Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2865-2875 Daya Saing. Spesialisasi, dan Kinerja Ekspor Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional Competitiveness. Specialization, and Export Performance of Indonesian Essential Oils in the International Market Yunita Angela Tampubolon*. Yuliawati Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian dan Bisnis. Universitas Kristen Satya Wacana *Email: yntangela04@gmail. (Diterima 19-04-2025. Disetujui 04-07-2. ABSTRAK Indonesia merupakan salah satu eksportir minyak atsiri dunia, dengan permintaan tinggi dari industri parfum, kosmetik, farmasi, makanan, dan minuman. Namun, ekspor minyak atsiri mengalami fluktuasi di lima negara tujuan, yaitu Singapura. Spanyol. Belanda. Swiss, dan Jerman. Penelitian ini menganalisis daya saing, spesialisasi perdagangan, dan kinerja ekspor minyak atsiri Indonesia menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA). Export Product Dynamic (EPD). Export Competitiveness Index (ECI). Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Comparative Export Performance (CEP), serta Acceleration Ratio (AR) berdasarkan data UN Comtrade 2014Ae2023 dengan kode HS 3301. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif dengan nilai RCA rata-rata 3,53. Analisis EPD menunjukkan Jerman. Belanda. Singapura, dan Spanyol berada dalam kategori retreat dan Swiss di kategori lost opportunity, sementara ECI yang fluktuatif mengindikasikan daya saing yang belum stabil. ISP menegaskan posisi Indonesia sebagai eksportir minyak atsiri. CEP menunjukkan Indonesia memiliki keunggulan ekspor relatif dibandingkan ratarata dunia. Serta AR menunjukkan dinamika percepatan ekspor yang fluktuatif. Untuk meningkatkan daya saing, diperlukan diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan strategi pemasaran yang lebih agresif. Kata kunci: Minyak Atsiri. Daya Saing. Spesialisasi. Kinerja Ekspor ABSTRACT Indonesia is one of the world's essential oil exporters, with high demand from the perfume, cosmetics, pharmaceutical, food, and beverage industries. However, essential oil exports have fluctuated in five destination countries, namely: Singapore. Spain, the Netherlands. Switzerland, and Germany. This study analyzes Indonesia's competitiveness, trade specialization, and essential oil export performance using Revealed Comparative Advantage (RCA). Export Product Dynamic (EPD). Export Competitiveness Index (ECI). Trade Specialization Index (ISP). Comparative Export Performance (CEP), and Acceleration Ratio (AR) based on UN Comtrade 2014Ae2023 data with HS code 3301. The results show that Indonesia has a comparative advantage with an average RCA value of 3. EPD analysis shows that Germany, the Netherlands. Singapore and Spain are in the Retreat category and Switzerland in the Lost Opportunity category, while the fluctuating ECI indicates unstable competitiveness. ISP confirms Indonesia's position as an essential oil exporter. CEP shows that Indonesia has a relative export advantage over the world average. And AR shows the fluctuating dynamics of export acceleration. To improve competitiveness, product diversification, quality improvement, and more aggressive marketing strategies are needed. Keywords: Essential Oil. Competitiveness. Specialization. Export Performance PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang melimpah. Salah satu dari keragaman tersebut adalah tanaman yang dapat dijadikan sebagai penghasil minyak atsiri. Minyak atsiri dapat diekstrak dari biji, bunga, buah, kayu, dan kulit kayu dari tanaman tertentu. Contoh tanaman tersebut seperti nilam, kayu putih, cengkeh, pala, dan sebagainya. Indonesia memiliki 40 dari sekitar 150 varian minyak atsiri yang diperjualbelikan secara global (Rubiyanto et al. , 2. Minyak atsiri adalah salah satu komoditas ekspor