PEMBEKALAN TEKNIK UKIR KAYU BAGI PEMUDA DESA SERENAN SEBAGAI UPAYA REGENERASI AHLI KAYU YANG KIAN LANGKA Chici Yuliana Nadi 1. Rahayu Adi Prabowo 2, dan Kuntadi Wasi Darmojo 3 1,2,3 Institut Seni Indonesia Surakarta 1,2,3 chici. isiska@gmail. com, adietnika7@gmail. com, kuntdarmojo@gmail. ABSTRAK Desa Serenan memiliki sekitar lebih dari 200 . ua ratu. pelaku usaha industri rumah tangga permebelan, yang memproduksi berbagai mebel kayu seperti meja, kursi, almari, hiasan dinding dan sebagainya. Desa ini dikenal dengan sebutan sentra ukir kayu yang cukup terkenal dan berjaya di jamannya, namun kini eksistensinya mulai tergerus Pemuda pengrajin kayu desa Serenan kini hanya berfokus pada desain ukir sederhana yang mudah untuk dikerjakan, sedangkan persaingan semakin tinggi terutama dengan industri mebel besar. Selain itu, teknik penjualan yang masih konvensional juga menyumbang efek domino yang bermuara pada rendahnya pemasukan mereka. Pemuda pengrajin kayu desa Serenan mulai menyadari pentingnya memberikan Aunilai tambahAy pada produk kayu mereka, yaitu salah satunya dengan menambahkan elemen ukir kayu yang memiliki nilai estetika tinggi. Adanya keterbatasan kondisi fisik para maestro ukir kayu di desa Serenan kini sudah tidak mampu memberikan pelatihan ukir kayu secara komprehensif yang berdampak pada minimnya kemampuan ukir kayu para pemuda pengrajin kayu desa Serenan. Oleh karena itu, program PKM ini hadir untuk memberikan wawasan dan pelatihan ukir kayu, mulai dari desain, ukir, hingga finishing. Pelatihan pemasaran secara online melalui media sosial juga diberikan dalam rangka mengatasi rendahnya pembelian yang disebabkan karena target pasar yang sangat terbatas . fek praktek penjualan konvensiona. Kata kunci: ukir, kayu, finishing, pemasaran. Serenan ABSTRACT The village of Serenan hosts over 200 small-scale household furniture businesses, producing various wooden furniture items such as tables, chairs, cabinets, wall decorations, and more. In the past, the village thrived and was known as a renowned wood carving center. However, its prominence has gradually declined. The current generation of young wood craftsmen in Serenan focuses primarily on simple carving designs, which are easier to produce. This limited approach, combined with increasing competition from larger furniture industries, has hindered their growth. Furthermore, their conventional sales methods contribute to a downward trend in income. Today. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 SerenanAos young wood craftsmen recognize the importance of adding AuvalueAy to their wooden products by incorporating high-aesthetic wood carving elements. However, they face significant challenges due to limited carving skills, while the villageAos master carvers are no longer physically able to provide comprehensive training due to their advanced Therefore, this Community Empowerment Program (PKM) is designed to provide insights and training in wood carving, covering the entire process from design and carving to finishing. In addition, online marketing training through social media is offered to help them overcome the low sales volume caused by a narrow target market, resulting from conventional sales practices. Keywords: carving, wood, finishing, marketing. Serenan PENDAHULUAN Latar Belakang Desa Serenan di Kecamatan Juwiring. Kabupaten Klaten, terletak di bagian timur Klaten dan berbatasan dengan Sukoharjo. Desa ini terkenal sebagai pusat industri mebel yang memproduksi berbagai produk seperti meja, kursi, almari, dan hiasan dinding. Berdasarkan survei awal, terdapat lebih dari 200 pelaku usaha industri rumah tangga di bidang permebelan. Potensi ini merupakan aset yang perlu