Jurnal Abdimas Prakasa Dakara https://doi. org/10. 37640/japd. e-ISSN 2776-768X Implementasi Dukungan Psikososial. Literasi dan Numerasi untuk Siswa Korban Gempa Bumi di Kabupaten Cianjur Ari Septian1*. Aprilla Adawiyah2. Aan Hasanah2. Nia Jusniani1. Tasya Allifa Khaerunisa1. Dinda Zahrotun Nisa1. Dita Yuana1. Elsa Adetia1. Fatimah Febrianti Mustopa1. Mutia Dyaning Tyas1. Nopita Palwa1. Rahmathunnisa Fauzyah1. Dede Devi1. Zubair Ahmad1 Pendidikan Matematika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Suryakancana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Suryakancana *ariseptian@unsur. Abstrak Gempa bumi yang melanda Kabupaten Cianjur pada tanggal 21 November 2022 menyebabkan korban jiwa juga kerugian materi. Kerusakan yang ada pada fasilitas pendidikan mau tidak mau membuat pendidikan anak menjadi terganggu. Perlu adanya kerja sama dari semua pihak agar bencana yang terjadi dapat ditangani dengan baik. Mahasiswa memiliki peran membantu sekolah-sekolah darurat dalam memberikan pengajaran kepada anak-anak yang terdampak bencana. Pemberian pengajaran ini dilakukan baik dalam memberikan materi pembelajaran sebagaimana anak dapatkan di sekolah maupun dalam hal terkait psikososial anak. Metode menggunakan pendekatan dukungan psikososial. Sasarannya yaitu siswa SD Negeri Giriharja dan SD Negeri Sukmajayana di Kabupaten Cianjur. Pelaksana kegiatan ini yaitu dosen dan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Suryakacana Cianjur. Hasilnya yaitu Sudah ada perubahan dari segi psikososialnya yaitu anak-anak sudah mulai dalam kondisi normal dan minat belajarnya sudah mulai baik. Namun, hasil dari kegiatan literasi numerasi masih belum maksimal karena kondisi gempa dan sarana prasarana yang belum menunjang dengan baik. Kata kunci: gempa bumi, literasi numerasi, psikososial. Dikirim: 22 Maret 2023 Direvisi: 14 April 2023 Diterima: 17 April 2023 PENDAHULUAN Gempa bumi yang melanda Kabupaten Cianjur pada tanggal 21 November 2022 menyebabkan korban jiwa juga kerugian materi. Sebanyak 602 jiwa meninggal dunia, 8 jiwa dalam pencarian, 593 jiwa luka berat, dan 114. 683 jiwa mengungsi. Ada 16 kecamatan yang terdampak gempa bumi ini dengan rincian 169 desa Di samping itu, kerugian material yang ditimbulkan akibat gempa ini diantaranya ialah sebanyak 56. 548 rumah rusak, 18 fasilitas kesehatan rusak, 18 kantor dan gedung rusak, 281 tempat ibadah rusak, dan 544 fasilitas pendidikan Kerusakan yang ada pada fasilitas pendidikan tersebut mau tidak mau membuat pendidikan anak menjadi terganggu. Hal ini terjadi karena tidak tersedianya tempat agar anak dapat belajar secara kondusif. Dampak yang diakibatkan dari kerusakan fasilitas pendidikan ini adalah mengacu pada motivasi belajar dan hasil belajar yang rendah (Nurhayati, 2. Pada umumnya, anak yang menjadi korban bencana melakukan kegiatan pembelajaran di tenda darurat Content from this work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 0 International License. Implementasi Dukungan Psikososial. Literasi dan A | 52 dengan luas yang terbatas dan perlengkapan seadanya sehingga menyebabkan kondisi dan situasi belajar menjadi tidak nyaman (Rusvidianti & Indrojarwo. Kondisi dan situasi belajar yang tidak nyaman itu berdampak pada berkurangnya konsentrasi anak. Kondisi dan situasi belajar yang tidak nyaman juga dapat berpengaruh pada keinginan anak untuk belajar. Rusaknya fasilitas menyebabkan berubahnya kesan pada lingkungan sekolah. Sehingga, motivasi anak untuk belajar pun berkurang yang selanjutnya berpengaruh pula pada hasil belajar anak. Dampak gempa tidak hanya tentang kerugian fisik dan materiil, tetapi juga dampak psikologis para korban yang selamat terutama anak-anak yang berorientasi mengalami tekanan yang lebih tinggi daripada orang dewasa (Setiawan dkk. , 2. Tekanan ini diakibatkan karena adanya rasa takut akan kejadian gempa yang telah terjadi maupun takut akan gempa yang akan terjadi. Rasa takut ini kemudian menyebabkan depresi dan trauma pada anak. Gangguan stres pascatrauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dapat terjadi akibat kegagalan untuk pulih setelah mengalami peristiwa gempa tersebut. Perlu adanya tindakan preventif dan antisipatif dalam mengelola bencana gempa bumi seperti memperkenalkan mitigasi bencana pada anak usia sekolah. Penanggulangan bencana akan berhasil dengan baik jika semua menyadari risiko bencana yang ada serta memiliki kemampuan untuk mengantisipasi bencana atau yang lebih dikenal dengan kesiapsiagaan terhadap bencana baik untuk pra bencana, bencana, dan pascabencana (Tahir dkk. , 2. Pendidikan kebencanaan menjadi penentu dalam pengurangan resiko bencana dengan tujuan untuk memberikan gambaran dan acuan dalam proses pembelajaran siaga bencana sehingga mampu bepikir dan bertindak cepat, tepat, dan akurat saat menghadapi bencana (Simandalahi dkk. , 2. Penanggulangan pascabencana menjadi salah satu tindakan yang penting dilakukan setelah terjadinya bencana. Peran Dosen dan Mahasiswa sebagai Relawan Mengajar Peran dosen dan mahasiswa sebagai pelopor bagi masyarakat salah satunya terimplementasi sebagai relawan mengajar. Hal ini dilakukan oleh mahasiswa yaitu dalam melakukan penanganan pascabencana gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Cianjur. Penanganan pascabencana merupakan kegiatan yang membutuhkan dana, tenaga, waktu dan pikiran yang besar (Sakban. Maemunah, & Hafsah, 2. Oleh sebab itu, perlu adanya kerja sama dari semua pihak agar bencana yang terjadi dapat ditangani dengan baik. Masyarakat memiliki peran serta dalam pendidikan sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan yang meliputi peran sertanya dalam perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, maupun organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan (Siswatibudi, 2. Mahasiswa sebagai pelajar di jenjang perguruan tinggi tentunya berpegang teguh pada tridarma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan mahasiswa sebagai relawan mengajar ini merujuk pada kegiatan pengabdian kepada Mahasiswa memiliki peran membantu sekolah-sekolah darurat dalam memberikan pengajaran kepada anak-anak yang terdampak bencana. Pemberian 53 | Septian dkk. pengajaran ini dilakukan baik dalam memberikan materi pembelajaran sebagaimana anak dapatkan di sekolah maupun dalam hal terkait psikososial anak. Literasi Numerasi Salah satu mata pelajaran yang penting karena memiliki penerapan dan penting dalam kehidupan sehari-hari adalah matematika. Penerapan matematika yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari ini mesti dilatih agar anak dapat berpikir secara kritis, kreatif, dan logis dalam memecahkan masalah matematis. Kemampuan yang perlu dimiliki oleh anak dalam memahami masalah matematis bersumber dari kemampuan literasi numerasi. Literasi numerasi merupakan kemampuan menerapkan konsep keterampilan operasi hitung dan bilangan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengaplikasikan kaidah matematika dalam situasi nyata sehari-hari (Ekowati & Suwandayani. Situasi yang nyata ini tidak selalu mulus, seringkali tidak terstruktur, memiliki banyak penyelesaian, memiliki penyelesaian yang tidak tuntas, dan bahkan berkaitan dengan faktor non-matematis (Ekowati & Suwandayani, 2. Kemampuan literasi numerasi perlu dimiliki anak untuk membangun pola pikir dalam menghadapi situasi yang terjadi dalam hidupnya. Baik dalam kesehariannya maupun pada situasi yang tidak disangka seperti bencana gempa. Psikososial Hal lain yang perlu diperhatikan pada anak yang menjadi korban terdampak adalah kondisi psikososialnya. Trauma dan depresi yang dialami berdampak pada psikososial anak, seperti kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, menurunnya kesehatan fisik dan rasa percaya diri, serta tidak stabilnya perilaku emosi (Danuwijaya dkk. , 2. Hal tersebut perlu ditangani agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa terus menerus terbayang akan ketakutan. Tanda bahwa anak mengalami psikososial diantaranya kurang bersosialisasi, kurang inisiatif dan banyak diam karena takut melakukan kesalahan dalam melakukan tindakan, yang jika terjadi secara terus menerus dapat berdampak kurang baik bagi perkembangan kepribadian anak terutama bila energi yang mendorong anak untuk aktif menjadi tidak tersalurkan (Saputro & Talan, 2. Energi tersebut berguna agar anak dapat memenuhi keinginannya. Selain itu, selanjutnya adalah rasa bersalah pada anak akan memburuk apabila terjadi hambatan dan kegagalan. Anak yang memiliki perkembangan psikososial yang normal memiliki personaliti yang baik, berani, mampu bekerja sama, menerima pendapat, serta percaya diri (Khasanah. Livana, & Indrayati, 2. Pengajar yang memahami psikososial akan melakukan tindakan dan terapi edukasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangan sosial anak dengan tujuan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara normal, alami, dan sehat (Danuwijaya dkk. , 2. Pemberian terapi edukasi pada anak korban terdampak juga diperhatikan bersamaan dengan materi pembelajaran yang didapatkannya di sekolah darurat. Dosen dan mahasiswa dari Universitas Suryakancana Cianjur menjadi relawan mengajar untuk membantu sekolah darurat di daerah terdampak. Kegiatan yang dilakukan sebagaimana yang telah dijabarkan yaitu memberikan pengajaran kepada anak baik dalam materi pembelajaran maupun terapi edukasi psikososial. Implementasi Dukungan Psikososial. Literasi dan A | 54 Terdapat kegiatan serupa yang terkait dengan pemulihan pascabencana di Kabupaten Cianjur yaitu seperti yang dilakukan oleh Utami dkk . yang melakukan pengabdian dengan menggunakan metode bercerita untuk pemulihan trauma anak. Selain itu, terdapat pula kegiatan yang dilakukan oleh oleh Setiawan dkk . dengan lokasi yang berbeda dengan judul AuPendampingan Trauma Pascagempa Berbasis Kearifan Lokal di Desa Kayangan Kabupaten Lombok UtaraAy. Perbedaan pengabdian kepada masyarakat ini dengan sebelumnya ialah terletak pada literasi numerasi dan psikososial yang menjadi subjek pengabdian kepada masyarakat dari anak korban gempa yang terdampak. Berdasarkan latar belakang tersebut, pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembalikan kondisi psikososial, mengembalikan minat belajar, meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa terdampak gempa, dan membantu sekolah dalam proses pembelajaran. METODE PELAKSANAAN Kegiatan dukungan psikososial anak dengan metode ceramah, ice breaking dan Kegiatan literasi dan numerasinya dengan metode metode permainan matematika, bercerita, dan mendongeng. Sasarannya yaitu siswa SD Negeri Giriharja dan SD Negeri Sukmajaya dari kelas 1-6 di Kabupaten Cianjur. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 12 dan 28 Desember 2022 di SD Negeri Giriharja dan SD Negeri Sukmajaya yang merupakan sekolah yang terdampak parah. Tahapan kegiatan ini yaitu kegiatan dukungan psikososial pada anak terdampak, pengajaran tahap pemulihan dengan konsep literasi dan numerasi yang sederhana, dan membangkitkan motivasi belajar dengan cara bermain. Pelaksana kegiatan ini yaitu dosen dan mahasiswa dari prodi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Suryakancana. Adapun data yang diperlukan untuk mengukur keberhasilan tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bersumber dari data wawancara, angket siswa, dan pengamatan langsung di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Gempa bumi merupakan salah satu peristiwa atau bencana alam yang waktu dan tempat kejadiannya belum bisa diprediksi. Walaupun gempa bumi rentan terjadi di daerah lingkaran api . ing of fir. , tetapi di bagian mana dan kapan akan terjadi belum dapat ditentukan secara ilmiah (Ramatillah dkk. , 2. Gempa bumi membawa dampak yang cukup besar bagi bidang pendidikan. Hal ini terlihat dari aktivitas pendidikan yang terhambat karena sarana prasarana yang tidak dapat Maka dari itu, dosen dan mahasiswa FKIP Universitas Suryakancana mengadakan program relawan mengajar dalam kegiatan sekolah darurat. Peran dan Kontribusi Mahasiswa sebagai Relawan Mengajar dalam Sekolah Darurat Program sekolah darurat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa FKIP Universitas Suryakancana sebagai relawan mengajar di daerah yang terdampak gempa, terutama di daerah dengan tempat belajar atau bangunan sekolah yang roboh. Peran mahasiswa dan dosen sebagai relawan mengajar 55 | Septian dkk. pascagempa Cianjur memberikan layanan berupa pembelajaran literasi numerasi dan dukungan psikososial anak-anak korban gempa Cianjur agar pendidikan di Cianjur yang terdampak gempa tetap terlaksana. Gambar 1. Kontribusi Dosen dan Mahasiswa sebagai Relawan Mengajar Gambar 1 merupakan dokumentasi kegiatan dosen dan mahasiswa sebagai relawan mengajar di sekolah darurat. Mereka melakukan implementasi salah satu tridarma perguruan tinggi itu pengabdian kepada masyarakat dengan semaksimal mungkin mengajar dan memberikan ilmu yaitu di sekolah darurat. Guru yang menjadi korban terdampak gempa tentunya mengalami hambatan dalam melakukan kegiatan yaitu mengajar. Oleh karena itu, dosen dan mahasiswa membantu guru dalam melakukan kegiatan mengajar. Di samping itu, dosen dan mahasiswa juga saling membagi tugas seperti menjadi koordinator acara dalam kegiatan tersebut, membagi tim ke dalam tiga fokus yang diajarkan . iterasi, numerasi, dan psikososia. , serta membantu dalam menyusun prosedur Penanganan pascagempa adalah kegiatan yang membutuhkan dana, tenaga, waktu dan pikiran yang sangat besar. Program relawan mengajar memberikan dampak positif pada anak-anak korban gempa Cianjur. Dosen dan mahasiswa berkontribusi dalam sekolah darurat untuk memberikan ilmu dan memulihkan psikologi anak setelah terdampak gempa. Hal tersebut serupa dengan kegiatan yang dilakukan oleh Sakban dkk . yang mengemukakan bahwa peran Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yakni relawan mengajar dalam memberikan pelayanan pendidikan dan psikososial dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap para korban gempa terutama pada anak-anak yang menjadi generasi penerus yang akan datang tersebut untuk tetap diberikan pencerahan secara akademik maupun psikologis dalam menghadapi bencana yang terjadi sebelumnya. Implementasi Literasi Numerasi dan Dukungan Psikososial Program sekolah darurat dari relawan mengajar FKIP Universitas Suryakancana yang dilaksanakan pada tanggal 12-28 Desember 2022 dan diikuti oleh peserta yang berasal dari anak-anak korban gempa bumi SD Negeri Giriharja dan SD Implementasi Dukungan Psikososial. Literasi dan A | 56 Negeri Sukmajaya. Cibulakan. Kabupaten Cianjur. Waktu pelaksanaan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada jam 8. 00-10 WIB. Kegiatan diawali dengan kegiatan ice breaking berupa gerak dan lagu. Kegiatan ice breaking sangat efektif diberikan di dalam setiap kegiatan. Kegiatan ice breaking yang dilakukan harus mengandung unsur nilai keakraban, komunikasi, kerjasama dalam tim (Salam & Apriyansyah, 2. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pola belajar sambil bermain. Sesuai dengan pendapat Widhianawati . alam Utami dkk. , 2. bahwa dengan musik dan nyanyian dapat menyalurkan, mengendalikan, menimbulkan rasa senang, lucu, haru dan kagum. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan psikomotorik anak. Berdasarkan hasil angket, hasil konkrit pada kegiatan ini yaitu 72% siswa memiliki personaliti yang baik, 80 % siswa berani, 75% siswa mampu bekerja sama, 60% siswa menerima pendapat, dan 70% siswa sudah percaya diri. Ratarata kondisi psikososial siswa sebesar 71,4%. Secara umum siswa sudah mulai dalam kondisi normal dengan diperolehnya seluruh indikator kondisi normal psikososial siswa dari personaliti yang baik, berani, mampu bekerja sama, menerima pendapat dan percaya diri. Anak yang memiliki perkembangan psikososial yang normal memiliki personaliti yang baik, berani, mampu bekerja sama, menerima pendapat, serta percaya diri (Khasanah dkk. , 2. Pengajar yang memahami psikososial akan melakukan tindakan dan terapi edukasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangan sosial anak dengan tujuan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara normal, alami, dan sehat (Danuwijaya dkk. Pemberian terapi edukasi pada anak korban terdampak juga diperhatikan bersamaan dengan materi pembelajaran yang didapatkannya di sekolah darurat. Gambar 2. Kegiatan Mengajar di Sekolah Darurat Gambar 2 merupakan dokumentasi kegiatan mengajar yang dilakukan oleh Kegiatan pembelajaran dilakukan di tenda yang menjadi posko atau sekolah darurat bagi anak-anak yang terdampak. Setiap materi yang diberikan menggunakan ice breaking atau belajar sambil bermain dengan bernyanyi yang berkaitan dengan numerasi. Dilihat dari definisi literasi numerasi, literasi numerasi diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan penalaran. Penalaran berarti menganalisis dan memahami suatu pernyataan, melalui aktivitas dalam memanipulasi simbol atau bahasa matematika 57 | Septian dkk. yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, dan mengungkapkan pernyataan tersebut melalui tulisan maupun lisan (Perdana & Suswandari, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa setiap kelasnya, literasi dan numerasi siswa berada pada fase pertengahan yaitu siswa masih belum dapat maksimal dalam literasi dan numerasi. Beberapa faktor yang penyebab yaitu kondisi sarana dan prasarana yang belum terlalu memadai di sekolah darurat, kondisi psikososial yang belum 100% pulih, kekhawatiran masih dalam kondisi gempa susulan yang kerap terjadi saat pembelajaran. namun, ada hal positif yaitu siswa sudah mulai mau untuk sekolah dan minat belajarnya tumbuh. Langkah selanjutnya kegiatan pemulihan kondisi trauma dari anak-anak yang dilakukan dengan memberikan dukungan psikososial atau trauma healing menggunakan games dengan tujuan mengembalikan semangat belajar pada anakanak pascagempa. Kemudian, sebagai apresiasi dan meningkatkan motivasi belajar anak pascagempa dengan memberikan reward berbentuk alat tulis dan keperluan lainnya sejalan dengan Wijayanto dkk . yang menjelaskan bahwa kegiatan pengabdian . elawan mengaja. ini berupa penyuluhan yang diselingi dengan terapi bermain . lay therap. dan self motivation yang sarat akan muatan Berdasarkan pengamatan langsung dengan observasi, sebagian besar respon dan tanggapan dari warga sekitar maupun anak-anak terhadap program sekolah darurat ini sangat senang dan menerima dengan baik karena anak-anak mendapatkan kembali hak pendidikan. Jika dilihat dari kegiatan yang dilakukan, sudah ada perubahan dari segi psikososialnya yaitu anak-anak sudah mulai aktif dan ceria kembali. Namun, dari kegiatan literasi numerasi belum terlihat sepenuhnya karena tim relawan mengajar belum melakukan evaluasi asesmen terkait perubahan ataupun capaian dan hasil kegiatan pembelajaran. SIMPULAN Peran dosen dan mahasiswa sebagai relawan mengajar pascagempa Cianjur memberikan layanan berupa pembelajaran literasi numerasi dan dukungan psikososial anak-anak korban gempa Cianjur agar pendidikan di Cianjur yang terdampak gempa tetap terlaksana. Dosen dan mahasiswa berkontribusi dalam sekolah darurat untuk memberikan ilmu dan memulihkan psikologi anak setelah terdampak gempa. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pola belajar sambil bermain. Setiap materi yang diberikan menggunakan ice breaking atau belajar sambil bermain dengan bernyanyi yang berkaitan dengan numerasi. Sudah ada perubahan dari segi psikososialnya yaitu anak-anak sudah mulai dalam kondisi normal dan minat belajarnya sudah mulai baik. Namun, hasil dari kegiatan literasi numerasi masih belum maksimal karena kondisi gempa dan sarana prasarana yang belum menunjang dengan baik. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada FKIP Universitas Suryakancana yang telah menaungi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen dan Ucapan terima kasih kami haturkan juga kepada pihak sekolah SD Implementasi Dukungan Psikososial. Literasi dan A | 58 Negeri Giriharja dan SD Negeri Sukmajaya. Selanjutnya, kepada pihak-pihak lain yang telah turut membantu dan berkontribusi dalam penyusunan artikel ini. DAFTAR PUSTAKA