P a g e | 84 [Open Acces. STT Baptis Indonesia Semarang PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia Semarang ISSN: (Onlin. 2622-1144, (Prin. 2338-0489 Volume 21. Nomor 2. Nov 2025, 84-99 Consumerism And The Environmental Crisis: A Critical Review of Education and Ecological Spirituality in Pope Francis' Encyclical Laudato Si Felix Riondi Sugar* Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero *felikssugar@gmail. Abstract This paper discusses the concept of AoEcological Education and SpiritualityAo introduced by Pope Francis in his encyclical Luadato Si and its relevance in criticising consumerism in today's world. The development of consumerism in people's lives has been accused of being one of the causes of the environmental crisis, particularly in terms of waste. Therefore, the purpose of writing this article is to remind and correct the pattern of excessive consumerism in modern times based on the perspective of Pope Francis in the encyclical Laudato Si. To elaborate on all of this, the author uses a qualitative research method with literature review as a way to collect data and focuses on document studies. Thus, the material object of this research is consumerism, while the formal object is Pope Francis' perspective in the encyclical Laudato Si. From the study, the author found results that show the relationship between consumerism and life style, the use of social media and gadgets that contribute to changing the socio-economic psychology of society, and the influence of consumerism on the increasing population of In addition, this article focuses on how the concept of AoEcological Education and SpiritualityAo in Luadato Si can serve as a framework for changing consumptive worldviews, and also offers practical insights that can be adopted in the development of more inclusive and sustainable environmental policies in this modern era. Keywords: consumerism, environmental crisis, encyclical laudato si, pope francis, education and ecological spirituality. DOI: 10. 46494/psc. Copyright: A 2025. The Authors. Licensee: This work is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. Submited: 14 Oct 2025 Accepted: 30 Nov 2025 Published: 30 Nov 2025 https://journal. Volume 21 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 85 STT Baptis Indonesia Semarang Konsumerisme Dan Krisis Lingkungan: Tinjauan Kritis Pendidikan dan Spiritualitas Ekologis dalam Ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus Abstract Tulisan ini membahas konsep AoPendidikan dan Spiritualitas EkologisAo yang diperkenalkan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Luadato Si dan relevansinya dalam mengkritik pola konsumerisme di masa dewasa ini. Berkembangnya pola konsumerisme dalam kehidupan masyarakat dituduh sebagai salah satu penyebab krisis lingkungan, secara kuhsus dalam masalah sampah. Oleh karena itu, tujuan penulisan artikel ini ialah untuk mengingatkan serta memperbaiki pola konsumerisme yang berlebihan di masa modern berdasarkan perspektif Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si. Untuk mengelaborasi semuanya itu, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan kajian pustaka sebagai cara untuk mengumpulkan data serta berfokus pada studi Dengan demikian, objek material dari penelitian ini ialah konsumerisme, sedangkan objek formalnya ialah perspektif Paus Fransisikus dalam ensiklik Laudato Si. Dari kajian tersebut, penulis menemukan hasil studi yang menunjukan hubungan antara konsumerisme dengan gaya hidup . ife styl. , penggunaan media sosial dan gawai yang turut mengubah psikologi sosial-ekonomi masyarakat serta pengaruh konsumerisme terhadap bertambahnya populasi sampah. Selain itu, artikel ini berfokus pada bagaimana konsep AoPendidikan dan Spiritualitas EkologisAo dalam Luadato Si dapat berfungsi sebagai kerangka untuk mengubah cara pandang konsumtif, dan juga menawarkanya pandangan praktis yang bisa diadopsi dalam pengembangan kebijakan lingkungan yang lebih insklusif dan berkelanjutan di era modern ini. Kata Kunci: konsumerisme, krisis lingkungan, ensiklik laudato si, pendidikan dan spiritualitas ekologis. Pendahuluan iskursus mengenai isu-isu lingkungan semakin ramai mengisi ruang publik. Banyak orang mulai merasa cemas menghadapi berbagai dampak krisis ekologis yang terus menggerus kualitas hidup Situasi ini mendorong setiap orang untuk mencari jalan keluar, termasuk mengupayakan prinsip keberlanjutan sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Beragam persoalan lingkungan, mulai dari deforestasi bermunculan dan menjadi bukti bahwa kerusakan alam tidak lagi dapat diabaikan. Semua ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan menuntut perhatian serius di tengah laju perkembangan peradaban modern, 1Felix Riondi Sugar dan Dominikus Sinyo Darling. AuANTROPOSENTRISME DAN KRISIS LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF ENSIKLIK LAUDATO,Ay CARAKA . https://ojs. id/index. php/ibc. 2Eliane Christine Francisco Maffezzoli Munaro. Ana Cristian. Renato Hubner Barcelos. AuThe Impact of https://journal. sehingga kesadaran kolektif untuk menjaga bumi menjadi keharusan yang tidak bisa Sementara krisis lingkungan ini kian terasa, berbagai penelitian justru menemukan bahwa saat ini masyarakat nyatanya semakin terjebak dalam gaya hidup konsumerisme yang 2 Hal ini pun sebenarnya sudah dengan jelas diserukan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato SiAo yang melihat mental konsumerisme sebagai tindakan antropentrisme dan egoisme kolektif manusia 3 Paus Fransiskus menilai mental ini memiliki dampak langsung terhadap masalah lingkungan yang kini dialami dunia. Karenanya gagasan ekologi integral Paus Fransiskus menekankan kemudian bahwa untuk kembali Influencers on Sustainable Consumption: A Systematic Literature Review,Ay Substainable Production and Consumption 52 . : 401Ae15. 3Paus Fransiskus. AuSeri-Dokumen-Gerejawi-No98-LAUDATO-SI-1,Ay Ensiklik Paus Fransiskus, 2015, 131. Volume 21 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 86 STT Baptis Indonesia Semarang membawa bumi pada kondisi yang baik, hal pertama yang harus dilakukan adalah keluar dari mentalitas ini. 4 Salah satu hal yang kemudian digagaskan adalah pendidikan spiritualitas ekologis. 5 Hal inilah yang kemudian seharusnya menjadi perhatian artikel ini. Terhadap kedua persoalan di atas . onsumerisme dan pendidikan sprotualitas Paus Fransisku. , beberapa penelitian terdahulu telah mencoba mengkajinya dalam berbagai sudut padang. Namun, terlihat bahwa kajiankajian itu membahasnya secara terpisah. Kajian tentang konsumerisme oleh Yanuar Albertus misalnya hanya menyoroti bagaimana penggunan gawai dalam kehidupan sehari-hari memiliki implikasi pada lahirnya mental konsumeristis, yang pada akhirnya berdampak pada krisis lingkungan. 