menyatakan bahwa kekerasan mencakup perbuatan penyalahgunaan kekuatan fisik, baik dengan atau tanpa menggunakan sarana, yang dilakukan secara melawan hukum dan menimbulkan bahaya bagi tubuh, nyawa, dan kemerdekaan orang. Selain itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekerasan dijelaskan sebagai perbuatan yang menyebabkan cedera atau kematian pada orang lain atau kerusakan pada Dalam analisis ini, adeganadegan yang dipilih untuk dianalisis adalah adegan yang menggambarkan kekerasan fisik atau verbal, seperti ancaman, penyalahgunaan kekuatan, serta adegan yang menggambarkan perlakuan terhadap jenazah yang dianggap tidak layak atau tidak sesuai MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 dengan ajaran agama, terutama dalam hal penghormatan terhadap jenazah dalam agama Islam. Hal ini penting untuk dipahami karena tayangan seperti FTV Azab banyak menampilkan adegan yang menggambarkan siksa atau "azab" terhadap orang yang melakukan perbuatan zalim. Penafsiran terhadap adegan-adegan kekerasan ini juga dimaksudkan untuk mengungkap bagaimana pemirsa menafsirkan dan merespons pesan yang terkandung di dalamnya, baik dari segi moral, agama, maupun konteks kehidupan nyata. Adegan Pertama: Kekerasan Fisik dan Verbal Pada adegan pertama, karakter Satrio terlihat memarahi Dara karena mainannya berserakan. Kemarahan Satrio semakin memuncak hingga ia menyeret Dara dan mengurungnya di dalam kamar mandi sebagai bentuk Adegan ini jelas mengandung unsur kekerasan fisik, di mana Satrio menggunakan kekuatan tubuh untuk menekan Dara, seorang anak kecil, yang seharusnya dilindungi dan dididik dengan penuh kesabaran. Respons dari informan terhadap adegan ini bervariasi. Miati, seorang informan, menganggap hukuman yang diberikan oleh Satrio sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima, karena tindakan Satrio dianggap berlebihan hanya karena mainan yang berserakan. Titin berpendapat bahwa meskipun marah itu wajar, tindakan Satrio seharusnya tidak semestinya berakhir dengan kekerasan fisik, terlebih terhadap seorang anak. Ia juga mencatat bahwa sebagai orang dewasa. Satrio seharusnya bisa mengendalikan emosinya dengan cara yang lebih sabar, misalnya dengan mendiamkan diri terlebih dahulu atau berbicara dengan lembut kepada anaknya. Sebaliknya. Nur menekankan bahwa sebagai orangtua. Satrio seharusnya menjalankan fungsi pendidikan dengan baik, dan hal ini seharusnya dihadapi dengan cara yang lebih bijaksana daripada kekerasan fisik. Hidayat, yang juga mengkritik adegan ini, menyatakan bahwa orangtua tidak boleh mendidik dengan cara yang kasar, karena itu hanya akan merusak hubungan dengan anak. Hamzah bahkan Vol. 2 No. November 2024 menambahkan bahwa hukuman yang diberikan Satrio terlalu keras, dan sebagai orang tua, seharusnya memberi contoh yang baik bagi Adegan Kedua: Penelantaran Anak Pada adegan kedua. Satrio terlihat menelantarkan Fitri dan Dara di luar kota, meninggalkan mereka tanpa perlindungan dan perhatian. Tindakan ini kembali menunjukkan kekerasan dalam bentuk psikologis, yang juga sangat berbahaya bagi kesejahteraan mental anakanak tersebut. Miati menganggap tindakan Satrio sebagai hal yang sangat tidak Ia merasa kasihan terhadap anak-anak tersebut yang tidak mendapat perhatian dari orangtuanya. Nur, di sisi lain, merasa bahwa meskipun hal ini sangat buruk, tindakan semacam ini bisa saja terjadi di dunia nyata, karena tidak jarang ada orangtua yang tega melakukan tindakan ekstrem terhadap anak-anak mereka. Namun. Ami berpendapat bahwa hal semacam ini bisa dibicarakan dan diselesaikan dengan cara yang lebih baik, bukan dengan tindakan kekerasan atau penelantaran. Titin pun merasa bahwa adegan ini adalah salah satu yang paling aneh dan tidak masuk akal dalam cerita tersebut. Sementara Hidayat menyatakan ketidak setujuannya terhadap sikap Satrio yang jelas tidak bisa dibenarkan dalam alasan apapun. Hamzah berpendapat bahwa dalam kehidupan nyata, tindakan Satrio tidak akan terjadi begitu saja karena hal seperti ini tidak lazim dalam kehidupan sehari-hari, dan menganggapnya sebagai contoh perilaku yang salah. Adegan Ketiga: Kekerasan yang Mengarah pada Kematian Adegan ketiga dalam FTV Azab memperlihatkan Satrio mendorong Dara dengan kekuatan fisik yang menyebabkan Dara terjatuh dan Dalam penafsiran adegan ini. Miati mengungkapkan ketidakpercayaannya bahwa tindakan sepele seperti didorong bisa menyebabkan kematian. Ia merasa hal ini tidak masuk akal jika terjadi di MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 dunia nyata. Nur menganggap bahwa meskipun seorang ayah yang membunuh anaknya memang bisa ditemui dalam kehidupan nyata, adegan tersebut tetap tampak tidak rasional, karena hanya dengan didorong sedikit. Dara langsung meninggal. Nur berpendapat bahwa jika adegan tersebut digambarkan dengan lebih realistis, seharusnya Satrio melakukan tindakan yang lebih fatal agar kematian Dara bisa lebih diterima oleh logika. Titin, meskipun menganggap kematian Dara sebagai sesuatu yang wajar karena takdir Allah, tetap merasa bahwa penggambaran kematian tersebut terkesan dipaksakan. Ami juga merasa bahwa adegan tersebut sangat aneh, karena di dunia nyata seseorang yang terpeleset atau jatuh biasanya hanya akan terluka, bukan sampai Hidayat dan Hamzah juga sependapat bahwa adegan ini kurang masuk akal dan bisa dipertimbangkan untuk diubah agar lebih Adegan Keempat: Keranda Jenazah yang Terjatuh ke Sungai Adegan keempat menggambarkan keranda jenazah yang terjatuh dan hanyut ke dalam sungai setelah para pengantar jenazah terpeleset. Adegan ini juga disertai dengan kesan berlebihan, karena meskipun hal seperti itu bisa terjadi karena terpeleset, visual yang ditampilkan terasa berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Nur mengatakan bahwa kejadian ini bisa saja terjadi, tetapi penggambarannya terlalu dramatis dan tidak realistik. Miati merasa ngeri dan tidak nyaman melihat perlakuan terhadap jenazah yang tidak sesuai dengan ajaran agama, terutama dalam hal penghormatan terhadap jenazah dalam Islam. Sementara itu. Ami. Titin. Hidayat, dan Hamzah lebih merasa bahwa adegan ini tidak memberi kesan apa-apa, karena penggambarannya tidak terasa serius dan justru terasa seperti lelucon. Secara keseluruhan, keenam informan sepakat bahwa FTV Azab termasuk dalam genre religi yang berfokus pada ajaran agama Islam. Vol. 2 No. November 2024 terutama mengenai siksa Tuhan bagi mereka yang berbuat zalim. Meskipun ada beberapa elemen yang dianggap berlebihan, seperti penggambaran kekerasan dan reaksi yang tidak realistis, mereka tetap menerima tema utama tentang akibat dari perbuatan buruk yang ditampilkan dalam tayangan ini. Tema tentang azab dan siksa Tuhan dalam konteks keagamaan diterima sebagai sesuatu yang mungkin terjadi di dunia, meskipun cara penyampaiannya terlalu dramatis dan berlebihan. Keenam informan juga sepakat bahwa penokohan dalam FTV Azab, terutama tokoh protagonis dan antagonis, tergambar terlalu hitam-putih. Mereka menganggap bahwa tokoh Satrio, yang digambarkan sangat jahat, terlalu dilebihlebihkan dan tidak realistis. Meskipun ada pandangan bahwa orang dengan karakter seperti Satrio bisa saja ada di dunia nyata, mereka tetap merasa bahwa penggambaran semacam itu terlalu ekstrem. Amanat yang disampaikan, meskipun dianggap berlebihan dalam beberapa aspek, tetap mengandung nilai edukasi, yaitu pentingnya berbuat baik dan menjauhi perbuatan zalim agar terhindar dari azab Tuhan. Beberapa informan, seperti Miati dan Hidayat, menilai bahwa meskipun tayangan ini sering berlebihan, mereka lebih memilih FTV Azab dibandingkan acara televisi lain yang cenderung hanya menghibur tanpa memberikan pesan Nur berpendapat bahwa cara berlebihan ini memang sengaja dilakukan untuk membuat pesan agama lebih mudah dicerna, sementara Hamzah lebih kritis dan merasa bahwa tayangan semacam ini justru lebih banyak menampilkan sisi negatif dan kurang memberikan contoh yang Secara keseluruhan, pemirsa menunjukkan posisi negosiasi terhadap tayangan FTV Azab. Mereka menerima beberapa pesan positif yang terkandung dalam tema agama, tetapi menolak beberapa elemen cerita yang tidak realistis dan penggambaran kekerasan yang berlebihan. Pemirsa merasa bahwa meskipun tayangan ini memiliki niat baik dalam menyampaikan pesan moral dan agama, cara penyampaiannya kadangkadang terlalu dramatis dan tidak sesuai dengan kehidupan nyata. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 Sebagai hasilnya, tayangan ini dipahami sebagai bentuk hiburan yang bisa bermanfaat jika dipahami dengan bijaksana, namun tetap perlu perbaikan dalam penggambaran kekerasan dan karakter dalam cerita. Agama: Ruang Antara Ketakutan dan Harapan Keenam informan kunci berada dalam posisi negotiated reading, yaitu mereka menerima sebagian nilai moral yang disampaikan dalam tayangan tersebut, tetapi dengan sikap kritis terhadap cara Mereka menyadari bahwa film televisi tersebut memiliki tujuan komersial dan, meskipun dapat memberikan pendidikan moral, pengemasannya masih jauh dari ideal. Informan menganggap teknik sinematik yang digunakan dalam tayangan itu minim kreativitas dan skill, yang berpengaruh pada kepuasan mereka dalam menonton. Sebagai produk industri budaya. FTV Azab mengandung wacana kekerasan yang tidak hanya diekspresikan dalam adegan eksplisit, tetapi juga dalam bentuk ideologi yang tersembunyi. Pandangan ini sejalan dengan teori Michel Foucault tentang wacana, di mana wacana tidak hanya sebagai suatu bentuk komunikasi tetapi juga sebagai sistem yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak dalam masyarakat. Kekerasan menjadi sebuah wacana atau nalar yang digunakan untuk mengatasi masalah, menjadi solusi dalam mencapai tujuan tertentu. Kekerasan yang ditampilkan dalam FTV Azab ini dapat dianggap sebagai produk budaya yang tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga sebagai ideologi yang mendalam dalam (Eriyanto, 2. Menurut Foucault, wacana tidak hanya berfungsi sebagai penyebaran pengetahuan, tetapi juga sebagai pengatur hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Kekuasaan ini sering kali mengarah pada pembentukan norma atau kebijakan yang diterima secara luas, dan ketika wacana kekerasan terinternalisasi dalam masyarakat, ia berfungsi sebagai referensi dalam menghadapi masalah. Kekerasan bukan lagi dianggap Vol. 2 No. November 2024 sebagai hal yang salah, tetapi sebagai cara untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan persoalan. (Eriyanto, 2. Dalam konteks agama, kekerasan sering kali dikaitkan dengan fundamentalisme, ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Namun, penting untuk memisahkan antara istilah-istilah ini karena masing-masing memiliki makna yang berbeda dan tidak bisa digunakan sembarangan. Radikalisme, misalnya, adalah paham yang berusaha mengubah kondisi sosial secara cepat dan sering menggunakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. (Idris et al. , 2. Hal ini berkaitan dengan apa yang disebut oleh Yusuf Qardhawi sebagai sifat-sifat yang menunjukkan radikalisasi, seperti fanatisme berlebihan, keras terhadap orang lain, dan mengkafirkan mereka yang berbeda pandangan. (Qaradawi, 2. Salah satu bentuk fanatisme yang melahirkan ekstremisme adalah klaim kebenaran absolut, yang menganggap bahwa pemahaman agama yang dimiliki adalah satu-satunya yang benar. Hal ini bisa memicu kekerasan dan pengucilan terhadap mereka yang dianggap berbeda. Konsep ini sejalan dengan pandangan bahwa kekerasan dalam FTV Azab sering kali berakar pada narasi "pembalasan". Dalam tayangan ini, orang yang berbuat jahat akan mendapatkan balasan yang setimpal, dan hukuman Tuhan ditunjukkan melalui berbagai peristiwa yang dramatis. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana wacana "pembalasan" bisa memperkuat keyakinan pada keadilan Tuhan, tetapi juga bisa mengarah pada simplifikasi pemikiran tentang kebaikan dan kejahatan. Namun, sebagian informan seperti Hidayat dan Miati menolak konstruksi wacana ini. Mereka tidak setuju jika keyakinan seseorang dalam beragama hanya berdasarkan harapan akan pahala atau takut pada neraka. Menurut mereka, beragama harus didasari oleh keikhlasan untuk Tuhan, bukan semata-mata karena imingiming balasan. Hidayat misalnya, berpendapat bahwa jika seseorang beriman hanya untuk mendapatkan MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 surga atau menghindari neraka, maka hal