Jurnal Dialektika Loka Vol. 1 No. 1 (Mei 2. Hal. 30 - 42 STRATEGI KOMUNIKASI INTERPERSONAL PENGASUH PONDOK PESANTREN DALAM MENANAMKAN SIKAP KRITIS SANTRI TERHADAP ISU RADIKALISME DI MEDIA SOSIAL Fatkhur Rohman Komunikasi dan Penyiaran Islam. Fakultas Dakwah. Universitas Al-Qolam Malang . mail: fatkhurrohman19@alqolam. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui strategi komunikasi interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot dalam menanamkan sikap kritis santri terhadap isu radikalisme di media sosial. Metode penelitian yang dilakukan yaitu penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan naratif. Subjek pada penelitian ini adalah Pengasuh dan santri Pondok Pesantren Al-Khoirot. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat enam strategi yang diterapkan pengasuh dalam upaya menanamkan sikap kritis santri terhadap isu radikalisme di media sosial. Keenam strategi tersebut terbagi menjadi tiga perspektif komunikasi interpersonal, yakni perspektif situasional, perspektif perkembangan, dan perspektif interaksional. Perspektif situasional dengan mengulang materi di setiap pengajian dan membuka sesi tanya jawab, hal ini diterapkan dalam upaya memberikan pemahaman kepada santri. perspektif perkembangan dengan menerbitkan buku dan buletin santri, kedua strategi ini diterapkan dalam upaya membangun hubungan akrab dengan santri, agar santri benar-benar paham terhadap apa yang disampaikan oleh pengasuh. perspektif interaksional dengan membentuk organisasi alumni dan mengetahui esensi media sosial, kedua strategi ini diterapkan dalam upaya memberikan pengasuh positif terkait isu radikalisme yang ada di kehidupan sehari-hari maupun di media sosial. Strategi ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang keilmuan, misalnya membentuk karakter anak, memberikan sajian materi, dan lain Sikap kritis yang diterapkan santri Al-Khoirot adalah berdasarkan indikator sikap kritis, di antaranya: berpikir secara konten, mempunyai sikap-sikap intelektual, standar intelektual universal, membedakan antara informasi, iklan, dan pengetahuan, dan berpikir kritis berdasarkan kemampuan diri sendiri. Berdasarkan indikator tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap kritis yang ditunjukkan oleh santri tidak mendalam seperti halnya sikap kritis yang diterangkan oleh Richard Paul. Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal. Sikap Kritis. Isu Radikalisme ABSTRACT This research was conducted at Al-Khoirot Islamic Boarding School Malang. The purpose of this research is to find out the interpersonal communication strategies of Al-Khoirot Islamic Boarding School caretakers in instilling a critical attitude of students towards the issue of radicalism on social media. The research method used is Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. qualitative research using a narrative approach. The subjects in this study were caregivers and students at the AlKhoirot Islamic Boarding School. The results of this study indicate that there are six strategies applied by caregivers in an effort to instill a critical attitude of students towards the issue of radicalism on social media. The six strategies are divided into three perspectives of interpersonal communication, namely situational perspective, developmental perspective, and interactional perspective. A situational perspective by repeating material in each study and opening a question and answer session, this is applied in an effort to provide understanding to students. developmental perspective by publishing books and student bulletins, these two strategies are applied in an effort to build close relationships with students, so that students really understand what is conveyed by caregivers. an interactional perspective by forming alumni organizations and knowing the essence of social media, these two strategies are implemented in an effort to provide positive caregivers regarding issues of radicalism that exist in everyday life and on social media. This strategy can be applied in various fields of science, for example forming children's character, providing material presentations, and so on. The critical attitude applied by Al-Khoirot students is based on indicators of critical attitude, including: thinking in terms of content, having intellectual attitudes, universal intellectual standards, distinguishing between information, advertising and knowledge, and thinking critically based on one's own abilities. Based on these indicators it can be concluded that the critical attitude shown by the students is not as deep as the critical attitude explained by Richard Paul. Keywords: Interpersonal Communication. Critical Thinking. Radicalism Issues PENDAHULUAN Radikalisme menjadi kosa kata yang tidak asing terdengar di telinga kita, radikalisme menjadi hal yang sensitif dan membawa aura kejahatan, kekerasan, ketidaklurusan, pemahaman yang salah dan persepsi yang lain. Penelitian ini membahas tentang isu radikalisme, dari segi strategi dan bahasan terkait komunikasi yang diterapkan oleh pengasuh pondok pesantren. Pengasuh memiliki kewajiban untuk menangkal dan menanamkan sikap kritis terhadap bahan dan isi media sosial yang di dalamnya mengandung unsur isu radikalisme. Radikalisme merupakan ajaran yang bermula dari sebuah organisasi dan kelompok yang mengatasnamakan Islam sebagai benteng untuk dijadikan sebagai alasan mereka melakukan gerakan tersebut. Mereka menganggap apa yang mereka perbuat adalah benar dan sesuai dengan kaidah dan ajaran Islam. Seperti peristiwa Al-Qaeda pada 11 September 2001 yang terjadi di gedung World Trade Center (WTC) New York, setidaknya terdapat 12. 000 penyerangan oleh teroris yang mengakibatkan ribuan orang meninggal di lokasi tersebut. Aksi ini sekaligus menjadi era baru gerakan terorisme berbasis Islam, sehingga dunia menyorot Islam sebagai agama yang keras terbukti dengan adanya gerakan terorisme yang terjadi kala itu. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga yang berfokus terhadap agama, namun di waktu bersamaan mereka kurang memperhatikan isu ataupun berita yang beredar di media sosial. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot. KH Ahmad Fatih Syuhud, mengatakan bahkan banyak kiai dan santri yang tertipu dan percaya berita yang ada di media sosial yang mana berita tersebut Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dari persepsi inilah peneliti sangat tertarik untuk menguak lebih lanjut terkait strategi pengasuh dalam menanamkan sikap kritis terhadap isu radikalisme yang ada di berita dan media sosial. Menurut Richard Paul berpikir kritis merupakan kegiatan evaluasi secara kritis yang dilakukan seseorang terhadap suatu objek yang dituju. Tujuan berpikir kritis adalah untuk meningkatkan pola berpikir dialektik dalam memecahkan, melihat, dan menganalisis sebuah peristiwa ataupun masalah yang dihadapi. Berpikir kritis juga dapat sebagai bahan untuk memperbaiki masalah agar sejalan dengan wacana peningkatan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan hasil belajar. KH. Ahmad Fatih Syuhud selalu menekankan sikap kritis terhadap santrinya dalam menangkal dan memfilter konten di media sosial yang mengandung ajaran Wahabi seperti doktrin mengkafirkaan sesama muslim. Selain itu, penyampaian secara intensif juga selalu disampaikan dalam forum apa pun, baik melalui kajian kitab dengan santri bahkan alumni. Sikap kritis yang sangat tinggi inilah yang membuat peneliti ingin menguak lebih dalam komunikasi interpersonal dan strategi pengasuh dalam menanamkan sikap kritis terhadap santri. Komunikasi personal adalah proses sosial terkait konteks, rumit, yang di dalamnya orangorang yang telah membangun hubungan komunikatif bertukar pesan dalam upaya untuk menghasilkan makna-makna yang dianut bersama dan mencapai tujuan sosial (Widowatie, 2. Pesan dalam konteks ini bermakna kumpulan ekspresi perilaku, umumnya berupa simbol-simbol yang dapat dibuat dan dimengerti bersama tanpa adanya tambahan informasi lebih lanjut. Pesan interpersonal dapat dipahami dengan dua indikasi, yakni isi pesan dan relasi pesan. Maksud dari isi pesan adalah fokus atau tema pesan yang sedang dibicarakan yang menjadi inti dari bahan Sedangkan relasi pesan merupakan pernyataan dari kedua belah pihak baik pemberi pesan maupun penerima pesan yang menyebabkan adanya keterkaitan atau hubungan antara keduanya (Nurdin, 2. Hal lain yang melatarbelakangi peneliti mengambil topik ini adalah pola komunikasi dan strategi yang diterapkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Al Khoirot dalam menanamkan segala bentuk doktrin kepada santri, agar nantinya bentuk ajaran dan materi yang disampaikan dapat benar-benar diterima dengan baik dan tidak hanya dijadikan sebagai lintas telinga saja. TINJAUAN PUSTAKA Komunikasi merupakan kegiatan yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Selain manusia merupakan makhluk sosial, manusia juga memerlukan komunikasi untuk berinteraksi dengan siapa pun, baik komunikasi secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi interpersonal merupakan segala bentuk interaksi antara komunikator dan komunikan, baik verbal maupun Bentuk komunikasinya pun bersifat fleksibel, artinya segala bentuk komunikasi dapat dimaknai dan tergolong ke dalam komunikasi interpersonal. Karena bentuknya yang sangat kompleks maka akan banyak makna dan penjelasan yang sangat luas terkait jenis komunikasi Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. tersebut, misalnya pembahasan tentang strategi, bentuk, hasil dan dampak dari komunikasi itu Komunikasi antar pribadi masyarakat beda agama menunjukan keharmonisan jika diterapkan menggunakan komunikasi interpersonal. Penelitian oleh (Sihabuddin et al. , 2. memberikan pemahaman bahwa respon komunikator terhadap komunikan dalam masyarakat beda agama dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kemudian komunikasi interpersonal menunjukan makna bahwa toleransi memiliki batas-batas tertentu namun tidak menghilangkan esensi dari toleransi yang telah lama dilakukan Bersama. Perubahan makna beberapa bentuk interaksi interpersonal diinterpretasikan oleh individu sendiri berdasarkan pengalaman hidupnya. Toleransi yang tinggi merupakan refleksi dari ketaatan dan pemahaman beragama yang dianut oleh penganut agama masing-masing. Pola komunikasi interpersonal juga bisa digunakan sebagai bahan untuk mengembalikan rasa percaya diri lawan bicara baik secara kontan maupun bertahap. Hal ini didukung dengan banyaknya jenis komunikasi dan hal mendorong komunikasi tersebut, seperti penanaman konsep, komunikasi intensif, dan masih banyak yang lainnya. Bahkan pola komunikasi interpersonal dapat dijadikan salah satu alternatif untuk mengembalikan kesehatan mental. Komunikasi interpersonal dijadikan sebagai alternatif untuk mengembalikan kesehatan mental yang trauma akan tragedi Covid-19 (Agustin et al. , 2. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa komunikasi interpersonal sangat berperan untuk mengembalikan kesehatan mental keluarga korban virus Covid-19 yang melanda Indonesia bahkan bagi mereka yang menata kehidupan mereka pasca terjangkit virus tersebut. Kebanyakan masyarakat menganggap pemberitaan di media sosial terkait Covid-19 sebagai hal yang menakutkan, oleh sebab itu kesehatan mental masyarakat Selain riset yang membahas tentang komunikasi interpersonal, riset lain yang menjadi rujukan peneliti adalah mengenai isu radikalisme. Riset berjudul Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam Berbasis Problem Based Learning untuk Menyangkal Radikalisme pada Peserta Didik SMA Negeri di Kota Bandar Lampung, menunjukkan radikalisme dapat mengancam peserta didik di sekolah melalui bahan ajar. Hingga dibuatkan bahan ajar khusus untuk menangkal radikalisme tersebut. Riset ini berfokus terhadap pengembangan bahan ajar pendidikan agama Islam berbasis problembased learning untuk menangkal radikalisme agar nantinya siswa tidak menerima materi yang mengandung ajaran radikalisme (Syafei, 2. Riset ini menunjukkan hasil, yakni siswa menunjukkan sikap yang berbeda sesudah dan sebelum diberikan bahan ajar berbasis problembased learning. Siswa menunjukkan sikap kritis terhadap isu-isu radikalisme yang ada di media sosial, kehidupan sehari-hari, dan ajaran radikalisme itu sendiri. Semakin canggihnya teknologi membuat segala sesuatu menjadi mudah untuk dilakukan. dengan adanya internet, media sosial, situs berita, dan lain sebagainya. Inilah yang dimanfaatkan oleh kaum radikalis untuk menyebarkan ajarannya melalui internet dan media sosial. Penelitian berjudul Pergeseran Literasi pada Generasi Milenial Akibat Penyebaran Radikalsime di Media Sosial Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. membahas tentang bagaimana kaum radikalis memanfaatkan internet sebagai media penyebaran ajaran mereka. Kaum radikalis memanfaatkan pergeseran literasi pada generasi milenial yang sebagian besar beralih ke media sosial. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa generasi milenial mudah terdoktrin dan secara tidak sadar telah menerima banyak ajaran radikalisme yang tersebar di media sosial (Fanindy & Mupida, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan naratif yang berfokus terhadap narasi, cerita, atau deskripsi tentang peristiwa terkait dengan pengalaman manusia. Pendekatan naratif dipahami dengan teks yang dituturkan atau dituliskan dengan menceritakan peristiwa atau aksi yang terhubung secara kronologis. Penelitian ini berawal dari asumsi bahwa dengan mendengarkan cerita seseorang kita dapat memahami fenomena yang terjadi. Dalam pendekatan ini, cerita menjadi data yang sangat penting. Oleh karena itu, dibutuhkan pertanyaan yang cukup mendalam sebagai upaya menggali data yang detail. Pendekatan naratif digunakan untuk memahami pengalam seseorang atau pun diri sendiri. Penelitian ini berfokus terhadap bentuk komunikasi interpersonal pengasuh dalam menerapkan sikap kritis santri terhadap isu radikalisme di media sosial. Subjek dari penelitian ini adalah pengasuh dan santri Al-Khoirot. Pengasuh sebagai narasumber utama untuk mengetahui strategi pengasuh dalam mendoktrin santri agar terpengaruh terhadap pesan yang disampaikan. Santri sebagai responden untuk mengetahui bentuk komunikasi yang digunakan pengasuh dalam menangkal radikalisme di media sosial. Dari total populasi 1400 santri, peneliti mengambil 20 santri untuk dijadikan partisipan dalam studi naratif, mereka yang mengikuti kajian pengasuh dan yang diberi izin oleh pengasuh untuk menggunakan Android di pondok pesantren. Prosedur pengumpulan data yang akan dilakukan peneliti adalah sebagai berikut: Peneliti menentukan dan menganalisis apakah problem risetnya paling baik menggunakan pendekatan Menentukan fenomena yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Memilih satu atau lebih individu yang memiliki cerita atau pengalaman yang terkait dengan tema yang dibahas. Data dikumpulkan dari individu yang mengalami pengalaman tersebut melalui wawancara mendalam dengan partisipan. Mengumpulkan informasi tentang konteks dari cerita tersebut. Menganalisis cerita dari para partisipan, peneliti dapat mengambil peran aktif dan menyusun kembali dalam bentuk tulisan yang bermakna. Dalam pendekatan naratif terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan peneliti agar data yang diperoleh akurat dan dapat dipahami. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam proses analisis data yang pertama adalah memeriksa data, kemudian peneliti mengembangkan berbagai makna yang diperoleh dari pernyataan penting. Selanjutnya peneliti menulis deskripsi secara tekstural dan struktural untuk mempresentasikan esensi dari fenomena tersebut. Untuk mengecek kebenaran data yang diperoleh, peneliti menggunakan teknik triangulasi data, yakni Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. menyediakan bukti yang berasal dari sumber data, hasil wawancara, metode yang digunakan, serta teori yang digunakan dalam riset tersebut. HASIL Perspektif Situasional Perspektif situasional dimaksudkan untuk melihat keterlibatan seseorang dalam berkomunikasi baik verbal dan nonverbal. Indikator utama dalam perspektif ini adalah terjadinya interaksi atau komunikasi antara dua orang atau lebih dan memiliki kesempatan untuk memberikan umpan baik dengan segera. Berikut adalah strategi pengasuh yang masuk kategori perspektif situasional: Mengulang Materi Strategi yang diterapkan pengasuh dalam menanamkan sikap kritis santri terhadap isu radikalisme di media sosial adalah dengan mengulang-ulang materi tentang pentingnya mengetahui isu radikal terutama yang ada di media sosial. Radikal dianggap sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup umat Islam, oleh karena itu materi yang disampaikan selalu diulang-ulang. AuSaya meniru apa yang dicontohkan dalam Al-Quran bahwa hal yang penting itu harus selalu diulangulang, dengan berbagai cara selalu disebut dalam berbagi kesempatan, hal-hal yang penting selama AlQuran turun di Mekkah. Allah mengulang-ulang tentang tauhid dan di Madinah tentang pentingnya hidup harmonis dan juga tentang syariat seperti pentingnya Shalat, beramal soleh dan itu diulang-ulang Nah kita juga mengulang-ulang itu dengan berbagai bahasa yang mungkin agak sedikit berbeda yang penting intinya pesan yang disampaikan dapat dimengerti dengan baik. Jadi pengulangan itu penting menunjukkan bahwa betapa pentingnya berislam dengan cara yang Wasathiyah tadi. Ay Memahami Esensi Media Sosial Memahami esensi media sosial merupakan hal yang sangat penting dalam menangkal isu radikalisme di media sosial. Adapun yang dimaksud dari mengetahui esensi media sosial adalah seseorang bisa memilah-milah mana pendapat yang benar dan pendapat yang tidak sesuai dengan akidah ahlu as-sunah wa al-jamaAoah. Jika sudah diketahui, maka tugas kita selanjutnya adalah membuang pendapat yang bertentangan dengan akidah Wasathiyah dan mengambil pendapat yang sesuai dengan Islam Wasathiyah. AuYang dimaksud di sini bisa memilah-milah mana pendapat yang betul-betul nyata, dan ilmiah dan mana pandangan-pandangan yang sebenarnya itu hoaks atau berita bohong itu dulu esensinya, kalau sudah bisa memilah-milah antara pendapat yang benar dengan yang tidak, maka yang tidak benar dibuang otomatis dan pendapat yang betul-betul yang berasal dari orangnya. Ay Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. Perspektif Perkembangan Perspektif perkembangan merupakan gabungan antara komunikasi impersonal dan Komunikasi interpersonal bisa juga diartikan sebagai sebuah kontinum. Ketika seseorang baru pertama kali melakukan komunikasi, mereka berada pada tahap impersonal. Dan jika interaksi dilanjutkan dengan bertukar pikiran dan saling memberikan informasi personal, pada tahap ini komunikasi disebut interpersonal. Indikator utama dalam perspektif perkembangan adalah adanya hubungan akrab sebagai hasil dari komunikasi interpersonal. Tanya Jawab Membuka tanya jawab sangat penting untuk mengetahui apakah santri paham apa yang dimaksud oleh pengasuh atau tidak. Sesi tanya jawab juga mendukung pengasuh agar santri dapat berinteraksi secara bebas dan mengemukakan penjelasan yang kurang dimengerti dalam kajian AuKita buka seluas-luasnya tanya jawab setiap pengujian, dari situ kita tahu apakah anak itu terkena racun radikalisme atau tidak. Ay Poin yang hendak disampaikan dalam strategi tanya jawab adalah memberikan ruang seluas-luasnya bagi santri untuk berinteraksi langsung dengan pengasuh, karena umumnya santri malu untuk mengemukakan pendapatnya kepada pengasuh dikarenakan malu dan takut. Membuat Organisasi Alumni Dari hasil wawancara dengan pengasuh, salah satu strategi yang diterapkan dalam upaya terhindar dari radikal adalah dengan membuat organisasi alumni, yang diperuntukkan bagi alumni Pondok Pesantren Al-Khoirot. Organisasi tersebut memiliki aturan yang mengikat berupa setiap alumni dilarang mengikuti aliran-aliran garis keras dan berpedoman terhadap ajaran Islam Wasathiyah, hal ini juga sebagai perantara menyebarkan Islam Wasathiyah kepada masyarakat di sekitar alumni-alumni Pondok Pesantren Al-Khoirot. AuDi dalam organisasi tersebut harus bermanhaj Wasathiyah yang berarti berakidah asAoariyah, bermazhab empat yang kedua dilarang mengikuti aliran-aliran garis keras baik aliran garis keras yang ada di luar aswaja, seperti Wahabi dan HTI atau mengikuti aliran garis keras yang termasuk dalam aswaja seperti FPI dan kalau mengikuti itu, maka akan dikeluarkan dari organisasi alumni. Ay Perspektif Interaksional Perspektif interaksional adalah solusi sekaligus menutupi kekurangan kedua perspektif di Perspektif interaksional menjadikan pengaruh sebagai konsep utama dalam perspektif ini. Indikator utama pada perspektif ini adalah hubungan akrab yang ditimbulkan dari hasil komunikasi interpersonal yang dijalin oleh dua orang atau lebih. Berikut merupakan strategi pengasuh ditinjau dari pespektif interaksional: Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. Menerbitkan Buku Strategi selanjutnya yang diterapkan adalah menerbitkan buku yang dapat menangkal isuisu radikalisme baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun di media sosial. Menurut keterangan dari pengasuh, kita tidak bisa hanya mencegah dengan cara selalu mengingatkan santri tentang bahayanya radikalisme, namun perlu dibuatkan gagasan berbentuk narasi yang nantinya menjadi pedoman dalam upaya menangkal radikalisme. Buku tersebut yang nantinya dapat menjadi tolak ukur apakah seseorang terhasut atau masuk ke dalam ajaran radikal. AuKita terbitkan buku untuk memberi dasar-dasar pandangan yang disebut dengan Wasathiyah itu apa, itu supaya tahu pagar-pagarnya, jadi kapan kita itu termasuk golongan Wasathiyah dan kapan kita keluar dari Wasathiyah, karena tanpa pengetahuan tentang di mana pagarnya wasahatiyah dan kapan kita disebut radikal maka kita akan berpotensi besar akan masuk ke dalam radikalisme, dan itu banyak terjadi di kalangan pesantren. Ay Penerbitan Buletin Santri Buletin merupakan strategi selanjutnya yang diterapkan pengasuh dalam mengakal dan mengetahui apakah santri memiliki kecenderungan terhadap radikalisme. Dengan melihat tulisan yang ditulis oleh santri, pengasuh dapat menilai apakah santri memiliki kecenderungan kepada aliran garis keras atau tidak. Selain itu, buletin merupakan bentuk narasi kecil selain buku yang dapat memberikan pemahaman kepada santri dalam bentuk tulisan dan santri juga dilatih untuk mengasah kemampuannya dalam hal menulis. AuKita kadang-kadang baru tahu orang itu punya kecenderungan ke radikal atau tidak, itu dari Makanya buletin itu penting supaya orang-orang yang terlihat cerdas dan banyak baca, kita harapkan mereka bisa menyumbang tulisan ke buletin-buletin tersebut. supaya kita bisa melihat mereka yang mungkin ada yang agak terpengaruh baik dalam politik maupun secara opiniAy Sikap Kritis Sikap kritis terhadap isu radikalisme di media sosial sangat ditekankan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot. Hal ini sejalan dengan visi dan misi pondok, yakni menjadikan santrinya sebagai penganut ajaran ahlussunnah wal jamaAoah yang benar dan sesuai yang telah diajarkan oleh pendahulu-pendahulu kita. Dalam media sosial terdapat banyak sekali kontenkonten yang berhubungan dengan agama, sosial, pendidikan, dan masih banyak yang lainnya. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena jangkauannya yang menyeluruh sehingga informasi yang diunggah tersebar secara merata dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Menurut data yang peneliti dapat dari hasil wawancara dengan Mustofa Ali Maksum, dia lebih memilih untuk tidak memedulikan konten radikal yang ada di media sosial karena sebagai sikap hati-hati supaya tidak terpengaruh dari isi yang disampaikan dalam konten tersebut. AuSaya lebih memilih untuk skip, karena terkadang muncul di Youtube, saya lebih memilih untuk melewati dari pada menonton konten tersebut sampai selesai, soalnya saya paham bahwa diri saya tidak sekritis itu, dan saya takut Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. terpengaruh oleh isu radikalisme yang saya tonton atau saya baca. Dari pada saya terpengaruh, mendingan saya lewati konten tersebut dan mengikuti apa yang diucapkan kiai. Ay Kaum radikal dapat membahayakan terhadap kehidupan seseorang dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu pengasuh menerangkan dengan memberikan contoh yang sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa kini, dibuktikan dengan data yang valid terkait isu yang beredar di media sosial. Berdasarkan hasil wawancara dengan Eka Prasetyo, dia menjelaskan karakteristik Wahabi yang dia ketahui dari kajian yang dia ikuti, hal ini menunjukkan kebenaran data yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan. AuBerdasarkan sepengetahuan saya, dari apa yang sudah disampaikan oleh kiai, radikal adalah sebuah gerakan yang ekstrem, mengkafirkan sesama muslim dan menghakimi orang yang tidak sesuai dengan golongannya adalah kafir dan boleh dibunuh. Jika kita ambil contoh pada zaman sekarang, yaitu dari kelompok salafi Wahabi yang menganut tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wasifat yang mana jika seseorang tidak sesuai dengan golongannya maka akan dianggap kafir. Ay Selain dari ajarannya yang keras dan sesat, kaum radikal juga memaksa pengikutnya untuk patuh dan terhadap ajarannya yang keras. Berdasarkan hasil wawancara dengan Deni Malik: AuKaum radikal itu seakan-akan menghilangkan hak asasi manusia yang mengedepankan prinsip keselamatan umat, sedangkan kaum radikal menghakimi bahwa orang yang tidak sepemahaman dengan mereka, maka hukumnya kafir dan boleh dibunuh. Ay Dia menjelaskan bahwa kaum radikal seakan-akan menghilangkan hak asasi manusia yang sampai saat ini dijaga dan dipelihara di Indonesia, hak asasi manusia membuat masyarakat menjadi aman dan darahnya terpelihara dengan aman, yakni dengan adanya hak asasi manusia tersebut. DISKUSI Berdasarkan hasil wawancara dengan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot, yakni KH Ahmad Fatih Syuhud beliau menerangkan yang menjadi dasar menanamkan sikap kritis dan mengajarkan tentang isu radikalisme adalah karena tuntutan dan perintah dari hadist yang berbunyi Aoalaikum bisawadi al-aAodzom yang mempunyai esensi makna mengikuti golongan yang Karena hanya dengan golongan mayoritas mereka akan selamat dari ajaran-ajaran sesat dan tidak benar. Hal ini dipertegas dengan adanya hadist tersebut yang mengajarkan pentingnya mengikuti golongan atau kelompok yang paling banyak dan tidak mengikuti golongan kecil yang mempunyai peluang salah dan sesat yang lebih banyak dari pada dengan golongan yang mayoritas. AuKita diperintahkan untuk mengikuti golongan mayoritas dalam Islam, kenapa kita diperintahkan mengikuti golongan mayoritas dalam Islam? Ya karena golongan mayoritas itu yang paling sedikit kemungkinan untuk salah, golongan itulah adalah yang disebut golongan wasatiyah, golongan moderat. Dan golongan itulah yang paling sesuai dan paling mendekati ajaran Islam, baik dalam Al-Quran maupun dalam hadist, ya kan dari Al-Quran itu prinsipnya Islam itu harus dibuat mudah, dan jadi kewajiban kita semua untuk memastikan bahwa Santri Al-Khoirot itu menganut aliran wasatiyah moderat, karena itu apa, karena itu yang diperintahkan Rosululloh. Ay Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. Pengasuh menjelaskan kenapa kita diharuskan mengikuti golongan mayoritas, karena golongan tersebutlah yang memiliki kemungkinan lebih besar kebenarannya baik dalam masalah tauhid atau akidah, fikih, dan sistem pemerintahannya dari pada golongan yang minoritas. Beliau juga menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam kita diperintahkan untuk mengambil pendapat yang mudah baik dalam melakukan praktik ritual keagamaan maupun bermuamalah, karena hal tersebut merupakan kunci dalam ajaran Islam. AuSayyidah Aisyah menceritakan bahwa Rosululloh itu setiap mengambil suatu hukum dimana ada dua posisi antara sulit dan mudah, maka beliau selalu memilih yang mudah, nah, selalu memilih yang mudah di antara hukum-hukum yang memang berlandaskan syariah, yakni al-Quran, sunah dan pandangan ulama, itu adalah prinsip dari moderat. Dan kenapa prinsip moderat itu harus kita pertahankan dan perjuangkan? Bukan hanya kita pertahankan tapi kita perjuangkan karena itulah kunci stabilitas umat, jadi umat itu bisa stabil kalau mayoritas mengikuti garis moderat dan menghindari dari radikal. Dan kenapa radikal itu harus diperangi? Karena itu adalah kunci Ay Kaum moderat yang dimaksud adalah mereka yang memilih pendapat yang mudah dan tidak mudah terpecah belah karena perbedaan pendapat yang ada. Karena moderasi dapat menstabilkan umat Islam bahkan lintas agama yang biasa kita kenal dengan moderasi beragama, yakni menghormati umat beragama yang lain tanpa mencaci maki dan hidup dengan damai. Hal demikian yang selalu ditekankan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot dalam menanamkan sikap yang baik terhadap sesama dan selalu memberikan solusi terhadap segala permasalahan yang ada. Kaum radikal dinilai tidak Wasathiyah, karena mereka menganggap diri mereka paling benar dan menyalahkan kelompok yang tidak sesuai dengan mereka. Sedangkan kebenaran yang mutlak adalah kesepakatan ulama banyak tanpa menganggap dan merasa paling benar dari berbagai pendapat yang ada. Mereka saling menghargai pendapat satu dengan yang lainnya dan dalam masalah fikih. Hal ini dibenarkan, dalam artian perbedaan ulama menandakan bahwa terdapat banyak pilihan dalam mengambil sebuah hukum dan semua benar. Teori komunikasi interpersonal diartikan sebagai bentuk interaksi antara dua orang atau lebih baik dengan tujuan memberikan timbal balik, keakraban, atau mempengaruhi. Dari data yang diperoleh peneliti, menunjukkan subjek penelitian dalam hal ini adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot telah melaksanakan tiga perspektif komunikasi interpersonal. Adapun ketiganya adalah perspektif situasional, yakni dengan mengulang-ulang materi tentang bahayanya radikalisme di media sosial yang dapat mempengaruhi perilaku bahkan pemikiran seseorang jika sampai terhasut ke dalamnya, selanjutnya dengan mengajarkan kepada santri tentang bagaimana memahami esensi media sosial yang baik dan benar. Kedua adalah perspektif perkembangan, yakni dengan membentuk organisasi alumni guna untuk menjaga alumni agar terhindar dari isu radikalisme di dunia nyata khususnya di media sosial, kemudian dengan membuka tanya jawab Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. seluas-luasnya kepada santri agar pengasuh dapat berinteraksi lebih mendalam dengan santri tujuannya supaya santri benar-benar memahami terhadap apa yang disampaikan pengasuh. Ketiga adalah perspektif interaksional menekankan terhadap interaksi yang bertujuan untuk memberikan pengaruh dalam berkomunikasi, strategi yang dilakukan adalah dengan menerbitkan buku tentang ajaran ahlu as-sunah wa al-jamaah sebagai pagar utama santri dalam memahami ajaran aswaja dan bahayanya radikalisme. Selain menerbitkan buku, pengasuh juga membuka penerbitan buletin agar santri terlatih untuk menulis di media sosial sekaligus meningkatkan sikap kritis santri terhadap isu radikalisme di media sosial. Dalam penelitian ini Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot menerapkan strategi komunikasi interpersonal sebagai perantara untuk menyampaikan pesan kepada santri terkait pentingnya memahami bahaya radikalisme khususnya di Indonesia. Dari beberapa perspektif yang sudah dijelaskan, diketahui bahwa pengasuh menerapkan ketiga perspektif yang ada, sehingga penyampaian pesan kepada santri dapat dipahami dengan baik. Sehingga memperbesar kemungkinan pengasuh untuk memberikan pengaruh kepada santri terhadap bahaya radikalisme. KESIMPULAN Penelitian ini mempresentasikan terkait strategi Pengasuh Pondok Pesantren dalam menanamkan sikap kritis santri terhadap isu radikalisme di media sosial. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa media sosial menjadi tempat untuk kita berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, media sosial menjadi tempat untuk menerima informasi, baik berupa berita, konten, dan lain Isu radikalisme dinilai berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat, karena dinilai keluar dari ketentuan syariat yang diajarkan dalam agama Islam. Radikalisme adalah paham keras dalam Islam yang bertentangan dengan ajaran Islam. Radikal merupakan aliran keras dalam Islam yang memosisikan diri sebagai pelaku amar maAoruf nahi munkar, mereka mengajak siapa pun yang ingin bergabung dalam organisasi mereka dengan dalih mencegah kemungkaran yang menurut mereka benar, meskipun dengan menggunakan kekerasan. Indikator komunikasi interpersonal juga dijelaskan dalam upaya untuk mengetahui strategi komunikasi yang diterapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot. Setidaknya terdapat tiga perspektif yang diterapkan oleh pengasuh dalam menanamkan sikap kritis santri, yakni perspektif situasional, perspektif perkembangan, dan perspektif interaksional. Setidaknya terdapat 6 strategi yang diterapkan pengasuh dalam menanamkan sikap kritis santri terhadap isu radikalisme di media sosial, yakni dengan mengulang materi di setiap pengajian, membuka sesi tanya jawab, menerbitkan buku dan buletin santri, membentuk organisasi alumni, dan mengetahui esensi media sosial. Hal ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang keilmuan, misalnya membentuk karakter anak, memberikan sajian materi, dan lain sebagainya. Strategi Komunikasi Interpersonal Pengasuh Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Sikap Kritis Santri Terhadap Isu Radikalisme di Media Sosial Dialektika Loka Vol. No. 1 (Mei 2. REFERENSI