Jurnal Peduli Masyarakat Volume 7 Nomor 4. Juli 2025 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM EDUKASI HIV/AIDS UNTUK MENGURANGI STIGMA TERHADAP ODHIV DALAM PERINGATAN HARI AIDS SEDUNIA Rio Ady Erwansyah*. Aesthetica Islamy. Farida. Surtini. Suciati. Yitno STIKES Hutama Abdi Husada Tulungagung. Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. Kedung Indah. Kedungwaru. Kedungwaru. Tulungagung. Jawa Timur 66224. Indonesia *rio. erwansyah@stikestulungagung. ABSTRAK HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Salah satu tantangan terbesar dalam penanggulangan HIV/AIDS adalah adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS dan mengurangi stigma terhadap ODHIV melalui edukasi kesehatan. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 2024, melibatkan 80 peserta dari kalangan mahasiswa serta petugas Kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung dan KPA Tulungagung. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif, media visual, dan diskusi, dengan pengukuran pre-test dan post-test menggunakan kuesioner berbasis ISMI. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan dari 32% menjadi 79% setelah edukasi. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi yang tepat dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dan mengurangi stigma terhadap ODHIV. Kegiatan ini sejalan dengan upaya mendukung pencapaian target Three Zero: nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol diskriminasi. Kata kunci: edukasi. HIV/AIDS. ODHIV HIV/AIDS EDUCATION TO REDUCE STIGMA AGAINST PLHIV IN COMMEMORATION OF WORLD AIDS DAY ABSTRACT HIV/AIDS is still a global health problem, including in Indonesia. One of the biggest challenges in overcoming HIV/AIDS is the stigma and discrimination against people living with HIV (PLHIV). This community service activity aims to increase public knowledge about HIV/AIDS and reduce stigma against PLHIV through health education. The activity was carried out on December 14, 2024, involving 80 participants from students and health workers from the Tulungagung Regency Health Office and the Tulungagung KPA. The methods used were interactive lectures, visual media, and discussions, with pre-test and post-test measurements using ISMI-based questionnaires. The results showed an increase in knowledge from 32% to 79% after education. This finding confirms that appropriate education can increase public understanding and reduce stigma against PLHIV. This activity is in line with efforts to support the achievement of the Three Zero targets: zero new infections, zero deaths from AIDS, and zero discrimination Keywords: education. HIV/AIDS. ODHIV PENDAHULUAN Sejak kemunculannya pada awal 1980-an. HIV telah menjadi masalah kesehatan global yang Virus ini menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Masalah HIV/AIDS semakin meningkat di seluruh dunia dan masih menjadi masalah kesehatan yang sering terjadi dan mengancam jiwa (Sukartini T. Nursalam. Has EMM. Asmoro CP, 2. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Di Indonesia, kasus HIV/AIDS terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, terdapat 50. 282 kasus baru HIV di Indonesia pada tahun 2021, meningkat menjadi 54. 392 kasus pada tahun 2022, dan mencapai 58. 096 kasus pada tahun 2023. Provinsi Jawa Timur termasuk dalam lima besar provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Indonesia. Pada tahun 2021. Jawa Timur mencatat 6. 792 kasus baru HIV, kemudian 7. 314 kasus pada tahun 2022, dan meningkat menjadi 7. 812 kasus pada tahun 2023 (Kemenkes RI, 2. Sementara itu, di Kabupaten Tulungagung, tren kasus HIV juga mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, pada tahun 2021 terdapat 264 kasus baru, kemudian naik menjadi 289 kasus pada tahun 2022, dan mencapai 317 kasus pada Angka ini menunjukkan perlunya peningkatan upaya pencegahan dan penanggulangan secara komprehensif, termasuk melalui edukasi masyarakat. Selain meningkatnya jumlah kasus HIV, stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV tetap menjadi tantangan serius. Data nasional menunjukkan bahwa pada survei AuStigma Index 2. 0Ay yang dilakukan oleh Jaringan Indonesia Positif pada MeiAeOktober 2023 . elibatkan lebih dari 1. , sekitar 13,4 % ODHIV melaporkan mengalami stigma atau diskriminasi, bahkan ketika mencari layanan Kesehatan (Jaringan Indonesia Positif (JIP), 2. Menurut estimasi Kemenkes dan UNAIDS, pada tahun 2022Ae2024 jumlah orang dewasa (>15 tahu. yang hidup dengan HIV mencapai sekitar 510 ribu pada 2022, 500 ribu pada 2023, dan 489 ribu pada awal Dari survei 2022, sekitar 68,7 % masyarakat menolak membeli dari pedagang yang diketahui HIV positif, dan 33,5 % menolak anak dengan HIV bersekolah bersama anak lain (ANTARA News, 2. Di Provinsi Jawa Timur, sejumlah laporan menggarisbawahi eksistensi Menurut KPAI, anak-anak dengan HIV di Jawa Timur Auhidup dengan stigma tinggiAy, sering dimarjinalkan bahkan dalam lingkungan keluarga hingga fasilitas kesehatan (Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), 2. Laporan Dinkes Jawa Timur hingga November 2023 mencatat terdapat 9. 409 kasus baru HIV/AIDS, dengan estimasi total ODHIV mencapai 238 orang, namun banyak di antaranya menghindari tes atau perawatan karena kekhawatiran disertai stigma (Prapanca. id, 2. Stigma dan diskriminasi merupakan salah satu hambatan utama dalam upaya pencegahan dan pengobatan terhadap ODHIV. Stigma ini menciptakan tekanan psikologis dan sosial yang besar, mendorong individu untuk menyembunyikan status HIV-nya dan menghindari pengobatan. Pandangan masyarakat yang mengaitkan HIV dengan perilaku menyimpang memperparah situasi ini (Simanjuntak, 2. (Vizcharra, 2. Secara sosial, stigma muncul sebagai perilaku menghindari kontak, diskriminasi dalam layanan medis, dan bahkan reaksi negatif terhadap jenazah ODHIV, yang sering kali tidak dimandikan karena pengetahuan yang rendah dan pengawasan yang kurang (Nursalam. Efendi F. Tristiana RRD, 2. Fenomena ini diperparah oleh kurangnya pemahaman masyarakat terutama mereka dengan tingkat pendidikan rendah yang cenderung menganggap ODHIV sebagai AukotorAy atau Aupenyimpangan moralAy (BBC News Indonesia, 2. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang HIV/AIDS, terutama mengenai definisi, penyebaran, serta cara menghindari stigma terhadap ODHIV. Kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia. METODE Kegiatan edukasi ini melibatkan 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan petugas Kesehatan yang berasal dari Dinas Kesehatan serta Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tulungagung. Edukasi dilaksanakan melalui ceramah interaktif, penggunaan media visual, dan sesi diskusi. Kegiatan dilaksanakan pada 14 Desember 2024 di Aula STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung bekerja sama dengan KPA Tulungagung. Penilaian efektivitas dilakukan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group dengan pre-test dan post-test menggunakan kuesioner berbasis Internalized Stigma of Mental Illness Inventory (ISMI) yang telah dimodifikasi dan diuji validitas serta reliabilitasnya. Peningkatan pengetahuan dianalisis dengan membandingkan skor pre-test dan post-test secara Sebelum kegiatan edukasi dilaksanakan, tim pengabdian melakukan berbagai persiapan yang mencakup koordinasi awal, penentuan sasaran peserta, serta kerja sama dengan mitra dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Tulungagung. Tahap ini juga mencakup penyusunan materi edukasi yang relevan dan pembuatan kuesioner untuk evaluasi pengetahuan HASIL DAN PEMBAHASAN Bagan 1. Jumlah presentase jenis kelamin responden Dari data diatas dapat diketahui presentase kehadiran peserta kegiatan paling banyak berjenis kelamin perempuan 62 responden . %). Bagan 2. Persentase Responden Berdasarkan Jenis Responden Dari data diatas dapat diketahui bahwa responden terbanyak yakni mahasiswa 60 orang . %). Bagan 2. Jumlah presentase umur responden Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Dari data diatas dapat diketahui presentase umur responden terbanyak yakni rentang umur 18-25 tahun . %). Bagan 3. Jumlah presentase Pendidikan terakhir responden Pada diagram diatas dapat diketahui bahwa Pendidikan terakahir responden paling banyak yakni SMA 72%. Bagan 4. Hasil Pretest Dari data diatas dapat diketahui bahwa 68% . belum memahami tentang penularan HIV/AIDS, stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV. Sebelum dilakukan edukasi, dilakukan pengukuran awal terhadap tingkat pengetahuan peserta mengenai HIV/AIDS dan stigma terhadap ODHIV melalui pre-test. Dari total 80 responden, hanya 32% . ebanyak 26 oran. yang menunjukkan pemahaman yang baik terhadap materi tersebut. Sementara itu, 68% responden . belum memiliki pengetahuan yang cukup. Rendahnya hasil pre-test menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai HIV/AIDS, khususnya terkait mekanisme penularan dan bagaimana memperlakukan ODHIV secara Hal ini mencerminkan perlunya intervensi edukatif yang sistematis dan menyeluruh agar masyarakat dapat menerima informasi yang benar dan menghindari asumsi serta stigma yang keliru. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Bagan 5. Hasil post-test Setelah dilakukannya edukasi kesehatan didapatkan hasil sebanyak 79% dari 80 responden . aitu 63 oran. menunjukkan pemahaman yang baik setelah dilakukannya edukasi. Peningkatan dari 32% . re-tes. menjadi 79% . ost-tes. menunjukkan bahwa kegiatan edukasi berhasil menggandakan jumlah peserta yang memahami informasi terkait HIV/AIDS dan stigma terhadap ODHIV. Ini mengindikasikan bahwa metode edukasi yang digunakanAiyakni ceramah, media visual, dan diskusi interaktifAiefektif dalam menyampaikan pesan kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat yang beriskan tentang edukasi mengenai HIV dan stigma terhadap ODHIV diharapakan memiliki peran yang besar dalam menurunkan angka kejadian HIV dan pola piker masyarakat tentang ODHIV. Kegiatan ini berfokus dalam meningkatkan pengetahuan sasaran tentang penyakit HIV/AIDS sekaligus diharapakan mampu menurunkan stigma masyarakat terhadap orang yang terkena HIV. Edukasi yang diberikan tidak hanya menyampaikan informasi dasar mengenai HIV/AIDS, seperti definisi, penyebab, dan cara penularannya, tetapi juga menekankan pentingnya empati dan perlakuan adil terhadap ODHIV. Stigma muncul akibat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai informasi yang akurat dan lengkap tentang HIV, terutama mengenai mekanisme penularan HIV dan cara pencegahannya. Stigma terhadap orang dengan HIV juga dapat menyebabkan orang dengan gejala atau diduga HIV enggan menjalani tes HIV karena takut ditolak oleh keluarga, terutama pasangannya. Munculnya stigma di masyarakat juga menjadi salah satu kendala dalam penanggulangan HIV/AID. Dalam hidup bermasyarakat, stigma juga menghalangi ODHA untuk melakukan aktivitas sosial. ODHA menutup diri dan cenderung tidak bersedia melakukan interaksi dengan keluarga, teman, dan tetangga (Makmur, 2. Hasil pre-test menunjukkan bahwa hanya 32% responden memahami penularan HIV dan isu Setelah dilakukan edukasi, terjadi peningkatan signifikan, di mana 79% responden menunjukkan pemahaman yang baik. Hal ini menunjukkan efektivitas pendekatan edukasi yang Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Nursalam. Efendi F. Tristiana RRD . yang menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 45% setelah intervensi edukasi berbasis Hal ini menegaskan bahwa metode ceramah dan media visual efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap HIV/AIDS. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Peningkatan pengetahuan sebesar 47% pasca edukasi memberikan indikasi awal bahwa perubahan pola pikir terhadap ODHIV mungkin mulai terbentuk. Jika edukasi ini diterapkan secara luas dan berkesinambungan, potensi perubahan perilaku diskriminatif masyarakat dapat lebih nyata. Keberhasilan edukasi ini tidak lepas dari pendekatan partisipatif, keterlibatan langsung komunitas ODHIV dan KPA, serta pemanfaatan media visual yang sesuai dengan profil usia dan pendidikan peserta. Faktor-faktor ini dinilai mampu meningkatkan atensi dan retensi peserta terhadap materi yang disampaikan. Tingginya antusiasme peserta dalam sesi tanya jawab juga menjadi indikator keberhasilan kegiatan ini. Peserta aktif menyampaikan pertanyaan kritis terkait penularan HIV dan membahas stigma yang masih melekat di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa peserta tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga menginternalisasi pengetahuan tersebut dan mulai mempertanyakan pandangan sosial yang salah Tidak lupa juga mereka mengkritisi mengenai stigma terhdap ODHIV yang sedang terjadi pada saat ini. Pengetahuan yang meningkat pada remaja akan berdampak terhadap pengetahuan yang mereka miliki (Ady Erwansyah. Rio & Audilla, 2. Meskipun hasil edukasi menunjukkan keberhasilan, kegiatan ini masih memiliki keterbatasan dalam cakupan sasaran dan durasi pelaksanaan. Efek jangka panjang terhadap perubahan sikap dan perilaku masyarakat belum dapat dipastikan tanpa intervensi lanjutan. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, intervensi ini dapat mendukung pencapaian target nasional Three Zero dan tujuan Sustainable Development Goals (SDG) ke-3, yaitu menjamin kehidupan sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua, termasuk penghapusan epidemi AIDS pada tahun 2030. Gambar 1. Dokumentasi saat koordinasi dan pemaparan materi Meskipun pada kegiatan pengabdian ini mendapatkan hasil yang cukup menggembirakan, masih diperlukan upaya edukasi yang berkelanjutan dan menyeluruh untuk menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Upaya ini penting guna mendukung pencapaian target Three Zero: nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol diskriminasi terhadap ODHIV. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Gambar 2. Foto kegiatan berlangsungnya pengabdian masyarakat SIMPULAN Kegiatan edukasi dalam pengabdian masyarakat ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta mengenai HIV/AIDS dan mengurangi stigma terhadap ODHIV. Edukasi berperan penting dalam upaya pencegahan penyebaran HIV dan peningkatan kualitas hidup ODHIV. Diperlukan keberlanjutan kegiatan serupa untuk menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas dan mendukung target Three Zero. DAFTAR PUSTAKA