MAHSEER: Vol 6 No 2 Juli 2024 34-42 e-ISSN: 2809-8234. p-ISSN : 2809-8374 Received 03 Januari 2023 / Revised 26 Januari 2023 / Accepted 30 Januari 2023 Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan https://jurnal. id/index. php/mahseer PEMANFAATAN CACING TANAH (Lumbricus rubellu. PADA PENDEDERAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus, von Martens 1. DENGAN SISTEM RESIRKULASI [Utilization of Earthworms (Lumbricus rubellu. in the Nursery of Freshwater Lobster (Cherax quadricarinatus, von Martens 1. with a Recirculation Syste. Indah Permatasari1. Nurhatijah 1A. Ahmad Fauzi1 Rossy Azhar 2. Nuraida2. MuAoamar Abdan3 1Politeknik Indonesia Venezuela. Aceh Besar. Aceh. Indonesia 2Fakultas Pertanian. Universitas Almuslim. Bireuen. Aceh. Indonesia 3Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Gajah Putih. Aceh Tengah. Aceh. Indonesia Email: Nurkhatijah. Poliven2@gmail. ABSTRAK Sistem resirkulasi merupakan budidaya intensif yang merupakan alternatif menarik untuk menggantikan sistem ekstensif, bagi lobster. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pemanfaatan cacing tanah (Lumbricus rubellu. pada pendederan lobster air tawar (Cherax quadricarinatu. dengan sistem resirkulasi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium pembenihan Program Studi Teknologi Produksi Benih dan Pakan Ikan Politeknik Indonesia Venezuela pada Oktober - November 2023. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) nonfaktorial yang terdiri dari 4 perlakuan yaitu A . B . % dari biomass. C . % dari biomass. dan D . % dari biomass. dan 4 ulangan pada setiap perlakuan. Hasil pengukuran selama penelitian menghasilkan nilai rata-rata dari pertumbuhan bobot mutlak lobster nilai tertinggi terdapat pada perlakuan D . %), yakni sebesar 12,0 g, sedangkan berat terendah pada perlakuan A . yakni sebesar 1,2 g. Pertumbuhan panjang mutlak (PM) perlakuan tertinggi diproleh pada perlakuan D . %) dengan nilai sebesar 4,5 cm dan terendahnya pada perlakuan A . dengan nilai pertumbuhan 0,7 cm. Rasio konversi pakan (FCR) nilai tertinggi yaitu Perlakuan B . %) dengan nilai rataratanya mencapai 2,57. Sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan D . %) nilai rata-ratanya mencapai 1,63. Nilai frekuensi molting tertinggi terdapat pada perlakuan D . %) dan nilai terendah terdapat pada perlakuan A (Kontro. dan B . %). Dari hasil uji ANOVA, menunjukkan penelitian ini sangat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak, panjang mutlak, rasio konversi pakan (FCR) dan frekuensi molting lobster. Hasil uji lanjut juga menegaskan bahwa perlakuan D berbeda nyata pada parameter Berat mutlak, panjang mutlak. FCR dan Frequency moulting, sedangakan pada parameter Kelangsungan hidup tidak menunjukkan perbedaan. Kata Penting : Pertumbuhan. Cacing Tanah. Lobster Air Tawar. Pakan. Resirkulasi ABSTRACT The recirculation system is an intensive culture method that is an attractive alternative to the extensive system for crayfish. This study aims to analyze the utilization of earthworms (Lumbricus rubellu. in crayfish (Cherax quadricarinatu. breeding with a recirculation system. The research was conducted at the Hatchery Laboratory of the Fish Seed and Feed Production Technology Study Program of the Polytechnic Indonesia Venezuela from October to November 2023. The experimental design used was a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments: A . B . % of biomas. C . % of biomas. , and D . % of biomas. , with four replicates for each treatment. The results of measurements during the study showed that the highest average value of absolute weight growth of lobsters was in treatment D . %), which amounted to 12. 0 g, while the lowest weight was in Permatasari et al. Pemanfaatan Cacing Tanah (Lumbricus rubellu. Pada Pendederan Lobster Air Tawar ( Cherax quadricarinatus, von Martens 1. Dengan Sistem Resirkulasi treatment A . , which amounted to 1. 2 g. The highest absolute length growth was also observed in treatment D . %), with a value of 4. 5 cm, and the lowest in treatment A . , with a growth value of 0. 7 cm. The highest feed conversion ratio was found in treatment B . %), with an average value of 2. 57, while the lowest value was in treatment D . %), with an average value of 1. The highest molting frequency was observed in treatment D . %), and the lowest values were in treatments A . and B . %). The ANOVA test results showed that this study had a significant effect on the growth of absolute weight, absolute length, feed conversion ratio, and molting frequency of the lobsters. The results of DuncanAos tests also confirmed that treatment D was significantly different in the parameters of absolute weight, absolute length. FCR and moulting frequency, while the survival parameters showed no difference. Keywords: Growth. Earthworms. Freshwater Crayfish. Feed. Recirculation PENDAHULUAN Lobster air tawar di Indonesia banyak ditemukan di danau, rawa dan sungai sekitar pegunungan. Keberadaan lobster air tawar di Indonesia dapat dikatakan suatu yang baru, khususnya lobster jenis Cherax quadricarinatus atau biasa disebut dengan red claw. Lobster air tawar jenis C. quadicarinatus, red claw atau lobster capit merah merupakan komoditas yang diintroduksi dari Australia (Patoka et Lobster ini memiliki beberapa bereproduksi dan beradaptasi, serta secara teknis mudah dibudidayakan dengan harga yang relatif tinggi. Australia telah membudidayakan dan mengekspor Cherax ke berbagai negara dalam 20 tahun terakhir. Berdasarkan data dari statistik. id, pada tahun 2020 terdapat 12 provinsi di Indonesia yang memproduksi lobster dengan total produksi sebesar 206,7 ton. Volume terbesar dihasilkan oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan 68,01 ton. Namun, di Aceh, total produksi hanya mencapai 1,87 ton. Keberadaan Cherax di Aceh masih tergolong langka, baik dalam kegiatan budidaya maupun aktivitas konsumsinya. Peluang lobster air tawar sebagai komoditas perikanan semakin terbuka popularitasnya di kalangan pembudidaya dan konsumen. Lobster air tawar memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan komoditas perikanan lainnya yang sudah ada (Takril, 2. Namun demikian, keberadaan lobster air tawar di Indonesia belum banyak dikenal oleh masyarakat. Bahkan, sebagian masyarakat beranggapan bahwa lobster jenis ini hanya dapat diperoleh dari tangkapan alam (Budi et al. Habitat alami yang ditempati lobster air tawar harus dilengkapi dengan tumbuhan air atau tumbuhan darat yang memiliki akar atau batang terendam air dan daunnya berada di atas permukaan air. Beberapa spesies lobster air tawar hidup dengan suhu air minimum 80AC, meskipun banyak spesies dapat hidup pada suhu air 26-37AC. Wiyanto dan Hartono . menjelaskan bahwa lobster air tawar umumnya aktif mencari makan pada malam hari . dan termasuk jenis pemakan segalanya . Keberhasilan budidaya lobster air tawar sangat tergantung pada pakan. Pakan merupakan bagian yang sangat penting karena menempati 60-70% dari total biaya produksi (Lukito, 2. Ketersediaan pakan dalam jumlah yang cukup sangat dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan lobster air tawar. Salah satu alternatif untuk menekan biaya produksi adalah dengan memanfaatkan pakan alami seperti cacing Penggunaan cacing tanah (Lumbricus rubellu. yang memiliki kadar protein sekitar 76% dapat digunakan sebagai suplemen yang dicampur pada pakan komersial (Istiqomah et al. , 2. Cacing pertahanan tubuh alami lobster, tetapi juga mampu merangsang pertumbuhan dengan menggantikan sel-sel tubuh yang rusak dan meningkatkan nafsu makan. Jurnal MAHSEER. Vol 6 No 2 Juli 2024 hal 34-42 Dengan menggunakan teknologi Sistem Akuakultur Resirkulasi, ikan yang dibudidayakan akan lebih sehat dan kadar sirkulasi makanan . ood circulation rat. perikanan konvensional seperti dalam kolam lainnya. Kepadatan ikan dalam Sistem Akuakultur Resirkulasi dapat mencapai 0,350 kg/liter atau lebih, sedangkan dalam kolam biasanya hanya sekitar 0,0015 kg/liter (Fadhil et al. , 2. Sistem resirkulasi adalah salah satu alternatif untuk menjaga kualitas air, dengan memanfaatkan kembali air yang sudah digunakan melalui proses pemutaran air secara terus-menerus sehingga hemat air (Djokosetiyanto et al. , 2. Air yang telah digunakan untuk budidaya lobster air tawar dan mengalami penurunan kualitas, dapat digunakan kembali setelah melalui proses filtrasi. Dalam Sistem Akuakultur Resirkulasi juga dikenal sebagai Auwater re-use system. Ay Sistem ini merupakan teknik budidaya yang relatif baru dan unik dalam industri perikanan. Beberapa kelebihan sistem ini antara lain penggunaan air yang lebih hemat, lebih higienis, dan kebutuhan lahan yang lebih efisien. METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober-November Laboratorium Basah Program Studi Teknologi Produksi Benih dan Pakan Ikan. Politeknik Indonesia Venezuela. Desa Cot Suruy. Kecamatan Ingin Jaya. Kabupaten Aceh Besar. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain baskom, aerator/pompa air, penggaris, gergaji pipa, lem pipa, solder, lobster air tawar, cacing tanah, dan pelet. Rancangan Penelitian Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, masing-masing dengan 4 Pemberian cacing tanah sebagai pakan lobster air tawar dilakukan sebagai o Pemberian cacing tanah sebanyak 0 g . o Pemberian cacing tanah dengan dosis 10% dari biomassa o Pemberian cacing tanah dengan dosis 15% dari biomassa o Pemberian cacing tanah dengan dosis 20% dari biomassa Persiapan Air Air yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah air dari sumur gali yang dinaikkan melalui pompa, ditampung dalam bak penampungan, kemudian mengendapkan kotoran-kotoran serta zatzat berbahaya dalam air, kemudian dimasukkan kedalam wadah uji dan diaerasi selama 1 hari. Persiapan Lobster Uji Lobster yang digunakan pada penelitian ini berukuran kurang lebi 6-8 cm dan berumur 3-5 bulan. dimasukkan ke wadah uji, lobster diseleksi dan ditimbang perwadah untuk mengetahui berat awal dan panjang awal. Persiapan Wadah Uji Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan lobster air tawar adalah ember berdiameter 40 cm sebanyak 16 unit yang diisi air masing masing dengan tinggi 10 cm atau sama dengan 12 liter air. Ember disusun dalam sistem resirkulasi dan lobster air tawar ditebar pada masingmasing baskom 4 ekor. Persiapan Pakan Uji Cacing yang digunakan sebagai bahan penelitian dipotong-potong terlebih dahulu hingga ukuran sesuai bukaan mulut Selanjutnya di cuci menggunakan air bersih agar tidak membawa kotoran Permatasari et al. Pemanfaatan Cacing Tanah (Lumbricus rubellu. Pada Pendederan Lobster Air Tawar ( Cherax quadricarinatus, von Martens 1. Dengan Sistem Resirkulasi yang dapat membahayakan lobster. Pakan alami tersebut diberikan tiga kali dalam sehari yaitu pagi, siang dan malam. FM = Frekuensi molting . ali/eko. JYM = Jumlah yang molting . JUG = Jumlah lobster . Parameter penelitian Paremeter penelitian yang diukur Bobot Mutlak menggunakan rumus Effendi . Wm = Wt Ae Wo Keterangan: Wm = Pertumbuhan bobot mutlak . Wt = Bobot pada akhir penelitian . Wo = Bobot awal penelitian. Analisis data Data hasil penelitian yang diperoleh kemudian akan ditabulasi dan dianalisis. Analisis yang dilakukan meliputi Analisis Varian (ANOVA) dengan uji F pada selang kepercayaan 95%. Analisis ini digunakan untuk menentukan apakah penambahan cacing tanah pada pakan berpengaruh terhadap pendederan lobster air tawar. Selanjutnya dilakukan uji lanjut Duncan untuk melihat perbedaan antar perlakuan. Panjang Mutlak menggunakan rumus Effendi . Lm = Lt Ae Lo Keterangan: Lm = Pertumbuhan panjang mutlak . Lt = Panjang rata-rata akhir penelitian . Lo = Panjang rata-rata awal penelitian . HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot Mutlak Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan selama 30 hari, berat rata-rata lobster meningkat. Kelangsungan Hidup (Survival Rat. Keterangan: SR = Kelangsungan Hidup (%) Nt = Padat Tebar Akhir No = Padat Tebar Awal Rasio Konversi Pakan (Feed Conversion Rati. FCR = Keterangan: FCR = Food convertion ratio Wo = Bobot hewan uji pada awal penelitian Wt = Bobot hewan uji pada akhir penelitian D = Jumlah ikan yang mati F = Jumlah pakan yang dikonsumsi Frekuensi Molting. Keterangan: FM = JYM/JUG Gambar 1. Bobot mutlak lobster air tawar Berdasarkan Gambar 1, bobot mutlak tertinggi terdapat pada penambahan cacing tanah (L. sebanyak 20% dari biomassa, yaitu sebesar 12 g, sedangkan bobot terendah pada perlakuan A . yaitu sebesar 1,2 g. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian cacing tanah dengan dosis memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,. terhadap pertumbuhan bobot mutlak (PM) lobster air tawar. Hasil uji Duncan perlakuan D berbeda dengan perlakuan A. Jurnal MAHSEER. Vol 6 No 2 Juli 2024 hal 34-42 B, dan C. sedangkan perlakuan B tidak berbeda dengan peralukan C dan A . Setiawati . menyatakan bahwa jumlah protein akan mempengaruhi tingkat Selain itu, dalam budidaya lobster, salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan kebutuhan pakan, baik secara kuantitas maupun kualitas (Hastuti, 2. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan nutrisi pada pakan mampu dikonversi menjadi energi oleh lobster air tawar seiring dengan bertambahnya bobot mutlak lobster Panjang Mutlak Panjang total lobster air tawar tertinggi terdapat pada perlakuan D . %) dengan tingkat pertumbuhan panjang total sebesar 4,5 cm. Kemudian, berdasarkan analisis ragam ANOVA untuk pertumbuhan panjang mutlak (PM) dengan pemberian cacing tanah dengan dosis berbeda, terdapat pengaruh yang sangat nyata (P<0,. terhadap pendederan lobster air Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan perlakuan D berbeda perlauan lainnya . Hal ini diduga karena kandungan protein dalam cacing tanah mencapai 76%. Menurut Sadiyah . , cacing tanah (L. dikembangkan sebagai pakan karena kandungan gizinya cukup tinggi, yaitu protein 64-76%. lemak 7-10%. 0,55%. fosfor 1%. dan serat kasar 1,08%. Kandungan pertumbuhan ikan atau lobster dengan Tingkat pertumbuhan panjang mutlak terendah terdapat pada perlakuan A . dengan total pertumbuhan 0,7 cm. Zaky et al. menyatakan bahwa pertambahan panjang tubuh mutlak diperoleh dari selisih panjang tubuh pada akhir dan awal penelitian. Gambar 2. Panjang mutlak Kelangsungan Hidup Kelangsungan hidup merupakan organisme awal saat penebaran dengan organisme yang masih hidup selama pemeliharaan, dinyatakan dalam bentuk Semakin besar nilai persentase menunjukkan semakin banyak organisme yang hidup selama pemeliharaan. Selama 30 hari penelitian, kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan D . %) dengan nilai 87,5%. Berdasarkan hasil uji ANOVA untuk survival rate (SR) pada pemberian cacing tanah dengan dosis yang berbeda, tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup lobster air tawar. Uji lanjut juga menunjukan tdidak ada perbedaan antar perlakuan . Taufiq et al. mengatakan bahwa protein yang umumnya diperlukan oleh lobster air tawar adalah 20-40% dari seluruh nilai gizi pakan. Djunaidah et al. menyatakan bahwa salah satu parameter keberhasilan kegiatan budidaya adalah survival rate (SR). Andrila et al. kelangsungan hidup lebih dari 50% termasuk golongan baik, 30-50% termasuk golongan sedang, dan kurang dari 30% dinyatakan tidak baik. Kelangsungan hidup terendah terdapat pada perlakuan B . %) dan C . %) dengan nilai 67,75%. Hal ini diduga karena adanya kanibalisme dari lobster uji pada kedua perlakuan tersebut. Hastuti . juga menyatakan bahwa Permatasari et al. Pemanfaatan Cacing Tanah (Lumbricus rubellu. Pada Pendederan Lobster Air Tawar ( Cherax quadricarinatus, von Martens 1. Dengan Sistem Resirkulasi tingkat kelangsungan hidup lobster air tawar dipengaruhi oleh tingkat kanibalisme pada setiap individu saat proses moulting. Gambar 3. Kelangsungan Hidup Dengan pemberian jumlah pakan yang sama, akan memberikan pertambahan berat tubuh yang lebih tinggi (Sulawesty et al. Faiz et al. menyatakan bahwa nilai rasio konversi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kepadatan, berat setiap individu, umur kelompok hewan, suhu air, dan cara pemberian pakan . ualitas, jumlah, dan frekuensi pemberian Pramudiyas . menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi nilai konversi pakan yang tinggi adalah kualitas pakan yang kurang Kualitas pakan dipengaruhi oleh daya cerna ikan terhadap pakan. Tabel 1. Hasil uji lanjut BM. PM. KH. FCR dan FM Perl BM . KH (%) FCR 1,17A 0,28c 2,22A 1,57cb 4,30A 3,41b 11,95A 0,32a 0,67A 0,150b 1,07A 0,722b 1,32A 0,888b 4,52 A 0,250a 75,00A 20,41a 68,75A 47,32a 68,75A 47,32a 87,50A 14,43a 2,49A 0,76a 2,57A 0,56a 2,20A 0,36ab 1,64A 0,59b 0,075 A 0,150b 0,075 A 0,150b 0,150 A 0,173b 0,40 A 0,115ba Keterangan : BM : Berat Mutlak. PM: Panjang Muttlak. KH: Kelangsungan Hidup. FCR: Feed Convertion Ratio. FM : Fequency Moulting Rasio Konversi Pakan (FCR) Nilai konversi pakan paling rendah terdapat pada perlakuan D . %) dengan nilai 1,63, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan B . %) dengan nilai 2,57 . Hasil uji ANOVA rata-rata rasio konversi pakan lobster air tawar (C. quadricarinatus menunjukkan berpengaruh nyata (P<0,. Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan perlakuan D tidak berbeda nyata dengan perlakuan C, namun berbeda nyata dengan perlakuan A dan B. perlakuan C tidak berbeda nyata dengan perlakuan A dan B. AS et al. menyatakan bawa semakin rendah nilai konversi pakan, maka semakin baik kualitas pakan tersebut. Gambar 4. Rasio konversi pakan Frekuensi Moulting Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata frekuensi molting lobster selama 30 hari. Nilai frekuensi molting tertinggi terdapat pada perlakuan D . enambahan cacing tanah 20% dari biomass. dengan nilai 0,38% . Hal ini juga diikuti oleh tingginya bobot dan panjang lobster pada perlakuan D . %). Frekuensi molting terendah terdapat pada perlakuan A . dan B . enambahan cacing tanah 10% dari biomass. dengan nilai 0,6%. Jurnal MAHSEER. Vol 6 No 2 Juli 2024 hal 34-42 Gambar 5. Frekuensi moulting Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa frekuensi molting berpengaruh nyata (P<0,. Hasil uji lanjut Duncan menjelaskan bahwa perlakuan D berbeda nyata dengan perlakuan A,B dan C. Peran molting sangat penting dalam pertumbuhan lobster air tawar karena lobster hanya bisa tumbuh melalui proses ini (Hakim et al. , 2. Semakin sering pertumbuhannya juga akan semakin baik. Proses ganti kulit lobster bergantung pada umur dan makanan (Rihardi et al. , 2. Masykur et al. menyatakan bahwa dipengaruhi oleh pakan yang diberikan. Semakin banyak dan bergizi pakan yang dikonsumsi oleh lobster, semakin pesat pertumbuhannya dan semakin sering pergantian cangkang terjadi. Integrasi DAFTAR PUSTAKA