NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei 2024 DOI: https://doi. org/10. 55681/nusra. Homepage: ejournal. id/index. php/nusra p-ISSN: 2715-114X e-ISSN: 2723-4649 KOMPETENSI GURU DALAM MENDIDIK MURID DI INDONESIA (TINJAUAN NORMATIF BERBASIS PARADIGMA ULAMA TIMUR SEBAGAI PENDEKATAN) Siti Asiah1. Muhammad Resky1. Yosse Amanda Pratama1 Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam 45 Bekasi *Corresponding author email: asiah@gmail. Article History ABSTRACT Received: 22 January 2024 Revised: 16 May 2024 Published: 25 May 2024 The quality of education in Indonesia is one of the most important factors in achieving the goal of quality education. Various methods are applied if without competent and professional teachers, it is impossible for educational goals to be achieved. The purpose of this study is to explore the views of Eastern scholars, such as Imam an-Nawawi and alGhazyly, on the traits and competencies that must be possessed by a teacher in educating students. The method in this research uses the literature study method, which begins with data collection, recording, and classification based on relevance. Then, the descriptive analysis approach is used to find facts and results of ideas, which are then generalised in the form of descriptions. After that, the researcher draws conclusions to prove the issues discussed. The results showed that based on the synthesis of the thoughts of Imam Ghazali. Imam Nawawi and Imam Amin Kurdi related to teacher competence, namely the pedagogical aspect, which includes mastery of material, understanding of students, curriculum development, and learning assessment. Personality aspects, which include a mature, wise, wise, patient, sincere, and authoritative personality. Professional aspects, which include mastery of various sciences related to the field of study they Social aspects, which include the ability to communicate, work together, and build relationships. Keywords: Teacher. Teacher Competence. Educational Methods. Students Copyright A 2024. The Author. How to cite: Asiah. Resky. M & Pratama. Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur Sebagai Pendekata. NUSRA: Jurnal Penelitian Dan Ilmu Pendidikan, 5. , 630Ae https://doi. org/10. 55681/nusra. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei 2024 LATAR BELAKANG Guru merupakan salah satu komponen penting dalam dunia pendidikan. Guru memegang peranan yang sangat sentral pembentukan karakter siswa. Oleh karena itu, kemampuan guru menjadi hal yang sangat memprihatinkan. Kompetensi guru dapat didefinisikan sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki guru untuk memenuhi Kemampuan guru meliputi kemampuan mengajar, kemampuan pribadi, kemampuan profesional, dan kemampuan sosial. Kemampuan mengajar adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Kemampuan tersebut meliputi penguasaan materi, pemahaman siswa, pengembangan kurikulum, dan penilaian pembelajaran. Kompetensi kemampuan guru untuk mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang stabil dan berakhlak mulia. Kemampuan tersebut kebijaksanaan, kesabaran, keikhlasan dan kepribadian yang berwibawa (Aslamiyah. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai berbagai ilmu yang berkaitan dengan bidang penelitian yang diampunya. (Hamrin & Wibowo, 2. Kemampuan tersebut meliputi penguasaan bahan ajar, metode pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Keterampilan sosial merupakan kemampuan seorang guru dalam berinteraksi dengan pendidik lain, siswa, orang tua siswa, dan Kemampuan ini mencakup kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan membina hubungan. Kapasitas guru yang memadai penting untuk menjamin keberhasilan pendidikan. Guru dengan kemampuan yang memadai akan mampu mengelola pembelajaran dengan baik sehingga siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Guru cukup berkemampuan dan dapat membentuk karakter siswa dengan (Hasibuan, 2. Tanggung jawab dan peran guru begitu besar sehingga guru harus mempunyai kemampuan untuk itu semua (NiAomah, 2. Kemampuan yang harus dimiliki guru berdasarkan ketentuan Bab 4 Pasal 10 Ayat 91 Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005: AuKemampuan guru meliputi kemampuan mengajar, kemampuan kepribadian, sosial, dan kemampuan profesional yang diperoleh melalui profesi. Ay pendidikan. Guru harus menjadi teladan moral dan intelektual bagi siswa. Tidak ada elemen yang lebih penting dalam sistem sekolah selain guru. (Ridwan et al. , 