Ita Kurnia Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 Terbit online pada laman web jurnal : http://e-journal. sastra-unes. com/index. php/JIPS JURNAL JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholastic ) Fakultas Sastra Universitas Ekasakti Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 edia ceta. E-ISSN : edia onlin. Fenomena Alih Kode dan Campur Kode Dalam Novel Ayat-Ayat Cinta Ita Kurnia Universitas Nusantara PGRI Kediri. Fakultas Keguruan dan Ilm Pendidikan. Pendidikan Guru Sekolah Dasar, itakurnia@unpkediri. *Corresponding Author Ita Kurnia Universitas Nusantara PGRI Kediri. Fakultas Keguruan dan Ilm Pendidikan. Pendidikan Guru Sekolah Dasar, itakurnia@unpkediri. Abstract Penelitian ini membahas fenomena alih kode dan campur kode dalam Bab AuGadis Mesir Itu Bernama MariaAy pada novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi bentuk serta fungsi dari peralihan dan pencampuran bahasa dalam teks sastra Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik studi dokumentasi dan analisis isi, penelitian ini menemukan bahwa campur kode terdiri atas tiga kategori bahasa: Arab. Inggris, dan Jawa, dengan dominasi bahasa Arab yang merefleksikan nilai religius dan budaya Mesir. Campur kode Inggris menggambarkan konteks akademik dan globalisasi, sedangkan bahasa Jawa berfungsi Alih kode muncul dalam bentuk intrasentensial dan intersentensial yang memperkuat suasana dan karakterisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan multibahasa dalam novel bersifat strategis dan ideologis, serta mendukung konstruksi identitas tokoh. Disarankan agar pembaca dan peneliti memberi perhatian lebih pada konteks sosial-budaya dalam memahami karya sastra Keywords: Alih Kode. Campur Kode. Ayat-ayat Cinta A 2025Jurnal JIPS I INTRODUCTION Indonesia merupakan negara multibahasa yang kaya akan keragaman budaya dan bahasa (Harefa, 2. Mobilitas sosial, pendidikan lintas daerah, dan interaksi antarkelompok etnis menjadikan masyarakat Indonesia terbiasa menggunakan dua bahasa atau lebih dalam komunikasi sehari-hari. Dalam konteks ini, fenomena alih kode . ode switchin. dan campur kode . ode mixin. menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika berbahasa. Alih kode dipahami sebagai peralihan dari satu bahasa ke bahasa lain karena perubahan konteks situasi atau partisipan (Gumperz, 1. , sedangkan campur kode merujuk pada pencampuran unsur linguistik dari dua atau lebih bahasa dalam satu tuturan. Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Ita Kurnia Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 tanpa perubahan situasi komunikasi (Muysken, (Poplack, 1. mengklasifikasikan bentuk campur kode menjadi tiga jenis: intrasentensial, intersentensial, dan tagswitching. Sementara itu, (Muysken, 2. mengembangkan klasifikasi bentuk campur kode menjadi tiga model utama: insertion, alternation, dan congruent lexicalization. Klasifikasi ini penting dalam memahami bagaimana bahasabahasa yang digunakan dalam teks sastra muncul dan berfungsi tidak hanya secara linguistik, tetapi juga secara sosial dan budaya. Fenomena alih kode dan campur kode tidak hanya terjadi dalam komunikasi lisan, tetapi juga dalam wacana tulis, termasuk karya sastra seperti novel. Banyak novel kontemporer Indonesia menggambarkan praktik multibahasa sebagai representasi dinamika sosial, kultural, dan religius masyarakat. Penggunaan bahasa asing atau lokal dalam teks sastra tidak sekadar menjadi gaya bahasa, melainkan strategi komunikatif yang sarat makna ideologis dan identitas tokoh. Sebagai contoh, penyisipan bahasa Arab dalam novel religius dapat berfungsi memperkuat nuansa keislaman dan latar tempat cerita. Demikian pula, penggunaan istilah dalam bahasa Inggris sering kali menandakan konteks akademik dan globalisasi, sementara bahasa daerah seperti Jawa digunakan untuk membangun kedekatan emosional atau nuansa domestik. Hal ini sejalan dengan pandangan (Gumperz, 1. bahwa penggunaan kode dalam percakapan mengandung makna sosial dan relasional, serta merefleksikan struktur kekuasaan dan kedekatan budaya antarpihak yang terlibat. Salah satu karya yang menggambarkan praktik ini adalah Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Dalam Bab AuGadis Mesir Itu Bernama MariaAy, pembaca disuguhi multibahasa Arab. Inggris. Jawa, dan Indonesia yang merefleksikan latar Mesir serta kompleksitas identitas tokoh-tokohnya. Penggunaan alih dan campur kode dalam bab ini tidak hanya memperkaya narasi, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai-nilai religius, budaya, dan sosial dalam cerita. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut. AuBagaimana bentuk-bentuk alih kode dan campur kode serta apa fungsi pragmatisnya dalam Bab Gadis Mesir Itu Bernama Maria pada novel Ayat-Ayat Cinta?Ay Urgensi penelitian ini terletak pada dua Pertama, dari segi linguistik, penelitian ini penting untuk mendokumentasikan praktik multilingualisme dalam teks sastra populer. Kedua, dari aspek literasi, kajian ini membantu memperkuat pemahaman pembaca terhadap konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi penggunaan berbagai kode bahasa dalam narasi Penelitian ini juga berkontribusi pada pembelajaran membaca kritis di tengah lingkungan pendidikan multikultural yang terus Tujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk alih kode dan campur kode dalam Bab AuGadis Mesir Itu Bernama MariaAy, 2. menganalisis fungsi sosiolinguistik dari penggunaan kode dalam pengembangan narasi, karakterisasi, dan penyampaian nilai budaya serta religiusitas, dan 3. memberikan kontribusi teoritis dan praktis terhadap kajian bahasa dan sastra Indonesia II RESEARCH METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi dokumentasi untuk mengkaji fenomena alih kode dan campur kode dalam teks sastra. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menganalisis data berupa kata, frasa, dan kalimat dalam teks naratif, serta untuk menginterpretasikan makna dan penggunaannya [(Miles, 2. : (Moloeng, 2. Sumber data utama dalam penelitian ini Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy, khususnya bab yang berjudul AuGadis Itu Bernama MariaAy. Novel ini dipilih karena memiliki latar cerita yang multibahasa dan mengandung banyak interaksi antartokoh yang memungkinkan terjadinya alih kode dan campur kode. Bahan yang digunakan berupa teks novel versi cetak atau digital yang valid, sementara alat bantu yang digunakan Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Ita Kurnia Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 meliputi alat tulis, tabel klasifikasi, serta perangkat lunak pengolah dokumen untuk pencatatan dan pengolahan data. Proses pengumpulan data dilakukan melalui teknik membaca intensif dan berulang terhadap bab yang dikaji. Selama proses pembacaan, dilakukan penandaan . terhadap bagian-bagian yang mengandung peristiwa alih kode dan campur kode. Data yang diklasifikasikan berdasarkan jenis peristiwa kebahasaan, yaitu alih kode . ntarbahasa atau antargay. dan campur kode . nternal atau Data yang telah dikumpulkan diolah melalui teknik klasifikasi tematik, dengan memisahkan bentuk-bentuk alih kode dan campur kode ke dalam kategori berdasarkan bentuk . ata, frasa, klaus. dan jenis bahasa yang digunakan. Selanjutnya, dilakukan analisis isi . ontent sosiolinguistik dari masing-masing peristiwa, seperti tujuan komunikatif, penyesuaian situasi, atau penekanan makna tertentu dalam narasi. Hasil analisis disajikan dalam bentuk deskriptif naratif dengan dukungan kutipan kata dari teks sebagai bukti. Melalui metode ini, penelitian bertujuan menghasilkan pemahaman yang sistematis dan mendalam tentang bagaimana fenomena alih kode dan campur kode digunakan dalam teks sastra sebagai representasi budaya, identitas, dan strategi komunikasi tokoh. i RESULTS AND DISCUSSION Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Bab AuGadis Mesir Itu Bernama MariaAy, novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy ditemukan berbagai bentuk campur kode dan alih kode, baik bersifat internal . maupun eksternal . Berdasarkan klasifikasi bentuk dan sumber bahasanya, campur kode dalam bab ini terbagi menjadi tiga kelompok besar: bahasa daerah (Jaw. , bahasa Arab, dan bahasa Inggris. Temuan tersebut diklasifikasikan sebagaimana tercantum dalam tabel 1. Tabel Klasifikasi Campur Kode Berdasarkan Asal Bahasa No Inside Outside Jawa Persia Arab Inggris Aras- Kofta Talaqqi Licence arasen . Qiraah City sabAoah . Ushul tafsir The . Lord Jesus in The Koran . Syaikhul Stupid MaqariAo . Wal Huffadh Fi Mashr . Bismillah Aoala Allah . Allah yubarik fik . Baiti jannati . El-Himl El Arabi . El-Hubb ElHaqiqi . Ashir . Istanna . Fi eh kaman . Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Ita Kurnia Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 Afwan . Mahattah . Alif laam ra . Haa miim . Yaa . Thaaha nuun . Kaf ha ya Aoain shad . Berdasarkan hasil klasifikasi, ditemukan bahwa unsur bahasa Arab mendominasi bentuk campur kode dalam bab yang dikaji. Terdapat dua puluh entri yang mencakup kosakata dan ungkapan religius, seperti bismillah tawakkaltu Aoala Allah, baiti jannati, hingga afwan. Dominasi ini bukan tanpa alasan. Penggunaan bahasa Arab sangat berkaitan erat dengan latar geografis cerita yang berpusat di Mesir dan latar sosial tokoh utama sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar. Bahasa Arab dalam teks tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai sarana memperkuat representasi budaya, identitas keislaman, serta suasana religius yang menyelimuti narasi. Di sisi lain, bahasa Inggris muncul dalam bentuk istilah yang lazim digunakan di lingkungan akademik dan global, seperti licence, city, dan stupid. Kehadiran kosakata ini mencerminkan realitas kehidupan mahasiswa internasional dan modernitas dalam dunia Campur memperlihatkan keterhubungan tokoh dengan wacana global dan menunjukkan adanya pengaruh globalisasi dalam kehidupan intelektual dan sosial mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Rianti et al. menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Inggris dalam novel remaja Indonesia cenderung meningkat karena paparan budaya populer dan arus pendidikan global (Inayah, 2. Dalam novel ini ada juga kata kofta yang diidentifikasi sebagai Bahasa Persia. Penggunaan kata kofta menunjukkan bahwa novel ini secara sadar menghadirkan representasi budaya Timur Tengah secara lebih luas, bukan hanya budaya Arab-Mesir tetapi juga dengan unsur dari Persia. Dari sisi sosiolinguistik, penyisipan kata dari bahasa Persia menunjukkan bahwa strategi campur kode dalam novel ini tidak hanya terbatas pada tiga bahasa utama (Arab. Inggris. Jaw. , tetapi juga merambah bahasa lain untuk fungsi simbolik atau kultural tertentu. Ini memperkaya fungsi artistik dan ideologis dari alih dan campur kode dalam teks sastra. Sementara itu, bahasa Jawa hanya muncul secara terbatas dalam istilah aras-arasen. Kemunculan ini bersifat simbolis dan tidak digunakan dalam dialog utama, melainkan hadir sebagai unsur deskriptif untuk membangun suasana dan menggambarkan perasaan batin tokoh atau narator. Fungsi simbolik ini menjadi jembatan kultural yang menghubungkan pembaca Indonesia dengan latar lokal, menciptakan nuansa emosional dan domestik yang kontras dengan atmosfer Timur Tengah dalam novel. Secara umum, proses analisis berjalan lancar berkat ketersediaan data yang eksplisit dalam teks. Namun, beberapa istilah Arab yang panjang atau memiliki makna religius yang mendalam, seperti Syaikhul MaqariAo Wal Huffadh Fi Mashr, menuntut pemahaman konteks keagamaan yang lebih dalam. Oleh karena itu, dalam menganalisis unsur-unsur tersebut diperlukan pemahaman lintas bidang, termasuk kajian Islam dan kebudayaan Arab. Secara keseluruhan, hasil kajian ini menunjukkan bahwa alih kode dan campur kode dalam novel Ayat-Ayat Cinta berfungsi lebih dari sekadar variasi kebahasaan. Bahasa-bahasa yang digunakan memperkuat penggambaran tokoh, membangun nuansa budaya, serta merefleksikan nilai-nilai ideologis yang menjadi benang merah Fenomena multibahasa dalam teks sastra tidak hanya mencerminkan keberagaman linguistik, tetapi juga menjadi representasi simbolik dari kondisi sosial dan budaya masyarakat (Farouq, 2. Untuk pengembangan ke pendekatan yang digunakan dalam kajian ini dapat diterapkan pada bagian lain dalam novel yang sama, atau dikembangkan pada karya sastra lain dengan latar multikultural. Penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas fokus pada dimensi pragmatik dari campur kode, seperti bagaimana fungsi direktif . , ekspresif . , atau estetis . berperan dalam dialog