6 Hal yang dibaca oleh Yanuar hanya pada bagaimana gawai melahirkan kecendrungan pola konsumerisme di mana masyarakat bukan saja merujuk pada kebutuhan primer yang secukupnya, malahan lebih berkiblat pada gaya hidup yang hedonis . erfoya-foy. Terlihat bahwa kajiannya sistematis terhadap masalah. Lebih jauh dari Yanuar. Andreas Putra dalam penelitiannya memberi satu hardikan dan kritik yang tajam akan tingginya budaya konsumerisme di kalangan masyarakat digital. Andreas melihat bahwa penetrasi dunia digital telah melahirkan masyarakat yang tidak lagi berakar pada nilai-nilai fundamental individuindividu yang konsisten pada kebutuhan mendasar, justru budaya konsumerisme menghilangkan esensi dasariah yang melekat dalam diri manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekologis. 7 Lagi-lagi, penelitian ini hanya mengarah pada kritik dan solusi kecil, tanpa memberikan arah sistematis sebagai langkah intervensi. Sementara itu, berbagai penelitian yang membahas pendidikan dan spiritualitas ekologis berdasarkan gagasan Paus Fransiskus, perhatian para peneliti umumnya terpusat pada implementasi nilai-nilai pedagogis Laudato SiAo di lingkungan pendidikan formal, terutama institusi-institusi Katolik. 8 Hal ini pun juga ditemukan oleh Petrus Sina, dkk dalam penelitiannya di komunitas formasi calon imam. Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Maumere. 9 Pendekatan ini memang penting, tetapi secara tidak langsung membentuk kesan bahwa spiritualitas ekologis yang ditawarkan Paus Fransiskus hanya relevan bagi lembaga yang memiliki identitas atau tradisi Katolik yang eksplisit. Padahal, jika dibaca dalam semangat ensiklik tersebut, ajakan Paus Fransiskus jelas bersifat melampaui batas-batas kekatolikan. 10 Karena itu, gagasan mengenai pendidikan dan spiritualitas ekologis seharusnya tidak berhenti pada ranah internal Gereja, tetapi perlu ditarik ke ruang yang lebih luas, ruang sosial, budaya, dan publik agar daya transformatifnya sungguh mencakup semua orang sebagaimana yang dimaksudkan oleh ensiklik itu sendiri. Berdasarkan pada latar belakang inilah, penelitian ini berusaha secara komprehensif mempertemukan kritik atas budaya konsumtif berbasis teknologi digital dengan kerangka AuPendidikan dan Spiritualitas EkologisAy sebagai landasan etis, pedagogis, dan spiritual untuk membentuk respons ekologis yang lebih 4Paus Fransiskus. Implicaciones Para La Educaciyn Catylica,Ay Pensamiento Educativo. Revista de Investigaciyn Educacional Latinoamericana 53, no. : 1Ae 13, https://doi. org/10. 7764/PEL. 9Dominikus Sinyo Darling. Petrus Sina. Jean Loustar Jewadut. AuPedagogi Ekologi Menurut Ensiklik Laudato SiAo dan Upaya Menghidupinya Oleh Kelompok Minat Frater Pencinta Alam di Komunitas Ritapiret,Ay Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK 25, no. : 273Ae292. 10Dominikus Zinyo Darling. AuKajian Teologis Terhadap Kebijakan Konsesi Tambang Oleh Ormas Keagamaan Dalam Terang Ensiklik Laudato SiAo,Ay Jurnal Akademika 15, no. 5Paus Fransiskus. 6Yanuar Albertus. AuKonsumerisme Terhadap Gawai Dan Dampaknya Bagi Lingkungan: Studi Kasus Pada Apple Inc. ,Ay Jurnal Hubungan Internasional . https://doi. org/10. 20473/jhi. 7Andreas Maurenis Putra. AuKonsumerisme: AoPenjaraAo Baru Hakikat Manusia?,Ay Societas Dei: Jurnal Agama Dan Masyarakat 5, no. : 73, https://doi. org/10. 33550/sd. 8Leonardo Franchi. AuLaudato Si Ao and Ecological Education . Implications for Catholic Education Laudato Si Ao y La Educaciyn Ecolygica . https://journal. Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 87 Di sinilah letak celah penelitian yang ingin diisi oleh artikel ini, yaitu menawarkan pembacaan kritis yang mengintegrasikan fenomena konsumerisme digital dengan ajaran Laudato SiAo sebagai kerangka normatif guna merumuskan perubahan gaya hidup yang lebih ekologis dan berkelanjutan. Metode Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini ialah pendekatan deskriptif-kualititatif. Creswell sebagaimana yang dikutip oleh J. Raco menyatakan bahwa metode kualitatif adalah pendekatan yang memahami suatu objek secara mendalam. Melalui metode ini penulis mengelaborasi bagaimana hubungan konsumerisme terhadap krisis lingkungan. Yang menjadi titik pangkal dalam tulisan ini adalah studi dokumen dalam ensiklik Laudato Si. Selain itu, penulis melakukan metode pengumpulan data dengan melakukan studi pustaka serta analisis Zed, sebagaimana yang dijelaskan Nina Adlini, menyatakan bahwa studi pustaka adalah metode pengumpulan data melalui pemahaman berbagai teori penelitian yang dijalankan melalui empat tahap penting yakni meyiapkan perlengkapan, membuat bibliografi kerja, serta mengatur waktu untuk membaca dan menulis laporan penelitian. 12 Selanjutnya. Ardyansya mengutip pernyataan dari Creswell menyatakan bahwa studi dokumen adalah metode untuk memahami secara historis fenomena yang diteliti melalui buku, surat, catatan dan dokumen resmi lainya. 13 Artinya bahwa studi kepustakaan dijalankan dengan mengumpulkan refrensi yang kait-mengait, seperti buku, artikel jurnal, dan laporan penelitian sebelumnya yang membahas tentang tema yang sama. Sementara itu, analisis dokumen akan berfokus pada ensiklik Laudato Si serta dokumen-dokumen lain yang Raco. Metode Penelitian Kualitatif: Jenis. Karakter dan Kegunggulanya (Jakarta: Grasindo. Octavia Chotimah Miza Nina Adlini. Anisya Hanifa Dinda. Sarah Yulinda dan Sauda Julia Merliyana. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi https://journal. STT Baptis Indonesia Semarang berkaitan dengan konsumerisme, gaya hidup serta pengunaan piranti teknologi serta masalah populasi sampah sebagai krisis utama lingkungan hidup akibat pola konsumerisme. Data-data dirangkum oleh penulis dijabarkan dengan memanfaatkan teknik analisis tematik yang berfokus pada topik-topik dalam pelbagai refrensi ataupun dalam dokumen yang Keabsahan dan konsistensi data dipastikan melalui penerapan triangulasi data, yaitu dengan melakukan perbandingan terhadap temuan yang berasal dari berbagai sumber literatur dan dokumen untuk menjamin keselarasan dan akurasi analisis. Dengan demikian penulis mencoba meyatukan pelbagai temuan-temuan dari literatur guna memberi gambaran yang lengkap dalam hubunganya dengan konsumerisme, gaya hidup, penggunaan piranti teknologi . edia sosial dan gawa. serta masalah populasi Sintensis ini hendak memperlihatkan bagaimana konsumerisme, mempengaruhi gaya hidup di era digital yang menyebabkan krisis lingkungan yakni dengan bertambahnya populasi sampah. Hasil & Diskusi Pengertian Konsumerisme Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa konsumerisme merupakan suatu pola pikir yang sifatnya terlalu konsumtif yang dapat menguburkan aspek kebutuhankebutuhan Konsumerisme lebih mengarah kepada kemendesakan pada kebutuhan personal yang melebihi ambang batas penggunaan terhadap barang-barang produksi. Pola pikir yang terperangkap dalam tingginya mental instan dalam memiliki segala jenis barang-barang Konsumerisme berasal dari kata bahasa Pustaka,Ay Edumaspul - Jurnal Pendidikan 6, no. : 974Ae980. 