2. Pemangku kebijakan yang tidak mengatasi kompetensi guru berisiko mengakibatkan penurunan mutu pendidikan di Indonesia. Saat ini, isu pendidikan di negara ini mencakup ketidaksesuaian antara mata pelajaran yang diajarkan oleh tenaga pendidik dengan latar belakang pendidikan terakhir mereka. Hal ini menjadi permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian serius (Ayunda Pininta kasih. Secara umum, masalah yang dihadapi oleh para guru dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu masalah internal yang berasal dari dalam diri guru dan masalah eksternal yang berasal dari faktor-faktor di luar pribadi guru. Masalah internal mencakup berbagai aspek, seperti kompetensi profesional guru. Hal ini melibatkan bidang kognitif, seperti penguasaan materi bidang sikap, seperti kecintaan . ompetensi dan bidang perilaku, seperti keterampilan mengajar dan kemampuan Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan menilai hasil belajar siswa . ompetensi Sementara itu, masalah eksternal melibatkan berbagai tantangan yang dihadapi guru dalam mengelola kelas, berinteraksi dengan siswa, menerapkan metode pembelajaran, dan menggunakan media pembelajaran. Kesulitan dalam manajemen kelas, hubungan interpersonal pembelajaran yang tepat, dan penggunaan media pembelajaran yang efektif merupakan beberapa contoh masalah eksternal yang Pemahaman mendalam terhadap kedua kategori masalah ini dapat membantu pihak terkait, seperti lembaga pendidikan dan pemerintah, untuk merancang solusi dan dukungan yang lebih efektif guna meningkatkan kualitas pengajaran dan kesejahteraan guru. (Baharuddin & Maunah. Studi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rijal dan Hakim menyatakan bahwa etika guru dalam perspektif tasawuf, menurut pandangan Imam al-Ghazali dan Syekh Muhammad Amin al-Kurdi, memiliki karakteristik etis religius. Oleh karena itu, etika guru lebih tertuju pada perilaku Terdapat dua poin utama dalam temuan ini. Pertama, etika guru dalam pandangan tasawuf menurut Imam alGhazali dan Syekh Muhammad Amin alKurdi bersifat religius, dan fokus utamanya adalah pada hubungan spiritual antara seorang mursyid . uru spiritua. dan Kedua, terdapat kesamaan dalam pandangan etika guru menurut perspektif tasawuf keduanya, yaitu bahwa seorang guru harus memberikan dukungan penuh kasih sayang kepada muridnya dan memahami kemampuan intelektual mereka. (Rijal & Hakim, 2. Volume 5. Issue 2. Mei 2024 Studi penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Yunaidi dan Lubas menjelaskan bahwa buku "Ayyuhal Walad" mengandung tiga jenis kalimat perintah. Pertama, kalimat perintah yang memiliki makna sesuai dengan arti aslinya. Kedua, terdapat kalimat perintah yang sebenarnya menyiratkan larangan. Ketiga, jenis kalimat perintah yang mengandung makna doa, dan dari hasil penelitian ini, terungkap bahwa kalimat perintah yang bermakna doa merupakan jenis kalimat perintah yang paling dominan dalam buku tersebut. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam "Ayyuhal Walad," terdapat hadis yang mengarah pada berbagai cara penggunaan kata perintah. Selain memerintahkan secara langsung, buku ini juga menyiratkan larangan dan banyak mengandung kalimat perintah yang bersifat doa. Kesimpulan ini memberikan gambaran mendalam tentang cara penggunaan kalimat perintah dalam karya tersebut, mengaitkannya dengan hadis dan konteksnya dalam buku "Ayyuhal Walad. " (Yunaidi & Lubas, 2. Studi lanjutan yang dilakukan oleh Aminuddin dan Wahidin menyimpulkan bahwa konsep pendidikan karakter menurut Al-Ghazali dalam kitab "AyyuhA al-walad" dapat diartikan sebagai perwujudan nilainilai pendidikan karakter. Penelitian ini menyoroti bahwa konsep tersebut tidak hanya bersifat teoritis, melainkan lebih menekankan pada aspek praktis atau pengaplikasian nilai-nilai tersebut. Dalam konteks "Ayyuhal walad". Al-Ghazali menawarkan pendidikan karakter yang tidak hanya berupa konsep-konsep, melainkan juga memberikan panduan praktis untuk menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter Tujuannya adalah agar pendidikan karakter yang disampaikan kepada peserta didik dapat diserap dengan baik dan diterima Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei 2024 dengan mudah. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memberikan kontribusi dalam menggambarkan pendekatan praktis AlGhazali terhadap pendidikan karakter dalam karyanya "AyyuhA al-walad". (Aminuddin & Wahidin, 2. Penelitian ini bertujuan untuk diperlukan oleh guru serta meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Metode studi literatur akan digunakan sebagai pendekatan penelitian, melibatkan pemeriksaan berbagai sumber literatur yang relevan seperti kitab Ihya' Ulumuddin karya Al-Ghazali, literatur pendidikan Islam, dan literatur pendidikan Harapannya, hasil penelitian ini akan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kompetensi guru dalam mendidik murid, khususnya menurut perspektif AlGhazali. Gambaran ini diharapkan dapat menjadi panduan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. mendidik murid menurut perspektif Imam al-Ghazali. Imam Nawawi, dan Syekh Muhammad Amin al-Kurdi. Sugiyono menyatakan bahwa menggabungkan ide-ide penting yang relevan merupakan bagian dari metode analisis kualitatif. (Sugiyono, 2. Penelitian pengumpulan data, pencatatan, dan klasifikasi berdasarkan relevansi. Setelah data terkumpul, pendekatan analisis deskriptif digunakan. Analisis deskriptif melibatkan pencarian fakta dan hasil dari pemikiran seseorang melalui analisis dan interpretasi, yang kemudian digeneralisasi dalam bentuk deskripsi. Setelah data terkumpul dan deskripsi diberikan, peneliti menarik kesimpulan untuk membuktikan atau menjelaskan permasalahan yang dibahas dalam penelitian. METODE PENELITIAN Membahas mengenai kompetensi sebagai figur pendidik, imam nawawi mendefinisikan figur pendidik ideal dalam kitab at-tibyan bahwa guru itu disebut dengan Mualim. Ketemu alim yang didefinisikan sebagai guru dalam pandangan imam Nawawi terdapat empat kompetensi seorang guru yang harus dimiliki. Kompetensi yang pertama yaitu kepribadian kemudian kompetensi yang kedua adalah kompetensi pedagogik dan kompetensi Membahas kompetensi yang pertama yaitu kompetensi kepribadian, imam nawawi memaparkan indikator kompetensi kepribadian yaitu mempunyai jiwa yang profesional berbasis motivasi yang tinggi untuk mendedikasikan dirinya di dunia Yang kedua memiliki hati yang bersih serta mengharapkan ridho Allah. Penelitian ini merupakan suatu kajian konseptual yang termasuk dalam kategori "penelitian pustaka". Sumber utama yang digunakan sebagai acuan adalah buku-buku karya Imam al-Ghazali. Imam Nawawi, dan Syekh Muhammad Amin al-Kurdi yang berkaitan dengan kompetensi guru dalam mendidik murid. Beberapa sumber utama yang diacu meliputi Ihya' Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Ayyuhal Walad, al-TibyAn f dAb amalah Al-Qur'An karya Imam Nawawi, dan Tanwir al-Qulub karya Syekh Muhammad Amin al-Kurdi. Dalam penelitian ini, analisis isi digunakan sebagai metode untuk menganalisis data yang terkandung dalam sumber-sumber literatur Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam mengenai konsep kompetensi guru dalam HASIL DAN PEMBAHASAN Diskursus Figur Pendidik menurut Ahli Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Adapun yang ketiga bersikap waro' dalam menjalani kehidupan di dunia. Keempat menata hati untuk untuk menjaga diri dari perbuatan yang tercela. Adapun yang kelima yaitu bersifat tawadhu dan bertakwa kepada Allah. Adapun kompetensi profesional yang diutarakan oleh imam Nawawi yaitu melakukan perbuatan yang bermanfaat untuk orang banyak, kemudian mengajarkan suatu ilmu sesuai dengan bidang yang Kompetensi yang ketiga yaitu kompetensi pedagogik, menurut imam imam Nawawi kompetensi pedagogik memiliki tiga indikator yaitu keterampilan dalam memilih mata pelajaran untuk murid yang kedua mampu menasehati murid yang ketiga mendidik murid dengan akhlak yang mulia. Kemudian kompetensi yang keempat yaitu kompetensi sosial menurut imam nawawi yaitu memuliakan ahli ilmu dan tidak menyakitinya yang kedua memberikan pelayanan kepada murid secara baik yang ketiga yaitu peduli terhadap lingkungan dan masyarakat (Ridwan & Supraha, 2. Menelisik lebih mendalam terkait kepribadian figur pendidik menurut imam Al Ghazali yaitu seorang guru idealnya memiliki sifat sabar, kasih sayang, rendah hati, dan memiliki sifat adil terhadap seluruh murid-muridnya. Al Ghazali mengatakan diimplementasikan oleh guru perlu memiliki kedekatan emosional antara guru dan murid yang dibatasi oleh etika dan akhlak yang baik (Fatimah et al. , 2. Al Ghazali mengemukakan bahwa etika seorang pendidik terhadap muridnya yaitu terdiri dari 8 etika diantaranya adalah menganggap bahwa seluruh murid-muridnya adalah anak anaknya sendiri. Dalam artian murid-murid ini dianggap sebagai anak biologis meskipun dikategorisasikan anak ideologis. Yang Volume 5. Issue 2. Mei 2024 kedua seorang guru tentunya