Counseling & Humanities Review Vol. No. 1 2026, pp. p-ISSN: 2798-3188, e-ISSN: 2798-0316 || http://bk. id/index. php/chr DOI: https://doi. org/10. Received (December 03rd 2. Accepted (December 25th 2. Published (January 14th 2. Transfer Pengetahuan Antar Generasi untuk Pelestarian Budaya Lokal di Era Digital: Kajian Systematic Literature Review (SLR) Evah Farhah1*). Tamara Adriani Salim 2. Muhamad Prabu Wibowo3 Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Indonesia. Jln. Margonda Raya. Pondok Cina. Kecamatan Beji. Kota Depok. Jawa Barat 16424 *Corresponding author, e-mail: vafarhah@gmail. 1,2,3 Abstract Perkembangan teknologi informasi dan digital yang semakin cepat memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pelestarian budaya lokal terutama bagi proses transfer pengetahuan antar generasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana proses budaya lokal di wariskan, teknologi digital yang digunakan dan tantangan apa saja yang dihadapi untuk menjaga keberlangsungan budaya lokal. Menggunakan Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan PRISMA dengan menganalisis artikel-artikel yang relevan dengan topik penelitian. Hasil menunjukkan bahwa proses transfer pengetahuan tetap bertumpu pada interaksi manusia melalui cerita lisan, demonstrasi praktik budaya, peran tetua, keluarga, dan komunitas. Dari sisi teknologi teknologi seperti Content Management Systems (Mukurtu. Omek. , arsip digital, media sosial. YouTube, digital storytelling dapat memperluas akses dan Upaya dokumentasi budaya. keterbatasan infrastruktur, masalah etika dan kedaulatan data, serta kekhawatiran terhadap komersialisasi budaya menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam pelestarian budaya. keberhasilan pelestarian budaya lokal di era digital bergantung pada kemampuan menyeimbangkan inovasi teknologi dengan nilai-nilai tradisional serta memastikan keterlibatan aktif komunitas dalam setiap tahap pengelolaan pengetahuan budaya Keywords: budaya local, transfer pengetahuan, era digital, pelestarian budaya, berbagi pengetahuan This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2019 by author. Introduction Ditengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, keberlangsungan budaya lokal menghadapi tantangan yang begitu kompleks. Moderenisasi memang mendatangkan banyak manfaat tetapi pada saat yang sama juga dapat mendorong masuknya nilai-nilai budaya global yang berpotensi menyingkirkan atau mengaburkan budaya lokal apabila tidak dikelola dengan cara yang tepat dan adaptif. Pelestarian budaya lokal merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan karena bukan hanya menjaga identitas suatu bangsa, tetapi juga memastikan bahwa nilai, pengetahuan, dan praktik leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Adiwijaya et al. , 2. Kearifan lokal merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan keberadaannya terutama di tengah arus globalisasi saat ini, untuk menjaga keberlanjutan kearifan lokal memerlukan keseimbangan antara unsur lokal dan global. Globalisasi dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperkenalkan kearifan lokal ke tingkat internasional, tanpa menghilangkan karakter dan jati diri budaya setempat. Pelestarian budaya lokal tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan aktif generasi tua sebagai penjaga memori kolektif komunitas. Kehadiran mereka bukan hanya simbolik, melainkan krusial dalam menjaga kontinuitas makna budaya yang tidak dapat sepenuhnya diwakili oleh teks, gambar, atau representasi media semata. Dalam konteks budaya digital, partisipasi generasi tua menjadi prasyarat Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2026, pp. xx-xx penting untuk memastikan bahwa proses narasi budaya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mengandung kedalaman historis dan spiritual yang autentik (Solihin et al. , 2. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menyusun sebuah Systematic Literature Review (SLR) mengenai bagaimana pengetahuan budaya ditransfer antar generasi di era digital, teknologi apa saja yang digunakan untuk mendukung proses tersebut, serta tantangan yang muncul dalam implementasinya. Pendekatan SLR dipilih karena memungkinkan peneliti meninjau berbagai hasil penelitian secara sistematis, terstruktur, dan dapat direplikasi, sesuai dengan panduan PRISMA 2020. Dengan cara ini, penelitian ini berupaya memberikan gambaran menyeluruh mengenai upaya pelestarian budaya lokal melalui integrasi antara tradisi dan teknologi digital Method Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR) yang menyatukan banyak penelitian sebelumnya dengan metode yang ketat dan transparan, dengan menggunakan pendekatan PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan sumber data Scopus sebagai sumber utama untuk memperoleh artikel yang berkaitan dengan transfer pengetahuan lokal di era Scopus dipilih sebagai sumber utama sumber literatur karena memiliki cakupan publikasi yang sangat luas diberbagai cakupan keilmuan serta menerapkan proses seleksi dan peninjauan yang ketat. Dengan karateristik tersebut, scopus menjadi flatform yang tepat untuk memperoleh artikel akademik yang berkualitas. Pertanyaan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menjawab tiga pertanyaan utama: RQ 1 : Bagaimana proses transfer pengetahuan antar generasi dalam konteks pelestraian budaya local RQ 2 : Teknologi atau media digital apa saja yang digunakan dalam proses transfer pengetahuan budaya? RQ 3 : Tantangan apa yang dihadapi dalam transfer pengetahuan antar generasi? Strategi pencarian dilakukan dengan mengkombinasikan kata kunci dari topik penelitian yaitu transfer pengetahuan, budaya local, era digital. Untuk memberikan cakupan yang lebih luas digunanakan operator Boolean seperti AuANDAy dan AuORAy . kombinasi kata kunci yang digunakan sebagai berikut : (AuKnowledge TransferAy OR AuKnowledge sharingAy OR AuKnowledge managementA. (AuPreservationA. AND (AuLocal CultureAy OR AuIndigenous knowledgeA. AND (AuDigital EraAy OR AuDigital transformationA. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Tabel 1. Kriteria Inkusi dan Eksklusi Inklusi Eksklusi Artikel publikasi tahun 2015 - 2025 Artikel publikasi sebelum tahun 2025 membahas transfer pengetahuan Tidak membahas tranfer pengetahuan Membahasa budaya lokal Tidak relevan dengan budaya lokal Membahas era digital atau teknologi Tidak Membahas era digital atau teknologi Artikel open access Artikel tidak tersedia full-text Transfer Pengetahuan Antar Generasi untuk Pelestarian Budaya Lokal di Era Digital Evah Farhah. Tamara Adriani Salim. Muhamad Prabu Wibowo 33 Proses seleksi PRISMA Identificatio Identification of studies via databases Records identified from*: Scopus . = 158 ) Records excluded: Not a journal article . = . Not Published Between 2015-2025 . = . Not Written in English . = . Not an Open Acces . = . Total record excluded . Screening Records screened . = . Reports sought for retrieval . = . Reports excluded: Irrelevant to local culture and knowledge transfer . = . Include Reports assessed for eligibility . = . Studies included in review . = . Gambar 1. Seleksi Berdasarkan Prisma Results and Discussion Hasil temuan literature Berdasarkan seleksi PRISMA yang digunakan seperti pada gambar 1, diperoleh 12 artikel yang relevan untuk digunakan dalam proses literatur review. Kode Artikel Penulis Chern Liew. AilsaLipscombe http://bk. id/index. php/chr Tabel 2. Artikel Terpilih Judul Centering dialog and care in digital Indigenous knowledge Ofrelationality, responsibility, and respect Tahun Penerbit John Wiley and Sons Inc Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2026, pp. xx-xx De-Graft Johnson Dei,. Monica Mensah Danquah Mirrors of Indigenous Management Knowledge and Knowledge SAGE Publications Ltd Fang Yi Xue. Sarjit S. Gill. Mohd Roslan Rosnon. Choo Yeong Khong Exploring the Role of ICT in Promoting Preserving Kadazan-Dusun Culture Universiti Putra Malaysia Oluwayemi IbukunOluwa Odularu. Enongene Mirabeau Sone. Mandisa Eunice Puzi Globalisation Perspective Libraries as Curators of Oral Tradition Storytelling Activities OpenED Network Hemi Whaanga. David Bainbridge. Michela Anderson. Korii Scrivener. Papitha Cader. Tom Roa. Taka Keegan He Matapihi MA Mua. Ms Muri: The Ethics. Processes. Procedures Associated with the Digitization Indigenous KnowledgeAiThe Pei Jones Collection Routledge Ali Shiri. Howard. Farnel