13 M. Syahran Jailani Ardiansyah. Risnita. AuTeknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian Ilmiah Pendidikan Pada Pendekatan Kualitatif Dan KuantitatifAy 1 . : 1Ae9. Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 88 latin yakni consumer atau consume yang artinya memakai, menghabiskan ataupun Dengan konsumerisme lebih dimengerti sebagai ideologi yang turut menyebabkan pribadi atau kelompok terjerumus ke dalam perilaku konsumsi terhadap barang-barang secara Dengan demikian, individu atau kelompok merasa apatis dengan apa yang dimilikinya termasuk dalam relasinya dengan sesama manusia dan alam sekitarnya dan lebih fokus pada apa yang diinginkanya tanpa adanya kontrol dari dalam dirinya sendiri. Akibatnya seorang individu merasa candu terhadap suatu produk yang membuatnya selalu bergantung pada apa yang diinginkanya Atau konsumerisme lebih dipahami sebagai paham atau gaya hidup yang hedonis dan menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan dan kesenangan. 14 Dengan demikian, individu atau kelompok menjadi apatis terhadap apa yang dimilikinya, termasuk hubungan dengan sesama manusia dan alam, serta lebih fokus pada keinginannya tanpa kontrol diri. Akibatnya, seseorang cenderung tergantung pada barang atau produk, menjadikan konsumerisme sebagai gaya hidup hedonis yang menilai kebahagiaan dari kepemilikan materi. STT Baptis Indonesia Semarang Pola pikir yang konsumtif menjadi salah satu tolok ukur kebahagiaan bagi masyarakat pada zaman sekarang. Hal ini dilengkapi dengan suatu pola perubahan dalam pelbagai kemajuan, terlebih kuhsus dalam aspek teknologi, budaya, politik, sosial ataupun Pelbagai kemajuan itu mengundang masyarakat untuk lebih beradaptasi guna Pola pikir yang konsumtif itu sangat sulit dihilangkan jika selalu digeluti dengan pelbagai kemajauan. Kemajuan itulah yang menjadi gaya hidup . ife styl. untuk terus dikejar dan diadaptasi oleh setiap Mengenai catatan diatas Naila Faiza dkk dalam penelitian mereka, mengatakan bahwa budaya konsumtif di era digital merupakan fenomena global yang dipicu kapitalisme modern melalui teknologi, media sosial, dan ecommerce. Selain itu, analisis big data dan iklan yang menggoda justeru menambah daya pikat masyarakat untuk mengonsumsi barang secara berlebihan. Naila Faiza lebih lanjut mengatakan bahwa masyarakat juga diperkuat dengan pola pikir yang FOMO (Fear of Missing Ou. serta gampang terpengaruh dengan pemasaran influencer, yang berdampak pada masalah finansial, kesenjangan sosial, dan kerusakan lingkungan. Acapkali, konsumerisme dipandang sebagai suatu sikap yang selalu merujuk pada keutamaan konsumsi yang berlebihan dan hanya berfokus pada sikap koleksi atau kepemilikan terhadap barang semata, sehingga menguburkan apa yang menjadi kebutuhan vital. Lebih dari pada itu, konsumerisme cendrung menampilkan sikap kesombongan agar diakui oleh publik baik dalam keluarga,sekolah, ataupun dalam kelompok masyarakat lainnya. Artinya, semacam sebagai ranah untuk menunjukan kemampuan Berkembangnya teknologi menjadi cikal-bakal lahirnya pola konsumerisme semacam ini. Selain itu, konsumerisme juga sangat mempengaruhi pola dan gaya hidup setiap Gaya hidup itu telah terjadi secara 14Oktaviani Adhi Suciptaningsih. AuHedonisme dan 16Hanniel Jehoshua Van Der Krogt. Sekolah Tinggi. Konsumerisme dalam Perspektif Dramaturgi Erving Goffman,Ay Equilibria Pendidikan : Jurnal Ilmiah Pendidikan Ekonomi 2, no. : 25Ae32. 15Naila Faiza et al. AuBudaya Konsumtif Di Era Digital: Strategi Kapitalisme Dalam Menciptakan Kebutuhan Semu,Ay Titian:Jurnal Ilmu Humaniora 09, no. and Teologi Pantekosa. AuIman Kristen Dalam Membentuk Etika Konsumerisme : Refleksi Teologis Terhadap Tanggung Jawab Sosial Dan Ekonomi Di Era Disruptif PendahuluanAy 8, no. : 55Ae63. Dampak Konsumerisme dan Teknologi Digital terhadap Kehidupan Sosial dan Psikologis Masyarakat . Konsumerisme dan Gaya Hidup . ife https://journal. Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 89 STT Baptis Indonesia Semarang kompleks dalam kehidupan orang-orang yang tentunya bertujuan untuk suatu pengakuaan akan kehidupan yang lebih bahagia. Artinya bahwa, setiap individu mencoba untuk berlomba-lomba bersaing dalam menggapai segala keinginannya secara bebas. Dalam hal ini, orang-orang lebih condong terjun ke pasar bebas lewat perbelanjaan online yang lebih mudah dan cepat. Rannu Sanderan dan Naomi Sampe perkembangan pasokan barang dan jasa di era orang-orang Hal ini dilihat dari tingginya konsumtif terhadap lingkaran pasar waralaba yang dibuka selama 24 jam. Hal ini menyebabkan menurunnya minat konsumen terhadap pasar tradisional. Selain itu. Rannu dan Naomi menggambarkan lajunya ecommerce dalam mengubah cara berbelanja, mengurangi waktu untuk berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan, serta memperburuk kecenderungan konsumtif dalam kehidupan sehari-hari. 17 Karena itu tidak heran jika Ralang Hartati dalam artikelnya pun melukiskan bahwa dengan pola konsumtif berlebihan itu justru dapat memperburuk kondisi ekonomi pribadi, terutama dengan adanya paylater atau pinjaman online . , yang mengancam kestabilan finansial individu. Hal ini menciptakan lingkaran utang yang memperburuk keadaan, di mana nasabah pinjol yang kesulitan membayar cicilan pokok dan bunga tinggi terpaksa meminjam lagi untuk menutupi utang sebelumnya, yang pada akhirnya dapat menambah beban dan memicu 18 Pola konsumtif berlebihan, terutama dengan kemudahan paylater atau pinjaman online, dapat memperburuk kondisi ekonomi pribadi dan menciptakan lingkaran utang yang sulit dihentikan. Situasi ini tidak hanya menambah beban finansial, tetapi juga berpotensi memicu stres dan depresi, sehingga menunjukkan bahwa konsumsi tanpa kendali membawa dampak serius bagi kesejahteraan Berkanca dari penegasan diatas dipahami sebagai model pertautan akan barang-barang konsumsi dengan aktifitas dalam ruang publik yang sifatnya hanya menuntut kepuasan diri semata dengan mengoleksi segala jenis produk-produk mewah tanpa melihat nilai dan kegunaannya. Desakan ini lahir dari kemauaun untuk beradaptasi dan mengikuti pola gaya hidup yang mapan. Orangorang akan merasa kekurangan jika paradigma gaya hidup itu tidak diikuti. Hanya saja, dengan semakin mengejar paradigama gaya hidup ini, orang-orang justru terkeco dengan sikap dan prilaku yang menyeleweng dari tindakan kriminal seperti pencurian, pengeksploitasian alam dan lain sebagainya. Sudah menjadi keyakinan bersama bahwa gaya hidup menunjukan pola konsumerisme. 17Rannu 18Syafrida Sanderan and Naomi Sampe. AuKajian Teologis Tentang Gaya Hidup Yesus Untuk Memintas Rantai Hedonisme,Ay KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen 4, no. : 130Ae43, https://doi. org/10. 34307/kamasean. https://journal. Konsumerisme dan Media Sosial Pada masa dewasa ini perkembangan media sosial dalam ranah piranti teknologi turut kebiasaan-kebiasaan Orang-orang lebih mengarah kepada titik tolak konsumsinya lewat bantuan piranti teknologi. Mengenai hal ini. Ralang Hartati mengemukakan faktor bertumbuhnya pola konsumerisme di zaman modern ini diantaranya adalah daya tarik terhadap figurfigur yang menjadi trending di pelbagai jenis media sosial. Sebut saja mereka yang sebagai actor/artis, tik-tokers, youtuber, selebgram atau figur publik lainya yang turut meramaikan jendela beranda-beranda media sosial. Tampaknya hal seperti ini, memang de facto kerap kali menunjukan atau mengiklankan pradigma gaya hidup yang glamour dan hedonis yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak produsen untuk menggalakan barangbarang produksi mereka. Melalui cara ini mereka pihak-pihak perusahaan dalam hal ini produser/produsen Ralang Ralang Hartati. AuPerlindungn Hukum Konsumen Nasabah Pinjol Ilegal,Ay OtentikAos: Jurnal Hukum Kenotariatan 4, no. : 167Ae85. Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 90 STT Baptis Indonesia Semarang pandangan bahwa pembentukan karakter sebagai figur publik adalah ketika banyak barang-barang Sekiranya disini. Hartati ingin menegasikan bahwa patokan untuk selalu dikenal atau puncak kesenangan dan kebahagiaan hanya bisa diukur dan dinilai dari seberapa besar daya konsumtif terhadap pelbagai layanan 19 Seperti halnya Hartati, kenyataan ini menurut penulis adalah semacam Auisu seksiAo untuk saling mempertunjukan trending yakni dengan meraut pengakuan publik atau mendapatkan pengakuan lewat papan like, komentar dikolom beranda media sosial. Bagi masyarakat di masa dewasa ini, untuk mendapatkan pengakuan publik pertama-tama harus dimulai dari seberapa besarnya tingkat Aksi itu akan dipertontonkan melaui media sosial. Karena pada dasarnya media sosial menjadi jendela pembuka dan penutup tentang pengakuan diri seseorang dari banyak warganet . Untuk meyakini ini. Syarif Hidayat dalam penelitiannya mendapatkan bahwa media sosial memiliki peran besar dalam pembentukan aktifitas dan psikologi konsumsi dari generasi Z . enerasi interne. Tak tanggung-tanggung, mereka menghabiskan waktu mereka hanya untuk mengotak-atik handphone yakni adanya kebiasaan scroll media sosial sembari nebeng mencari produkproduk yang mereka inginkan. Dengan kapasitas internet dan piranti teknologi inilah aktifitas dan psikologis mereka dirubah total . emacam ada potensi kecandua. media Dengan demikian, piranti teknologi dan media sosial menjadi satu paket yang mempertegas pola konsumerisme mereka. Dengan pendasaran tersebut. Hidayat juga mempertegas bahwa konsepsi media sosial melibatkan tiga unsur yakni: jaringan sosial . ocial networ. , partisipasi pengguna, dan conten creation. Karena itu, jaringan sosial bisa menyangkutpautkan pribadi dalam sebuah relasi yang saling relasional ataupun Sedangkan partisipasi atau keterlibatan pengguna mencakup interaksi aktif, seperti komentar dan berbagi konten. Semantara itu, penciptaan konten . onten creatio. identik kepada bagaimana pengguna bisa memberi peran dalam memproduksi media digital. Situasi ini menciptakan lingkaran utang, di mana nasabah pinjol yang kesulitan membayar cicilan terpaksa meminjam lagi, sehingga beban finansial semakin meningkat dan Hal menunjukkan bahwa konsumsi tanpa kendali dapat menimbulkan dampak serius bagi kesejahteraan individu. 19Sely Monica. Naomi Prilda Siagian, and Atika Rokhim. AuAnalisis Budaya Konsumerisme Dan Gaya Hidup Dikalangan Remaja Akibat Pengaruh Media Sosial Di Kota Tanjungpinang,Ay Jurnal Indonesia Sosial Sains 3, no. : 1198Ae1204, https://doi. org/10. 36418/jiss. https://journal. Konsumerisme dan Gawai . Penggunaan Perkembangan gawai pada masa ini menjadi satu hal yang tidak terlepas-pisahkan dari pola hidup konsumerisme. Manusia semacam telah melekat dan tidak bisa jauh dari gawai. Tidak bisa dipungkiri bahwa antara gawai dan manusia itu sendiri semacam sebuah Aorantai relasiAo yang sulit untuk dipisahkan. Tanpa gawai manusia akan hilang kesuksesannya bahkan jati dirinya. Gawai berhasil menjadi titik sentral yang mengarahkan manusia pada kepuasan ego ataupun rasional. Gawai seakan menuntut manusia untuk ikut perintahnya dalam pelbagi hal. Hardiman dalam bukunya yang berjudul AuAku Klik Maka Aku Ada: Manusia Revolusi DigitalAy pertanyaan yang amat menohok: siapakah manusia di era digital? Pertanyaan ini seakan ingin melihat suatu perubahan yang mendasar yakni perubahan manusia dari homo sapiens menjadi homo digitalis. Hardiman, kemudian menghubungkannya dengan prilaku timbal balik antara komunikasi digital dan kondisi kemanusiaan masyarakat. Lebih lanjut ia menguraikan: Apakah masyarakat menjadi Syarif Hidayat et al. AuStrategic : Journal of Management Sciences STUDI FENOMENOLOGI MEDIA KONSUMERISME GENERASI Z SOSIALAy 4, no. 21Hidayat et al. Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 91 lebih manusiawi karenanya . ? Dapat dikatakan bahwa, menurut Hardiman ponsel atau gawai itu memanusiawikan dan bahkan mendewasakan pengunanya. Maksudnya, ponsel pintar itu memanusiawikan mereka yang dipanggilnya. Dengan demikian secara nyata gawai itu menolong banyak umat 22 Seperti halnya Hardiman, menurut penulis pengunaan gawai semata-mata sudah dan telah memberi banyak manfaat terhadap perkembangan hidup manusia. Gawai sudah memungkinkan atau menghadirkan segala sesuatu yang mungkin ada diluar nalar Misalnya, gawai telah memberi dan menjawabi apa itu kesepian bagi manusia. Yakni lewat mengonsumsi pelbagai banyak hiburan seperti game, film, dan lain Artinya bahwa gawai telah masuk kekedalaman cita rasa manusia itu sendiri. Cita rasa itu tidak hanya sebatas karya seni imajinatif manusia yang kreatif tetapi lebih dari itu sebagai pintu kemerdekaan dalam pelbagai jenis kesulitan hidup. Sehubungan dengan hal ini. Felix Baghi dalam bukunya AuRedeskrip dan IroniMengolah Cita Rasa KemanusiaanAy menjelaskan bahwa kompleksitas dunia perlu disentuh dan diperdalami lewat cita rasa kemanusiaan dan sikap kritis. Cita rasa dapat dipahami sebagai salah satu kesanggupan untuk mencerna segala kemungkinan yang berbeda dan menohok. Kita mesti selalu terbuka dengan hal-hal yang berkenan dengan apa yang telah hadir dalam pola kehidupan Dengan demikian, hanya dengan sikap kritis itu manusia dapat dan mampu mengolah kemanusiaannya sendiri. 23 Arti dari sebuah olah rasa yang kritis ialah berani menanggapi pelbagai kemungkinan-kemungkinan. Karena itu, dalam kaitannya dengan gawai, pertamatama adalah masyarakat harus menerima itu sebagai keharusan dari kemungkinan hasil karya seni manusia yang kreatif-imajinatif. Akan tetapi, penting untuk digaungkan juga F Budi Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia Dalam Revolusi Digital, ed. PT. Kanisius (Yogyakarta: PT Kanisius, 2. 23 Felix Baghi. Redeskrip Dan Ironi (Mengolah Citra Rasa Kemanusiaa. , ed. Penerbit Ledalero, 1st ed. (Maumere: Januari 2014, 2. https://journal. STT Baptis Indonesia Semarang yakni bagaimana cara masyarakat mengolah rasa agar tidak terjebak pada pola konsumtif yang berlebihan. Olah rasa itu merupakan sebuah panggilan mendasar untuk tidak dikuasai oleh gawai, melainkan menguasai gawai sebagai hasil ciptaan manusia. Pola konsumerisme lahir justru karena lemahnya mengolah cita rasa secara bijaksana. Konsumerisme Dampaknya Terhadap Lingkungan di Era Globalisasi Konsumerisme bukanlah menjadi hal yang baru dalam kehidupan masyarakat. Akar dari prilaku konsumtif dilihat dalam masyarakat agrikultural, misalnya kenyataan di mana kaum bangsawan . yang memiliki kebiasaan untuk menggunakan barang-barang mewah dan mahal yang sifatnya baru atau tren. Mereka bahkan mempunyai kebiasaan untuk memberi pengertian kelas sosial berdasarkan apa yang mereka bisa miliki. Hal ini bisa dilihat bagaimana masyarakat Tiangkok, di masa Aodinasti hanAo sudah dibagi dalam kelompok dagang dengan pembagian berdasarkan kelas Setiap kelompok dagang itu disebarluaskan di seluruh dunia lewat barang dagangan mereka. 24 Karena itu, harus diakui bahwa situasi di atas juga ikut mempengaruhi pola konsumerisme terhadap masyarakat pertanian dengan masyarakat modern. Kebiasaan dalam membagi kelas sosial adalah bukti yang valid bahwa pola konsumerisme menjadi pembeda dari setiap pembagian kelas. Dengan demikian, masyarakat pertanian pun turut terjun ke dalam dunia konsumerisme karena gaya produksi dari perusahaan bangsawan ikut memperkeruh kebutuhan vital . asyarakat Tidak konsumerisme telah amat menguat di dalam kehidupan masyarakat. Tentang hal ini, 24 Albertus. AuKonsumerisme Terhadap Gawai Dan Dampaknya Bagi Lingkungan: Studi Kasus Pada Apple Inc. Ay Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 92 Stearns Albertus mengungkapkan faktor utamanya yakni adanya peningkatan nilai kesejahteraan terhadap produk-produk dan juga adanya prosedur marketing . terhadap produk-produk. Di satu pihak Stearns mau mengatakan bahwa peran serta negara-negara Eropa secara kuhsus dalam penerapan pasar bebas mampu memberi effect besar terhadap Namun di pihak lain. Stearns ingin menghubungkan bahwa psikologis konsumtif masyarakat tergantung dari kesejahteraan yang mereka inginkan. Artinya, barang-barang tersebut disesuaikan dengan daya tarik dalam dunia pasar. 25 Seperti halnya Stearns. Ritzer lebih menggalinya secara Baginya, pola konsumerisme nilai estetika terhadap Artinya menguatnya pola konsumerisme dalam ranah arus perubahan globalisasi, lingkungan tidak lagi dipandang sebagai entitas yang lain tetapi justru akan di-eksploitasi demi menunjang kebutuhan dan nilai marketing dari setiap jenis produk. Dengan demikian nilai akan barang pun ikut mempengaruhi kemajuan dan daya persaingan pasar global. 26 Pola konsumerisme, yang menguat dalam arus globalisasi, membuat lingkungan tidak lagi dipandang sebagai entitas yang terpisah, melainkan dieksploitasi demi memenuhi kebutuhan dan nilai marketing produk. Dampaknya, nilai barang menjadi penentu kemajuan dan daya saing di pasar global, sehingga konsumerisme memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku manusia dan keberlanjutan lingkungan. Terlepas dari apa yang disampaikan Ritzer, maka tidak heran Thun menegasikan bahwa globalisasi yang berkembang pada dewasa ini telah melahirkan segala jenis kemungkinan bagi korporasi nasional maupun internasional untuk mengatur serta merelokasi kegiatan usaha diseluruh belahan dunia. Sebagai bukti misalnya, dilihat dari perubahan rantai nilai global yang dijadikan sebagai bentuk penstrukturan jalanya produksi dengan cara internasional dalam pelbagai proses produksi di dunia. 27 Sebagaimana yang dikemukakan Thun tentang perkembangan korporasi nasional dan internasional dalam hal sebagai Aopembentuk kegiatan usaha masyarakt diseluruh duniaAo. Morewedge dan McKinnie memaparkan akibat dari fenomena konsumerisme yang mampu melumpuhkan krisis ekologis yang berkepanjangan. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana konsumsi komoditas yang pada akhirnya merujuk pada penggunaan sumber daya secara bertahap bahkan tanpa AokendaliAo. Dengan demikian, terjadilah pola konsumtif yang meningkat dalam masyarakat yang lebih membuntuhkan material dan energi. Melaui pengeksploitasian secara besar-besaran itu membuat cadangan sumber daya bumi sangatlah terbatas apalagi daya pikat untuk mengonsumsi barang dan jasa justru akan melahirkan sampah yang kemana-mana. Eksploitasi sumber daya secara besar-besaran membuat cadangan bumi semakin terbatas, semantara dorongan konsumsi barang dan jasa yang tinggi menghasilkan limbah yang menyebar Konsumerisme Dampaknya: Tantangan Sampah di Era Modern Berangkat dari penjelasan sebelumnya, konsumerisme akan menimbulkan bermacammacam masalah lingkungan, secara kuhsus persoalan sampah. Memang patut diakui bahwa permasalahan sampah sejatinya bermula dari pola konsumsi yang berlebihan. Semakin masyarakat untuk membeli barang, turut mempengaruhi kapasitas atau jumlah sampah, sehingga sulit untuk ditangani. Tentang beberapa jenis sampah di dunia ini. Juli Slamet dalam bukunya yang berjudul AuKesehatan LingkunganAy membagikan jenis sampah antara lain: Pertama, garbage. Sampah jenis ini merupakan sampah yang mudah membusuk yang disebabkan oleh 25 Albertus. 27 Albertus. 26 Albertus. 28 Albertus. https://journal. STT Baptis Indonesia Semarang Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 93 STT Baptis Indonesia Semarang operasi dari mikroba, atau jasad renik . Akibatnya, sampah jenis ini harus pengelolahannya secara cepat baik itu pada saat pengumpulan atau pembuanganya. Pada kesempatan yang sama sampah jenis ini jika tidak dikelola secara baik akan bisa menghasilkan racun terhadap tubuh karena mengandung gas metan, dan gas H2S. Lebih dari itu, persoalan yang lain muncul ialah pengaruh sampah yang mudah membusuk akan mengasilkan bau yang tidak sedap. Kedua, refuse. Sampah jenis ini termasuk dalam sampah yang sifatnya sulit untuk Misalnya karet, gelas, logam, plastik dan lain sebagainya. Karena itu, sampah jenis ini alangkah baiknya didaur ulang agar bisa dimanfaatkan untuk membuat jenis barang yang lain. Ketiga, sampah berbahaya (B. Sampah jenis ini memiliki ciriciri sebagai berikut: mengandung unsur kimiawi, mudah meledak, bersifat reaktif ataupun mudah teroksidasi. 29 Sampah seperti karet, gelas, logam, dan plastik sebaiknya didaur ulang agar dapat dimanfaatkan Sementara itu, sampah berbahaya (B. adalah sampah yang mengandung unsur kimia, mudah meledak, bersifat reaktif, atau mudah teroksidasi, sehingga memerlukan penanganan khusus. Terlepas mengenai jensi-jenis sampah. Whiliam Chang dalam bukunya AuBioetika Sebuah PengantarAy mengecam proses penanganan sampah yang masih dan belum secara efektif dilakukan. Menurutnya, masyarakat masih dan belum sadar dengan menjaga kebersihan serta mengolah sampah dengan baik. Masyarakat cendrung apatis untuk mejaga kebersihan termasuk dari barang-barang yang telah mereka konsumsi. Dalam latar belakang masyarakat yang apatis terhadap penanganan sampah seperti dewasa ini. Whiliam mau menegasakan bahwa penanganan sampah perlu menempuh jalur pendidikan di dalam komunitas keluarga, persekolahan, dan pelbagai jenis komunitas yang ada dalam Dengan demikian, orang tua, guru, pegawai pemerintah, dan segenap anggota masyarakat harus tanggungjawab untuk menangani masalah sampah yang seharusnya dibuang pada tempatnya dan pada Banyak pihak lupa bahwa sampah menyebabkan krisis lingkungan yang besar. Kurangnya kesadaran ini mencerminkan tipisnya rasa tanggung jawab masyarakat dalam bidang sampah. 30 Masayarakat kurang memahami bahwa sampah yang dihasilkan itu disebabkan oleh sikap konsumerisme yang Singkat kata bahwa, populasi sampah akan berkurang dan terselasaikan jika pola konsumerisme dibatasi dan dikurangi. Demikian Sony Keraf, menggambarkan bahwa kemajuan industri justru merubah gaya hidup manusia di zaman modern ini. Perubahan itu ditandai dengan pola konsumtif yang tinggi. Inilah yang menjadi menjadi faktor utama bertambahnya volume sampah. Nyatanya, orang-orang lebih mengunsumsi pelbagai jenis barang artificial intelegent industri yang berkepanjang, sehingga terjadi penumpukan sampah ataupun limbah yang sulit ditangani seperti plastik, karet dan lain 31 Pada posisi yang sama Slamet Soemirat menguraikan bahwa akibat pola konsumerisme yang berlebihan itu, tanah menjadi sasaran dari pembuangan sampah dengan jumlah yang besar sehingga berubah wujud menjadi kadar tanah yang beracun. Dengan pola konsumerisme berlebihan tersebut, tanah yang kiranya menjadi persemaiaan yang subur justeru menjadi tempat pembuangan sampah yang tak terkendali dan dalam jumlah besar tercemar dan berubah menjadi tanah beracun. Senada dengan persoalan kosumerisme dan proses penanganan sampah yang belum efektif di zaman modern ini. Slamet Soemirat mengkaji beberapa faktor bertambahnya populasi sampah antara lain. Jumlah Jumlah penduduk yang padat akan 29 Juli Soemirat Slamet. Kesehatan Lingkungan, ed. Penerbit Gadja Mada University Press Yogyakarta, 1st ed. (Yogyakarta, 1. 30 Whiliam Chang. Bioetika Sebuah Pengantar, 1st (Yogyakarta: Penerbit PT. Kanisus, 2. https://journal. Sony Keraf. Krisis Dan Bencana Lingkunagn Hidup Global, 1st ed. (Yogyakarta: Penerbit PT. Kanisius, 2. 32 Slamet. Kesehatan Lingkungan. Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access P a g e | 94 [Open Acces. mempengaruhi jumlah sampah di setiap Hal ini ditandai pada jumlah barangbarang yang habis dikonsumsi. Keadaan sosial ekonomi. Keadaan sosial ekonomi masayarakat mejadi cikal-bakal lahirnya berbagai jenis produk yang didasari pada tingkat konsumsi masyarakat. Dengan demikian, pendapatan perkapita sampah semakin bertambah. Kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi menjadi jembatan dalam memproleh jenis barang yang dikonsumsi. Artinya piranti teknologi semacam menjadi rantai tak terputusnya sampah karena segala barang dapat dengan mudah dimiliki oleh setiap pribadi melaui alat teknologi. Pola Pola pandang yan terlalu konsumtif telah membuka peluang untuk menambah jumlah sampah. Hal ini sangat terlihat jelas dari kualitas kesadaran koleksi dan pemakaian masyarakat yang terlalu tinggi. Tentu saja hal ini sudah semacam tuntutan kualitas kehidupan masyarakat itu sendiri. Konsumerisme yang berlebihan justru menjebak masyarakat kedalam tumpukan sampah yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup. 33 Persoalan konsumerisme dan penanganan sampah yang belum efektif menyebabkan peningkatan populasi sampah. Faktor-faktornya meliputi jumlah penduduk, keadaan sosial ekonomi, kemajuan teknologi, dan pola konsumtif masyarakat. Semua faktor ini saling berinteraksi sehingga konsumsi berlebihan memicu akumulasi sampah yang berbahaya bagi lingkungan, menunjukkan perlunya kesadaran kolektif dalam mengelola STT Baptis Indonesia Semarang Ensiklik Laudato Si yang resmi diterbit pada 24 mei 2015 yang lalu telah diterima oleh begitu banyak umat manusia sebagai bentuk perhatian terhadap situasi lingkungan pada era Ensiklik ini termotivasi dari seruan yang digagas oleh St. Fransiskus Asisi dalam syairnya sahydu yang berbunyi: Laudato Si, mi Signore yang berarti AuTerpujilah Engkau TuhankuAy. 34 Dari syair ini. St. Fransisikus Asisi ingin agar setiap orang lebih terpanggil menyadari bumi sebagai bak saudari . afas kehidupa. yang senantiasa mengambil bagian dalm kehidupan manusia, sekaligus ibu yang dengan tidak pernah tidak menyambut manusia dengan tangan terbuka. 35 Dalam Laudato Si terdiri dari 6 . bab yang sedianya menjadi topangan yang kuat sebagai kerangka dalam memahami relasi manusia dan Ke-enam menegasikan sejumlah pandangan Paus Fransisikus tentang ekologi, sekalian bentuk kekhawatiranya terhadap situasi lingkungan alam ciptaan dari masa ke masa. Dalam ensiklik Laudato Si, kuhsusnya pada bab VI diulas secara baik mengenai AuPendidikan dan Spiritualitas EkologisAy. Dalam hal ini Paus Fransisikus sebagai penggiat lingkungan mengingatkan secara keras bahwa kita saatnya harus kembali membangun relasi dengan alam secara baik dan bertanggung jawab. Kita hendaknya membuka kesadaran baru untuk saling mengingatkan, dan memiliki alam sebagai rumah kita bersama dimasa depan. Lebih lanjut. Paus menyinggung bahwa situasi dunia saat ini selalu dihempit dengan pelbagai persoalan dan tantanganya baik itu secara budaya, ekonomi, dan politik. 36 Tampak di sini. Paus Fransiskus perjalanan kita menuju Aogaya hidup yang baruAo. Kritik Paus Fransiskus beranjak dari kekhawatiranya terhadap situasi ekonomi yang terlalu konsumtif dewasa ini, yang kemudian orang-orang mengarah pada pola ekonomis dunia pasar. Dalam tataran ini Paus ingin mengkritik bahwa perbelanjaan-perbelanjaan secara bebas yang terus bergemuruh membuat orang-orang gampang tergelincir dalam gaya hidup yang 33Slamet. 35Paus Tinjauan Ensiklik Luadato Si Paus Fransisikus Terhadap Pola Konsumerisme dan Krisis Lingkungan . Konsep AoPendidikan dan Spiritualitas EkologisAo dalam Ensiklik Laudato Si 34Markus Meran. AuEnsiklik Laudato SiAo: Perawatan Rumah Kita BersamaAeRumah Kita Ada di Alam IniAy Jurnal Masalah Pastoral. : 30Ae41. https://journal. Fransiskus. AuSeri-Dokumen-Gerejawi-No98-LAUDATO-SI-1Ay Ensiklik Paus Fransiskus. : 5Ae161. 