dipertahankan dan dikembangkan demi kelangsungan industri mebel di Indonesia. Hingga tahun 1970-an, kerajinan mebel di Serenan masih menggunakan bahan kayu jati dengan proses yang sederhana, menghasilkan produk-produk dasar untuk kebutuhan Alat yang digunakan juga masih manual, seperti gergaji dan pahat. Pada awal 1980an, produk kayu Serenan mulai dikenal di kota-kota besar seperti Jakarta. Semarang, dan Surabaya, melalui pengrajin yang diundang untuk membuat perabotan rumah tangga. Sekitar tahun 1998, dengan meningkatnya permintaan, pengrajin mulai menggunakan alat modern dan menambahkan ragam hias tradisional, yang berpengaruh positif pada kualitas dan kuantitas produksi. Namun, seiring waktu, banyak pengrajin beralih dari motif ukir tradisional ke desain sederhana, meskipun ada permintaan khusus yang masih menggunakan ukiran tradisional. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Chici Yuliana Nadi. Rahayu Adi Prabowo. Kuntadi Wasi Darmojo Pembekalan Teknik ukir Kayu Bagi Pemuda Desa Serenan A. Saat ini, hanya beberapa pengrajin lansia di Serenan, yang masih menguasai teknik ukir tradisional, sementara pengrajin muda lebih banyak mengerjakan pesanan dengan desain yang minim ukiran. Jika ada pesanan khusus dengan hiasan ukir, pengerjaan akan diserahkan kepada tenaga ukir di luar Desa Serenan. Pengrajin di Serenan terbagi dalam beberapa kelompok dengan anggota 10 hingga 15 orang, yang tergabung dalam koperasi Misalnya, kelompok di Kampung Surtanan dengan 12 anggota juga sudah tidak memiliki ahli ukir. Melihat kondisi ini, diusulkan adanya pelatihan yang terfokus pada teknik ukir kayu dengan tahapan motif geometris dan pola tradisional, untuk mengembalikan potensi Desa Serenan sebagai pusat kerajinan mebel ukir kayu. Permasalahan Kelompok pengrajin mebel di Desa Serenan menghadapi masalah utama berupa menurunnya pesanan dengan motif ukiran, yang disebabkan oleh kurangnya tenaga ahli ukir di desa tersebut. Akibatnya, pengerjaan pesanan berukir harus dilakukan di luar wilayah Serenan, yang berdampak pada peningkatan biaya produksi. Dulu, tenaga ahli ukir mudah ditemukan di Desa Serenan, namun kini para pengrajin bergantung pada tenaga dari luar, sehingga memperlambat waktu pengerjaan dan menambah biaya. Kondisi ini tidak hanya mengurangi pendapatan pengrajin, tetapi juga semakin mengikis citra Desa Serenan sebagai pusat kerajinan ukir yang pernah berjaya. Hal ini mengganggu perekonomian keluarga pengrajin, sehingga diharapkan masalah ini segera mendapat solusi yang konkret. Pelatihan dan pendampingan sangat diharapkan agar para pengrajin dapat mengembangkan kreativitas dan menguasai teknik ukir kayu dengan lebih mendalam, sehingga mampu bertahan dalam situasi yang kurang mendukung dan pada akhirnya meningkatkan ekonomi para pengrajin mebel. Tujuan Berikut tujuan dilakukannya kegiatan pengabdian: Melatih kemampuan pengrajin mebel pada teknik ukir kayu. Meningkatkan nilai jual produk mebel dengan penerapan ragam hias ukir kayu. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Meningkatkan daya kreativitas pengrajin mebel dengan penerapan ragam hias ukir Memberikan pemahaman pada pengembangan desain produk mebel kepada para pengrajin mebel. Manfaat Beberapa manfaat adanya pelatihan dan pembekalan ukir kayu di desa Serenan Menambah ketrampilan teknik ukir kayu pada para pengrajin mebel. Memberikan nilai tambah pada produk mebel dengan manfaat yang berkesinambungan. Menumbuhkan kesadaran dalam berkreasi untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Menjadikan kepercayaan diri para pengrajin mebel untuk bersaing dengan hasil produk mebel ukir yang unik dan menarik. METODE Metode pelaksanaan kegiatan yang dipilih akan sangat menentukan tingkat keberhasilan suatu kegiatan. Adapun beberapa metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah meliputi hal-hal sebagai berikut: Ceramah Merupakan metode yang bertujuan memberikan pengetahuan dan petunjuk-petunjuk dimana terdapat peserta pelatihan yang bertindak sebagai pendengar. Ceramah, dilakukan dengan cara kreatif dan inovatif . Metode ceramah adalah mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang digabung dengan metode lainnya. Pada kegiatan ini perpaduan metode yang digunakan adalah metode ceramah demonstrasi. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Chici Yuliana Nadi. Rahayu Adi Prabowo. Kuntadi Wasi Darmojo Pembekalan Teknik ukir Kayu Bagi Pemuda Desa Serenan A. Pelatihan Tahap pelatihan merupakan kegiatan praktik langsung oleh peserta pelatihan dengan bimbingan fasilitator di tiap prosesnya, sehingga dapat dikenali permasalahan pada tiap Kegiatan pelatihan bertujuan untuk melatih keterampilan peserta dalam rangka meningkatkan nilai tambah pada produk, meliputi: pelatihan desain dan aplikasinya pada media kayu . kir kay. pelatihan finishing ukir kayu pelatihan cara penjualan/pemasaran Bimbingan dan pendampingan. Pendampingan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh fasilitator atau pendamping dalam kegiatan ini. Fasilitator atau tim PKM tugasnya lebih sebagai pendorong, penggerak, katalisator, motivator, pengarah dan pembimbing. Pasca kegiatan pelatihan kegiatan selanjutnya adalah praktek teknik ukir kayu dengan motif-motif baru. Pendampingan menjadi sangat penting untuk membimbing dan menjaga kualitas produk yang dihasilkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Tematik Kemitraan di desa Serenan. Kecamatan Juwiring. Kabupaten Klaten diawali dengan diskusi serta koordinasi terkait kondisi pengrajin ukir desa Serenan serta alternatif solusi atas kegelisahan akan tidak adanya generasi penerus ukir kayu. Diskusi ini dilakukan bersama dengan Sunarto, selaku ketua kelompok pengrajin kayu desa Serenan bersama ketua RW serta RT desa Serenan. Disampaikan bahwa mitra sangat senang akan program pelatihan ukir kayu yang akan diberikan kepada generasi pemuda desa Serenan. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 1. Diskusi dan Koordinasi Berikut tahapan kegiatan yang telah dilakukan. Membuat pola motif geometrik dan tradisi. Pola motif ukir kayu yang akan dikerjakan ada dua, yaitu pertama, motif geometrik sebagai dasar pengayaan ukir kayu. Dan yang kedua, motif ceplok tradisi sebagai tahap dasar lanjut pada ukir kayu. Motif yang dipilih disesuaikan dengan kemampuan awal peserta pelatihan, dimana hampir seluruh peserta belum pernah memegang tatah kayu untuk Gambar 2. Desain Motif Ukir Kayu (Digital & Ceta. Proses mengukir Sebelum melakukan proses ukir, peserta pelatihan diperkenalkan dengan berbagai alat-alat ukir, baik yang sederhana maupun masinal. Pada pelatihan ini, proses ukir difokuskan dengan alat-alat ukir manual sederhana. Kayu yang disediakan berukuran 20x20 Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Chici Yuliana Nadi. Rahayu Adi Prabowo. Kuntadi Wasi Darmojo Pembekalan Teknik ukir Kayu Bagi Pemuda Desa Serenan A. cm dengan ketebalan 3 cm. Masing-masing peserta mendapatkan kayu serta lembar pola motif ukir yang kemudian ditempelkan ke kayu menggunakan lem fox. Kayu yang sudah ditempeli pola motif ukir kemudian dijemur agar kering dan menempel sempurna ke kayu. Sembari menunggu kayu siap, mentor memberikan penjelasan yang disertai demonstrasi tentang bagaimana melakukan tahap-tahap mengukir serta memilih ukuran dan bentuk alat ukir yang tepat untuk motif yang akan digarap. Gambar 3. Proses Pengeleman Kertas Pola Motif Ukir pada Kayu . Gambar 4. Proses Pengeleman Kertas Pola Motif Ukir pada Kayu . Gambar 5. Proses Penjemuran Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Gambar 6. Penjelasan dan Demonstrasi Proses Ukir Kayu . Gambar 7. Penjelasan dan Demonstrasi Proses Ukir Kayu . Gambar 8. Penjelasan dan Demonstrasi Proses Ukir Kayu . Gambar 9. Proses Pembuatan Karya Ukir Kayu . Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Chici Yuliana Nadi. Rahayu Adi Prabowo. Kuntadi Wasi Darmojo Pembekalan Teknik ukir Kayu Bagi Pemuda Desa Serenan A. Gambar 10. Proses Pembuatan Karya Ukir Kayu . Gambar 11. Proses Pembuatan Karya Ukir Kayu . Gambar 12. Proses Pembuatan Karya Ukir Kayu . Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Finishing Ukir Kayu Karya ukir kayu peserta pelatihan kemudian melalui tahap akhir atau finishing yaitu pelapisan menggunakan politur. Politur berguna untuk melapisi atau melindungi permukaan kayu dari goresan maupun noda yang bisa merusak permukaan kayu sekaligus mempertahankan bentuk asli permukaan kayu. Politur yang dipilih adalah yang berjenis glossy sehingga memberikan kesan bersih dan mengkilap. Berikut beberapa hasil finishing politur glossy yang diaplikasikan ke karya ukir kayu peserta pelatihan. Gambar 13. Karya Ukir Kayu 1 . dan Karya Ukir Kayu 2 . Gambar 14. Karya Ukir Kayu 3 . dan Karya Ukir Kayu 4 . Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Chici Yuliana Nadi. Rahayu Adi Prabowo. Kuntadi Wasi Darmojo Pembekalan Teknik ukir Kayu Bagi Pemuda Desa Serenan A. Pengenalan Cara Penjualan Pengenalan cara penjualan dilakukan dengan ceramah dan sharing atau berbagi pengalaman berjualan secara online. Kegiatan ini bertujuan memantik serta memotivasi peserta bahwa berjualan bisa dilakukan Ausekarang jugaAy. Memiliki toko offline di masa kini sudah bukan menjadi syarat utama berjualan. Berjualan dapat dimulai dengan hal yang paling mudah untuk dipelajari, yaitu bagaimana memotret produk sehingga produk tampak jelas dan menarik minat pembeli. Hanya berbekal foto, kita sudah bisa mulai AuberjualanAy. Foto produk tersebut bisa mulai dibagikan ke status WhatsApp, story Instagram (Purnawati & Gunawan, 2023: 798-. TikTok, bahkan e-commerce seperti Shopee (Damanik, dkk, 2023: 1699-1. dan Tokopedia. Lalu, untuk booster engagement ke penonton atau Aucalon pembeliAy, bisa kita lakukan dengan memasang iklan. Semua e-commerce ternama di Indonesia sudah bisa membantu mengiklankan listing produk kita. Dikutip dari laman Shopee, kita sudah bisa beriklan dengan uang Rp. 500,00 per harinya untuk mendapatkan fasilitas iklan Auproduk halaman pencarianAy atau iklan Auproduk halaman rekomendasiAy. Namun, kita mesti memiliki strategi dalam beriklan agar iklan kita optimal dengan mendatangkan pembeli berkunjung ke laman toko online kita dan melakukan pembelian Hal-hal tersebutlah yang kemudian didiskusikan serta dianalisis bersama dengan peserta pelatihan. Gambar 15. Sharing Pengalaman Berjualan Online . Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 16. Sharing Pengalaman Berjualan Online . PENUTUP Pelatihan dan pembekalan teknik ukir kayu di desa Serenan telah berlangsung dan mendapat respon positif dari berbagai pihak, terutama peserta pelatihan dan para pengrajin kayu desa Serenan. Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya ialah pembekalan terkait desain, ukir, hingga tahap finishing ukir kayu. Selain itu, disampaikan pula pengetahuan terkait tips-tips pemasaran produk ukir kayu melalui media online atau marketplace, seperti Shopee dan Tokopedia. Adanya kegiatan pelatihan dan pembekalan teknik ukir kayu di desa Serenan, telah menginspirasi para generasi penerus untuk mulai mengenali, mencintai, dan berkarya di dunia ukir kayu. DAFTAR PUSTAKA