Deanna Sharon Indigenous Digital Storytelling: Digital Interfaces Supporting Cultural Heritage Preservation and Access Routledge Josiline Chigwada. Patrick Ngulube. LibrariansAo role in the preservation and dissemination of indigenous John Wiley and Sons Inc Shahid Minhas. Abiodun Salawu Preserving Promoting Indigenous Languages: Social Media Analysis of Punjabi and Setswana Languages SAGE Publications Ltd Josiline Chigwada. Patrick Ngulube. Peterson Dewah Preserving Indigenous Knowledge in Culture Houses in the Digital Era Masvingo Province. Zimbabwe Archlib Information Services Ltd A10 Josiline Chigwada. Patrick Ngulube Stakeholders in the acquisition, preservation, and dissemination of indigenous knowledge projects SAGE Publications Ltd A11 Xanat Vargas Meza. Shizuko HayashiSimpliciano. Takumi Yokoyama. Chieko Nishimura. Ryohei YouTube Itak: a description of Ainu-related videos Springer Nature Transfer Pengetahuan Antar Generasi untuk Pelestarian Budaya Lokal di Era Digital Evah Farhah. Tamara Adriani Salim. Muhamad Prabu Wibowo 35 Nishida& Ochiai Yoichi RQ 1 Proses transfer pengetahuan antar generasi Berdasarkan analisis terhadap artikel yang dihasilkan, ditemukan bahwa proses transfer pengetahuan antar generasi dalam konteks budaya local di era digital dilakukan melalui berbagai pendekatan baik yang bersifat tradisional maupun yang telah bertranformasi melalui teknologi namun cara penyampaiannya kini semakin beragam dan adaptif. Transfer Berbasis Nilai Adat Konsep kaitiakitanga dari Masyarakat Maori menunjukan bahwa pengetahuan diwariskan bukan sekedar sebagai informasi tetapi sebagai Amanah yang harus dijaga untuk masa depan, prosesnya menekankan pada hubungan, rasa hormat dan tanggung jawab. Pendekatan ini membuat pengetahuan tidak hanya berpindah secara kognitif tetapi juga emosional dan spiritual sebuah proses yang penting agar generasi penerus memahami makna budaya secara utuh (Liew & Lipscombe, 2. Transfer Melalui Stortelling dan Tradisi Lisan Strorytelling baik dalam bentuk cerita lisan, lagu, tarian dan ritual maupun demonstrasi praktik budaya masih menjadi masih menjadi mekanisme utama dalam pewarisan pengetahuan antar Tradisi lisan menjadi fondasi utama proses pewarisan budaya, dan perpustakaan kini mengambil peran untuk mendokumentasikan serta menghidupkan Kembali praktik tersebut (Ibukunoluwa et al. , 2. Cerita-cerita yang dulunya hanya di tuturkan oleh tetua kini direkam, diarsipkan dan dibagian kepada generasi muda melaui flatform digital seperti project Jukebox. Mukurtu ataupun platform video (Shiri et al. , 2. Transfer pengetahuan juga terjadi melalui demontrasi langsung seperti kerajinan tangan, tarian dan ritual yang dipandu oleh para tetua kepada generasi muda. Metode praktik langsung ini sangat membantu generasi muda memahami keterampilan budaya (Chigwada & Ngulube, 2024. Transfer pengetahuan yang di mediasi oleh Lembaga Budaya Perpustakaan, museum, dan rumah budaya juga menjadi aktor penting dalam transfer penegtahuan antar generasi. Dalam artikel Dei . dan Chigwada & Ngulube . menegaskan bahwa pustakawan dan Lembaga arsip melakukan akuisisi, dokumentasi dan penyebaran yang memungkinkan pengetahuan tetap dapat di akses lintas generasi. Peran Lembaga-lembaga ini menjadi sangat penting Ketika pengetahuan tradisonal mulai pudar dalam komunitas, sehingga mereka bertindak sebagai penyambung antara generasi tua yang menyimpan memori budaya dan generasi muda yang menjadi penerus. Transfer yang dimunginkan oleh teknologi digital Teknologi telah memperluas cara pengetahuan ditranfer, youtube, sosial media, digital storytelling dan berbagai platform digital memungkinkan generasi muda terhubug dengan budaya mereka tanpa batas waktu dan tempat. Ini menunjukan bahwa generasi muda kini belajar budaya melalui video, permainan, edukasi, ilustrasi digital hingga narasi budaya di media sosial. Teknologi membuat proses tranfer menjadi lebih menarik dan mudah dijangkau terutama bagi anak-anak dan remaja yang sudah terbiasa dengan dunia digital (Xue et al. , 2025. Shiri et al. , 2021. Minhas, 2025. Meza et al. , n. ) Transfer pengetahuan kini terjadi secara kolaboratif antara tetua dan generasi muda. Artikel tentang digital storytelling memperlihatkan bagaimana komunitas bekerja bersama dalam membuat konten digital seperti audio sejarah, video tradisional, dan arsip budaya. Proses kolaboratif ini bukan hanya mentransfer informasi, tetapi juga membangun hubungan emosional antar generasi, memperkuat rasa memiliki terhadap budaya lokal http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2026, pp. xx-xx RQ2 Teknologi digital yang digunakan Berdasarkan hasil kajian terhadap seluruh artikel yang dianalisis, menemukan bahwa teknologi digital memainkan peran yang sangat beragam dalam upaya pelestarian budaya lokal dan transfer pengetahuan di era digital. Setiap komunitas atau lembaga menggunakan teknologi yang berbedabeda, tergantung kebutuhan, kapasitas, dan konteks budaya mereka. Berikut adalah sintesis pemahaman dari keseluruhan artikel yang dikaji. Teknologi Digital sebagai Fondasi Pengelolaan Pengetahuan Adat Beberapa artikel mengangkat konsep digitalisasi pada level yang lebih abstrak dan etis. Misalnya, pada artikel pertama tentang digital Indigenous knowledge stewardship, teknologi digital tidak disebutkan dalam bentuk software atau platform tertentu, tetapi lebih dipahami sebagai ruang baru tempat pengetahuan adat dikelola Di sini, teknologi berfungsi sebagai AuwadahAy untuk Digital Indigenous Knowledge Collections (D-IKC). Fokus bukan pada alat, melainkan bagaimana teknologi seharusnya digunakan secara etis, adil, dan menghormati nilai-nilai adat. Jadi, teknologi hadir sebagai konteks, bukan objek utama. Teknologi Digital untuk Dokumentasi dan Manajemen Pengetahuan Dalam artikel Dei . Chigwada & Ngulube . , dan Chigwada & Ngulube . memberikan gambaran komprehensif mengenai teknologi yang benar-benar digunakan dalam praktik. Dari sini dapat dilihat bahwa teknologi yang digunakan bersifat fungsional lebih banyak dipakai untuk proses dokumentasi, pengelolaan, dan penyimpanan data budaya seperti Komputer dan server. Digital repositories. Database dan CMS. Scanner, video recorder, audio recorder. Digital libraries dan Platform seperti Mukurtu. Ulwazi Repository. Omeka. Teknologi-teknologi ini mendukung proses digitalisasi, pengarsipan, katalogisasi metadata, hingga diseminasi online. Ini menunjukkan bahwa digitalisasi budaya tidak hanya tergantung pada platform media sosial, tetapi juga infrastruktur digital yang lebih Teknologi Media Sosial dan Platform Populer Beberapa artikel menunjukan bahwa media sosial sangat efektif untuk pelestarian budaya terutama bagi generasi muda. Dari berbagai studi, saya melihat bahwa masyarakat lokal sangat memanfaatkan platform yang sudah akrab bagi mereka, seperti: YouTube . yth, tarian tradisional, bahasa, dokumentasi upacar. Facebook. X/Twitter. Instagram. Livestreaming festival budaya. Dalam artikel (Minhas, 2. , media sosial dipakai untuk berbagi idiom, cerita rakyat, hingga meme berbasis budaya. Sementara dalam (Xue et al. , 2. YouTube menjadi alat pembelajaran budaya yang paling populer. Kesimpulannya, teknologi populer seperti YouTube dan Facebook berfungsi sebagai jembatan intergenerasi yang efektif. Teknologi Canggih untuk Mendukung Akses Pengetahuan Dalam artikel (Whaanga et al. , 2. memperkenalkan pendekatan teknologi yang lebih maju mencakup: Machine Learning (Nayve Baye. untuk koreksi otomatis bahasa MAori. Crowdsourcing platform untuk pelibatan komunitas. Touch-screen access points untuk akses publik. Greenstone digital library software. Di artikel (Shiri et al. , 2. muncul berbagai teknologi inovatif lainnya seperti: Story Center platforms. Interactive digital storytelling. Project Jukebox. Virtual storytelling environments. Platform ini tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga membuat pengalaman budaya menjadi lebih hidup, menarik, dan interaktif. Transfer Pengetahuan Antar Generasi untuk Pelestarian Budaya Lokal di Era Digital Evah Farhah. Tamara Adriani Salim. Muhamad Prabu Wibowo 37 RQ3 tantangan yang dihadapi Berdasarkan keseluruhan artikel yang di analisis terlihat bahwa berbagai komunitas adat menghadapi tantangan yang cukup kompleks Ketika berupaya mentransfer pengetahuan antar generasi melalui teknologi digital. Tantangan-tantangan ini muncul dari berbagai sisi, mulai dari masalah teknis, persoalan budaya hingga isu etika dan kebijakan. Tantangan infrastruktur dan Keterampilan Teknologi Beberapa artikel menunjukan bahwa keterbatasan teknologi masih menjadi hambatan besar, terutama bagi komunitas di daerah pedesaan atau terpencil. Akses internet yang tidak stabil, perangkat yang terbatas hingga tidak adanya fasilitas digital sama sekali menjadi kendala teknis yang signifikan (Xue et al. , 2. , (Dei, 2. , (Shiri et al. , 2. , (Minhas, 2. , (Chigwada & Ngulube, 2024. Selain itu, kemampuan literasi digital antar generasi pun tidak merata. Para tetua sering kesulitan mengoperasikan perangkat, sementara generasi muda kurang memahami nilai budaya dari konten yang mereka unggah. Ketidakseimbangan ini membuat proses digitalisasi berjalan lambat atau tidak Tantangan Etika. Kepemilikan, dan Hak Cipta Isu etika adalah salah satu tantangan paling sensitif dalam pelestarian pengetahuan adat. Banyak artikel menegaskan bahwa pertanyaan seperti AuSiapa pemilik pengetahuan ini?Ay atau AuSiapa yang boleh mengaksesnya?Ay masih menjadi perdebatan panjang. Kekhawatiran mengenai penyalahgunaan, komersialisasi, atau penafsiran yang salah membuat sebagian tetua enggan membagikan pengetahuan mereka kepada institusi formal atau platform digital. Masalah hak cipta dan kepemilikan intelektual juga sering muncul, terutama ketika konten diunggah ke platform komersial seperti YouTube atau Facebook yang memiliki aturan penggunaan data mereka sendiri (Chigwada & Ngulube, 2. , (Chigwada & Ngulube, 2024. , (Chigwada & Ngulube, 2024. , (Liew & Lipscombe, 2. Tantangan Sosial-Budaya dalam Interaksi Antar Generasi Modernisasi dan globalisasi membawa perubahan besar pada pola hidup generasi muda. Dalam (Ibukunoluwa et al. , 2. , (Minhas, 2. generasi muda semakin menjauh dari bahasa ibu, ritual tradisional, dan tradisi lisan. Sebagian tidak lagi memandang pelestarian budaya sebagai prioritas. Ketika tradisi berbasis lisan berhadapan dengan budaya digital yang cepat dan ringkas, seringkali terjadi penyusutan makna. Konten budaya yang diunggah di media sosial kadang kehilangan kedalaman, konteks, dan nilai spiritualnya. Tantangan Kelembagaan dan Kebijakan Sejumlah artikel menyoroti bahwa kurangnya dukungan pemerintah, pendanaan, dan kebijakan yang jelas menyebabkan inisiatif pelestarian budaya sulit berkembang. Banyak perpustakaan, proyek digital, atau culture houses tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk membeli perangkat, melatih staf, atau mengembangkan repositori digital yang berkelanjutan (Chigwada & Ngulube, 2. , (Chigwada & Ngulube, 2024. , (Weeks et al. , 2. , (Chigwada & Ngulube, 2024. , (Dei, 2. Tanpa kebijakan yang mendukung keadilan data, kedaulatan adat, dan tata kelola pengetahuan, kolaborasi antara komunitas adat dan institusi formal sering kali berjalan tidak seimbang. Conclusion Berdasarkan analisis seluruh arttikel terlihat bahwa pelestarian budaya lokal di era digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi tetap bertumpu pada hubungan manusia dan nilai budaya yang diwariskan antar generasi. Proses transfer pengetahuan tetap membutuhkan peran penting para tetua, keluarga, dan komunitas melalui cerita lisan, praktik budaya, dan keterlibatan langsung yang sudah berlangsung sejak lama. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2026, pp. xx-xx Sementara itu, teknologi digital membuka peluang baru untuk memperluas jangkauan budaya. Penggunaan platform seperti Mukurtu. Omeka, media sosial, dan YouTube menunjukkan bahwa digitalisasi dapat membantu mendokumentasikan dan menyebarkan pengetahuan budaya dengan lebih cepat dan mudah. Teknologi berfungsi sebagai pendukung proses pewarisan budaya, bukan sebagai pengganti tradisi yang sudah ada. Meski begitu, sejumlah tantangan tetap muncul, seperti keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi digital, kurangnya pendanaan, serta kekhawatiran tentang komersialisasi budaya dan rendahnya minat generasi muda. Oleh karena itu, upaya pelestarian budaya di era digital memerlukan keseimbangan antara penggunaan teknologi dan pemeliharaan tradisi, antara akses digital dan kontrol komunitas, serta antara dokumentasi digital dan interaksi manusia yang tetap otentik. References