p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No 12. Desember 2025 Evaluasi Efektifitas ERACS dalam Mengurangi Nyeri Pasca Operasi Pada Pasien Sectio Caesarea di Rumah Sakit Sarah Medan Gideon Nadeak*. Edlin Nadi. Yolanda Eliza Putri Lubis PUI Phyto Degenerative & Lifestyle Medicine. Universitas Prima Indonesia. Universitas Prima Indonesia. Medan 20118. Indonesia Email: gideonnadeak93@gmail. Kata kunci: Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS), sectio caesarea, nyeri pasca operasi, mobilisasi, durasi rawat inap, metode konvensional ABSTRAK Angka persalinan sectio caesarea (SC) terus meningkat secara global dan nasional. Nyeri pasca operasi SC merupakan masalah yang sering terjadi dan dapat menghambat pemulihan serta kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) dalam mengurangi nyeri pasca operasi dan mempercepat pemulihan pada pasien sectio caesarea. Penelitian dilakukan di RS Sarah Medan dengan menggunakan desain kuantitatif dan pendekatan observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah pasien pasca sectio caesarea yang menjalani metode ERACS dan konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ERACS secara signifikan menurunkan tingkat nyeri . = 0,. dan mempercepat waktu mobilisasi . = 0,. dibandingkan dengan metode konvensional. Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam durasi rawat inap antara kedua kelompok . = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa metode ERACS dapat meningkatkan kenyamanan dan kualitas pemulihan pasien pasca sectio caesarea. Disarankan agar tenaga kesehatan memberikan edukasi mengenai manfaat ERACS, dan untuk penelitian selanjutnya, perlu dilakukan dengan sampel yang lebih besar serta periode observasi yang lebih Keywords: Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS), caesarean section, postoperative pain, mobilization, length of hospital stay, conventional method Abtract The rate of caesarean section (CS) deliveries continues to increase globally and nationally. Postoperative pain after CS is a common problem that can hinder patient recovery and quality of life. This study aims to evaluate the effectiveness of the Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) method in reducing postoperative pain and accelerating recovery in caesarean section patients. The research was conducted at Sarah Hospital Medan using a quantitative design and an analytical observational approach with a cross-sectional design. Respondents involved in this study were post-caesarean section patients who underwent the ERACS and conventional methods. The results show that the ERACS method significantly reduces pain levels . = 0. and accelerates mobilization time . = 0. compared to the conventional method. However, no significant difference was found in the length of hospital stay between the two groups . = 0. These findings indicate that the ERACS method can improve patient comfort and quality of recovery after caesarean section. It is recommended that healthcare providers provide education on the benefits of ERACS, and for further research, it should be conducted with a larger sample size and a longer observation period. Pendahuluan Nyeri merupakan respons kompleks yang melibatkan aspek fisik, emosional, dan perilaku, yang dimulai dengan stimulus nyeri yang dikirim melalui jalur saraf menuju medula Evaluasi Efektifitas ERACS dalam Mengurangi Nyeri Pasca Operasi Pada Pasien Sectio Caesarea Di Rumah Sakit Sarah Medan spinalis (Irsadioni, 2021. Sari et al. , 2018. Wahyuni et al. , 2. Di sana, pesan nyeri dapat dihentikan oleh sel-sel saraf inhibitor atau dilanjutkan ke otak, yang menginterpretasikan intensitas dan kualitas nyeri. Operasi sectio caesarea (SC), yang semakin sering dilakukan di seluruh dunia, merupakan prosedur persalinan melalui sayatan pada dinding perut dan rahim (Fatrida & Tanjung, 2023. Muliani et al. , 2020. Naili & Prasetyorini, 2023. Rachman et al. Menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 2021, angka SC global meningkat menjadi 21%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 7% pada tahun 1991. Tren yang sama juga terlihat di Indonesia, di mana jumlah persalinan melalui SC terus meningkat. Namun, nyeri pasca operasi SC sering kali tidak ditangani dengan optimal, dengan sekitar 30% hingga 80% pasien mengalami nyeri sedang hingga berat setelah prosedur tersebut. Nyeri ini, yang mirip dengan nyeri setelah histerektomi, disebabkan oleh trauma jaringan dan proses inflamasi pasca pembedahan. Proses inflamasi ini, yang melibatkan peningkatan sitokin, memperburuk persepsi nyeri. Meskipun nyeri pasca SC lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginam, durasi dan beban nyeri yang dirasakan pasien relatif serupa (Citra Pramuningtiyas Sanjaya et al. , 2024. Misfonica, 2019. Nugraha et al. , 2023. Radetyo et al. Program Enhanced Recovery After Caesarean Section (ERACS) dirancang untuk mempercepat pemulihan pasca operasi SC, mengurangi komplikasi, dan memperpendek durasi rawat inap. ERACS juga dapat meningkatkan kualitas perawatan dan menurunkan ketergantungan terhadap opioid (Emelinda et al. , 2024. Medzhidova et al. , 2018. Mohammed et al. , 2020. Raharja & Aini, 2023. van Niekerk et al. , 2. Program ini terdiri dari tiga tahapan utama: persiapan preoperatif, perawatan intraoperatif, dan perawatan Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji implementasi dan dampak ERACS. Tika. Sidharti. Himayani, & Rahmayani . dalam kajiannya menyimpulkan bahwa penerapan protokol ERACS dapat meningkatkan kualitas hidup pasien pascaoperasi melalui pendekatan multimodal. Di sisi lain, penelitian seperti yang dilakukan oleh Solehati . menggarisbawahi pentingnya terapi non-farmakologi sebagai bagian integral dari manajemen nyeri pasca SC, yang sejalan dengan prinsip ERACS. Namun, bukti empiris mengenai efektivitas spesifik ERACS dalam menurunkan intensitas nyeri dan mempercepat mobilisasi pada populasi pasien SC di Indonesia, khususnya di rumah sakit dengan karakteristik seperti Rumah Sakit Sarah Medan, masih terbatas dan perlu dikaji lebih Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat nyeri, kecepatan pemulihan, dan penggunaan obat anestesi tambahan pada pasien SC, dengan tujuan untuk menilai efektivitas metode ERACS dibandingkan dengan pendekatan konvensional di setting Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah yang dapat dijadikan pertimbangan bagi manajemen rumah sakit dan tenaga kesehatan dalam mengoptimalkan protokol perawatan pasca SC, guna meningkatkan kenyamanan pasien, mempercepat pemulihan fungsional, serta berpotensi meningkatkan efisiensi layanan. Secara akademis, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dan dasar bagi pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai implementasi dan adaptasi protokol ERACS dalam konteks sistem kesehatan Indonesia. Metode Penelitian Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik dan rancangan cross-sectional untuk membandingkan durasi rawat inap, kecepatan mobilisasi, dan skala nyeri pasca operasi pada pasien sectio caesarea (SC) yang menjalani metode ERACS dan konvensional. Pengukuran dilakukan dalam satu waktu tertentu, tanpa tindak lanjut jangka Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Gideon Nadeak*. Edlin Nadi. Yolanda Eliza Putri Lubis panjang, untuk mengevaluasi efektivitas ERACS dalam mengurangi nyeri pasca operasi di RS Sarah Medan. Rancangan Penelitian Penelitian ini dilakukan di RS Sarah Medan pada periode 24 Oktober hingga 30 Oktober Populasi penelitian adalah seluruh pasien post-sectio caesarea di rumah sakit tersebut, dengan total 100 orang. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin, melibatkan pasien yang menjalani sectio caesarea dengan metode ERACS dan non-ERACS serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, seperti pasien pasca sectio caesarea antara Juli 2024 dan Juni 2025, serta yang tidak mengalami kegawatdaruratan intraoperasi atau persalinan pervaginam. Teknik Pengujian Hipotesis Analisis data dilakukan dengan SPSS versi 27. Uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov atau Shapiro-Wilk, bergantung pada jumlah sampel, untuk menentukan distribusi data. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji T-test 2 sampel bebas jika data berdistribusi normal, dan dengan uji Mann-Whitney jika data tidak berdistribusi normal atau berbentuk ordinal. Teknik ini digunakan untuk menguji perbedaan antara kelompok ERACS dan non-ERACS terkait durasi rawat inap, kecepatan mobilisasi, dan skala nyeri. Hasil dan Pembahasan Tabel 1. Skala Nyeri Pada Metode Operasi ERACS Skala Nyeri Frekuensi Persentase (%) Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Sumber: Data Primer. RS Sarah Medan, 2025 Sebagian besar responden . %) mengalami nyeri sedang setelah tindakan, sementara 6% mengalami nyeri ringan, dan tidak ada responden yang mengalami nyeri berat. Tabel 2. Distribusi Data Skala Nyeri Pada Metode Operasi Konvensional Skala Nyeri Frekuensi Persentase (%) Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Sumber: Data Primer. RS Sarah Medan, 2025 Sebagian besar responden . %) mengalami nyeri sedang, diikuti oleh 8% yang mengalami nyeri berat, dan 2% yang mengalami nyeri ringan. Nyeri sedang menjadi keluhan yang paling dominan di antara responden. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Evaluasi Efektifitas ERACS dalam Mengurangi Nyeri Pasca Operasi Pada Pasien Sectio Caesarea Di Rumah Sakit Sarah Medan Tabel 3. Distribusi Data Kelahiran Pada Metode Operasi ERACS Kelahiran Frekuensi Persentase (%) Primapara 36,7% 63,3% Sumber: Data Primer. RS Sarah Medan, 2025 Mayoritas responden . ,3%) merupakan ibu dengan status multipara, sementara 36,7% lainnya adalah primipara, menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengalaman persalinan sebelumnya. Tabel 4. Distribusi Data Kelahiran Pada Metode Operasi Konvensional Kelahiran Frekuensi Persentase (%) Primapara 37,3% 62,7% Sumber: Data Primer. RS Sarah Medan, 2025 Sebagian besar responden . ,7%) merupakan ibu dengan status multipara, sementara 37,3% lainnya adalah primipara, menunjukkan mayoritas responden memiliki pengalaman persalinan sebelumnya. Tabel 5. Distribusi Data Durasi Rawat Inap Pada Metode Operasi ERACS Kelahiran Frekuensi Persentase (%) 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari Sumber: Data Primer. RS Sarah Medan, 2025 Mayoritas responden pada kelompok ERACS . %) pulang pada hari ke-3 pascaoperasi, dengan sebagian kecil pulang pada hari ke-2 . %) dan hanya 2% yang pulang pada hari ke-5, menunjukkan waktu pemulangan yang relatif cepat. Tabel 6. Distribusi Data Durasi Rawat Inap Pada Metode Operasi Konvensional Kelahiran Frekuensi Persentase (%) 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari Sumber: Data Primer. RS Sarah Medan, 2025 Sebagian besar responden pada kelompok Non-ERACS . %) pulang pada hari ke-3, diikuti oleh 44% yang pulang pada hari ke-4, dan 4% yang membutuhkan waktu hingga 5 hari. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Gideon Nadeak*. Edlin Nadi. Yolanda Eliza Putri Lubis Tabel 7. Analisis Uji Komparasi Mann-Whitney Durasi rawat Waktu mobilisasi VAS p-value p-value p-value SC metode eracs 0,001 0,153 0,035 SC metode Konvensional Sumber: Hasil Analisis Data Primer menggunakan SPSS 27, 2025 Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok pasien yang menjalani metode ERACS dan non-ERACS, dengan nilai p = 0,035 . < 0,. Kelompok ERACS memiliki tingkat nyeri yang lebih rendah, yang mengindikasikan bahwa metode ERACS efektif dalam mengurangi nyeri pasca operasi. Temuan ini menunjukkan bahwa ERACS dapat meningkatkan kenyamanan dan kualitas pemulihan pasien. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) lebih efektif dalam mempercepat pemulihan pasien sectio caesarea dibandingkan metode konvensional. ERACS terbukti menurunkan tingkat nyeri pasca operasi dan mempercepat waktu mobilisasi, dengan nilai p masing-masing 0,035 dan 0,001. Namun, durasi rawat inap tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua metode . = 0,. , menunjukkan bahwa lama perawatan di rumah sakit tidak dipengaruhi oleh penggunaan protokol ERACS. Bagi tenaga kesehatan, disarankan untuk memberikan edukasi mengenai protokol ERACS agar pasien memahami manfaatnya, seperti pengurangan nyeri dan percepatan mobilisasi pascaoperasi. Bagi pasien, edukasi ini penting agar mereka dapat memilih protokol yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Untuk peneliti selanjutnya, disarankan untuk menggunakan sampel yang lebih besar, periode observasi yang lebih panjang, serta menambahkan variabel seperti kebutuhan analgesik total untuk mendapatkan hasil yang lebih References