meneladani akhlak Rasulullah shallallahu alaihi mendekatkan diri kepada Allah. Yang ketiga memiliki sifat qana'ah dan tanpa pamrih dalam mendidik murid. Yang keempat tidak ragu-ragu dalam menasehati dan mencegah anak didiknya dengan cara yang halus dari perbuatan tercela baik secara terangterangan maupun secara sembunyisembunyi. Yang kelima yaitu memberikan ilmu kepada para murid sesuai dengan tingkat pemahamannya yang ke-6 yaitu memberikan nasehat-nasehat di setiap waktu yang ke-7 yaitu menjaga Marwah sesama guru guna mencegah dari jatuhnya wibawa seorang pendidik. Adapun yang ke-8 yaitu menghindari diri dari mencaci maki dan menjelekkan ilmu yang tidak diampunya di hadapan para murid (Rijal & Hakim, 2. Berdasarkan esensi kitab Tanwir alQulub, karangan imam Muhammad Amin al-Kurdi membahas berbagai aspek pendidikan, termasuk figur pendidik. Menurut beliau, figur pendidik yang ideal adalah seorang yang memiliki sifat-sifat berikut: . Berilmu. Pendidik harus memiliki ilmu yang luas dan mendalam, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Berakhlak mulia. Pendidik harus memiliki akhlak yang mulia, seperti jujur, amanah, adil, dan sabar. Berwibawa. Pendidik harus memiliki wibawa, sehingga dapat menjadi panutan bagi murid-muridnya. Peduli terhadap murid. Pendidik harus peduli terhadap murid-muridnya, baik secara fisik maupun mental (Muhammad Amin Al Kurdi, n. Menurut Muhammad Amin alKurdi, pendidik yang memiliki sifat-sifat tersebut akan mampu mendidik muridmuridnya dengan baik. Murid-murid yang dididik oleh pendidik yang ideal akan Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan menjadi orang-orang yang berilmu, berakhlak mulia, dan berdaya saing. Menurut al-Ghazali dalam kitab IhyaAo AoUlum al-Din menjelaskan figure guru perlu dimiliki yang pertama yaitu akhlak seorang Seorang pendidik yang perlu memiliki rasa kasih sayang serta menyayangi murid bagaikan anak sendiri. Akhlak kedua ialah ikhlas mengajar mengharapkan mencari ridho Allah S. (Hidayah, 2. Figur kompetensi guru yang ketiga yaitu nasihat. Seorang guru harus sentiasa menasihati murid dengan memberikan kata-kata yang baik. Figur guru yang keempat yaitu menggunakan kalimat yang mudah dipahami dalam menegur Akhlak kelima yaitu pengajaran yang berjenjang (Ghazaly, 2. Figur guru yang terakhir yaitu beramal dengan ilmu. Untuk memperjelas teori guru menurut imam Ghozali dapat dilihat dalam gamabr berikut Gambar 1: Figur guru Menurut Al Ghozali (MohaMed et al. , 2. Metode Dalam Mendidik Murid Menurut Interstate Teacher Assessment and Support Consortium (INTASC), terdapat berbagai metode yang digunakan oleh guru dalam mendidik murid. Volume 5. Issue 2. Mei 2024 Metode-metode tersebut mencakup: . Guru secara efektif menggunakan berbagai representasi dan penjelasan konsep yang menangkap ide-ide kunci dalam disiplin dan menghubungkannya dengan pemahaman masing-masing siswa sebelumnya. Guru melibatkan siswa dalam pengalaman belajar dalam disiplin ilmu yang mereka ajarkan yang mendorong siswa untuk memahami, mempertanyakan, dan menganalisis gagasan dari berbagai perspektif. Guru melibatkan siswa dalam menerapkan metode penyelidikan dan standar bukti yang digunakan dalam disiplin ilmu. Guru menghubungkan konsep baru dengan konsep yang sudah dikenal, dan membuat koneksi dengan pengalaman siswa. Guru mengenali ketika kesalahpahaman siswa mengganggu pembelajaran dan menciptakan pengalaman untuk membangun pemahaman . Guru mengevaluasi dan memodifikasi sumber daya pengajaran dan materi kurikulum untuk kelengkapan dan keakuratan, serta representasi konsepkonsep dalam disiplin ilmu dan aksesibilitas serta relevansinya. Guru membantu siswa untuk memahami dan menggunakan bahasa akademik secara bermakna. Guru memahami konsep-konsep utama, asumsi, perdebatan, proses penyelidikan, dan caracara mengetahui yang merupakan inti dari disiplin yang diajarkannya. Guru konseptual setiap siswa sebelumnya dan memengaruhi pembelajaran disiplin mereka. Guru mengetahui dan menggunakan bahasa akademik dari disiplinnya dan mengetahui bagaimana membuatnya dapat diakses oleh peserta didik. Guru tahu bagaimana mengintegrasikan konten yang Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan relevan secara budaya untuk membangun pengetahuan latar belakang siswa. Guru memiliki pengetahuan tentang standar konten siswa dalam disiplin ilmu yang mereka ajarkan (Comment, 2. Pendekatan yang diajukan oleh Interstate Teacher Assessment and Support Consortium (InTASC) sesuai dengan teori progresivisme Dewey. Dalam paradigma Dewey, pendidikan diharapkan dapat merangsang rasa ingin tahu murid dan pemahaman melalui pengalaman empiris. Pendekatan ini juga bertujuan untuk membentuk keterampilan berpikir kritis serta meningkatkan kreativitas para murid. John Dewey, sebagai tokoh utama pembelajaran yang efektif terjadi melalui pengalaman langsung dan interaktif. Pendidikan dianggap sebagai suatu proses dinamis di mana murid harus terlibat secara aktif dalam memahami dan meresapi materi Pendekatan keterampilan berpikir kritis, di mana murid menganalisis, dan memahami konsepkonsep secara mendalam. Selain itu, progresivisme Dewey juga memberikan perhatian khusus pada pengembangan Menurut Dewey, pengalaman mendorong murid untuk berpikir secara kreatif dapat memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan individu. Dengan demikian, pendekatan InTASC yang mengacu pada teori progresivisme Dewey bertujuan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang merangsang rasa ingin tahu, mendorong pengalaman langsung, dan membentuk keterampilan berpikir kritis serta kreativitas pada para murid. (Novarita Volume 5. Issue 2. Mei 2024 et al. , 2. Beberapa prinsip utama dalam teori progresivisme John Dewey adalah: Pendekatan Pembelajaran Berbasis Pengalaman yang diusulkan oleh paradigma John Dewey menjadi landasan utama dalam teori progresivisme dalam Paradigma menitikberatkan pada kepentingan siswa dalam melibatkan diri dalam proses pembelajaran yang bersumber dari Pembelajaran berbasis pengalaman juga melibatkan refleksi yang mendalam, di mana siswa didorong untuk merenungkan pengalaman yang mereka alami dan mengeksplorasi makna yang dapat ditarik dari pengalaman Pengalaman nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari menjadi dasar utama dalam metode pembelajaran proyek, pembelajaran berbasis masalah, atau pendekatan eksploratif lainnya. (Mustaghfiroh, 2. Paradigma belajar aktif dan interaktif yang diusulkan oleh John Dewey memiliki peran penting dalam teori Paradigma ini menekankan bahwa siswa harus aktif dalam proses pembelajaran, menggunakan metode seperti diskusi, eksplorasi, percobaan, dan proyekproyek Pendekatan memungkinkan siswa belajar melalui pengalaman langsung yang melibatkan pemikiran dan perasaan mereka. Paradigma pembelajaran kontekstual yang diperkenalkan oleh John Dewey dalam teori progresivisme pendidikan menekankan pada relevansi dan keterkaitan antara materi pembelajaran dengan pengalaman dan situasi nyata yang dialami oleh siswa. Dewey berpendapat bahwa siswa sebaiknya Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan menerima materi pembelajaran yang dapat dihubungkan dengan pengalaman dan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari Paradigma pembelajaran seharusnya tidak terisolasi dari realitas kehidupan siswa. Sebaliknya, pembelajaran seharusnya mencerminkan kehidupan sehari-hari siswa, memotivasi mereka untuk belajar melalui relevansi dan keterkaitan dengan konteks nyata yang mereka alami. Pembelajaran Berbasis Masalah. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learnin. dikaitkan dengan John Dewey adalah metode pembelajaran yang sangat prinsip-prinsip progresivisme dalam pendidikan. Konsep ini menempatkan siswa dalam peran aktif dan mandiri dalam memecahkan masalah dunia nyata. Dengan mengadopsi Pendekatan Berbasis Masalah, pendidikan menciptakan lingkungan pembelajaran yang mencerminkan nilainilai progresivisme, memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif melalui pengalaman nyata, mengembangkan pemahaman mendalam, dan mengasah keterampilan berpikir kritis mereka. Yang memungkinkan murid untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang konsep-konsep yang dipelajari serta keterampilan berpikir Dalam pendekatan ini, siswa diberikan masalah atau situasi dunia nyata yang kompleks dan menantang. Siswa kemudian diharapkan untuk mengidentifikasi sumber informasi, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan (Triyatno et al. , 2. Volume 5. Issue 2. Mei 2024 Paradigma John Dewey dalam proses pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada pengetahuan faktual, melainkan juga harus membantu siswa dalam pengembangan keterampilan berpikir yang kritis dan analitis. Pandangan ini sejalan dengan pendekatan progresivisme yang menitikberatkan pada pemahaman komprehensif dan penerapan konsep dalam konteks nyata. Dewey percaya bahwa keterampilan berpikir kritis adalah modalitas yang sangat penting untuk menghadapi dunia yang terus berkembang dan kompleks. Dengan memprioritaskan pengembangan keterampilan berpikir kritis, paradigma Dewey dan pendekatan progresivisme pembelajaran yang mempersiapkan siswa untuk menjadi individu yang terampil, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan kompleks dunia modern. Dalam kitab "Ayyuhal Walad" yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali, terdapat empat metode pendidikan yang dijelaskan: Metode Keteladanan: Metode ini menekankan pentingnya keteladanan dalam Keteladanan kontribusi besar dalam membentuk aspekaspek seperti ibadah, akhlak, kesenian, dan hal-hal lainnya. Guru atau pendidik diharapkan menjadi teladan bagi peserta didik untuk mengikuti. Metode Ibroh: Ibroh berarti mengambil i'tibar atau contoh dari pengalaman yang lalu. Dalam hal ini, peserta didik diajak untuk mengambil pelajaran dan hikmah dari pengalaman yang terjadi sebelumnya. Hal ini dapat melibatkan analisis terhadap kejadian-kejadian sejarah atau situasi kehidupan. Metode Kisah Pendidikan Karakter: Metode menggunakan kisah-kisah sebagai sarana Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan untuk mendidik karakter. Kisah-kisah tersebut diharapkan dapat memikat dan menyenangkan peserta didik sehingga mudah dicerna. Al-Qur'an sendiri banyak memuat kisah-kisah yang mengandung nilai-nilai moral, seperti dialog Tuhan dengan para malaikat dan kisah tentang penunjukkan seorang khalifah di bumi dari jenis manusia. Metode pembiasaan yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali dapat dicontohkan dengan menggunakan dua konsep, yaitu mujAhadah . dan riyAsah nafsiyyah . atihan kejiwaa. Dalam metode ini, peserta didik diajak untuk membiasakan diri dengan amal-amal perbuatan yang ditujukan untuk membentuk akhlak yang baik (Faizin et al. , 2. Metode pembiasaan yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali dapat dicontohkan dengan menggunakan dua konsep, yaitu mujAhadah . dan riyAsah nafsiyyah . atihan Dalam metode ini, peserta didik diajak untuk membiasakan diri dengan amalamal perbuatan yang ditujukan untuk membentuk akhlak yang baik (Suharyat et , 2. Merubah perbuatan dari satu ke perbuatan lain memang bisa menjadi tantangan yang sulit, dan salah satu langkah efektif untuk mencapainya adalah melalui pembiasaan atau kebiasaan positif. Dalam konteks ini, riyAsah atau latihan disiplin diri menjadi kunci dalam membentuk kebiasaan yang diinginkan. (Aminuddin & Wahidin. Pemahaman Imam Al-Ghazali tentang metode pendidikan dapat di analogikan dengan peran seorang dokter yang mengobati pasiennya sesuai dengan penyakit yang dideritanya. Dalam konteks ini. Al-Ghazali menyampaikan bahwa seperti seorang dokter yang tidak mungkin menggunakan satu jenis obat untuk mengobati berbagai macam penyakit, begitu juga seorang guru tidak akan berhasil dalam Volume 5. Issue 2. Mei 2024 menghadapi berbagai permasalahan dan pelaksanaan pendidikan anak dengan hanya mengandalkan satu metode saja (Sukirman et al. , 2. Etika Murid Dalam Menuntut Ilmu Menurut Al-Ghazali Gagasan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan bahwa belajar melibatkan ibadah mencerminkan pendekatan spiritual dalam proses pendidikan. Ini sesuai dengan pandangan Islam yang meyakini bahwa pengetahuan dan pembelajaran merupakan bagian integral dari ibadah dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka dari itu seorang siswa yang baik itu paling tidak memiliki ciri-ciri berikut: Siswa tersebut harus berakhlak baik dan tidak boleh mempunyai sifat-sifat buruk Hal itu harus dilakukan dengan hati yang murni, tanpa sifat-sifat buruk dan najis, termasuk sifat-sifat buruk seperti amarah, dendam, iri hati, kesombongan. Auberenang, takabburAy. lain-lain. Seorang pelajar yang baik juga harus permasalahanpermasalahan duniawi dan menjauhi hubungan dengan dunia luar, karena hubungan dengan dunia AuIlmu tidak akan memberikan sebagian dari dirimu sampai kamu memberikan seluruh dirimu padanya, dan jika kamu memberikan seluruh dirimu, maka ilmu. pasti akan ", kata Al-Ghazali. Seorang siswa yang baik harus menghormati atau rendah hati kepada Al-Ghazali menyarankan agar siswa tidak merasa lebih baik dari gurunya atau percaya bahwa ilmunya lebih baik dari gurunya. Beliau berpesan Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan agar para siswa mendengarkan nasehat dan bimbingan gurunya seperti halnya pasien terhadap dokternya. (Akip, 2. Peneliti pemula harus menghindari diskusi yang membingungkan dan variasi penelitian serta aliran dan