non-migas yang memiliki nilai signifikan bagi berbagai sektor industri, seperti parfum, kosmetik, farmasi, serta makanan dan minuman. Dalam perdagangan internasional, komoditas ini diakui sebagai elemen strategis yang berkontribusi pada Daya Saing. Spesialisasi, dan Kinerja Ekspor Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional Yunita Angela Tampubolon. Yuliawati produksi berbagai jenis barang untuk kebutuhan pasar domestik maupun internasional. Meskipun harga komoditas ini sering mengalami fluktuasi, baik petani maupun produsen masih memperoleh keuntungan dari aktivitas ini. Di Indonesia, minyak atsiri digunakan dalam berbagai cara yang Minyak atsiri dimanfaatkan secara langsung dalam makanan dan minuman, seperti pada jamu yang mengandung komponen ini, untuk menambah rasa dan aroma. Selain itu, minyak atsiri digunakan sebagai bahan perasa dalam produk seperti es krim, permen, pasta gigi, dan sejenisnya. Pemanfaatannya juga meluas dalam berbagai produk perawatan dan kesehatan, termasuk untuk pijat, lulur, losion, balsem, sabun mandi, sampo, obat luka atau memar, hingga parfum. Selain itu, minyak atsiri juga digunakan sebagai aromaterapi untuk menyegarkan udara dalam ruangan, sebagai pengharum pada tisu, dan untuk pengobatan pernapasan serta efek aroma terapi lainnya (Julianto. Minyak atsiri di pasar domestik digunakan dalam industri pangan, kosmetik, dan farmasi sebagai bahan dasar produk turunannya. Namun, potensi pasar dalam negeri yang besar belum dimanfaatkan secara optimal karena masih terbatasnya industri pengolahan minyak atsiri mentah menjadi produk Akibatnya, kebutuhan industri pangan, kosmetik, dan farmasi sebagian besar dipenuhi melalui impor. Saat ini, sekitar 90% produksi minyak atsiri Indonesia diekspor ke pasar luar negeri, sementara sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri (Putri & Retnaningsih, 2. Tabel 1. Volume. Nilai, dan Harga Ekspor Minyak Atsiri Indonesia Ekspor Minyak Atsiri Indonesia Tahun Volume . Nilai (US$) Harga (US$/K. 39,20 34,61 5,41 32,72 30,05 28,20 28,63 30,09 29,26 30,56 Sumber: UN Comtrade . Tabel 1. menunjukkan adanya perkembangan dari sisi volume, nilai, dan harga ekspor komoditas minyak atsiri Indonesia pada periode 2014Ae2023. Jika diperhatikan, pada tahun 2016 volume ekspor Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2015, namun pada sisi nilai menurun drastis. Dewan Atsiri Indonesia . alam Cahyaning, 2. mengatakan bahwa adanya fluktuasi harga menjadikan petani tanaman atsiri beralih membudidayakan tanaman lainnya yang memiliki keuntungan lebih Hal ini akhirnya berdampak bagi volume ekspor minyak atsiri Indonesia. Minyak atsiri kembali mengalami peningkatan harga pada tahun berikutnya yaitu 2017 menjadi US$ 32,72/kg dan terus stabil hingga tahun 2023. Hal ini menjadi peluang yang besar bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kuantitas ekspornya sekaligus meningkatkan perekonomian negara. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nurcahyani & Salqaura . , menggunakan metode analisis Revealed Comparative Advantage (RCA). Export Competitiveness Index (ECI), dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Artikel tersebut membahas tentang bagaimana posisi daya saing minyak atsiri Indonesia di negara-negara tujuan utama ekspor seperti India. Amerika Serikat. Prancis, dan China. Padahal volume ekspor minyak atsiri Indonesia juga menunjukkan performa yang cukup baik di negara-negara tujuan lainnya seperti Jerman. Belanda. Singapura. Spanyol, dan Swiss, serta perlu dianalisis lebih lanjut untuk memberikan informasi ada tidaknya perubahan daya saing Indonesia di negara-negara tersebut. Telah diketahui bahwa minyak atsiri Indonesia mengalami fluktuasi dalam volume ekspor dan harga, serta adanya permintaan yang terus meningkat. Dengan demikian tujuan penelitian ini, yaitu . menganalisis daya saing minyak atsiri Indonesia di pasar Internasional, . menganalisis posisi spesialisasi perdagangan minyak atsiri Indonesia di pasar Internasional, dan . menganalisis kinerja ekspor minyak atsiri Indonesia di pasar Internasional. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2865-2875 METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan pada Januari hingga Maret Penelitian ini menggunakan data sekunder time series selama sepuluh tahun, yaitu dari tahun 2014 hingga 2023, yang diperoleh dari database UN Comtrade. Data yang dianalisis mencakup ekspor dan impor minyak atsiri dengan kode HS 3301. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Revealed Comparative Advantage (RCA). Export Product Dynamic (EPD). Export Competitiveness Index (ECI). Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Comparative Export Performance (CEP), dan Acceleration Ratio (AR). Seluruh data diolah dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel. Penelitian ini secara khusus menyoroti daya saing minyak atsiri Indonesia di lima negara tujuan ekspor, yaitu Jerman. Belanda. Singapura. Spanyol, dan Swiss. Berikut penjelasan mengenai metode analisis data: Revealed Comparative Advantage (RCA) Menurut Tambunan . , tujuan penggunaan indeks Revealed Comparative Advantage (RCA) adalah untuk menilai posisi daya saing suatu komoditas di pasar internasional. Jika suatu negara mengekspor sebuah barang dengan porsi yang lebih besar dibandingkan rata-rata ekspor barang tersebut di seluruh dunia, maka negara tersebut memiliki keunggulan dalam produksi dan ekspor barang tersebut. Artinya, negara tersebut lebih mampu bersaing dalam menjual produk tersebut di pasar internasional dibandingkan dengan negara lain. Perhitungan menggunakan metode RCA dilakukan dengan rumus berikut: cUycnyc/ycUy. ycIyaya = . cUycnyc/ycUy. Keterangan: : Minyak atsiri : Indonesia w : Swiss. Jerman. Belanda. Singapura, dan Spanyol Xij : Nilai ekspor komoditi i dari negara j ke negara tujuan (US$) Xj : Nilai total ekspor seluruh komoditas dari negara j ke negara tujuan ekspor (US$) Xiw : Nilai ekspor komoditi i dari seluruh negara ke negara tujuan (US$) Xw : Nilai total ekspor seluruh komoditas dari seluruh negara ke negara tujuan ekspor (US$) Ketika RCA melebihi 1 (RCA>. , menandakan Indonesia memiliki keunggulan komparatif di atas rata-rata global, mencerminkan daya saing yang kuat. Sebaliknya, jika RCA kurang dari 1 (RCA<. Indonesia memiliki keunggulan komparatif di bawah rata-rata global, menggambarkan daya saing yang lemah. Semakin tinggi nilai RCA, semakin besar keunggulan yang dimiliki Indonesia dalam komoditas minyak atsiri. Export Product Dynamic (EPD) Analisis Export Product Dynamic (EPD) adalah metode yang digunakan untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi tingkat daya saing serta perkembangan suatu komoditas dalam ekspor sebuah negara (Pradipta & Firdaus, 2. Ekananda . alam Cahyaning, 2. , menyatakan bahwa posisi pasar ini dapat diidentifikasi dengan menggunakan dua parameter, yaitu share export total (X) dan share export commodity (Y). Melalui pendekatan EPD, kita dapat menganalisis apakah ekspor komoditas suatu negara ke negara tujuan berkembang secara dinamis atau cenderung stagnan. Secara terstruktur, metode EPD dapat dijelaskan sebagai berikut: Pangsa pasar ekspor (X) = Oc % Oc Oc % Oc Pangsa pasar produk (Y) = Keterangan: : Minyak atsiri : Indonesia w : Swiss. Jerman. Belanda. Singapura, dan Spanyol Daya Saing. Spesialisasi, dan Kinerja Ekspor Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional Yunita Angela Tampubolon. Yuliawati T : Jumlah tahun yang dianalisis : Tahun saat ini t-1 : Tahun sebelumnya Xij : Nilai ekspor komoditi i dari negara j ke negara tujuan (US$) Xt : Nilai total ekspor seluruh komoditas dari negara j ke negara