Article Fenomena Fatherlessness dalam perspektif Tafsir Al-Misbah dan Teori Keterlibatan Ayah Michael Lamb Lailatun Nuzula Hidayati1 & Fitrah Sugiarto2 Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Mataram. Indonesia. email : 240407030. mhs@uinmataram. Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Mataram. Indonesia. email : fitrah_sugiarto@uinmataram. Abstract PERADABAN JOURNAL OF RELIGION AND SOCIETY Vol. Issue 2. July 2025 ISSN 2962-7958 Page : 122-139 DOI: https://doi. org/10. 59001/pjrs. Copyright A The Author. 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. International License The phenomenon of fatherlessness, defined as the absence of a fatherAos role in a childAos life, poses a serious challenge in the modern Its impacts include weakened self-control, diminished quality of social relationships, and identity crises in children. This pervasive gap highlights the urgent need to revitalize the fatherAos role, not merely as a material provider, but also as an essential educator and spiritual guide. This research aims to examine the concept of fatherly exemplary behavior as presented in Surah Ash-Shaffat . : 102 through Tafsir al-Misbah and integrate it with Michael LambAos theory of father involvement, which encompasses the dimensions of engagement, accessibility, and responsibility. The study employs a descriptive qualitative method utilizing a library research approach and content analysis techniques applied to tafsir texts. Islamic literature, and child developmental psychology The findings indicate that Prophet IbrahimAos exemplary guidance of Ismail reflects ideal fatherly involvement, characterized by dialogical communication, a secure emotional presence, and role modeling in fulfilling spiritual responsibilities. This integration demonstrates that Quranic values align significantly with modern psychological findings, providing a robust conceptual basis for developing a balanced family education model that judiciously incorporates both religious and scientific aspects. Keyword Child development. Father involvement. Fatherlessness. Michael Lamb. Tafsir al-Misbah Lailatun Nuzula Hidayati &. Fitrah Sugiarto Fenomena Fatherlessness Abstrak Fenomena fatherlessness atau ketidakhadiran peran ayah dalam kehidupan anak merupakan persoalan serius di era modern. Dampaknya m1encakup lemahnya kontrol diri, penurunan kualitas hubungan sosial, hingga krisis identitas pada anak. Kesenjangan ini menunjukkan urgensi untuk merevitalisasi peran ayah, tidak hanya sebagai penyedia kebutuhan material, tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep keteladanan ayah dalam Surah Ash-Shaffat . : 102 melalui Tafsir al-Misbah dan mengintegrasikannya dengan teori keterlibatan ayah menurut Michael E. Lamb, yang mencakup dimensi engagement, accessibility, dan responsibility. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui pendekatan kepustakaan . ibrary researc. , dengan teknik analisis isi terhadap teks tafsir, literatur keislaman, dan teori psikologi perkembangan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim dalam membimbing Ismail mencerminkan keterlibatan ayah yang ideal: komunikasi dialogis, kehadiran emosional yang aman, dan keteladanan dalam menjalankan tanggung jawab spiritual. Integrasi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Al-QurAoan sejalan dengan temuan psikologi modern, dan dapat menjadi dasar konseptual untuk membangun model pendidikan keluarga yang berimbang antara aspek religius dan ilmiah. Kata Kunci Fatherlessness. Keterlibatan ayah. Michael Lamb. Perkembangan anak. Tafsir Al-Misbah Pendahuluan Fenomena Fatherlessness atau ketiadaan peran ayah dalam kehidupan anak kini menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia. Istilah ini tidak hanya merujuk pada ketidakhadiran fisik ayah akibat perceraian, kematian, atau beban pekerjaan, tetapi juga mencakup ketidakhadiran secara emosional, meskipun ayah secara fisik tinggal serumah. Ketika ayah tidak hadir secara aktif dalam pengasuhan, anak berisiko kehilangan figur yang berperan penting dalam pembentukan karakter, moral, dan stabilitas emosional. Berdasarkan data UNICEF tahun 2021, sekitar 20,9% anak-anak di Indonesia tumbuh tanpa keterlibatan aktif dari ayah mereka, yang berarti hampir 3 juta anak usia dini mengalami kondisi Fatherlessness (Davita Dyah Ayu. Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis peran ayah tidak lagi bersifat individual, melainkan sudah menjadi persoalan sosial yang meluas. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susena. yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun yang sama menemukan bahwa hanya 37,17% anak usia 0Ae5 tahun yang diasuh oleh kedua orang tua kandung secara langsung (Averus Kautsar, 2. Ini menunjukkan bahwa mayoritas anak usia dini tidak mendapatkan pola pengasuhan utuh dari kedua orang Salah satu faktor penyumbang utama dari kondisi ini adalah tingginya Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 122-139 angka perceraian di Indonesia. Pada tahun 2022, tercatat lebih dari 000 kasus perceraian, meningkat sekitar 10,2% dibandingkan tahun sebelumnya (Rusti Dian, 2. Perceraian sering kali membuat anak tinggal bersama ibu, sementara keterlibatan ayah menjadi terbatas atau terputus sama sekali. Situasi ini berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak, terutama dalam aspek psikososial, pendidikan, dan kepribadian. Dampak dari Fatherlessness terhadap perkembangan anak sangat signifikan dan tidak bisa dianggap remeh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran dan keterlibatan aktif seorang ayah