36Paus Fransiskus. Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 95 STT Baptis Indonesia Semarang berfoya-foya. Sikap konsumerisme semacam ini adalah bentuk diskriminasi terhadap lingkungan tempat tinggal bersama, karena alam akan terus dieksploitasi terus-menerus hanya demi memenuhi kebutuhan barang-barang yang diinginkan oleh manusia. 37 Sehingga dengan Paus Fransisikus mengingatkan bahwa orang-orang terjebak dalam keoptimisan kebebasan yang sulit Kebebasan itu hanya bisa dinilai dan diukur dari kebebasan mengonsumsi. Padahal, menunjukan sikap ambiugitas yang sulit dipadamkan dalam diri manusia itu sendiri. Sikap kritis berdasarkan panggilan iman adalah hal yang semestinya dijalankan untuk menjaga kelestarian bumi sebagai rumah tinggal bersama. Terhadap semuanya itu, penulis pun bertanya: apakah masyarakat mampu keluar dari pola konsmerisme semacam ini? Pertanyaan ini jika dihubungkan dengan keseluruhan ajaran Paus Fransisikus dalam Laudato Si masih belum cukup menggertak orang-orang pada masa dewasa ini. Hal ini semacam sudah merupakan visi pola kebahagian dari setiap pribadi. Ambil misal. Aoketika seseorang mempunyai uang dalam jumlah banyak, sedikit kemungkinan ia tidak sebaliknyaAo. Situasi ini sudah menjadi bobot untuk menunjukan kebebasanya dalam membeli barang-barang karena ia disetir oleh uang yang ia miliki itu. Uang ini terus merongrong dia. Karena sifat uang adalah dipergunakan sebebasnya. Hanya saja, sebenarnya hal yang patut dilihat dan direfleksikan adalah mengenai sikap pola konsumerisme yang melebihi ambang batas Dalam latar belakang masyarakat yang gampang tergelincir dalam pola konsumerisme yang bebas dan lost control ini. Paus Fransiskus menggalakan Aopiagam bumiAo sebagai bentuk ajakan untuk mengakhiri masa penghancuran diri dan memulai era baru. Dengan Aopiagam bumiAo Paus Fransiskus sebenarnya ingin mengantar dan menukik kesadaran universal dalam mencintai alam. Oleh karena itu. Paus menegaskan bahwa. AuSeperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, takdir kita semua memancing kita untuk mencari awal yang baru [. Marilah kita mengenang era ini menjadi sebuah sejarah untuk membangkitkan semangat dalam menghormati alam sebagai ibu kehidupan yakni dengan memegang teguh pada prinsip bersama yakni AokeberlanjutanAy dengan penuh suka cita. Ay39 37Paus Fransiskus. 40Paus Fransiskus. 38Paus Fransiskus. 41Paus Fransiskus. Dengan ungkapan ini. Paus Fransiskus mengembangkan kemampuan yakni suatu kemampuan untuk keluar dari keegoisan diri dan lebih peduli dengan lingkungan dan Hanya dengan itu, kita mampu menciptakan kehidupan yang serasi dan penuh Saatnya masyarakat keluar dari zona nyaman dan mengubah semuanya dengan penuh iman. Karena itu, saatnya penting untuk membongkar sikap indiviadualisme dan lebih berfokus pada kebaikan bersama . onum commun. yakni dengan mencintai alam sebagai Aopiagam bumiAoyang berharga. 40 Paus Fransiskus mengajak masyarakat untuk keluar dari keegoisan, peduli terhadap lingkungan dan sesama, serta menempatkan kebaikan bersama di atas segala kepentingan pribadi. Selain ingin menggugah kesadaran universal. Paus Fransiskus mengundang untuk memperkuat pendidikan dalam memahami hubungan antara manusia dan lingkungan. Yakni dengan suatu mengenal persoalan budaya dan ekologis mestinya harus diimplementasikan kedalam praktik-praktik Saatnya untuk lebih menyadari bahwa setiap kemajuan, bukan saja diukur dari akumulasi barang atau kenikmatan, tetapi lebih dari itu ialah cara kegemilangan dunia pasar selalu menghantui 41 Dalam hubungan dengan ini Paus Fransiskus 39Paus Fransiskus. https://journal. Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 96 STT Baptis Indonesia Semarang pendidikan lingkungan hidup kini lebih luas, mencakup tidak hanya informasi ilmiah dan kesadaran, tetapi juga kritik terhadap mitos konsumerisme, dan kemajuan tanpa batas. Pendidikan ini berfokus pada pemulihan keseimbangan ekologis di tingkat pribadi, sosial, alami, dan spiritual. Tujuannya adalah orang-orang memahami etika lingkungan yang lebih 42 Paus Fransiskus menekankan bahwa pendidikan lingkungan hidup kini mencakup bukan hanya pengetahuan ilmiah, tetapi juga kritik terhadap individualisme, konsumerisme, dan gagasan kemajuan tanpa batas. Pendidikan ini bertujuan memulihkan keseimbangan ekologis pada tingkat pribadi, sosial, alamiah, dan spiritual, sehingga membantu untuk memahami etika lingkungan secara lebih mendalam. Peringatan yang digagas oleh Paus Fransisikus ini menurutnya adalah sebuah paradigma untuk lebih mendalami pendidikan ekologis yang baik. Paus mengharapkan bahwa diterapkan di berbagai konteks kehidupan masyarakat seperti sekolah, keluarga, dan Dalam cita-cita dan harapan ini Paus Fransiskus sebenarnya ingin mendesak menuju jalan pendidikan di sekolah-sekolah dan komunitas belajar untuk menjadi penggerak utama dalam mencintai alam. Selain itu menurutnya keluarga juga memegang peran sentral dalam melestarikan kehidupan dan nilai-nilai seperti kebersihan, penghargaan terhadap ekosistem, dan peduli pada makhluk hidup. Keluarga adalah tempat pembentukan pribadi yang mengajarkan sopan santun, pengendalian diri, dan rasa hormat terhadap lingkungan. 43 Konsep pendidikan dan spiritualitas ekologis yang diajukan Paus Fransiskus memberikan dasar moral yang kuat untuk kebijakan lingkungan dan perubahan pertobatan ekologis secara menyeluruh. Seruan ini bersifat universal untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan yang merata. Dengan demikian, hubungan dengan lingkungan akan lebih aman dan Paus Fransiskus mengajak untuk meninggalkan gaya hidup konsumtif dan mengadopsi pola hidup baru yang didasari oleh pendidikan dan spiritualitas ekologis. 42Paus Fransiskus. 43Paus Fransiskus. https://journal. Relevansi Seruan AoPendidikan dan Spiritualitas EkologisAo dalam Ensiklik Laudato Si Terhadap Pola Konsumerisme dan Krisis Lingkungan Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pola konsumerisme berhasil menarik masyarakat untuk memperkeruh krisis Karena itu, perlu disadari bahwa pola konsumerisme dapat mempengaruhi Konsumerisme yang turut mengubah gaya hidup, penggunaan gawai dan media sosial telah merubah cara pandang masyarakat untuk mengonsumsi barang sebanyak mungkin. Ibarat kata bahwa. Ausemakin banyak membeli, semakin banyak pula membuang sampah di sembarangan tempatAy. Terhadap persoalan ini. Laudato Si merupakan jawaban yang tepat dan ideal untuk mengkoreksi perilaku konsumerisme. Laudato Si menjadikan relasi manusia dengan alam ciptaan sentrum refleksinya. Dalam Laudato Si, definisi AusesamaAo kian diperluas. Sesama tidak lagi direduksi pada sebatas manusia dan manusia, melainkan juga manusia dengan alam sekitar. Hal ini tidak serta merta berarti Laudato Si, mengabaikan sama sekali dimensi relasi antar personal. Dengan demikian hal yang patut diapresiasi bahwa Laudato Si hadir sebagai payung cerminan yang harus dan terus dikerahkan dalam memahami relasi alam dan manusia dengan seruan pendidikan dan spiritualitas ekologis yang telah diagemakan dalam Laudato Si. Dengan memahami AuPendidikan dan Spiritualitas EkologisAy sedianya masyarakat mesti keluar dari pola kunsumtif yang melebihi ambang batas Oleh sebab itu, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar mereduksi pola konsumerisme dan krisis lingkungan antara lain: Pertama, pertobatan ekologis. Term Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 97 STT Baptis Indonesia Semarang pertobatan ekologis selalu mengandaikan adanya ketidakberesan yang harus dan segera ditanggapi dengan sebuah rekonsiliasi nyata dan perlu didesak. Ketidakberesan paling dominan dalam kaitanya dengan lingkungan hidup adalah ketidakadilan ekologis. Potret ketidakadilan itu mewajah dalam segala aktifitas perusakan lingkungan yang disiasati oleh manusia termasuk pola konsumerisme yang lebih dominan. Sebaliknya pembuangan sampah juga ikut didominasi. 44 Selain watak ketamakan, aspek lain yang memberi andil bagi timbulnya ketidakadilan ekologis adalah pengunaan teknologi yang merambat pada gaya hidup dengan koleksi barang-barang berlebihan dan tanpa rasa tanggung jawab. Kemajuan yang pesat di bidang teknologi berbasis digital ini seringkali tidak berbanding lurus dengan perkembangan tanggung-jawab, nilai-nilai etis dan juga nurani manusia. Dengan demikian dalam merefleksikan situasi krisis seperti ini, ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus menggaungkan konsep baru yakni dengan menggalakan perilaku menuju pertobatan eklogis. Berhubungan dengan ini Paus Fransiskus mengimbau kepada kita bahwa Spiritualitas Kristiani yang sudah sudah dibentuk dalam karya misi dan iman harus dipakai untuk memelihara bumi. Lebih dari itu sebagai umat kristiani dipanggil agar selalu kreatif dan peka menciptakan spiritualitas ekologis sesuai yang disabdakan oleh Kristus dalam injil. Apa yang diajarkan Kristus di dalam injil semestinya mendorong untuk menjaga bumi sebagai rumah kehidupan bersama dengan tidak terikat pada penguasaan tunggal terhadap alam. 46 Umat Kristiani dipanggil untuk kreatif dan peka dalam membangun spiritualitas ekologis sesuai ajaran Injil. Dengan demikian, ajaran Kristus seharusnya mendorong kita menjaga bumi sebagai rumah kehidupan tanpa sikap penguasaan yang merusak alam. Kedua, pendidikan sebagai perjanjian manusia dan lingkungan hidup. Mengenai hal ini Paus Fransiskus menegaskan gagasan Aokewarganegaraan ekologisAo. Konsep ini mengajak manusia untuk bertanggung-jawab penuh dengan lingkungan di sekitar. Selain dengan penegakan aturan undang-undang yang menjamin kehidupan umat manusia, patutlah juga masyarakat menaati itu sebagai bentuk Aokewargaannegaraan ekologisAo. 47 Dalam konteks ini, penulis melihat seruan ini sebagai bentuk ungkapan untuk bersikap asketis dalam memanfatkan alam. Artinya meskipun perkembangan zaman yang sulit diampik, masyarakat hendaknya tidak terjebak pada konsumerisme yang mengubah pola relasi dengan alam, karena pada hakikatnya pola yang terlalu konsumtif sedianya selalu berujung pada peng-eksploitasian alam dalam menunjang kebutuhan vital kita semata. Meskipun tuntutan masyarakat semakin bertambah, penting untuk dipertimbangkan dengan sikap bijaksana yakni Aopro kelestarian alam yang mumpuniAo. Artinya, manusia diperbolehkan memanfaatkan alam, tetapi harus dengan batas tertentu yakni menaati aturan yang telah disepakati bersama. Sekiranya Aokewargaanegaraan ekologisAo kita terjermahkan dalam bentuk menaati hukum yang berlaku di negara kita. Ketiga, spiritualitas kristiani sebagai Paus Fransiskus AoSpiritualitas KristianiAo dalam memahami kesejahteraan hidup yakni dengan menyantuni model hidup kenabian yang refklektif dan tidak dengan mudah terobsesi dengan sikap konsumtif yang Tercakup dalam seruan AoSpiritualitas KristianiAo Paus Frasnsiskus menggaungkan satu pelajaran kuno yakni Aukurang adalah lebihAy. Pepatah ini pun terdapat dalam tradisi gereja ataupun dalam Kitab Suci. Intensi yang mau disampikan dalam pepatah kuno ini ialah bahwa pola konsumtif yang berlebihan akan menjebakkan masyarakat ke dalam keegoisan serta membuyarkan hati setiap orang untuk menikmati yang ada. 48 Pada saat yang bersamaan. Paus Fransiskus menjelaskan bahwa keugaharian . yang dijalani dengan merdeka . epas sama sekal. 44Paus Fransiskus. 46Paus 45Fransiskus. AuFratelli Tutti (Saudara Sekalia. Ay Ensiklik Paus Fransiskus tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial. : 67Ae180. https://journal. Fransiskus. AuSeri-Dokumen-Gerejawi-No98-LAUDATO-SI-1. Ay 47Paus Fransiskus. 48Paus Fransiskus. Volume 21 Nomor 1 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 98 ataupun dengan sadar justru akan membuat kita lebih bebas. Artinya bahwa, manusia dipanggil untuk hidup dengan sangat sedarhana tapi bukan untuk hidup kurang pun tidak intens. 49 Apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus dirumuskan secara mendalam oleh penulis bahwa spiritualitas ekologis ini, sedianya merupakan seruan untuk merubah konsep hidup yang penuh dengan rasa dan mengunsumsi barang-barang yang berlebihan. Untuk itulah, desakan Paus Fransiskus sejatinya menjadi ajang untuk merubah prilaku yang antroposentrisme menuju ekosentrisme yaitu tampil sebagai pejuang peradaban dan berani keluar dari peradaban yang salah dan kontroversi yang telah bertumbuh subur selama ini. Kesimpulan Pendidikan Spiritualitas Ekologis memberikan pendekatan holistik untuk keluar dari pola konsumerisme yang tidak terkendali di tengah meningkatnya krisis lingkungan. Dengan mengintegrasikan nilai moral, spiritual, dan praksis, pendekatan ini membuka peluang untuk membangun gaya kesadaran ekologis. Ajaran Paus Fransiskus dalam Laudato Si menegaskan pentingnya pertobatan ekologis, yaitu perubahan sikap dari pola hidup konsumtif menuju relasi yang lebih sadar dan penuh tanggung jawab terhadap bumi sebagai rumah bersama. Prinsip-prinsip ini menjadi landasan penting dalam menghadapi tantangan konsumtif yang diperkuat oleh teknologi digital dan budaya hidup tanpa kendali. Dengan demikian. Pendidikan dan Spiritualitas Ekologis tidak hanya berfungsi sebagai pedoman etis, tetapi juga sebagai panduan praktis yang membantu menyeimbangkan perlindungan lingkungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia secara adil dan berkelanjutan. Referensi Adlini. Miza Nina. Anisya Hanifa Dinda. Sarah STT Baptis Indonesia Semarang Yulinda. Octavia Chotimah, and Sauda Julia Merliyana. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka.