Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia Andriyanto1 Universitas Veteran Bangun Nusantara. Sukoharjo. Indonesia andri_rey@yahoo. * Corresponding Author Received 6 Juli 2021. accepted 7 Agustus 2021. published 30 Desember 2021. ABSTRACT Pada masa zaman purba bangsa mesir sudah menulis buku-bukunya pada semacam kertas yang terbuat dari semacam daun tumbuh-tumbuhan yang disebut AupapyrusAy. Berawal dari Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg yang berkebangsaan Jerman telah menemukan mesin cetak di 1450-an. Nula-mula diperuntukkan mencetak buku-buku untuk kepentingan keagamaan, sehingga sejarah penerbitan tidak bisa dipisahkan dari keberadaan misionaris. Di Indonesia perkembangan dunia percetakan buku diawali yaitu tahun 1619 saat pemerintah kolonial Belanda menempatkan Batavia menjadi pusat kekuasaan di Hindia Belanda. Politik perbukuan pada masa kolonial Belanda secara formal yaitu pada tanggal 14 September 1908 saat pemerintah mendirikan Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakya. Pada tahun 1910. Komisi Bacaan Rakyat mampu meningkatan kegiatan saat D. Rinkes sebagai sekretaris komisi diberi wewenang untuk mengendalikan komisi. Rinkes melakukan perekrutan ahli bahasa Sunda dan Jawa guna mengawali aktivitas penerjemahan berbagai karya asing. Kemudian berdasarkan Keputusan No. 63 pada tanggal 22 September 1917 menjadi Kantoor voor de Volkslectuur. Bagaimana lembaga ini kemudian diganti nama dan menjadi Balai Poestaka, dengan dipimpin oleh D. Rinkes. Pada 1921. Balai Poestaka sudah mempunyai percetakan sendiri, kemudian saat itu dikenal sebagai ukuran gengsi intelektual dikarenakan para pembaca ialah para kaum elite dan juga dikarenakan memakai Bahasa yang tinggi. KEYWORDS Sejarah. Penerbitan. Buku. Balai Pustaka. Pergerakan Nasional Indonesia This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Indonesia sebagai bangsa mempunyai sejarah yang panjang dan penuh dengan dinamika yaitu perubahan dan konflik, kenapa dinamika bisa terjadi karena perubahan sehingga menimbulkan konflik . , atau dari konflik . menyebabkan perubahan. Itu bisa terlihat saat Indonesia pada masa Kolonial Belanda. Salah satu dinamika yang terjadi saat masa Kolonial Belanda adalah tentang penerbitan buku di Indonesia. Kita di era sekarang melihat keberadan buku itu hal yang mudah ditemukan, tetapi saat kita mempelajari sejarah penerbitan buku kita baru tersadar bahwa sejarah penerbitan buku sangatlah berliku dan penuh dengan dinamika yang penuh dengan perubahan dan permasalahan. Buku tidak hanya dipandang sebagai produk budaya, atau tingkah laku budaya, tetapi terutama sebagai proses produksi budaya (Ignas Kleden dalam Buku dalam Indonesia Baru. Editor Alfons Taryadi, 1999. Sedangkan di bangsa Indonesia lebih condong budaya mendengar atau budaya berbicara/lisan. Bisa dilihat di dalam fakta sejarah dimana adanya budaya membaca dan menulis 32585/keraton. jurnal_keraton@yahoo. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . pada masa Kolonial hanya kaum literat di lingkungan istana yang mempunyai kesempatan dalam hal membaca dan menulis. Kondisi tersebut sejalan dengan penyampaian oleh Ready Susanto, bagaimana di dalam masyarakat kita yang angka melek hurufnya masih rendah dan memasyarakatkan pembaca adalah suatu kegiatan yang dirasa berat (Ready Susanto, 2020. Sepanjang sejarah dapat kita temui bukti yang bertumpuk-tumpuk yang menunjukkan bahwa buku-buku bukanlah benda-benda yang remeh, jinak dan tidak berdaya, akan tetapi sebaliknya bahwa buku-buku tersbut menjadi biang yang bersemangat dan hidup, berkuasa mengubah arah perkembangan peristiwa sering untuk kebaikan akan tetapi uga bisa menjadikan keburukan (Robert Downs, 2002. Buku-buku adalah instrumen-instrumen, alat-alat, atau senjata-senjata yang dinamis dan hebat (Robert B. Downs, 2002. Bagaimanakah penerbit itu memulai bekerja? Demikianlah pertanyaan J. Tersteeg, pengarang buku AuDe Uitgever en zijn bedrijfAy yang begitu menarik, dikeluarkan berhubung dengan 50 tahun berdirinya de Nederlandse uitgeversbond. Hal itu dijawab sebagai berikut: AuPenerbit itu tidak dapat seperti orang dagang yang lain, menyediakan barang-barang. Sedangkan bahan-bahan yang dibutuhkannya tidak dapat disediakan, sebab jika kita sebut saja dahulu beberapa jenis bahan, apakah gunanya kertas dan tinta baginya, jika ia tidak mempunyai bahan-bahan yang dilairkan oleh pikiran?Ay (J. Winterink, 1952. Bahwa penerbitan buku adalah berisi hasil pemikiran manusia yang berguna bagi perkembangan manusia, ilmu pengetahuan dan perihal masa depan yang akan dihadapi oleh manusia itu sendiri. Metode Penelitian Di dalam penelitian ini metode yang digunakan ialah metode historis yaitu suatu proses menguji dan juga menganalisa dengan kritis peninggalan masa lampau. Dimana pemakaian metode sejarah dilaksanakan dengan 4 tahapan, di antaranya yaitu: . Heuristik, mengumpulan bahan-bahan atau sumber dengan studi kepustakaan, . Kritik sumber, yaitu untuk menyeleksi data-data yang telah diperoleh dengan melalui tahap kritik intern dan kritik ekstern, . Interpretasi, yaitu menafsirkan fakta-fakta yang dihasilakn dari data yang sudah dikumpulkan, . Historiografi, menuliskan dalam bentuk cerita yang mampu dipertanggung jawabkan (Daliman, 2012: . Hasil dan Pembahasan 1 Serpihan Sejarah Penerbitan Buku di Dunia 1 Penerbitan Buku pada Zaman Kuno Jika kita melihat ke belakang mengenai bentuk fisik buku seperti seperti saat ini, telah ada dari 1000an tahun yang lalu, akan tetapi sebagai benda komoditi yang efektif baru diakui semenjak ditemukannya mesin cetak pada abad kelima belas. Di masa sebelumnya, apa yang dikualifikasikan sebuah penerbit adalah para majikan yang menyewa, mengerjakan, bahkam memaksa para budakbudak untuk menyalin dan menggandakan tulisan yang sebelumnya telah dibuat orang lain. Bagaimana dari hasil penggandaan akan dijual oleh para majikan, kondisi ini sudah menyerupai dengan jual-beli, walau belum dapat dikatakan sebagai sebuah kegiatan niaga yang sebenarnya. Baru sesudah buku bisa digandakan dengan proses produksi massal, orang membuat buku untuk tujuan Jadi awalnya, penerbitan ialah percetakan, yaitu sebagai kegiatan pembuatan dan belum Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. Desember 2021, pp. mempunyai fungsi dalam penyebarluasannya. Baru di abad kesembilan belas, penerbit berfungsi seperti fungsi saat ini, yaitu sebagai promotor dari kata-kata tercetak (Hassan Pambudi, 1981. Jika kita membicarakan tentang perdagangan buku, maka orang tentunya tidak akan memikirkan lagi bagaimana cara orang membuat dan menemukan buku itu sejak mulanya. Sedangkan jika difikir benar-benar, sebenarnya tidak ada salahnya jika orang mengetahui sekedarnya dari perkembangan tersebut, yaitu sejak dari buku itu ada dari gulungan-gulungan kertas kulit atau perkamen-perkamen yang tulisannya tangan saja (Margono. Pada masa zaman purba bangsa mesir sudah menulis buku-bukunya pada semacam kertas yang terbuat dari semacam daun tumbuh-tumbuhan yang disebut AupapyrusAy darimana kata asal AupapierAy dalam bahasa Belanda itu berasal. Pada papyrus itulah orang-orang mesir itu menuliskan karangan-karangannya yang direkatkan sehelai demi sehelai, yang kemudian dimasukkan ke dalam sebuah tabung sebagai tempat penyimpanannya (Margono. Papirus adalah media yang pertama yang dipakai oleh bangsa Mesir dalam menulis dokumen dan buku, sudah dimanfaatkan sejak 3000 sebelum masehi. Dengan sifat yang tidak bertahan lama, oleh karena itu banyak teks tidak mampu diselamatkan dan andai kata bisa diselamatkan disebabkan tersimpan di tempat yang iklimnya mendukung. Bagaimana asal kata papirus, berdasarkan suatu legenda, berhubungan dengan istilah Mesir Pa-pa-ra . ilik raj. Papirus terbuat dari alang-alang Cyperus papyrus, dengan membuang tulang-tulang daun dan mengeringkan butuh waktu yang lama, lalu dijadikan lembaran-lembaran yang bisa ditulisi. Teknik pembuatan ini sangatlah rumit sehingga pernah dilupakan masyarakat dan baru pada abad kedua puluh mampu dipahami (Fernando Baez, 38-. Di zaman Yunani buku ialah selembar papirus yang digulung, dengan panjang berbeda-beda. Jika sebuah karangan panjangnya sampai dua jilid, dapat dikatakan bahwa naskah itu sendiri dari dua Keberadaan buku pada waktu itu menyebutnya adalah biblos, sebagai tanda penghormatan kepada kota bangsa Fenisia, yaitu Biblos. Sedangkan kegiatan membaca disebutnya adalah anagnosis dengan arti adalah baca bersama. Pembacaan dilakukan dengan cara papirus dibuka dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan untuk memegang gulungan tersebut. Sedangkan kegiatan membuka gulungan papirus dinamai annelitto (Fernando Baez, 2017. Bangsa Yunani dan bangsa Romawi sudah banyak mengenal buku dan tentang perdagangan buku pun sudah diketahuinya. Sesungguhnya buku-buku pada waktu itu baru ditulis dengan tangan Penemuan-penemuan bahan-bahan kertas, makin menjadikan dan memungkinkan penulisanpenulisan tangan yang lebih sempurna serta menambahkan kebutuhan-kebutuhan akan alat-alat dan bahan-bahan bacaan. Demikian berdirilah pabrik-pabrik tulisan tangan satu demi satu di kota-kota Paris. Brugge. Wina. Heidelberg, dan Keulen (Margono. Sebelum menulis di atas papirus dan mengadopsi aksara Fenesia, bangsa Yunani di Kereta, seperti halnya bangsa Sumeria, menulis di atas tablet tanah liat dengan abjad silabik yang dinamai Linear B oleh para penemu Inggris pada 1900. Tablet itu adalah arsip raja, memuat inventaris serta makanan dan hewan, namun tidak ada karya sastra (Fernando Baez, 2017. Bangsa Yunani pada mulanya memperkenalkan kesusastraan kepada umum dengan jalan mengadakan simposium kecil-kecilan atau dengan mengadakan pesta besar-besaran. Begitulah misalnya Herodotus dengan AuSejarahnyaAy yang sebagian besar dibacakan pada pertemuan-pertemuan Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . di Olympia. Langkah yang kedua diadakan ialah ketika orang membua salinan-salinan yang diberikan kepada orang-orang yang berminat, yang juga diberi kesempatan untuk menyalinnya lagi. Demikianlah diceritakan oleh Luvianos, bahwa Demosthenes pernah sampai delapan kali menyalin buku-buku Thoecydides, dan begitu pula halnya menurut keterangan Plato, bahwa naskah-naskah pelajaran yang diberikan oleh guru-guru kepada murid-muridnya dikerjakan (Margono. Akan membuat salinan-salinan sekali banyak dibacakan sebuah buku kepada beberapa banyak anak-anak yang terpelajar, kadang-kadang