juga para Siswa harus terlebih dahulu lulus mata Misalnya mempelajari Al-Qur'an sangatlah penting karena sebagai sumber utama ajaran Islam, mempelajarinya dapat membantu Anda dalam menjalankan ibadah dan Islam Siswa harus belajar secara bertahap. Siswa disarankan untuk tidak mendalami semua informasi sekaligus. mereka harus memulai dengan ilmu agama dan memperolehnya sepenuhnya. Setelah itu, ia berpindah ke bidang lain sesuai dengan tingkat kepentingannya. (Amini, 2. Ilmu-ilmu itu secara alamiah yang sudah tersusun dalam suatu tatanan tertentu, dan masing-masing disiplin ilmu mempunyai jalannya sendiri-sendiri. Siswa harus memahami nilai dari setiap disiplin ilmu yang dipelajarinya. Sangat penting untuk mengeksplorasi manfaat dan potensi hasil dari masing-masing Al-Ghazali mengatakan, nilai ilmu tergantung pada dua hal, yaitu hasil dan dalil. Misalnya pengobatan menghasilkan hidup yang (ALWIZAR, 2. Dalam proses belajar seseorang dihadapkan pada berbagai keinginan dan tantangan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Contohnya seperti keinginan untuk bermain, bersenang- Volume 5. Issue 2. Mei 2024 senang, atau mengalami kebingungan mental saat belajar karena kondisi lingkungan yang tidak menyenangkan. Pembelajaran yang sukses sulit dicapai tanpa mengatasi turbulensi dan gangguan. Siswa harus patuh dan hormat kepada gurunya karena jika tidak ada komunikasi yang baik antara siswa dan guru maka pembelajaran akan terganggu. Oleh karena itu, siswa harus bisa menjaga sikapnya, agar guru tidak merasa ditindas atau dipandang rendah. Dengan kata lain, siswa harus menghormati gurunya dan tidak merugikannya. (Romaida & Darwis, 2. Selain itu, ada beberapa hal yang meningkatkan penelitian siswa mengenai etika kepada guru. Pertama, siswa yang ingin belajar harus hati-hati memilih calon Pilihan harus dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan guru masa depan serta kelebihan dan kekurangannya. Dia dapat mengambil keputusan setelah pertimbangan matang dan shalat istikharah. Ia harus memilih guru-guru yang dikenal berwibawa dan penuh kasih sayang. Hendaknya ia tidak memilih guru yang berpengalaman tetapi tidak baik, tidak berkompeten atau tercela. Popularitas tidak mempengaruhinya karena ilmuwan yang cerdas tidak ingin menjadi terkenal. Sangat disarankan agar siswa memilih sebagai guru seorang ilmuwan yang telah banyak melakukan percakapan dengan ilmuwan lain dan memiliki hubungan yang luas dengan Kedua, hendaknya siswa mengikuti dan menaati gurunya seperti orang sakit yang mengikuti nasehat dokter. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mengambil keputusan dengan hati-hati. Jika guru melakukan kesalahan, kata al-Ghazali, maka siswa harus pasrah dan mengikuti . arena Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan kesalahan guru masih lebih bermanfaat dibandingkan kebenaran sisw. Ketiga, siswa harus menghormati gurunya dan percaya bahwa ilmunya lengkap. Orang yang menjadi ilmuwan terkenal tidak boleh berhenti menghormati gurunya. Keempat, hendaknya siswa memahami hak-hak guru terhadap dirinya, baik semasa hidup maupun setelah meninggal. Dia menghormati guru sepanjang hidupnya. Kelima, siswa memperlakukannya dengan kasar atau berakhlak buruk. Keenam, siswa hendaknya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada guru atas apa yang telah Oleh karena itu, dia akan tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus Ketujuh, diperkenankan mengunjungi guru tanpa izin, baik guru itu sendiri maupun bersama orang kecuali di tempat umum. Kedelapan. Anda harus duduk dengan sopan di depan Misalnya duduk bersila dengan tawadhu diam dan tenang, serta duduk sejauh mungkin menghadap guru. Anda juga harus memperhatikan apa yang dikatakan Kesembilan, berkomunikasi dengan guru dengan sopan dan bijaksana. Kesepuluh, ketika guru membicarakan suatu pertanyaan, cerita atau puisi yang telah dihafal siswa, hendaknya siswa mendengarkan dengan penuh perhatian seolah-olah mereka belum Kesebelas, kecuali guru memberikan kesempatan, siswa tidak boleh terburu-buru menjawab pertanyaan guru atau orang lain dalam rapat, meskipun mereka tahu seharusnya tidak melakukannya. Dari sebelas etika baik yang dipraktikkan dengan baik, seorang siswa adalah siswa yang taat kepada gurunya dan menjadi teladan bagi siswa lainnya. Selain Volume 5. Issue 2. Mei 2024 itu guru juga harus selalu membimbing siswanya dan memeriksa akhlaknya agar selalu menjadi siswa kebanggaan dan Guru tidak hanya sekedar berbicara, namun juga