tujuan ekspor (US$) Wij : Nilai ekspor komoditi i dari seluruh negara ke negara tujuan ekspor (US$) Wt : Nilai total ekspor seluruh komoditas dari seluruh negara ke negara tujuan ekspor (US$) Metode EPD terdiri atas matriks yang dipetakan menjadi empat kategori, sebagai berikut: Tabel 2. Matriks Posisi Pasar pada EPD Share of CountryAos Export in World Share of Product in the World Trade (Y) Trade (X) Rising Star (Dynami. Falling Star (Stagna. Rising Star (Competitivenes. Rising Star Falling Star Falling Star (Non-Competitivenes. Lost Opportunity Retreat Sumber: Esterhuizen . Export Competitiveness Index (ECI) Salah satu metode analisis data yang dapat diterapkan untuk menilai daya saing ekspor suatu negara adalah dengan menggunakan Export Competitiveness Index (ECI). Indeks ini membandingkan pangsa pasar suatu negara terhadap komoditas tertentu antara kondisi saat ini dan periode Jika nilai ECI lebih besar dari 1 (ECI>. , hal ini menunjukkan bahwa negara tersebut masih mempertahankan keunggulan kompetitif meskipun dalam persaingan perdagangan yang ketat. Sebaliknya, jika nilai ECI kurang dari 1 (ECI<. , hal ini mengindikasikan bahwa keunggulan kompetitif negara tersebut mengalami penurunan (Nurcahyani & Salqaura, 2. Rumus perhitungan ECI adalah sebagai berikut: yayaya = . cUycnyc/ycUycny. cUycnyc/ycUycny. yc Oe 1 Keterangan: Xij : Nilai ekspor minyak atsiri Indonesia (US$) Xiw : Nilai ekspor seluruh komoditas minyak atsiri di dunia (US$) : Tahun saat ini t-1 : Tahun sebelumnya : Minyak atsiri : Indonesia Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) Tambunan . , menjelaskan bahwa keunggulan kompetitif dari suatu produk bisa diukur dengan menerapkan analisis Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). ISP menghitung perbandingan antara selisih nilai ekspor dan impor suatu negara dengan total nilai perdagangan. Dengan kata lain. ISP adalah ukuran yang akan menggambarkan apakah suatu negara cenderung menjadi eksportir atau importir dalam komoditas tertentu, khususnya dalam sektor pertanian. Indeks Spesialisasi Perdagangan dapat dirumuskan sebagai berikut : yaycIycE = ycUycnyc Oe ycAycnyc ycUycnyc ycAycnyc Keterangan: Xij : Nilai ekspor minyak atsiri Indonesia (US$) Mij : Nilai impor minyak atsiri Indonesia (US$) Nilai indeks ini berkisar dari -1 hingga 1. Jika ISP positif, yaitu antara 0 dan 1 . . , itu menandakan bahwa Indonesia memiliki keunggulan relatif dalam ekspor minyak atsiri. Sebaliknya, jika Nilai CEP kurang dari 1 (CEP<. , itu menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki keunggulan relatif dalam ekspor minyak atsiri (Purnamasari et al. Acceleration Ratio (AR) Pendekatan AR (Acceleration Rati. merupakan salah satu metode analisis yang dimanfaatkan untuk menilai kemungkinan suatu produk negara untuk bersaing di pasar. Dengan kata lain, analisis AR mampu memberikan indikasi apakah suatu negara mampu menguasai pasar dari pesaingnya atau mengalami penurunan dalam posisi di pasar ekspor maupun domestik (Tambunan, 2. Berikut adalah rumus yang digunakan: yaycI = . cNycyceycuycc ycUycnyc . cNycyceycuycc ycAycnyc . Keterangan: Xij : Nilai ekspor minyak atsiri Indonesia (US$) Mij : Nilai impor minyak atsiri Indonesia (US$) Jika nilai AR lebih besar dari 1 (AR>. , maka Indonesia mampu merebut pasar. Jika nilai AR lebih kecil dari 1 atau mendekati 0 berarti posisi Indonesia lemah. Namun, jika AR kurang dari 0 (AR<. atau mendekati -1, maka Indonesia belum mampu merebut pasar atau berarti ada negara lain yang merebut pangsa pasarnya. Nilai RCA HASIL DAN PEMBAHASAN Daya Saing Ekspor Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional Revelead Comparative Advantage (RCA) Berdasarkan hasil perhitungan RCA, nilai minyak atsiri Indonesia selama periode 2014Ae2023 berkisar antara 2,47 hingga 4,31, dengan rata-rata 3,53. Nilai RCA>1, menandakan bahwa minyak atsiri Indonesia memiliki keunggulan komparatif di atas rata-rata global, mencerminkan daya saing yang kuat sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 3,72 4,03 3,90 3,06 3,62 3,67 4,31 3,91 2,47 2,61 Gambar 1. Diagram nilai RCA minyak atsiri Indonesia 2014Ae2023 Sumber: UN Comtrade . ata diola. 