Copyright © 2022 pada penulis Abdimas Singkerru, Vol. 2, No. 1, 2022 Pelatihan Menulis Teks Analisis Dengan Pendekatan PBL (Problem Based Learning) Pada Kelompok Guru MGMP Bahasa Inggris di Kabupaten Gowa Muhammad Tahir 1*, Andi Sahtiani Jahrir 2 1 – 2 Universitas Negeri Makassar * muhammadtahir@unm.ac.id; Abstrak Pengajaran menulis akademik di kalangan pelajar SMA masih jarang disentuh, karena itu dipandang perlu menerapkan metode khusus dalam pembelajaran menulis akademik. Selain dengan menajamkan kemampuan berpikir kritis, pembelajaran menulis juga dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah atau PBL. Namun, tidak semua guru bahasa Inggris memiliki keinginan yang kuat dalam menerapkan model tersebut apalagi sebagian mereka tidak memahami konsep dasar PBL terutama dalam kaitannya dengan menulis analisis. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kami mencoba menawarkan salah satu kegiatan pembekalan atau pelatihan yakni PKM pelatihan menulis teks analisis bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan Problem Based Learning (PBL). Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan secara daring dan dihadiri 9 (sembilan) guru anggota MGMP Bahasa Inggris Ranting Sombaopu, Kab. Gowa. Materi yang diberikan berupa pengenalan umum tentang menulis analisis, pengertian PBL serta pemberian contoh menyusun peta pikiran maupun curah gagasan. Penyuluh berkesimpulan bahwa mitra belum paham dan belum melaksnakan proses PBL di kelas mereka. Dengan demikian materi yang mereka dapatkan dalam PKM kali ini dapat memberikan modal awal penerapan PBL dengan menggunakan pendekatanpendekatan ilmiah misalnya peta pikiran, curah gagasan serta outline. Kata Kunci: problem-based learning, MGMP Bahasa Inggris, menulis teks analisis Pendahuluan Berbagai studi di bidang penulisan akademik telah menunjukkan bahwa budaya penulisan akademik bagi sebagian besar siswa Indonesia untuk diterima dalam budaya akademik pendidikan tinggi dalam masyarakat non-berbahasa Inggris masih sangat rendah. Hal ini terjadi tidak hanya di negara Inggris, tetapi juga di negara tidak pembicara bahasa Inggris. Fell dan Lukianova menyatakan bahwa alasan utama untuk rendahnya kualitas penulisan akademik siswa asing, terutama dalam membuat esai, disertasi dan tesis adalah tingkat rendah keterampilan berpikir kritis (2015). Menurut penatua, orang yang berpikir kritis adalah mereka yang bertindak menggunakan logika berpikir rasional, empati dan legitimasi. Mereka menggunakan logika berdasarkan pengalaman dan fakta yang ada dan mencoba untuk menghindari penilaian subjektif yang berasal dari sifat egosentris mereka dan kecenderungan sosial-eksentrik mereka yang dapat mempengaruhi penilaiannya. Orang yang berpikir kritis umumnya akan mencapai tingkat kemampuan yang tinggi, integritas, empati, dan keadilan. Mereka menyadari keterbatasan pengetahuan intelektual mereka sehingga dengan keterbatasan yang mereka miliki https://jurnal.atidewantara.ac.id/index.php/singkerru/article/view/153 40 Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Online) akan membatasi pikiran mereka dari praanggapan, mendistorsi fakta, serta bias kesalahpahaman. Orang yang berpikir kritis selalu sejalan dengan prinsip yang diusulkan oleh Plato bahwa kehidupan yang tidak diuji adalah kehidupan yang tidak memiliki nilai atau makna. Oleh karena itu mereka sadar bahwa di luar kehidupan manusia yang sangat kompleks ada penilaian yang tidak adil dan rumit. Namun, penelitian menyarankan bahwa mengajar menulis akademik kepada siswa internasional di Inggris menunjukkan bahwa mereka memiliki tingkat kemampuan yang sangat rendah terutama kemampuan berpikir kritis dalam hal pemahaman, mengingat dan menerapkan maupun mengevaluasi argumentasi (Halpern, 1998; Lipman, 1995; Tsui, 2006) Pengajaran menulis akademik di kalangan