http://journal. id/index. php/anterior Kesadaran Nasional Generasi Z: Menjaga Nasionalisme di Era Digital Generation Z National Awareness: Maintaining Nationalism in the Digital Era Merina1* Djono Abstrak *1Universitas Muhammadiyah PROF. DR. HAMKA *2Universitas Sebelas Maret *email: merina@uhamka. Kata Kunci: Kesadaran Nasional Generasi Z Nasionalisme Keywords: National consciousness Generation Z Nationalism Kesadaran nasional merupakan elemen penting dalam membentuk identitas dan integritas suatu bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, generasi Z merupakan kelompok yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an menghadapi tantangan unik dalam mempertahankan nilai-nilai Artikel ini bertujuan untuk membahas tantangan nyata kesadaran nasional yang dihadapi oleh Generasi Z di era digital, sekaligus menggali potensi dan peluang generasi ini dalam memperkuat kembali nasionalisme melalui cara-cara yang relevan dan kontekstual. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka, yaitu pengumpulan data dan informasi dari berbagai sumber, termasuk artikel ilmiah dan buku referensi. Pendekatan analisis deskriptif diterapkan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan data yang telah terkumpul, tanpa membuat kesimpulan definitif. Melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif, tulisan ini mengkaji bagaimana generasi Z cenderung lebih terbuka terhadap budaya global, mereka masih menunjukkan rasa cinta tanah air yang tinggi, terutama ketika dihadapkan pada isuisu yang menyangkut kedaulatan negara. Namun, pemahaman mereka tentang sejarah, ideologi bangsa, dan simbol-simbol negara masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang adaptif dan kreatif, khususnya melalui platform digital dan pendidikan formal, untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang relevan dengan karakteristik generasi ini. Abstract National consciousness is a vital element in shaping the identity and integrity of a nation. Amid the rapid flow of globalization and technological advancements. Generation Z those born between the mid-1990s and early 2010, faces unique challenges in upholding national This article aims to discuss the real challenges of national consciousness faced by Generation Z in the digital era, while also exploring their potential and opportunities to strengthen nationalism through relevant and contextual approaches. The methodology used in this research is a literature review, which involves collecting data and information from various sources, including academic articles and reference books. A descriptive analytical approach is applied to describe and present the gathered data without drawing definitive Through both qualitative and quantitative approaches, this paper examines how Generation Z tends to be more open to global culture, yet still demonstrates a strong sense of patriotism, especially when confronted with issues concerning national sovereignty. However, their understanding of history, national ideology, and national symbols remains limited and in need of improvement. Therefore, an adaptive and creative approach is requiredAiparticularly through digital platforms and formal education to instill national values that align with the unique characteristics of this generation. A2025 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). PENDAHULUAN Era digital telah mengubah wajah interaksi sosial, ekonomi, hingga budaya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam perubahan tersebut. Generasi Z, generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, berperan sebagai aktor utama. Mereka tumbuh di tengah kemajuan teknologi, globalisasi informasi, dan budaya lintas batas yang semakin mudah diakses (Chen & Ha, 2. Namun, di balik kecanggihan teknologi dan kemudahan konektivitas, muncul kekhawatiran terhadap merosotnya kesadaran nasional generasi ini. Kesadaran nasional, sebagai bagian dari identitas kolektif bangsa, tidak terbentuk secara otomatis. Ia harus dipupuk melalui pemahaman sejarah, penghargaan terhadap budaya lokal, serta keterlibatan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika Generasi Z lebih akrab dengan budaya Korea Selatan daripada lagu-lagu daerahnya sendiri (Fibrianto et al. , 2020. Santoso et al. , 2024. Youngsun et al. , 2. , atau lebih Merina dan Djono. Kesadaran Nasional Generasi Z: Menjaga Nasionalisme di Era Digital memahami budaya dan sistem politik luar dibandingkan Pancasila (Adelia Yusnita et al. , 2024. NurAoalam et al. , 2024. , muncul pertanyaan besar: apakah kita sedang kehilangan jati diri bangsa. Konsep kesadaran dalam dimensi pemahaman informasi merupakan keadaan di mana subjek mengetahui beberapa informasi Dimana informasi itu tersedia secara langsung untuk membawa ke arah berbagai tindakan perilaku subjek tersebut. Konsep kesadaran juga sering dikaitkan dengan perasaan terhadap suatu negara atau yang lebih kita kenal dengan istilah kesadaran nasional atau bentuk nasionalisme. Dimana nasional itu sendiri bisa diartikan sebagai kata sifat yang merujuk pada subjek yang dimiliki oleh suatu bangsa atau negara. Dalam esainya yang terkenal What is a Nation? . Renan berpendapat bahwa bangsa terbentuk bukan hanya dari kesamaan ras, bahasa, atau agama, tapi dari keinginan untuk hidup bersama dan adanya konsensus sejarah serta pengorbanan bersama. Sementara Smith menekankan pentingnya simbol-simbol budaya, mitos sejarah, dan tradisi bersama dalam membentuk kesadaran nasional. Bagi dia, nasionalisme modern tidak bisa lepas dari warisan etnik masa lalu. Kajian mengenai kesadaran nasional generasi Z sangatlah penting untuk dibahas, bahwasanya generasi Z tumbuh di era digital, globalisasi, dan perubahan sosial yang cepat yang berbeda dari generasi sebelumnya, maka bagaimana cara generasi Z membentuk dan mengekspresikan identitas kebangsaan punya nuansa yang unik dari pengalaman terhadap simbolsimbol budaya, mitos sejarah, dan tradisi bersama yang membentuk membentuk kesadaran nasional. METODOLOGI Kajian ini menggunakan metodologi studi pustaka. Kajian Pustaka merupakan metode menghimpun data dan informasi yang memiliki keterkaitan dengan topik atau permasalahan yang sedang diteliti (Purwono, 2. Data atau informasi didapatkan dengan pengumpulan berbagai sumber, antara lain melalui artikel dan buku referensi. Adapun berbagai sumber yang digunakan di dalam penelitian ini didapatkan dari artikel ilmiah . Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan, atau menggambarkan data yang telah terkumpul. Data dianalisis secara deskriptif melalui tiga tahap utama, yaitu pengumpulan data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. Ketiga tahap ini dilaksanakan secara terperinci dengan langkah-langkah seperti mereduksi data, menyajikan data . , menafsirkan temuan, menarik dan memverifikasi kesimpulan, meningkatkan validitas data, serta menyusun narasi hasil analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Tantangan Kesadaran Nasional di Era Digital Di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital yang masif. Indonesia menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan identitas kebangsaannya. Tantangan ini tidak datang dalam bentuk ancaman fisik, melainkan dalam bentuk yang jauh lebih halus: pergeseran nilai, perubahan pola pikir, dan erosi kesadaran nasional (Akhatova et al. , 2024. Chen & Ha, 2023. Syarifah & Kusuma, 2. , khususnya di kalangan Generasi Z. Generasi Z, kelompok yang lahir dan tumbuh di era digital, mewakili wajah masa depan Indonesia. Generasi ini memiliki sifat cerdas, adaptif, dan memiliki jangkauan informasi yang luas (Smith & Cawthon, 2. Namun ironisnya, kemudahan akses informasi justru menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, digitalisasi membuka peluang untuk belajar dan berkembang tanpa batas (Alenezi et al. , 2. Di sisi lain, ia juga memperkenalkan Generasi Z pada sistem nilai global yang tidak selalu selaras dengan nilai-nilai kebangsaan (Akhatova et al. , 2024. Chen & Ha, 2023. Syarifah & Kusuma. Ketika identitas global menjadi tren, identitas nasional perlahan hanya menjadi latar belakang, tapi tidak lagi menjadi pusat perhatian. Survey yang dilakukan oleh Populix . juga menunjukan bagaimana semangat nasionalisme anak muda di Indonesia menurun. Dalam survey, data mengungkapkan bahwa sekitar 65% responden di Indonesia merasakan penurunan semangat nasionalisme. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, juga mengakui hal yang sama. Penurunan semangat nasionalisme ini terutama disebabkan oleh pengaruh media sosial, sebagaimana disebutkan oleh 71% dari responden. Selain media sosial, faktor lain yang juga berkontribusi adalah pengaruh globalisasi . %) dan nilai budaya asing . %). Temuan ini juga selaras dengan beberapa temuan empiris yang telah dilakukan bagaimana sosial media, globalisasi serta budaya asing mempengaruhi nasionalisme . Chen & Ha, 2023. Mustopa et al. , 2024. NurAoalam et al. Ramdhani, n. Syarifah & Kusuma, 2. Dengan maraknya penggunaan media sosial, penting bagi pendidikan untuk mengajarkan cara menyaring informasi dan memahami konteks budaya secara kritis. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat juga diperlukan untuk menyusun program-program yang mendukung penguatan identitas nasional. Anterior Jurnal. Volume 24 Issue II. Mei 2025. Page 115 Ae 119 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Peran Pendidikan Pendidikan memainkan peran vital dalam membentuk kesadaran nasional dan identitas kebangsaan Generasi Z di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Generasi ini, yang tumbuh dalam era informasi tanpa batas, menghadapi tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai kebangsaan yang dapat tergerus oleh budaya asing dan individualisme. Menurut Rafif dan Najicha . , pemahaman terhadap Wawasan Nusantara sangat penting untuk menumbuhkan rasa nasionalisme di kalangan Generasi Z. Penanaman nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan formal dapat menjadi benteng terhadap pengaruh negatif globalisasi yang dapat melemahkan identitas nasional. Pendekatan pembelajaran yang interaktif dan kontekstual juga terbukti efektif dalam meningkatkan pemahamanN siswa terhadap nilai-nilai kebangsaan. Kusumawardana et al. mengembangkan media Pembelajaran yang interaktif untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya nilai-nilai kebangsaan, seperti persatuan, toleransi, dan tanggung jawab sebagai warga negara. Media ini dirancang sesuai dengan karakteristik siswa dan menyajikan materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan. Selain itu, penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran juga dapat menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilainilai kebangsaan. Media pembelajaran inovatif seperti Wordwall (Syahruroji, 2. , dan Kahoot (Ash Shodiq & Prastowo. Sulistiawati Sulistiawati et al. , 2. dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan membuat pembelajaran sejarah lebih menarik. Dengan memanfaatkan teknologi yang akrab bagi Generasi Z, pembelajaran dapat lebih mudah diterima dan diinternalisasi oleh siswa. Namun, tantangan tetap ada dalam upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada Generasi Z. Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi dapat mempengaruhi pola pikir dan nilai-nilai yang dianut oleh generasi muda. Oleh karena itu, pembelajaran sejarah harus terus berinovasi dan menyesuaikan metode pembelajarannya agar tetap relevan dan efektif dalam membentuk karakter kebangsaan Generasi Z. Dengan demikian, pembelajaran sejarah yang dirancang secara interaktif, kontekstual, dan memanfaatkan teknologi dapat menjadi strategi efektif dalam membentuk kesadaran nasional dan identitas kebangsaan Generasi Z. Melalui pendekatan ini, diharapkan generasi muda Indonesia dapat menjadi warga negara yang memiliki rasa cinta tanah air, memahami nilai-nilai Pancasila, dan mampu menghadapi tantangan globalisasi dengan tetap menjaga identitas nasionalnya. Strategi Penguatan Kesadaran Nasional Untuk memperkuat kesadaran nasional di kalangan Generasi Z, diperlukan strategi yang komprehensif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain: Pengembangan Konten Digital yang Edukatif Menciptakan konten-konten digital yang menarik dan edukatif tentang budaya dan sejarah Indonesia dapat meningkatkan minat Generasi Z terhadap nilai-nilai kebangsaan. Misalnya, melalui video pendek, infografis, atau podcast yang membahas sejarah, budaya, dan nilai-nilai nasionalisme dengan cara yang relevan dan menarik bagi generasi muda. Pendekatan ini dapat memanfaatkan platform media sosial yang populer di kalangan Generasi Z, seperti Instagram. TikTok, dan YouTube. Dengan demikian, penyebaran informasi tentang nilai-nilai kebangsaan dapat dilakukan secara luas dan efektif. Pelibatan Generasi Z dalam Kegiatan Budaya Mendorong partisipasi aktif Generasi Z dalam kegiatan budaya lokal dapat memperkuat identitas nasional Kegiatan seperti festival budaya, pameran seni, dan workshop tradisional dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai warisan budaya bangsa. Selain itu, keterlibatan dalam kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas nasional dan memperkuat rasa kebersamaan di antara sesama warga Peningkatan Literasi Digital Meningkatkan kemampuan Generasi Z dalam menyaring informasi dan memahami konteks budaya dapat membantu mereka menghadapi arus informasi global dengan bijak. Program literasi digital yang dirancang khusus untuk generasi muda dapat membekali mereka dengan keterampilan kritis dalam menilai informasi yang mereka terima melalui berbagai media. Dengan literasi digital yang baik. Generasi Z dapat menjadi konsumen informasi yang cerdas dan bertanggung jawab, serta mampu mempertahankan nilai-nilai kebangsaan di tengah derasnya arus informasi Kolaborasi antara Pemerintah. Lembaga Pendidikan, dan Masyarakat Kerjasama antara berbagai pihak dalam menyusun dan melaksanakan program-program yang mendukung penguatan identitas nasional sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal. Pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan sumber daya yang mendukung, lembaga pendidikan dapat mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dalam Merina dan Djono. Kesadaran Nasional Generasi Z: Menjaga Nasionalisme di Era Digital kurikulum, dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pengembangan identitas nasional. Kolaborasi ini memastikan bahwa upaya penguatan kesadaran nasional dilakukan secara holistik dan berkelanjutan Pembelajaran sejarah dalam upaya peningkatan nasionalisme Pembelajaran sejarah sebaiknya tidak hanya berfokus pada penghafalan peristiwa-peristiwa masa lalu, tetapi juga menekankan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Misalnya, dari peristiwa penjajahan, siswa dapat memahami pentingnya semangat perjuangan, persatuan, dan pengorbanan dalam merebut kemerdekaan. Pendekatan ini membantu Generasi Z mengaitkan sejarah dengan konteks kehidupan mereka saat ini, sehingga nilai-nilai kebangsaan dapat diinternalisasi secara lebih mendalam. Misalnya, peristiwa Kongres Pemuda 1926Ae1928 mengandung nilai-nilai seperti persatuan, semangat kebangsaan, dan gotong royong, yang dapat ditanamkan kepada generasi muda melalui pembelajaran Sejarah (Dwi Putri Rachmawati, 2. Dengan memahami makna di balik peristiwa sejarah, siswa tidak hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu penting bagi identitas nasional mereka. Untuk itu, guru sejarah perlu mengembangkan metode pengajaran yang menekankan pada pemahaman nilai-nilai tersebut, seperti diskusi reflektif, studi kasus, dan proyek berbasis komunitas. Dengan demikian, pembelajaran sejarah dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter dan memperkuat rasa nasionalisme di kalangan Generasi Z. KESIMPULAN Di tengah arus globalisasi dan transformasi digital yang kian masif, kesadaran nasional Generasi Z Indonesia menghadapi tantangan serius. Pengaruh media sosial, budaya asing, dan nilai-nilai global turut menggeser fokus generasi muda dari identitas nasional ke identitas global. Penurunan semangat nasionalisme yang tercermin dalam berbagai survei menandakan pentingnya perhatian terhadap cara membina rasa cinta tanah air dalam konteks digital. Oleh karena itu, pendidikan memegang peran sentral sebagai benteng pertahanan terakhir dalam menjaga dan membentuk kesadaran Pendekatan pembelajaran yang interaktif, kontekstual, dan berbasis teknologi terbukti dapat menjadi strategi efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan pada Generasi Z. Untuk memperkuat kesadaran nasional, strategi yang digunakan harus menyeluruh dan relevan dengan karakteristik generasi muda masa kini. Pengembangan konten digital yang edukatif, pelibatan aktif dalam kegiatan budaya, peningkatan literasi digital, serta kolaborasi antar berbagai pihak menjadi langkah konkret yang dapat ditempuh. Selain itu, pembelajaran sejarah perlu didesain ulang dengan pendekatan yang lebih reflektif dan kontekstual agar mampu menanamkan nilai-nilai luhur yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan strategi-strategi ini, diharapkan Generasi Z tidak hanya menjadi generasi yang cakap digital, tetapi juga generasi yang bangga dan sadar akan identitas nasionalnya. REFERENSI