TE DEUM: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan Volume 15. Nomor 1 (Desember 2. : 77-89 ISSN 2252-3871 . , 2746-7619 . http://ojs. id/index. php/tedeum/index DOI: https://doi. org/10. 51828/td. Submitted: 2 Mei 2025 Accepted: 22 Desember 2025 Published: 30 Desember 2025 PENDIDIKAN KRISTIANI TRANSFORMATIF DALAM KONTEKS INDONESIA: SINTESIS PEMIKIRAN WESLEY. FREIRE DAN CHRISTIANI TRANSFORMATIVE CHRISTIAN EDUCATION IN THE INDONESIAN CONTEXT: A SYNTHESIS OF THE THOUGHT OF WESLEY. FREIRE. AND CHRISTIANI Apriani Magdalena Sibarani,1* Tabita Kartika Christiani,1 Jozef M. Hehanussa1 Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta. Indonesia *ma2grangel@gmail. ABSTRACT This paper explores the development of transformative Christian education within the context of the Methodist Education in Indonesia by integrating the thoughts of John Wesley. Paulo Freire and Tabita Christiani. Transformative Christian education aims to nurture personal faith while fostering social transformation, considering Indonesia's multireligious context. John Wesley emphasized morally grounded education for individual and societal transformation. Paulo Freire highlighted the importance of conscientization through liberative education. Tabita Christiani developed peace education approaches relevant to Indonesia's religious diversity. This study analyzes the educational approaches of these three figures to formulate a transformative Christian education model at SMA Methodist 1 Medan. This research uses a qualitative method with a conceptual-comparative analysis approach to the thoughts of John Wesley. Paulo Freire and Tabita Christiani, as well as a case study at Medan Methodist 1 High School. Data was collected through curriculum document study, education policy analysis, and participatory observation. The findings reveal that transformative education goes beyond knowledge transfer, focusing on character formation and Christian values relevant to current social challenges. This model is expected to empower individuals to actively contribute to societal transformation toward justice and peace. Key phrases: Christian education. Methodist. Indonesia. ABSTRAK Penelitian ini membahas pengembangan pendidikan Kristiani transformatif dalam konteks Pendidikan Methodist di Indonesia dengan mengintegrasikan pemikiran John Wesley. Paulo Freire dan Tabita Christiani. Pendidikan Kristiani transformatif bertujuan untuk membentuk iman pribadi sekaligus mendorong transformasi sosial, dengan mempertimbangkan konteks multireligius di Indonesia. John Wesley menekankan pendidikan berbasis moral untuk transformasi individu dan masyarakat. Paulo Freire menggarisbawahi pentingnya penyadaran . melalui pendidikan pembebasan. Tabita Christiani mengembangkan pendekatan pendidikan perdamaian yang relevan dengan keberagaman agama di Indonesia. Studi ini menganalisis pendekatan pendidikan ketiga tokoh tersebut untuk merumuskan model pendidikan Kristiani transformatif di SMA Methodist 1 Medan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konseptual-komparatif terhadap pemikiran John Wesley. Paulo Freire dan Tabita Christiani, serta studi kasus di SMA Methodist 1 Medan. Data dikumpulkan melalui studi dokumen kurikulum, analisis kebijakan pendidikan, dan observasi partisipatif. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan transformatif tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan nilai-nilai Kristiani yang relevan dengan tantangan sosial saat ini. Model ini diharapkan mampu memberdayakan individu untuk berkontribusi aktif dalam transformasi masyarakat menuju keadilan dan Frase kunci: pendidikan Kristen. Methodist. Indonesia. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 78 | PENDIDIKAN KRISTIANI TRANSFORMATIF DALAM KONTEKS INDONESIA PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun hubungan manusia dengan Tuhan, sesama dan lingkungan, yang diharapkan dapat berkontribusi pada keadilan, perdamaian dan kesejahteraan ciptaan. Dalam konteks Gereja Methodist Indonesia (GMI), pendidikan telah menjadi bagian integral dari misi Namun, pendekatan pendidikan yang diterapkan cenderung berfokus pada pengembangan iman pribadi tanpa memberikan perhatian yang cukup pada transformasi sosial dan konteks multireligius di Indonesia. Hal ini tercermin, misalnya, dalam kegiatan pembelajaran yang lebih menekankan hafalan ayatayat dan nilai-nilai moral individual, namun belum secara konsisten mengaitkannya dengan realitas sosial seperti kemiskinan, intoleransi agama atau ketidakadilan struktural yang dihadapi masyarakat. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pendidikan yang lebih transformatif untuk menjawab tantangan tersebut. Dalam wacana akademik, pendidikan agama kini bergerak ke arah model transformatif yang tidak hanya menekankan pada pewarisan doktrin, tetapi juga mengintegrasikan pembentukan kesadaran kritis, spiritualitas dan aksi sosial. Freire melalui konsep conscientization menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peran sentral dalam membebaskan kelompok tertindas melalui refleksi kritis atas realitas sosial. Indonesia. Christiani merekomendasikan model pendidikan yang aplikatif dalam konteks masyarakat Namun demikian, pendekatan yang menggabungkan pemikiran ketiganya Wesley. Freire dan Christiani belum banyak dikembangkan secara eksplisit, khususnya dalam pendidikan Kristen di lembagalembaga Methodist. Inilah celah teoretis dan praktis yang coba dijembatani dalam penelitian ini. Kajian literatur menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan transformatif memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan pembentukan iman pribadi dan transformasi sosial. John Wesley, sebagai pendiri Methodist, menekankan pembentukan iman pribadi yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap transformasi sosial. 1 Paulo Freire mengembangkan pendidikan pembebasan yang berorientasi pada penyadaran . 2 Tabita Christiani mengusulkan model pendidikan perdamaian yang relevan dengan keberagaman agama di Indonesia. 3 Ketiga pendekatan ini menawarkan kerangka konseptual yang dapat memperkaya pengembangan pendidikan Kristiani transformatif di Methodist secara khusus dan konteks Indonesia secara umum. Pendidikan Kristiani transformatif telah menjadi subjek penelitian yang berkembang dalam konteks Indonesia, dengan beberapa studi sebelumnya memberikan landasan konseptual dan praktis. Penelitian Christiani menekankan peran Pendidikan Agama Kristen sebagai instrumen transformasi sosial melalui pendekatan rekonsiliasi dan etika sosial. Selanjutnya. Rumahuru dalam penelitiannya mengkritik praktik pendidikan agama eksklusif yang gagal membentuk sikap inklusif peserta didik. Solusi yang ditawarkan berupa model pendidikan agama berbasis kesadaran keberagaman, yang sejalan dengan temuan tentang pentingnya pendekatan kontekstual dalam pembelajaran agama. Penelitian ini menyoroti aspek kognitif tanpa menyentuh transformasi perilaku moral secara sistematis. Penelitian yang dilakukan Gaudiawan dkk . mengidentifikasi potensi pergeseran paradigma pendidikan Katolik dari monoreligius ke interreligius, sekaligus mengungkap tantangan seperti keterbatasan kreativitas guru dan dukungan kebijakan. 5 Temuan ini memperkuat kebutuhan akan model pendidikan yang mengintegrasikan dimensi spiritual dengan keterampilan praktis. Berkenaan dengan itu, maka penelitian yang saya lakukan mengintegrasikan pendekatan tiga tokoh dalam abad dan konteks yang berbeda yaitu John Wesley . embentukan karakte. Paulo Freire . onsientisasi kriti. , dan Christiani . endidikan perdamaia. yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini menawarkan kerangka dialektis yang menghubungkan spiritualitas Kristen dalam tradisi Wesleyan dengan praksis edukatif dalam konteks multireligius Indonesia. Kebaruan ilmiah dari penelitian ini terletak pada integrasi pemikiran ketiga tokoh tersebut untuk merumuskan model pendidikan Kristiani transformatif yang tidak hanya membentuk iman pribadi tetapi juga memberdayakan individu dalam 1 Gregory Clapper. John Wesley On Religious Affections: His views on experience and emotion and their role in the Christian life and theology (The Scarecrow Press, 1. 2 Paulo Freire. Pedagogi Hati (Kanisius, 2. 3 Tabita K Christiani. AuBlessed Are The Peacemakers: Christian Religious Education For Peacebuilding In The Pluralistic Indonesian Context,Ay preprint. Institute of Religious Education and Pastoral Ministry, 2005. 4 Yance Z. Rumahuru. AuPendidikan agama inklusif sebagai fondasi moderasi beragama: Strategi merawat keberagaman di Indonesia,Ay KURIOS 7, no. , https://doi. org/10. 30995/kur. 5 Antonius Virdei Eresto Gaudiawan. AuModify Indonesian Catholic Religious Education frommono-religious to interreligious education,Ay Journal Of Asian Orientation In Theology, 2023. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. APRIANI MAGDALENA SIBARANI. TABITA KARTIKA CHRISTIANI. JOZEF M. N HEHANUSSA | 79 transformasi sosial. Model ini dirancang untuk konteks multireligius Indonesia, menjadikannya relevan bagi tantangan lokal sekaligus global. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengembangkan model pendidikan Kristiani transformatif di Indonesia dengan mengambil lokus penelitian di SMA Methodist 1 Medan. Model pendidikan yang direkomendasikan diharapkan mampu memberdayakan peserta didik untuk menghayati iman mereka secara mendalam dan berkontribusi aktif dalam transformasi masyarakat menuju keadilan dan perdamaian. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konseptual dan 6 Pendekatan kualitatif digunakan karena sesuai untuk mengeksplorasi makna, pengalaman dan ide-ide filosofis dalam konteks pendidikan. 7 Analisis konseptual dan komparatif diterapkan sebagaimana dijelaskan oleh Prayitno, bahwa dalam studi pendidikan normatif, pendekatan ini berguna untuk menelaah dan membandingkan pemikiran tokoh guna membangun model yang lebih relevan secara kontekstual. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka terhadap karya-karya John Wesley. Paulo Freire, dan Tabita Christiani, serta dokumen-dokumen terkait pendidikan Kristiani transformatif dan pendidikan Methodist di Indonesia. Proses penelitian dilakukan dalam beberapa tahap: Pertama, analisis konseptual terhadap pemikiran pendidikan dari John Wesley. Paulo Freire dan Tabita Christiani. Kedua, komparasi pendekatan pendidikan ketiga tokoh tersebut untuk mengidentifikasi elemen-elemen kunci dalam pengembangan pendidikan Kristiani transformatif. Ketiga, eksplorasi konteks pendidikan Methodist di Indonesia, dengan fokus pada SMA Methodist 1 Medan sebagai studi kasus. Keempat, sintesis konsep pendidikan Kristiani transformatif yang relevan untuk konteks Indonesia berdasarkan hasil analisis dan Analisis data dilakukan secara induktif, dengan mengidentifikasi tema-tema utama dari pemikiran ketiga tokoh dan mengintegrasikannya ke dalam kerangka pendidikan Kristiani transformatif yang Metode eksposisi digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep kunci dari masing-masing tokoh, sementara metode deduktif diaplikasikan dalam merumuskan implikasi praktis dari model pendidikan yang diusulkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Gagasan Pendidikan Kristiani Transformatif Gagasan pendidikan Kristiani untuk transformasi sosial mempunyai akar sejarah yang dimulai sebagai reaksi terhadap gerakan kebangkitan yang menekankan pertobatan pribadi pada awal abad kedua puluh di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, ketegangan ini menimbulkan perdebatan tentang apakah pendidikan agama menekankan pada transformasi sosial atau pembentukan keimanan pribadi. George Albert Coe, seorang perintis teori pendidikan agama modern, adalah orang pertama yang memusatkan perhatian pada isu ini dengan mengakui bahwa baik keyakinan individu maupun reformasi sosial adalah hal yang penting. Coe melihat pendidikan sebagai sarana rekonstruksi masyarakat. Oleh karena itu. Coe menekankan pentingnya interaksi sosial dan menentang penekanan hanya pada unsur individu dalam proses pendidikan. Maksudnya adalah, meskipun pengalaman pribadi berharga dan pertumbuhan individu penting, pendidikan harus juga memperhatikan kebutuhan masyarakat. Pertumbuhan individu tidak mungkin terjadi tanpa adanya rekonstruksi masyarakat di mana individuindividu tersebut berpartisipasi. Tujuan pendidikan untuk memampukan seseorang atau sekelompok orang mengambil tanggung jawab atas tatanan sosial di mana mereka menjadi bagiannya. Coe mengakui bahwa baik keyakinan individu maupun reformasi sosial adalah hal yang penting, namun dalam realitanya yang satu akan selalu lebih menonjol dibandingkan yang lain dalam teori dan Maulinas Maulinas dkk. AuStudi Komparatif Implementasi Manajemen Mutu Sekolah Berfokus Pada Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan di SMP Negeri Pada Kecamatan Labuhanhaji Timur Kabupaten Aceh Selatan,Ay Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development 6, no. : 1169Ae77, https://doi. org/10. 38035/rrj. Marinu Waruwu. AuPendekatan Penelitian Pendidikan: Metode Penelitian Kualitatif. Metode Penelitian Kuantitatif dan Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Metho. ,Ay Jurnal Pendidikan Tambusai 7, no. : 2896Ae910. 7 John W. Creswell dan John W. Creswell. Qualitative inquiry & research design: choosing among five approaches, 2nd ed (Sage Publications, 2. 8 Prayitno. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan (Grasindo, 2. 9 George Albert Coe. A Social Theory of Religious Education (Charles ScribnerAos Sons, 1. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 80 | PENDIDIKAN KRISTIANI TRANSFORMATIF DALAM KONTEKS INDONESIA praktik pendidikan agama. Pendekatan pendidikan tertentu cenderung memberi tekanan pada pengembangan keagamaan pribadi atau pembentukan keyakinan dibandingkan pada reformasi masyarakat atau realisasi sosial umat manusia. Berdasarkan observasi awal terhadap silabus Pendidikan Agama Kristen di sekolah Methodist 1 Medan di Sumatera Utara, terlihat adanya indikasi bahwa penekanan dalam pembelajaran masih dominan pada aspek pembentukan iman pribadi. Kegiatan yang mendorong refleksi sosial atau aksi nyata terhadap isu-isu keadilan masih jarang ditemukan secara sistematis. Meskipun ini belum mewakili seluruh sekolah Methodist, indikasi ini menunjukkan pentingnya kajian lebih lanjut terhadap pendekatan pendidikan yang Inilah yang melatarbelakangi pentingnya untuk mengeksplorasi pengembangan pendidikan kristiani Allen Moore menguraikan bahwa transformasi sosial menjadi perhatian utama dalam pendekatan pendidikan agama terkini. Pendidikan di sini bukan sekedar mempelajari kepercayaankepercayaan masa lalu atau melestarikan tradisi generasi berikutnya, namun mencakup rekonstruksi warisan dalam kaitannya dengan tujuan-tujuan sosial masa kini dan masa depan serta merumuskan keyakinan- keyakinan dan nilai-nilai baru untuk mengabdi pada masyarakat yang sedang dalam proses Berkenaan dengan itu, dalam penelitian ini gagasan pendidikan kristiani transformatif yang dikembangkan akan memanfaatkan pemikiran ketiga tokoh ini, yaitu John Wesley melalui pembentukan iman pribadi dan pendidikan yang inklusif bagi semua orang. 11 Paulo Freire yang menekankan pentingnya penyadaran dan memberikan ruang bagi pengalaman dari orang-orang dalam proses transformasi. 12 Tabita Christiani yang memberikan perhatian terhadap pembentukan iman dan transformasi sosial secara bersamaan dengan memperhatikan konteks multireligius di Indonesia. Ketiga tokoh ini membawa kekuatan yang saling melengkapi: Wesley menekankan transformasi spiritual melalui pembentukan karakter dan iman pribadi yang mendalam. Freire menyoroti pentingnya kesadaran kritis dan pendidikan sebagai alat pembebasan struktural. sementara Christiani mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut ke dalam konteks Indonesia yang multireligius, dengan menambahkan dimensi dialog lintas agama dan perdamaian. Jika disinergikan, pemikiran ketiganya dapat menghasilkan model pendidikan Kristiani transformatif yang utuh. yang mengakar pada iman, menyadari struktur sosial yang timpang, dan bersikap terbuka terhadap pluralitas. Pendekatan Pendidikan sma methodist 1 Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan pada umumnya dihubungkan dengan visi dan misi satuan pendidikan. Dalam kurikulum operasional satuan pendidikan (KOSP) sekolah diuraikan bahwa SMA Methodist 1 medan memiliki visi sebagai berikut: sekolah yang mampu mewujudkan peserta didik yang berkarakter kristiani dan profil Pancasila, unggul dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Visi ini secara spesifik memuat nilai dan karakter Kristiani dan profil pelajar pancasila. Untuk menguatkan nilai tersebut para pendiri sekolah melukiskan nilai kristiani tersebut dalam logo sekolah yaitu: adanya keseimbangan . egitiga sama sis. antara akal budi . ecerdasan intelektual dan berkarakter bai. , sehat jasmani dan rohani . esehatan secara fisik, mental dan spiritua. Tujuan sekolah diuraikan sebagai berikut: menghasilkan lulusan yang menganut nilai-nilai kekristenan yaitu beriman, bertakwa, berakal budi, sehat jasmani dan rohani. Menghasilkan lulusan yang menganut nilai-nilai Pancasila yaitu berkebinekaan global, kreatif, mandiri, bernalar kritis dan bergotong Menghasilkan lulusan yang berbudaya luhur. Menghasilkan lulusan yang unggul dan mampu bersaing masuk ke perguruan tinggi negeri dan swasta pilihan. Menghasilkan lulusan yang memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi untuk menjadi calon-calon pemimpin di masa yang akan datang. 10 Thomas Groome. Sharing Faith: A Comprehensive Approach to Religious Education and Pastoral Ministry: The Way of Shared Praxis (Harper San Francisco, 1. 11 Clapper. John Wesley On Religious Affections: His views on experience and emotion and their role in the Christian life and theology. 12 Paulo Freire. Pendidikan Kaum Tertindas (LP3ES, 1. 13 Christiani. AuBlessed Are The Peacemakers: Christian Religious Education For Peacebuilding In The Pluralistic Indonesian Context. Ay 14 AuKOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidika. SMA Swasta Methodist-1 Medan tahun pelajaran 2023/2024,Ay 2023, 10. 15 AuKOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidika. SMA Swasta Methodist-1 Medan tahun pelajaran 2023/2024,Ay Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. APRIANI MAGDALENA SIBARANI. TABITA KARTIKA CHRISTIANI. JOZEF M. N HEHANUSSA | 81 Dalam kerangka pendidikan transformatif, tujuan tersebut seharusnya mencerminkan pergeseran dari pendekatan normatif ke praksis yang mengintegrasikan pembentukan iman pribadi, penyadaran kritis, dan keberpihakan sosial. Dalam hal ini, integrasi nilai-nilai Kristiani tidak semata diturunkan dari dogma atau visi institusional, melainkan dikontekstualisasikan untuk menjawab tantangan-tantangan keadilan sosial dan pluralisme di Indonesia. Hal ini sejalan dengan pendekatan Freire tentang pendidikan sebagai pembebasan serta Christiani yang menekankan pentingnya pembelajaran dari realitas sosial yang plural. Isi Pendidikan Tahun ajaran 2023/2024 merupakan tahun kedua SMA Methodist 1 menerapkan kurikulum merdeka dan sekaligus menerapkan 2 kurikulum dalam tahun ajaran berjalan. Kurikulum 2013 masih dilanjutkan untuk peserta didik kelas XII, sedangkan kurikulum merdeka diterapkan di kelas X dan XI. Dalam pelaksanaannya, kedua kurikulum tersebut memiliki perbedaan, baik struktur, kegiatan, penilaian/asesmen, projek dan sebagainya. Untuk tahun ini pengorganisasian pembelajaran di kelas X fase E dan kelas XI fase F disusun berdasarkan kurikulum merdeka sedangkan untuk kelas XII masih berdasarkan kurikulum 2013. Dalam melaksanakan pendidikan ada tiga kegiatan pokok yang merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pendidikan. yaitu ekstrakurikuler, intrakurikuler dan kokurikuler. Intrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas atau ruang belajar sesuai dengan alokasi waktu dan struktur kurikulum yang dipakai, meliputi kegiatan belajar mengajar, ujian atau asesmen, remedial dan pengayaan, dll. Kokurikuler merupakan projek sebagai bagian pembelajaran dalam kurikulum merdeka untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu pelajar pancasila. Kegiatan projek P5 dilakukan diluar kegiatan intrakurikuler atau pelaksanaannya melalui pembelajaran kokurikuler. Ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan yang dilakukan diluar jam pelajaran, baik dilakukan dalam lingkungan sekolah atau diluar lingkungan sekolah dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan, ketrampilan dan wawasan serta membantu membentuk karakter peserta didik sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Kegiatan ekstrakurikuler di SMA Swasta Methodist 1 Medan sebagai bagian penting pembentukan profil pelajar pancasila dan karakter kepemimpinan sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Dalam Fase E (Kelas X). Capaian Pembelajaran (CP) Mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen Protestan dan Budi Pekerti yang diharapkan adalah agar peserta didik bertumbuh sebagai manusia dewasa secara holistic, baik secara biologis, sosial maupun spiritual dan keyakinan iman. Sejalan dengan pertumbuhan menjadi dewasa, maka peserta didik memiliki hidup baru dalam Kristus. Menjadi manusia baru dibuktikan dengan cara mengembangkan kesetiaan, kasih, keadilan dan bela rasa terhadap sesama serta memiliki perspektif baru terhadap pemeliharaan dan perlindungan terhadap alam. Sementara pada fase F (Kelas XI dan XII) para peserta didik diharapkan terus berproses menjadi lebih dewasa terutama dalam menjalankan tanggung jawab sosial kemasyarakatan. Metode Pendidikan Pembiasaan merupakan salah satu metode pengembangan karakter peserta didik yang dilakukan dengan membiasakan perilaku positif tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pembiasaan di sekolah yang melibatkan unsur intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler ini terdiri dari kegiatan spontan, rutin, keteladanan dan terprogram. Berkenaan dengan ini, sekolah memilih tema dari 7 tema untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) yang telah ditentukan oleh pemerintah sebagaimana tertuang dalam Kepmen No. 56 tahun 2022. Dari tema yang dipilih kemudian ditetapkan 3 tema untuk kelas X dan 2 tema untuk kelas XI. Pemilihan tema dilakukan berdasarkan hasil rapat dewan guru pada hari jumat tanggal 04 Agustus 2023 dan masukan dari peserta didik. Kemudian dari tema yang dipilih ditentukan elemen dan sub elemen untuk merancang tujuan projek dan kegiatan . projek, sebagaimana dalam Keputusan Kepala Badan Standar. Kurikulum dan Asesmen Pendidikan No. 009 tahun 2022 tentang dimensi, elemen dan subelemen profil pelajar pancasila pada kurikulum merdeka. 45 Hal ini memperlihatkan bahwa dalam proses pendidikan di PKMI 1 diberikan ruang untuk para siswa berpartisipasi dan juga berdialog dengan para guru. Berkenaan dengan pendekatan transformatif yang menekankan pentingnya keadilan sosial dan aksi Dokumen yang ada menunjukkan bahwa meskipun sekolah menekankan nilai-nilai Kristiani, belum terdapat elaborasi yang jelas mengenai sejauh mana SMA Methodist 1 Medan secara aktif mendorong siswa untuk terlibat dalam isu-isu keadilan sosial di masyarakat sekitar mereka. Ketiadaan informasi spesifik mengenai program atau kegiatan yang secara khusus dirancang untuk mengembangkan kesadaran dan Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 82 | PENDIDIKAN KRISTIANI TRANSFORMATIF DALAM KONTEKS INDONESIA keterampilan siswa dalam memperjuangkan keadilan merupakan area yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Sumbangsih Dialog John Wesley-Paulo Freire-Tabita Christiani Bagi Pendidikan Methodist Masa Kini Ketiga tokoh pendidikan dalam penelitian ini memberikan perhatian penting terhadap pendidikan dalam konteks yang berbeda dan dengan pendekatan pendidikan yang tidak persis sama. John Wesley dalam konteks Inggris abad ke-18 dengan berbagai dinamikanya. Paulo Freire dalam konteks Brazil abad ke-20 dan Tabita Christiani dalam konteks Indonesia abad ke-21. Dalam bagian ini, saya mencoba mendialogkan ketiga pendekatan tokoh pendidik tersebut dengan konteks PKMI untuk merekomendasikan pendidikan kristiani Transformatif bagi pendidikan Methodist di Indonesia. Pendekatan John Wesley terhadap pendidikan dilatarbelakangi keyakinannya bahwa ada kebutuhan untuk menyelamatkan individu dari kemerosotan moral. Ia memberikan penekanan bahwa pendidikan bertujuan untuk perkembangan iman dan transformasi spiritual dengan harapan bahwa itu akan dapat mempengaruhi atau mengubah masyarakat. Titik tolak pendidikan yang dikembangkan Wesley adalah manusia yang berdosa. Wesley percaya bahwa pendidikan perlu untuk menuntun pada pertobatan dan Hal ini berangkat dari pemahamannya bahwa manusia itu berdosa. Pengajaran ibunya dan pietisme yang ia pelajari dari orang-orang Moravia sangat mempengaruhi antropologinya, yang menjadi dasar pendekatan pendidikannya. Ia berpendapat bahwa kejatuhan manusia telah menghancurkan Augambaran moral AllahAy dalam umat manusia dan hal ini secara langsung berdampak pada hubungan kita dengan Allah. Oleh karena itu. Wesley memahami bahwa pendidikan berkontribusi pada pemulihan umat manusia yang berdosa. Baginya tujuan dan titik awal semua pendidikan adalah koreksi sifat manusia yang Kelemahan dari pendekatan pendidikan Wesley adalah ia kurang menyadari fakta bahwa individu adalah makhluk sejarah yang dibentuk oleh konteks dan struktur sosial masyarakat tempat mereka tinggal, sehingga untuk mentransformasikannya kita perlu melakukan transformasi masyarakat juga. Pendekatan pendidikan Wesley bermanfaat dalam pertumbuhan intelektual dan spiritual masyarakat miskin dan juga budak pada masa itu, namun pendidikan tersebut tidak mendorong mereka untuk memperjuangkan emansipasi mereka. Dengan demikian penting untuk menambahkan unsur dari pendekatan pendidikan Paulo Freire. Pendekatan pendidikan Paulo Freire diperlukan karena dalam pendekatannya ia menunjukkan bahwa pemahaman kritis terhadap realitas sejarah yang berdampak pada masyarakat diperlukan agar pendidikan bersifat pembebasan. Mengubah orang secara spiritual tanpa mengubah konteksnya tidak akan menyelesaikan masalah. Manusia bergantung pada masyarakat namun masyarakat juga bergantung pada individu dan dialektika ini perlu dikedepankan. Dalam hal ini, pendekatan Christiani yang muncul dari konteks Indonesia menambahkan elemen penting dalam dialog terhadap pendekatan pendidikan Wesley. Christiani juga mempertimbangkan konteks sejarah yang turut membentuk masyarakat yang ada dengan menganalisa aspek sosial, ekonomi dan politik. Artinya tidak hanya focus kepada perkembangan spiritual tetapi juga AumembedahAy sistem masyarakat yang ada untuk mewujudkan transformasi sosial. Menurut Tabita penting pertumbuhan iman dan transformasi sosial, keduanya tidak terpisahkan. Pendidikan keagamaan untuk transformasi sosial tidak hanya bertujuan pada perubahan struktur yang tidak adil dalam politik, masyarakat, dan ekonomi. Pendidikan Agama untuk transformasi sosial berkaitan dengan manusia: bagaimana membantu mereka bertumbuh dalam iman, sehingga mereka akan bertumbuh dan lebih terlibat dalam kehidupan sosial untuk mengubah masyarakat yang tidak adil. Dalam Pendidikan Agama Kristen pembentukan pribadi dalam iman Kristen dan komitmen terhadap transformasi sosial saling bahu membahu, saling mendukung satu sama lain. Oleh karena itu. Pendidikan Agama Kristen untuk transformasi sosial berkaitan dengan pembentukan iman pribadi dan kesadaran serta keterlibatan sosial. Terlalu banyak penekanan pada pembentukan iman dapat berakibat buruk pada kesalehan pribadi, yang tidak kritis terhadap dunia yang tidak adil. Sebaliknya jika terlalu banyak penekanan pada kemampuan manusia yang optimis untuk mengubah ketidakadilan struktural, tanpa pembentukan keimanan pribadi, pendidikan agama menjadi sekedar kegiatan humanis. Paulo Freire, seorang pendidik dan filsuf asal Brasil, dikenal luas melalui kontribusinya terhadap pendidikan pembebasan . iberative educatio. Dalam karya terkenalnya Pedagogy of the Oppressed . Freire menolak model pendidikan Augaya bankAy . anking educatio. , di mana guru dianggap sebagai 16 John Coffey, ed. Heart religion: evangelical piety in England and Ireland, 1690-1850. First edition (Oxford University Press. Freire. Pedagogi Hati. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. APRIANI MAGDALENA SIBARANI. TABITA KARTIKA CHRISTIANI. JOZEF M. N HEHANUSSA | 83 pemilik pengetahuan yang AomenabungkanAo isi pelajaran ke dalam pikiran murid. Model ini, menurut Freire, melanggengkan relasi kuasa dan menindas potensi kritis peserta didik. Sebagai gantinya. Freire mengembangkan model pendidikan dialogis dan problem-posing, di mana peserta didik dilibatkan secara aktif dalam menganalisis dan mengubah dunia mereka. Pendidikan bagi Freire adalah proses AukonsientisasiAy . Ae yakni, pembangkitan kesadaran kritis terhadap realitas sosial, ekonomi, dan politik yang menindas. Pendidikan harus menjadi alat untuk emansipasi, bukan dominasi. Dalam hal ini. Freire melihat pendidikan bukan sebagai transmisi doktrin tetapi sebagai proses transformasi sosial melalui dialog yang horizontal antara pendidik dan peserta didik. Freire juga menyadari pentingnya hubungan antara iman dan Dalam karya Pedagogi Hati, ia menekankan bahwa pendidikan tidak netral secara nilai. proses pendidikan selalu berpihak, dan dalam konteks Kristen, keberpihakan itu harus kepada kaum marginal dan tertindas. Dalam dialog ini, pemikiran Freire memperkuat dimensi pembebasan struktural dan kesadaran politik dalam pendidikan Kristiani. Bila Wesley menekankan perubahan individu dan Christiani menggabungkan dialog lintas iman dalam konteks Indonesia. Freire menyumbangkan dimensi radikaltransformasional: bahwa keadilan sosial hanya dapat dicapai bila peserta didik memiliki kemampuan untuk membaca realitas secara kritis dan bertindak untuk mengubahnya. Kontribusi utama Freire dalam pendidikan Kristen transformatif, khususnya bagi pendidikan Methodist masa kini, adalah: Menempatkan peserta didik sebagai subjek sejarah, bukan objek dogma. Mendorong penggunaan pengalaman konkret peserta didik sebagai materi pembelajaran Mengaitkan iman dengan praksis . , yakni tindakan reflektif untuk mengubah dunia. Menekankan bahwa pendidikan bukan netral, dan harus berpihak pada keadilan Oleh karena itu, menyelaraskan pendekatan Wesley . ransformasi spiritua. dengan Freire . esadaran struktura. dan Christiani . ekonsiliasi lintas ima. akan menciptakan model pendidikan yang lebih menyeluruh Ae yakni pendidikan yang mengakar dalam iman, kritis terhadap ketidakadilan, dan terbuka terhadap pluralitas. Berefleksi dari ketiga pendekatan ini, melalui visi dan misi yang diuraikan dalam KOSP, terlihat bahwa PKMI1 masih memfokuskan tujuannya kepada transformasi spiritual peserta didik. Hal ini terlihat dari visi sekolah: sekolah yang mampu mewujudkan peserta didik yang berkarakter kristiani dan profil Pancasila, unggul dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Tujuan sekolah diuraikan sebagai berikut: menghasilkan lulusan yang menganut nilai-nilai kekristenan yaitu beriman, bertakwa, berakal budi, sehat jasmani dan Rohani. Berkenaan dengan ini, penting juga bagi PKMI 1 untuk memberikan perhatian terhadap tujuan pendidikan dalam upaya mewujudkan transformasi sosial dengan memotivasi dan menginpirasi peserta didik memiliki keterlibatan dan komitmen menganalisa secara kritis persoalan sosial yang terjadi dan mengambil peranan didalamnya. Berdasarkan pendekatan ketiga tokoh, pengembangan pendidikan transformatif yang kontekstual dapat dirumuskan dalam tiga elemen operasional, pertama, transformasi Iman Pribadi (Wesle. Pendidikan yang menekankan pertobatan, disiplin spiritual, dan pengembangan karakter. Kedua, penyadaran kritis (Freir. : Pendidikan yang mendorong refleksi sosial, membaca realitas secara kritis, dan aksi emansipatoris terhadap struktur yang menindas. Ketiga, dialog dan perdamaian (Christian. Pendidikan yang membuka ruang dialog antar iman, rekonsiliasi sosial, dan respons terhadap keberagaman Ketiganya dapat dijadikan kerangka kerja kurikulum pendidikan Kristen transformatif yang tidak hanya mendidik murid untuk baik secara rohani, tetapi juga aktif secara sosial. Pengembangan Pendidikan sebagai Pemberdayaan Iman dan Transformasi Sosial Dalam penelitian ini, penulis menggunakan konsep pendidikan Kristiani yang berpusat pada transformasi untuk menggambarkan karakteristik pendidikan Kristiani yang ingin dipromosikan. Sebagaimana halnya uraian Elizabeth Moore. Ausebagai pendekatan pendidikan, transformasi bertujuan untuk menyembuhkan dan membebaskan individu, komunitas Kristen, masyarakat luas dan seluruh ciptaan, maka penting sekali untuk mengembangkan pendidikan Kristiani yang bertujuan pada transformasi individu dan sosial. Pendidikan dengan tujuan transformasi mengarah pada pembebasan. Pendidikan sebagai proses pembebasan melibatkan pengaruh dan tindakan yang dapat membebaskan 17 Freire. Pedagogi Hati. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 84 | PENDIDIKAN KRISTIANI TRANSFORMATIF DALAM KONTEKS INDONESIA pikiran manusia untuk merespons kekuatan- kekuatan yang membebaskan. Di samping itu, pendidikan dapat dijadikan sebagai wahana untuk memberdayakan peserta didik sehingga mereka dapat menjadi agen perubahan sosial. Melalui pendidikan yang transformatif dan partisipatif, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan dimensi individual dan sosialnya secara seimbang. Pendidikan transformatif yang mengintegrasikan perkembangan iman pribadi (Wesle. , transformasi sosial (Freir. dan kesadaran multireligius (Christian. menekankan pembentukan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani. Ini bukan hanya tentang memahami doktrin, tetapi tentang menghidupi iman dalam setiap aspek kehidupan. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah pembentukan iman harus dilakukan secara terbuka, dialogis, dan kontekstual dengan menghargai kebebasan berpikir dan keberagaman interpretasi. Pendidikan transformatif ini juga mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang agama-agama lain, menghargai perbedaan, dan mendorong dialog serta kerjasama lintas agama untuk membangun perdamaian dan keadilan. Berkenaan dengan isi, pendekatan John Wesley yang menguraikan pentingnya kekudusan individu, seharusnya berjalan seiring dengan transformasi sosial agar dapat memberikan dampak yang besar. Tampaknya Wesley tidak memberikan perhatian terhadap hubungan antara dosa individu dan dosa Wesley melewatkan poin bahwa kekudusan individu berhubungan dengan lingkungan sosial. Baginya, kekudusan pribadi sudah cukup untuk menuntun menuju kekudusan sosial meskipun ada tantangan sosial yang dihadapi individu dan komunitas. Dalam hal ini, pendekatan pendidikan Freire yang menguraikan pentingnya unsur kesadaran menjadi sumbangsih berharga dalam dialog dengan pendekatan pendidikan John Wesley. Dalam pendekatan pendidikan Freire, pendidikan juga untuk menyadarkan manusia akan realitas sosialnya. Kesadaran. merupakan inti pendidikan. Bagi Freire, suatu bentuk pendidikan selalu didasarkan pada kesadaran manusia, yang meliputi tiga aspek yaitu: kesadaran naif . aival consciousnes. yang memahami bahwa aspek manusia sebagai akar penyebab masalah, kesadaran magic . agic consciousnes. berupa kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat adanya kaitan satu faktor dengan factor yang lain, kesadaran kritis . ritical consciousnes. yaitu kesadaran yang lebih melihat sistem sebagai sumber masalah. Untuk mencapai semua kesadaran ini dibutuhkan pendidikan kritis yang berbasis pada realitas sosial dan bukan merupakan pendidikan Aogaya bankAo yang akan menjadikan murid sebagai robotrobot yang tidak mengerti akan realitas-realitas sosial yang dihadapinya. Pendidikan yang mampu melakukan refleksi kritis terhadap Aoideologi dominanAo yang berlaku di dalam masyarakat, menantang sistem yang tidak adil, dan memikirkan sistem alternatif ke arah transformasi sosial menuju masyarakat yang adil. Pendekatan Wesley terhadap pendidikan tidak memiliki unsur kesadaran yang dibutuhkan oleh orang-orang tertindas untuk memberdayakan mereka agar dapat bekerja menuju pembebasan mereka Wesley hanya memfokuskan pendidikan pada kebutuhan untuk mengubah manusia secara personal, dengan harapan bahwa mereka pada gilirannya akan mengubah masyarakat. Keyakinan Wesley akan perlunya transformasi kehidupan individu, sebelum individu tersebut dapat mengubah masyarakat merupakan kelemahan utama dalam etos kerja dan pendidikannya. Ia memandang transformasi individu sebagai prioritas pertama, disusul transformasi sosial. Pemahamannya mengenai pentingnya transformasi individu bagi transformasi sosial ditangkap dengan baik dalam dokumen AuSalvation. Justice and the Theological Task of the Seventh Oxford Institute on Wesleyan Theology. Ay Dalam praksis-teologinya ia mengungkapkan keyakinan mendasar bahwa mengubah masyarakat tidak mungkin terjadi kecuali didahului oleh transformasi pribadi. Wesley berargumentasi bahwa Autanpa individu yang berubah, masyarakat tidak dapat diubah dan bahwa pemuridan yang bertanggung jawab akan menghasilkan orang-orang yang dibawah kasih karunia dapat mengubah masyarakat. Ay Pemahaman Wesley tentang transformasi sosial terbatas pada standar moral masyarakat. Kenaifannya terhadap isu-isu politik diteruskan ke praktik pedagoginya. Dengan demikian praktek pendidikan yang ada tidak mendorong strategi yang kritis dan aktif melawan penindasan, melainkan pertumbuhan bertahap dalam sistem tanpa menantangnya. Ia percaya bahwa manusia bisa mencapai kesempurnaan tanpa harus membenahi sistem sosial-politik, namun dengan kesalehan mereka akan mampu memberikan pengaruh pada masyarakat dan membawa kesucian sosial. Wesley tidak mengakui fakta bahwa umat manusia bersifat historis dan kehidupan mereka dibentuk dan dipengaruhi oleh realitas sosio-politik mereka. Ia juga pada dasarnya konservatif sehingga pendidikannya sulit bersifat Gramsci menyatakan Autitik tolak elaborasi kritis adalah memposisikan diri sebagai produk 18 Moore Elizabeth M. Teaching From the Heart: Theology and Educational Method (Fortress Press, 1. 19 Freire. Pedagogi Hati. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. APRIANI MAGDALENA SIBARANI. TABITA KARTIKA CHRISTIANI. JOZEF M. N HEHANUSSA | 85 proses sejarahAy. Giroux berpendapat bahwa pemeriksaan terhadap konstruksi historis dan sosial dalam kehidupan kita Aumembantu melakukan re-teritorialisasi dan menulis ulang narasi kompleks yang membentuk kehidupan. Ay20 Berkenaan dengan ini, pendekatan pendidikan Christiani penting untuk diperhatikan, ia menguraikan pentingnya analisis intelektual terhadap struktur masyarakat dan dunia yang tidak adil, serta mencari cara untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan. Aktivitas intelektual ini harus dilakukan dialog dengan pemahaman tentang dosa pribadi dan struktural, dan dengan Kisah Kasih Allah melalui Yesus Kristus, untuk menemukan cara menghayati iman Kristiani di dunia melalui transformasi sosial. 51 Christiani melalui model pendidikan yang ditawarkannya yaitu: pendidikan kristiani behind the wall, at the wall and beyond the wall. Melalui pendekatannya. Christiani menginspirasi peserta didik untuk memahami kitab suci secara kontekstual dan menghubungkannya dengan persoalan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Selain itu melalui pendekatan pendidikannya. Christiani juga membuka ruang dialog dengan komunitas beragama lain untuk saling belajar dan berpartisipasi aktif untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan dalam Berefleksi dari ketiga pendekatan pendidikan ini, menjadi sumbangsih kritis bagi PKMI 1 untuk mengevaluasi kembali Pendidikan Kristiani yang dikembangkannya agar memberi ruang dan perhatian untuk pengembangan analisis intelektual dengan memahami struktur masyarakat dan factor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya persoalan dalam masyarakat. Melalui kurikulum yang lebih menekankan pada kesalehan pribadi tanpa pemahaman dan analisa struktur sosial yang ada, kita tidak bisa mengharapkan peserta didik bersikap kritis terhadap kenyataan. Pendidikan merupakan proses panjang bahkan terjadi seumur hidup, berkenaan dengan itu penting sekali untuk memaksimalkan semua unsur secara holistic dan Dengan demikian, isi pendidikan harus memuat bahan ajar yang berkaitan dengan fenomena realitas sosial yang sebenarnya sehingga melalui pendidikan peserta didik menjadi sadar akan realitas sosial disekitarnya bahkan sadar akan realitas dunia. Kesadaran yang harus dimiliki manusia adalah kesadaran Dalam Capaian Pembelajaran untuk fase E (Kelas X) dan fase F (Kelas XI dan XII) masih terlihat kecenderungan untuk berfokus kepada perkembangan iman pribadi. Perhatian untuk membangkitkan AukesadaranAy terhadap struktur masyarakat dan upaya untuk memberdayakan komunitas dalam transformasi sosial masih belum terlihat. Pengembangan Pendidikan Sebagai Tugas Hermeneutik (Penafsiran Persoalan Kehidupa. Konteks masyarakat mempengaruhi dan membentuk teori Pendidikan Kristiani. Dengan dimulai dari konteks, tujuan teori pendidikan menjadi suatu pengungkapan arah pendidikan seraya menghadapi masalah dan kebutuhan masyarakat yang baginya teori tersebut dibuat. Teori pendidikan dibentuk oleh konteks masyarakat tertentu. 21 Berkenaan dengan ini, dalam pendidikan senantiasa memerlukan keterlibatan dan penafsiran persoalan kehidupan bukan gagasan atau tema yang abstrak. Penafsiran perlu dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai permasalahan dan dengan demikian membentuk atau mempengaruhi dunia di sekitar kita. Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa pendidikan harus mempertimbangkan pengalaman, kehidupan, perjuangan dan kegembiraan komunitas Kurikulum perlu memperhatikan konteks pembelajaran yang mengacu pada Aulatar, keadaan, dan situasi di mana peristiwa atau kejadian tertentu terjadi. Ay Kita perlu memahami apa yang terjadi dalam konteks itu. Pendidikan Kristiani sebaiknya memperhatikan dan mempertimbangkan kisah-kisah masyarakat selama proses pembelajaran, karena kisah-kisah masyarakat itu penting ketika mereka menghadapi masa lalu dan memimpikan masa depan mereka. Dengan mempertimbangkan konteks, sekolah (PKMI . perlu berkonsentrasi pada apa yang terjadi di dalam dan di luar sekolah dan memasukkannya ke dalam program pendidikannya. Dalam hal ini kurikulum sebaiknya tidak diambil atau dipilih langsung dari buku-buku dan AudipaksakanAy kepada sekolah tetapi agendanya diambil dari konteksnya. Dengan demikian, proses pendidikan Kristiani yang ada mempunyai dimensi melakukan teologi dalam konteks atau teologi kontekstual. Dalam upaya merumuskan isi dari konteks pembelajaran mengharuskan kita melakukan analisis kontekstual. Hal ini menekankan pentingnya pendidikan yang menciptakan ruang bagi siswa untuk berkontribusi dalam proses 20 Elizabeth M. Teaching From the Heart: Theology and Educational Method. Simangaliso Raymond Kumalo. AuTheology and education : the role of the church in education for social transformation : a Methodist contributionAy (Dissertation. University of KwaZulu-Natal, 2. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 86 | PENDIDIKAN KRISTIANI TRANSFORMATIF DALAM KONTEKS INDONESIA pembelajaran, berdasarkan keyakinan dan pengalaman hidup mereka. Tugas hermeunetis adalah menafsirkan cerita-cerita ini berdasarkan visi Tuhan dan nilai-nilai Kerajaan Tuhan sebagaimana terkandung dalam Alkitab. Ketika isi pendidikan berasal dari dinamika kontekstual dan pengalaman komunitas belajar mengajar, maka hal tersebut tidak dipaksakan dari luar melainkan berasal dari dalam. Ini mencakup keyakinan, tradisi, pengalaman dan aspirasi orang-orang yang ingin memberikan perubahan positif dalam situasi mereka. Kurikulum dalam hal ini bukan sekedar kumpulan fakta dan informasi. Mengambil isu-isu kontekstual sebagai sumber pengembangan kurikulum juga berarti perubahan paradigma radikal bagi pendidikan. Salah satu manfaat pendidikan yang berorientasi kontekstual adalah bersifat holistic, pendidikan tidak boleh hanya peduli pada hal-hal spiritual tetapi juga harus memperhatikan pengalaman sehari-hari masyarakat, kebutuhan material dan fisik mereka. Hal ini harus membantu mereka menafsirkan dan menemukan jawaban atas pertanyaan mendalam tentang keberadaan mereka. Pendidikan kristiani yang berpusat pada transformasi akan berusaha memberikan perspektif Kristen mengenai situasi sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi masyarakat. Hal ini juga memberdayakan orang untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka dan menerapkannya pada kebutuhan fisik mereka. Model pendidikan transformatif perlu mempertimbangkan kisah-kisah masyarakat selama proses pembelajaran, karena meyakini bahwa kisah-kisah tersebut penting karena berisi perjuangan masyarakat di masa lalu dan impian masa depan. Ketika mempertimbangkan realitas pengalaman sebagai konten, para pendidik kreatif telah menyadarkan kita bahwa realitas pengalaman harus datang dari konteks Indonesia, melalui kisah masyarakat Indonesia. Kurikulum pendidikan harus diambil dari kisah-kisah para siswa jika pendidikan ingin menjadi tugas hermeunetis dalam arti sebenarnya dan dengan demikian mengarah pada Dari segi metode, kecenderungan Wesley memandang anak-anak dan orang dewasa sebagai wadah kosong dalam hal pengetahuan tentang Tuhan membuatnya mengadopsi metode pendidikan yang Akibatnya dia mengadopsi leader driven . emimpin sebagai penggera. Di dalam metode pendidikannya. Wesley dipengaruhi oleh banyak hal, yang paling dominan adalah pembentukan masa Ibunya. Susana Wesley yang sangat disiplin dalam mendidik, menanamkan pemahaman bahwa keinginan pribadi anak harus dipatahkan karena natur berdosa manusia. Pendidikan menjadi sarana untuk AumemulihkanAy manusia yang berdosa ini dan ia harus diarahkan oleh pendidiknya/pemimpin. Situasi belajar dan mengajar secara keseluruhan bergantung kepada pemimpin, dengan partisipasi minimal dari Metode inilah yang dikembangkan Wesley dalam pendekatan pendidikannya. Dalam hal ini, pendekatan pendidikan Freire yang menekankan pentingnya dialog menjadi hal berharga bagi pendekatan pendidikan John Wesley serta pengembangan pendidikan Methodist. Menurut Freire. Dialog tidak boleh melibatkan satu orang yang bertindak atas orang lain, tetapi orang-orang harus bekerja sama satu sama lain. Prosesnya penting dan dapat dilihat sebagai upaya meningkatkan komunitas dan membangun modal sosial serta mengarahkan kita untuk bertindak dengan cara mewujudkan keadilan dan kemajuan manusia. Dalam pendekatan pendidikan Tabita Christiani yang menyoroti konteks kepelbagaian agama perlu menambahkan unsur dialog lintas agama. Christiani mengadopsi pendekatan sharing christian praxis dari Thomas Groome dalam pendidikannya dengan memperhatikan konteks keberagaman agama karena metode ini menekankan dialog dan refleksi kritis sebagai cara untuk membangun kesadaran bersama akan perbedaan, memperdalam pengertian akan nilai-nilai perdamaian, serta memperjuangkan keadilan dan harmoni dalam masyarakat yang majemuk. Pendekatan SCP ini menekankan pentingnya dialog yang jujur dan partisipasi aktif. Dalam konteks keberagaman agama. Christiani percaya bahwa dialog yang terbuka dan partisipatif akan membangun saling pengertian dan memperkuat komitmen kolektif untuk menciptakan perdamaian. Dalam konteks PKMI 1 unsur dialog sudah mulai ada melalui pemilihan tema dilakukan berdasarkan hasil rapat dewan guru pada hari jumat tanggal 04 Agustus 2023 dan masukan dari peserta didik. Kemudian dari tema yang dipilih ditentukan elemen dan sub elemen untuk merancang tujuan projek dan kegiatan . Akan tetapi dialog yang dimaksudkan disini untuk dikembangkan adalah dialog yang bukan hanya tentang memperdalam pemahaman tetapi merupakan kegiatan kerja sama yang melibatkan rasa hormat. Dalam konteks Pendidikan Methodist kemungkinan besar perlu dipertimbangkan metode sharing/berbagi antar komunitas agama karena dalam konteks PKMI, terdapat juga siswa nonKristen. Belajar dari realitas atau pengalaman yang dimaksud adalah keadaan nyata masyarakat atau pengalaman seseorang atau kelompok yang terlibat dalam kenyataan yang ada. Akibatnya, tidak ada otoritas pengetahuan seseorang yang lebih tinggi dari yang lainnya. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. APRIANI MAGDALENA SIBARANI. TABITA KARTIKA CHRISTIANI. JOZEF M. N HEHANUSSA | 87 Pengembangan Pendidikan Sebagai Usaha yang Dialogis Pendidikan menekankan pendekatan dialogis sebagai proses pembelajaran, disini pendidik menjalin hubungan dengan peserta didik dimana mereka saling berbagi ilmu dan ada partisipasi penuh dari masingmasing peserta didik. Pendidik berperan sebagai pemimpin, yang tidak mendominasi tetapi memfasilitasi. Fokus utama pendekatan yang berpusat pada transformasi bukan pada fasilitator atau peserta didik, namun pada tujuan pendidikan, yaitu transformasi pribadi dan sosial. Baik fasilitator maupun pembelajar harus menghadapi situasi dengan menggunakan wawasan dari perspektif dan tindakan teologis pribadi mereka. Belajar dalam dialog mengasumsikan bahwa seseorang tidak belajar sendirian tetapi terlibat dengan orang lain. Perlu adanya pembentukan sekelompok orang yang akan mengambil bagian dalam situasi belajar mengajar. Kelompok ini disebut sebagai komunitas belajar mengajar. Untuk belajar, kita perlu berhubungan satu sama lain, bertualang menuju penemuan-penemuan baru, dan menemukan kebenaran baru sambil berdialog satu sama lain dalam perjalanan ini. Pembelajaran masyarakat dibangun atas hubungan antara pendidik dan peserta didik. sesama peserta didik. peserta didik dan sejumlah pendidik yang mendahului mereka. dan terakhir komunitas pembelajar dan lingkungan lokal, yang merupakan Dengan pemahaman ini, pembelajaran terjadi sebagai hasil hubungan di mana sejumlah orang berdialog satu sama lain mengenai isu-isu yang menjadi perhatian bersama yang muncul dari pengalaman mereka dengan tujuan membawa perubahan positif dan bertahan lama. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pendekatan ini adalah tujuan, isi dan metode pendidikan itu penting. peserta didik menentukan hasilnya, yaitu transformasi. Inti dari metode ini adalah keprihatinan, aspirasi, pengalaman dan kegembiraan baik pembelajar maupun pendidik yang bermitra dalam proses belajar mengajar. Dalam pendekatan pendidikan ini, baik guru maupun peserta didik tidak menjadi pusat lingkaran pedagogi, melainkan tujuan menjadi pusat komunitas belajar mengajar. Peserta didik dan guru menjadi agen aktif dalam proses belajar mengajar. Pendekatan ini menghindari dominasi guru, dan mendorong keterlibatan siswa dalam proses. Ini memobilisasi seluruh komunitas belajar dan mengajar untuk fokus pada masalah yang sedang dieksplorasi. Metode harus konsisten dengan tujuan dan isi pendidikan. Jika transformasi pendidikan bertujuan untuk mencapai tujuannya dalam membentuk umat manusia bagi Kerajaan Allah dan mewujudkan transformasi sosial, maka model yang diterapkan harus konsisten dengan tujuan-tujuan tersebut. Dalam konteks PKMI 1, pendidikan Kristiani juga disampaikan kepada naradidik lintas agama . on-Kriste. , berkenaan dengan ini dialog yang melibatkan pengalaman dan pemaknaan peserta didik lintas agama juga seharusnya mendapatkan ruang untuk terlibat aktif dalam proses pendidikan. Ada kebutuhan akan lingkungan dialog yang terbuka dan sejajar untuk semua yang terlibat dalam proses pendidikan. Di sini tidak ada seorang pun yang berbicara sendirian tetapi semua mempunyai suara, sehingga proses pembelajarannya memberikan manfaat bagi semua yang ada di sana. Pendidikan Agama sebagai Sarana Mengembangkan Partisipasi Aktif Siswa dalam Transformasi Sosial di Indonesia Pendidikan agama di sekolah, khususnya dalam konteks Indonesia yang multikultural dan multireligius, memiliki potensi besar untuk mendorong siswa berpartisipasi aktif dalam transformasi sosial. Melalui pendidikan agama yang transformatif, siswa tidak hanya diajak memahami ajaran iman secara kognitif, tetapi juga didorong untuk menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Proses ini melibatkan tiga aspek utama: penyadaran . , pembentukan karakter, dan aksi nyata di masyarakat. Pertama. Penyadaran Sosial melalui Pendidikan Agama. Mengacu pada pemikiran Paulo Freire, pendidikan agama dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran kritis siswa terhadap realitas sosial di sekitarnya. Guru agama dapat memfasilitasi dialog terbuka tentang isu-isu sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, intoleransi, dan kerusakan lingkungan, lalu mengaitkannya dengan nilai-nilai keadilan, kasih, dan perdamaian yang diajarkan dalam agama. Dengan demikian, siswa diajak untuk tidak hanya memahami masalah, tetapi juga merefleksikan peran mereka sebagai agen perubahan dalam Kedua. Pembentukan Karakter dan Nilai Sosial. Pendidikan agama yang transformatif menekankan pembentukan karakter siswa, seperti kejujuran, empati, toleransi, dan semangat gotong royong. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan konteks Indonesia yang beragam. Melalui pembiasaan, keteladanan, dan refleksi atas pengalaman hidup, siswa dilatih untuk menghargai perbedaan, mengembangkan sikap inklusif, serta membangun solidaritas sosial lintas agama dan budaya. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan nasional untuk membentuk profil pelajar Pancasila yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 88 | PENDIDIKAN KRISTIANI TRANSFORMATIF DALAM KONTEKS INDONESIA Ketiga. Aksi Nyata dalam Kehidupan Sosial. Pendidikan agama juga dapat memfasilitasi keterlibatan langsung siswa dalam aksi sosial, baik melalui program sekolah . isal: projek P5, bakti sosial, kampanye lingkungan, dialog lintas ima. maupun kegiatan ekstrakurikuler. Dengan terlibat dalam kegiatan nyata, siswa belajar mengaplikasikan nilai-nilai agamanya untuk menjawab kebutuhan masyarakat, memperjuangkan keadilan, dan menciptakan perdamaian. Pengalaman konkret ini memperkuat pemahaman bahwa iman tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga berdampak sosial. KESIMPULAN Pendidikan Kristiani transformatif bukanlah pengulangan doktrin atau spiritualisasi moral, tetapi upaya menyatukan pembentukan iman dan pemberdayaan sosial dalam sistem pendidikan yang berakar pada konteks lokal. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi pemikiran John Wesley. Paulo Freire, dan Tabita Christiani mampu membentuk paradigma pendidikan baru yang relevan bagi realitas Indonesia yang plural dan penuh tantangan sosial. Penekanan Wesley pada pertobatan dan karakter. Freire pada penyadaran dan aksi sosial, serta Christiani pada dialog dan rekonsiliasi menjelma menjadi kerangka pedagogis yang utuh. Namun demikian, realitas SMA Methodist 1 Medan menunjukkan bahwa praktik pendidikan masih cenderung spiritualistik dan belum sepenuhnya menempatkan siswa sebagai subjek transformatif. Oleh karena itu, pendidikan Kristiani masa kini memerlukan keberanian epistemologis untuk beralih dari pendekatan instruktif menjadi dialogis dan partisipatif, di mana siswa dilibatkan sebagai aktor Tujuan penelitian ini tercapai melalui penyusunan model pendidikan yang tidak hanya membentuk iman, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan perdamaian di tengah kemajemukan bangsa. DAFTAR PUSTAKA