pelajar SMA masih jarang disentuh karena mereka belajar sesuai dengan target kurikulum mereka. Pengajaran menulis akademik di level SMA tidak secara tersurat digambarkan dalam kurikulum oleh sebab itu kemampuan siswa juga sangat rendah terutama dalam menulis akademik dimana kemampuan analitik, evaluatif, dan konklusif masih butuh pekenan yang lebih matang lagi. Guru bahasa Inggris sebagai garda terdepan mengajarkan siswa berpikir kritis secara umum masih belum terlacak. Pengetahuan guru bahasa Inggris terhadap menulis akademik juga belum pernah tersentuh bahkan masih sangat jarang mendapatkan pelatihan khusus peningkatan akademik writing guru bahasa Inggris baik yang sudah memeproleh sertifikat pendidik maupun yang belum mendapat sertifikat pendidik. Oleh sebab itu, melalui program PKM pembelajaran menulis akademik bagi guru bahasa Inggris diharapkan dapat memberikan jawaban untuk memperkenalkan model pengajaran menulis akademik bagi siswa mereka kelak setelah mereka mengikuti pelatihan menulis akademik. Berbagai penelitian dalam bidang academic writing telah menunjukkan bahwa budaya academic writing bagi sebagian besar siswa maupun mahasiswa Indonesia untuk diterima dilingkungan budaya masyarakat perguruan tinggi di luar negeri masih sangat rendah. Hal ini terjadi bukan hanya di negara Inggris, tetapi juga di negara bukan penutur bahasa Inggris. Fell dan Lukianova menyatakan bahwa penyebab utama rendahnya kualitas academic writing mahasiswa asing terutama dalam membuat esai, disertasi dan tesis adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis (2015). Menurut Elder orang yang berpikir kritis adalah mereka yang bertindak menggunakan logika berpikir rasional, empati serta dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Mereka menggunakan logika berdasarkan pengalaman dan fakta yang ada serta berusaha untuk menghindari penilaiansubyektif yang bersumber dari sifat egosentris dan kecendrungan sosioentrik mereka yang dapat mempengaruhi penilaian mereka (2002). Orang yang berpikir kritis akan mencapai tingkat kemampuan serta integritas yang tinggi, empati, serta keadilan. Mereka sadar akan keterbatasan pengetahuan intelektual mereka, sehingga dengan keterbatasan itu mereka akan membatasi pikiran mereka dari persangkaan, pemutarbalikan fakta, kesalahan pemahaman serta pemahaman yang bias. Orang yang berpikir kritis selalu sejalan dengan prinsip yang dikemukakan Plato bahwa kehidupan yang tidak diuji merupakan suatu kehidupan yang tidak punya nilai atau makna. Oleh karena itu mereka sadar bahwa diluar kehidupan manusia yang sangat kompleks terdapat penilaian yang yang tidak adil dan berbahaya. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa pengajaran academic writing kepada mahasiswa internasional di Inggris terindikasi memiliki kemampuan 41 Vol. 2, No. 1, 2022 ISSN 2776-7477 (Online) berpikir tingkat tinggi yang sangat rendah dalam hal memahami, mengingat serta mengaplikasi (Halpern, 1998; Lipman, 1995; Tsui, 2006). Gambaran berpikir kritis digambarkan oleh Facione yang terdiri dari tujuh domain yang mengarah kepada level cognitive atau skil yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Disadari atau tidak bahwa kendala utama yang dialami siswa dalam bersikap kritis adalah kurangnya rasa percaya diri. Sementara di sisi lain rendahnya pengetahuan siswa juga dipercaya membatasi mereka dalam menyalurkan sikap kritis mereka walaupun banyak faktor lain yang menjadi penyebab rendahnya daya kritis dikalangan siswa pada tingkat sekolah menengah. Tabel 1. Keterampilan berpikir kritis model Facione (2013) Skills Defenition Interpretation Interpretation “to comprehend and express the meaning or significance of a wide variety of experiences, situations, data, events, judgments, conventions, beliefs, rules, procedures, or criteria.” Analysis “to identify the intended and actual inferential relationships among statements, questions, concepts, descriptions, or other forms of representation intended to express belief, judgment, experiences, reasons, information, or opinions.” Evaluation “to assess the credibility of statements or other representations which are accounts or descriptions of a person’s perception, experience, situation, judgment, belief, or opinion; and to assess the logical strength of the actual or intended inferential relationships among statements, descriptions, questions or other forms of representation.” Inference “to identify and secure elements needed to draw reasonable conclusions; to form conjectures and hypotheses; to consider relevant information and to reduce the consequences flowing from data, statements, principles, evidence, judgments, beliefs, opinions, concepts, descriptions, questions, or other forms of representation.” Explanation “to state and to justify that reasoning in terms of the evidential, conceptual, methodological, criteriological, and contextual considerations upon which one’s results were based; and to present one’s reasoning in the form of cogent arguments.” Self-regulation “self-consciously to monitor one’s cognitive activities, the elements used in those activities, and the results educed, particularly by applying skills in analysis, and evaluation to one’s own inferential judgments with a view toward questioning, confirming, validating, or correcting either one’s reasoning or one’s results.” Selain berpikir kritis, implementasi pembelajaran menulis analisis juga dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah atau PBL. Menurut beberapa hasil penelitian PBL dapat membangun motivasi internal siswa dalam proses pemecahan masalah yang digali dari luar sekolah. Yuan, dkk (2008) menekankan perlunya PBL diterapkan disekolah karena PBL dapat meningkatkan daya piker dan daya pemecahan masalah nyata di lapangan. Bercermin dari hal tersebut maka sangat penting bagi guru bahasa Inggris untuk menjadikan model PBL senagai salah satu rekomendasi model pengajaran. Namun, tidak semua guru bahasa Inggris memeiliki keinginan yang kuat dalam menerapkan model tersebut apalagi sebagian mereka tidak memahami konsep dasar PBL terutama dalam kaitannya dengan menulis analisis. Oleh karena itu sangat penting untuk melatih 42 Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Online) guru bahasa Inggris menulis analisis dengan menggunakan model PBL agar mereka dapat menulis analisi dengan model PBL. Tujuannya adalah untuk merefleksikan apa yang mereka peroleh selama pelatihan kepada siswa mereka. Jadi dengan kata lain pelatihan ini sebagai fondasi awal untuk mengetahui bagaiaman penerapan menulis analisis dengan model PBL. Permasalahan Mitra Kemampuan berpikir kritis siswa sangat menentukan keberhasilannya kelak ketika mereka memasuki duduk di bangku perkualiahan. Ketika mereka duduk di bangku SMA mereka kebanyakan hanya menerima pelajaran dari guru bahasa Inggris mereka dengan model pengajaran yang serba maknistik. Model pengajaran yang serba konvensiaonal meletakkan siswa sebagai objek pembelajaran. Siswa sangat jarang sekali diajarkan untuk berpikir kritis melalui pelajaran bahasa Inggris. Akibatnya, mayoritas siswa hanya kuat menghafal pola tata bahasa Inggris tapi sangat miskin ketika mereka menulis kritis. Patut diduga bahwa kemampuan berpikir kritis siswa SMA di Indonesia kurang lebih disebabkan oleh model atau pendekatan guru dalam mengajar bahasa Inggris. Kurangnya kemampuan siswa bisa juga dijadikan cerminan dari rendahnya kualitas guru yang memiliki model pengajaran kritis yang dapat mereka tularkan di depan kelas. Disamping itu terbatasnya atau minimnya pelatihan guru bahasa Inggris dalam hal menulis akademik dapat juga dijadikan sebagai attribut atau variabel yang