Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu Bangke Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah Ismaini*. Lalu Sumardi. Sawaludin Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Universitas Mataram. Indonesia *Coresponding Author: ismaini8822@gmail. Dikirim: 26-08-2025. Direvisi: 17-09-2025. Diterima: 19-09-2025 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan putus sekolah serta penanggulangan putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah. Metode penelitian yanng digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan teori Miles. Huberman, dan Saldana, meliputi kondensasi data (Data Condensation. , penyajian data (Data Displa. , dan penarikan simpulan atau verifikasi (Conclusion Drawing and Verificatio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab putus sekolah terdiri dari faktor internal yaitu rendahnya motivasi dan minat anak sekolah, masalah kelurga, serta masalah kesehatan. dan faktor eksternal, meliputi sosial ekonomi . endapatan dan pekerjaan orang tua, keterlibatan anak dalam pekerjaan, dan pendidikan orang tu. dan sosial budaya . ingkungan tempat tinggal dan pernikahan mud. Sedangkan, penanggulangan putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke dikelompokkan menjadi dua bentuk penanggulangan yaitu penanggulangan secara langsung melalui pendidikan alternatif, dan penanggulangan secara tidak langsung melalui kampanye pendidikan dan optimalisasi komunikasi orang tua dan anak. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya keterlibatan sinergis antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, dalam membangun kesadaran serta dukungan pendidikan, khususnya di komunitas pedesaan dengan kendala ekonomi dan sosial budaya. Program pendidikan alternatif yang fleksibel perlu diperkuat dan diperluas, sementara kampanye pendidikan dan optimalisasi komunikasi orang tua dan anak juga menjadi kunci dalam mencegah putus sekolah serta meningkatkan partisipasi pendidikan berkelanjutan. Kata Kunci: Putus Sekolah. Penanggulangan. Masyarakat Batu Bangke Abstract: This study aims to determine the factors that cause school dropouts and the prevention of dropouts in the Batu Bangke community. Praya Timur District. Central Lombok Regency. The research method used is a qualitative approach with a case study research type. Data collection techniques were carried out through interviews and documentation, while data analysis techniques used the theory of Miles. Huberman, and Saldana, including data condensation (Data Condensation. , data presentation (Data Displa. , and Conclusion drawing or Verification. The result of the study indicates that the factors causing school dropouts consist of internal factors, namely low motivation and interest of school children, family problems, and health problems. and external factors, including socioeconomic . arents income and employment, childrenAos involvement in work, and parental educatio. and sociocultural . esidential environment and early marrig. Meanwhile, the prevention of school dropouts in the Batu Bangke community is grouped into two forms of prevention: direct prevention through alternative education, and indirect prevention through educational campaigns and optimization of communication between parents and children. The implications of this research emphasize the importance of synergistic engagement between families, schools, and communities in building awareness and support for education, particulary in rural communities with economic and sociocultural @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA Flexible alternative education programs need to be strengthened and expanded, while educational campaigns and optimized parent-child communication are also key to preventing dropout and increasing participation in continuing education. Keywords: School Dropout. Prevention. Batu Bangke Communiny PENDAHULUAN Pendidikan adalah salah satu aspek penting pada pembangunan suatu negara. Negara yang maju tidak lepas dari kualitas pendidikan yang baik. Pada dasarnya, setiap warga negara mempunyai hak dalam mendapatkan pendidikan, sebagaimana diatur dalam UUD Tahun 1945 Pasal 31 ayat . Pada era globalisasi saat ini, pendidikan menjadi faktor penting untuk bersaing dan menghadapi berbagai tantangan yang semakin beragam dan kompleks. Seperti yang diungkapkan oleh Yaneri . , bahwa pendidikan memiliki peran krusial dalam bentuk formal, maupun nonformal serta informal. Pendidikan bertujuan untuk membentuk individu yang memiliki karaktrer baik secara intelektual, moral, dan fisik, serta menjadi manusia yang memiliki budaya tinggi dan tanggung jawab di lingkungan sosial Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan di bidang akademis, tetapi juga mencakup pengembangan karakter serta keterampilan dalam berinteraksi sosial. Dengan demikian, pendidikan bukan sekedar tentang mendapatkan keterampilan dan penngetahuan, tetapi juga tentang membentuk individu agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memberikan kontribusi dalam masyarakat. Selain itu, pendidikan juga berdampak luas dalam mengurangi disparitas sosial dan ekonomi. Dengan memberikan akses pendidikan yang merata pada masyarakat, baik kepada kelompok miskin maupun kaya, dapat mengurangi kesenjangan dalam hal kesempatan dan akses ke sumber daya. Hal ini tentunya dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan adil. Pada kenyataannya, hak dalam pendidikan masih belum terpenuhi seutuhnya. Fenomena putus sekolah atau anakanak yang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat pendidikan tinggi menjadi persoalan penting yang perlu diperhatikan. Menurut Hikmah et al. , mendefinisikan putus sekolah sebagai kondisi dimana anak-anak usia 7-21 tahun tidak melanjutkan pendidikan karena tidak mampu membayar biaya sekolah, berhenti sekolah karena bekerja, atau menjadi anak jalanan maupun menganggur. Selanjutnya Liani & Marpaung . , mendefinisikan putus sekolah sebagai individu yang pernah menempuh pendidikan pada jenjang pendidikan tertentu, tetapi keluar sebelum waktu yang ditentukan, sehingga tidak memiliki ijazah atau tanda tamat belajar. Sejalan dengan hal tersebut Hidayah . , menyatakan bahwa fenomena anak putus sekolah umumnya terjadi pada komunitas yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan, terutama di daerah Masyarakat desa memiliki pandangan yang bervariasi tentang pendidikan, tergantung pada latar belakang ekonomi, budaya, agama, dan tingkat pendidikan mereka sendiri. Pandangan masyarakat terhadap pendidikan dapat dilihat dari dua aspek yaitu secara posistif maupun negatif. Pandangan masyarakat desa yang positif tentang pendidikan umumnya akan mendukung pembangunan dan peningkatan kualitas sistem pendidikan. Hal ini dapat mendorong masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pendidikan anak-anak mereka. Sebaliknya, pandangan negatif tentang @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA pendidikan dapat menghambat perkembangan pendidikan, mengarah pada kurangnya dukungan masyarakat, rendahnya tingkat partisipasi, dan kurangnya kepercayaan pada sistem pendidikan. Pandangan negatif juga dapat menciptakan hambatan dalam akses pendidikan yang merata dan kesempatan yang adil bagi semua individu dalam Kondisi putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan ke pendidikan tinggi pada anak sebenarnya tidak diinginkan, baik bagi mereka yang mengalaminya maupun bagi masyarakat secara keseluruhan. Fenomena putus sekolah seperti yang dijelaskan di atas, umumnya terjadi pada masyarakat desa, salah satunya pada masyarakat Dusun Batu Bangke Desa Landah. Kecamatan Praya Timur. Kabupaten Lombok Tengah. Dusun Batu Bangke ini, mengalami putus sekolah atau tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi setiap Berdasarkan dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 17 Maret 2024 pada masyarakat Dusun Batu Bangke, terhitung dari tahun 2019 hingga tahun 2023 terdapat sekitar 23 anak yang mengalami putus sekolah, dengan rincian: dua . anak dari SMP, enam . anak dari SMA, dan lima belas . anak tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Angka putus sekolah pada masyarakat di Dusun Batu Bangke menunjukkan bahwa sebagian masyarakat di dusun tersebut masih memandang rendah pendidikan. Mereka beranggapan bahwa sekolah tinggi tidak menjamin pekerjaan yang baik, apalagi melihat lulusan perguruan tinggi yang masih menganggur dan terlebih lagi beberapa diantaranya bekerja di luar bidang keahlian mereka seperti menjadi buruh tani, pekerja bangunan, serta kebanyakan dari mereka mencari peruntungan ke luar negeri. Melihat hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktorfaktor penyebab putus sekolah dan penanggulangan putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke. Kecamatan Praya Timur. Kabupaten Lombok Tengah. Dengan harapan dapat memberikan solusi yang efektif dalam mengurangi angka putus sekolah serta meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat, terutama orang tua, terhadap pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus yang bertujuan untuk mendalami secara komprehensif faktor penyebab putus sekolah dan penanggulangannya pada masyarakat Batu Bangke. Kecamatan Praya Timur. Kabupaten Lombok Tengah. Studi kasus merupakan penelitian yang memfokuskan pada analisis mendalam terhadap individu, kelompok, organisasi, atau program tertentu dan sebagainya selama periode tertentu. Tujuan utamanya adalah memperoleh deskripsi yang lengkap dan mendalam mengenai sebuah entitas, serta menghasilkan data yang selanjutnya dianalisis untuk mengembangkan suatu teori (Abdussamad, 2. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk meneliti secara mendalam fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat, khususnya terkait faktor penyebab putus sekolah dan penanggulangan putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke. Penelitian dilakukan di Dusun Batu Bangke Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah, pada bulan Oktober Pemilihan lokasi ini di dasarkan pada relevansi masalah yang terjadi di daerah tersebut, yakni tingginya angka putus sekolah. Data dikumpulkan dari subyek penelitian utama yaitu masyarakat yang mengalami putus sekolah, serta informan yang dipilih secara Purposive Sampling, @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA meliputi Kepala Desa Landah. Kepala Dusun Batu Bangke, guru sekolah, orang tua anak putus sekolah, dan anak yang mengalami putus sekolah. Menurut Murdiyanto . , purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan relevansi dan pengalaman individu terkait objek penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data terkait faktor penyebab putus sekolah dan penanggulanganya pada masyarakat Batu Bangke. Sementara itu, dokumentasi digunakan sebagai pelengkap untuk memperoleh data tertulis, arsip, maupun foto yang mendukung validitas hasil wawancara. Adapun proses analisis data dilakukan sesuai dengan tahapan yang dikemukan oleh Miles. Hubermen, & Saldana . , yaitu meliputi kondensasi data (Data Condensation. , penyajian data (Data Displa. , dan penarikan simpulan atau verifikasi (Conclusion Drawing and Verificatio. Kondensasi data dilakukan dengan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data agar lebih fokus dan mudah di pahami. Data kemudian disajikan secara naratif untuk memberikan gambaran yang kaya akan konteks fenomena yang diteliti. Tahap akhir penarikan kesimpulan disesuaikan dengan fokus dan rumusan masalah penelitian. Untuk memastikan keabsahan data, digunakan teknik tringulasi sumber, teknik, dan waktu. Tringulasi sumber dilakukan dengan memeriksa data dari berbagai informan, tringulasi teknik melalui kombinasi wawancara dan dokumentasi, serta tringulasi waktu dengan pengambilan data dalam berbagai waktu yang berbeda untuk menghindari bias. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Penyebab Putus Sekolah Pada Masyarakat Batu Bangke Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan uraian hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke di bagi menjadi dua kelompok yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internal Faktor internal ialah aspek yang berasal dari dalam diri anak yang, karena berbagai sebab, dapat menghambat anak untuk melanjutkan pendidikannya (Padli. Faktor internal yang menyebabkan anak putus sekolah terdiri atas rendahnya motivasi dan minat anak sekolah, masalah keluarga dan masalah kesehatan. Pertama. Rendahnya motivasi dan minat anak sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu alasan terjadinya putus sekolah di Masyarakat Batu Bangke adalah rendanya motivasi dan minat anak untuk sekolah. Anak-anak yang putus sekolah cenderung merasa jenuh, kehilangan semangat, dan berkuranngnya hasrat untuk belajar. Bahkan saat ada kesempatan untuk kembali ke sekolah, mereka memilih untuk tidak melanjutkannya. Mereka berpikir bahwa pendidikan tidak lagi relevan dengan kehidupan mereka, sehingga lebih memilih untuk bekerja dan membantu keluarga. Ketika semangat dan keinginan anak untuk belajar tidak dirangsang, maka pendidikan dianggap sebagai sebuah beban, bukan kebutuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Yuliatin et al. , yang menyatakan bahwa motivasi dan minat belajar anak sangat berpengaruh terhadap keputusan mereka untuk putus sekolah, tanpa adanya motivasi yang kuat, kemungkinan anak untuk tetap bersekolah menjadi sangat kecil. Selain itu. Hendrizal . , juga menegaskan bahwa motivasi adalah pendorong utama yang membuat anak ingin terlibat dalam berbagai kegiatan belajar untuk mencapai tujuan tertentu. Tanpa pendorong ini, anak-anak cenderung @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA kurang tertarik untuk melanjutkan sekolah, sebagaimana ditemukan di Dusun Batu Bangke Kedua. Masalah keluarga. Masalah dalam keluarga menjadi salah satu penyebab utama terjadinya putus sekolah pada anak di Dusun Batu Bangke. Permasalahan keluarga seperti perceraian orang tua, konflik rumah tangga, kehilangan orang tua, hingga kurangnya dukungan emosional dan finansial terbukti berpengaruh terhadap semangat dan motivasi anak untuk melanjutkan sekolahnya. Hasil wawancara di lapangan menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga tidak harmonis cenderung kehilangan semangat belajar dan merasa tidak mendapat Kondisi ini menyebabkan mereka memilih untuk berhenti sekolah dan mencari pekerjaan guna membantu diri sendiri maupun keluarga. Hal ini sesuai dengan pandangan yang disampaikan oleh Arsita et al. , bahwa kelurga yang tidak harmonis, seperti perceraian atau hubungan yang tidak saling peduli, dapat menjadi hambatan serius bagi anak dalam melanjutkan pendidikan. Hal ini sejalan dengan Darsih . , yang menegaskan bahwa keluarga memiliki pengaruh terhadap keputusan anak untuk melanjutkan pendidikan atau menghentikan Dalam beberapa kasus, meskipun anak memeiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan, situasi keluarga yang tidak mendukung membuat mereka memilih lebih realistis dan memilih bekerja untuk membantu keuangan Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran besar dalam membentuk kelanjutan pendidikan seorang anak. Ketiga. Masalah kesehatan. Selain rendahnya motivasi dan minat anak untuk sekolah serta masalah keluarga, faktor kesehatan juga menjadi salah satu penyebab penting anak memutuskan untuk putus sekolah. Masalah kesehatan yang di alami anak, baik yang bersifat fisik, maupun mental, terbukti memberikan pengaruh besar terhadap kemampuan mereka untuk mengikuti proses pembelajaran secara optimal. Anak yang memiliki kondisi kesehatan yang baik cenderung lebih mampu menerima pembelajaran dengan baik, sementara mereka yang mengalami masalah kesehatan akan mengalami kesulitan dalam proses tersebut (Masing & Astuti, . Berdasarkan temuan penelitian di lapangan, bahwa keterbatasan dalam kemampuan belajar serta gangguan kesehatan membuat anak merasa tidak percaya diri dan tertekan secara sosial, terutama saat mendapat ejekan dari teman sebayanya. Dukungan keluarga pun sering kali terbatas, karena orang tua mempertimbangkan kondisi kesehatan anak yang dinilai tidak memungkinkan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Alifa . , bahwa masalah kesehatan fisik dan mental menjadi penyebab tingginya angka putus sekolah. Ketika anak-anak tidak bisa mengikuti kegiatan belajar secara konsisten karena masalah kesehatan, mereka cenderung tertinggal dalam proses belajar yang pada akhirnya mendorong mereka mengambil keputusan untuk berhenti sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental anak-anak memainkan peranan penting dalam pilihan mereka untuk memutuskan putus sekolah. Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah aspek yang berasal dari luar diri anak, yang karena berbagai sebab, menjadi penyebab anak tidak melanjutkan sekolahnya (Padli, 2. Faktor eksternal yang menyebabkan anak putus sekolah dikelompokkan menjadi dua yaitu sosial ekonomi dan sosial budaya. Sosial Ekonomi. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA Faktor sosial ekonomi terbagi atas pendapatan dan pekerjaan orang tua, keterlibatan anak dalam pekerjaan, dan pendidikan orang tua: Pertama. Pendapatan dan Pekerjaan Orang Tua. pendapatan dan pekerjaan orang tua menjadi alasan utama anak-anak di dusun Batu Bangke tidak melanjutkan sekolah. Sebagian besar orang tua di dusun tersebut adalah bekerja sebagai petani, buruh tani, dan pekerja bangunan dengan pendapatan yang tidak tetap serta rendah. Rata-rata penghasilan per hari berkisar antara Rp60. 000,00 sampai Rp100. 000,00 bahkan bisa lebih rendah jika mereka hanya bekerja setengah hari atau tidak bekerja sama sekali. Untuk pendapatan bulanan, orang tua yang bekerja sebagai buruh tani atau kuli bangunan berada di kisaran Rp2. 000,00 hingga Rp3. 000,00 dan jumlah ini bisa berbeda setiap bulannya. Meskipun begitu, pada musim tertentu, seperti saat panen padi dan tembakau, pendapatan buruh tani bisa meningkat. Ini disebabkan oleh fakta bahwa saat musim tersebut, orang tua yang bekerja sebagai buruh tani tidak hanya kerja di ladang, tetapi juga melakukan pekerjaan di rumah. Dengan tidak stabilnya penghasilan orang tua, mereka tentu mengalami kesulitan dalam membiayai pendidikan anak-anak mereka. Ini sejalan dengan pendapat Syarofah . , bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, maka biaya yang dibutuhkan juga akan semakin besar. Dengan demikian, bagi orang tua yang berpendapatan rendah tentu akan kesulitan dalam membiayai pendidikan anakanaknya, sebaliknya orang tua dengan pendapatan yang tinggi umumnya tidak mengalami masalah dalam membiayai keperluan pendidikan anaknya. Meskipun sejumlah anak sangat ingin melanjutkan studi, termasuk ke jenjang pendidikan tinggi, mereka akhirnya memilih untuk bekerja demi membantu perekonomian Hal ini sejalan dengan pendapat Ridwan et al. , menyatakan bahwa salah satu penyebab anak putus sekolah adalah kondisi ekonomi, yaitu keterbatasan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak pada jenjang Saat pendapatan orang tua hanya mencukup untuk kebutuhan sehari-hari, seringkali menjadi sulit untuk mengutamakan pendidikan anak. Sebagai konsekuensinya, anak-anak biasanya memilih untuk bekerja atau menunda pendidikan mereka selama beberapa tahun demi menambah pendapatan keluarga. Kedua. Keterlibatan Anak dalam Pekerjaan. Fenomena keterlibatan anak dalam pekerjaan menjadi salah satu penyebab terjadinya putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke. Banyak anak yang mulai terjun ke dunia kerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, bahkan ada yang mengambil alih tanggung jawab orang tua sebagai pencari nafkah. Saat anak mulai mendapatkan penghasilan sendiri, keinginan mereka untuk terus bersekolah cenderung berkurang, terutama jika pendapatan yang mereka peroleh dirasa sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pendapat Oktaviani . , yang mengungkapkan bahwa keterbatasan sumber daya ekonomi dalam keluarga merupakan alasan utama yang mendorong anak-anak untuk mencari pekerjaan guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Lebih lanjut. Asmiati et al. , menjelaskan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga mempengaruhi minat dan motivasi anak untuk tetap bersekolah, sehingga anak memilih untuk berhenti sekolah dan membantu pekerjaan orang Meskipun pendapatan yang mereka peroleh tidak terlalu besar, setidaknya mereka dapat membantu meringankan beban orang tua dan terhindar dari tanggung jawab biaya pendidikan mereka. Ketiga. Pendidikan Orang Tua. Salah satu faktor lain yang menyebabkan anak putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke adalah latar belakang pendidikan orang @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA Banyak orang tua dari anak yang putus sekolah hanya mendapatkan pendidikan hingga tingkat dasar atau menengah, bahkan ada yang tidak menyelesaikan sekolah Situasi ini mengakibatkan mereka kurang menyadari pentingnya pendidikan yang berkelanjutan untuk masa depan anak-anak mereka. Meskipun beberapa orang tua di Dusun Batu Bangke menganggap pendidikan itu penting, dukungan mereka untuk anak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih terbatas, karena mereka beranggapan anak cukup belajar sampai bisa membaca dan menulis. Pemikiran ini berpengaruh pada rendahnya motivasi anak untuk melanjutkan pendidikan karena kurangnya dukungan dari keluarga. Hal ini sejalan dengan pendapat Maghfirah . , bahwa latar belakang pendidikan orang tua siswa yang putus sekolah sebagaian besar termasuk dalam kategori sedang dan rendah, yaitu rata-rata hanya sampai SD. SMP, atau SMA. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan, serta lemahnya dukungan terhadap kelangsungan pendidikan anak-anak mereka. Selain itu. Pandu et al. menyatakan bahwa tingkat pendidikan orang tua berperan dalam keputusan anak untuk berhenti sekolah. Ketidaktahuan orang tua akan pentingnya pendidikan membuat sebagian orang tua yang putus sekolah tidak berharap banyak pada kelanjutan pendidikan anaknya. Dengan demikian, tingkat pendidikan orang tua yang rendah turut berkontribusi pada keputusan anak untuk berhenti sekolah. Sosial Budaya Faktor sosiala budaya terdiri atas lingkungan tempat tinggal dan pernikahan muda: Pertama. Lingkungan tempat tinggal. Lingkungan tempat tinggal juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anak memutuskan untuk berhenti sekolah. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan, di mana sebagian besar masyarakat hanya menyelesaikan pindidikan hingga jenjang SMP atau SMA cenderung membentuk pola pikir bahwa pendidikan tinggi bukanlah suatu keharusan. Mereka menganggap bahwa bekerja lebih realistis untuk membantu perekonomian keluarga, terlebih lagi jumlah anak yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi di dusun tersebut bisa di hitung jumlahnya. Berdasrkan hasil wawancara peneliti di lapangan, diketahui bahwa beberapa anak merasa tidak perlu melanjutkan sekolah karena disekitar mereka pun tidak banyak yang menempuh ke pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa berhenti sekolah lebih awal adalah sesuatu yang Keadaan ini sesuai dengan pendapat Awaru . , yang menyatakan bahwa lingkungan yang kurang kondusif terhadap pendidikan dapat mengurangi motivasi dan rasa percaya diri anak, serta menimbulkan tekanan sosial untuk mengikuti tren tertentu, sehingga berpotensi membuat anak tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang Selain itu. Aminah et al. , menjelaskan bahwa ketika pendidikan tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan utama, keputusan untuk berhenti sekolah menjadi lebih mudah diambil. Pengaruh lingkungan pergaulan yang negatif dapat mendorong anak-anak terjerumus dalam keputusan untuk putus sekolah, meskipun sebenarnya mereka memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan yang lebih baik. Kedua. Pernikahan muda. Pernikahan di usia muda menjadi salah satu penyebab anak-anak di Dusun Batu Bangke memilih untuk tidak melanjutkan Beberapa remaja menikah saat berada masih dalam masa usia sekolah, baik karena keputusan pribadi maupun tekanan dari lingkungan sekitar. Bagi mereka, menikah muda dianggap sebagai solusi cepat untuk keluar dari kondisi tidak bersekolah atau menganggur, terutama setelah menyelesaikan sekolah pada tingkat SMP atau SMA. Pendapat Aprilia et al. , menguatkan kondisi ini @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA dengan menyatakan bahwa lingkungan turut mempengaruhi keputusan pernikahan Jika di lingkungan sekitar anak banyak yang menikah di usia muda, tidak menutup peluang bagi anak-anak lain untuk mengikuti, agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Selain itu. Maghfirah . , juga menegaskan bahwa pernikahan muda merupakan salah satu penyebab siswa putus sekolah. Kebiasaan masyarakat untuk menikahkan anak setelah mencapai usia akil balig menjadi salah satu hambatan besar dalam kelangsungan pendidikan anak. Dengan demikian pernikahan muda tidak hanya berdampak pada perubahan status sosial anak, tetapi juga mengubah prioritas hidup mereka. Penanggulangan Putus Sekolah Pada Masyarakat Batu Bangke Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa penanggulangan putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke dikelompokkan menjadi dua kategori utama yaitu penanggulangan secara langsung dan penanggulangan secara tidak langsung. Pertama. Penanggulangan secara langsung merupakan tindakan nyata yang ditujukan langsung kepada anak yang telah putus sekolah dengan tujuan utama mengembalikan anak putus sekolah ke dunia pendidikan. Penanggulannga putus sekolah secara langsung dilakukan melalui pendidikan alternatif. Pendidikan alternatif ini menjadi salah satu strategi pendekatan yang diterapkan oleh masyarakat Batu Bangke dalam mengatasi persoalan putus sekolah. Berdasarkan hasil penelitian, bentuk pendidikan alternatif yang diterapkan adalah melalui Program SMA Terbuka. Program SMA Terbuka ini merupakan kolaborasi antara pemerintah desa dengan sekolah SMA Negeri 1 Praya Timur. Program ini ditujukan untuk menjangkau anakanak yang putus sekolah atau anak-anak yang tidak bisa mengakses pendidikan formal pada jenjang SMA karena berbagai kendala, seperti kondisi ekonomi, permasalahan keluarga, putus sekolah karena perceraian, kurangnya motivasi belajar, faktor kesehatan, dan sebagainya. Program ini terbukti mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat, karena menawarkan pembelajaran yang gratis dan fleksibel dalam hal waktu dan tempat belajar. Menurut Afiat . , pendidikan alternatif dapat berfungsi sebagai substitute, supplement, dan complement. Sebagai subtitute, pendidikan alternatif menggantikan pendidikan formal bagi masyarakat yang tidak dapat mengakses jalur sekolah karena hambatan tertentu. Fungsi ini tampak dalam keberadaan SMA Terbuka sebagai pengganti pendidikan formal reguler bagi anak-anak yang tidak dapat melanjutkan sekolah melalui jalur umum. Program ini memungkinkan mereka tetap memperoleh pendidikan melalui sistem yang lebih fleksibel dan tidak membebani secara biaya. Selain itu, keberadaan program ini juga berfungsi sebagai supplement dan compelement, karena mampu melengkapi pengalaman pendidikan anak-anak yang sebelumnya terputus dan membuka kesempatan baru untuk menuntaskan pendidikan jenjang SMA secara fleksibel. Selanjutnya, menurut Sulis Tyaningsih et al. SMA Terbuka memberikan kesempatan bagi individu dari beragam latar belakang untuk mengikuti pendidikan tingkat sekolah menengah atas dengan cara yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Program SMA Terbuka ini menawarkan alternatif menarik yang memungkinkan siswa mengatasi hambatan geografis dan mengatur waktu belajar mereka secara lebih mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan SMA Terbuka ini sangat tepat diterapkan pada @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA masyarakat Batu Bangke, dikarenakan program ini mampu menjawab tantangan pendidikan tanpa membebani keluarga secara finansial dan waktu. Dengan demikian, pendidikan alternatif melalui Program SMA Terbuka bukan hanya solusi teknis dalam menanggulangi putus sekolah, tetapi juga mencerminkan bentuk adaptasi sosial masyarakat terhadap sistem pendidikan formal yang belum sepenuhnya menjangkau kelompok rentan. Program ini menjadi penanggulangan putus sekolah yang relevan dan potensial untuk diterapkan di wilayah lain yang menghadapi permasalahan serupa. Kedua. Penanggulangan secara tidak langsung merupakan tindakan yang berfokus pada penciptaan lingkungan yang kondusif dan membangun kesadaran serta motivasi agar anak tidak putus sekolah, melalui perubahan pola pikir dan perilaku Penanggulanngan putus sekolah secara tidak langsung dilakukan melalui kampanye pendidikan dan optimalisasi komunikasi orang tua dan anak. kampanye pendidikan merupakan salah satu strategi yang dilakukan dalam penanggulangan putus sekolah di masyarakat Batu Bangke. Kampanye ini dilakukan oleh aparat desa dan tokoh masyarakat melalui penyampaian informasi dalam berbagai forum pertemuan warga, pembagian bantuan sosial, hingga acara pelantikan organisasi desa seperti IKMA DL. Kegiatan kampanye yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan demi masa depan anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Yuliatin et al. , bahwa pemberian sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan diharapkan bisa mengubah pola pikir anak dan orang tua, sehingga mereka menyadari bahwa pendidikan sangat penting bagi kehidupan di masa depan. Dalam pelaksanaannya, kampanye pendidikan ini tidak hanya memberikan informasi tentang pentingnya pendidikan, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat terutama orang tua dari anak-anak yang putus sekolah untuk berperan aktif dalam mendata dan mengarahkan anak-anak putus sekolah agar melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Salah satu bentuk nyata dari kampanye ini adalah upaya dalam memberikan informasi dan mengarahkan anak-anak putus sekolah supaya masuk SMA terbuka yang merupakan kolaborasi pemerintah desa dengan sekolah SMA Negeri 1 Praya Timur. Hal ini merupakan langkah inovatif yang dilakukan dalam upaya penanggulangan anak putus sekolah. Sejalan dengan itu. Lorensa et al. , . , juga meyatakan bahwa kampanye diadakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah anak-anak yang berpotensi putus sekolah, dan berkolaborasi dengan lembaga sosial serta pendidikan lainnya. Kegiatan kampanye ini secara tidak langsung memperkuat upaya masyarakat dalam mengurangi anak yang putus sekolah melalui keterlibatan aktif dari berbagai pihak. Kampanye pendidikan ini juga, selaras dengan strategi preventif yang dijelaskan oleh National Dropout Prevention Center (NDPC) merupakan sebuah lembaga nasional yang fokus pada pencegahan putus sekolah. NDPC menekankan pentingnya pendekatan sistemik serta pelibatan aktif dari keluarga. Pendekatan sistemik yang dimaksud dalam hal ini merujuk pada keterlibatan berbagai unsur komunitas seperti keluarga, sekolah, perangkat desa, dan tokoh masyarakat melalui cara-cara sederhana, seperti penyuluhan lisan dan ajakan langsung, meskipun tidak dalam bentuk program yang formal. Meski demikian, pelibatan semua pihak menjadi kunci dari keberhasilan pelaksanaan kampanye pendidikan. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA Selanjutnya. Optimalisasi komunikasi orang tua dan anak, juga merupakan salah satu strategi penting dalam penanggulangan putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke. Komunikasi yang efektif seperti komunikasi yang terbuka, rutin, dan penuh dukungan antara orang tua dan anak terbukti memiliki pengaruh besar terhadap keberlanjutan pendidikan anak. Ketika orang tua aktif membangun komunikasi, seperti memberikan dorongan moral, menenangkan anak terkait biaya, serta menunjukkan perhatian terhadap kondisi belajar anak dengan menanyakan aktivias atau tugas sekolah anak, hal tersebut dapat membentuk rasa dihargai dan didukung anak dalam menempuh pendidikannya. Anak pun menjadi lebih termotivasi untuk menyelesaikan pendidikannya. Sebaliknya, kurangnya komunikasi dalam keluarga menyebabkan anak merasa diabaikan, tidak mendapat arahan, dan akhirnya lebih rentan membuat keputusan sendiri untuk berhenti sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Larasati . , bahwa penanggulangan putus sekolah dapat dilakukan dengan melibatkan orang tua secara aktif dalam pendidikan anak, melalui komunikasi rutin dan terbuka, serta mendengarkan keluhan anak terkait masalah Warisna et al. , juga menambahkan bahwa nasihat dan diskusi orang tua mengenai pentingnya pendidikan dapat membentuk pola pikir anak agar lebih termotivasi untuk tetap bersekolah. KESIMPULAN Berdasar pada hasil kajian yang telah di lakukan di Dusun Batu Bangke, mengenai faktor penyebab putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: . Faktor-faktor yang menyebabkan putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah mencakup faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi a. rendahnya motivasi dan minat anak sekolah, b. masalah keluarga, dan c. masalah kesehatan. Sementara itu, faktor eksternal meliputi: a. sosial ekonomi. pendapatan dan pekerjaan orang tua, keterlibatan anak dalam pekerjaan, dan pendidikan orang tua. sosial budaya. lingkungan tempat tinggal, dan pernikahan muda. Penanggulangan putus sekolah pada masyarakat Batu Bangke Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah dikategorikan ke dalam dua bentuk penanggulangan, yaitu. Penanggulangan secara langsung yaitu melalui pendidikan alternatif seperti program sekolah SMA Terbuka, yang memberikan kesempatan bagi anak-anak yang putus sekolah pada jenjang sekolah menengah atas untuk melanjutkan pendidikan secara fleksibel. penanggulangan secara tidak langsung yaitu melalui kampanye pendidikan, yang dilakukan oleh pemerintah desa dan tokoh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, serta optimalisasi komunikasi orang tua dan anak, agar orang tua memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan anak dan tercipta dukungan emosional serta motivasi yang lebih kuat bagi anak untuk tetap bersekolah. SARAN Berdasarkan temuan penelitian yang diperoleh, peneliti menyampaikan sejumlah rekomendasi yang ditujukan kepada berbagai pihak terkait, sebagai berikut: Untuk pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan sekolah SMA N 1 Praya Timur, @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ismaini dkk. Faktor Penyebab Putus Sekolah pada Masyarakat Batu BangkeA diharapkan dapat terus memperkuat program pendidikan alternatif seperti SMA Terbuka, serta memperluas jangkauannya agar lebih banyak anak putus sekolah dapat mengaksesnya. Selain itu, penting untuk melakukan kampanye pendidikan secara formal juga, supaya dapat menjangkau lebih banyak orang tua dan remaja agar semakin sadar akan pentingnya keberlanjutan pendidikan. Untuk orang tua, diharapkan dapat lebih aktif dalam membangun komunikasi yang positif dendan anak-anak mereka, memberikan dorongan moral serta mendukung secara emosional dan materiil agar anak tidak kehilangan motivasi untuk melanjutkan sekolah meskipun dalam kondisi keterbatasan ekonomi atau kondisi Diharapkan juga untuk anak-anak yang putus sekolah supaya memiliki kesadaran untuk melanjutkan pendidikannya melalui pendidikan alternatif yang sudah disediakan serta tidak menjadikan keterbatasan yang ada sebagai alasan untuk berhenti sekolah. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menindaklanjuti penelitian ini dengan cakupan wilayah yang lebih luas dengan fokus pada aspekaspek lainnya, seperti efektivitas dari masing-masing penanggulangan putus sekolah tersebut atau yang lainnya. DAFTAR PUSTAKA