Volume 1 No 2 Tahun 2019 Hlmn. Artikel Masuk: 16 Oktober 2019 | Artikel Diterima: 31 Desember 2019 Manusia . dan kesadaran terdalam: menghidupkan nilai dalam pengembangan ilmu Zawawi Imron Sastrawan dan Budayawan Nasional Asal Madura journal@gmail. *surel korespondensi: oh. journal@gmail. Abstrak Tulisan ini bertujuan mengritisi peran manusia yang mengaku intelek, tapi tak peduli pada kemerosotan nilai pada masyarakat. Tanggung jawab kaum ini dipertanyakan sehingga harus dipertanyakan apa yang seharusnya mendasari tindakan kaum intelektual. Manusia intelektual yang sesungguhnya akan menempatkan cinta Ilahi dan cinta insani akan menjadi dasar pengembangan ilmu dan pengetahuan dan pemanfaatannya. Kata Kunci: Cendekiawan. Agama. Budaya Kebaikan Abstract This paper aims to criticize the role of humans who claim to be intellect, but do not care about the deterioration of values in society. The responsibility of these people is questioned so it must be questioned what should be the basis of the actions of Intellectual human beings who actually will place divine love and human love will be the basis for the development of science and knowledge and its Keywords: Intellectuals. Religion. Good Culture Ketika muncul aneka kepincangan di tengah-tengah masyarakat berupa kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, korupsi dan kemerosotan akhlak, orang wajar saja bertanya, manakah tanggung jawab cendekiawan? Manakah kepedulian orang-orang berilmu, berpengetahuan dan para 1 Disampaikan pada International Conference & Call for Papers AuReligious & Cultural Paradox in Social. Economic and Business Sciences. Surabaya 16 Oktober 2019 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Manusia . dan A. Imron. Mengapa seruan semacam ini harus diteriakkan ke telinga para intelektual? Karena para intelektual atau cendekiawan dianggap Ae dan memang dalam kenyataannya Ae lebih mengetahui dan menguasai persoalan hidup lengkap dengan solusinya ketimbang orang kebanyakan. Tugas para kaum cerdik pandai menjadi semakin jelas dengan adanya peristiwa yang disebut AuLAoAffaire DreyfusAy atau AuPeistiwa DreyfusAy di negeri Prancis pada Dreyfus adalah perwira militer Prancis keturunan Yahudi yang dituduh membocorkan rahasia militer Prancis kepada dinas rahasia Jerman. Perwira malang itu divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 10 tahun yang harus dijalaninya di sebuah pulau di Amerika Serikat. Para cerdik-cendekia yang punya hati nurani, setelah mengadakan penelitian secra cermat, menilai perlakuan kepada Dreyfus bertentanga dengan perikeadilan. Mereka lantas menyatukan sikap bahwa mereka tidak dapat menerima perlakuan semenamena itu dengan mengumumkan AuManifeste des IntellectuelsAy yang dimuat dalam koran LAoAurore pada 14 Januari 1898. Meskiun Dreyfus telanjur menjalani hukuman, perjuangan intektual Prancis ini tidaklah sia-sia. Proses peradilan Dreyfus dibuka kembali. Hasilnya, perwira itu direhabilitasi, dikembalikan ke dinas ketentaraan dan pangkatnya Aeyang asalnya Kaptendinaikkan menjadi Mayor. Lebih dari itu, pasca Perang Dunia I selesai tahun 1919. Dreyfus mendapat AukehormatanAy secara luas dan terbuka2. Kepedulian kaum cendekiawan pada AuPeristiwa DreyfusAy di atas kemudian dicatat sebagai sejarah yang memantapkan kedudukan kaum cendekiawan sebagai kelompok penting di tengah masyarakat, baik sebagai pemangku nilai-nilai, penjaga peradaban, perawat kebudayaan maupun sebagai pelindung masyarakat dari kesewnang-wenangan. Kaum intelektual dipercaya sebagai pengemban amanat nurani rakyat. Pengalaman perjuangan kemanusian telah diberi AoidealismeAy oleh kelompok cerdik-pandai, budaywan, filosof dan seniman dalam peranannya menjaga dan mengangkat harkat manusia. Pengukuhan AuruhAy istilah intelektual ini kemudian diperkuat oleh Julien Benda, yang menulis buku La Trahison des Clercs (Pengkhianatan Kaum Cendekiawa. , yang juga terilhami oleh Peristiwa Dreyfus. Dalam pengantar edisi pertama bukunya itu. Julien Benda menulis. Au. pada hemat saya, pentinglah ada orang-orang yang, walaupun dicemoohkan, tetap memperjuangkan keyakinan lain daripada yang serba duniawiAy . erjemahan Winarsih P. Arifi. Yang dituntut Juien Benda dalam Aumemperjuangkan keyakinan lain daripada yang serba duniawiAy adalah, antara lian, perjuangan kemanusiaan yang berpihak pada kejujuran nurani dan keadilan tanpa pamrih, yang tidak lain adalah AuidealismeAy. Karena itu. Benda sangat menyayangkan mereka yang tadinya punya peranan penting sebagai cendekiawan, kemudian melepaskan diri dan melalaikan tanggung jawabnya dan bahkan mengambil Catatan kaki Wiratmo Sukito pada Pengkhianatan Kaum Cendekiawan . Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 2 Tahun 2019 Hlmn. peranan yang bertentangan dengan perikeadilan dan kemanusiaan. Itulah yang disebut Juien Benda sebagai pengkhianatan kaum cendekiawan. PEMIKIRAN Memang, kalau kita teliti secara cermat Aemeskipun cendekiawan adalah orang cerdik, berilmu dan berpengetahuan- dalam kenyataannya tidak setiap cerdik-pandai punya komitmen kuat pada kemanusiaan dan keadilan. Justru, pada waktu-waktu yang tidak diharapkan oleh sejarah, masih muncul juga cerdik-pandai yang tidak peka pada kenyataan sosial yang pahit, baik berupa kebodohan, krisis moral maupun ketimpangan lainnya yang sangat membtuhkan kepedulian dan tindakan nyata darinya. Celakanya, ada pula yang memanfaatkan situasi krisis untuk meru keuntungan pribadi sebanyak mungkin seraya mengabaikan penderitaan dan rintihan bangsanya sendiri. Ini mengingatkan kita pada Nabi Isa A. S yang berbunyi. AuAlangkah banyaknya pohon, dan tidak semua menghasilkan buah. alangka banyaknya buah-buahan, tetapi tidak semuanya baik. dan alangkah banyaknya imu dan pengetahuan, tetapi tidak semua berguna. Sebagai pemilik ilmu dan pengetahuan, kaum inteketual pada hakikatnya dituntut berperan optimal agar ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya berguna dan bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat yang Penyair Al MarAoarri berujar: AuJanganlah hujan membasahi ladangku, jika tidak menyiram seluruh bumiAy. Suradji Calzoum Bahchri juga menukas. AuYang tertusuk padamu berdah padakuAy. Sebagai warisan kebudayaan dari zaman ke zaman, ilmu adalah amanat mulia untuk membuat kehidupan ini menjadi pengalaman nyata yang indah bagi seluruh umat manusia, dan tidak seorangpun punya hak menyakiti dan memerkosa hak orang lain. Jika ilmu tidak bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan, maka ini berarti bahwa ilmu telah diselewengkan oleh pemiliknya. Akibatnya, sang pemilik itupun gagal sebagai cendekiawan dalam arti yang sebenarnya. Apabila kita mengenang sejarah, munculnya HOS Tjokroaminoto. Ki Hajar Dewantoro. KH. Ahmad Dahlan. KH. Hasyim Asyari. Dr. Wahidin. Soekarno. Moh. Hatta. Sutan Syahrir dan pejuang lainnya jelas sekali menunjukkan bahwa kepahlawanan merek bertujuan untuk memuliakan manusia. Pendalaman atas hidup manusia dan kemanusiaan yang bertumpu pada hati nurani, telah berhasil menekan pamrih pribadi, sehingga memanfaatkan diri demi bangsa dan kemanusiaan menjadi kebahagiaan yang Dipandang sekilas lintas, idealisme seperti itu adalah warisan kecendekiawanan ala Eropa atau Barat. Namun perlu dimaklumi, ini tidak berarti bahwa kita tak punya pandangan hidup yang sangat mengutamakan kepentingan kaum lemah di kalangan rakyat jelata. 300 tahun sebelum Emile Zola dan kawan-kawannya di Prancis mencetuskan AuManifeste des IntelectuelsAy. Sunan Drajat Paciran mengumandangkan pesan kemanusiaan yang berbunyi. Aumenehana teken Manusia . dan A. Imron. marang wong kang wutha, menehana mangan marang wong kan luwe, menehana busan marang wong kan wuda, menehana payung marang wong kang kudananAy Merujuk Sunan Drajat, paling tidak ada empat hal yang harus diperhatikan para ilmuwan, juga hartawan, pertama berilah tongkat pada orang yang buta. Buta mata dibantu agar tiba di tujuan dan buta ilmu dibantu dengan pendidikan agar masyarakat mampu menolong dirinya sendiri agar hidup layak. Kedua, berilah makan pada orang lapar adalah anjuran untuk peduli pada nasib orang miskin agar terlepas dari himpitan derita berkepanjangan dengan, antara lain, berbagi usaha perbaikan Ketiga, berilah pakaian pada orang telanjang. Orang telanjang adalah manusia yang belum mengenal moral. Ia harus dipandu dan dipacu untuk hidup berdab dan berakhlak mulia. Keempat, berilah payung bagi orang yang kehujanan, yakni memberi perlindungan kepada orang yang terancam dan berada dalam kesulitan, termasuk perlindungan hukum kepada orang yang hak asasinya dikebiri. Jika kita coba dalami dan renungi, amanat Sunan Drajat ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan manusia modern. Barangkali, pituduh itu disublimasikan dengan pengalaman-pengalaman kontemporer kita agar warisan lama itu menghasilkan tenaga dan spirit kecendekiawanan baru sebagaimana substansi yang dikehendaki oleh masyarakat kini dan Kata-kata diinterpretasikan agar menelurkan makna-makna baru yang lebih segar. Apa yang dicetuskan Sunan Drajat Aebila dipandang dengan kacamata modernsebenarnya adalah sebuah manifesto yang digali dari kenyataan-kenyataan dan pengalaman hidup yang diolah dengan kearifan hati dan akal sehat. Nurani adalah kertas AumanifesAy yang perlu kita tandatangani hari ini. Saya tidak yakin bahwa di dunia ini ada sekolah untuk mengingkari hati nurani. Barangkali, paparan kearifan dari dua sumber berbed di atas akan memperkuat tesis bahwa antara Barat dan Timur tidak perlu Dalam wawasan kecendekiawanan yang mendalam. Barat dan Timur dapat berdialog secara jujur tanpa saling curiga. Pengalaman lokal agraris saya sepertinya mengajarkan kearifan: AuHujan kemarau yang menyegarkan rumput-rumput untuk makanan ternak dan sapi kerapan ternyata petaka bagi petani tembakau dan peladang garamAy. Karena itu, suatu ketika, saya, dan kita semua harus mengubur rasa curiga. Saya tertarik pada untuk bermimpi pada apa yang dinamakan Aupersaudaraan universalAy. Guru kebaikan dan keburukan selalu ada di mana-mana. Teladan yang baik dan buruk bisa datang dari katak, kepiting, semut, burung hantu dan bahkan virus yang saya benci tetapi sesekali suka membiakkannya beribu-ribu dalam sehari. Toh sepulangnya dari Amerika Serikat yang kurang dia sukai. WS Rendra masih berujar: Ingin kuingat bau tubuhmu yang kini sudah kulupa. Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 2 Tahun 2019 Hlmn. Modernitas selalu melahirkan dilema-dilema baru, kuman-kuman baru yang mungkin lebih canggih, di samping banyak persembahannya yang berharga bagi kehidupan. Di era modern itu, apa saja bisa kita jual sebagai komoditas Aebukan hanya tinja yang diekstrak jadi pupuk, tetapi juga harga diri, kehormatan, dan bahkan ayat-ayat Tuhan. Karena itu, penting untuk menghunjamkan kesdaran bahwa segala gerak dan tindakan intelektual harus sangat bergantung pada . hati nurani. Jangan sampai kita menjadi Auintelektual seolah-olahAy. Aumanusia seolah-olahAy, yang diam-diam kemudian mengkhianati orang lain, juga diri sendiri Aku Bayangkan Aku bayangkan sebuah bisul yang membesar menjadi gunung setelah pecah, di puncaknya muncul kaldera Aku bayangkan sebuah luka yang meluas menjadi laut yang akhirnya darah dan nanah Aku bayangkan ada orang kepanasan berenang dalam kaldera Aku bayangkan ada orang menyelam di laut darah di laut nanah Aku bayangkan Aku bayangkan Tapi siapa tahu Aku sendiri telah melakukannya Dalam kehidupan sehari-hari Sebagai hobi yang menyenangkan Orang-orang bodoh dan lemah, katanya, sudah sepantasnya menerima risiko terpuruk dan bahkan terhina. Namun ingatlah, bahwa mereka yang dirugikan di dunia ini dan tak sempat menuntut Aeseperti- orang-orang tertindas- yang sudah diadili ataupun belum di dunia ini, akan meminta pertanggungjawaban kaum berakal dan cerdik-pandai dalam AuPengadilan AllahAy. Akal dan kelengakapan infrastruktur kemanusiaan yang melekat pada cendekiawan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Dalam AlqurAoan. Allah mengingatkan. AuTakutlah kamu sekalian pada suatu hari ketika kalian semua akan dikembalikan pada Allah. Kemudian masing-masing diri akan diberi balasan sempurna atas apa yang telah dilakukanNya dan mereka tidak akan dianiaya sedikitpunAy (QS 2: . Manusia . dan A. Imron. Dari ayat di atas, bisa dipahami bahwa orang yang masuk neraka sebenarnya bukan lantaran mereka teraniaya, melainkan mereka menganiaya diri sendiri. Kaum cerdik-pandai yang dengan kuasa ilmu pengetahuan yang dimilikinya lalu berbuat rakus, kejam dan banyak membuat orang menderita Aemenurut logika Aukeadilan- tentu tidak pas dibebaskan dari dosa. Sebab ada kesadaran akal yang melatari perbuatannya. Inilah yang disebut persepsi Dengan kebangkitan kembali, seluruh umat manusia dimintai pertanggungjawaban atas kehidupannya. Manusia intelektual perlu menempatkan iman Aeyang berisi harapan-harapan masa depan- sebagai dasar menumbuhkan gairah dan sikap untuk hidup dengan nilai-nilai mulia berbekal ilmu dan pengetahuan yang direngkuhnya, dengan harapan meraup kemuliaan kelak di akhirat. Iman yang lebih tinggi dari ini adalah bahwa seseorang, lebih-lebih cendekiawan, tidak berbuat kerusakan di muka bumi Ae dengan ilmunya- bkan lantaran takut pada neraka, melainkan karena malu pada Allah SWT. Antara dirinya dengan ajaran Allaah sudah ada harmoni yang indah. Capaian ini tentunya diperoleh melai serangkaian proses pemaknaan yang dalam dan berkelanjutan atas akidah dan syariat secara intrinsik sehingga melahirkan pendekatan yang sublim kepada hidayah Ilahi. Manusia . semacam ini akan menempatkan agama sebagai kanopi pencerahan yang memebrikan keteduhan dan memberi kesejukan bagi dahaga dan kegersangan jiwa manusia. Cinta Ilahi dan cinta insani akan menjadi dasar pengembangan ilmu dan pengetahuan dan pemanfaatannya pada hidup yang lebih bermakna. Menurut John Dewy, hilangnya keseimbangan dan ketidakmengertian tentang makna hidup menyebabkan manusia modern menjadi lebih bodoh dari manusia primitif dalam menguasai dan menaklukkan dirinya. Agama yang dipeluk dan dilakaksanakan dengan benar akan membuat seseorang mampu mengendalikan dirinya, termasuk hawa nafsu dan angan-angan Beragama yang benar adalah sebuah totalitas Aemenyerahkan dirinya secara utuh pada Tuhan agar dirinya selalu berada dalam irama ayatayat Tuhan. Akhirnya, keseluruhan tindak tanduknya menjadi bagian dari rahmat bagi seluruh alam semesta . ahmatan lil alami. Barangkali, kini saatnya kasih sayang kepada seluruh manusia dan alam semesta kita tempatkan sebagai landasan pikir, gerak dan spirit pengembangan ilmu pengetahuan. Rasa cinta kemanusiaan ini perlu minum penghayatan yang mendalam pada penderitaan manusia, sebagaimana telah dicanangkan Rasulullah SAW. Autidak beiman seseorang di antara kamu sehingga engkau mencintai saudaramu sebagaimana mencintai dirimu sendiriAy. Ilmu apa saja, tanpa mewujudkan kebersamaan dan persaudaraan, sulit untuk menyelesaikan krisis dan masalah kehidupan. Dalam hal in, puisi serta karya sastra dan seni bisa membantu memberikan kesadaran terusmenerus untuk mengupayakan kehidupan yang layak dengan jiwa yang jernih dan akal sehat. Tuntunan rasa dalam konteks pembangunan Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 2 Tahun 2019 Hlmn. kebudayaan sekaligus bersinergi dengan agama dalam membentuk sikap yang santun dalam segala hal, dan budi pekerti mulia tanpa kebencian dan Pada akhirnya, kehadiran agama . an budaya kebaika. memerlukan tindakan nyata dari pemeluknya. Islam adalah agama amal. Hidup tanpa amal dan perbuatan baik adalah sia-sia. Nonsens. Minus. Tidak bernilai. Hidup yang tak bermanfaat seperti itu, dalam budaya apapun memang tak punya Iqbal pernah mengucap. AuDari manakah suara merdu seruling berasal? Dari getaran kalbu sang peniup seruling, bukan dari potogan bambuAy Agama yang diterjemahkan penganutnya dengan bahasa perbuatan akan mebuat agama menjadi agama yang realistis dan mebumi. Masyarakat akan banyak merasakan turunnya AurahmatAy lewat penganut agama itu. Aubahasa nyata dengan perbuatan itu lebih fasih dari bahasa yang diucapkan oleh lidahAy, demikian Rasulullah SAW berpesan. Puisi lama pernah menyindir. Auilmu yang tidak diamalkan, seperti rumah tiada bertiangAy Indahnya perbuatan berpedoman nilai agama yang kuat dari sekadar wacana perlu dibangun sebagai visi ke depan untuk membangun zaman baru dan paradigma baru. Keindahan bisa tampil ketika hamba Allah menghampar sajadah lalu bersujud di tengah malam sunyi. Keindahan bisa tampak ketika anak muda mencium tangan ayah ibunya saat hendak berangkat merantau. Keindahan bisa terlihat ketiak seorang perawat menyeka nanah pada luka seorang pasien. Keindahan menjadi nyata saat nelayan pulang membawa sekeranjang ikan. Keindahan mekar ketika seorang ilmuwan degan sungguhsungguh mendayagunakan ilmunya untuk kemakmuran negerinya dan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Auyaubur ayam yang mengeluarkan telur lebih mulia daripada ilmuwan yang hanya menjanjikan telurAy SIMPULAN Akhirnya, barisan puisi Iqbal berikut akan menjadi dasar spirit bersungguhsungguh berbuat kebaikan sebagaimana Allah telah menetapkan manusia sebagai hamba, juga khalifah di atas muka bumi: Tuhan, engkau yang menciptakan malam yang gelap gulita tapi aku yang membuat lampu yang terang benderang Engkau yang menciptakan hutan belukar tapi aku yang membajaknya menjadi lahan pertanian Engkau yang menciptakan racun tapi aku yang membuat obat penawar Engkau yang membuat batu tapi aku yang mengasahnya menjadi permata yang berkilau Wallahu aAolam bi as shawaab Manusia . dan A. Imron. DAFTAR PUSTAKA