dan Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Ita Kurnia Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 Dengan pendekatan semacam ini, kajian kebahasaan dalam sastra dapat terus berkontribusi dalam mengungkap kompleksitas dinamika budaya dan identitas dalam karya fiksi kontemporer Indonesia. Campur kode bahasa Indonesia Ae bahasa Jawa. AuDengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen aku bersiap untuk keluarAy . yang artinya rasa malas melakukan sesuatu dalam bahasa Jawa. Campur kode bahasa Indonesia Ae bahasa Persia. AuDia paling suka masak oseng-oseng wortel campur koftaAy . yang artinya daging yang telah dicincang halus dengan mesin dalam bahasa Persia. Campur kode bahasa Indonesia Ae bahasa Arab. AuApalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkanAy . yang artinya jus dalam bahasa Arab. Campur kode bahasa Indonesia Ae bahasa Inggris. AuJadi kukira doktor itu benar-benar stupidAy . yang artinya bodoh dalam bahasa Inggris. IV CONCLUSION Simpulan Hasil penelitian terhadap Bab AuGadis Itu Bernama MariaAy dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy menunjukkan bahwa alih kode dan campur kode muncul dalam berbagai bentuk dan fungsi yang signifikan. Campur kode ditemukan dalam tiga kategori utama, yaitu bahasa Jawa. Arab, dan Inggris, dengan dominasi kuat dari unsur bahasa Arab yang mencerminkan religiusitas, budaya lokal Mesir, dan karakter tokoh yang sangat lekat dengan nilai-nilai keislaman. Sementara itu, campur kode berbahasa Inggris memperkuat konteks akademik dan internasional tokoh utama, serta mencerminkan pengaruh globalisasi. Adapun penggunaan kata dalam bahasa Jawa memberi warna kultural dan nuansa emosional yang bersifat lokal dan simbolik. Alih kode yang ditemukan umumnya berbentuk intrasentensial dan intersentensial, serta digunakan secara strategis oleh pengarang untuk memperkuat makna, karakterisasi, dan dinamika percakapan dalam teks. Dengan demikian, rumusan masalah mengenai bentuk dan fungsi alih kode serta campur kode dalam bab ini telah terjawab secara sistematis melalui klasifikasi data dan interpretasi Penelitian ini tidak hanya membuktikan keberadaan gejala kebahasaan tersebut, tetapi juga menegaskan bahwa pilihan bahasa oleh pengarang memiliki peran penting dalam membangun kedalaman cerita dan karakter Oleh karena itu, disarankan agar pembaca sastra yang mengkaji novel multibahasa seperti ini memperhatikan konteks sosial dan budaya dari setiap kata asing yang digunakan. Untuk pengarang dan penerbit, penyertaan glosarium atau catatan kaki dapat sangat membantu pemahaman pembaca umum. Bagi penelitian selanjutnya, kajian serupa dapat diperluas pada bab lain dari novel ini atau karya sastra lain yang memiliki latar multibahasa dan multikultural, dengan fokus yang lebih mendalam pada fungsi pragmatik dan ideologis dari fenomena alih kode dan campur kode. Saran Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar pembaca sastra yang mengkaji novel multibahasa seperti ini memperhatikan konteks sosial dan budaya dari setiap kata asing yang Interpretasi makna yang akurat sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap latar budaya dan ideologi dari tokoh atau narasi. Oleh karena itu, pengarang dan penerbit disarankan untuk menyertakan glosarium atau catatan kaki pada edisi cetak untuk membantu pembaca awam memahami istilah asing atau religius yang digunakan dalam teks. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya, kajian ini dapat diperluas dengan menganalisis bab lain dari novel yang sama atau karya sastra lain yang berlatar multibahasa dan multikultural. Fokus lanjutan bisa diarahkan pada fungsi pragmatik dan ideologis, seperti bagaimana penggunaan kode dapat menunjukkan kekuasaan, relasi sosial, atau strategi diskursif yang Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Ita Kurnia Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 digunakan oleh tokoh dalam narasi. Penelitian lintas karya dan lintas genre juga layak dilakukan untuk melihat perbandingan penggunaan kode dalam berbagai Indonesia Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Ita Kurnia Jurnal JIPS (Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholasti. Vol. 9 No. ISSN : 2579-5449 Bibliography