PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 REKOMENDASI MITIGASI DAERAH RAWAN BANJIR KECAMATAN BALIKPAPAN TIMUR Hamriani Ryka1*. Ikhwannur Adha1 Dosen. Teknik Geologi STT Migas Balikpapan Jl. Transad Km. 08 No. 76 RT. 08 Kel. Karang Joang Balikpapan 76125 Kalimantan Timur E-mail: rykahamriani@gmail. ABSTRACT Flood is a natural event that is difficult to predict because it comes suddenly with an erratic period, especially in East Balikpapan. There are several important factors that cause flooding in South Balikpapan, including the slope, land cover, and rainfall. The purpose of this study was to determine the flood-prone areas of East Balikpapan based on analysis of the factors that cause flooding, such as rainfall, slope, and land cover and give recommended mitigation. addition, this study is also to obtain the weight of each factor that affects flooding. The data used in this study include digital data on administrative boundaries, rainfall data, digital data on topographic maps, digital data on land use maps, and field observations. The data is processed using an application based on a Geographic Information System (GIS). The overlay process is carried out using ArcGIS and the weighting is obtained from the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The research area has three categories of areas prone to flooding: not prone, vulnerable, and very prone to flooding. Areas that are not prone are 31. 2%, vulnerable 0. and very vulnerable 68. 7% of the total research area predominantly located in the south of the study area with the dominance of residential land cover. Recommended mitigation recommendations are the arrangement and construction of good irrigation channels, directly connected to the sea, land clearing paying attention to the marbles of the territory and bozem Keywords: Flood prone. GIS. AHP. East Balikpapan,irrigation channels. Bozem ABSTRAK Bencana banjir merupakan kejadian alam yang sulit diduga karena datang secara tiba- tiba dengan perioditas yang tidak menentu, terutama Balikpapan Timur. Ada beberapa faktor penting yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Balikpapan Timur diantaranya faktor kemiringan lereng, penggunaan lahannya, dan curah hujan yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui daerah-daerah rawan banjir Kecamatan Balikpapan Timur dari analisis faktor-faktor penyebab banjir yaitu curah hujan, kelerengan, dan tutupan lahan guna memberikan rekomendasi mitigasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain data digital batas administrasi, data curah hujan, data digital peta topografi, data digital peta penggunaan lahan, serta observasi lapangan. Data tersebut diolah dengan menggunakan aplikasi berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Proses overlay dilakukan menggunakan ArcGIS dan pembobotan didapatkan dari metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Daerah penelitian memiliki tiga kategori daerah kerawanan terhadap banjir yaitu tidak rawan, rawan, dan sangat rawan terhadap banjir. Luas daerah yang tidak rawan yaitu 31,2%, rawan 0,001%, dan sangat rawan 68,7% dari keseluruhan daerah penelitian. Daerah sangat rawan banjir didominasi berada di selatan daerah penelitian dengan dominasi tutupan lahan pemukiman. Rekomendasi mitigasi yang disarankan adalah penataan dan pembangunan saluran irigasi yang Artikel diterima 11 Oktober 2021. Online 31 Oktober 2021. PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 baik, terhubung langsung ke laut, pembukaan lahan memperhatikan kelerengan wilayah dan pembangunan bozem Kata kunci: Rawan banjir. SIG. AHP. Balikpapan Timur. Irigasi. Bozem PENDAHULUAN Dalam satu abad terakhir, banjir merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia ditinjau dari frekuensinya . ercatat 108 kali atau 33,3% dari seluruh peristiwa bencana penting yaitu 324 kejadia. Banjir yang terjadi di Indonesia merupakan kombinasi antara faktor alam dan faktor antropogenik. Faktor utama banjir adalah hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama (Hamdani dkk. , 2. Bencana banjir merupakan kejadian alam yang sulit diduga karena datang secara tiba-tiba dengan perioditas yang tidak menentu, terutama Balikpapan Timur. Ada beberapa faktor penting yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Balikpapan Timur diantaranya faktor kemiringan lereng, penggunaan lahannya, dan curah hujan yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui daerah-daerah rawan banjir Kecamatan Balikpapan Timur dari analisis faktor-faktor penyebab banjir yaitu curah hujan, kelerengan, dan tutupan lahan. berdasarkan pembobotan dari masing-masing faktor yang mempengaruhi banjir dan juga memberikan rekomendasi mitigasi untuk mengurangi daerah terdampak banjir. Gambar 1. Peta geologi daerah penelitian. Artikel diterima 11 Oktober 2021. Online 31 Oktober 2021. PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 Daerah Kecamatan Balikpapan Timur menurut Hidayat dan Umar . terdapat 2 Formasi Yaitu Endapan Aluvium (Q. terdiri dari kerikil, pasir, dan lumpur terendapkan dalam lingkungan sungai, rawa, delta, dan pantai. dan Formasi KampungBaru (Tpk. yang terdiri dari perselingan batulempung, batulanau, batupasir kuarsa, serpih, dengan sisipan batubara, lignit, dan napal. Pada beberapa lapisan mengandung nodul atau koreksi oksida dan batugamping. Satuan ini mempunyai sebaran yang paling luas di wilayah Kota Balikpapan, terutama di bagian utara dan tengah, meliputi wilayah Kecamatan Balikpapan Barat. Kecamatan Balikpapan Utara, sebagian Kecamatan Balikpapan Tengah. Kecamatan Balikpapan Timur dan Kecamatan Balikpapan Selatan. Banjir adalah aliran air yang relatif tinggi, dan tidak tertampung oleh alur sungai atau saluran (Mahardy, 2. Istilah banjir terkadang bagi sebagian orang disamakan dengan genangan, sehingga penyampaian informasi terhadap bencana banjir di suatu wilayah menjadi kurang akurat. Genangan adalah luapan air yang hanya terjadi dalam hitungan jam setelah hujan mulai turun. Genangan terjadi akibat meluapnya air hujan pada saluran pembuangan sehingga menyebabkan air terkumpul dan tertahan pada suatu wilayah dengan tinggi muka air 5 hingga 20 cm. Sedangkan banjir adalah meluapnya air hujan dengan debit besar yang tertahan pada suatu wilayah yang rendah dengan tinggi muka air 30 hingga lebih dari 200 cm. Pemetaan banjir merupakan usaha mempresentasikan data yang berupa angka atau tulisan tentang distribusi banjir ke dalam bentuk peta agar persebaran datanya dapat langsung diketahui dengan mudah dan cepat. Pemetaan banjir ini dibuat dengan cara data-data yang sudah diperoleh kemudian masing-masing data diadakan penilaian terhadap seberapa besar pengaruhnya terhadap banjir dan pemberian bobot pada daerah-daerah yang dekat dengan sungai untuk lebih memperjelas daerah rawan banjir. Overlay dilakukan setelah masingmasing data sudah dinilai dan diberi bobot. Hasil dari overlay berupa peta rawan banjir. Metode ini dipilih karena dapat mengkuantitaskan parameter yang merupakan gejala alami berdasarkan prioritas gejala yang paling berpengaruh. Peta rawan banjir ini kemudian membantu perihal rekomendasi mitigasi yang dapat diberikan menyesuaikan lokasi dan tingkat kerawanan banjir. Rekomendasi mitigasi ini diharapkan dapat membantu pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi resiko banjir walau diperlukan kajian yang lebih dalam terkait pemilihan rekomedasi mitigasi ini. METODA PENELITIAN Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain data digital batas administrasi, data curah hujan, data digital peta topografi, data digital peta penggunaan lahan, serta observasi Artikel diterima 11 Oktober 2021. Online 31 Oktober 2021. PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 Data digital batas administrasi, data digital peta topografi, dan data digital peta penggunaan lahan bersumber dari Badan Informasi Geospasial. Data curah hujan bersumber dari BMKG. Data tersebut diolah dengan menggunakan aplikasi berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG dapat diartikan sebagai suatu sistem terpadu dari hardware, software, . rang-orang megimplementasikan, dan menggunakan SIG yang mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan memetakan hasilnya (Ryka dan Syahid, 2. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Dalam aplikasi SIG, data ditinjau kembali apakah data yang telah dilakukan proses digitasi sebelumnya memiliki kesalahan atau tidak. Jika data tersebut memiliki kesalahan maka perlu dilakukan digitasi ulang. Jika data tersebut benar maka dapat dilanjutkan ke proses setelah melalui proses editing kemudian dilakukan proses overlay atau penggabungan beberapa data untuk mendapatkan hasil analisis. Proses overlay dilakukan menggunakan ArcGIS dan pembobotan didapatkan dari metode Analytical Hierarchy Process (AHP). AHP merupakan metode pemecahan suatu masalah yang kompleks dan tidak terstruktur pada kelompoknya, mengatur kelompok-kelompok tersebut menjadi suatu susunan hierarki, memasukkan nilai numerik guna menggantikan persepsi manusia dengan melakukan perbandingan relatif dan akhirnya suatu sintesis ditentukan menjadi elemen yang memiliki prioritas tinggi. Metode AHP ini sesuai dengan proses riset yang dilakukan. AHP yang digunakan dengan pendekatan Pairwise Comparison. Berdasarkan hasil overlay maka akan didapatkan analisis daerah rawan banjir dan kemudian dibandingkan dengan hasil verifikasi lapangan. Verifikasi lapangan ini mengidentifikasi peruntukan lahan eksisting dan indikasi adanya alih fungsi lahan Setelah mendapatkan hasil analisis maka kemudian hasil tersebut disajikan dalam bentuk peta daerah rawan banjir untuk selanjutnya dianalisa lanjut terkait rekomendasi mitigasi untuk mencegah dan mengurangi dampak dari banjir ini. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kondisi Topografi Kemiringan lereng salah satu parameter atau faktor yang mempengaruhi perhitungan rawan banjir. Kelerengan adalah kenampakan permukaan alam yang memiliki beda tinggi. Artikel diterima 11 Oktober 2021. Online 31 Oktober 2021. PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 Apabila dua tempat yang memiliki beda tinggi dibandingkan dengan jarak lurus mendatar, maka akan diperoleh besarnya kelerengan. Luas area penelitian berdasarkan persen kemiringan lereng dapat dapat dilihat di Tabel 1 dan sebagaimana yang terlihat pada Gambar 2. Ditinjau dari kemiringan lerengnya, wilayah penelitian memiliki kemiringan lereng yang bervariasi antara 0% sampai dengan lebih dari 45%. Sebagian besar wilayah Balikpapan Timur berada di wilayah datar dengan kemiringan 8-15%. Tabel 1. Luas Wilayah Penelitian Berdasarkan Persentase Kelerengan. Kemiringan Luas Persentase% 0-8% 6089,357366 47,8221 8 - 15 % 4433,467354 34,8177 15 - 25 % 2016,099739 15,8332 25 - 45 % 193,8542741 1,5224 > 45 % 0,584925695 0,0046 Luas Total 12733,36366 Gambar 2. Peta kelerengan daerah penelitian. Artikel diterima 11 Oktober 2021. Online 31 Oktober 2021. PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 Gambar 3. Peta curah hujan daerah penelitian. Curah Hujan Data curah hujan diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui stasiun pengamatan hujan. Dalam penelitian ini, data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan bulan Januari dari BMKG. Wilayah Kecamatan Balikpapan Timur memiliki intensitas curah hujan pada kelas sangat rendah sebagaimana yang terlihat pada Gambar 3. Curah hujan yang berlangsung lama dan terus menerus akan dapat mempengaruhi terjadinya banjir. Tutupan Lahan Tutupan Lahan Kecamatan Balikpapan Timur sebagian besar adalah Permukiman dan Tempat Kegiatan dimana berdasarkan kelas faktor pengaruh banjir Permukiman dan Tempat Kegiatan adalah kelas 5 dari 5 kelas. Kelas Tutupan Lahan berdasarkan analisis seperti pada Tabel 2. Beberapa wilayah daerah penelitian didominasi oleh pemukiman dan tempat kegiatan sebagaimana yang terlihat pada Gambar 4. Artikel diterima 11 Oktober 2021. Online 31 Oktober 2021. PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 Tabel 2. Persebaran tutupan lahan daerah penelitian Klasifikasi Luas (H. Persentase% Perkebunan/Ladang 91,36739951 0,7175 Permukiman dan Tempat Kegiatan 8748,865233 68,7010 Semak Belukar 0,100104611 0,0008 Hutan 3894,373874 30,5808 TOTAL LUAS 12734,70661 Analytical Hierarchy Process (AHP) Analisis AHP dengan metode Pairwise Comparison ditujukan untuk menentukan tingkat kepentingan . kala priorita. dari parameter curah hujan, kelerengan dan tutupan lahan yang dipakai sebagai parameter pada analisa daerah rawan banjir ini. Metode Pairwise Comparison adalah metode perbandingan berpasangan yang dapat digunakan untuk memperoleh kecenderungan terkait dari setiap kriteria yang dibandingkan. Kriteria yang digunakan atas tiga parameter yang digunakan adalah parameter tutupan lahan 1 kali lebih penting dari curah hujan dan 2 kali lebih penting dari kelerengan. Gambar 4. Peta tutupan lahan daerah penelitian. Artikel diterima 11 Oktober 2021. Online 31 Oktober 2021. PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 Tabel 3 menunjukkan hasil pembobotan matriks pairwase yang menjadi acuan dalam pembuatan peta rawan banjir daerah Tabel 3. Hasil matriks Pairwase Comparison daerah penelitian. Jumlah Baris Eigen Vector BOBOT BOBOT% Landuse 1,62 0,54 Rainfall 0,89 0,30 Slope 0,49 0,16 Rasio konsistensi = CI/ RI, dimana RI merupakan indeks random konsistensi. Rasio Konsistensi = 0/0. 58 = 0. Karena rasio konsistensi O 0. 1, maka hasil perhitungan data dapat dibenarkan. Daerah Rawan Banjir Analisis daerah rawan banjir Kecamatan Balikpapan Timur Kota Balikpapan dilakukan dengan menggunakan data hasil analisis SIG dengan menggunakan metode skoring overlay intersection dimana hasil skoring nanti akan diberi bobot dari metode AHP matriks Pairwase Comparison. Hasil dari proses semua anlisis yaitu AHP dan skoring overlay intersection, serta hasil verifikasi deliniasi lapangan akan menjadi peta daerah rawan banjir sebagaimana yang terlihat pada Gambar 5. Besaran daerah rawan banjir di Kecamatan Balikpapan Timur tergambar pada Tabel 4. Sebagian besar wilayah Balikpapan Timur merupakan derah yang rawan banjir karena memiliki tutupan lahan berupa pemukiman dan tempat kegiatan serta kemiringan lereng yang landai dan datar walaupun parameter curah hujan yang rendah tetapi tetap berpengaruh terhadap potensi banjir. Luas daerah yang tidak rawan yaitu 31,2%, rawan 0,001%, dan sangat rawan 68,7% dari keseluruhan daerah penelitian. Daerah sangat rawan banjir berada di selatan daerah Tabel 4. Luasan daerah rawan banjir daerah penelitian. Klasifikasi Luas (H. Tidak Rawan 3976,564172 Rawan 0,100104611 Sangat Rawan 8729,468517 Artikel diterima 11 Oktober 2021. Online 31 Oktober 2021. PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 Gambar 5. Peta rawan banjir daerah penelitian Rekomendasi Mitigasi Berdasar peta rawan banjir, luas daerah yang tidak rawan yaitu 31,2%, rawan 0,001%, dan sangat rawan 68,7% dari keseluruhan daerah penelitian. Daerah sangat rawan banjir berada di selatan daerah penelitian yang tutupan lahannya didominasi oleh pemukiman dan tempat kegiatan lainnya. Untuk mengurangi resiko terdampak banjir, diharapkan pembukaan lahan baru untuk perumahan dan perkantoran memperhatikan tersedianya saluran pembuangan/ irigasi yang baik dan terhubung langsung ke laut. Pembukaan lahan juga harus memperhatikan kelerengan daerah bukaan untuk menghindari terjadinya genangan air di daerah dataran dan rencana pemerintah kota untuk membuat drainse menuju laut melintasi jalan Mulawarman sepanjang 2 kilometer menuju laut harus segera direalisasikan karena selama ini drainasedrainase kecil yang ada mengalir ke Sungai Manggar Kecil. Pembangunan bozem-bozem sebagai penahan limpahan air juga perlu diperhatikan dalam hal lokasi pembangunan bozem dan luasan bozem. Saat ini bozem yang dijunpai di lokasi seberang tol tidak berfungsi dengan baik jika turun hujan, air meluap masuk gorong-gorong dan meluap ke pemukiman penduduk. KESIMPULAN Berdasarkan data dan hasil analisis yang dilakukan, maka dihasilkan kesimpulan bahwa daerah penelitian memiliki tiga kategori daerah kerawanan terhadap banjir yaitu tidak rawan. Artikel diterima 11 Oktober 2021. Online 31 Oktober 2021. PETROGAS Volume 3. Nomor 2. Oktober 2021 e-ISSN - 2656-5080 rawan, dan sangat rawan terhadap banjir. Luas daerah yang tidak rawan yaitu 31,2%, rawan 0,001%, dan sangat rawan 68,7% dari keseluruhan daerah penelitian. Daerah sangat rawan banjir berada di selatan daerah penelitian. Diharapkan parameter yang digunakan agar diperbanyak seperti jenis tanah, morfologi sungai atau saluran, iklim, pasang surut air laut yang terupdate sehingga hasil yang didapatkan lebih akurat dan dapat digunakan untuk monitoring daerah-daerah yang berpotensi terkena dampak banjir secara berkelanjutan. Rekomendasi mitigasi yang disarankan adalah membangun dan memperbaiki saluransaluran air. Irigasi agar terhubung langsung ke laut dan pembukaan lahan baru untuk pemukiman dan perkantoran harus memperhatikan kelerengan wilayah. Pembanguna bozem di beberapa titik juga bisa menjadi solusi untuk mengurangkan luasan daerah terdampak banjir. UCAPAN TERIMA KASIH