3,53 Daya Saing. Spesialisasi, dan Kinerja Ekspor Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional Yunita Angela Tampubolon. Yuliawati Nilai RCA minyak atsiri Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang 2014Ae2023. Pada tahun 2014Ae 2016, nilai RCA minyak atsiri Indonesia berada di atas 3, dengan angka tertinggi pada tahun 2015. Nilai ini kemudian menurun pada 2017 sebelum kembali meningkat secara bertahap pada 2018Ae 2020, dan mencapai puncaknya pada 2020. Setelah itu, tren penurunan mulai terjadi pada 2021, dan mengalami penurunan signifikan ke titik terendah pada 2022 sebelum sedikit meningkat pada 2023. Meskipun nilai tetap di atas 1, penurunan dalam dua tahun terakhir mengindikasikan pelemahan daya saing ekspor minyak atsiri Indonesia. Penurunan nilai RCA sejalan dengan tren nilai ekspor yang menurun dari tahun ke tahun dan pasar yang kurang dinamis (Lestari et al. , 2. Tabel 3. Nilai RCA minyak atsiri Indonesia di lima negara tujuan pada 2014Ae2023 Nilai RCA Indonesia di Lima Negara Tujuan Tahun Jerman Belanda Singapura Spanyol Swiss 10,61 3,90 3,69 27,18 151,68 10,67 1,96 3,89 44,25 23,52 6,72 2,27 3,40 26,80 9,95 4,88 1,71 3,36 18,46 18,56 6,68 3,58 2,82 22,12 19,29 7,71 8,26 2,81 19,18 9,67 10,10 10,75 3,92 29,87 3,50 7,38 10,36 4,07 26,97 6,19 6,85 4,13 2,89 20,95 8,55 6,28 4,14 3,17 18,04 9,97 Rata-rata 7,79 5,11 3,40 25,38 26,09 Sumber: UN Comtrade . ata diola. Berdasarkan Tabel 3. ekspor minyak atsiri Indonesia ke lima negara tujuan pada periode 2014Ae2023 menunjukkan nilai RCA rata-rata di atas 1, yang menandakan keunggulan komparatif di pasar Daya saing tertinggi tercatat di Spanyol (RCA 26,. dan Swiss (RCA 25,. , meskipun nilainya sempat berfluktuasi. Di Jerman, nilai RCA menunjukkan tren menurun sejak 2015, namun rata-rata sebesar 7,79 tetap mencerminkan keunggulan ekspor. Sementara itu. RCA Belanda juga fluktuatif, tetapi masih cukup tinggi dengan rata-rata 5,11. Di sisi lain. Singapura mencatat rata-rata RCA paling rendah, karena perannya sebagai pusat transit yang menyebabkan harga minyak atsiri lebih rendah dibanding pasar global, sehingga melemahkan posisi tawar Indonesia (Puspita et al. Bahkan, menurut Kemenperin . alam Puspita et al. , 2. , harga beli di Singapura pada 2016 hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp2 juta/kg, jauh di bawah harga pasar dunia yang dapat mencapai US$1. 000/kg. Fluktuasi nilai RCA ini dipengaruhi oleh harga ekspor (US$) yang sangat sensitif terhadap faktorfaktor seperti penawaran, permintaan, kondisi cuaca, nilai tukar, kebijakan politik, dan tarif Selain itu, perubahan regulasi dan keterbatasan sarana pengiriman juga menyebabkan kenaikan biaya logistik, sehingga mengurangi daya saing harga di pasar internasional (Jati, 2. Secara keseluruhan. Indonesia tetap memiliki keunggulan komparatif dalam ekspor minyak atsiri, terutama ke pasar Spanyol dan Swiss, yang menunjukkan potensi besar untuk terus dikembangkan di masa depan. Export Product Dynamic (EPD) Matriks EPD mengukur daya tarik pasar berdasarkan pertumbuhan permintaan dan kekuatan bisnis berdasarkan pertumbuhan pangsa pasar suatu negara. Kombinasi keduanya menentukan posisi produk dalam empat kategori: Rising star. Falling star. Lost opportunity, dan Retreat. Negara Jerman Belanda Singapura Spanyol Swiss Tabel 4. Nilai EPD minyak atsiri Indonesia 2014Ae2023 Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pasar pasar Produk (X) (%) Ekspor (Y) (%) - 0,000172 - 0,00008 - 0,000045 - 0,00015 - 0,000984 - 0,00215 - 0,000754 - 0,00008 - 0,000115 0,00067 Sumber: UN Comtrade . ata diola. Posisi EPD Retreat Retreat Retreat Retreat Lost opportunity Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2865-2875 Berdasarkan Tabel 4, analisis EPD terhadap ekspor minyak atsiri Indonesia periode 2014Ae2023 menunjukkan bahwa sebagian besar posisinya masih berada pada kategori retreat dan lost Di Jerman. Belanda. Singapura, dan Spanyol, ekspor minyak atsiri Indonesia tergolong retreat, sementara di Swiss masuk kategori lost opportunity. Menurut Baga et al. , . , lost opportunity mencerminkan penurunan pangsa pasar pada produk yang sebenarnya berpotensi, sedangkan retreat menunjukkan kondisi paling tidak diinginkan karena ekspor cenderung stagnan atau menurun. Penelitian sebelumnya oleh Faradiva, . juga menunjukkan pola serupa, dengan Spanyol berada dalam posisi lost opportunity dan Singapura pada retreat untuk periode 2014Ae2018. Data terbaru pada Tabel 4. bahkan menunjukkan pergeseran Spanyol ke kategori retreat, mengindikasikan penurunan daya saing dan hilangnya peluang ekspansi pasar (Akbar & Widyastutik, 2. Kondisi ini diperburuk oleh ketergantungan Indonesia pada ekspor bahan baku tanpa pengolahan lanjutan, yang menyebabkan nilai tambah rendah dan daya saing lemah. Padahal, untuk menembus pasar kosmetik aromaterapi khusunya pada negara Eropa, dibutuhkan produk berkualitas tinggi, pasokan stabil, dan proses ekstraksi tertentu seperti pelarut yang memerlukan investasi besar (CBI, 2. Export Competitiveness Index (ECI) Berdasarkan Gambar 2. nilai Export Competitiveness Index (ECI) minyak atsiri Indonesia menunjukkan fluktuasi sepanjang 2014-2023. Rata-rata nilai ECI selama periode tersebut adalah 1,058, yang menandakan daya saing ekspor yang cukup baik dalam industri minyak atsiri. Namun, terdapat beberapa tahun di mana daya saing melemah, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai ECI yang turun di bawah 1. Nilai ECI 1,50 1,00 1,06 0,96 1,15 0,83 1,23 0,97 1,02 1,01 1,00 1,06 0,75 0,50 Gambar 2. Grafik nilai ECI minyak atsiri Indonesia 2014Ae2023 Sumber: UN Comtrade . ata diola. Tren fluktuatif nilai ECI mencerminkan dinamika daya saing ekspor minyak atsiri Indonesia di pasar Pada tahun 2014, 2017, 2019, 2020, dan 2022, nilai ECI berada di atas 1, yang menunjukkan daya saing kuat, terutama pada 2019 dengan puncak nilai 1,227. Hal ini menandakan bahwa Indonesia mampu memproduksi minyak atsiri secara lebih efisien atau berkualitas dibanding negara lain (Nurcahyani & Salqaura, 2. Namun, pada tahun-tahun seperti 2015, 2016, 2018, 2021, dan 2023, nilai ECI turun di bawah 1, dengan titik terendah 0,748 pada 2021, yang mencerminkan tekanan besar dalam ekspor akibat persaingan global, perubahan permintaan, dan tantangan produksi. Nilai ECI yang tinggi membuka peluang peningkatan pangsa pasar dan investasi, sementara nilai rendah menjadi sinyal perlunya peningkatan efisiensi, inovasi, dan diversifikasi Selain itu, faktor pendukung seperti infrastruktur, kebijakan, stabilitas politik, teknologi, dan kualitas SDM juga berperan penting dalam menjaga daya saing ekspor. Oleh karena itu, diperlukan strategi berkelanjutan yang mencakup dukungan teknologi, perbaikan infrastruktur, dan peningkatan kualitas produk agar ekspor minyak atsiri Indonesia tetap kompetitif secara global (Nurcahyani & Salqaura, 2. Posisi Spesialisasi Perdagangan Ekspor Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional Hasil analisis Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) minyak atsiri Indonesia di pasar internasional ditunjukkan pada Gambar 3. Nilai ISP mencerminkan posisi Indonesia sebagai eksportir atau importir di pasar internasional. Daya Saing. Spesialisasi, dan Kinerja Ekspor Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional Yunita Angela Tampubolon. Yuliawati 0,30 Nilai ISP 0,20 0,22 0,12 0,19 0,18 0,13 0,10 0,10 0,08 0,05 -0,07 -0,03 0,00 0,16 -0,10 Gambar 3. Diagram nilai ISP minyak atsiri Indonesia 2014Ae2023 Sumber: UN Comtrade . ata diola. Gambar 3. menunjukkan bahwa nilai Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) minyak atsiri Indonesia cenderung positif, yang mengindikasikan daya saing ekspor yang cukup kuat di pasar internasional. Namun, nilai ISP yang berfluktuasi dari tahun ke tahun mencerminkan ketidakstabilan peran Indonesia dalam perdagangan minyak atsiri. Pada 2014Ae2017. Indonesia berperan sebagai eksportir, namun pada 2018 dan 2022 nilai ISP menjadi negatif, menandakan peralihan sementara sebagai importir karena nilai impornya melebihi ekspor. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan minyak atsiri dalam bentuk turunan di dalam negeri, sementara Indonesia lebih banyak memproduksi minyak atsiri mentah (Cahyaning, 2. Nilai ISP kembali positif pada 2019Ae2021 dan 2023, menunjukkan upaya penguatan ekspor meski tingkat spesialisasinya belum stabil. Rata-rata nilai ISP selama 2013Ae2022 menurut Nurcahyani & Salqaura, . adalah 0,08, dan meskipun terjadi sedikit peningkatan, tren fluktuatif menegaskan bahwa daya saing ekspor minyak atsiri Indonesia masih membutuhkan strategi keberlanjutan untuk memperkuat posisinya di pasar internasional. Kinerja Ekspor Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional Comparative Export Performance (CEP) Dalam menilai kinerja ekspor minyak atsiri Indonesia dibandingkan dengan rata-rata dunia, digunakan metode Comparative Export Performance (CEP). Analisis ini membantu mengukur apakah ekspor minyak atsiri Indonesia memiliki keunggulan relatif atau justru mengalami penurunan daya saing. Nilai CEP 1,31 1,39 1,36 1,12 1,29 1,46 1,36 0,96 1,25 Gambar 4. Diagram nilai CEP minyak atsiri Indonesia 2014Ae2023 Sumber: UN Comtrade . ata diola. Berdasarkan Gambar 4. nilai rata-rata CEP selama 2014Ae2023 menunjukkan bahwa ekspor minyak atsiri Indonesia memiliki kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan rata-rata dunia. Namun, kinerja ekspor ini mengalami fluktuasi Pada tahun 2014Ae2021, nilai CEP selalu di atas 1, yang mengindikasikan bahwa ekspor minyak atsiri Indonesia memiliki kinerja ekspor yang komparatif dibandingkan dengan rata-rata ekspor dunia. Namun, pada tahun 2022 dan 2023 nilai CEP turun ke 0,90 dan 0,96 mengindikasikan bahwa ekspor minyak atsiri Indonesia mulai mengalami penurunan dibandingkan tren global. Hal tersebut disebabkan oleh negara pesaing ekspor minyak atsiri seperti Amerika Serikat. Brazil, dan Cina memiliki harga yang lebih kompetitif. Selain kinerja secara keseluruhan. Tabel 5. menunjukkan bahwa kinerja ekspor minyak atsiri Indonesia bervariasi di lima negara tujuan, yaitu Jerman. Belanda. Singapura. Spanyol, dan Swiss. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2865-2875 Tabel 5. Nilai CEP Minyak Atsiri Indonesia di Negara Tujuan 2014Ae2023 Nilai CEP Indonesia di Lima Negara Tujuan Tahun Jerman Belanda Singapura Spanyol Swiss 2,36 1,36 1,31 3,30 5,02 2,37 0,67 1,36 3,79 3,16 1,91 0,82 1,22 3,29 2,30 1,59 0,54 1,21 2,92 2,92 1,90 1,27 1,04 3,10 2,96 2,04 2,11 1,03 2,95 2,27 2,31 2,37 1,37 3,40 1,25 2,00 2,34 1,40 3,29 1,82 1,92 1,42 1,06 3,04 2,15 1,84 1,42 1,15 2,89 2,30 Rata-rata 2,02 1,43 1,22 3,20 2,61 Sumber: UN Comtrade . ata diola. Berdasarkan Tabel 5. Spanyol tercatat sebagai negara dengan kinerja ekspor minyak atsiri tertinggi bagi Indonesia, dengan nilai rata-rata CEP sebesar 3,20, diikuti Swiss sebesar 2,61, menunjukkan daya saing yang baik meskipun fluktuatif. Jerman mencatat rata-rata CEP 2,02, namun tetap menghadapi tantangan karena tren yang tidak stabil. Belanda dan Singapura memiliki nilai CEP yang lebih rendah, masing-masing 1,43 dan 1,22, dengan Singapura menunjukkan stabilitas dan berperan sebagai pusat distribusi ulang. Kinerja ekspor ini dipengaruhi oleh dinamika industri hilir seperti parfum, kosmetik, farmasi, dan makanan yang sangat menentukan permintaan dan harga minyak atsiri (Dewan Atsiri Indonesia, 2. Oleh karena itu, diperlukan strategi ekspor yang disesuaikan dengan karakteristik pasar masing-masing negara. Khususnya di Eropa. Indonesia perlu menonjolkan keunggulan produk melalui sertifikasi . erutama organi. , cerita pemasaran yang kuat, komitmen CSR, serta penguatan akses dan keberlanjutan bahan baku untuk membangun reputasi dan daya saing di pasar global (CBI, 2. Acceleration Ratio (AR) Gambar 5. menunjukkan fluktuasi Acceleration Ratio (AR) ekspor minyak atsiri Indonesia selama 2014Ae2023, mencerminkan dinamika daya saingnya di pasar internasional. Nilai AR di atas 1 menunjukkan peningkatan pangsa pasar, sedangkan nilai di bawah 1 menandakan pelemahan. Nilai AR 2,00 1,50 1,00 1,57 1,28 1,29 1,48 1,18 0,94 1,11 1,45 1,38 1,25 0,87 0,50 0,00 Gambar 5. Diagram nilai AR minyak atsiri Indonesia 2014-2023 Sumber: UN Comtrade . ata diola. Selama periode 2014Ae2023, nilai Acceleration Ratio (AR) minyak atsiri Indonesia menunjukkan Nilai AR di atas 1 pada 2014Ae2017 mencerminkan peningkatan pangsa pasar, namun turun menjadi 0,944 pada 2018 yang mengindikasikan pelemahan posisi ekspor. Pemulihan terjadi pada 2019Ae2021 dengan AR kembali di atas 1, sebelum turun lagi ke 0,868 pada 2022, dan akhirnya naik signifikan menjadi 1,378 pada 2023. Rata-rata nilai AR selama periode tersebut tercatat sebesar 1,25, menunjukkan tren positif secara keseluruhan. Sebagian besar ekspor minyak atsiri Indonesia ditujukan ke pasar Uni Eropa, namun pasar ini didominasi oleh perusahaan multinasional besar dengan jaringan distribusi luas, sehingga menyulitkan pelaku usaha kecil. Meski demikian, peluang tetap terbuka, khususnya di segmen kosmetik alami dan organik yang terus berkembang. Saat ini. Daya Saing. Spesialisasi, dan Kinerja Ekspor Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional Yunita Angela Tampubolon. Yuliawati Indonesia mengekspor minyak atsiri (HS 3. dan produk kosmetik (HS 3. , dengan minyak geranium sebagai komoditas utama . % dari ekspor minyak atsir. , diikuti oleh minyak akar wangi. Namun, pertumbuhan ekspor minyak atsiri masih tertinggal dibandingkan produk kosmetik lainnya seperti make-up dan parfum (Lord et al. , 2. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan, termasuk pemberian insentif, pembukaan akses pasar baru, peningkatan kualitas dan daya saing produk, serta mendorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah (Waluyo, 2. Selain itu, pelatihan kepada petani dan produsen terus dilakukan guna memperbaiki teknik budidaya dan penyulingan agar kualitas produk lebih kompetitif di pasar internasional (Adi, 2. Upaya ini diharapkan mampu menjaga dan meningkatkan daya saing minyak atsiri Indonesia ke depan. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya saing ekspor minyak atsiri yang cukup kuat, dengan nilai RCA rata-rata 3,53 dan ECI 1,058, meskipun terdapat penurunan di beberapa negara tujuan. Analisis EPD mengungkapkan bahwa posisi Indonesia mengalami retreat di Jerman. Belanda. Singapura, dan Spanyol, serta lost opportunity di Swiss. Meski demikian, nilai ISP rata-rata 0,104 menunjukkan bahwa Indonesia tetap berspesialisasi sebagai negara eksportir minyak atsiri. Kinerja ekspor tergolong kompetitif, ditunjukkan oleh nilai CEP dan AR dengan rata-rata yang sama yaitu 1,25, yang mengindikasikan penguatan posisi Indonesia di pasar internasional. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kualitas, hilirisasi, efisiensi rantai pasok, dan inovasi untuk menjaga dan meningkatkan daya saing minyak atsiri Indonesia secara berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA