The current issue and full text archive of this journal is available on Tarbawi at: https://doi. org/10. 62515/staf E-ISSN : 2828-318X Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 1STIT Al-Ihsan Baleendah Bandung. E-mail: nurfatimah. stitalihsan@gmail. 2STIT Al-Ihsan Baleendah Bandung. E-mail: cepibudiyanto@stitalihsan. 3STAI Putra Galuh Ciamis. E-mail: numanihsanda0208@gmail. 4Uin Sunan Gunung Djati Bandung E-mail: hariyantoteguh278@gmail. 5Uin Sunan Gunung Djati Bandung. Email :aan. hasanah@uinsgd. 6Uin Sunan Gunung Djati Bandung. Email : bambangsamsularidin@uinsgd. JSTAF : Siddiq. Tabligh. Amanah. Fathonah Vol 04 No 2 July 2025 Hal : 452-464 https://doi. org/10. 62515/staf. Received: 10 July 2025 Accepted: 22 July 2025 Published: 31 July 2025 PublisherAos Note: Publisher: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STITNU Al-Farabi Pangandaran. Indonesia stays neutral with regard to jurisdictional claims in published maps and institutional affiliations. Copyright: A 2023 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) . ttps://creativecommons. org/licenses/by -sa/4. Abstract . The moral crisis occurring across various aspects of social life raises a fundamental question: how can education contribute to shaping individuals of noble character? In both global and national contexts, character education is increasingly viewed as a strategic solution to the ethical and behavioral degradation of students. This study aims to examine the urgency of character education from an Islamic perspective as a foundational element in the development of noble The method employed is a literature review, analyzing both classical and contemporary works from Islamic sources and general educational thought. The analysis focuses on the ideas of key figures such as Al-Ghazali. Ibn Miskawayh, as well as modern thinkers like Zakiah Daradjat and Thomas Lickona, using a descriptiveanalytical approach. The main findings suggest that character education in Islam is not merely a moral instrument, but a path toward forming the insan kamil . omplete huma. through the integration of tawhid . ivine unit. , adab . roper conduc. , and social ethics. This study distinguishes itself from previous research by emphasizing the integration of classical Islamic literature with modern character education theories in addressing contemporary ethical challenges. Although the study is conceptually based and lacks empirical validation, its theoretical implications provide a strong foundation for developing a contextually relevant moral education The study affirms the importance of character education as the core of a holistic Islamic educational system capable of responding to today's moral crises. Keywords . character education, insan kamil. Islamic education, literature review, moral noble character. Abstrak . Krisis moral yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan sosial menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana pendidikan dapat berperan dalam membentuk pribadi yang berakhlak mulia? Dalam konteks global dan nasional, pendidikan karakter semakin dianggap sebagai solusi Vol 04 No 2 July 2025 | 452 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 strategis atas degradasi etika dan perilaku peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji urgensi pendidikan karakter dalam perspektif Islam sebagai fondasi utama pembentukan akhlak Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah literatur klasik dan kontemporer, baik dari sumber Islam maupun pemikiran pendidikan umum. Analisis dilakukan terhadap karya-karya tokoh seperti Al-Ghazali. Ibnu Miskawaih, hingga pemikir modern seperti Zakiah Daradjat dan Thomas Lickona, dengan pendekatan deskriptif-analitis. Temuan utama menunjukkan bahwa pendidikan karakter dalam Islam bukan hanya instrumen moral, melainkan jalan pembentukan insan kamil melalui integrasi nilai-nilai tauhid, adab, dan etika sosial. Penelitian ini membedakan diri dari studi sebelumnya dengan menekankan pada integrasi literatur klasik Islam dan teori pendidikan karakter modern dalam merespons tantangan etis Meskipun keterbatasan penelitian ini terletak pada cakupan literatur yang masih bersifat konseptual dan belum teruji secara empiris, implikasi teoretisnya dapat menjadi dasar untuk pengembangan kurikulum akhlak yang kontekstual. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendidikan karakter sebagai inti dari sistem pendidikan Islam yang holistik dan solutif terhadap krisis moral masa kini. Kata Kunci . akhlak mulia, pendidikan islam, insan kamil, pendidikan karakter, nilai moral. Pendahuluan Krisis moral dewasa ini menjadi perhatian serius dalam berbagai lapisan masyarakat, baik pada tataran lokal, nasional, maupun global. Fenomena seperti penyimpangan etika, dekadensi moral, kekerasan di kalangan pelajar, hingga korupsi dalam institusi publik, menjadi bukti bahwa pendidikan formal belum sepenuhnya berhasil membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah sistem pendidikan telah cukup memberi perhatian pada pembentukan karakter peserta didik? Di Indonesia, urgensi pendidikan karakter diakui secara nasional melalui kebijakan Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila yang menempatkan karakter sebagai salah satu dimensi utama (Kemdikbud, 2. Namun, pendidikan karakter bukan hal baru dalam sejarah pendidikan. Dalam tradisi Islam, pendidikan akhlak merupakan inti dari proses pendidikan itu sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam misi kenabian Rasulullah SAW: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang muliaAy (HR. Ahma. Dengan demikian, pendidikan karakter dalam Islam bukan hanya strategi pedagogis, tetapi merupakan pilar fundamental dalam membentuk insan kamil, yakni manusia paripurna secara spiritual, moral, dan sosial. Berbagai penelitian terdahulu telah membahas pentingnya pendidikan karakter. Lickona . menekankan tiga komponen utama karakter moral knowing, moral feeling, dan moral action yang perlu ditanamkan sejak dini. Dalam konteks Islam, tokohtokoh seperti Al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih telah mengembangkan model pendidikan 453 | Vol 04 No 2 July 2025 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 akhlak yang sistematis, menekankan pembentukan jiwa yang seimbang melalui tazkiyatun nafs . enyucian jiw. , adab, dan kedisiplinan moral. Penelitian oleh Daradjat . dan Al-Attas . memperkuat pentingnya integrasi antara nilai spiritual dan moral dalam sistem pendidikan. Namun demikian, terdapat kesenjangan antara kerangka konseptual pendidikan karakter Islam yang kaya dan implementasi pendidikan karakter dalam sistem pendidikan modern. Banyak pendekatan karakter saat ini cenderung bersifat sekuler dan pragmatis, sementara warisan Islam justru menawarkan pendekatan yang bersifat integral dan transendental. Di sisi lain, sebagian besar kajian pendidikan karakter masih bersifat fragmentaris dan belum menggali secara mendalam relevansi konsep-konsep klasik Islam terhadap tantangan kontemporer. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam urgensi pendidikan karakter dalam membentuk akhlak mulia melalui kajian literatur pendidikan Islam, baik dari perspektif klasik maupun modern. Penelitian ini penting untuk menjembatani teori dan praktik pendidikan karakter dalam konteks pendidikan Islam serta mengisi celah kajian yang masih kurang mengaitkan pemikiran tokoh-tokoh klasik dengan sistem pendidikan saat ini. Kajian ini juga dapat memberikan dasar teoretis dalam pengembangan kurikulum pendidikan akhlak dan karakter yang kontekstual dan berorientasi pada pembentukan manusia yang utuh. Bahan dan Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka . ibrary researc. , yakni kajian yang bersandar pada penelusuran dan penelaahan terhadap berbagai literatur yang relevan dan otoritatif. Studi pustaka dipilih karena fokus penelitian ini adalah menggali konsep-konsep pendidikan karakter dalam perspektif Islam, dengan tujuan untuk memahami urgensinya dalam pembentukan akhlak mulia secara mendalam, konseptual, dan kontekstual. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari literatur primer dan sekunder. Literatur primer mencakup karya-karya tokoh pemikir Islam klasik seperti Al-Ghazali melalui kitab IhyaAo Ulumuddin, dan Ibnu Miskawaih melalui karya Tahdzib al-Akhlak, yang membahas konsep pendidikan akhlak secara mendalam. Literatur sekunder meliputi buku-buku kontemporer, artikel jurnal ilmiah nasional dan internasional, serta Vol 04 No 2 July 2025 | 454 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 dokumen resmi kebijakan pendidikan seperti Profil Pelajar Pancasila dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, juga dikaji literatur pembanding dari tokoh pendidikan Barat seperti Thomas Lickona yang dikenal melalui gagasannya tentang tiga dimensi pendidikan karakter: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Data di kumpulkan melalui dokumentasi dan penelaahan teks, baik dari sumber cetak maupun digital, termasuk akses melalui database jurnal seperti Google Scholar. ScienceDirect, dan DOAJ. Setiap sumber dianalisis secara kritis untuk mengidentifikasi dan menyusun pemetaan tematik nilai-nilai karakter, prinsip-prinsip akhlak Islam, serta hubungan antara pendidikan karakter dan pembentukan akhlak mulia. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi . ontent analysi. dengan pendekatan deskriptif-analitis. Proses analisis dilakukan dalam beberapa tahap: pertama, mengklasifikasikan literatur berdasarkan tema. mengkaji secara mendalam isi literatur untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan antara konsep pendidikan karakter Islam dan pendekatan kontemporer. ketiga, menyusun sintesis argumentatif yang memperkuat urgensi pendidikan karakter dalam membangun pribadi yang berakhlak mulia. Penelitian ini memiliki batasan karena tidak mencakup pengujian empiris atau pengumpulan data lapangan. Namun demikian, hasilnya diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual yang signifikan bagi pengembangan teori pendidikan karakter Islam dan menjadi pijakan awal bagi penelitian lanjutan yang lebih aplikatif atau Diskusi dan Pembahasan Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam Pendidikan Islam pembentukan akhlak mulia yang tidak hanya bersifat moralistik, tetapi juga spiritualtransendental. Konsep ini berakar dari pandangan bahwa manusia memiliki potensi dasar . yang perlu diarahkan melalui proses pendidikan agar mampu mewujudkan sifat-sifat kesempurnaan . nsan kami. Al-Ghazali . menekankan pentingnya tazkiyat al-nafs . enyucian jiw. sebagai inti dari pendidikan. Proses ini mencakup latihan spiritual, pembiasaan amal saleh, serta pengendalian hawa nafsu. Dalam IhyaAo Ulum al-Din. Al-Ghazali menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa 455 | Vol 04 No 2 July 2025 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 dipisahkan dari dimensi religius dan ketauhidan, karena tujuan akhir pendidikan adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibnu Miskawaih . memberikan pendekatan filsafat etika yang sistematis, dengan menekankan bahwa akhlak merupakan hasil dari pembiasaan yang kontinu. melihat akhlak bukan sekadar teori, tetapi bentuk kesadaran jiwa yang stabil, yang memungkinkan seseorang untuk bertindak benar secara spontan. Miskawaih menempatkan pendidikan sebagai proses pengolahan jiwa melalui latihan . iyadhoh alnaf. , sehingga individu mampu mencapai kesempurnaan akhlak melalui kendali akal dan kehendak bebas. Pandangan tersebut diperkuat oleh pemikiran modern seperti Nasr . dan Halstead . , yang menyatakan bahwa pendidikan karakter dalam Islam mengintegrasikan dimensi spiritual dan moral secara utuh. Hal ini membedakan pendidikan karakter Islam dari pendekatan sekuler yang lebih menekankan pada nilainilai universal tanpa landasan teologis. Dalam Islam, seluruh aspek pembentukan karakter bermuara pada prinsip tauhid, sehingga setiap tindakan moral adalah refleksi dari hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama manusia . ablumminallah dan habluminanna. Salah satu prinsip utama dalam pendidikan karakter Islam adalah keteladanan atau uswah hasanah. Nabi Muhammad saw. menjadi figur ideal yang mencerminkan implementasi nilai-nilai akhlak dalam konteks sosial dan pribadi. Dalam QS Al-Ahzab ayat 21. Allah menyatakan bahwa Rasulullah adalah contoh terbaik bagi umat manusia dalam seluruh aspek kehidupan. Teladan ini menekankan bahwa pendidikan akhlak tidak dapat hanya bersandar pada penyampaian teori, tetapi harus diwujudkan melalui praktik nyata oleh guru, orang tua, dan pemimpin. Beberapa studi menunjukkan bahwa model pendidikan karakter berbasis Islam telah berhasil diterapkan dalam berbagai institusi pendidikan, baik formal maupun Misalnya, hasil penelitian oleh Lickona . dan Asmani . menunjukkan bahwa pembiasaan nilai-nilai religius dalam kehidupan sekolah dapat meningkatkan kesadaran moral siswa. Sementara itu, studi dari Ridwan . dan Wahyudi . sekolah-sekolah Islam mengintegrasikan kurikulum spiritual dan akhlak secara holistik mampu membentuk karakter siswa yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Vol 04 No 2 July 2025 | 456 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 Lebih jauh, model pendidikan karakter Islam dapat diperkaya melalui pendekatan konstruktivistik yang menekankan keterlibatan aktif siswa dalam proses internalisasi nilai. Proses ini mencakup refleksi spiritual, dialog moral, dan pengalaman sosial yang bermakna. Pendidikan karakter dalam Islam bukan sekadar transmisi nilai, melainkan transformasi diri yang bertahap dan terus-menerus. Oleh karena itu, evaluasi pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui pengukuran kognitif, tetapi juga melalui observasi sikap, kebiasaan, dan perubahan perilaku yang mencerminkan kualitas akhlak. Dengan demikian, pendidikan karakter dalam Islam memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam membentuk manusia paripurna yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Pendidikan akhlak dalam Islam merupakan bentuk aktualisasi iman dan menjadi solusi atas krisis moral yang kian menggejala di era modern. Dimensi-Dimensi Pendidikan Karakter Literatur kontemporer menambah dimensi analisis terhadap konsep pendidikan karakter, terutama melalui pemikiran Thomas Lickona . yang mengemukakan tiga aspek fundamental dalam pembentukan karakter: moral knowing . engetahuan mora. , moral feeling . erasaan mora. , dan moral action . indakan mora. Ketiga dimensi ini menekankan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan tentang baik dan buruk, melainkan juga harus membangun kesadaran emosional dan komitmen tindakan nyata untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang mengabaikan salah satu dari tiga aspek ini cenderung menghasilkan individu yang memahami moral secara kognitif tetapi tidak memiliki empati atau tidak mampu mewujudkannya dalam perilaku nyata. Dalam perspektif Islam, dimensi-dimensi tersebut telah lama terintegrasi dalam prinsip iman, ihsan, dan amal saleh. Moral knowing sejalan dengan aspek iman, yaitu pengenalan terhadap nilai-nilai ketauhidan, keadilan, dan tanggung jawab melalui pemahaman terhadap wahyu dan akal. Moral feeling tercermin dalam konsep ihsan, yang berarti berbuat baik dengan penuh kesadaran akan kehadiran Allah, dan menumbuhkan perasaan spiritual serta emosional dalam berbuat kebaikan. Sementara itu, moral action identik dengan amal saleh, yaitu tindakan konkret yang mencerminkan nilai-nilai moral dalam interaksi sosial maupun ibadah individual. Dengan demikian, 457 | Vol 04 No 2 July 2025 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 Islam tidak hanya menyediakan fondasi teologis untuk pendidikan karakter, tetapi juga kerangka praktis untuk pelaksanaannya secara menyeluruh. Integrasi antara pendekatan kontemporer dan prinsip Islam ini menunjukkan bahwa nilai-nilai universal dalam pendidikan karakter memiliki titik temu yang kuat dengan ajaran Islam, sehingga membuka ruang bagi pengembangan kurikulum pendidikan karakter yang inklusif namun tetap berakar pada nilai-nilai transendental. Hal ini penting dalam menjawab tantangan pendidikan modern yang kerap terjebak pada pendekatan teknis dan instrumental, namun mengabaikan dimensi spiritual dan etis yang menjadi inti dari pendidikan akhlak. Dengan memahami kesesuaian antara Lickona dan prinsip-prinsip Islam, para pendidik dapat merancang strategi pendidikan karakter yang tidak hanya kontekstual dan aplikatif, tetapi juga berkelanjutan secara moral dan spiritual. Dimensi-Dimensi Pendidikan Karakter Dimensi pendidikan karakter menjadi tema sentral dalam berbagai diskursus pedagogis, baik dalam perspektif Barat maupun Islam. Salah satu pemikiran kontemporer yang banyak dirujuk adalah gagasan Thomas Lickona . , yang menyusun tiga pilar utama pembentukan karakter: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Ketiga dimensi ini saling terkait dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Moral knowing adalah pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk. moral feeling adalah dorongan emosional untuk mencintai dan menghargai nilai-nilai tersebut. moral action adalah kesanggupan untuk mewujudkannya dalam tindakan nyata (Lickona, 1. Tanpa integrasi ketiganya, pendidikan karakter menjadi timpang dan berpotensi melahirkan individu yang tahu nilai tetapi tidak menginternalisasi atau Perspektif Islam sejatinya telah lama mengenal integrasi dimensi-dimensi ini melalui fondasi iman, ihsan, dan amal saleh. Iman . oral knowin. tidak sekadar meyakini kebenaran, tetapi juga mengenal Allah, memahami nilai-nilai tauhid, dan prinsip keadilan sosial melalui wahyu dan akal (Aoaq. (Al-Attas, 1. Ihsan . oral feelin. merupakan puncak spiritualitas dalam Islam, yaitu berbuat seolah melihat Allah, atau menyadari bahwa Allah senantiasa melihat (HR. Musli. Ini menumbuhkan kesadaran moral yang kuat dan menjadikan perbuatan baik bersumber dari hati yang ikhlas, bukan sekadar tuntutan eksternal. Sementara itu, amal saleh . oral actio. Vol 04 No 2 July 2025 | 458 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 merupakan manifestasi nyata dari nilai-nilai yang diyakini dan dirasakan, yang tercermin dalam kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan kepedulian sosial (Nasution, 2. Dalam praktik pendidikan Islam, ketiga dimensi ini juga tercermin dalam kurikulum holistik yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Misalnya, pengajaran Al-QurAoan dan hadis tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku terpuji (Gunawan. Guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai murabbi, yang membimbing aspek spiritual dan emosional siswa (Sauri, 2. Integrasi antara pendekatan Lickona dan prinsip Islam ini membuka ruang dialog yang produktif antara nilai-nilai universal dan transendental. Studi oleh Arthur et al. menegaskan bahwa pendidikan karakter yang efektif harus mencakup dimensi spiritual dan religius, karena moralitas yang hanya bersandar pada rasionalitas instrumental rentan terhadap Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan basis budaya religius yang kuat, pengembangan kurikulum pendidikan karakter yang selaras dengan nilai-nilai Islam menjadi sangat relevan dan strategis (Muttaqin, 2. Lebih lanjut, tantangan globalisasi dan krisis moral di era digital semakin menuntut pendidikan karakter yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai teknis, tetapi mampu menginternalisasi kesadaran moral yang mendalam dan menggerakkan peserta didik untuk berperilaku baik secara konsisten. Oleh karena itu, pendidikan karakter berbasis nilai Islam perlu dikembangkan melalui pendekatan kontekstual, partisipatif, dan berkelanjutan. Pendidikan yang mampu menyatukan moral knowing, moral feeling, dan moral action dalam kerangka iman, ihsan, dan amal saleh akan membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan teguh secara Dengan demikian, pendidikan karakter dalam perspektif Islam dan pemikiran Lickona memberikan dasar konseptual dan operasional yang komprehensif untuk membentuk generasi yang berakhlak mulia dan mampu menghadapi tantangan moral Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia Urgensi pendidikan karakter dalam membentuk akhlak mulia semakin nyata di tengah melemahnya orientasi moral dalam kehidupan sosial modern. Akhlak bukan 459 | Vol 04 No 2 July 2025 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 sekadar kumpulan norma perilaku baik, melainkan manifestasi dari integritas batin yang dibangun melalui proses pendidikan yang menyeluruh. Dalam perspektif Islam, pembentukan akhlak tidak bisa dipisahkan dari pendidikan jiwa . arbiyat al-naf. yang terus-menerus, di mana tujuan akhirnya adalah terbentuknya insan kamilAimanusia yang utuh secara spiritual, intelektual, dan sosial (Al-Attas, 1. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus ditempatkan sebagai inti dari seluruh proses pendidikan, bukan sekadar tambahan kurikulum. Di tengah krisis identitas dan lemahnya daya tahan moral generasi muda, pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak untuk membekali mereka dengan fondasi nilai yang kuat, termasuk dalam menghadapi arus globalisasi, konsumerisme, dan relativisme moral. Karakter yang kuat dan berlandaskan nilai-nilai akhlak mulia akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam bersikap, konsisten dalam berprinsip, dan mampu menjadi agen peradaban yang bermartabat. Dalam era globalisasi yang diwarnai oleh kemajuan teknologi, penetrasi informasi digital, serta disrupsi sosial-budaya, sistem pendidikan dihadapkan pada tantangan serius berupa krisis moral yang semakin kompleks. Fenomena meningkatnya kekerasan di sekolah, perundungan . , penyalahgunaan teknologi, intoleransi, dan lunturnya empati sosial menandakan bahwa pendidikan formal belum sepenuhnya menyentuh aspek esensial dari pembentukan kepribadian dan akhlak peserta didik (Noddings, 2012. Lickona, 1. Hal ini menegaskan pentingnya pergeseran paradigma pendidikan dari sekadar transmisi pengetahuan kognitif-instrumental menuju pendidikan yang transformatif dan berbasis nilai. Paradigma pendidikan karakter berbasis Islam menawarkan kerangka filosofis dan pedagogis yang bersifat menyeluruh, integratif, dan berakar kuat pada nilai-nilai Islam tidak memisahkan pendidikan moral dari aspek spiritual, karena akhlak dalam Islam merupakan ekspresi dari kesadaran tauhidAipengakuan akan keesaan Allah dan hubungan timbal balik antara manusia dengan Tuhan, diri, dan sesama (Ramadan, 2. Pendidikan karakter dalam Islam tidak hanya menjawab pertanyaan Auapa yang baik untuk dilakukanAy, tetapi juga mendalami AumengapaAy dan Auuntuk siapaAy tindakan etis dilakukan. Di sinilah letak keunggulan pendidikan IslamAi yakni pada motivasi moral yang berbasis ketundukan kepada Allah . i wajhilla. , bukan semata pertimbangan utilitarian atau sosial. Vol 04 No 2 July 2025 | 460 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 Konsep akhlak karimah . khlak muli. sebagaimana dikembangkan oleh para ulama seperti Al-Ghazali . dan Ibnu Miskawaih . merupakan produk dari pembinaan ruhani, pembiasaan perilaku baik . iyadhoh al-naf. , dan kesadaran teologis yang mendalam. Pendidikan, dalam kerangka ini, diposisikan sebagai proses penyucian jiwa . azkiyat al-naf. dan pembentukan karakter secara berkelanjutan yang menyentuh dimensi intelektual, emosional, spiritual, dan sosial (Zarkasyi, 2. Kajian ini, meskipun bersifat teoretis, mampu menunjukkan bahwa pendidikan karakter Islam memiliki potensi sebagai kerangka alternatif dalam merespons fragmentasi nilai-nilai moral dalam sistem pendidikan modern. Pendidikan sekuler yang terlalu menekankan pada capaian akademik dan efisiensi cenderung gagal membentuk kepribadian utuh peserta didik (Davies et al. , 2. Di sisi lain, pendidikan Islam yang menekankan integrasi antara iman, ilmu, dan amal dapat menjadi model pendidikan yang berkelanjutan, adaptif terhadap tantangan zaman, dan relevan secara Model pendidikan karakter Islam juga sejalan dengan gagasan AuProfil Pelajar PancasilaAy yang dikembangkan oleh Kemendikbudristek RI . , yaitu untuk membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Pendidikan karakter berbasis Islam menjawab seluruh dimensi ini dengan pendekatan yang bukan hanya kognitif tetapi juga spiritual dan kontekstual. Sehingga, pendidikan karakter dalam Islam bukan hanya relevan secara normatif, tetapi juga mendesak secara kontekstual, untuk menjawab tantangan moral dan spiritual yang dihadapi oleh generasi muda di era disrupsi nilai. Desain kurikulum pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek pembelajaran. Penguatan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, toleransi, dan kerja keras tidak cukup diajarkan secara teoritik, tetapi harus ditanamkan melalui keteladanan, pembiasaan, dan penghayatan spiritual secara mendalam. Dalam konteks ini, guru harus berperan bukan hanya sebagai muAoallim . , tetapi juga sebagai murabbi . embina ruhan. dan uswah hasanah . eladan mora. , sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW (QS Al-Ahzab: 461 | Vol 04 No 2 July 2025 Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Akhlak Mulia: Kajian Literatur Pendidikan Islam Nur Fatimah1. Cepi Budiyanto2. Nu'man Ihsanda3. Teguh Hariyanto4. Aan Hasanah5. Bambang Syamsul Arifin6 Kesimpulan Kajian ini menegaskan bahwa pendidikan karakter dalam perspektif Islam memiliki urgensi yang tinggi dalam membentuk pribadi yang berakhlak mulia di tengah krisis moral global saat ini. Pendidikan karakter tidak hanya dimaknai sebagai penanaman nilai-nilai etis, tetapi sebagai proses integral yang menyatukan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial dalam rangka mencetak insan kamil. Pemikiran AlGhazali dan Ibnu Miskawaih menegaskan pentingnya penyucian jiwa, pengendalian nafsu, serta pembiasaan akhlak sebagai inti pendidikan. Integrasi konsep Islam dengan teori pendidikan karakter modern seperti yang dikembangkan oleh Lickona membuktikan adanya kesinambungan antara nilai-nilai universal dan ajaran transendental Islam. Selain itu, kebijakan nasional seperti Profil Pelajar Pancasila menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat berkontribusi secara signifikan dalam membentuk karakter peserta didik yang relevan dengan tantangan Studi ini memberikan kontribusi konseptual terhadap pengembangan kurikulum pendidikan akhlak yang kontekstual dan berbasis nilai-nilai keislaman. Meskipun penelitian ini bersifat literatur dan belum mencakup studi empiris, hasil kajian ini dapat menjadi fondasi penting untuk penelitian lanjutan yang lebih aplikatif dalam konteks pendidikan formal maupun nonformal. Referensi