ANALISIS STRUKTURAL NASKAH DRAMA TUHAN, TOLONG BUNUH EMAK KARYA YESSY NATALIA *Septi Nailani Sagita1, Yusra D.2, Rahmawati3, Oky Akbar4 Unversitas Jambi1234 *Corresponding author Email: septinaelani0902@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) unsur-unsur apa saja yang membangun naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak”. (2) hubungan antarunsur naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak”. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini, termasuk penelitian studi pustaka yakni mengolah atau mengumpulkan sumber informasi terdahulu seperti buku, jurnal, catatan penelitian dan lain sebagainya, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah drama di dalam buku Antologi Pemenang Sayembara Naskah Teater Rawayan Award 2022 yang berjudul Pindah yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan struktural. Pendekatan struktural merupakan dimana peneliti akan memandang dan menelaah karya sastra dari segi instrinsik. Hasil dari penelitian ini yaitu, penulis mendeskripsikan unsur instrinsil yang terdapat dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” yang meliputi tema, alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan amanat. Tokoh dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” karya Yessy Natalia yaitu Bekti, Minah, Emak, Werdi, dam Jaul. Tema yang melatar belakangi cerita adalah kondisi ekonomi dan kondisi seorang laki-laki yang merasa tidak berbaktik kepada orang tua dan tak merasa berguna di depan istri dan anaknya. Alur maju, latar yang terjadi antara sore hingga malam hari, terdiri dari latar tempatwaktu, dan social. Sudut pandang yang digunakan sudut pandang orang ketiga. Amanat yang terkandung sebagai seorang anak selayaknya kita memang harus berbakti kepada orang tua dalam kondisi apapun, walaupun kita tidak memiliki harta yang berlimpah. Hubungan antara unsur satu dengan unsur lainya yaitu setiap unsur memiliki peran dan fungsi masingmasing yang dalam melengkapi jalanya cerita baik tema, alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, hingga amanat Kata kunci: naskah drama, struktural Abstract This study aims to describe (1) what elements make up the play script "God, Please Kill Mother". (2) the relationship between the elements of the drama script "God, Please Kill Mother". In this study the writer used a descriptive qualitative method. In this research, including literature study research, namely processing or collecting previous sources of information such as books, journals, research notes and so on, then analyzed using data analysis techniques. The source of the data in this study is a play script in the book Anthology of Winners of the 2022 Rawayan Award Theater Manuscript Competition entitled Move, published by the Jakarta Arts Council. The approach used in this study is a structural approach. The structural approach is where researchers will view and examine literary works from an intrinsic point of view. The results of this study are, the authors describe the intrinsic elements contained in the drama script "God, Please Kill Mother" which includes theme, plot, characters and characterizations, setting, point of view, and message. The characters in the drama script "God, Please Kill Mother" by Yessy Natalia are Bekti, Minah, Mother, Werdi, and Jaul. The theme behind the story is the economic 1 condition and the condition of a man who feels he is not devoted to his parents and does not feel useful in front of his wife and children. Forward flow, the setting that occurs between the afternoon and evening, consists of a place-time setting, and a social setting. The point of view used is the third person point of view. The mandate contained as a child is that we should indeed be devoted to our parents under any circumstances, even though we don't have abundant wealth. The relationship between one element and another element is that each element has its own role and function which complements the course of the story, both the theme, plot, characters and characterizations, setting, point of view, and the message. Keywords: drama script, structural PENDAHULUAN Naskah drama merupakan karya sastra yang berbentuk teks. Di dalamnya dilengkapi dialog, nama-nama tokoh, keadaan panggung, tata busana, tata lampu, dan tata suara. Menurut Wiyanto (2002) “naskah drama berupa percakapan, yaitu percakapan antar pelaku”. Selain percakapan para pelaku, naskah drama juga berisi penjelasan mengenai gerak-gerik dan tindakan yang dilaksanakan pelaku. Analisis struktural merupakan suatu cara dalam mengetahui unsur yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Menurut Ratna (2005) karya sastra merupakan sebuah cerita rekaan atau sering disebut dengan imajinasi. Imajinasi tersebut berisikan sebuah kenyataan. Walaupun karya sastra adalah rekaan, namun karya sastra dikonstruksi atas dasar kenyataan. Wicaksono (2017) mengungkapkan bahwa karya sastra ditulis berupa ungkapan masalah-masalah manusia dan kemanusiaan, tentang kehidupan, penderitaan manusia. Di dalam sebuah karya sastra terdapat makna yang di temukan dari beberapa unsur yang saling berkaitan antara unsur satu dengan unsur yang lainya. Keseluruhan unsur yang membangun dalam pembentukan sebuah karya sastra ialah unsur yang ada di dalam karya sastra itu sendiri. Unsur yang membangun karya sastra dari dalam disebut unsur instriksik. Unsur instriksik terdiri dari alur, dialog, latar, penokohan, tema, dan amanat. Analisis karya sastra dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan anta unsur instrinsik yang meliputi tema, alur, tokoh, penokohan, latar, sudut pandang, dan amanat (Nurgiyantoro, 2010). Bagi pengarang, sebuah karya sastra merupakan wahana untuk mengekspresikan ide, perasaan, pengalaman, juga pikiran. Ide yang dituangkan berisikan masalah kehidupan manusia, dan realita kehidupan. Dalam sebuah karya sastra, penulis pasti memiliki maksud dan tujuan dalam menciptakan karya sastra. Hasil karya tersebut bertujuan untuk dinikmati oleh pembaca atau pendengar dengan harapan mereka dapat menangkap makna karya sastra tersebut. Tidak hanya itu, sebuah karya sastra diciptakan sebagai sarana hiburan. Tidak hanya sebagai hiburan semata, karya sastra berisikan sebuah pesan-pesan yang disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya. Sebuah karya sastra juga diciptakan dari pengalaman penulis atau cerita-cerita orang lain (Musliah, dkk. 2019). Karya sastra memiliki bentuk yang imajinatif, rekaan atau fiksi artinya tidak benar terjadi dalam kehidupan nyata, namun penulis mencoba menuangkan cerita imajinasinya melalui sebuah karya agar masyarakat dapat menikmati sastra. Dasar penulisan sebuah naskah drama adalah konflik yang terdapat dalam kehidupan manusia. Konflik yang terjadi dibangun oleh pertentangan-pertentangan para tokohnya. Konflik merupakan bagian dari sebuah cerita yang bersumber pada kehidupan. Oleh sebab itu, pembaca dapat terlibat secara emosional terhadap apa yang terjadi dalam cerita (Suyati,2000). Penuangan kehidupan pada karya sastra digali dan diolah sedemikian rupa oleh penulisnya sehingga mampu menampilkan suatu cerita yang menarik. Dalam penelitian ini, naskah drama Tuhan, Tolong Bunuh Emak karya Yessy Natalia akan dijadikan objek kajian. Naskah drama Tuhan, Tolong Bunuh Emak akan dianalisis unsurunsurnya (alur, tokoh, latar, tema, amanat, dialog, dan teks samping), dan menggunakan pendekatan struktural. 2 Berikut ini merupakan penelitian yang relavan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti. Tinjauan terhadap penelitian yang relevan ini bertujuan untuk melihat perbedaan dan membandingkan penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu. “ANALISIS STRUKTURAL NASKAH DRAMA BILA MALAM BERTAMBAH MALAM KARYA PUTU WIJAYA” ditulis oleh Salsabella Wawa Anasya (2021), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Jambi. Hasil pemenelitianya yaitu, ditemukan bahwa unsur yang yang membangun naskah drama Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya adalah alur, tokoh, latar, tema, amanat, dialog, dan teks samping. Hubungan antarunsur sangat erat dan berkaitan satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Serta relevansi dengan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI SMA. Sebelum mendapatkan pemahaman yang maksimal terhadap suatu drama, hal yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalamnya. Dari beberapa unsur-unsur itulah yang harus dihubungkan satu sama lain, sebab jika sebuah unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Unsur-unsur tersebut baru bermakna dan dapat dipahami dalam proses antarhubungannya. Oleh sebab itu, diperlukan adanya sebuah analisis struktural, yang pada dasarnya analisis ini dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik dalam karya sastra yang bersangkutan. Berdasarkan pemaparan sebelumnya, penelitian ini memfokuskan pada analisis struktural dalam naskah drama Tolong Bunuh Emak karya Yessy Natalia dari buku antologi pemenang sayembara naskah rawayan award 2022 berjudul Pindah, tujuannya untuk mendeskripsikan unsur intrinsik naskah drama Tuhan, Tolong Bunuh Emak, serta mendeskripsikan hubungan unsur-unusurnya. METODE Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode penelitian kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang lebih menekankan analisa atau deskriptif, bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena lebih mendalam dan dilakukan dengan cara mengumpulkan data sedalam-dalamnya. Menurut Moleong (2005) pendekatan deskriptif kualitatif yaitu pendekatan penelitian dimana data-data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar-gambar, dan bukan angka. Dalam penelitian ini, peneliti diharuskan mengumpulkan data deskriptif sebanyak mungkin yang akan dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian. Penelitian deskriptif kualitatif dilakukan karena peneliti ingin mendeskripsikan keadaan yang akan diamati dengan lebih spesifik, transparan, dan mendalam. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural. Pendekatan struktural adalah pendekatan yang memfokuskan analisis terhadap struktur karya sastra dan memiliki keterikatan unsur satu dengan unsur yang lain. Nurgiyantoro (1998) Analisis struktural karya sastra yang dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur instrinsik yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasikan dan dideskripsikan misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang dan lain-lain. Penelitian ini juga juga menggunakan teknik analisis data berupa study pustaka, yaitu mengumpulkan berbagai informasi penelitian yang relavan seperti dari buku, jurnal, majalah, artikel, catatan maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu. Untuk itu, langkah awal yang dilakukan peneliti adalah dengan melakukan studi pustaka dengan mengumpulkan data primer naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak”. Data sekunder tersebut meliputi buku, jurnal, dan sumber lainya. Kemudian dianalisis dengan teknik analisis wacana dan menyimpulkan hasil analisis melalui unsur isnstrinsik. 3 HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Hasil penelitian analisis stuktural dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” adalah, ditemukan unsur-unsur yang membangun naskah drama yaitu unsur instrinsik yang meliputi tema, alur, tokoh, penokohan, latar, sudut pandang, dan amanat. Setelah ditemukan unsur instrinsik, ditemukan bahwa antara unsur satu dengan unsur lainya memiliki keterkaitan. Keterkaitan tersebut akan menciptakan makna-makna yang utuh dan menciptakan keestetikaan sebuah karya sastra. PEMBAHASAN Dalam pembahasan ini akan dideskripsikan mengenai unsur instrinsik serta memaparkan hasil temuan-temuan yang ada dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” karya Yessy Natalia, serta mendeskripsikan hubungan antarnya. a. Tema Dalam membuat suatu tulisan, tema merupakan gagasan atau ide pokokdalam suatu cerital. Menurut Fananie (2000: 84), tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra. Tema dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” ini adalah berkisah tentang kehidupan yang dialami oleh keluarga yang tengah mengalami kesulitan ekonomi. Mengangkat realitas kehidupan masyarakat menengah kebawah yang terlilit hutang. Di samping itu, naskah drama ini juga menyoroti kondisi seorang laki-laki yang merasa tak berbakti kepada orang tua dan merasa tak berguna di depan istri dan anaknya. Kemiskinan adalah hal yang tak lepas hampir di seluruh negara, contohnya Indonesia. Naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” kemiskinan membuat sumber daya manusia menurun, sehingga tingkat produktivitas dan pendapatanya rendah. Penghasilan yang rendah tentu membuat seseorang tak mampu mengakses pendidikan, kesehatan, dan nutrisi dengan baik. b. Alur Alur merupakan rentetan peristiwa dalam cerita atau kerangka cerita dari awal hingga akhir, yang artinya kerangka yang terdapat dalam alaur berfungsi sebagai penyusun cerita. Alur yang digunakan dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” adalah alur maju atau progresif. Alur maju merupakan serangkaian cerita yang terjadi secara beruntut dari awal hingga akhir cerita. c. Latar Latar atau setting merupakan tempat dan waktu yang melatar belakangi terjadinya kejadian dan peristiwa alam sebuah cerita. Menurut Nurgiantoro, 2010) latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar meliputi letak geografis, kesibukan di tokoh, waktu peristiwa, lingkungan, moral, sosial, bahkan emosional di tokoh atau pelaku. Berikut ini merupakan latar yang ditemukan di dalam naskah drama Tuhan, Tolong Bunuh Emak yaitu latar tempat, waktu, dan sosial. Latar tempat, merujuk kepada lokasi terjadinya suatu cerita dapat berupa tempat atau nama inisial tertentu. Latar tempat yang dapat ditemukan dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” karya Yessy Natalia adalah di rumah Bekti di, tepatnya sebuah perkampungan di kawasan urban di dekat rel kereta api di Jakarta. Berikut kutipan dialognya. 4 Jaul: Kalian ini, sore-sore berduaan di rumah…. Hayo, ngapain? Mau bikin anak lagi, ya? Jaul: Bu Minaaahh, tumben juga ada di rumah. Gak nyuci, Bu? Minah tidak menjawab, tersenyum sekadarnya, menganggukkan kepala, mundur selangkah, kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Jaul mengamati Minah masuk, kemudiam berkata pada Bekti Emak: Di kursi aja, Nah. Panas di dalam. Emak, dituntun Minah, berjalan tertatih menghampir sofa butut dan kemudian Minah menidurkan Emak di situ. Bekti: (Pada Werdi) Sebentar. “Jangan pulang dulu.” Bekti berjalan menuju pintu, masuk ke dalam rumah, mengambil gelas di meja, meminumkannya ke Emak kemudian meletakkan kembali gelas di meja dan bergegas keluar. Sebelum sampai pintu, Bekti berhenti, berbalik ke lemari, mengambil map di atas lemari yang mulai berdebu, membukanya membaca dengan menelusur tangannya di map dan kemudian terhenti. Napasnya memburu. Bekti meletakkan kembali map di atas lemari dan kemudian keluar. Minah: Temui Mas Werdi dulu. Aku ke warung Minah: Aku ke warung sekarang, beli obat penghilang rasa sakit, ya. Minah: Tadi, kata orang di warung, parasetamol bisa mengurangi rasa sakit. Dia menyarankan untuk memberikan dua buah pil saat makan. Aku mau ke perumahan sebelah. Ada yang harus dicuci. Suapkan bubur ini ke Emak kalau Emak bangun ya. Minumkan juga dua parasetamol itu. Aku taruh di meja. Latar waktu, berhubungan dengan kapan terjadinya peristiwa di dalam sebuah cerita. Latar waktu terdiri dari naskah drama Tuhan, Tolong Bunuh Emak ialah suasana sore hari sampai malam hari. Berikut kutipan dalam naskahnya. Sore hari, hari belum gelap, hawa panas. Di sebuah rumah sangat sederhana dengan teras kecil. Di teras ada dua kursi butut, yang satu sudah mulai jebol dan patah kakinya, dan seperti setengah diperbaiki. Jemuran baju dari rafia ada di belakang teras. Serta motor bebek terparkir tegak di pinggir. Teras kecil itu agak kotor dan tampak tak beraturanMinah baru saja selesai menjemur dan berjalan mendekati pintu dengan sedikit suara dan itu cukup mengalihkan perhatian Jaul dari motor Bekti. Jaul kemudian berjalan menghampiri Minah. Jaul: Selamat sore, Pak Bekti…. Susah sekali, lo, nyari Pak Bekti ini. Sudah seminggu ini, saya ke sini, kok, gak ada terus. Ke mana saja, pak? Jaul: Kalian ini, sore-sore berduaan di rumah…. Hayo, ngapain. Mau bikin anak lagi, ya? Latar sosial, berkaitan dengan keadaan atau kondisi sosial dalam lingkaran lingkungan masyarakatnya. Misalnya, masalah kebiasaan hidup, adat istiadat, keyaninan dan lainya. Menurut Nurgiyantoro (2015) latar sosial mengarah pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyrakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial yang terdapat dalam naskah drama tersebut ialah kemiskinan. Sore hari, hari belum gelap, hawa panas. Di sebuah rumah sangat sederhana dengan teras kecil. Di teras ada dua kursi butut, yang satu sudah mulai jebol dan patah kakinya, dan seperti setengah diperbaiki. Jemuran baju dari rafia ada di belakang teras. Serta motor bebek terparkir tegak di pinggir. Teras kecil itu agak kotor dan tampak tak beraturan. Sedangkan di dalam rumah terdapat sofa yang juga butut, dengan beberapa tambalan, sebuah lemari tinggi tempat menaruh bantal dan selimut. Ada juga meja makan dari kayu dan kursi tanpa sandaran dari kayu juga dengan warna berbeda- 5 beda. Kipas angin butut berputar pelan, suaranya “kriek” terdengar setiap kali kipas angin itu bergerak ke kanan, seakan ingin mengingatkan bahwa sebentar lagi semua sambungannya akan terlepas. Minah: Punggungnya sudah lecet gara-gara terpal bekas spanduk yang aku taruh sebagai alas kasurnya. Jadi Emak lebih memilih berjalan kesakitan daripada tidur beralas terpal yang penuh pipis dan eek. (Menghela napas panjang.) Minah berhenti membereskan kertas dan berkata dengan nada putus asa. Minah: Mustinya kita bisa berikan perlak yang lebih baik. Atau pampers. Tapi untuk membeli obat saja, tidak ada uang di tangan kita. Bagaimana mungkin aku membeli barang-barang itu? Bekti: Kalau kita punya uang dan harus memilih, akan kau apakan uang itu, Nah? Untuk kuliah Wiyarti, untuk beli obat Emak, atau untuk bayar utang ke Bang Jaul? Minah: Aku mau beli token 25 ribu di warung sebelah. Kalau aku pakai 75 ribu sisanya untuk beli obat penghilang rasa sakit buat Emak, bisa kau carikan uang untuk belanja besok? Minah menghela napas dan berkata perih. Minah: Tinggal ini uangku, Bang, setelah itu, aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Minah merogoh dasternya dan mengeluarkan uang seratus ribu. Werdi: Waduh, kasihan. Pasti mahal, ya, obat-obatnya? Bekti: Aku sudah tidak sanggup lagi membelikannya obat yang benar. Kemo pun hanya dua kali sanggup kulakukan. Mahal sekali. (Berkata seperti pada dirinya sendiri) Siang-malam kumintakan kesembuhan, tapi sepertinya Tuhan tuli. Dia tidak mendengar doaku. d. Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah orang atau pelaku yang ditampilkan dalam sebuah cerita atau karya sastra yang memiliki peran tertentu. Menurut Abrams (Nurgiyantoro, 2010) tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan penokohan merupakan cara pengarang dalam menampilkan sebuah gambaran dan watak para tokoh dalam sebuah cerita. Pengarang menggambarkan tokoh dengan berbagai sifat, karakter, emosi tokoh serta pemikiran-pemikiranya. Penggambaran sebuah tokoh dalam karya sastra bertujuan agar pembaca mengerti seperti apa watak atau karakter tokoh tersebut. Tokoh yang terdapat di dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” terdiri dari lima orang, memiliki peran dan karakternya masing-masing. Bekti, merupakan tokoh protagonis yaitu tokoh yang mendukung cerita. Tokoh protagonis biasa disebut dengan tokoh utama dalam cerita. Bekti adalah laki-laki berumur 40 tahun memiliki istri dan satu anak serta Emaknya yang sedang saki. , Bekti bekerja sebagai cleaning service di sebuah kantor dan tukang ojek sebagai tambahan pekerjaan. Bekti digambarkan sebagai orang yang pekerja keras, dan bertanggung atas keluarganya. walaupun di satu sisi kelurganya sedang terlilit hutang. Bekti: Aku sudah tidak sanggup lagi membelikanya obat yang benar. Kemo pun hanya dua kali sanggup kulakukan. Mahal sekali. (Berkata seperti pada dirinya sendiri) Siang –malam kumintakan kesembuhan, tapi sepertinya Tuhan tuli. Dia tidak mendengar doaku. 6 Bekti: (Lirih) Tuhan mau Emak mati? Kalau begitu, kenapa tidak dibuat mati saja segera? Daripada menyiksanya seperti itu. Sakitnya Emak, tidak menyiksa Emak, tapi juga aku dan Minah. Dan mungkin nanti Wiyarti juga …. Bekti: Seperti lepas rasanya dengkul ini meminta Tuhan untuk menyembuhkan Emak, berkali-kali bersimpuh meminta sampai tak bisa lagi kuucapkan kalimat dari mulutku. Dimana Dia? Ketika kita terjepit begini, di mana Dia? Di mana Tuhan? Minah merupakan tokoh tritagonis, sebagai istri dari Bekti berusia 37 tahun dan bekerja sebagai buruh cuci, yang memiliki sifat tegas, tidak suka bertele-tele dan sangat menyayangi suami, anak dan ibu mertuanya. Minah: Aku tidak tega lihat Emak begitu. Kesakitan setiap saat. Sudah waktunya beli obat. Paling tidak, obat penghilang rasa sakit. Apalagi kalau sedang pingin ke WC begitu. Minah: Jika semua dipakai buat bayar utang, kita masih akan berutang. Jika semua dipakai untuk bayar kuliah anakmu itu, tetap masih kurang. Aku ndak mau milih. Kepala keluarga yang harusnya tentukan. Dan saat ini, yang jadi kepala keluarga adalah kamu! Bukan aku! Kamu yang harusnya tentukan! Werdi sebagai tokoh tritagonis, merupakan teman sekaligus tetangga Bekti. Memiliki sifat ramah dan baik. Werdi: Semoga Emak cepat sembuh …. Werdi: Sudah lama aku tidak melakukannya. Tuhan juga tidak mendengar doadoaku. Aku hanya meminta supaya Tuhan tidak membuatku miskin, dan bertahun-tahun aku bekerja siang dan malam. Ada perubahan? Tidak! Emak sebagai tokoh tritagonis, merupakan ibu kandung Bekti berusia sekitar 60 tahun. Dalam cerita tersebut, Emak sedang mengalami sakit kanker tulang sejak satu tahun lalu. Memiliki karakter yang lemah lembut, dan pengertian kepada sang anak yaitu Bekti dan juga Minah. Emak: Tidak perlu, Le. Apa yang kau lakukan sampai dengan sekarang sudah sangat cukup buat Mak. Sekarang kamu punya anak dan istri yang jadi tanggung jawabmu. Aku, makmu ini, bukan kewajibanmu lagi. Jaul sebagai tokoh tritagonis, merupakan penagih utang yang memiliki karakter unik. Walaupun ia seorang penagih utang, ia tak seperti pengih utang lainya yang galak. Tetapi, ia adalah seorang yang ramah, suka berdandan mencolok, dan pandai memikat lawan bicaranya dengan gaya bahasanya. Jaul: Jangan lama-lama, ya, mikirnya. Nah, selama Pak Bekti mikir, saya bawa dulu, ya, motornya. Buat jaminan ke Pak Boss. Masak, saya ke sini gak dapat hasil apa-apa. Kalau oke dengan rencana kita tadi, Pak Bekti samperin saya di rumah besok pagi, saya kembalikan motornya. Tiga belas juta lunas, tinggal empat juta. Tinggal sedikittt …. Jaul: Untungnya, yang disuruh nagih ke sini itu saya, lo. Bukan Bang Lonjan. Saya sabar orangnya, gak kayak Abang satu itu. Bisa rusak semua perabot Pak Bekti kayak rumah Wakidi. Saya ini orang yang lebih suka memberi solusi daripada musti ngrusak sana, ngrusak sini, seperti Bang Lonjan. 7 e. Sudut Pandang Sudut pandang atau poin of view merupakan cara pandang pengarang dalam menempatkan dirinya pada cerita. Menurut Atar Semi (1988) mengungkapkan sudut pandang merupakan suatu titik kisah penempatan serta posisi pengarang dalam suatu cerita. Dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” menggunakan sudut pandang orang ketiga, yaitu Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu. Sudut pandang orang ketiga serba tahu yaitu pengarang seolah menempatkan dirinya sebagai pelaku cerita sekaligus penciptanya. Pengarang mengetahui segala hal tentang semua tokoh, peristiwa, tindakan, hingga motif tindakan tersebut. Dalam naskah drama Tuhan, Tolong Bunuh Emak sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga. Dibuktikan dengan kutipan berikut ini: Bekti, yang masih memakai seragam kerjanya, gelisah di teras. Hawa panas membuatnya mencari potongan trikplek bekas/kertas kardus di teras dan mulai mengipasi badannya. Tiba-tiba, (suara) kereta mendekat, kemudian terdengar bunyi peluit, dan tak lama dencitan rem kereta membuyarkan pikiran Bekti. Bekti memperhatikan di kejauhan. Suara beberapa orang berlarian sambil berteriak, “Ada lagi.” “Laki-laki apa perempuan?” “Mati?” “Ada yang kenal?” …. Perlahan, suara mulai mereda, hanya tinggal bisik-bisik samar. Bekti duduk di atas motor dan mulai memilin-milin rokoknya. Dari arah kiri, Minah masuk sambil membawa ember besar berisi baju basah siap dijemur, melintasi ruang tengah, membuka pintu dan ke teras. f. Amanat Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca yang ada di dalam sebuah cerita. Amanat dapat disampaikan secara tersirat atau bersifat langsung, ataupun secara tersurat. Pengertian Amanat Menurut Siswanti [2008] amanat adalah sebuah gagasan yang menjadi dasar karya sastra, yang merupakan pesan yang ingin disampaikan seorang pengarang kepada pendengar atau pembaca. Dalam sebuah karya sastra modern biasanya amana tersirat, sedangkan di dalam karya sastra lama amant umumnya tersurat. Amanat yang dapat kita ambil dari naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” adalah kita sebagai manusia selayaknya kita sebagai manusia tidak bosan-bosanya berdoa kepada Tuhan. Walaupun terkadang Tuhan tidak selalu cepat dalam mengabulkan do’a kita, namun bukan berarti Tuhan tidak mendengar do’a kita, teruslah berdoa dengan diiringi usaha. Bekti: Aku sudah tidak sanggup lagi membelikannya obat yang benar. Kemo pun hanya dua kali sanggup kulakukan. Mahal sekali. (Berkata seperti pada dirinya sendiri) Siang-malam kumintakan kesembuhan, tapi sepertinya Tuhan tuli. Dia tidak mendengar doaku. Werdi: Mungkin memang bukan itu mau Tuhan. Bekti: (Lirih) Tuhan mau Emak mati? Kalau begitu, kenapa tidak dibuat mati saja segera? Daripada menyiksanya seperti itu. Sakitnya Emak, tidak hanya menyiksa Emak, tapi juga aku dan Minah. Dan mungkin nanti Wiyarti juga …. Suasana menjadi kikuk. 8 Bekti: Apakah sembahyang bisa mengubah pikiranmu? Werdi:Sudah lama aku tidak melakukannya. Tuhan juga tidak mendengar doadoaku. Aku hanya meminta supaya Tuhan tidak membuatku miskin, dan bertahun-tahun aku bekerja siang dan malam. Ada perubahan? Tidak! Karya sastra tidak akan utuh jika hanya berdiri sendiri. Untuk itu unsur satu dengan unsur lainya akan menciptakan makna-makna yang utuh. Menurut Abrams (1981) srtuktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponenya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah. Perlu diketahui bahwa unsur terpenting dalam sebuah drama ialah dialog antartokoh. Dialog memiliki peranan yakni menunjukan bagaimana terjadinya alur, menunjukan pergantian tahapan alur, dan sebagai penunjuk alur. Hubungan antar unsur yang membangun naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” karya Yessy Natalia menciptakan keindahan dan keselarasan, sehingga karya sastra tersebut menjadi bulat dan utuh. Setiap unsur yang membangun, merupakan bagian yang tak terlupakan dari unsur lain, unsur tersebut memiliki kaitan yang erat untuk membangun totalitas makna teks maupun memperjuangkan tujuan dan makna kerya tersebut. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai struktur dan hubungan unsur dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” karya Yessy Natalia, maka dapat disimpukan bahwa unsur yang terdapat dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” ialah unsur instrinsik. Unsur instrinsik meliputi tema, alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan amanat. Tema yang melatar belakangi cerita adalah kondisi ekonomi dan kondisi seorang laki-laki yang merasa tidak berbakti kepada orang tua dan tak merasa berguna di depan istri dan anaknya, alur naskah drama adalah alur maju. Tokoh dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak” karya Yessy Natalia yaitu Bekti, Minah, Emak, Werdi, dam Jaul. Latar yang terjadi antara sore hingga malam hari, terdiri dari latar tempat, waktu, dan sosial. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga. Amanat yang terkandung sebagai seorang anak selayaknya kita memang harus berbakti kepada orang tua dalam kondisi apapun, walaupun kita tidak memiliki harta yang berlimpah. Selanjutnya kita sebagai manusia selayaknya kita tidak bosan-bosanya berdoa kepada Tuhan. Setelah menemukan unsur instrinsik dalam naskah drama “Tuhan, Tolong Bunuh Emak”, peneliti menemukan hubungan antara unsur yaitu, bahwa karya sastra tidak akan utuh jika hanya berdiri sendiri. Unsur instrinsik dapat menjadi pelengkap untuk membangun suatu cerita agar utuh. Untuk itu unsur satu dengan unsur lainya akan menciptakan makna-makna yang utuh. Setiap unsur yang membangun, merupakan bagian yang tak terlupakan dari unsur lain, unsur tersebut memiliki kaitan yang erat untuk membangun totalitas makna teks dalam suatu cerita. DAFTAR RUJUKAN Amalia Nofita Sari (2012). Karakteristik Latar Novel Penulis Cilik Oryza Sativa Apriyani. Header halaman genap: Nama Jurnal. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012, 0 – 216. Amara, D. L. (2023). Struktur Naskah Drama" Roh" Karya Wisran Hadi (Doctoral dissertation, Universitas Jambi). Anasya, S. W. (2021). Analisis Struktural Naskah Drama Bila Malam Bertambah Malam Karya Putu Wijaya (Doctoral dissertation, Universitas Jambi). Arianti, I. (2020). Analisis Struktural Dan Nilai Moral Dalam Cerpen" Gugatan" Karya Supartika. Parole: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(1), 369-376. 9 Fuadhiyah, U. (2013). Analisis Struktural Naskah Drama Berbahasa Jawa'sadumuk Bathuk Sanyari Bumi'karya Arih Numboro. Lingua, 9(2). Fuadhiyah, U. (2013). Analisis Struktural Naskah Drama Berbahasa Jawa'sadumuk Bathuk Sanyari Bumi'karya Arih Numboro. Lingua, 9(2). Herawati, L., Kusuma, D., & Nuryanto, T. (2018). Structural Analysis on Script of Drama Raja Galau (Analisis Struktural Naskah Drama Raja Galau). Indonesian Language Education and Literature, 3(2), 171-180. Lessing, K. G. E. (2013). Analisis Struktural Semiotik Naskah Drama Emilia Galotti. Novy Hanna Yusuf, H. (2016). Hubungan Antar Unsur Intrinsik Cerpen Koroshiya Desunoyo Karya Hoshi Shinichi 胞子真一が書いた [殺し屋ですのよ] における構造要素の間の関係 (Doctoral dissertation, Universitas Diponegoro). Puspita, A., & Pratiwi, W. D. (2022). Analisis Struktural dan Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Doriyaki Karya Andori Andriani. Bahtera Indonesia; Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia, 7(1), 13-28. 10