Jurnal Pendidikan West Science Vol. No. Mei 2026, pp. Model Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness dalam Membangun Toleransi Siswa SMA di Jawa Barat Muhamad Ammar Muhtadi1. Muhammad Rusdi2. Rival Pahrijal3 Universitas Nusa Putra dan muhamadammarmuhtadi@gmai. 2 Universitas Medan Area dan rusdi@staff. 3 Universitas Nusa Putra dan rivalpahrijal@gmail. Article Info ABSTRAK Article history: Penelitian ini menyelidiki peran pendidikan multikultural, interaksi sosial, dan kesadaran budaya dalam menumbuhkan toleransi di kalangan siswa SMA di Jawa Barat. Meningkatnya kompleksitas keragaman sosial dan interaksi antarbudaya di kalangan remaja menyoroti pentingnya mengidentifikasi faktor pendidikan dan sosial yang mendukung pengembangan sikap toleran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei crosectional. Data dikumpulkan dari 250 siswa SMA melalui kuesioner terstruktur yang diukur menggunakan skala Likert lima poin. Variabel yang diteliti meliputi pendidikan multikultural, interaksi sosial, kesadaran budaya, dan toleransi. Analisis data dilakukan menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 25, termasuk statistik deskriptif, pengujian validitas dan reliabilitas, pengujian asumsi klasik, regresi linier berganda, koefisien determinasi, dan pengujian hipotesis menggunakan uji-t dan uji-F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural, interaksi sosial, dan kesadaran budaya masing-masing memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi di kalangan siswa. Pendidikan multikultural secara signifikan memengaruhi toleransi, menunjukkan bahwa pengalaman pendidikan inklusif berkontribusi pada sikap yang lebih menerima terhadap keragaman. Interaksi sosial juga menunjukkan efek positif, menunjukkan bahwa keterlibatan konstruktif di antara siswa memperkuat saling pengertian dan mengurangi hambatan sosial. Kesadaran budaya muncul sebagai prediktor terkuat, menekankan pentingnya mengenali dan menghargai keragaman budaya dalam membentuk perilaku toleran. Secara bersamaan, ketiga variabel tersebut secara signifikan memengaruhi toleransi dan menjelaskan 46,8% varians dalam tingkat toleransi siswa (RA = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa sekolah harus memperkuat praktik pembelajaran multikultural, memfasilitasi interaksi sosial yang inklusif, dan mempromosikan kesadaran budaya sebagai strategi pendidikan terintegrasi untuk mengembangkan toleransi dan mendukung kohesi sosial di kalangan remaja. Received May, 2026 Revised May, 2026 Accepted May, 2026 Kata Kunci: Pendidikan Multikultural. Interaksi Sosial. Kesadaran Budaya. Toleransi. Siswa Sekolah Menengah Atas Keywords: Multicultural Education. Social Interaction. Cultural Awareness. Tolerance. High School Students ABSTRACT This study investigates the role of multicultural education, social interaction, and cultural awareness in fostering tolerance among high school students in West Java. The increasing complexity of social diversity and intercultural interaction among adolescents highlights the importance of identifying educational and social factors that support the development of tolerant attitudes. This research employed a quantitative approach using a cross-sectional survey design. Data Journal homepage: https://wnj. westscience-press. com/index. php/jpdws/index Jurnal Pendidikan West Science A were collected from 250 high school students through a structured questionnaire measured using a five-point Likert scale. The variables examined included multicultural education, social interaction, cultural awareness, and tolerance. Data analysis was conducted using Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) version 25, including descriptive statistics, validity and reliability testing, classical assumption testing, multiple linear regression, coefficient of determination, and hypothesis testing using t-test and F-test. The findings revealed that multicultural education, social interaction, and cultural awareness each had a positive and significant effect on tolerance among students. Multicultural education significantly influenced tolerance, indicating that inclusive educational experiences contribute to more accepting attitudes toward diversity. Social interaction also demonstrated a positive effect, suggesting that constructive engagement among students strengthens mutual understanding and reduces social barriers. Cultural awareness emerged as the strongest predictor, emphasizing the importance of recognizing and appreciating cultural diversity in shaping tolerant Simultaneously, the three variables significantly affected tolerance and explained 46. 8% of the variance in studentsAo tolerance levels (RA = 0. These findings suggest that schools should strengthen multicultural learning practices, facilitate inclusive social interaction, and promote cultural awareness as integrated educational strategies to develop tolerance and support social cohesion among This is an open access article under the CC BY-SA license. Corresponding Author: Name: Institution: Email: PENDAHULUAN Perkembangan masyarakat modern yang semakin beragam menjadikan toleransi sebagai salah satu kompetensi sosial yang semakin penting untuk dibangun melalui pendidikan. Globalisasi, perkembangan teknologi, mobilitas penduduk, serta percepatan pertukaran informasi telah memperluas intensitas interaksi antarindividu dengan latar belakang budaya, agama, etnis, dan kondisi sosial yang berbeda (Gutman et al. , 2. Di satu sisi, keberagaman memberikan peluang untuk memperkaya pengalaman sosial, memperluas wawasan, dan mendorong inovasi (Paramita, 2020. Sofkova Hashemi & Cederlund, 2. Namun di sisi lain, keberagaman juga berpotensi memunculkan kesalahpahaman, stereotip, polarisasi sosial, dan konflik apabila tidak dikelola melalui proses pendidikan yang tepat. Dalam konteks tersebut, institusi pendidikan tidak lagi hanya berperan sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai hidup bersama, penghargaan terhadap perbedaan, dan pembentukan karakter Toleransi kemudian dipandang sebagai salah satu capaian pendidikan yang penting, terutama bagi siswa sekolah menengah yang sedang berada pada fase pembentukan identitas dan perkembangan sosial. Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science Indonesia menjadi salah satu negara yang relevan untuk mengkaji isu toleransi karena memiliki tingkat keberagaman yang sangat tinggi. Keragaman etnis, bahasa, budaya, dan agama merupakan karakter mendasar masyarakat Indonesia yang selama ini menjadi fondasi kehidupan berbangsa (Eryanto & Swaramarinda, 2013. Munjirin & Iswinarti, 2. Nilai persatuan dalam keberagaman telah menjadi orientasi nasional sekaligus arah pembangunan pendidikan. Namun demikian, menjaga toleransi dalam masyarakat yang plural tidak dapat berlangsung secara Perubahan pola komunikasi, meningkatnya penggunaan media digital, serta tingginya eksposur terhadap informasi yang bersifat selektif dan berbasis identitas turut memengaruhi cara generasi muda memahami perbedaan (Herianto, 2020. Wahyuni & Dahlia, 2. Remaja saat ini tidak hanya belajar melalui interaksi langsung, tetapi juga melalui ruang digital yang sering kali memperkuat bias dan segregasi sosial. Oleh karena itu, penguatan toleransi di lingkungan pendidikan menjadi semakin penting sebagai upaya membangun generasi yang mampu hidup dalam masyarakat multikultural. Provinsi Jawa Barat menjadi konteks yang menarik dalam penelitian ini karena merupakan salah satu wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia serta memiliki dinamika sosial dan budaya yang kompleks. Lingkungan pendidikan di Jawa Barat mempertemukan siswa dengan berbagai latar belakang ekonomi, budaya, nilai keluarga, serta pengalaman sosial yang beragam (Suhadi & Setyowati, 2. Kondisi tersebut menciptakan peluang besar untuk terbentuknya pembelajaran lintas budaya, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan dalam menjaga hubungan sosial yang inklusif. Sekolah dalam situasi ini diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar formal, melainkan juga sebagai ruang sosial yang memungkinkan siswa mengembangkan empati, menghargai keberagaman, serta membangun relasi yang sehat dengan kelompok yang Dengan demikian, faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya toleransi pada siswa SMA di Jawa Barat menjadi penting untuk dipahami secara lebih mendalam. Salah satu pendekatan yang banyak dikembangkan dalam literatur pendidikan untuk membangun toleransi adalah Multicultural Education. Konsep ini menekankan pentingnya integrasi nilai keberagaman dalam proses pembelajaran sehingga seluruh siswa memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang tanpa memandang identitas sosial dan budaya mereka (Gunawan & Jaya, 2023. Mokodenseho & Wekke, 2. Melalui Multicultural Education, siswa diperkenalkan pada berbagai perspektif, pengalaman historis, nilai sosial, dan identitas budaya yang berbeda sehingga dapat memperluas cara pandang mereka terhadap kehidupan sosial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman belajar yang bersifat multikultural berkorelasi dengan meningkatnya empati, menurunnya prasangka sosial, serta berkembangnya kemampuan berinteraksi secara inklusif (Alkouatli et al. , 2023. Rohmah et al. , 2. Namun demikian, pendidikan multikultural belum sepenuhnya mampu menjelaskan terbentuknya toleransi karena sikap sosial siswa tidak hanya dibangun melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui pengalaman interaksi yang mereka alami sehari-hari. Selain Multicultural Education, faktor lain yang diperkirakan memiliki kontribusi terhadap pembentukan toleransi adalah Social Interaction dan Cultural Awareness. Social Interaction merujuk pada proses komunikasi dan keterlibatan timbal balik antarindividu yang memungkinkan terbentuknya pemahaman sosial, pengalaman bersama, dan pengurangan stereotip. Dalam fase remaja, lingkungan teman sebaya dan komunitas sekolah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan nilai dan perilaku sosial (-, 2024. Culbert & Liu, 2021. Dogru et al. , 2. Sementara itu. Cultural Awareness mengacu pada kemampuan individu untuk mengenali, memahami, dan Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science menghargai keberagaman budaya secara terbuka. Siswa dengan tingkat Cultural Awareness yang tinggi cenderung memandang perbedaan sebagai bagian alami dari kehidupan sosial dan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memahami perspektif orang lain (-, 2024. Morgan & Hansen. Dalam konteks pendidikan saat ini yang ditandai oleh tingginya eksposur budaya melalui media digital, pengembangan kesadaran budaya menjadi semakin relevan sebagai dasar pembentukan sikap toleran dan adaptif. Meskipun penelitian mengenai Multicultural Education. Social Interaction. Cultural Awareness, dan toleransi telah banyak dilakukan secara terpisah, penelitian yang menguji ketiga variabel tersebut secara simultan pada konteks siswa SMA di Indonesia masih relatif terbatas, khususnya di Jawa Barat. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada lingkungan pendidikan tinggi atau hanya mengkaji satu dimensi sosial secara terpisah. Padahal, toleransi merupakan konstruksi sosial yang terbentuk melalui interaksi berbagai faktor pendidikan, pengalaman sosial, dan pemahaman budaya. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness dalam membangun toleransi siswa SMA di Jawa Barat menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 250 responden dan analisis data menggunakan SPSS versi 25. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan kajian pendidikan multikultural serta memberikan rekomendasi praktis bagi sekolah dan pembuat kebijakan dalam merancang lingkungan belajar yang lebih inklusif dan mendukung kohesi sosial. TINJAUAN PUSTAKA 1 Toleransi pada Siswa Sekolah Menengah Atas Toleransi merupakan sikap yang mencerminkan penerimaan, penghormatan, dan kesediaan untuk hidup berdampingan dengan individu atau kelompok yang memiliki perbedaan nilai, keyakinan, identitas, budaya, dan karakteristik sosial. Dalam konteks pendidikan, toleransi tidak hanya berarti menerima keberagaman secara pasif, tetapi juga memahami bahwa perbedaan merupakan bagian yang bernilai dalam kehidupan sosial (Eryanto & Swaramarinda, 2013. Munjirin & Iswinarti, 2. Pada tingkat sekolah menengah atas, toleransi menjadi kompetensi penting karena masa remaja merupakan periode pembentukan identitas sosial, nilai moral, dan pola interaksi dengan lingkungan. Toleransi dalam lingkungan sekolah dapat terlihat melalui sikap menghargai perbedaan, keterbukaan terhadap perspektif lain, kemampuan berempati. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki tingkat toleransi tinggi cenderung membangun hubungan sosial yang lebih baik, memiliki prasangka yang lebih rendah, serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang harmonis (Herianto, 2020. Wahyuni & Dahlia, 2. Oleh karena itu, dalam penelitian ini toleransi diposisikan sebagai variabel dependen yang menggambarkan kemampuan siswa dalam menghargai keberagaman dan menjaga interaksi sosial yang positif di lingkungan sekolah multikultural. 2 Multicultural Education Multicultural Education merupakan pendekatan pendidikan yang mengakui keberagaman budaya serta mendorong kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik tanpa membedakan etnis, agama, bahasa, gender, maupun latar belakang Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science Pendekatan ini tidak hanya mengintegrasikan keberagaman ke dalam materi dan proses pembelajaran, tetapi juga membangun lingkungan sekolah yang inklusif, adil, dan partisipatif (Gunawan & Jaya, 2023. Mokodenseho & Wekke, 2. Melalui Multicultural Education, siswa didorong untuk memahami berbagai perspektif, mengurangi prasangka, serta mengembangkan nilai sosial yang menghargai Secara teoritis, paparan terhadap pengalaman belajar yang multikultural dapat membentuk toleransi melalui proses internalisasi nilai dan pengembangan cara berpikir yang lebih terbuka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik pendidikan multikultural berkontribusi terhadap meningkatnya keterbukaan, kompetensi antarbudaya, dan penerimaan terhadap keberagaman. Dalam konteks pendidikan di Indonesia. Multicultural Education dipandang sebagai strategi penting untuk memperkuat integrasi sosial dan membangun kesadaran bahwa keberagaman merupakan fondasi bagi kehidupan bersama (Alkouatli et al. , 2023. Asikin, 2019. Rohmah et al. , 2. Oleh karena itu, dalam penelitian ini Multicultural Education dipahami sebagai persepsi siswa terhadap pengalaman belajar yang mendorong pemahaman, penghargaan, dan penerimaan terhadap keberagaman budaya. 3 Social Interaction Social Interaction merupakan proses hubungan timbal balik dan komunikasi antarindividu atau kelompok yang memengaruhi pembentukan perilaku, sikap, serta pemahaman sosial. Dalam lingkungan pendidikan, interaksi sosial terjadi melalui diskusi di kelas, kerja kelompok, kegiatan ekstrakurikuler, dan hubungan antarsiswa maupun dengan guru yang berperan penting dalam perkembangan pribadi dan sosial (Sachan, 2023. Suwastika, 2018. Tripon et al. , 2. Teori interaksi sosial menjelaskan bahwa sikap individu terbentuk melalui pengalaman interpersonal yang berulang, sehingga interaksi yang positif dapat membantu siswa memahami perspektif yang berbeda, mengurangi prasangka, dan membangun hubungan yang lebih inklusif. Dimensi utama dalam Social Interaction meliputi intensitas komunikasi, kerja sama, pemahaman timbal balik, dan partisipasi dalam aktivitas sosial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa siswa yang aktif dalam lingkungan sosial yang kolaboratif dan inklusif cenderung memiliki empati yang lebih tinggi, jarak sosial yang lebih rendah, serta tingkat toleransi yang lebih baik (Gutierrez-Santos et al. , 2016. Tripon et al. , 2. Oleh karena itu, dalam penelitian ini Social Interaction dipahami sebagai persepsi siswa terhadap kualitas dan intensitas interaksi mereka dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda di lingkungan sekolah. 4 Cultural Awareness Cultural Awareness individu untuk memahami, dan menghargai keberagaman budaya dengan tetap memiliki keterbukaan terhadap perbedaan nilai, tradisi, dan praktik sosial. Konsep ini semakin penting dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi yang memperluas paparan individu terhadap berbagai pengaruh budaya. Dalam konteks pendidikan, pengembangan Cultural Awareness tidak hanya bertujuan memperluas pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk kompetensi antarbudaya yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat yang beragam (Siagian, 2. Dimensi utama Cultural Awareness meliputi kesadaran terhadap keberagaman budaya, pemahaman terhadap identitas budaya diri. Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science penghormatan terhadap budaya lain, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang multikultural. Siswa yang memiliki tingkat Cultural Awareness yang tinggi cenderung menunjukkan empati yang lebih baik, prasangka yang lebih rendah, serta kemampuan komunikasi antarbudaya yang lebih kuat sehingga mampu memandang perbedaan sebagai peluang untuk belajar, bukan sebagai sumber konflik (-, 2024. Baker. Gutman et al. , 2. Oleh karena itu, dalam penelitian ini Cultural Awareness didefinisikan sebagai tingkat pemahaman dan penghargaan siswa terhadap keberagaman budaya yang memengaruhi sikap mereka dalam menerima perbedaan dan membangun kehidupan bersama secara harmonis. 5 Conceptual Framework Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa toleransi pada siswa sekolah menengah atas dipengaruhi oleh faktor pendidikan, sosial, dan budaya yang saling berinteraksi dalam membentuk sikap individu terhadap keberagaman. Multicultural Education memberikan pengalaman belajar yang terstruktur untuk mengenalkan nilai Social Interaction pengalaman interpersonal secara langsung yang membantu membangun pemahaman sosial, memperluas perspektif, dan mengurangi prasangka terhadap kelompok lain. Sementara itu. Cultural Awareness memperkuat kemampuan siswa dalam memahami, menghargai, dan menafsirkan perbedaan budaya secara positif sehingga mendorong terbentuknya perilaku yang lebih inklusif. Integrasi ketiga variabel tersebut membentuk kerangka yang komprehensif dalam menjelaskan perkembangan toleransi pada remaja. Dalam penelitian ini. Multicultural Education (X. Social Interaction (X. , dan Cultural Awareness (X. diposisikan sebagai variabel independen yang diasumsikan memberikan pengaruh terhadap Tolerance Among High School Students (Y) sebagai variabel dependen. Dengan demikian, penelitian ini mengasumsikan bahwa peningkatan kualitas pendidikan multikultural, interaksi sosial yang positif, dan kesadaran budaya yang lebih tinggi akan berkontribusi secara positif terhadap peningkatan toleransi siswa. Berdasarkan landasan teoritis dan temuan empiris sebelumnya, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H1: Multicultural Education berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi siswa SMA di Jawa Barat H2: Social Interaction berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi siswa SMA di Jawa Barat H3: Cultural Awareness berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi siswa SMA di Jawa Barat H4: Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi siswa SMA di Jawa Barat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional untuk menganalisis peran Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness dalam membangun toleransi siswa SMA di Jawa Barat. Pendekatan kuantitatif dipilih karena Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science penelitian bertujuan menguji hubungan antarvariabel serta mengukur besarnya pengaruh variabel independen terhadap toleransi melalui analisis statistik. Lokasi penelitian berada di Provinsi Jawa Barat yang dipilih karena memiliki karakteristik masyarakat dan lingkungan pendidikan yang beragam secara sosial dan budaya sehingga relevan untuk mengkaji perkembangan toleransi pada Populasi penelitian adalah siswa SMA dari sekolah negeri dan swasta, dengan unit analisis berupa individu siswa. Sampel penelitian berjumlah 250 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria siswa aktif jenjang kelas XAeXII, bersekolah di wilayah Jawa Barat, bersedia menjadi responden, dan mengisi seluruh instrumen penelitian secara lengkap. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang disusun berdasarkan landasan teoritis dan penelitian terdahulu. Instrumen penelitian terdiri atas dua bagian, yaitu data demografis responden dan pernyataan yang mengukur variabel penelitian. Variabel independen dalam penelitian ini terdiri atas Multicultural Education (X. yang diukur melalui indikator paparan pembelajaran multikultural, penghormatan terhadap keberagaman, praktik pendidikan inklusif, kesetaraan partisipasi, dan pemahaman perbedaan budaya. Social Interaction (X. yang diukur melalui intensitas komunikasi, kerja sama, partisipasi, pemahaman timbal balik, dan hubungan interpersonal. serta Cultural Awareness (X. yang diukur melalui pemahaman keberagaman budaya, penghormatan terhadap nilai budaya, kesadaran identitas budaya diri, keterbukaan antarbudaya, dan kemampuan adaptasi. Variabel dependen yaitu Tolerance (Y) diukur melalui penghormatan terhadap keberagaman, penerimaan terhadap perbedaan pendapat, empati, perilaku inklusif, dan penghindaran diskriminasi. Seluruh indikator diukur menggunakan skala Likert lima poin, mulai dari skor 1 . angat tidak setuj. hingga skor 5 . angat setuj. Sebelum analisis utama dilakukan, instrumen diuji melalui uji validitas menggunakan Pearson Product Moment dan uji reliabilitas menggunakan CronbachAos Alpha dengan batas minimum reliabilitas sebesar 0,70. Analisis data dilakukan menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 25 melalui beberapa tahapan. Tahap awal dilakukan analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden dan distribusi data penelitian menggunakan nilai frekuensi, persentase, rata-rata, dan standar deviasi. Selanjutnya dilakukan pengujian asumsi klasik yang meliputi uji normalitas menggunakan KolmogorovAeSmirnov, uji multikolinearitas menggunakan nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF), serta uji heteroskedastisitas menggunakan metode Glejser. Untuk menguji pengaruh antarvariabel digunakan analisis regresi linear berganda dengan model Y= 1X1 2X2 3X3 e. Pengujian hipotesis dilakukan melalui uji t untuk mengetahui pengaruh parsial, uji F untuk mengetahui pengaruh simultan, serta koefisien determinasi (RA) untuk mengukur kemampuan model dalam menjelaskan variasi toleransi siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Profil Responden Penelitian ini melibatkan 250 siswa sekolah menengah atas di Jawa Barat yang telah mengisi Para responden mewakili latar belakang demografis yang beragam guna memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai perkembangan toleransi di kalangan remaja. Tabel 1. Karakteristik Responden Variable Gender Category Male Frequency . Percentage (%) Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science Grade Level School Type Age Female Grade X Grade XI Grade XII Public School Private School 15Ae16 Years 17Ae18 Years Berdasarkan Tabel 1, penelitian ini melibatkan 250 responden yang terdiri dari 138 siswa perempuan . ,2%) dan 112 siswa laki-laki . ,8%), yang menunjukkan bahwa partisipasi responden perempuan sedikit lebih dominan dibandingkan laki-laki. Berdasarkan tingkat kelas, distribusi responden relatif merata dengan jumlah terbesar berasal dari kelas XI sebanyak 88 siswa . ,2%), diikuti kelas XII sebanyak 83 siswa . ,2%), dan kelas X sebanyak 79 siswa . ,6%), sehingga penelitian ini mampu merepresentasikan kondisi siswa pada seluruh jenjang sekolah menengah Dari jenis sekolah, mayoritas responden berasal dari sekolah negeri sebanyak 158 siswa . ,2%), sedangkan 92 siswa . ,8%) berasal dari sekolah swasta, yang menunjukkan dominasi partisipasi siswa dari lingkungan pendidikan negeri. Sementara itu, berdasarkan usia, sebagian besar responden berada pada rentang 17Ae18 tahun sebanyak 149 siswa . ,6%), sedangkan 101 siswa . ,4%) berada pada rentang usia 15Ae16 tahun. Komposisi responden tersebut menunjukkan bahwa penelitian ini didominasi oleh siswa pada fase remaja menengah hingga akhir yang secara perkembangan sosial dan kognitif telah memiliki kemampuan yang lebih matang dalam memahami keberagaman, membangun interaksi sosial, serta membentuk sikap toleransi di lingkungan sekolah 2 Statistik Deskriptif Analisis deskriptif dilakukan untuk mengkaji kondisi umum masing-masing variabel Tabel 2. Statistik Deskriptif Variable Multicultural Education (X. Social Interaction (X. Cultural Awareness (X. Tolerance (Y) Min Max Mean Std. Deviation Berdasarkan Tabel 2, seluruh variabel penelitian menunjukkan nilai rata-rata yang relatif tinggi dengan rentang 4,08Ae4,28 dari skala maksimum 5, yang mengindikasikan bahwa responden secara umum memiliki persepsi positif terhadap pengalaman pendidikan multikultural, kualitas interaksi sosial, tingkat kesadaran budaya, serta perilaku toleransi. Variabel Tolerance (Y) memiliki nilai rata-rata tertinggi (Mean = 4,28. SD = 0,. , yang menunjukkan bahwa mayoritas siswa telah menunjukkan sikap menghargai keberagaman dan mampu menjaga hubungan sosial yang harmonis di lingkungan sekolah. Selanjutnya. Cultural Awareness (X. memperoleh nilai rata-rata sebesar 4,23 (SD = 0,. , mengindikasikan bahwa siswa memiliki tingkat pemahaman dan penghargaan yang tinggi terhadap perbedaan budaya. Variabel Social Interaction (X. juga menunjukkan nilai yang tinggi (Mean = 4,15. SD = 0,. , yang mencerminkan bahwa siswa cukup Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science aktif dalam membangun komunikasi dan hubungan sosial dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda. Sementara itu. Multicultural Education (X. memperoleh rata-rata 4,08 (SD = 0,. , yang menunjukkan bahwa praktik pembelajaran yang mendukung keberagaman telah dirasakan cukup baik oleh responden. Nilai standar deviasi yang relatif rendah pada seluruh variabel menunjukkan bahwa persepsi responden cenderung homogen dan tidak memiliki penyebaran data yang terlalu besar. Temuan ini mengindikasikan bahwa lingkungan pendidikan di SMA wilayah Jawa Barat telah memberikan kondisi yang cukup mendukung dalam membentuk pengalaman multikultural, interaksi sosial yang positif, serta kesadaran budaya yang pada akhirnya berkontribusi terhadap terbentuknya toleransi siswa. 3 Pengujian Instrumen Uji Validitas Uji validitas dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson. Tabel 3. Hasil Uji Validitas Variable Multicultural Education Social Interaction Cultural Awareness Tolerance Number of Items Valid Items Correlation Range 621Ae0. 608Ae0. 645Ae0. 663Ae0. Berdasarkan Tabel 3, hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan yang digunakan dalam penelitian memenuhi kriteria validitas dan layak digunakan untuk analisis lebih Variabel Multicultural Education memiliki nilai korelasi pada rentang 0,621Ae0,791, variabel Social Interaction berada pada rentang 0,608Ae0,784, variabel Cultural Awareness memiliki rentang 0,645Ae0,826, dan variabel Tolerance menunjukkan nilai korelasi tertinggi dengan rentang 0,663Ae 0,834. Seluruh nilai korelasi berada di atas batas minimum yang ditetapkan, sehingga menunjukkan bahwa setiap item mampu merepresentasikan konstruk yang diukur secara konsisten dan memiliki hubungan yang cukup kuat dengan total skor variabelnya. Selain itu, seluruh item pada masingmasing variabel dinyatakan valid . dari 5 ite. tanpa adanya item yang dieliminasi. Hasil ini mengindikasikan bahwa instrumen penelitian telah memiliki tingkat ketepatan pengukuran yang baik dalam menangkap persepsi responden terkait Multicultural Education. Social Interaction. Cultural Awareness, dan toleransi, sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk tahap analisis statistik berikutnya. Uji Keandalan Tabel 4. Hasil Uji Keandalan Variable Multicultural Education Social Interaction Cultural Awareness Tolerance CronbachAos Alpha Interpretation Good Good Good Good Berdasarkan Tabel 4, hasil uji keandalan menunjukkan bahwa seluruh variabel dalam penelitian memiliki tingkat reliabilitas yang baik dan memenuhi kriteria sebagai instrumen yang Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science konsisten untuk digunakan dalam pengukuran. Variabel Multicultural Education memperoleh nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,867, variabel Social Interaction sebesar 0,848, variabel Cultural Awareness sebesar 0,882, dan variabel Tolerance memperoleh nilai tertinggi yaitu 0,896. Seluruh nilai tersebut berada di atas batas minimum 0,70, sehingga menunjukkan bahwa setiap indikator pada masing-masing variabel memiliki konsistensi internal yang kuat dalam mengukur konstruk yang diteliti. Nilai reliabilitas yang tinggi juga mengindikasikan bahwa jawaban responden terhadap item-item dalam instrumen cenderung stabil dan memiliki tingkat keseragaman yang baik. Dengan demikian, instrumen penelitian ini dapat dinyatakan andal . dan mampu menghasilkan data yang konsisten untuk digunakan pada tahap analisis lanjutan dalam menguji hubungan antara Multicultural Education. Social Interaction. Cultural Awareness, dan toleransi 4 Classical Assumption Testing Normality Test Table 5. KolmogorovAeSmirnov Test Statistic Test Statistic Sig. Value Berdasarkan Tabel 5, hasil uji normalitas menggunakan KolmogorovAeSmirnov Test menunjukkan bahwa data penelitian memenuhi asumsi distribusi normal. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah sampel sebanyak 250 responden (N = . dengan nilai Test Statistic sebesar 0,052 dan nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,200. Karena nilai signifikansi lebih besar dari batas yang ditetapkan . ,200 > 0,. , maka data residual dalam model penelitian dapat dinyatakan terdistribusi normal. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat penyimpangan distribusi yang signifikan sehingga data memenuhi salah satu prasyarat penting dalam analisis regresi linear. Dengan terpenuhinya asumsi normalitas, proses analisis lanjutan untuk menguji pengaruh Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness terhadap toleransi siswa dapat dilakukan dengan tingkat kepercayaan yang memadai dan menghasilkan estimasi model yang lebih akurat. Multicollinearity Test Table 6. Multicollinearity Results Variable Multicultural Education Social Interaction Cultural Awareness Tolerance VIF Berdasarkan Tabel 6, hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa model penelitian tidak mengalami masalah multikolinearitas sehingga seluruh variabel independen dapat digunakan secara bersama-sama dalam analisis regresi. Hal ini terlihat dari nilai Tolerance pada variabel Multicultural Education sebesar 0,601. Social Interaction sebesar 0,563, dan Cultural Awareness sebesar 0,589, di mana seluruh nilai tersebut berada di atas batas minimum 0,10. Selain itu, nilai Variance Inflation Factor (VIF) masing-masing variabel yaitu 1,664, 1,777, dan 1,698, yang Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science seluruhnya berada jauh di bawah ambang batas 10,00. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang terlalu tinggi antarvariabel independen sehingga masing-masing variabel tetap mampu menjelaskan pengaruhnya terhadap toleransi secara independen. Dengan demikian, model regresi yang digunakan memenuhi asumsi multikolinearitas dan dapat dilanjutkan ke tahap pengujian hipotesis tanpa adanya risiko distorsi estimasi akibat hubungan linear yang berlebihan antarvariabel bebas. Heteroscedasticity Test Table 7. Glejser Test Variable Multicultural Education Social Interaction Cultural Awareness Sig. Berdasarkan Tabel 7, hasil uji heteroskedastisitas menggunakan metode Glejser menunjukkan bahwa model penelitian tidak mengalami gejala heteroskedastisitas. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi (Sig. ) pada variabel Multicultural Education sebesar 0,465. Social Interaction sebesar 0,541, dan Cultural Awareness sebesar 0,637, yang seluruhnya berada di atas batas signifikansi 0,05. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa varians residual pada model regresi bersifat konstan dan tidak terjadi pola penyebaran error yang berbeda pada setiap tingkat variabel Dengan demikian, model regresi yang digunakan telah memenuhi asumsi homoskedastisitas sehingga estimasi koefisien regresi dapat dianggap stabil, tidak bias, dan layak digunakan untuk melanjutkan pengujian pengaruh Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness terhadap toleransi siswa. 5 Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi dilakukan untuk mengkaji pengaruh pendidikan multikultural, interaksi sosial, dan kesadaran budaya terhadap toleransi. Tabel 8. Hasil Regresi Berganda Variable Constant Multicultural Education Social Interaction Cultural Awareness Std. Error Beta Ai Sig. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda diperoleh persamaan Tolerance = 0,842 0,276XCA 0,218XCC 0,349XCE, yang menunjukkan bahwa seluruh variabel independen memiliki arah pengaruh positif terhadap toleransi siswa. Nilai konstanta sebesar 0,842 mengindikasikan bahwa ketika Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness dianggap konstan, tingkat toleransi tetap memiliki nilai dasar sebesar 0,842. Koefisien regresi Multicultural Education sebesar 0,276 menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan pada pengalaman pendidikan multikultural akan meningkatkan toleransi siswa sebesar 0,276 satuan dengan asumsi variabel lain Demikian pula. Social Interaction memiliki koefisien sebesar 0,218, yang menunjukkan bahwa semakin baik kualitas interaksi sosial siswa maka semakin tinggi tingkat toleransinya. Sementara Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science itu. Cultural Awareness memiliki koefisien terbesar yaitu 0,349, yang mengindikasikan bahwa kesadaran budaya memberikan kontribusi paling kuat terhadap peningkatan toleransi. Hasil uji hipotesis parsial . memperkuat temuan tersebut, di mana H1 diterima karena Multicultural Education berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi . = 4,119. p = 0,. H2 diterima karena Social Interaction berpengaruh positif dan signifikan . = 3,070. p = 0,. , dan H3 diterima karena Cultural Awareness menunjukkan pengaruh positif dan signifikan dengan nilai tertinggi . = 4,781. p = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan pengalaman pendidikan yang inklusif, kualitas interaksi sosial, dan kesadaran terhadap keberagaman budaya secara langsung berkontribusi terhadap pembentukan sikap toleran pada siswa SMA di Jawa Barat, dengan Cultural Awareness menjadi faktor yang memberikan pengaruh paling dominan. Efek Simultan (Uji-F) Tabel 9. Hasil ANOVA Source Regression Residual Total Sum of Squares Mean Square Sig. Berdasarkan Tabel 9, hasil uji ANOVA . ji F) menunjukkan bahwa model regresi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap toleransi siswa. Hal ini ditunjukkan oleh nilai F sebesar 72,351 dengan tingkat signifikansi 0,000 (<0,. , sehingga H4 diterima. Artinya. Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi siswa SMA di Jawa Barat. Temuan ini menunjukkan bahwa toleransi siswa terbentuk melalui kombinasi pengalaman pendidikan yang inklusif, interaksi sosial yang positif, dan kesadaran terhadap keberagaman budaya. Coefficient of Determination Berdasarkan hasil Model Summary, diperoleh nilai R sebesar 0,684 yang menunjukkan bahwa hubungan antara Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness dengan toleransi siswa berada pada kategori cukup kuat. Nilai R Square sebesar 0,468 dan Adjusted R Square sebesar 0,461 menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan 46,8% variasi toleransi siswa, sedangkan sisanya 53,2% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Nilai Std. Error sebesar 0,379 juga menunjukkan bahwa model memiliki tingkat kesalahan prediksi yang relatif rendah sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antarvariabel dalam penelitian ini. Pembahasan Pembahasan hasil penelitian menunjukkan bahwa Multicultural Education berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi siswa SMA di Jawa Barat. Temuan ini menegaskan bahwa lingkungan pendidikan yang menekankan nilai inklusivitas, kesetaraan, dan penghargaan terhadap keberagaman mampu membentuk sikap siswa yang lebih terbuka terhadap perbedaan. Melalui pembelajaran yang memuat perspektif budaya yang beragam, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang perbedaan, tetapi juga belajar memahami bahwa keberagaman merupakan bagian penting dari kehidupan sosial (Ampera et al. , 2021. Nikoladze, 2. Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science Pengalaman belajar berbasis Multicultural Education juga membantu siswa mengurangi kecenderungan stereotip dan perilaku diskriminatif. Ketika sekolah menghadirkan materi, aktivitas, dan suasana belajar yang menghargai keberagaman, siswa memiliki ruang untuk melakukan refleksi kritis terhadap pandangan mereka sendiri maupun terhadap kelompok lain. Dengan demikian, sekolah berperan sebagai agen pembentukan nilai sosial yang mendorong empati, penghormatan, dan pemahaman antarbudaya (Gunawan & Jaya, 2023. Mokodenseho & Wekke, 2. Selain itu. Social Interaction terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi siswa. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa yang lebih sering terlibat dalam interaksi positif dengan teman dari latar belakang yang berbeda cenderung memiliki tingkat toleransi yang lebih Interaksi sosial memberi kesempatan kepada siswa untuk mengenal perbedaan secara langsung, membangun komunikasi, dan mengurangi jarak sosial. Melalui diskusi kelas, kerja kelompok, dan kegiatan sekolah yang kolaboratif, siswa dapat membangun pengalaman bersama yang memperkuat rasa saling memahami (Rosenda ALICWAS Berry, 2024. Sachan, 2. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa Cultural Awareness menjadi faktor yang paling kuat dalam memengaruhi toleransi. Siswa yang memiliki kesadaran budaya yang tinggi lebih mampu memahami dan menghargai perbedaan sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan sosial. Cultural Awareness tidak hanya berfungsi sebagai pengetahuan tentang budaya lain, tetapi juga sebagai cara pandang yang membantu siswa merespons perbedaan dengan lebih bijak, terbuka, dan tidak mudah menghakimi (Bobis et al. , 2016. Naji et al. , 2. Oleh karena itu, penguatan literasi budaya dan pembelajaran reflektif di sekolah menjadi penting untuk membangun sikap toleran. Secara simultan. Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness terbukti bersama-sama berkontribusi terhadap pembentukan toleransi siswa. Model penelitian mampu menjelaskan 46,8% variasi toleransi, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti lingkungan keluarga, media sosial, norma teman sebaya, latar belakang sosial ekonomi, dan iklim Temuan ini menunjukkan bahwa toleransi merupakan konstruksi multidimensional yang terbentuk melalui kombinasi pengalaman pendidikan, hubungan sosial, dan pemahaman budaya. Oleh karena itu, sekolah perlu mengembangkan strategi terpadu melalui kurikulum yang inklusif, kegiatan interaksi sosial yang sehat, serta program peningkatan kesadaran budaya agar siswa tumbuh menjadi individu yang toleran dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Multicultural Education. Social Interaction, dan Cultural Awareness dalam membangun toleransi siswa SMA di Jawa Barat, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga variabel berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi siswa. Multicultural Education membantu membentuk sikap yang lebih terbuka terhadap keberagaman. Social Interaction memperkuat pemahaman dan mengurangi prasangka antarindividu, sedangkan Cultural Awareness menjadi faktor yang paling dominan dalam meningkatkan toleransi. Secara simultan, ketiga variabel mampu menjelaskan 46,8% variasi toleransi siswa, yang menunjukkan bahwa toleransi terbentuk melalui kombinasi pengalaman pendidikan, interaksi sosial, dan kesadaran budaya. Oleh karena itu, sekolah perlu memperkuat pembelajaran multikultural, menciptakan interaksi yang inklusif, dan meningkatkan kesadaran budaya untuk membentuk siswa yang lebih toleran. Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan faktor lain seperti lingkungan Vol. No. Mei 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science A 100 keluarga, media digital, dan iklim sekolah agar diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai pembentukan toleransi remaja. DAFTAR PUSTAKA