tersebut bisa jatuh pada kemusyrikan, yaitu menjadikan surga atau neraka sebagai tujuan utama daripada beribadah kepada Tuhan. Sebagian besar informan juga menekankan bahwa kekerasan sebagai metode "pembalasan" tidak dapat diterima dalam masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan. Mereka mengingatkan bahwa pembalasan adalah hak prerogatif Tuhan, dan bukan wewenang manusia untuk menjatuhkan hukuman kepada sesama. Dalam pandangan mereka, kehidupan sosial harus diatur oleh hukum yang berlaku, bukan oleh narasi kekerasan yang bisa merusak moralitas. Meskipun demikian, beberapa informan merasakan bahwa ketakutan terhadap azab bisa menjadi pendorong dalam beribadah. Nur, misalnya, mengakui bahwa tayangan atau cerita tentang siksa Tuhan dapat membuatnya lebih rajin beribadah, meskipun pada akhirnya rasa takut tersebut bisa mengendur dan mengurangi motivasi. Miati, di sisi lain, berpendapat bahwa agama lebih berfungsi sebagai sumber harapan di tengahtengah ketakutan akan kiamat dan kehancuran dunia. Agama memberi panduan hidup, mengatasi kecemasan, dan memberikan Pentingnya agama sebagai pedoman hidup dan sumber harapan ini juga disampaikan oleh Hamzah dan Titin, yang menganggap bahwa agama harus mampu memberikan motivasi positif dan keseimbangan antara ketakutan dan harapan. Mereka merasa bahwa FTV Azab dengan pendekatannya yang lebih menekankan sisi kekerasan dan "pembalasan" bisa menutupi pesan moral yang seharusnya bisa disampaikan. Sebaliknya, agama sebagai pedoman hidup harus menonjolkan sisi kemanusiaan, kebaikan, dan kasih sayang, sehingga bisa lebih memotivasi orang untuk menjadi lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Vol. 2 No. November 2024 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis terhadap tayangan FTV Azab dan respons para informan, dapat disimpulkan bahwa film televisi ini membangun wacana yang sangat kuat mengenai konsep kekerasan, balasan, dan ketakutan sebagai landasan moral dalam beragama. Wacana tersebut sering kali mengedepankan narasi hitamputih yang simplistik, di mana kebaikan akan mendapat pahala dan kejahatan akan dibalas dengan azab, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep "pembalasan" ini tidak hanya terlihat secara fisik dalam adegan kekerasan yang ditampilkan, tetapi juga terbentuk sebagai wacana yang membentuk cara berpikir masyarakat, khususnya dalam menghadapi persoalan moral dan sosial. Namun, meskipun FTV Azab memiliki daya tarik bagi sebagian orang, tidak semua informan menerima narasi tersebut secara utuh. Sebagian informan, seperti Hidayat. Miati, dan lainnya, menolak pendekatan yang mengedepankan balasan sebagai alasan utama dalam Mereka menganggap bahwa beragama seharusnya didasari oleh keikhlasan dan pengabdian kepada Tuhan, bukan karena harapan akan surga atau ketakutan akan neraka. Mereka juga menekankan bahwa konsep pembalasan adalah hak prerogatif Tuhan, bukan wewenang manusia untuk menentukan hukuman atas perbuatan orang lain. Dari perspektif ini, terlihat bahwa tayangan tersebut mengabaikan kompleksitas dan nuansa dalam ajaran agama, terutama yang berkaitan dengan keikhlasan, kebaikan, dan pengertian terhadap kesalahan atau kekurangan orang lain. Informan lebih mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalankan ajaran agama, dan mereka mengharapkan media agama yang mampu memberikan pesan yang lebih membangun, memberikan harapan, dan menyeimbangkan ketakutan dengan kasih sayang serta motivasi positif. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 2 No. 2 November 2024 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 Dengan demikian. FTV Azab dan tayangan sejenis yang menonjolkan konsep kekerasan dan pembalasan, meskipun bisa memberikan dampak dalam mendorong ketaatan sementara, pada akhirnya cenderung mereduksi dimensi agama yang lebih dalam dan Oleh karena itu, penting bagi media religi untuk lebih memperhatikan pengemasan pesan yang dapat menyentuh hati dan memberikan motivasi moral yang lebih positif dan inklusif, daripada hanya mengedepankan narasi kekerasan yang cenderung memperkuat stereotip negatif dan fanatisme. Daftar Pustaka