cenderung mengalami penurunan prestasi akademik, karena kurangnya dukungan, bimbingan, dan motivasi dari figur ayah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, mereka lebih rentan menghadapi gangguan emosional seperti kecemasan, stres, depresi, dan perasaan tidak Kehilangan sosok ayah juga meningkatkan risiko anak terlibat dalam perilaku menyimpang, seperti kenakalan remaja, pergaulan bebas, serta penyalahgunaan alkohol dan narkoba (Rusti Dian, 2. (Rusti Dian, 2. Lebih jauh lagi, ketiadaan ayah dalam proses pengasuhan berdampak pada aspek psikososial anak secara jangka panjang. Anak-anak Fatherlessness sering mengalami krisis identitas, kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat, serta lemahnya orientasi nilai moral yang biasanya ditanamkan melalui figur otoritatif seperti ayah. Hal ini juga mempengaruhi pembentukan karakter dan kepercayaan diri anak di masa depan(Averus Kautsar, 2. Jika fenomena ini terus dibiarkan tanpa solusi yang tepat, maka Indonesia berisiko menghadapi generasi yang secara emosional rapuh dan rentan terhadap berbagai penyimpangan sosial, yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas sosial dan pembangunan bangsa secara Penelitian mengenai peran ayah dalam pendidikan anak telah dilakukan dengan berbagai pendekatan, baik dari perspektif keislaman maupun psikologi modern. Misalnya. Penelitian yang dilakukan oleh Hanifaa. Ummi. Siti Ardianti, dan Gadis Ayuni Putri yang menyoroti penerapan nilainilai Islam dalam kisah Nabi Ismail A. untuk pendidikan karakter anak. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode kajian literatur terhadap ayat-ayat Al-QurAoan dan tafsir, penelitian ini menekankan nilai-nilai seperti ketaatan, keteladanan, serta kedekatan hubungan antara ayah dan anak dalam konteks pengasuhan Islami (Ummi Hanifaa. Siti Ardianti, & Gadis Ayuni Putri, 2. Senada dengan itu, penelitian Miftahur Rahmah mengkaji kisah Nabi Ibrahim dan Ismail A. dengan pendekatan tafsir tematik untuk mengungkap bagaimana komunikasi, spiritualitas, dan keteladanan orang tua berperan dalam membentuk anak shaleh(Rahmah. Keduanya penelitian tersebut menekankan pentingnya keterlibatan orang tuaAikhususnya ayahAidalam proses pendidikan dan pembentukan karakter anak menurut perspektif Islam, dengan fokus utama pada nilainilai moral dan spiritual. Berbeda dengan kedua penelitian tersebut, penelitian ini tidak hanya Lailatun Nuzula Hidayati &. Fitrah Sugiarto Fenomena Fatherlessness mengeksplorasi kisah keteladanan ayah dalam Al-QurAoan khususnya pada QS. Ash-Shaffat . : 102, tetapi juga berupaya merespons fenomena sosial kontemporer berupa meningkatnya kasus Fatherlessness yang berdampak pada perkembangan psikologis dan moral anak. Dengan menggabungkan tafsir Al-Misbah karya Quraish ShihabAisebagai representasi tafsir kontekstual modernAidan teori keterlibatan ayah dari Michael E. Lamb yang mencakup dimensi keterlibatan, aksesibilitas, dan tanggung jawab, penelitian ini menempati posisi unik dalam mengintegrasikan pendekatan keislaman dan psikologi keluarga. Oleh karena itu, kontribusi utama penelitian ini terletak pada upayanya memberikan solusi konseptual dan aplikatif terhadap krisis figur ayah dalam keluarga melalui pendekatan interdisipliner yang belum dibahas secara eksplisit dalam studi sebelumnya. Penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengintegrasikan nilai-nilai pengasuhan dalam QS. Ash-Shaffat . : 102, khususnya dialog spiritual dan emosional Nabi Ibrahim kepada Ismail, dengan teori keterlibatan ayah yang dikembangkan oleh Michael E. Lamb. Pendekatan ini menempatkan peran ayah tidak hanya sebagai sosok religius yang taat, tetapi juga sebagai figur yang terlibat secara aktif, emosional, dan bertanggung jawab dalam pengasuhan anak, sebagaimana diklasifikasikan dalam aspek engagement, accessibility, dan responsibility(Lamb, 2. Dengan pendekatan tafsir tematik yang didukung oleh teori psikologi perkembangan, penelitian ini menyuguhkan kebaruan dalam memahami peran ayah secara interdisipliner, yakni menjembatani tradisi keislaman dengan tuntutan psikologis masa kini. Di tengah meningkatnya fenomena Fatherlessness di Indonesia (Rusti Dian, 2. , penelitian ini juga relevan secara kontekstual sebagai kontribusi ilmiah terhadap penguatan keluarga berbasis spiritual dan ilmiah. Berdasarkan urgensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kembali peran ayah dalam pendidikan anak dengan mengacu pada perspektif QS. Ash-Shaffat . : 102 dalam tafsir al-Misbah dan teori Michael Lamb, serta merumuskan langkah-langkah revitalisasi peran ayah dalam konteks keluarga modern. Harapannya, kajian ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat struktur keluarga dan menciptakan generasi yang lebih tangguh secara spiritual, emosional, dan intelektual. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan . ibrary researc. (Moleong, 2. Fokus kajian terletak pada analisis teks keagamaan dan teori psikologi perkembangan anak. Surah Ash-Shaffat . : 102 dianalisis berdasarkan Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab untuk menggali nilai-nilai pendidikan dan peran ayah. Selanjutnya, teori keterlibatan ayah oleh Michael E. Lamb digunakan untuk menjelaskan fungsi ayah dalam pengasuhan melalui tiga dimensi: engagement, accessibility, dan responsibility (Lamb, 2004, p. Sumber data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer meliputi al-QurAoan Surah Ash-Shaffat Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 122-139 . : 102. Tafsir al-Misbah, serta karya-karya Michael E. Lamb terkait peran ayah dalam pengasuhan dan perkembangan anak. Sumber sekunder mencakup jurnal ilmiah, buku-buku psikologi perkembangan, literatur tentang fenomena Fatherlessness generation, serta artikel-artikel yang mengkaji integrasi antara nilai Islam dan teori psikologi social (Arief, 2002. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan dianalisis dengan model interaktif melaui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan (Miles & Huberman, 1994, p. Hasil dan Pembahasan Konsep Dan Keteladanan Peran Ayah Dalam QS. Ash-Shaffat . : 102 Surah Ash-Shaffat . : 102 menggambarkan momen penting ketika Nabi Ibrahim Aoalaihis salam menyampaikan kepada putranya. Ismail, tentang perintah Allah untuk menyembelihnya. Alih-alih bersikap otoriter atau memaksa. Ibrahim mengajak anaknya berdiskusi dengan penuh empati dan penghargaan terhadap nalar anak, sebagaimana firman Allah: a a e ca a a a a a a ca a a a ae ae a a a aea ca AE O a aIacO Ic eO A AI aI eOe E AI e aI A AIA AIA AEA AOA a AOA AAEI E IN E aO CA a a c a AE Oe aA a c AA a eE aI a e aI a a a a I eO eI a aA AyA AEE aI aI EA a a eO aIA A O CA a e a a AuKetika anak itu sampai pada . ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahi. AuWahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?Ay Dia (Ismai. AuWahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Alla. kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang Ay Adapun konsep dan keteladanan peran ayah dalam Surah Ash-Shaffat . :102 adalah sebagi berikut : Ayah sebagai Pendidik Spiritual dan Emosional Surah Ash-Shaffat . : 102 mengisahkan momen monumental antara Nabi Ibrahim dan putranya. Ismail, ketika Ibrahim menerima perintah ilahi untuk menyembelih anaknya. Namun yang menarik dari ayat ini bukan hanya perintah tersebut, melainkan cara Nabi Ibrahim menyampaikan wahyu itu kepada anaknya. Dalam kalimatnya. Ibrahim berkata: AuMaka pikirkanlah apa a a a e a a pendapatmu!Ay (AA. AI I OAsebuah ajakan berdialog yang sangat tidak lazim jika dilihat dari posisi orang tua terhadap anak dalam tradisi otoriter. Dalam Tafsir al-Misbah. Quraish Shihab menafsirkan bahwa dialog ini menunjukkan penghargaan terhadap akal dan perasaan anak, serta mengindikasikan bahwa pendidikan dalam Islam bersifat konsultatif dan partisipatif, bukan memaksa. Nabi Ibrahim ingin membentuk kesadaran spiritual Ismail secara sukarela dan sadar, bukan karena tekanan atau kekuasaan orang tua semata (Shihab & Al-Misbah, 2002, p. Selain itu, keterlibatan emosional orang tua, terutama ayah, berperan Lailatun Nuzula Hidayati &. Fitrah Sugiarto Fenomena Fatherlessness besar dalam pembentukan identitas religius dan stabilitas emosi anak. Anak yang tumbuh dengan pola komunikasi terbuka dan penuh kasih akan lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai agama secara otentik dan tidak kaku (Sari & Handayani, 2. Hal ini ini menunjukkan bahwa pengasuhan dengan pendekatan spiritual-emosional memiliki pengaruh jangka panjang terhadap perilaku dan keseimbangan psikologis anak, yang juga tercermin dalam kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Dalam konteks keluarga modern yang rawan mengalami Fatherlessness secara emosional, keteladanan Ibrahim dalam QS. Ash-Shaffat . : 102 dapat menjadi model ideal bagaimana ayah hadir tidak hanya secara fisik, tetapi juga sebagai pemimpin spiritual dan emosional. Figur ayah bukan sekadar penyedia materi, melainkan fasilitator pertumbuhan iman, karakter, dan kedewasaan psikologis anak. Ayah sebagai Figur Teladan dalam Ketaatan Dalam Surah Ash-Shaffat . : 102. Allah menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim, sebagai seorang ayah, menjalankan peran pengasuhan dengan pendekatan yang sangat manusiawi dan penuh hikmah dalam konteks perintah yang sangat beratAiyakni menyembelih anaknya sendiri. Ayat ini memuat dialog yang sarat makna antara ayah dan anak, di mana Nabi Ibrahim berkata kepada Ismail: AuWahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!Ay (QS. Ash-Shaffat . : . Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, tindakan Ibrahim ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak dijalankan secara kaku atau otoriter, melainkan melalui proses dialog dan ajakan berpikir bersama. Meskipun menerima perintah dari Allah yang bersifat mutlak. Nabi Ibrahim tetap memberi ruang bagi anaknya untuk memahami, merespons, dan turut terlibat secara sadar dalam proses pelaksanaannya. Hal ini mencerminkan bahwa dalam pendidikan tauhid, seorang ayah ideal tidak menjadikan anak sebagai objek pasif, tetapi sebagai subjek yang dihargai dan diajak bermusyawarah(Shihab & Al-Misbah, 2002, p. Respons Nabi Ismail juga memperkuat pandangan ini. Ia menjawab: AuWahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Ay (QS. Ash-Shaffat . : . Ini menunjukkan bahwa pendidikan yang telah diterapkan oleh Nabi Ibrahim sejak awal berhasil menanamkan sikap ketaatan, keikhlasan, dan kesabaran pada diri Ismail. Quraish Shihab menegaskan bahwa kualitas luar biasa dari Ismail ini merupakan buah dari proses panjang pendidikan berbasis cinta, komunikasi, dan keteladanan yang konsisten (Shihab & AlMisbah, 2002, p. Lebih lanjut, dalam pandangan ulama tafsir klasik seperti Al-Razi, ayat ini juga menggambarkan bahwa Ibrahim telah membangun relasi keimanan yang kuat dalam keluarganya, sehingga ujian yang berat pun dapat dihadapi dengan keteguhan bersama. Al-Razi mencatat bahwa Ismail dapat dengan tenang merespons perintah tersebut karena sebelumnya sudah terbiasa Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 122-139 melihat dan merasakan keimanan serta pengabdian ayahnya kepada Allah secara nyata (Al-Razi, 