Sophia Dharma: Jurnal Filsafat. Agama Hindu, dan Masyarakat e-ISSN: 2829-6958 * https://e-journal. iahn-gdepudja. Volume 8 Nomor 2. Oktober 2025 MAKNA FILSAFAT ATMAN DALAM PELAKSANAAN UPACARA NGERORAS Ngurah Komang Ariawan Universitas Islam Al Azhar Mataram Komang. ariawan33@gmail. Abstract Keywords: Philosophy of atman. Ngeroras ceremony This study aims to examine the philosophical significance of Atman in the Ngeroras Ceremony, one of the stages of Atman's perfection in Balinese Hindu tradition. The Ngeroras Ceremony is understood as a transformative rite that represents the tattwa teachings about the Atman's journey after death and the implementation of beliefs in the Five Principles, specifically Atman. Karmaphala, and Punarbhava. This research employed a qualitative approach with case study methods, participant observation, and in-depth interviews with the ceremony's organizers, priests, and family members. Data analysis was conducted through interpretive reduction, presentation, and conclusion-drawing techniques to uncover the symbols, meanings, and philosophical values contained within the ritual. The results indicate that the Ngeroras Ceremony functions as a spiritual purification process that leads the Atman to a higher level of consciousness. The symbolic meanings of the ritual, such as the use of fire, light, and offerings . , illustrate the Atman's transformation from avidya to vidya and the return of physical elements to the In addition to its theological value. Ngeroras also has a social dimension, strengthening family solidarity and fulfilling pitra rna. This research confirms that Ngeroras is not merely a traditional obligation, but a theological and philosophical practice that reflects Balinese Hindus' deep understanding of the essence of Atman and the cycle of life. Thus, this ceremony serves as a crucial medium for maintaining the continuity of Hindu teachings, values, and spirituality amidst changing times. Abstrak Kata kunci: Fisafat Atman. Upacara Ngeroras Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna filsafat Atman dalam pelaksanaan Upacara Ngeroras sebagai salah satu tahapan penyempurnaan Atman dalam tradisi Hindu Bali. Upacara Ngeroras dipahami sebagai ritus transformatif yang merepresentasikan ajaran tattwa tentang perjalanan Atman setelah kematian serta implementasi keyakinan terhadap Panca Sradha, khususnya Atman. Karmaphala, dan Punarbhava. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam terhadap pemangku, pandita, dan anggota keluarga pelaksana upacara. Analisis data dilakukan melalui teknik reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara interpretatif untuk mengungkap simbol, makna, dan nilai filosofis yang terkandung dalam Hasil penelitian menunjukkan bahwa Upacara Ngeroras berfungsi sebagai proses penyucian spiritual yang mengantar Atman menuju tahap kesadaran lebih tinggi. Makna-makna simbolik dalam ritual, seperti penggunaan api, cahaya, dan banten, menggambarkan transformasi Atman dari kondisi avidya menuju vidya serta pengembalian unsur-unsur jasmaniah ke jagat raya. Selain bernilai teologis. Ngeroras juga memiliki dimensi sosial berupa penguatan solidaritas keluarga dan pemenuhan pitra rna. Penelitian ini menegaskan bahwa Ngeroras bukan sekadar kewajiban adat, tetapi merupakan praktik teologis dan filosofis yang merefleksikan pemahaman mendalam masyarakat Hindu Bali terhadap esensi Atman dan siklus kehidupan. Dengan demikian, upacara ini menjadi media penting dalam menjaga kesinambungan ajaran, nilai, dan spiritualitas Hindu di tengah perubahan Pendahuluan Hindu sebagai salah satu agama besar memiliki tatanan filsafat yang kaya dan mendalam, terutama dalam memahami hakikat manusia dan perjalanan spiritualnya. Salah satu konsep fundamental dalam ajaran Hindu adalah Atman, yang dipandang sebagai esensi diri terdalam dan abadi. Atman dipahami sebagai percikan Brahman yang bersifat suci, kekal, dan menjadi inti eksistensi makhluk hidup. Pemahaman tentang Atman tidak hanya bersifat filosofis, tetapi juga terwujud dalam berbagai ritual keagamaan, termasuk ritual kematian dan penyucian roh seperti upacara Ngeroras. Upacara Ngeroras merupakan salah satu rangkaian penting dalam tradisi pitra yadnya yang dilaksanakan oleh umat Hindu, khususnya di Bali dan beberapa daerah dengan tradisi Ritual ini dilaksanakan pada hari ke-12 setelah kematian seseorang. Ngeroras dipahami sebagai tahapan penyempurnaan roh atau atma pitra, agar dapat melanjutkan proses evolusinya menuju alam pitra atau perjalanan spiritual selanjutnya. Dengan demikian. Ngeroras bukan sekadar upacara adat, tetapi sebuah manifestasi praktik mendalam dari ajaran tattwa Hindu. Dalam tradisi Hindu, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah transisi menuju keadaan baru. Pemahaman tentang transisi tersebut sangat dipengaruhi oleh konsep Punarbhava atau kelahiran kembali. Ngeroras menempati kedudukan penting dalam rangkaian ritus kematian karena diyakini menjadi momen penyucian atma sebelum bergerak menuju tahap berikutnya. Upacara ini membantu memastikan bahwa atma terbebas dari keterikatan duniawi yang dapat menghambat perjalanan spiritualnya. Secara filosofis, upacara Ngeroras berakar dalam ajaran Panca Sradha, terutama keyakinan terhadap Atman. Karmaphala, dan Punarbhava. Ketiga keyakinan ini membentuk kerangka ontologis dan kosmologis ritual Melalui Ngeroras, keluarga dan masyarakat yang ditinggalkan memberikan dukungan spiritual agar atma yang berpulang mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi dan terarah menuju penyempurnaan (Bagus, 2019. Kajeng. , 2. Masyarakat Hindu menjalankan ritual Ngeroras bukan sekadar pelaksanaan adat turun-temurun, tetapi sebagai implementasi kesadaran filosofis tentang hubungan manusia dengan alam semesta dan Tuhan. Ritual ini merefleksikan pemahaman mendalam tentang siklus kehidupan, keterikatan karmis, dan proses pelepasan diri menuju moksa. Hal ini menjadikan Ngeroras bukan hanya fenomena religius, tetapi juga cermin praktik filsafat spiritual Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks modern, praktik upacara Ngeroras semakin sering dikaji melalui berbagai pendekatan ilmu sosial, antropologi, dan Namun, kajian yang secara spesifik menyoroti makna filsafat Atman dalam pelaksanaan upacara Ngeroras masih relatif terbatas. Padahal, pemahaman terhadap makna filosofis ini sangat penting untuk menggali kedalaman ajaran Hindu yang melandasi ritual Secara empiris, pelaksanaan Ngeroras menunjukkan adanya hubungan erat antara konsep Atman yang bersifat transendental dengan tindakan ritual simbolik. Setiap komponen ritual mengandung makna filosofis tentang pengembalian elemen tubuh, penyucian diri, dan pelepasan atma dari belenggu karma. Simbol-simbol tersebut merupakan artikulasi nyata dari ajaran filsafat Hindu yang kompleks (Ardhana, 2. Kajian terhadap Ngeroras juga menjadi penting mengingat adanya dinamika sosial dan budaya yang memengaruhi praktik keagamaan umat Hindu. Perubahan pola hidup, perkembangan teknologi, serta modernisasi berpotensi menggeser atau memodifikasi pemahaman tentang makna filosofis Atman dalam ritual tersebut. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mengkaji kedalaman makna filosofis yang tetap hidup di tengah perubahan Filsafat Hindu menekankan bahwa Atman adalah realitas tunggal dalam diri manusia, bebas dari penderitaan dan perubahan. Namun dalam kehidupan duniawi. Atman tertutupi oleh ketidaktahuan . dan keterikatan. Proses ritual seperti Ngeroras membantu membersihkan keterikatan tersebut pada tahap setelah kematian, sehingga Atman dapat kembali mendekati kesucian asalnya. Pemahaman ini menjadi landasan penting dalam upacara penyempurnaan atma. Upacara Ngeroras juga mengandung dimensi etika, yakni tanggung jawab keluarga terhadap leluhur. Dalam Hindu, hubungan keluarga tidak hanya berlangsung selama kehidupan di dunia, tetapi berlanjut dalam kehidupan setelah kematian. Pelaksanaan Ngeroras menjadi wujud tanggung jawab moral dan spiritual untuk membantu perjalanan atma menuju alam yang lebih suci. Secara teologis. Ngeroras merupakan bentuk persembahan kepada Tuhan dan leluhur melalui berbagai upacara simbolik seperti pemanggilan roh, penyucian, dan penghantaran atma. Keseluruhan proses ini mencerminkan keyakinan bahwa penyempurnaan atma tidak hanya bergantung pada karma individu, tetapi juga pada doa dan dukungan spiritual keluarga. Hal ini menunjukkan interaksi antara dimensi personal dan komunal dalam ajaran Hindu. Dalam ajaran tattwa Hindu. Atman tidak dapat dihancurkan dan tidak mengalami perubahan. Namun Atman dapat mengalami berbagai tingkatan kesadaran tergantung pada kebajikan dan karma yang dibawanya setelah kematian. Upacara Ngeroras berfungsi sebagai jembatan spiritual untuk membantu peningkatan kesadaran tersebut. Oleh sebab itu, makna filosofis Atman menjadi inti utama dalam memahami tujuan ritual ini. Perspektif fenomenologi agama. Ngeroras dapat dipahami sebagai pengalaman transendental keluarga dan masyarakat Hindu dalam merespons kematian. Ritual ini menjadi ruang simbolik untuk mengatasi duka, menegaskan hubungan spiritual dengan yang telah tiada, serta mengokohkan struktur nilai dalam masyarakat Hindu. Filsafat Atman menjadi dasar makna dalam berbagai ekspresi ritual tersebut. Secara metodologis, pendekatan filosofis dan teologis diperlukan untuk menganalisis simbol, struktur ritual, dan keyakinan di balik Ngeroras. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti untuk menggali makna terdalam dari setiap tindakan ritual dan menghubungkannya dengan konsep dasar Atman dalam Hindu (Pulina, 2. Penelitian terhadap Ngeroras juga penting dalam pelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang berpijak pada ajaran agama. Dengan adanya pengaruh globalisasi, banyak tradisi yang mengalami pergeseran makna dan praktik. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi untuk menjaga kelestarian makna filosofis dari ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di tengah perkembangan masyarakat modern, pemahaman filosofis yang mendasari ritual keagamaan menjadi sangat penting untuk menghindari fenomena ritualisme Dengan memahami makna Atman dalam Ngeroras, umat Hindu dapat menjalankan upacara ini dengan kesadaran spiritual yang lebih mendalam, bukan sekadar mengikuti tradisi Selain itu, penelitian ini juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam kajian filsafat agama dan antropologi ritual. Studi tentang Ngeroras dapat memperkaya pemahaman akademik mengenai hubungan antara ajaran metafisik dan praktik keagamaan dalam masyarakat Hindu. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi umat Hindu, pemuka agama, serta akademisi dalam memahami kembali hakikat Atman dan relevansinya dalam ritual kematian. Melalui pemahaman ini, pelaksanaan Ngeroras dapat dilakukan secara lebih bermakna dan selaras dengan ajaran tattwa. Kajian ini juga memberikan kontribusi dalam memperkuat identitas spiritual masyarakat Hindu, khususnya di Bali dan daerah lain yang melaksanakan ritual Ngeroras. Pemahaman filosofis yang kuat akan menumbuhkan kebanggaan dan kesadaran akan makna luhur tradisi keagamaan. Sebagai bentuk pengabdian spiritual kepada leluhur. Ngeroras menjadi medium yang mempertemukan dimensi historis, budaya, dan teologis dalam tradisi Hindu. Kajian filosofis terhadap Atman memungkinkan pemahaman menyeluruh terhadap fungsi dan tujuan ritual tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya mengungkap aspek simbolik dan ritualistik Ngeroras, tetapi juga menguraikan bagaimana pemahaman tentang Atman memengaruhi perilaku religius masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa filsafat Hindu senantiasa hidup dalam praktik keseharian umatnya. Dengan demikian, kajian makna filsafat Atman dalam upacara Ngeroras merupakan upaya menggali kembali kedalaman ajaran Hindu yang menjadi fondasi kehidupan spiritual masyarakat. Upacara ini bukan sekadar ritus kematian, melainkan proses penyempurnaan atma yang sarat makna metafisik. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena fokus utama penelitian adalah memahami makna mendalam yang terkandung dalam konsep Atman serta bagaimana makna tersebut diinterpretasikan dan diwujudkan dalam pelaksanaan upacara Ngeroras. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti menggali pengalaman spiritual, pemahaman keagamaan, dan simbolisme ritual yang tidak dapat dijelaskan melalui angka atau pengukuran Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif-interpretatif, yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan secara rinci proses pelaksanaan upacara Ngeroras serta menafsirkan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Pendekatan ini membantu peneliti menjelaskan hubungan antara ajaran Atman dalam filsafat Hindu dengan praktik ritual yang dijalankan masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan pada wilayah masyarakat Hindu yang masih menjaga tradisi upacara Ngeroras. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan berdasarkan pertimbangan bahwa daerah tersebut memiliki praktik Ngeroras yang lengkap, konsisten, dan terbuka terhadap penelitian akademik mengenai ajaran tattwa Hindu (Dawis et al. , 2023. Hadi. Informan dalam penelitian ini dipilih dari kalangan yang memiliki pengetahuan, pengalaman, serta keterlibatan langsung dalam pelaksanaan upacara. Mereka terdiri atas sulinggih atau pemuka agama Hindu, pemangku, tetua adat, keluarga pelaksana upacara, serta ahli filsafat Hindu. Keterlibatan beragam informan ini memberikan gambaran holistik tentang makna Atman dalam konteks ritual. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan pertimbangan kompetensi dan relevansi informan dengan kebutuhan penelitian. Informan yang dipilih adalah mereka yang memahami secara mendalam konsep Atman atau memiliki peran penting dalam pelaksanaan Ngeroras. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipan, sebuah metode yang memungkinkan peneliti mengamati langsung prosesi Ngeroras dari tahap persiapan hingga Observasi ini membantu peneliti mengenali simbol-simbol ritual dan memahami maknanya dalam kerangka ajaran Atman. Selain observasi, penelitian ini menggunakan wawancara mendalam . n-depth intervie. kepada para informan kunci. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur agar peneliti dapat menggali konsep-konsep filosofis seperti Atman, karma, dan penyucian roh dengan fleksibilitas dalam alur percakapan. Teknik pengumpulan data berikutnya adalah studi dokumentasi, yaitu pengumpulan data melalui teks-teks lontar, pustaka suci, catatan adat, foto-foto upacara, serta referensi akademik tentang ajaran Atman. Dokumentasi ini menjadi data pendukung yang memperkaya hasil observasi dan wawancara. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, sesuai karakteristik penelitian kualitatif. Peneliti berperan sebagai pengumpul data, penganalisis, sekaligus penafsir makna. Oleh karena itu, kepekaan peneliti terhadap nilai-nilai Hindu dan pemahaman atas konteks budaya menjadi aspek penting dalam keakuratan hasil penelitian. Instrumen pendukung mencakup pedoman wawancara, pedoman observasi, buku catatan lapangan, alat perekam suara, dan kamera untuk dokumentasi visual jika diperbolehkan oleh informan dan adat setempat. Semua instrumen digunakan secara etis dan dengan persetujuan informan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan untuk menyaring informasi penting terkait makna Atman dan tahapan Ngeroras. Data kemudian disajikan dalam bentuk narasi, pola, dan kategori yang mempermudah interpretasi. Hasil Dan Pembahasan Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa upacara Ngeroras dilaksanakan pada hari ke-12 setelah kematian, mengikuti sistem kalender tradisional Hindu. Pelaksanaan ritual melibatkan sulinggih atau pemangku sebagai pemimpin upacara, keluarga inti, dan masyarakat adat. Tahapan utama yang ditemukan meliputi: pebersihan rohani, upacara pamralina, pengaruhan atma, penyucian sarira halus, serta penghantaran atma menuju alam Seluruh tahapan menunjukkan keteraturan simbolik dengan struktur ritual yang konsisten di berbagai lokasi penelitian. Setiap simbol yang digunakan dalam Ngeroras, seperti banten, tirtha, dupa, api, dan bija, memiliki makna penyucian. Air suci . digunakan berulang kali sebagai lambang pembersihan atma dari sisa keterikatan duniawi. Api dipahami sebagai simbol transformasi spiritual yang membantu atma melepaskan unsur kasar . thula sarir. dan menyempurnakan unsur halus . ukma sarir. Simbol-simbol ini konsisten ditafsirkan oleh informan sebagai representasi ajaran Atman yang kekal namun perlu dibersihkan dari awidya . Informan menyatakan bahwa Ngeroras berfungsi sebagai proses peningkatan kesadaran atma yang baru memasuki fase setelah kematian. Melalui doa, mantra, dan pemanggilan roh, keluarga membantu atma mencapai kesadaran lebih tinggi untuk memasuki alam pitra. Sulinggih menjelaskan bahwa tanpa penyucian ini, atma berpotensi membawa sisa keterikatan dunia sehingga menghambat perjalanan Keluarga memiliki peran sangat penting, baik secara spiritual maupun moral. Wawancara menunjukkan bahwa keluarga melihat pelaksanaan Ngeroras sebagai wujud dharma dan bhakti kepada leluhur. Doa keluarga diyakini dapat memperkuat energi penyucian Informan menyebutkan bahwa hubungan antara keluarga dan yang telah meninggal tidak terputus pada saat kematian, melainkan dilanjutkan melalui ritual-ritual pitra yadnya. Observasi menunjukkan bahwa Ngeroras tidak hanya berfungsi secara spiritual tetapi juga memperkuat solidaritas sosial. Gotong royong, bantuan tetangga, dan keterlibatan banjar memperlihatkan bahwa ritual ini juga menjaga keseimbangan sosial setelah kematian. Setelah upacara selesai, keluarga dianggap telah AubersihAy kembali dan siap menjalani kehidupan sehari-hari tanpa ikatan duka. Informan, terutama sulinggih dan pemuka agama, memberikan penjelasan seragam bahwa Atman adalah unsur ilahi yang kekal dan tidak berubah. Namun, atma yang meninggalkan tubuh masih melekat pada pengalaman duniawi. Upacara Ngeroras dipahami sebagai proses penyucian untuk mengembalikan atma kepada keadaan yang lebih murni, sesuai sifatnya sebagai percikan Brahma (Citra. Dian Sari, 2020. Koentjaraningrat. Naraya, 2. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Ngeroras merupakan manifestasi nyata dari filsafat Atman dalam agama Hindu. Dalam ajaran tattwa. Atman dipandang kekal, suci, dan tidak terikat. Namun dalam kehidupan dunia. Atman terbungkus oleh lapisan-lapisan tubuh halus dan karma yang memengaruhi kualitas perjalanan spiritualnya. Tahapan penyucian dalam Ngeroras menunjukkan upaya untuk mengembalikan Atman pada kemurniannya melalui simbol pembersihan, api, mantra, dan tirtha. Filsafat Hindu menjelaskan bahwa setelah kematian. Atman tidak langsung mencapai pembebasan, melainkan melewati tahap-tahap penyempurnaan sesuai karmanya. Pelaksanaan Ngeroras memperkuat konsep Punarbhava . elahiran kembal. dan menjembatani perpindahan atma menuju alam pitra sebagai tahap antara. Temuan lapangan menguatkan bahwa umat Hindu memandang upacara ini sebagai persiapan atma sebelum memasuki fase kelahiran berikutnya atau menuju tingkatan kesadaran yang lebih tinggi. Dari hasil wawancara dengan pemuka agama, diketahui bahwa inti upacara Ngeroras adalah menghilangkan avidya atau ketidaktahuan yang melekat pada atma setelah meninggalkan tubuh fisik. Simbol-simbol ritual seperti air suci dan api dimaknai sebagai pembersih keterikatan dan kegelapan batin. Penafsiran ini sejalan dengan ajaran Upanisad yang menyatakan bahwa jalan menuju penyempurnaan adalah pembebasan diri dari avidya (Titib. Pembahasan menemukan bahwa keterlibatan keluarga dalam Ngeroras tidak hanya bersifat ritual, tetapi merupakan bagian dari dharma dan keyakinan etika Hindu. Keluarga merasa berkewajiban membantu perjalanan spiritual leluhur. Hal ini memperlihatkan bahwa ajaran Atman tidak dipahami secara individualistik, melainkan berkaitan dengan tatanan sosial dan hubungan lintas generasi. Ngeroras kaya akan simbol metafisik yang merepresentasikan relasi antara alam sekala . dan niskala . ak nyat. Tirtha sebagai air penyucian mencerminkan esensi Atman yang bersih. Api upacara menjadi simbol transformasi pengetahuan menuju kesadaran baru. Simbol-simbol ini bukan sekadar pernak-pernik budaya, melainkan media visual dan spiritual untuk menghubungkan manusia dengan hakikat ketuhanan dalam diri. Hasil penelitian menegaskan bahwa masyarakat Hindu memandang Ngeroras sebagai upaya penyempurnaan atma agar mencapai kondisi lebih suci. Penyempurnaan ini dipahami sebagai bagian dari menuju moksa, meskipun tidak semua atma akan langsung mencapainya. Dalam filsafat Atman, penyempurnaan terjadi secara bertahap sesuai kualitas karma. Kesadaran ini tampak jelas dalam narasi informan dan pelaksanaan ritual (Titib, 2012. Wirawan, 2. Pembahasan juga menemukan bahwa ritual tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjembatani hubungan manusia dengan masyarakat. Gotong royong dan solidaritas sosial yang muncul selama pelaksanaan Ngeroras memperlihatkan bahwa ajaran Atman dipahami bukan sekadar konsep metafisik, tetapi sumber nilai moral dan sosial yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa makna Ngeroras tidak statis. Modernisasi dan perubahan sosial membuat proses interpretasi makna Atman dalam Ngeroras mengalami penyesuaian. Namun, esensi ajaran tetap terjaga: penyucian atma, tanggung jawab keluarga, dan hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan. Hal ini menunjukkan fleksibilitas ajaran Hindu dalam mempertahankan inti tattwa di tengah dinamika budaya (Subagiasta. Upacara Ngeroras juga menunjukkan pentingnya kesinambungan antara dunia niskala dan sakala. Dalam filsafat Hindu. Atman memiliki dua dimensi pengalaman: eksistensi spiritual dan keterikatan material melalui karma. Proses Ngeroras memfasilitasi pelepasan dari ikatan sakala, sehingga Atman dapat melanjutkan perjalanan niskala dengan lebih ringan. Ritual ini menegaskan bahwa kehidupan dan kematian tidak dipisahkan secara dikotomis, melainkan merupakan bagian dari satu siklus kesadaran spiritual. Selain itu. Ngeroras memperlihatkan bagaimana masyarakat Hindu Bali memahami konsep pitra rna atau hutang terhadap leluhur. Filosofinya tidak hanya berbicara tentang penghormatan, tetapi juga pemenuhan tanggung jawab spiritual kepada Atman yang telah mendahului. Pemenuhan tanggung jawab ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa Atman leluhur tetap memiliki hubungan energetik dengan keluarga yang masih hidup (Putra, 2. Keterlibatan keluarga dalam ritual juga menunjukkan bahwa Atman tidak dipahami sebagai entitas yang berdiri sendiri. Dalam Hindu Bali. Atman berada dalam hubungan yang saling terhubung dalam satu garis keturunan. Pelaksanaan Ngeroras membantu memperkuat solidaritas spiritual keluarga karena keberhasilan penyempurnaan Atman dianggap membawa kesejahteraan bagi semua anggota keluarga. Dalam rangkaian mantra, terdapat banyak ajaran yang menekankan bahwa Atman adalah bagian dari Paramatman. Dalam pembacaan doa-doa tertentu, pendeta mengarahkan kesadaran keluarga bahwa Atman telah memasuki tahapan Penegasan ini penting agar keluarga memahami bahwa ritual bukan bertujuan memanggil roh, melainkan mengantar kesadaran menuju tingkat spiritual yang lebih murni. Konsep sukma peteng dan sukma terang juga menjadi bagian dari pembahasan filosofis dalam konteks Ngeroras. Atman yang belum disempurnakan dianggap berada dalam keadaan AugelapAy, tidak dalam arti negatif, tetapi dalam arti belum memperoleh pengetahuan spiritual yang utuh. Ngeroras berfungsi sebagai simbol peralihan kesadaran dari gelap menuju terang, serupa dengan konsep vidya dan avidya dalam Upanisad. Secara antropologis, makna Ngeroras juga tampak dalam simbol-simbol yang digunakan. Misalnya, penggunaan api dan cahaya melambangkan transformasi Atman ke tingkat vibrasi yang lebih halus. Banten-banten tertentu mewakili elemen panca mahabhuta yang harus dikembalikan kepada alam semesta. Semua ini menunjukkan keselarasan ajaran tattwa dengan praktik ritual. Ritual Ngeroras pada dasarnya merupakan proses penyadaran bahwa kehidupan manusia tidak berhenti pada kematian. Upacara ini mengajak umat memahami bahwa Atman terus berevolusi. Evolusi ini tidak bersifat biologis seperti dalam konsep Darwin, tetapi spiritual sesuai ajaran Hindu. Dengan memahami ini, umat memiliki perspektif yang lebih luas tentang karma, dharma, dan tujuan hidup. Dalam perspektif filsafat eksistensial Hindu. Atman tidak dapat dihancurkan. Bhagavadgita menegaskan bahwa Atman adalah kekal, tidak terbakar oleh api, tidak dapat dipotong oleh senjata, dan tidak basah oleh air. Dalam konteks Ngeroras, ajaran ini dipraktikkan melalui ritual yang mengakui keberlanjutan Atman meskipun raganya telah tiada. Pelaksanaan Ngeroras memperlihatkan bahwa filosofi Hindu sangat menekankan proses penyucian diri. Penyucian Atman dianggap berkaitan erat dengan penyucian keluarga melalui tindakan kolektif. Dengan demikian, ritual ini berfungsi sebagai sarana membersihkan energi keluarga secara keseluruhan, bukan hanya Atman yang sedang Dalam beberapa wawancara dengan pemangku atau pandita, ditemukan pemahaman bahwa Ngeroras bukan hanya ritual tradisi, tetapi bagian dari pendidikan Anak-anak yang menyaksikan ritual ini belajar tentang konsep Atman, karma, dan siklus kelahiran kembali. Oleh karena itu. Ngeroras memainkan peran penting sebagai media transmisi nilai-nilai filosofis. Dari sudut pandang hermeneutika, makna Ngeroras dapat dipahami melalui interpretasi simbolik yang berlapis. Setiap tahapan ritual memiliki makna esoteris dan Misalnya, ngaskara Atman secara fisik tampak sebagai upacara penyucian, tetapi secara metafisik merupakan proses membantu Atman menembus lapisan ketidaksadaran menuju kesadaran murni. Selanjutnya, pembahasan mengenai Atman sering dikaitkan dengan konsep linggih atau keberadaan spiritual di ruang keluarga. Dalam tradisi Bali. Atman yang telah disempurnakan diyakini dapat memberikan perlindungan kepada keturunan. Hal ini mengaitkan filsafat Atman dengan sistem kepercayaan lokal tentang harmoni, keberkahan, dan keseimbangan hidup. Upacara Ngeroras juga mempertegas hubungan antara manusia dan Panca mahabhuta yang menjadi unsur pembentuk tubuh dikembalikan kepada alam semesta melalui simbol-simbol ritual. Ini mencerminkan ajaran tattwa bahwa tubuh bersifat sementara dan alamiah, sedangkan Atman adalah kekal dan bebas dari materi. Tradisi Hindu Bali. Ngeroras dianggap sebagai pembuka jalan menuju upacara mamukur atau nyekah, yaitu tahapan penyempurnaan Atman yang lebih tinggi. Dengan demikian. Ngeroras menjadi jembatan filosofis antara dunia manusia dan dunia spiritual yang lebih luas. Hal ini sesuai dengan konsep perjalanan Atman melalui berbagai tingkatan Pembahasan mengenai Atman dalam Ngeroras juga berkaitan dengan konsep Atman diyakini membawa rekaman karmanya, dan proses Ngeroras menjadi bagian dari penyucian energi tersebut agar Atman dapat memulai perjalanan baru dengan beban karmis yang lebih ringan. Ritual ini bukan menghapus karma, tetapi mengarahkan energi keluarga untuk memberi restu perjalanan Atman. Dari perspektif sosiologi agama. Ngeroras menunjukkan adanya integrasi nilai-nilai religius dengan struktur sosial. Ritual ini mempertemukan keluarga besar, tetangga, dan tokoh adat dalam satu peristiwa sakral yang memperkuat kohesi sosial. Dalam konteks ini, makna Atman turut diperluas menjadi simbol hubungan spiritual antarsesama (Bagus, 2. Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa masyarakat modern kadang melakukan simplifikasi terhadap beberapa bagian ritual. Namun, esensi filosofis mengenai penyempurnaan Atman tetap dipertahankan. Hal ini membuktikan bahwa ajaran tattwa Hindu memiliki elastisitas yang tinggi terhadap perubahan zaman, tetapi tetap memegang inti ajaran. Selain aspek religius. Ngeroras juga mengandung dimensi psikologis. Keluarga yang melaksanakan ritual merasa lebih tenang karena meyakini bahwa Atman anggota keluarganya telah mencapai tahap penyucian tertentu. Secara emosional, ritual ini membantu proses penerimaan, pelepasan, dan transformasi spiritual keluarga. Dalam kajian filsafat perbandingan, proses penyempurnaan Atman dalam Ngeroras memiliki kemiripan dengan konsep soul purification dalam beberapa tradisi dunia. Namun, yang membedakan adalah kedalaman hubungan Atman dengan struktur sosial dan ritual Bali yang sangat kompleks serta kaya simbol. Dengan demikian, pembahasan filsafat Atman dalam konteks Upacara Ngeroras menegaskan bahwa ritual ini tidak sekadar kewajiban adat, tetapi sebuah praktik teologis yang memiliki kedalaman makna metafisik. Melalui ritual ini, masyarakat Hindu Bali mengaktualisasikan ajaran tattwa, menghubungkan diri dengan leluhur, dan memaknai perjalanan spiritual Atman sebagai bagian dari siklus kosmik yang berkelanjutan. Kesimpulan Pelaksanaan Upacara Ngeroras menunjukkan bahwa masyarakat Hindu Bali memaknai Atman sebagai entitas spiritual yang kekal dan terus mengalami proses Ritual ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal, tetapi juga ekspresi pemahaman mendalam terhadap ajaran tattwa tentang perjalanan Atman melalui berbagai tingkat kesadaran. Melalui Ngeroras, umat menyadari bahwa kematian bukan akhir, melainkan fase transisi Atman menuju kondisi spiritual yang lebih murni. Secara filosofis. Upacara Ngeroras merupakan implementasi nyata dari ajaran Panca Sradha, khususnya keyakinan terhadap Atman dan Punarbhava. Ritual ini mengokohkan pemahaman bahwa Atman membawa karma selama hidupnya, dan keluarga memiliki tanggung jawab spiritual untuk membantu proses penyuciannya. Pemahaman ini menunjukkan bahwa makna Ngeroras terletak pada harmonisasi antara kehidupan sakala dan niskala melalui tindakan simbolik dan spiritual. Secara keseluruhan. Upacara Ngeroras memiliki makna filosofis yang sangat mendalam sebagai proses penyempurnaan Atman menuju tahap kesadaran yang lebih tinggi. Ritual ini tidak hanya memadukan ajaran tattwa, etika, dan praktik keagamaan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan spiritual bagi Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa Upacara Ngeroras merupakan ruang penting bagi pemahaman esensi Atman, hubungan manusia dengan leluhur, dan perjalanan spiritual dalam kosmologi Hindu Bali. Daftar Pustaka