mempengaruhi kondisi siswa SMA untuk berpikir kritis terutama dalam menulis akademik. Yang terakhir adalah struktur kurikulum yang tidak jelas memberikan arahan mengenai penerapan berpikir kritis siswa SMA dan SMP walaupun baru-baru ini pemerintah telah mengeluarkan konsep mengenai peta jalan pendidikan, namun tidak satupun konsep dari peta jalan pendidikan memuat frasa berpikir kritis. Solusi yang ditawarkan Berdasarkan hasil pemaparan sebelumnya maka penulis mencoba menawarkan salah satu bentuk kegiatan pembekalan atau pelatihan yakni PKM pelatihan menulis teks analisis bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan Problem Based Learning (PBL) Kerangka pemecahan meliputi kegiatan-kegiatan pedagogik yang berlangsung secara formal terukur da terarah dengan melibatkan guru MGMP bahasa Inggris kab.Gowa. adapun peserta pelatihan PKM bahasa Inggris yang diselenggarakan secara daring ini yakni guru bahasa Inggris yang tergabung dalam MGMP bahasa Inggris. Target Luaran Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sasaran dari pelatihan ini untuk memperkenalkan jenis media dan metode pengajaran bahasa Inggris yang menyenangkan dan edukatif kepada guru MGMP bahasa Inggris Kab. Gowa ranting Somba Opu dengan sasaran dan tujuan sebagai berikut adalah: 1. Guru MGMP bahasa Inggris Kab. Gowa dapat mengenal cara-cara penerapan PBL dalam proses belajar mengajar 43 Vol. 2, No. 1, 2022 ISSN 2776-7477 (Online) 2. Guru MGMP bahasa Inggris Kab. Gowa dapat menguasai sintak pembelajaran PBL dalam hubungannya dengan menulis teks analisis 3. Guru MGMP bahasa Inggris Kab. Gowa dapat merefleksikan model curah gagasan sebelum menulis teks analisis bahasa Inggris 4. Guru MGMP bahasa Inggris Kab. Gowa dapat mereview proses pembelajaran teks analisis bahasa Inggris dengan pendekatan PBL 5. Guru MGMP bahasa Inggris Kab. Gowa menyebarluaskan informasi atas manfaat yang mereka dapatkan selama mereka mengikuti pelatihan bahasa Inggris kepada guru bahasa inggris lain di Kab. Gowa 6. Guru MGMP bahasa Inggris Kab. Gowa Makassar memperoleh informasi tentang pentingnya penguasaan model pembelajaran abad 21 yang menekankan proses pembelajaran menulis analisis dengan model Problem Based Learning (PBL) dalam mengajar bahasa Inggris di tingkat SMP khususnya di Kab.Gowa Metode Pelaksanaan Tahap I Pada tahap ini peserta guru MGMP bahasa Inggris Kab. Gowa lebih banyak berintraksi mengenal konsep dasar pengajaran bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan PBL yakni pengenalan makna dan tujuan belahar bahasa Inggris dengan pendekatan PBL baik untuk tujuan akademik maupun tujuan instremental lainnya. Tahap II Melalui tahap ini guru MGMP bahasa Inggris Kab.Gowa melaksanakan performen dengan memperbanyak latihan mengerjakan dan menerapkan konsep saintifik (PBL) dalam menulis teks analisis sehingga mereka mampu menggunakan bahasa Inggris tertulis dengan menggunakan strategi curah gagasan dan peta pikiran. Tahap III Tahap berikutnya yaitu guru MGMP akan memiliki pengalaman belajar bahasa Inggris dengan menyenangkan dan inteaktif. Memberikan pengalaman belajar yang nyaman dan santai dapat menjadi pemicu bagi bagi guru MGMP bahasa Inggris kab.Gowa untuk meningkatkatkan rasa percaya diri dan pengalaman mereka dalam menerapkan model pembelajaran PBL. Jadwal Kegiatan Kegiatan PKM ini dilaksanakan tanggal 23 Oktober 2021 secara daring namun pembukaan pelaksanaanya dilaksanakan di SMP Negri 2 Sungguminasa Kab.Gowa. Pelaksananan kegiatan dilaksanakan selama sehari. Pelaksanaan PKM ini tidak dilaksanakan secara luring karena kita masih berada dalam suasana pendemic covid 19. Namun dalam melaksanakan proses administrasi maka kegiatan dilaksanakan secara luring. Dalam kegiatan tersebut, yakni tanggal 23 Oktober 2021, kepala sekolah SMP 2 Sungguminasa berkenan hadir dan mendukung kegiatan PKM bagi guru bahasa Inggris MGMP Kabupaten Gowa. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan hari Sabtu tanggal 23 Oktober 2021 secara online dan dihadiri sebanyak 9 orang guru MGMP bahasa Inggris ranting Sombaopu. Materi yang diberikan berupa pengenalan umum tentang menulis analisis, pengertian PBL serta pemberian contoh menyusun peta pikiran maupun curah gagasan. 44 Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Online) Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan pelatihan penguasaan menulis teks analisis bahasa Inggris meskipun baru dilaksanakan pada guru-guru MGMP Bahasa Inggris Kab. Gowa. Pelatihan tersebut dilaksanakan setelah jam mengajar di SMP berakhir yakni hari sabtu tanggal 23 Oktober 2021. Pelaksanaan PKM ini seharusnya dilaksanakan secara tatap muka di sekolah namun kondisi Negara kita masih dalam pendemik covid 19 sehingga PKM tersebut dilaksakan secara daring. Walaupun pelatihan dilaksanakan dalam waktu yang relative singkat namun antuasiasme guru terlihat sanagat tinggi. Pelaksanaan kegiatan tersebut berakhir pada sore hari. Selama proses pelatihan berlangsung peserta sangat antusias dalam mengikuti pelatihan karena mereka sangat ingin mengetahui perbedaan menulis ademik dengan menulis jenis lain seperti menulis dan melakukan percakapan berpasangan. Dari kegiatan ini peserta sangat antusias untuk melakukan penampilan individu. Latar belakang pendidikan peserta pelatihan yang relative tidak jauh berbeda merupakan tantangan tersendiri bagi peyuluh. Beberapa peserta bertanya dan tidak paham dalam menerapkan PBL dalam kaitannya dengan menulis analisis bahasa Inggris . Sehubungan dengan hal tersebut maka penyuluh kemudian menjelaskan tentang tata cara dan tip menulis teks analisis bahasa Inggris. Dalam hal ini penyuluh menjleaskan panjang lebar mengenai pengertian teks analisis bahasa Inggris beserta dengan genrenya yakni thesis, inti tulisan dan reiteration atau kesimpulan. Untuk lebih meningkatkan interaksi dengan mitra maka penyuluh memberikan kesempatan untuk bertanya mengenai tahapan-tahapan dalam menyusun ide, argument maupun pendapat dalam bentuk peta pikiran, curah gagasan maupun outline. Ketiga model ini sangat membantu mitra dalam menemukan dan meramu ide dan argument mereka. Dengan memperkenalkan model tersebut maka secara tidak langsung mitra dapat dengan mudah menempatkan setiap ide dan argument. Argumen yang mereka hasilkan dalam bentuk curah gagasan melalui peta pikiran akan merangsang mitra untuk membangun kebiasaan berpikir kritis. Kebiasaan berpikir kritis ini hanya dapat capai jika siswa selalu dihadapkan dengan masalah. Masalah atau topik yang diberikan kepada mitra sangat relevan dengan masalah sosial sehingga diharapkan mereka dapat membangun kerangka logis dan ilmiah dalam melahirkan argument yang bermuara kepada pemecahan masalah. Tahapan-tahapan pelaksnaan pembelajaran menulis analisis bahasa Inggris dengan pendekatan masalah dipercaya dapat meningkatkan daya kritis siswa sehingga dapat meningkatkan skill HOTS (Higher Order Thinking Skills) mereka. PBL merupakan salahsatu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kurikulum di sekolah yang menuntut siswa untuk berpikir ilmiah. Penyuluh berharap PBL yang diajarkan kepada mitra guru MGMP bahasa Inggris Kab.Gowa dapat menjadi pengalaman dan refleksi kelak ketika mereka kembali ke kelas. Penyuluh juga menjelaskan bagaimana pentingnya model dan profil pembelajar abad 21 yakni pembelajaran kolaborasi, mitra, critical thinking dan kerja tim. Materi Kegiatan Materi kegiatan disusun dengan memperhatikan tingkat penguasaan mitra yang sesuai dengan tingkat sekolah yakni SMP. Materi kegiatan asal dari berbagai sumber yang dikompilasi menjadi materi ajar. Beberapa materi diambil dari website dan bahan pelatihan guru-guru PPG dalam jabatan. Pemilihan materi tersebut sengaja 45 Vol. 2, No. 1, 2022 ISSN 2776-7477 (Online) diadaptasi karena erat kaitannya dengan sasaran pendidikan yang dicanangkan oleh mentri pendidikan dan kebudayaan. Secara garis besar sasran yang ingin dicapai adalah sekolah di Indonesia harus memperkenalkan model berpikir kritis dalam melakoni dan mendidik peserta didik. Keseluruhan materi pelatihan tidak lepas dari tujuan awal yakni mendorong mitra guru MGMP untuk menerapkan proses pembelajaan inquiry based atau pembelajaran berbasis penyidikan, PBL, PjBL serta studi kasus. Penyuluh secara khusus fokus kepada materi PBL. Fokus utama materi PBL dalam menulis teks analisis adalah guru mitra dapat menggali lebih dalam dan memahami lebih jauh konsep dasar PBL yang dihubungkan dengan materi kurikulum. Pemilihan materi kegiatan dalam PKM ini tidal lepas dari orientasi pemilihan masalah. Dengan memperkenalkan materi ajar berbasis masalah maka dengan sendirinya mitra guru dapat mengalamai langkah langkah atau sintak pembelajaran PBL. Penyuluh berkesimpulan bahwa mitra belum paham dan belum melaksnakan proses PBL di kelas mereka. Dengan demikian materi yang mereka dapatkan dalam PKM kali ini dapat memberikan modal awal penerapan PBL dengan menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah misalnya peta pikiran, curah gagasan serta outline. Kesimpulan Setelah PKM ini dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis analisis guru MGMP Bahasa Inggris Kab. Gowa dianggap memadai atau cukup. Selain itu, pesuluh menyadari pentingnya pengetahuan dan penguasaan Bahasa Inggris di samping bahasa asing lainnya kepada mitra. Kegiatan PKM ini dapat membangkitkan kapasitas dan motivasi penyuluh tentang pelajaran menulis analisis Bahasa Inggris kepada institusi manapun yang dapat memberikan bantuan dan kerjasama dalam usaha menigkatkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris khususnya di level SMP. Oleh karena itu, disarankan kepada seluruh pesuluh agar pengetahauan yang diperoleh dapat dimanfaatkan bukan hanya bagi penyuluh namu juga bagi mahasiswa atau calon guru lain yang belum mengetahui bagaimana mengajar di tengah masyarakat dengan berbagai ragam budaya dan latar belakang pendidikan sehingga dapat meramu dan mengajar bahasa Inggris sesuai dengan kebutuhan dan keinginan institusi dimana PKM akan dilaksanakan. Referensi Elder, L. (2002). The Teacher’s Manual for the Miniature Guide to Critical Thinking for Children. Foundation for Critical Thinking. Dillon Beach, CA. Facione, P. A. (2013). Critical thinking: what it is and why it counts. Retrieved from http://www.insightassessment.com/CT-Resources/Critical-Thinking-What-ItIsand-Why-It-Counts Fella, E. V., & Lukianova, N. A. (2015). British Universities: International Students’ Alleged Lack of Critical Thinking. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 215. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.565 Johns, A. (1991). Faculty assessment of ESL student literacy skills: Implications for writing assessment. InHamp-Lyons (Ed.), Assessing second language writing in academic contexts (pp. 167–179). Norwood, NJ: Ablex Publishing Corporation. 46 Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 (Online) Lipman, M. (1995). Thinking in education. Cambridge: Cambridge University Press. Halpern, D. F. (1998). Teaching critical thinking for transfer across domains: Dispositions, skills, structure training, and metacognitivemonitoring. American Psychologist, 53(4), 449-455. Tsui, L. (2006). Cultivating critical thinking: Insights from an elite liberal arts college. The Journal of General Education, 55(2), 200-227. Yuan, H., Kunaviktikul, W., Klunklin, A, & Williams, B. A. (2008). Promoting Critical Thinking Skills Through Problem-Based Learning. Chiang Mai University Journal of Social Science and Humanities,2(2). 47