2000, p. Keteladanan Ibrahim sebagai ayah dalam ayat ini menjadi contoh ideal bahwa ayah bukan hanya pembimbing dalam hal duniawi, tetapi juga pemimpin spiritual yang membentuk karakter anak melalui keteladanan nyata, sikap terbuka, dan komunikasi yang membangun. Model pendidikan ini sangat relevan dalam keluarga muslim modern yang membutuhkan integrasi antara nilai otoritas dan kasih sayang dalam mendidik anak. Pelajaran bagi Keluarga Muslim Surah Ash-Shaffat . : 102 menyimpan pelajaran penting bagi keluarga Muslim dalam membentuk generasi yang berkarakter dan Dalam Tafsir al-Misbah. Quraish Shihab menekankan bahwa pendidikan dalam Islam tidak hanya menyangkut aspek kognitif seperti pengetahuan, tetapi lebih mendalam: menyentuh pembentukan kesadaran, sikap, dan karakter anak. Peran ayah sangat strategis dalam proses ini karena ia merupakan pemimpin spiritual dan moral di dalam rumah tangga (Shihab & Al-Misbah, 2002, p. (Shihab, 2002, 82. Nabi Ibrahim tampil sebagai contoh ideal. Beliau tidak hanya menjadi kepala keluarga secara formal, tetapi benar-benar mengambil peran aktif sebagai pendidik utama. Ketika menghadapi perintah penyembelihan yang luar biasa berat. Ibrahim mengajak Ismail berdialog, menunjukkan bahwa komunikasi dalam pengasuhan harus dilandasi oleh kepercayaan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap kemampuan berpikir anak. Sikap ini mengindikasikan bahwa pengasuhan yang QurAoani bersifat partisipatif dan dialogis, bukan otoriter. Hal ini sejalan dengan prinsip dalam pendidikan Islam yang menganjurkan taAodib . embinaan ada. , bukan sekadar taAolim . ransfer ilm. (M. Al-Attas, 1980, pp. 9Ae. Pendidikan dalam keluarga Muslim idealnya mencerminkan nilai keteladanan . swah hasana. , di mana ayah berperan sebagai contoh hidup bagi anak dalam aspek ibadah, etika, dan pengambilan keputusan. Dengan kata lain, anak lebih mudah menangkap nilai-nilai luhur melalui pengamatan langsung terhadap perilaku orang tuanya, terutama ayah, daripada hanya melalui instruksi verbal (Sumitro, 2. Maka dari itu, sikap Nabi Ibrahim yang tetap bersikap lembut dan penuh kasih bahkan dalam kondisi ujian berat adalah manifestasi nyata dari metode pengasuhan yang efektif dan berlandaskan nilai-nilai ilahiah. Kedekatan emosional antara ayah dan anak dapat memperkuat rasa aman, kepercayaan diri, dan keterbukaan anak dalam menyerap nilai-nilai agama serta sosial. Di era modern yang penuh tantangan, pendekatan yang mengutamakan komunikasi terbuka dan keteladanan ini menjadi sangat relevan untuk membentengi anak dari krisis moral dan spiritual (Hidayati. Kaloeti, & Karyono, 2. Lebih dari itu, keberhasilan Nabi Ibrahim dalam mendidik Ismail juga menunjukkan bahwa penguatan nilai spiritual di rumah harus dimulai sejak usia dini, dan ayah memiliki tanggung jawab langsung dalam proses tersebut. Lailatun Nuzula Hidayati &. Fitrah Sugiarto Fenomena Fatherlessness Dengan melibatkan anak dalam percakapan penting, serta menunjukkan konsistensi antara ucapan dan tindakan, ayah mampu membangun fondasi karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Allah secara alami. Dengan demikian, pelajaran yang dapat diambil oleh keluarga Muslim adalah bahwa membangun rumah tangga yang kokoh tidak cukup dengan pemenuhan fisik dan materi semata, tetapi juga melalui pendidikan spiritual, komunikasi yang terbuka, serta keteladanan moral dari orang tua . erutama aya. yang menjadi panutan utama dalam kehidupan anak. Teori Keterlibatan Ayah Menurut Michael E. Lamb Michael E. Lamb adalah salah satu tokoh terkemuka dalam bidang psikologi perkembangan anak, yang secara khusus meneliti peran ayah dalam pengasuhan. Ia adalah seorang psikolog perkembangan terkemuka asal Amerika Serikat yang dikenal luas karena kontribusinya dalam studi tentang peran ayah, perkembangan anak, dan hubungan pengasuhan dalam konteks keluarga. Ia lahir pada tahun 1953 dan memperoleh gelar Ph. dari Yale University. Sejak awal kariernya. Lamb telah berfokus pada isu-isu yang berkaitan dengan keterikatan emosional anak, dinamika keluarga, dan keterlibatan orang tua, terutama ayah, dalam perkembangan anak (Lamb, 2004, p. Lamb pernah menjabat sebagai Kepala Section on Social and Emotional Development di National Institute of Child Health and Human Development (NICHD), yang berada di bawah National Institutes of Health (NIH). Amerika Serikat. Setelah itu, ia melanjutkan karier akademiknya sebagai profesor psikologi di University of Cambridge. Inggris, di mana ia juga pernah memimpin Departemen Psikologi Sosial dan Perkembangan. Lamb dikenal produktif dalam bidang akademik, telah menulis dan menyunting lebih dari 40 buku serta ratusan artikel ilmiah di jurnal bereputasi, termasuk karya terkenalnya The Role of the Father in Child Development, yang kini memasuki edisi kelima dan menjadi referensi utama dalam studi keluarga dan pengasuhan (Lamb, 2004, pp. xiiAex. Dalam bukunya The Role of the Father in Child Development . disi ke. Lamb mengembangkan teori keterlibatan ayah yang sangat berpengaruh. Ia mengidentifikasi bahwa peran ayah dalam kehidupan anak tidak dapat dipahami hanya dari keberadaan fisik semata, tetapi dari tiga dimensi utama keterlibatan, yaitu: Engagement (Keterlibatan Langsun. Engagement atau keterlibatan langsung merujuk pada partisipasi aktif seorang ayah dalam aktivitas sehari-hari anak, baik dalam bentuk permainan, membaca buku, membantu tugas sekolah, hingga kegiatan fisik seperti berolahraga bersama. Michael E. Lamb menyatakan bahwa keterlibatan ini adalah bentuk paling nyata dari kehadiran ayah yang berdampak langsung terhadap perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Ayah yang rutin berinteraksi secara positif dengan anak akan memperkuat rasa aman. Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 122-139 kelekatan emosional, dan kepercayaan diri anak (Lamb, 2004, pp. 3Ae. Lebih jauh, keterlibatan ini bukan hanya soal Auwaktu bersamaAy, tetapi juga kualitas dari interaksi tersebut. Studi dari Pleck dan Masciadrelli . menyebutkan bahwa anak-anak yang ayahnya terlibat aktif dalam kegiatan harian mereka menunjukkan kemampuan berpikir kritis, prestasi akademik yang lebih tinggi, dan stabilitas emosi yang lebih baik (Pleck & Masciadrelli, 2. Dalam konteks Islam, keterlibatan seperti ini sejajar dengan konsep taAolim dan tarbiyah yaitu penanaman nilai dan kesadaran melalui keteladanan dan dialog, di mana orang tua bertugas membimbing anak secara aktif dalam proses pembelajaran kehidupan (Hasan Langgulung, 2000, p. Menurut Al-Attas, taAodib bukan hanya soal pemberian ilmu, tetapi juga pembentukan akhlak dan kepribadian melalui relasi yang bermartabat antara pendidik dan peserta didik (S. -N. Al-Attas. Djojosuwarno, & Mahzar, 1981, p. Dalam konteks ini. Ibrahim tidak bertindak sebagai otoritas mutlak, melainkan sebagai pendidik yang menyertakan anaknya dalam proses berpikir dan bertindak. Model komunikasi ini juga sangat selaras dengan pendekatan pendidikan partisipatif modern, yang menghargai peran anak sebagai subjek aktif dalam proses belajar dan pembentukan identitas diri(Freire, 2021, pp. 45Ae. Keterlibatan dialogis ayah dalam pengambilan keputusan anak berdampak positif terhadap perkembangan empati, rasa percaya diri, dan kemampuan anak dalam menyelesaikan konflik (Pleck & Masciadrelli, 2004, p. Accessibility (Ketersediaan secara Fisik dan Emosiona. Accessibility mengacu pada sejauh mana seorang ayah tersedia bagi anaknya, baik secara fisik maupun emosional. Michael E. Lamb menjelaskan bahwa ayah tidak selalu harus terlibat langsung dalam aktivitas setiap saat, namun kehadirannya yang dapat diandalkanAidalam arti anak tahu bahwa ia bisa mengakses perhatian dan dukungan dari sang ayahAisangat penting dalam membentuk rasa aman dan kestabilan psikologis anak (Lamb, 2004, 5Ae. Ketersediaan ini mencakup kemampuan ayah untuk hadir ketika dibutuhkan, memberikan perhatian saat anak menunjukkan emosi atau masalah, serta memberikan respons yang empatik dan mendukung. Penelitian dari Bowlby dalam teori attachment menyatakan bahwa keterikatan yang aman . ecure attachmen. tidak hanya dibentuk oleh keterlibatan fisik, tetapi lebih pada konsistensi dan sensitivitas respons orang tua terhadap kebutuhan emosional anak (J. Bowlby, 2008, p. Dalam hal ini, kehadiran ayah secara emosionalAimenjadi pendengar yang baik, memberikan validasi perasaan anak, dan hadir secara mentalAidapat memperkuat hubungan emosional yang mendalam. Dalam konteks keluarga modern, banyak ayah yang bekerja dalam jam panjang atau tinggal berjauhan karena alasan ekonomi. Namun, studi menunjukkan bahwa meskipun waktu fisik terbatas, ayah tetap bisa memberikan akses emosional yang kuat melalui komunikasi yang hangat Lailatun Nuzula Hidayati &. Fitrah Sugiarto Fenomena Fatherlessness dan perhatian yang berkelanjutan. Kualitas interaksiAiseperti memberikan pujian, perhatian, dan empatiAilebih berpengaruh terhadap kesejahteraan anak dibandingkan kuantitas waktu semata (SchoppeAaSullivan & Fagan. Anak-anak yang merasa dapat dengan mudah mengakses perhatian emosional dari ayah mereka memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Hal ini membuktikan bahwa peran ayah sebagai emotional base sangat penting dalam perkembangan psikososial anak, terutama dalam menghadapi tekanan lingkungan dan dinamika sosial yang kompleks (Nurwandri et al. , 2. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan nilai rahmah . asih sayan. dalam Islam. Rahmah tidak sekadar dimaknai sebagai cinta yang pasif, melainkan sebagai bentuk kasih sayang yang aktif dan konkret. Hal ini tercermin dalam keterlibatan penuh seorang ayah dalam menghadapi kesulitan anak, menunjukkan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih, serta merespons kebutuhan emosional anak secara tepat dan penuh empati. Nilai ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-AnbiyaAo . :107 yang menggambarkan Nabi Muhammad sebagai Aurahmatan lil AoalaminAy . ahmat bagi semesta ala. Spirit kenabian tersebut dapat menjadi teladan bagi seorang ayah dalam keluarga, yakni dengan menjadi sumber ketenangan psikologis, kasih sayang, dan empati yang membentuk relasi yang sehat antara ayah dan anak (Shihab & Alquran, 1. Lamb menekankan accessibility sebagai kehadiran yang dapat diandalkan, sementara konsep rahmah dalam Islam menambahkan dimensi transendental: hadir bukan hanya sebagai pendengar atau pelindung, tetapi juga sebagai sumber ketenangan yang menyambungkan anak dengan kasih sayang Tuhan. Keduanya menekankan sensitivitas emosional, namun Islam memperluas makna ini dalam konteks ibadah dan keimanan. Responsibility (Tanggung Jawab Ayah dalam Pengasuha. Responsibility atau tanggung jawab dalam konteks peran ayah mencakup lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Menurut Michael E. Lamb, dimensi ini merujuk pada keterlibatan ayah dalam perencanaan, pengawasan, serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan anak, seperti pendidikan, kesehatan, nilai-nilai moral, dan kesejahteraan emosional anak (Lamb, 2004, pp. 6Ae. Tanggung jawab ini menuntut ayah untuk sadar dan aktif dalam menjalankan perannya sebagai figur utama dalam pertumbuhan anak, bukan sekadar sebagai penyedia finansial. Dalam keluarga modern, tanggung jawab pengasuhan telah mengalami pergeseran dari peran tradisional yang bersifat hierarkis menuju kemitraan pengasuhan yang setara antara ayah dan ibu. Ayah yang menunjukkan rasa tanggung jawab tinggi dalam pengasuhan anak akan lebih mungkin membangun relasi yang sehat dengan anak, serta memberikan dampak positif terhadap perkembangan sosial dan akademik mereka (Pleck & Masciadrelli, 2. Ayah yang bertanggung jawab juga lebih cenderung Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 122-139 berpartisipasi dalam kegiatan sekolah anak, membuat keputusan terkait kebutuhan medis, dan ikut mengarahkan pembentukan karakter anak. Ayah yang terlibat aktif dalam kegiatan parenting seperti pengambilan keputusan pendidikan, diskusi nilai moral, dan rutinitas rumah tangga berkontribusi terhadap keharmonisan keluarga serta pembentukan identitas anak yang kuat (Sarkadi. Kristiansson. Oberklaid, & Bremberg. Ini menjadi bukti bahwa peran tanggung jawab ayah adalah pilar utama dalam menciptakan keluarga yang sehat secara psikologis dan sosial. Konsep ini sejalan dengan nilai amanah . anggung jawa. dan qawwamah . sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-NisaAo . :34, bahwa laki-laki . adalah qawwam atas perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka. Kepemimpinan ini bukanlah bentuk otoritas yang memaksa, melainkan bersifat mendidik, melayani, dan menumbuhkan. Dalam konteks keluarga, keterlibatan ayah dalam pengambilan keputusan tidak bersifat dominatif, tetapi dilandasi prinsip musyawarah dan kesadaran akan tanggung jawab spiritual terhadap istri dan anak-anaknya(Shihab, 2002, p. Michael Lamb menekankan dimensi tanggung jawab dari perspektif sosial-psikologis, sedangkan Islam memandang tanggung jawab ayah sebagai ibadah dan amanah ilahiyah. Artinya, setiap keputusan yang diambil oleh ayah dalam rumah tangga tidak hanya berdampak pada dunia anak, tetapi juga bernilai akhirat Ketiga aspek diatas secara komprehensif menggambarkan bahwa kehadiran ayah dalam kehidupan anak tidak cukup hanya secara simbolik atau biologis, melainkan harus terejawantah dalam bentuk partisipasi aktif dan berkelanjutan dalam pengasuhan anak. Lamb menggarisbawahi bahwa ayah yang terlibat secara penuh berperan penting dalam membentuk landasan psikologis yang sehat bagi anak. Anak-anak yang memiliki ayah dengan tingkat keterlibatan tinggi cenderung menunjukkan kestabilan emosi, kemampuan adaptasi yang baik, serta kualitas hubungan sosial yang positif dengan lingkungan sekitarnya (Lamb, 2004, p. Teori ini sangat relevan di tengah fenomena Fatherlessness yang meningkat, baik dalam bentuk ketidakhadiran fisik maupun emosional Lamb menyatakan bahwa banyak ayah secara tidak sadar telah mengundurkan diri dari peran pengasuhan karena tekanan sosial, budaya patriarki, atau alasan pekerjaan. Oleh karena itu, ia mendorong revitalisasi peran ayah, dengan mengedukasi masyarakat bahwa keterlibatan ayah bukan tambahan opsional, tetapi kebutuhan fundamental dalam perkembangan psikologis anak. Integrasi Antara Nilai-Nilai Al-QurAoan Surah Ash-Shaffat . : 102 Dan Teori Michael Lamb Integrasi antara nilai-nilai QurAoani dalam Surah Ash-Shaffat . 102 dan teori keterlibatan ayah yang dikemukakan oleh Michael E. Lamb menciptakan kerangka komprehensif yang dapat dijadikan dasar dalam Lailatun Nuzula Hidayati &. Fitrah Sugiarto Fenomena Fatherlessness revitalisasi peran ayah, terutama di tengah meningkatnya fenomena Fatherlessness generation. Ayat ini menampilkan sosok Nabi Ibrahim Aoalaihis salam sebagai figur ayah yang bukan hanya taat kepada Allah, tetapi juga memperlihatkan sikap empatik, komunikatif, dan penuh penghargaan terhadap akal serta perasaan anak. Ketika Ibrahim menerima perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Ismail, ia tidak memaksa atau memerintah secara otoriter, melainkan berkata. AuWahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?Ay (QS. Ash-Shaffat . : . Ayat ini mengandung nilai pengasuhan partisipatif yang sangat kontekstual dengan teori psikologi Dalam teori Michael E. Lamb, keterlibatan ayah diklasifikasikan menjadi tiga dimensi utama: engagement . eterlibatan aktif dalam aktivitas bersama ana. , accessibility . etersediaan fisik dan emosional aya. , dan responsibility . anggung jawab ayah terhadap kesejahteraan ana. Ketiganya tercermin dalam figur Nabi Ibrahim. Engagement : Keterlibatan Aktif Ayah dan Model Pengasuhan Dialogis Pada Surah Ash-Shaffat . : 102. Nabi Ibrahim `alaihis salam mencontohkan bentuk engagement yang sangat tinggi ketika ia berkata kepada putranya: AuWahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?Ay Ayat ini tidak hanya menggambarkan ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah, tetapi juga menunjukkan kedalaman emosional dan kognitif dalam relasinya dengan anak. Ia tidak bertindak otoriter, meskipun membawa perintah Tuhan. Sebaliknya, ia membuka ruang partisipasi dan pemikiran anak dalam keputusan yang sangat berat. Sikap ini adalah wujud konkret dari keterlibatan langsung . sebagaimana dijelaskan oleh Lamb, yakni ayah terlibat dalam aktivitas bermakna dan interaktif dengan anak (Lamb, 2004, pp. 2Ae. Dalam konteks modern, engagement bisa terlihat dari kegiatan sederhana seperti mendampingi anak belajar, bermain bersama, atau berdiskusi tentang nilai dan pengalaman hidup. Namun sayangnya, keterlibatan semacam ini seringkali terhambat oleh budaya patriarki yang masih menempatkan ayah hanya sebagai Aupengambil keputusanAy atau Aupenyedia nafkahAy, bukan mitra dialog bagi anak. Bahkan, banyak ayah merasa bahwa mendampingi anak adalah Autugas ibuAy. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan re-edukasi yang menyeluruh mengenai peran ayah, baik melalui media keluarga, kurikulum parenting, maupun pelatihan ayah . atherhood trainin. Re-edukasi ini bertujuan untuk membongkar pola pikir patriarkis yang menempatkan ayah semata-mata sebagai pencari nafkah, menuju pemahaman yang lebih utuh bahwa ayah juga merupakan figur emosional dan spiritual bagi anak. Program-program edukatif yang terstruktur dapat membekali para ayah dengan keterampilan pengasuhan berbasis kasih sayang, komunikasi efektif, serta kesadaran akan tanggung jawab moral terhadap Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 122-139 perkembangan anak (Samsinar, 2. Upaya ini menjadi semakin relevan mengingat berbagai studi menunjukkan bahwa keterlibatan ayah secara aktif berdampak signifikan terhadap perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak(Lamb, 2004, p. Accessibility : Kehadiran Emosional Ayah dan Nilai Rahmah Kedekatan emosional yang tergambar dari dialog Nabi Ibrahim Aoalaihis salam kepada Ismail dalam Surah Ash-Shaffat . : 102 merupakan bentuk nyata dari accessibility yakni dimensi keterlibatan ayah yang menekankan pada ketersediaan emosional dan psikologis ayah bagi anak. Dalam peristiwa itu. Ibrahim tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga membuka ruang emosional yang aman dan suportif agar Ismail merasa dihargai dan didengarkan. Ketika Ibrahim berkata. AuMaka pikirkanlah apa pendapatmu,Ay ia tidak sedang mencari persetujuan formal, melainkan sedang memperlihatkan ketersediaan hati dan waktu untuk mendengarkan, memahami, dan menguatkan anaknya dalam menghadapi tugas berat yang bahkan mengancam jiwanya. Ini adalah bentuk kehadiran emosional yang sangat dalam(Lamb, 2004, p. (Lamb, 2004, p. (E. Bowlby, 2008, p. (E. Bowlby, 2008, p. (Ulwan, 2007, p. (Ulwan, 2007, p. (Ulwan, 2007, p. Kata-kata Nabi Ibrahim dalam ayat tersebut bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi menunjukkan ketersediaan emosional dan spiritual. Ia menciptakan ruang aman bagi Ismail untuk berekspresi dan memberikan pendapat. Dalam teori Lamb, accessibility mengacu pada sejauh mana seorang ayah tersedia secara fisik dan emosional, bukan hanya AuadaAy, tetapi Auhadir dengan hati dan perhatianAy (Lamb, 2004, p. Fenomena yang terjadi saat ini, banyak ayah yang memang tinggal bersama anak secara fisik, tetapi absen secara emosional. Mereka tidak menyapa, tidak mendengarkan, dan tidak peka terhadap kebutuhan afeksi Kehadiran mereka seringkali formalistik. Padahal, dari perspektif Islam, kasih sayang . merupakan fondasi utama dalam relasi orang tua-anak. Abdullah Nashih Ulwan dalam Pendidikan Anak dalam Islam menegaskan bahwa pendidikan yang efektif dibangun melalui cinta, perhatian, dan interaksi yang hangat (Ulwan, 2007. Ini berarti, accessibility tidak hanya tentang ada di rumah, tetapi juga peka terhadap perasaan anak, memberikan validasi emosi, dan membangun kelekatan spiritual. Dalam dunia modern, keterbatasan waktu bisa diatasi dengan memaksimalkan kualitas pertemuan, seperti menyapa anak sepulang kerja, mengirim pesan perhatian, atau menemani mereka dengan sepenuh hati saat bersama. Teknologi bisa membantu menjaga kehadiran emosional ini, tetapi yang utama adalah kesadaran ayah akan perannya sebagai sumber rasa aman bagi anak. Responsibility : Keteladanan Tanggung Jawab dan Konsistensi Moral Keteladanan Nabi Ibrahim Aoalaihis salam dalam melaksanakan Lailatun Nuzula Hidayati &. Fitrah Sugiarto Fenomena Fatherlessness perintah Allah secara konsisten dan penuh tanggung jawab merupakan representasi yang kuat dari aspek responsibility dalam teori keterlibatan ayah menurut Michael E. Lamb. Dalam konteks Surah Ash-Shaffat . 102, ketika Nabi Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih anaknya. Ismail, ia tidak serta-merta menuruti perintah tersebut secara buta, tetapi mengkomunikasikannya secara bijaksana kepada sang anak. Setelah itu, ia tetap melaksanakan perintah tersebut dengan penuh tanggung jawab sebagai seorang hamba, meskipun perintah tersebut sangat berat secara emosional dan moral. Ini menunjukkan bahwa Ibrahim bukan hanya pemimpin keluarga secara spiritual, tetapi juga figur yang menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab ilahiah dan sosialnya sebagai seorang Responsibility dalam teori Lamb didefinisikan sebagai kesadaran dan keterlibatan ayah dalam pengambilan keputusan penting terkait anak, seperti pendidikan, moralitas, dan kesejahteraan psikologis (Lamb, 2004, pp. 6Ae. Dalam Surah Ash-Shaffat . :102, keteladanan Nabi Ibrahim terlihat jelas: ia memikul perintah yang amat berat dari Allah, lalu menyampaikannya kepada Ismail dengan penuh kelembutan dan tanggung jawab, dan akhirnya tetap menjalankan perintah tersebut dengan kesabaran dan tawakal. Sikap ini memperlihatkan bahwa ayah bukan hanya Aupemimpin keluargaAy dalam pengertian administratif, tetapi penuntun moral dan spiritual yang bersedia menanggung beban pendidikan nilai meskipun sulit secara emosional. Dalam pendidikan Islam, ayah bukan sekadar pencari nafkah, melainkan juga murabbi, yaitu pendidik utama dalam keluarga (Ulwan, 2. Namun, dalam realitas sosial kita saat ini, banyak ayah menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anak kepada ibu atau lembaga Mereka menganggap bahwa peran mereka cukup dengan memenuhi kebutuhan finansial. Akibatnya, banyak anak tumbuh tanpa figur otoritas moral yang kuat dalam keluarga. Mereka kehilangan kompas spiritual yang seharusnya ditanamkan oleh ayah. Untuk mengembalikan peran ini, diperlukan pendekatan holistik dalam pendidikan ayah, termasuk pelatihan keterampilan pengasuhan, penanaman nilai-nilai tanggung jawab spiritual, dan pembiasaan ayah terlibat dalam pengambilan keputusan keluarga. Figur Nabi Ibrahim menjadi model ideal ayah yang tidak hanya bertanggung jawab secara logistik, tetapi juga secara spiritual dan emosional. Dengan demikian, keteladanan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah dengan penuh tanggung jawab tidak hanya menunjukkan kepatuhan spiritual, tetapi juga memperlihatkan peran ayah sebagai pendidik yang konsisten, visioner, dan berintegritas. Keteladanan ini sejalan dengan konsep responsibility dalam teori keterlibatan ayah menurut Michael E. Lamb(Lamb, 2004, pp. 6Ae. , serta diperkuat oleh berbagai temuan akademik yang menegaskan bahwa keterlibatan ayah yang bertanggung jawab sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral, emosional, dan Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 122-139 spiritual anak dalam konteks keluarga dan masyarakat modern(Firdausi. Sharfina, & Salsabila, 2. (Firdausi. Sharfina, & Salsabila, 2. Tabel 1: Integrasi Nilai-Nilai Al-QurAoan Surah Ash-Shaffat . : 102 Dan Teori Michael Lamb Dimensi Teori Michael E. Lamb Accessibility Kehadiran emosional yang konsisten. Anak merasa ayahnya tersedia, peduli, dan dapat diakses dalam situasi emosional penting Responsibility Peran ayah sebagai pengambil keputusan strategis dalam pengasuhan anak: pendidikan, nilai moral, dan kesejahteraan emosional anak Engagement KESIMPULAN Keterlibatan aktif ayah dalam aktivitas bersama anak . ermain, berdiskusi, membantu kelekatan, empati, dan kepercayaan diri anak Nilai QurAoani (QS. Ash-Shaffat:. Aplikasi Modern dan Tantangannya Nabi Ibrahim berdialog dengan Ismail sebelum melaksanakan perintah Allah: AuMaka pikirkanlah apa pendapatmu?Ay Ai mencerminkan pengasuhan dialogis dan penuh hikmah. Ayah melibatkan anak dalam diskusi keluarga dan keputusan penting. Namun, budaya patriarki dan pola pikir ayah sebagai Auotoritas tunggalAy sering Solusi: edukasi ayah tentang pengasuhan partisipatif, pelatihan ayah friendly parenting. Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah Allah dengan bertanggung jawab, sambil tetap menjaga perasaan anak. Ia mendidik dengan konsistensi nilai dan kasih sayang Banyak ayah hanya fokus pada peran ekonomi. Tantangan: minimnya kesadaran tentang tanggung jawab moral-spiritual. Solusi: pelibatan ayah dalam parenting class, penekanan tanggung jawab sebagai murabbi bukan sekadar pencari nafkah Nabi Ibrahim menunjukkan kehadiran emosional dan Ia membuka ruang perasaan bagi Ismail, bukan sekadar menyampaikan perintah secara instruktif Dalam keluarga modern, ayah sering absen secara emosional meski tinggal serumah karena sibuk Solusi: menyediakan quality time, memanfaatkan teknologi . ideo call, pesan suar. jika berada jauh dari keluarga, dan pelatihan kecakapan emosional untuk ayah. Penelitian ini mengkaji integrasi antara nilai-nilai QurAoani dalam Surah AshShaffat . :102 dengan teori keterlibatan ayah yang dikemukakan oleh Michael E. Lamb, dengan tujuan untuk membangun kerangka konseptual yang relevan dalam menjawab tantangan pengasuhan kontemporer, khususnya fenomena Fatherlessness generation. Fokus utamanya adalah menggali bagaimana keteladanan Nabi Ibrahim `alaihis salam sebagai seorang ayah mencerminkan nilai-nilai keterlibatan emosional, tanggung jawab moral, dan keterlibatan aktif yang sejalan dengan tiga dimensi keterlibatan ayah menurut Lamb: engagement, accessibility, dan responsibility. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa dialog antara Nabi Ibrahim dan Ismail menggambarkan engagement yang tinggi, ditandai oleh interaksi yang edukatif, partisipatif, dan spiritual. Ketersediaan emosional Ibrahim yang membuka ruang perasaan anak mencerminkan dimensi accessibility, sedangkan keteguhan Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah tanpa Lailatun Nuzula Hidayati &. Fitrah Sugiarto Fenomena Fatherlessness mengabaikan perasaan anaknya merepresentasikan responsibility sebagai kepala keluarga sekaligus pendidik moral. Ketiga aspek ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai pengasuhan QurAoani memiliki keselarasan mendalam dengan teori keterlibatan ayah dalam psikologi modern, serta relevan untuk diadaptasi dalam konteks sosial-kultural saat ini. Implikasi dari temuan ini sangat signifikan. Secara teoretis, integrasi nilai QurAoani dan teori Lamb memperkuat pendekatan multidisipliner antara psikologi perkembangan dan pendidikan Islam. Secara praktis, penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan ayah memiliki dampak langsung terhadap kestabilan emosi, perkembangan moral, dan ketahanan psikologis anak. Oleh karena itu, keluarga perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi ayah untuk terlibat dalam pengasuhan. pendidik dapat menyusun kurikulum pendidikan karakter yang menyertakan keteladanan ayah. dan pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan regulasi yang mendukung peran pengasuhan ayah, seperti program fatherhood education dan kebijakan cuti ayah. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan karena bersifat konseptual dan belum didukung oleh data empiris. Selain itu, fokusnya terbatas pada satu ayat dan satu tokoh teori. Untuk itu, riset selanjutnya disarankan untuk melakukan studi lapangan terhadap praktik keterlibatan ayah di komunitas muslim, menyusun modul pelatihan berbasis nilai-nilai QurAoani dan teori Lamb, serta menggali peran figur ayah lainnya dalam Al-QurAoan untuk memperkaya khazanah teori pengasuhan berbasis Islam. DAFTAR PUSTAKA