sampai seratus orang banyaknya dan banyak yang menuliskan yang dibacakan orang kepada mereka. Dengan jalan demikian itulah dibuat orang sampai beribu-ribu salinan dari pada karangan ahli-ahli, karangan bangsa Yunani dan Romawi untuk kemudian dijual lagi. Beratus-ratus tahun orang menulis sesuatu naskah bersama-sama, sebagai juga halnya dengan mesin cetak dewasa ini. (Margono. Menurut Birts, seorang ahli penyelidik soal-soal buku-buku klasik, bahwa orang dapat menulis buku ke-2 dari epigram Martialis dalam tempo 2 jam saja, jadi susuatu naskah yang lengkap dalam 17 jam lamanya. Sebuah penerbit yang mempunyai 100 orang penulis dapat dengan mudah menghasilkan 1000 lembar salinan naskah dalam 14 hari. (Margono. Seorang bernama Friedlander dalam hal ini lebih maju lagi. Demikianlah misalnya dengan AuPucelleAy dari Voltaire di Paris yang dapat dijadikan 2000 copy tertulis dalam tempo satu bulan Setelah kerajaan Romawi menemui keruntuhan, yaitu kira-kira pada tahun 500 maka perdagangan buku-buku di Eropa pun mengalami perubahan. Dalam pada itu bangsa Arab makin banyak menulis dan menjual buku-bukunya, terutama dalam negeri-negeri Bagdad dan Mesir. (Margono. Tidak berapa lama kemudian, maka timbullah pula kebutuhan-kebutuhan dan kehendakkehendak orang di Paris dan Roma akan buku-buku, yang makin lama maik meningkat pula Beberapa banyak buku-buku, yang ditulis oleh pendeta-pendeta yang tinggal di gerejagereja yang sedang beramal ibadah dan menuntut ilmu. Dengan berkat usaha mereka itu juga dari masa ke masa bisa sampai kepada kita dewasa ini, yaitu menurut waktu dan lapangannya masingmasing (Margono. 2 Penerbitan Buku pada Zaman Modern Sebelum masa Johannes Gutenberg . boleh dikatakan buku-buku adalah barang yang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh sedikit orang saja di dalam masyarakat. Buku-buku ditulis dengan kemahiran calligraaf oleh biksu yang tinggal di dalam biarfa-biara yang mengunakan bulu angsa sebagai pena. Dengan sistem kerja yang seperti itu sehingga hanya sedikit buku yang dapat Dengan demikian dapat dipastikan bahwa buku itu hanya dimiliki atau dibeli oleh orang orang kaya saja. Lagi pula yang dapat membaca dan dan menulis pada masa itu han sebagian kecil saja dari masyarakat. Begitu terbatasnya pentebaran buku zaman dahulu sampai umpamanya dalam maysarakat Yahudi pada abad Chistus orang-orang yang dapat membaca dan menulis yakni ahli Taurat adalah suatu golongan tersendiri yang mirip seperti kelas ningrat (Margono. Berlainan halnya dengan Tiongkok yang sebenarnya mempunyai kebudayaan yang jauh lebih tua dari negara-negara Barat. Pertama. berabad-abad lamanya Tiongkok merupakan daerah yang tertutup, yang menahan hasil-hasil kebudayaan dalam batas-batas negaranya sebagai bangsa-bangsa yang rendah kebudayaannya. Kedua. Mencetak buku-buku Tionghoa jauh lebih sulit ketimbang Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. Desember 2021, pp. mencetak buku-buku yang menggnakan huruf Latin, menguasai tulisan Tionghoa lebih sulit dibandingkan dengan tulisan Latin (Margono. Mengenai penerbitan buku Islam sudah ada pada masa dunia Islam klasik dan juga apa masa pertengahan, pada saat itu ilmu pengetahuan berkembang dan tunbuh dengan pesatnya yang dikarenakan banyak ulama Islam yang mempunyai karya-karya di berbagai bidang. Selain itu dengan keberadaan al-waaraq pada masa itu menyebabkan penerbitan buku-buku Islam menjadi berkembang, kondisi itu disebakan sebuah pekerjaan seorang warraq sangat kompleks dikarenakan beban pekerjaan yang sangat banyak, selain sebagai penyalin naskah warraq juga berfungsi sebagai penjual buku. Selain bekerja sebagai seorang penyalin naskah, juga memiliki pekerjaan dalam pencari naskah dan juga bekerja sebagai penyunting yaitu dengan jalan meminta izin kepadapara pengarang buku guna menyalin naskah-naskah dari karya para pengarang. Al-waaraq menjadi dasar di dalam penerbitan buku Islam dari masa Islam klasik sampai pada masa modern sampai sekarang. Untuk sekarang lebih menyebut al-waaraq sebagai penyunting naskah atau editor yang bekerja dalam bidang penerbitan, dan perusahaan percetakan serta pada perusahaan media massa (Dian Kristyanto, 2019. Penemuan baru dari Gutenberg menimbulkan revolusi dalam dunia buku. Bukanlah melebihlebihkan dapat dikatakan bahwa alat pencetak buku adalah salah satu rahmat yang terbesar dan hyang paling bermanfaat bagi manusia. Hasil pemikiran Renaissance, aliran yang baru menguasai alam pikiran Eropa pada waktu itu, sehinggal dengan cepat dapat menyebar. Dengan penemuan lata cetak ini dapatlah ditebitkan buku-buku dengan jumlah yang tidak terbatas. Di negara Jerman saja sudah tercetak sejumlah satu juta buku pada abad ke-16. Sesuai dengan hukum ekonomi permintaan dan penawaran, banyaknya buku-buku itu memungkinkan pula penurunan harga. Sehingga buku-buku tersebut tidak menjadi monopoli oleh orang-rang kaya dan tokoh agama, akan tetapi bisa tersebar luas kepada masyarakat biasa. Pengetahuan yang tersimpan dalam buku-buku yang dahulu hanya bisa dinikmati oleh sedikit orang, akan tetapi dengan penemuan mesin cetak ini buku dengan cepat bisa menyebar buku itu sungguh-sungguh menjadi disributor harta rohani yang sangat efisien. Buku-buku yang baik dengan mudah cepat dikenal dan menyebar ke penjuru wilayah. Penacong-pelancong membawanya ke luar negeri dimana buku ini selanjutnya diterjemahkan, dicetak dan disebarkan. Dengan demikian pengetahuan tentang negeri-negeri di luar tapal batas bangsa, serta adat istiadat cepat meluas, dimana mampu menambah pengertian antara bangsa satu dengan bangsa lainnya. (Margono. Suatu faktor yang penting lagi yang mengakibatkan lebih banyak buku-buku tersebar dan dibaca di negeri-negeri Barat daripada di negeri-negeri Timur adalah soal iklim. Pada musim dingin umpamanya oarng-orang Eropa banyak tinggal di rumah. Tentu mereka tidak dapat mengobrol sepanjang hari. maka untuk mengisi waktu mereka membaca buku-buku. Karena sduah sejak kecil mereka biasa membaca, maka buku itu menjadi suatu kebutuhan. Hingga dalam kereta api dan stasiun-stasiun sering orang asik membaca, hal mana jarang kita lihat di Indonesia (Margono. Banyak hal-hal yang masih gelap bagi rakyat biasa, menjadi terang handicap-handicap yang sangat terasa sebelumnya menjadi lenyap. Pertukaran hasil hasil penelitian melalui buku mempercepat majunya ilmu pengetahuan dan mengakibatkan adanya universaliteit, standarisasi, dan nivelering dalam lapangan ini serta pelaksanaannya dalam bentuk teknik. Makin jelas pula adanya pengaruh atau imbal balik antara perkembangan teknik juga dalam lapangan lalu lintas denan penyebaran buku- Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Dengan pers dan radio yang menyiarkan resensi-resensi dan kritik-kritik tersebarlah buku-buku (Margono. Proses perluasan dan perataan yang demikian itu dalam lapangan kebudayaan dan kesenian. Terlepas dari soal-soal politis, batas-batas antara negara-negara makin lama semakin kabur sehingga dunia terlihat menajdi lebih kecil. Seorang sarjana Belanda umpamanya tidak perlu meginjak pulau Jawa untuk mempelajari dan kemudian memberi kuliah dalam bahasa Jawa, mulai dari Ngoko Sampai Kawi. Ilmu yang didapatnya dan kemudian disebarluaskannya hanya melalui buku-buku saja. Dan sebaliknya tidka perlu kita hidup di zaman bangsa Latin yang dalam pada itu sduah punah dan lenyap, untuk dapat menguasai bahasa Latin. Demikin pula dengan bahasa Sanskerta dan bahasa-bahasa lain yang telah mati. Kita dapat memeproleh pengetahuan dari buku-buku (Margono. Bukanlah sesuatu yang kebetulan bahwa kebudayaan dan teknik bangsa Barat mengambil tempat yang terkemuka pada abad-abad modern. Sejak menhasilkan alat cetak pada abad 15 yang memungkinkan percetakaan buku-buku secara besar-besaran semua yang baru dalam sebuah negara sangat cepat meluas dan merata ke seluruh Eropa. Proses kemajuan Eropa berjalan makin lama makin cepat sehingga suatu ketika bangsa Eropa dapat menguasai dunia (Margono. 2 Serpihan Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia 1 Penerbit Buku Masa Hindia Belanda Bermula ketika Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg kebangsaan Jerman menemukan mesin cetak pada tahun 1450-an. Untuk mencetak buku-buku keagamaan. Sejarah penerbitan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan misionaris. Sedangkan di Indonesia, perkembangan dunia percetakan buku mulai pada tahun 1619 saat pemerintah kolonial Belanda menempatkan Batavia menjadi pusat kekuasaan di Hindia Belanda (Zikri Fadila, 2018: . Masa kolonial Belanda pada abad 17 dimana VOC mendatangkan mesin cetak ke Indonesia. Kedatangan mesin cetak itu menjadikan awal bagi dunia percetakan di Indonesia. Dengan mesin yang telah didatangkan. VOC dapat mencetak berbagai bentuk seperti pamflet, koran, dan brosur, serta majalah. Bataviaasche Nouvelles ialah surat kabar yang diterbitkan VOC pada tahun 1744 di Batavia. Tahun 1778 pemerintah Kolonial Belanda membangun perpustakaan yang bernama Bataviaash Genootschaap vor Kunsten en Watenschappen. Perpustakaan itu mempunyai koleksi naskah dan karya tulis di bidang budaya dan ilmu pengetahuan di Indonesia (Theodorus Cahyo Wicaksono, 2. Perkembangan diawali dari kedatangan misionaris Inggris. Mendhurst ke Batavia di tahun Dalam hal ini Misionaris sangat besar peranannya dalam perkembangan penerbitan. Ketika para misionaris Amerika dan juga Inggris berpindah ke Tionghoa di tahun 1840an, percetakan ditinggal di Singapura dan segera digunakan oleh Reverend Kaesberry dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. mana penerbitan yang mereka kembangkan berdua kemudian dapat menghasilkan berbagai buku dengan illuminasi dan dengan edisi yang sangat mewah pada waktu itu. Dalam hal ini penginjil . sangat besar peranannya dalam perkembangan penerbitan, dan mereka pulalah yang pertama memikirkan pendidikan untuk kaum pribumi (Zikri Fadila, 2018: 63-. , (Theodorus Cahyo Wicaksono, 2. Penerbitan buku-buku pada masa pemerintahan Hindia Belanda masih berpusat di Batavia. Hal ini sangat terkait dengan kontrol pemerintahan terhadap bahan bacaan penduduk pribumi yang Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. Desember 2021, pp. pada masa itu telah banyak menempuh pendidikan sekolah. Pemerintah Hindia Belanda sangat berhati-hati dalam menyebarkan bahan bacaan kepada masyarakat. Segala bentuk bahan bacaan diseleksi terlebih dahulu oleh pemerntah sebelum disebarkan kepada masyarakat. Penerbit