memberikan contoh nyata. Dengan cara ini hubungan antara guru dan siswa tetap terjaga dan tujuan pendidikan tercapai secara efektif dan efisien. (Bakah. Interkoneksi Pendidikan Akhlak Keteladanan adalah kunci utama dalam proses pembelajaran. Semua hal yang diajarkan oleh guru akan menjadi contoh bagi siswanya yang kemudian akan dipraktikan baik di sekolah, keluarga. Guru mewariskan secara kasat mata kepada siswa terkait aktivitas yang bisa menumbuhkan kepribadan muslim atau religius. Seperti melakukan internalisasi nilai adab dan akhlak, menggali ilmu adab dan akhlak secara mendalam, dan memberikan pengalaman secara langsung. Pengalaman tersebut bisa berupa pembiasaan yang diberikan oleh sekolah kepada siswa, misalnya tadarus sebelum memulai kegiatan, berjabat tangan jika akan masuk atau pulang sekolah, membaca Asmaul Husna setiap pagi, membaca doa pembuka dan penutup belajar, mengadakan sholat berjamaah secara wajib, mengadakan ekstrakurikuler keagamaan, memberikan contoh dari segi berpakaian, menerapkan 3S (Senyum, sapa, sala. , sering membantu orang lain, memuliakan orang lain, dan lain Dalam mendidik karakter yang terpenting adalah keteladanan. Hal itu akan secara inklusif masuk melalui pembiasaan dan penglihatan yang secara terus menerus. Keteladanan yang dimaksud bisa saja berupa teladan dalam aspek kognitif . epintaran aka. , afektif . encerminan sika. , dan Kompetensi Guru dalam Mendidik Murid di Indonesia (Tinjauan Normatif Berbasis Paradigma Ulama Timur . Oe Asiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan (Khadijah. Keteladanan dalam aspek kognitif bisa dicontohkan dengan guru memberikan contoh bagaimana cara giat belajar, atau menceritakan pengalaman belajarnya saat sekolah sehingga siswa tertarik untuk mengikutinya dan menjadi sukses, guru juga bisa memberi teladan lewat ketinggian pengetahuan yang dimiliki setiap mereka melakukan proses pembelajaran. Contoh untuk keteladanan afektif adalah dengan penerapan adab dan akhlak seorang guru mulai dari hal kecil sampai hal yang terlihat memotivasi banyak orang, misalnya rendah hati, sering senyum, tidak membedabedakan kasta dalam tenaga pendidikan, mau berkumpul dengan siapa saja, sering memberikan nasihat (Suharyat et al. , 2. Selanjutnya keteladanan dalam psikomotorik bisa dilakukan dengan kemampuan guru dalam berinteraksi di dalam kelas, mengikuti banyak kegiatan yang bisa menjadi contoh bagi siswa untuk mengasah kemampuan publik speakingnya, dan bisa juga dengan guru Sering menggunakan bahasa yang santun dan tepat dalam interaksi sehari-hari (Resky & Suharyat, 2. Arti dari guru sebagai Role model dalam pendidikan adalah guru yang paling berperan dalam perubahan sikap anak Pada dasarnya perilaku yang dimiliki oleh guru adalah siri kepribadian yang berkaitan dengan moralitas dan cerminan dari kualitas guru berbanding lurus dengan etika yang harus dimiliki (Bariroh & Akmal, 2. Sehingga guru yang memiliki karakter tersebut mampu mewujudkan perilaku yang diteladani oleh siswa. Melalui sikap dan tindakan yang ditunjukkan oleh guru dan dapat dicontoh oleh siswa itu bisa disebut guru sedang menggunakan model pembelajaran Role model bagi siswa . Role Volume 5. Issue 2. Mei 2024 model diartikan sebagai model peran atau yang paling berperan, dalam pendidikan yang menjadi figur model keteladanan adalah seorang guru dan jika berhasil menanamkan pada siswa itu akan dianggap pembelajaran yang sukses . Guru sebagai Role model artinya guru diikuti, ditiru, dan disukai segala tindakannya. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kompetensi guru dalam mendidik murid menurut paradigma ulama Timur sebagaimana dalam perspektif Al-Ghazali. Imam Nawawi dan Muhammad Amin alKurdi sangat penting. Etika guru menurut perspektif tasawuf menurut Imam al-Ghazali dan Syekh Muhammad Amin al-Kurdi bersifat etis religius. Guru sebagai role model memiliki peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku siswa dan kesuksesan guru sebagai role model dapat diukur dari sejauh mana siswa mencontoh perilaku guru dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu metode pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh padangan ulama timur dan barat memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan berfikir kritis murid. Figure guru dalam Islam kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan Islamic worldview, serta menekankan pentingnya interkoneksi pendidikan akhlak dalam proses pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA