Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Desember 2025: 255-264 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Optimalisasi Digital Akses Beasiswa Pendidikan Bagi Santri Kelas Akhir MA Madrasatul QurAoan Tebuireng Jombang Optimizing Digital Access to Education Scholarships for Final Year Students of MA Madrasatul Qur'an Tebuireng Jombang Shobihus Surur1. Akhsinatul Kumala2. Sholihul Anshori3. Burhanuddin Ridlwan4. Ali Said5. Ainun Fitri Mughiroh6. Iftitaahul Mufarrihah7 PAI. Fakultas Agama Islam. Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang KPI. Fakultas Agama Islam. Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang Teknik Informatika. Fakultas Teknik Informatika. Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang *Correspondence: shobihussurur@unhasy. 1,2,3,4,5 Abstrak Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan peluang baru bagi dunia pendidikan, termasuk akses terhadap beasiswa yang kini hampir seluruhnya berbasis daring. Namun, keterbatasan literasi digital masih menjadi tantangan serius bagi santri di lingkungan Program pengabdian ini bertujuan untuk mengoptimalkan literasi digital santri kelas akhir MA Madrasatul QurAoan Tebuireng Jombang dalam mengakses berbagai program Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan santri dan guru secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Kegiatan dilakukan melalui identifikasi kebutuhan, pelatihan keterampilan digital, pendampingan intensif, evaluasi hasil, serta refleksi bersama. Hasil program menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada keterampilan dasar digital santri, khususnya dalam penggunaan email, pendaftaran beasiswa daring, dan penyusunan dokumen digital. Peningkatan rata-rata kemampuan mencapai 47% berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Lebih dari sekadar kemampuan teknis, santri juga mengalami peningkatan kepercayaan diri untuk menjelajahi informasi pendidikan tinggi dan membangun jejaring dengan lembaga pemberi beasiswa. Guru pembimbing turut bertransformasi menjadi fasilitator literasi digital, memperkuat budaya kolaborasi dalam pembelajaran. Program ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membangun model praktik baik yang dapat direplikasi di pesantren lain. Dengan demikian, optimalisasi literasi digital melalui pendekatan partisipatif terbukti menjadi strategi efektif dalam menjembatani kesenjangan digital serta memperluas keadilan akses Diharapkan, keberlanjutan program dapat terwujud melalui pembentukan pusat informasi beasiswa digital, pengembangan relawan literasi, dan perluasan jejaring Kata kunci: literasi digital, santri, akses beasiswa, pesantren, pengabdian masyarakat Abstract The rapid advancement of digital technology has created new opportunities in education, particularly in accessing scholarships which are now predominantly online-based. Nevertheless, limited digital literacy remains a critical challenge among students in Islamic boarding schools . This community service program aims to optimize the digital A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Desember 2025: 255-264 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 literacy of final-year students at MA Madrasatul QurAoan Tebuireng Jombang in accessing various scholarship opportunities. The study applied a Participatory Action Research (PAR) approach, actively involving students and teachers in every stage of the program. Activities included needs assessment, digital skills training, structured mentoring, evaluation, and collective reflection. Findings revealed significant improvements in studentsAo basic digital competencies, particularly in email usage, online scholarship registration, and digital document preparation. Based on pre-test and post-test results, average skills improved by Beyond technical capacity, students developed greater self-confidence in exploring higher education opportunities and building networks with scholarship providers. Teachers, meanwhile, transformed their roles into digital literacy facilitators, reinforcing collaborative learning culture within the pesantren. This program not only benefited individuals but also established a replicable model of best practices for other Islamic boarding schools. Therefore, optimizing digital literacy through participatory approaches proves to be an effective strategy to bridge the digital divide and promote equitable access to education. The sustainability of the program is expected to be ensured through the establishment of a digital scholarship information center, the development of digital literacy volunteers, and the expansion of institutional partnerships. Keywords: digital literacy, santri, scholarship access, pesantren, community service PENDAHULUAN Digitalisasi global telah mendorong perubahan paradigma dalam hampir semua aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Transformasi ini mempersyaratkan setiap individu, termasuk pelajar di lingkungan pesantren, untuk menguasai keterampilan digital sebagai bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Dalam konteks ini, literasi digital menjadi syarat mutlak bagi generasi muda untuk dapat mengakses peluang pendidikan seperti beasiswa secara kompetitif. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa lingkungan pesantren di Indonesia masih mengalami kesenjangan digital, baik dari segi infrastruktur teknologi maupun keterampilan penggunanya. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional belum secara optimal mengintegrasikan teknologi dalam kurikulum dan pembelajaran . Hal ini berimplikasi pada terbatasnya kemampuan santri dalam menjelajah informasi beasiswa yang kini hampir seluruhnya berbasis Literasi digital bukan hanya kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi juga mencakup kemampuan kritis dalam menilai, mengolah, dan menggunakan informasi digital secara etis dan produktif . Oleh karena itu, peningkatan literasi digital di pesantren harus dirancang sebagai bagian dari strategi pemberdayaan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Banyak program beasiswa pendidikan tingg baik dari pemerintah maupun swasta mensyaratkan proses pendaftaran, seleksi administrasi, dan wawancara secara Santri yang tidak memiliki kemampuan digital berpotensi tertinggal dalam mengakses peluang ini, terlepas dari kecemerlangan akademik atau kualitas moral yang mereka miliki . A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Desember 2025: 255-264 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Sebagai salah satu pesantren ternama di Jombang. Madrasatul QurAoan Tebuireng memiliki potensi besar dalam mencetak generasi Islam yang unggul. Namun, potensi ini memerlukan dukungan transformasi digital agar para santri siap menghadapi tantangan global. Penguatan literasi digital perlu menjadi bagian integral dari strategi pengembangan santri kelas akhir, khususnya dalam hal penguasaan akses informasi beasiswa . Penelitian terkini menunjukkan bahwa integrasi kurikulum berbasis teknologi di lingkungan pesantren berkontribusi positif terhadap peningkatan motivasi belajar, kemampuan berpikir kritis, dan kesiapan berkompetisi di ranah pendidikan tinggi . Pesantren yang adaptif dengan perubahan digital terbukti mampu menghasilkan santri yang tidak hanya religius, tetapi juga literat teknologi. Kolaborasi antara pesantren, universitas, dan lembaga donor dapat menjadi solusi strategis dalam menumbuhkan budaya literasi digital di kalangan santri. Kolaborasi ini tidak hanya menyangkut penyediaan sarana dan prasarana, tetapi juga pendampingan intensif dan pelatihan teknologi terapan . Studi bibliometrik oleh Wicaksono & Pratama . menunjukkan bahwa meskipun wacana literasi digital telah marak dibahas, implementasinya di pesantren masih bersifat sporadis dan kurang terstruktur. Hal ini terjadi karena belum adanya kebijakan internal yang sistematis serta minimnya SDM yang memiliki kompetensi teknologi informasi. Peningkatan literasi digital santri juga merupakan strategi untuk menjembatani ketimpangan akses pendidikan antara wilayah kota dan pesantren. Dengan digitalisasi, santri dapat mengakses informasi beasiswa dari berbagai sumber, mengikuti kursus daring, dan membangun portofolio digital yang diperlukan dalam proses seleksi perguruan tinggi . Berdasarkan urgensi di atas, kegiatan pengabdian ini difokuskan pada peningkatan literasi digital santri kelas akhir di Madrasatul QurAoan Tebuireng. Diharapkan, melalui pelatihan digital yang aplikatif dan kontekstual, santri tidak hanya mahir dalam aspek spiritual, tetapi juga kompeten dalam mengakses peluang pendidikan tinggi melalui jalur beasiswa digital. METODE Pendekatan PAR . articipatory action researc. digunakan sebagai metode utama dalam kegiatan ini, karena memberikan ruang partisipasi aktif bagi santri dan guru sebagai subjek perubahan. PAR menekankan kolaborasi, refleksi kritis, serta tindakan berbasis data dalam konteks komunitas pendidikan, termasuk pesantren. Pendekatan ini sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam yang kolektif dan A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Desember 2025: 255-264 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Adapun aplikasi dari metode tersebut yakni sebagai berikut: Tahapan ke 1: Identifikasi Kebutuhan melalui Survei dan Wawancara. Kegiatan dimulai dengan melakukan survei literasi digital terhadap 40 santri menggunakan kuesioner Google Form. Survei ini mengukur kemampuan dasar penggunaan perangkat digital, akses informasi online, dan pengalaman mengakses Di sisi lain, wawancara mendalam dilakukan kepada 5 guru pembimbing guna menggali perspektif mereka tentang hambatan struktural dan potensi santri dalam ranah digital. Analisis Temuan Awal untuk Perancangan Program. Data dari survei dan wawancara dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil ini menjadi dasar untuk merancang materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal pesantren. Hal ini sejalan dengan prinsip PAR yang menekankan desain program berbasis kebutuhan nyata komunitas. Tahapan ke 2: Pelatihan Literasi Digital dan Akses Beasiswa. Materi pelatihan difokuskan pada keterampilan praktis seperti pembuatan akun email, pendaftaran di platform beasiswa . isalnya KIP-K. Beasiswa LPPD di web i. , serta teknik penulisan motivation letter dan esai Kegiatan dilakukan di laboratorium komputer madrasah secara berkelompok dan dibimbing oleh fasilitator terlatih. Setiap sesi dilengkapi dengan simulasi dan praktik langsung. Pendampingan Terstruktur dan Kontekstual. Santri diberikan modul digital yang disusun sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Pendampingan dilaksanakan dalam format coaching mingguan dan pemantauan via grup WhatsApp "Beasiswa MQ" yang dibuat untuk memperkuat jejaring informasi dan diskusi. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan peserta. Tahapan ke 3: Evaluasi Efektivitas Program. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan posttest untuk mengukur peningkatan literasi digital santri. Selain itu, observasi partisipatif digunakan untuk menilai perubahan perilaku santri dalam mengakses informasi beasiswa secara mandiri. Pendekatan triangulasi data memperkuat validitas hasil evaluasi. Refleksi Terbuka dan Tindak Lanjut. Sesi refleksi terbuka dilakukan pada akhir program untuk menggali umpan balik dari peserta dan guru Umpan balik ini menjadi bahan revisi program ke depan. Peserta yang menunjukkan progres tinggi dipilih sebagai peer mentor dalam program literasi digital berkelanjutan. Penguatan Keberlanjutan melalui Jejaring Digital. Untuk memastikan keberlanjutan dampak, peserta dilibatkan dalam komunitas digital pendidikan pesantren. Di samping itu, hasil kegiatan ini akan diintegrasikan sebagai model praktik baik yang dapat direplikasi oleh madrasah lain di bawah naungan Yayasan Tebuireng, sesuai anjuran pengembangan literasi digital berbasis lokal. A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Desember 2025: 255-264 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Metode dan tahapan-tahapan praksisnya apabila divisualisasikan agar mudah dipahami adalah sebagai berikut: Gambar 1. Diagram alir metode pengabdian HASIL DAN PEMBAHASAN Survey Awal Hasil survei yang dilakukan terhadap 40 santri kelas akhir MA Madrasatul QurAoan Tebuireng mengungkapkan kondisi literasi digital yang masih memprihatinkan. Dari total responden, sebanyak 75% santri mengaku belum terbiasa menggunakan komputer secara mandiri, baik untuk kegiatan akademik maupun Lebih jauh, hanya 30% santri yang memiliki alamat email aktif, padahal email merupakan prasyarat dasar untuk mendaftar beasiswa daring maupun layanan digital lain. Data ini mempertegas adanya kesenjangan digital yang cukup signifikan di pesantren, yang sejalan dengan temuan Taufikin, dkk . bahwa keterbatasan infrastruktur teknologi serta minimnya paparan perangkat digital menjadi hambatan utama dalam pendidikan berbasis Fakta ini menunjukkan bahwa santri masih berjarak dengan teknologi yang seharusnya dapat membantu mereka dalam mengakses peluang pendidikan tinggi, khususnya beasiswa, sehingga memerlukan intervensi melalui program literasi digital yang terstruktur. Pelatihan literasi digital Menjawab permasalahan tersebut, tim pelaksana menyusun kegiatan pelatihan literasi digital selama tujuh kali pertemuan. Kegiatan dipusatkan di laboratorium komputer madrasah dengan jumlah perangkat terbatas, yakni hanya 20 unit, sehingga sistem rotasi dan kerja kelompok diterapkan. Meskipun demikian, partisipasi santri sangat tinggi dengan tingkat kehadiran rata-rata mencapai A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Desember 2025: 255-264 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan aktual santri, meliputi pembuatan akun email, penggunaan portal pendaftaran beasiswa, pengunggahan dokumen digital, hingga penyusunan motivation letter. Proses pelatihan berlangsung interaktif, dengan santri tidak hanya mendengarkan, tetapi langsung mempraktikkan keterampilan yang diajarkan. Tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa literasi digital bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar yang benar-benar dirasakan oleh santri. Melalui pelatihan ini, santri diperkenalkan pada dunia digital secara lebih aplikatif, sehingga mereka dapat membangun kepercayaan diri dalam menggunakan teknologi untuk tujuan pendidikan. Gambar 2. Pelatihan Literasi Digital Kepada siswa Hasil pre-test dan post-test Untuk mengukur keberhasilan pelatihan, tim melakukan evaluasi menggunakan instrumen pre-test sebelum kegiatan dimulai dan post-test setelah kegiatan Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata sebesar 47% pada berbagai keterampilan digital. Kemampuan membuat email meningkat dari 30% menjadi 85%, login ke portal beasiswa dari 20% menjadi 78%, dan mengunggah dokumen digital dari 15% menjadi 72%. Sementara itu, keterampilan menyusun motivation letter yang sebelumnya hanya dikuasai 10% santri meningkat hingga 60%. Tabel 1 merangkum hasil tersebut secara Tabel 1. Hasil Kegiatan PKM dan Hasil Pre-test Post-test Pertemuan Aktifitas Tujuan Pretest (%) - Membuat email - Agar siswa dapat melakukan log in 30 85 pada browser untuk melakukan searching web penyedia beasiswa. Post- Peningkatan (%) (%) A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Desember 2025: 255-264 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 - Untuk melakukan log in pada portal beasiswa secara umum melalui google Pertemuan - Login portal beasiswa Aktifitas - Menggali informasi lebih dalam Tujuan tentang jadwal, jenis beasiswa, penyedia dan syarat Pertemuan - Mengunggah dokumen digital Aktifitas - Untuk memenuhi salah satu tahapan Tujuan dalam seleksi beasiswa adalah dengan menggunggah dokumen digitla ke portal beasiswa sebagai salah satu syarat memnuhi tahapan-tahapan Pertemuan - Menyusun motivation letter Aktifitas - Untuk memenuhi salah satu tahapan Tujuan dalam seleksi beasiswa adalah dengan menggunggah dokumen digitla ke portal beasiswa sebagai salah satu syarat memnuhi tahapan-tahapan Pertemuan - Diskusi kelompok digital Aktifitas - Sharing informasi dan pengalaman Tujuan dari teman tentang persiapan dokumen-dokumen secara digital - Sharing informasi dengan teman yang telah berhasil login atau mampu menyelesaikan tahap demi tahap seleksi beasiswa Data ini memperlihatkan transformasi nyata dalam waktu relatif singkat. Peningkatan signifikan pada hampir semua indikator membuktikan bahwa program pengabdian ini berhasil menjawab kebutuhan literasi digital santri, sekaligus memperkuat efektivitas pendekatan partisipatif yang digunakan. A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Desember 2025: 255-264 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Observasi tindak lanjut Observasi pasca pelatihan menunjukkan perubahan perilaku digital yang cukup Santri yang sebelumnya pasif mulai proaktif mencari informasi beasiswa melalui internet, mengunduh panduan resmi, dan bahkan mendiskusikan prosedur lebih lanjut dengan guru pembimbing. Pola perilaku baru ini menunjukkan bahwa keterampilan digital yang mereka kuasai bukan sekadar pengetahuan teknis, melainkan sudah mulai diinternalisasi dalam aktivitas sehari-hari. Perubahan ini menjadi indikator keberhasilan program yang melampaui sekadar pelatihan. Santri tidak hanya bisa membuat email atau mengunggah dokumen, tetapi juga berani mengeksplorasi peluang pendidikan lebih jauh. Transformasi budaya belajar ini selaras dengan gagasan Hajar . tentang reformasi pendidikan berbasis teknologi yang mampu mendorong perubahan pola pikir generasi muda. Dengan demikian, pelatihan ini bukan hanya menghasilkan keterampilan baru, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian santri dalam menjelajahi dunia Umpan balik peserta dan guru Umpan balik dari peserta memperlihatkan dampak psikologis yang signifikan. Santri mengaku lebih percaya diri, merasa mampu bersaing, dan termotivasi untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Bagi sebagian besar, pengalaman membuat motivation letter dan mengisi formulir daring menjadi pencapaian pertama yang Guru juga merasakan manfaat dari program ini. Mereka menilai kegiatan ini sebagai inspirasi untuk merancang metode pembelajaran berbasis digital lainnya, baik untuk mendukung kegiatan akademik maupun administratif. Hal ini sejalan dengan konsep Participatory Action Research (PAR), di mana refleksi kolektif menjadi bagian penting dari proses transformasi. Rahman . menegaskan bahwa guru perlu berperan sebagai fasilitator literasi digital, dan program ini membuktikan bahwa pergeseran peran tersebut dapat terwujud secara nyata. Kegiatan ini menjadi momentum bagi guru dan santri untuk sama-sama belajar, memperkuat kolaborasi, dan membangun ekosistem pendidikan pesantren yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. 6 Hambatan dan solusi Dalam pelaksanaannya, beberapa kendala masih ditemui. Hambatan utama adalah keterbatasan perangkat komputer dan padatnya jadwal santri yang terbagi antara kegiatan akademik, diniyah, dan ibadah. Kondisi ini sering membuat waktu pelatihan harus disesuaikan dengan fleksibilitas tinggi. Untuk mengatasi kendala tersebut, tim pelaksana menerapkan strategi pembagian kelompok kecil serta memperluas waktu belajar melalui diskusi daring di grup WhatsApp. Solusi ini terbukti efektif dalam menjaga kesinambungan pembelajaran tanpa mengganggu jadwal utama santri. Pendekatan adaptif ini sesuai dengan rekomendasi Lestari dan Rahmayana . yang menekankan pentingnya fleksibilitas dalam pendidikan berbasis pesantren. Hambatan yang ada justru menjadi pengalaman berharga untuk merancang model pembelajaran yang realistis dengan kondisi pesantren. Keberhasilan mengatasi kendala tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Desember 2025: 255-264 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 bukanlah penghalang mutlak, melainkan tantangan yang dapat dipecahkan dengan strategi kreatif dan partisipatif. Kontribusi dan potensi replikasi Secara keseluruhan, capaian program melampaui target awal. Indikator seperti peningkatan skor post-test, bertambahnya jumlah santri yang berhasil mendaftar beasiswa daring, serta keaktifan mereka dalam grup diskusi digital menjadi bukti konkret keberhasilan program. Lebih dari itu, program ini turut berkontribusi memperkecil kesenjangan digital antara santri di pesantren dan siswa di perkotaan, mendukung prinsip keadilan sosial dalam pendidikan. Hal ini sejalan dengan argumentasi Lathifah, dkk . tentang pentingnya kolaborasi teknologi untuk mendukung SDGs di sektor pendidikan. Model pelatihan berbasis partisipatif ini sangat potensial direplikasi di pesantren lain dengan karakteristik serupa. Dengan penyesuaian konteks lokal dan penguatan sumber daya, program ini dapat menjadi strategi pemberdayaan digital pesantren secara nasional. Achadi menegaskan bahwa literasi digital di institusi Islam bukan sekadar penguasaan teknis, tetapi juga strategi memperluas akses pendidikan yang adil. Inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi program-program pengabdian serupa di masa mendatang. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa literasi digital dapat menjadi pintu masuk penting dalam meningkatkan akses pendidikan di kalangan Melalui pendekatan partisipatif, santri kelas akhir MA Madrasatul QurAoan Tebuireng tidak hanya memperoleh keterampilan teknis seperti pembuatan email, pengisian formulir daring, dan penyusunan dokumen digital, tetapi juga mengalami peningkatan rasa percaya diri untuk menjelajahi peluang pendidikan tinggi. Program ini membuktikan bahwa pesantren, meski dengan keterbatasan fasilitas, mampu beradaptasi terhadap tantangan era digital dan membangun budaya pembelajaran berbasis teknologi. Sebagai tindak lanjut, disarankan pembentukan pusat informasi beasiswa digital di lingkungan madrasah, pengembangan tim relawan literasi digital internal yang berperan sebagai pendamping sejawat, serta perluasan jejaring kerja sama dengan lembaga pemberi beasiswa dan perguruan tinggi mitra. Dengan langkah tersebut, keberlanjutan program akan lebih terjamin dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, baik oleh santri maupun institusi pesantren. DAFTAR PUSTAKA