yang cukup besar pada masa itu di Batavia adalah Landsdrukkerij. Selain itu, berkembang juga penerbitan swasta milik orang Belanda dan Tionghoa yang bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda, serta beberapa penerbitan lain seperti V. Uitgevers-Mij. Papyrus dan Javasche Boekhandel & Drukeri dan penerbit lainnya (Zikri Fadila, 2018: . Di masa kepemimpinan pemerintah Gubernur Jenderal Deandels, dibentuklah Landsdrukkerij yaitu pada tanggal 22 November 1809. Pada awalnya ini ialah perusahaan swasta yang bergabung dengan percetakan negara. Penerbitan ini pada masa itu sempat menjadi penerbitan terbesar dan maju di Asia Tenggara. Buku-buku yang diterbitkan hanyalah seputar laporan penelitian, laporan pemerintah, dan buku-buku bacaan untuk sekolah bumi putra. Sejak tahun 1850-an, penerbitan buubuku Bumiputra, khsuusnya buku-buku sekolah dan dibiayai dengan anggaran pemerintah. Pemilihan naskah, percetakan, dan pendistribusian dilakukan oleh percetakan Landsdrukkerij (Zikri Fadila, 2018: . Percetakan Swasta tidak dapat berkembang dengan luluasa pada masa pemerintahan Hindia Belanda dikarenakan dengan adanya pembatasan yang dilakukan pemerintah kolonial yaitu pada tanggal 10 November 1856. Dimana dalam aturan itu dinyatakan bahwa setiap orang yang hendak mendirikan percetakan harus meminta izin kepada pemerintah sebulan sebelumnya serta menyerahkan uang jaminan sebesar 200-5. 000 gulden. Ditambah lagi yaitu penerbit-penerbit harus mengirimkan 3 . eksemplar cetakannya kepada Plaatselijk Bestuur. Officier van Justitie, dan Algemeene Secretarie sebelum tanggal diterbitkannya buku-buku tersebit. Pengawasan yang ketat ini dilakukan oleh Pemerintah Belanda guna untuk menjaga kestabilan pemerintahan yang sedang berlangsung. Jika hal itu tidak dilakukan, hukumannya bisa berupa penyitaan dan penyegelan percetakan atau tempat penyimpanan barang cetak. Oleh sebab itu pemerintah bisa dengan leluasa memonopoli perkembangan dunia cetak dan menjalankan sebuah pengawasan yang ketat (Zikri Fadila, 2018: 6. Secara umum pada masa itu budaya membaca hanya dimiliki oleh kaum penjajah, bangsawan, pemuka agama, dan kaum pelajar. Akhir abad ke-19 mulai lahir penerbit dan percetakan yang dipunyai atau dijalankan oleh orang Tionghoa peranakan dan Indo-Eropa di Jawa. Naskah yang diterbikan itu berbentuk buku cerita dalam bahasa Melayu Tionghoa atau juga disebut Melayu pasar. Beberapa penerbitan orang Tionghoa juga menerbitkan koran. Di antaranya ialah penerbitan yang dimiliki Tan Khoen Swie dengan menerbitkan koran dan buku. Gatolojo serta Dharmagandoel. Melalui Keputusan Pemerintah No 12 tanggal 14 September 1908 dibentuklah Commissie Voor de Inlandsche Chool en Voklstectuur (Komisi Bacaan Rakya. Kemunculannya dikarenakan oleh keprihatinan pemerintah Kolonial kepada perkembangan penerbitan buku yang menganggap terjemahan dari kalangan Indo-China dan bumiputra memiliki mutu yang rendah. Pada tahun 1917 komisi ini berganti nama yaitu menjadi Balai Poestaka dan mulai mencetak berbagai karya yang cukup banyak yaitu sampai ratusan karya. Pembentukan komisi tersebut merupakan tonggak penerbitan buku secara masal di daerah Hindia Belanda (Theodorus Cahyo Wicaksono, 2. Jika lihat di Indonesia baru mulai mengadakan pekan ekonomi yang memamerkan kebutuhan jasmani, di Eropa sudah lama orang mengadakan pekan buku-buku untuk kebutuhan rohani (Margono. Di Belanda yang berpenduduk kira-kira 10 juta jiwa dan mengeluarkan setiap Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . tahun kira-kira f. ujuh puluh lima juta gulde. untuk buku, jadi f. 7,50 setiap jiwa, termasuk anak-anak. Setiap tahun diadakan pekan buku di berabagai kota yang didahului dengan kampanye besar-besaran dengan pedoman, iklan dll. Banyak di antara pengarang-pengarang menjual Sehingga dengan itu publik dapat mengenal para pengarangnya. Bermacam-macam pertunjukan, ceramah-ceramah dan lain-lain yang bisa menarik publik diadakan, segala-galanya dalam suasana pesta. Demikan pekan buku itu menjadi suatu tradisi yang memupuk perhatian dan cinta publik ke pada buku (Margono. 2 Penerbit Buku Etnis Cina di Indonesia Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, penerbitan buku sekolah dikuasai oleh orang Belanda. Sedangkan jikalau ada orang pribumi yang menulis buku pelajaran, biaanya mereka hanya sebagai pembantu atau ditunjuk oleh orang Belanda. Dalam hal mengenai penerbitan buku agama diawali dengan menerbitan buku-buku agama Islam yang dikerjakan orang Arab, kalau mengenai penerbitan buku-buku agama Kristen biasanya dijalankan oleh orang-orang Belanda. Sedangkan penerbitan buku bacaan umum yang berbahasa Melayu pada saat itu dikuasai dan dilakukan oleh orang-orang Cina. Bagaimana orang-orang pribumi hanya dalam penerbitan buku yang berbahasa daerah saja. Penerbitan buku Cina Peranakan dapat berkembang dikarenakan semakin meluasnya penggunaan bahasa Melayu pada masyarakat Indonesia pada waktu itu. Kondisi ini terlihat bagaimana berkembangnya penerbitan surat kabar yang menggunakan bahasa Melayu, selain itu juga surat kabar yang menggunakan bahasa Jawa saat itu. Bagaimana surat kabar sebagai sarana media informasi juga dimanfaatkan sebagai media iklan bagi para pedagang yang kebanyakan dari pedagang itu ialah kaum Cina. Pada akhirnya mereka merasa mempunyai kepentingan dengan penguasaan bahasa, yang utama yaitu bahasa Belanda dan Melayu. Dengan alasan itu anak-anak Cina disekolahkan untuk guna menguasai yang utama yaitu bahasa Belanda dan juga Melayu. Bagaimana generasi peranakan Cina ini yang nantinya sebagai pioner penerbitan buku di Indonesia mas kolonial Belanda. Awal-awal dengan jalan menterjemahkan kisah-kisah dari negeri Cina ke dalam bahasa Melayu. Di dasawarsa 1880-an, setidaknya terdapat 40-an karya yang diterjemahkan dari cerita-cerita itu. Pada tahun 1903Ae1928, sampai-sampai penerbitan peranakan Cina bisa menelorkan lebih seratus novel asli dari karya 12 pengarang peranakan Cina, hal itu jauh jika dibandingkan dengan Balai Poestaka, bagaimana 1928 hanya bisa menerbitkan 20-an karya novel (Ikatan Penerbit Indonesia, 2015. Sejarah penerbitan masa kolonial Belanda tak bisa dipisahkan dari penerbitan yang didirikan oleh Tan Khoen Swie yang telah berhasil memperlihatkan kemampuannya dengan memposisikan kedudukan yang sangat berarti, di bidang ekonomi dan juga kemampuan tentang pengetahuan bahasa Jawa dan Ilmu Kebatinan. Tan Khoen Swie mengalami kesenyapan pada panggung sejarah. Bagaimana perjalanan kehidupan yang dia lalui hanya sedikit yang bisa diketemukan. Nama Tan Khoen Swie ada dalam buku karya Tan Hoen Boen. Orang-Orang Tionghoa jang Terkemoeka di Java . ho's wh. yang diterbitkan oleh The Biographical Publising Center, pada tahun 1935 dan waktu itu menjadi sebuah kitab kumpulan biografi orang-orang Tionghoa yang telah dianggap mempunyai pengaruh yang besar pada masanya, oleh sebab itu juga memamparkan tentang pendidikan yang dilalui dan keberhasilan para tokoh-tokoh tersebut di dalam masyarakat (Belly Isayoga Kristyowidi. Moordiati. Kota asal dimana ia dilahirkan di Wonogiri hingga kota tempat ia menghabiskan akhir hidupnya, menyebabkan Tan Khoen Swie bisa fasih menggunakan bahasa Jawa dengan baik, dapat Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. Desember 2021, pp. juga menulis dan membaca aksara Jawa modern ataupun aksara Jawa kuno (Belly Isayoga Kristyowidi. Moordiati, 2012. Kebudayaan Jawa ialah kebudayaan yang paling beliau dalami, di antaranya yaitu cerita wayang atau ilmu kebatinan. Saat hidup Tan Khoen Swie, sering menghabiskan banyak waktu dengan melakukan meditasi, juga pilihan menjadi vegetarian dan tertarik tentang rahasia-rahasia ilmu gaib, hipnotisme yang bisa dimukan banyak di dalam buku-buku yang diterbitkannya (Belly Isayoga Kristyowidi. Moordiati, 2012. 3 Perbitan Buku pada Masa Balai Pustaka Pembentukan bangsa tampak dengan berdirinya gerakan nasional pada tahun 1908. Demikian kesusastraan baru pun diciptakan oleh masyarakat baru yang lebih dinamis, didukung oleh peralatan dan teknologi percetakan, serta berkembang dalam alam kebebasan individu. Kesusastraan baru menonjolkan nama pengarangnya. Pesatnya kemajuan dunia percetakan memungkinkan setiap orang dapat menikmati hasil karya para pujangga sehingga kesustraan hidup dan berkembang dengan penuh gairah (Nursisto, 2000. Pada periode kolonial Belanda ditandai dengan penjajahan dari berbagai sektor kehidupan. Banyak peraturan-peraturan yang dihasilkan hanya bertujuan untuk mengendalikan masyarakat pribumi supaya tidak melakukan melawan atau keinginan untuk merdeka sendiri. Pada waktu itu, dengan kondisi yang belum ada peraturan khusus yaitu tentang regulasi pelarangan buku. Akan tetapi, cukup banyak para penulis buku yang dipenjarakan atau dilakukan pengasingan yang disebabkan karyanya dituduh melakukan perlawanan dengan pandangan politik dan kebijakan pemerintah Politik perbukuan pada masa kolonial Belanda secara formal yaitu pada tanggal 14 September 1908 saat pemerintah mendirikan Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakya. berdasarkan keputusan Departement van Onderwijs en Eeredienst No. 12 pada 14 September 1908 (Ikatan Penerbit Indonesia, 2015. Dipimpin G. Hazeu, seorang doktor pada bidang bahasa dan sastra Nusantara yang berasal dari Universitas Leiden dan juga sebagai Penasehat Gubernur Jendral untuk urusan bumi putera. Bagaimana komisi ini mempunyai tugas memilih-milih Aubuku-buku baik yang bisa menjadi bahan bacaan bagi masyarakat pribumiAy yaitu ditujukan untuk anak-anak dan orang dewasa guna mengisi waktu senggang serta menambah pengetahuan (Nursisto, 2000. Memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada Direktur Pendidikan yang mengurus sekolah-sekolah pribumi. Mulanya, tema-tema bacaan yang dipilih komisi ini seputar pelajaran keterampilan teknik, tanaman, pertanian, dan ilmu alam, serta yang berhubungan dengan sikap dan perilaku yang baik (Iwan Awaludin Yusuf, dkk, 2010. , (Zikri Fadila, 2018: Tepatnya tahun 1910. Komisi Bacaan Rakyat mampu meningkatan kegiatan saat D. Rinkes sebagai sekretaris komisi diberi wewenang untuk mengendalikan komisi. Rinkes melakukan perekrutan ahli bahasa Sunda dan Jawa guna mengawali aktivitas penerjemahan berbagai karya asing. Dimana dalam 6 tahun, komisi tersebut bisa menerbitkan sejumlah 153 judul dengan penerbitan buku terbanyak berbahasa Jawa sejumlah 95 judul, dan berbahasa Sunda sejumlah 54 judul. Balai Poestaka melakukan penerjemahan karya-karya pengarang Eropa yang terkenal saat itu, di antaranya Charles Dickens dan Mark Twain ke dalam bahasa Jawa. Melayu. Sunda dan. Madura. Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Juga menerbitkan hikayat, cerita rakyat, dan kisah perwayangan dari khazanah kesusastraan Jawa. Melayu, dan Sunda. Berikutnya mendorong supaya para penulis pribumi guna menghasilkan karyakarya mereka sendiri di dalam bahasa Melayu Tinggi, seperti Sutan Takdir Alisjahbana. Marah Rusli, dan Armijn Pane (Iwan Awaludin Yusuf, dkk, 2010. Dengan berdaskan kesuksesan tersebut, kemudian berdasarkan Keputusan No. 63 pada tanggal 22 September 1917 menjadi Kantoor voor de Volkslectuur. Bagaimana lembaga ini kemudian diganti nama dan menjadi Balai Poestaka, dengan dipimpin oleh D. Rinkes (Ikatan Penerbit Indonesia, 2015. , (Nursisto, 2000. , (Iwan Awaludin Yusuf, dkk, 2010. Pada 1921. Balai Poestaka sudah mempunyai percetakan sendiri, kemudian saat itu dikenal sebagai ukuran gengsi intelektual dikarenakan para pembaca ialah para kaum elite dan juga dikarenakan memakai Bahasa yang tinggi (Ikatan Penerbit Indonesia, 2015. Penerbit berlomba-lomba memproduksi buku dan berusaha untuk tidak kena sensor. Hasilya pemerintah merasa perlu membuat penerbitan sendiri dalam bentuk komisi. Kemudian, nama Commisie voor de Indanche School en Volkslectuur diubah menjadi AuBalai PustakaAy pada tahun DA Rinkes yang pada saat itu menjabat sebagai ketua komisi langsung menjadi direktur pertama Balai Pustaka. Balai Pustaka menandakan babak baru dunia literasi nasional. Berbagai khasanah bacaan untuk masyarakat diterbitkan dan diedarkan secara luas dan buku2 yang diterbitkan beragam cerita-cerita rakyat, prosur, buku keterampilan dan kesehatan. Walaupun banyak didominasi bahasa Sunda. Tidak heran buku-buku yang pernah terbit pada masa kejayaan Bali Pustaka disebut AuAngkatan Bali PustakaAy (Zikri Fadila, 2018: . Buku-buku yang dihasilkan Balai Poestaka mempunyai kecenderungan yang seragam, yaitu tidak berani memuat tentang masalah politik, apalagi melakukan kritik kepada pemerintah kolonial Belanda. Kemajuan Balai Poestaka membuat kuatnya peran pemerintah colonial, sehingga menggunakan lembaga itu guna melaksanakan kontrol yang sangat ketat kepada barang cetakan sejak penentuan naskah dan penyuntingan naskah serta pada penjualan. Karya-karya sastra hasil penulis Tionghoa. Eropa peranakan, ataupun pribumi yang sudah beredar jauh sebelum Balai Poestaka berdiri tersingkir dari sejarah kesusastraan Indonesia modern. Ketika masa kolonial Belanda, munculnya periode kritis yaitu 1920-1926 yang ditandai semakin marak bacaan liar yang menjembatani lahirnya semangat pergerakan nasional. Bacaan liar itu merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Aumesin pergerakanAy untuk mengikat dan menggerakkan kaum kromo, dan kaum buruh, serta para kaum tani yang tidak mempunyai tanah. Bacaan tadi adalah media penyampaian pesan dari organisasi ataupun aktivis pergerakan nasional kepada rakyat pribumi pada waktu itu. Mulai mengenal dan menemui kata-kata baru yang berkaitan dengan gerak perlawanan terhadap kekuasaan kolonial, seperti kapitalisme, internasionalisme, sosialisme, beweging/pergerakan, staking/pemogokan, dan vergadering/rapat umum, dan istilah-istilah lainnya. Bacaan liar menggambaran situasi pergerakan, dan eksploitasi, serta mendorong para pembaca guna ikut dan bergerak Bersama-sama kaum pergerakan guna menentang kekuasaan diktator yang dilakukan oleh kolonial kolonial (Iwan Awaludin Yusuf, dkk, 2010. , (Andriyantyo, 2. Pada masa kolonial, antara 1906-1912, kaum bumi putera baru mempunyai penerbitan sendiri dengan munculnya NV Javasche Boekhandel en Drukkerrij en Handel in Schrijfbehoeften AuMedan PriajiAy pimpinan R. Tirto Adhi Soerjo. Tirto menjadi pelopor pergerakan nasional yang memelopori bacaan fiksi dan nonfiksi untuk mendidik bumi putera. Selain itu, ada percetakan Insulinde yang disokong oleh H. Misbach yang menerbitkan Mata Gelap (Mas Marco, 3 jilid, 1. Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. Desember 2021, pp. dan percetakan VSTP (Serikat Buruh Kereta Api dan Tra. yang menerbitkan koran Si Tetap (Iwan Awaludin Yusuf, dkk, 2010. Pemerintah kolonial Belanda tak pernah mengeluarkan undang-undang khusus guna melarang peredaran bacaan liar, akan tetapi kolonial Belanda berusaha dalam menghambat dengan cara menguasai penerbitan, percetakan, dan peredaran bahan bacaan melalui Balai Poestaka. Bagaimana pemerintah melakukan pelarangan saat terjadinya aksi perlawanan yang dimotori oleh organisasiorganisasi pergerakan nasional. Misalnya, seperti pada tahun 1920 terjadinya pemogokan buruh percetakan van Dorp, yang disusul dengan pemogokan buruh percetakan pada sejumlah surat kabar, yang dimotori oleh SI Semarang. Bagaimana saat itu pemerintah kolonial menyita berbagai buku seperti karangan Mas Marco dan menutup beberapa toko buku yang dimiliki organisasi SI (Iwan Awaludin Yusuf, dkk, 2010. Selain di Batavia beberapa kota lain di Pulau juga memiliki penerbitan dan percetakan yang cukup banyak pada tahun 1919 tercatat beberapa daerah yang juga memilik percetakan dan penerbitan seperti Semarang. Surabaya. Bandung. Yogyakarta Kudus dan beberapa kota lainnya (Zikri Fadila, 2018: . Sedangkan di luar Pulau Jawa penerbit dan percetakan juga mendominasi beberapa wilayah seperti Medan. Padang. Makassar dan Bengkulu. Sibolga dan daerah lainnya. Menjelang Kemerdekaan Indonesia ratusan penerbit berdiri di berbagai kota di seluruh tanah air, mulai dari Aceh. Medan. Padang. Batavia. Bandung. Semarang. Yogyakarta. Solo. Surabaya sampai Ambon dan Ende (Zikri Fadila, 2018: . Runtuhnya bacaan liar sangat dekat dengan perkembangan politik nasional saat itu, khususnya pemberontakan nasional pada tahun 1926/1927. Pelarangan organisasi radikal ini diikuti dengan penghancuran produksi bacaan liar. Aksi-reaksi terus-menerus terjadi sepanjang masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia (Iwan Awaludin Yusuf, dkk, 2010. Saat pemerintahan berganti ke tangan pemerintah militer Jepang, pemberlakuan sensor diganti dengan kontrol yang sangat ketat dan total. Hampir seluruh jenis media dimanfaatkan pemerintah Jepang untuk kepentingan propaganda Jepang terhadap mayarakat Indonesia. Dampaknya, bagaimana semua alternatif pendapat dan pemikiran diseragamkan dengan dilakukan dalam berbagai cara, tidak jarang pula dilakukan dengan kekerasan (Iwan Awaludin Yusuf, dkk, 2010. Perjalanan penerbitan buku telah membuka pandangan kita tentang bagaimana sebuah ide pemikiran menghasilkan banyak perubahan yang memaksa masyarakt mengikuti arus pemikiran yang sedang berkembang saat itu. Sejarah penerbitan buku dan sejarah buku sendiri telah memperlihatkan dampak yang besar saat buku menjadi komoditi bacaan di setiap masa yang berbeda-beda dan mengahsilkan banyak solusi dalam berbagai kehidupan tidak luput juga dalam kontek proses Indonesia merdeka. Simpulan Pada masa zaman purba bangsa mesir sudah menulis buku-bukunya pada semacam kertas yang terbuat dari semacam daun tumbuh-tumbuhan yang disebut AupapyrusAy. Bagaimana buku zaman kuno berbentuk gulungan-gulungan kertas kulit atau perkamen-perkamen yang tulisannya dengan tangan saja. Bermula ketika Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg kebangsaan Jerman menemukan mesin cetak pada tahun 1450-an. Untuk mencetak buku-buku keagamaan. Sejarah penerbitan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan misionaris. Sedangkan di Indonesia perkembangan Andriyanto (Sejarah Penerbitan Buku sampai Terbentuknya Balai Pustaka pada Masa Pergerakan Nasional Indonesi. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . dunia percetakan buku dimulai pada tahun 1619 ketika pemerintah kolonial Belanda menjadikan Batavia sebagai pusat kekuasaannya di Hindia Belanda. Akan tetapi perkembangan dimulai dengan kedatangan misionaris Inggris. Mendhurst ke Batavia pada tahun 1828. Dalam hal ini Misionaris sangat besar peranannya dalam perkembangan penerbitan. Politik perbukuan pada masa kolonial Belanda secara formal yaitu pada tanggal 14 September 1908 saat pemerintah mendirikan Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakya. berdasarkan keputusan Departement van Onderwijs en Eeredienst No. 12 pada 14 September 1908. Dipimpin G. Hazeu, seorang doktor pada bidang bahasa dan sastra Nusantara yang berasal dari Universitas Leiden dan juga sebagai Penasehat Gubernur Jendral untuk urusan bumi Bagaimana komisi ini mempunyai tugas memilih-milih Aubuku-buku baik yang bisa menjadi bahan bacaan bagi masyarakat pribumiAy yaitu ditujukan untuk anak-anak dan orang dewasa guna mengisi waktu senggang serta menambah pengetahuan. Memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada Direktur Pendidikan yang mengurus sekolah-sekolah pribumi. Mulanya, tema-tema bacaan yang dipilih komisi ini seputar pelajaran keterampilan teknik, tanaman, pertanian, dan ilmu alam, serta yang berhubungan dengan sikap dan perilaku yang baik. Tepatnya tahun 1910. Komisi Bacaan Rakyat mampu meningkatan kegiatan saat D. Rinkes sebagai sekretaris komisi diberi wewenang untuk mengendalikan komisi. Rinkes melakukan perekrutan ahli bahasa Sunda dan Jawa guna mengawali aktivitas penerjemahan berbagai karya asing. Dimana dalam 6 tahun, komisi tersebut bisa menerbitkan sejumlah 153 judul dengan penerbitan buku terbanyak berbahasa Jawa sejumlah 95 judul, dan berbahasa Sunda sejumlah 54 judul. Balai Poestaka melakukan penerjemahan karya-karya pengarang Eropa yang terkenal saat itu, di antaranya Charles Dickens dan Mark Twain ke dalam bahasa Jawa. Melayu. Sunda dan. Madura. Juga menerbitkan hikayat, cerita rakyat, dan kisah perwayangan dari khazanah kesusastraan Jawa. Melayu, dan Sunda. Berikutnya mendorong supaya para penulis pribumi guna menghasilkan karya-karya mereka sendiri di dalam bahasa Melayu Tinggi, seperti Sutan Takdir Alisjahbana. Marah Rusli, dan Armijn Pane. Dengan berdaskan kesuksesan tersebut, kemudian berdasarkan Keputusan No. 63 pada tanggal 22 September 1917 menjadi Kantoor voor de Volkslectuur. Bagaimana lembaga ini kemudian diganti nama dan menjadi Balai Poestaka, dengan dipimpin oleh D. Rinkes. Pada 1921. Balai Poestaka sudah mempunyai percetakan sendiri, kemudian saat itu dikenal sebagai ukuran gengsi intelektual dikarenakan para pembaca ialah para kaum elite dan juga dikarenakan memakai Bahasa yang tinggi. References