Gambaran Motivasi Belajar pada Mahasiswa Dewasa Awal di Wilayah JABODETABEK Wijaya et al. GAMBARAN MOTIVASI BELAJAR PADA MAHASISWA DEWASA AWAL DI WILAYAH JABODETABEK Viona Febrianty Wijaya1. Jesica Febiani Simanjuntak2. Graciela Jesusia3. Debora Basaria4 Program Studi Psikologi Jenjang Sarjana. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: viona. 705220074@stu. Program Studi Psikologi Jenjang Sarjana. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: jesica. 705220367@stu. Program Studi Psikologi Jenjang Sarjana. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: graciela. 705220066@stu. Program Studi Psikologi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: deborab@fpsi. Masuk: 15-07-2025. Revisi: 06-08-2025. Diterima untuk diterbitkan: 30-09-2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat motivasi belajar, meliputi motivasi intrinsik, ekstrinsik, dan amotivasi pada mahasiswa dewasa awal dengan rentang usia 18Ae25 tahun di wilayah JABODETABEK. Mahasiswa pada tahap dewasa awal cenderung menghadapi banyak tantangan khususnya dalam perkuliahan berupa tantangan akademis seperti kesulitan belajar, manajemen waktu, beban akademik, kemudian tantangan sosial seperti membangun jaringan sosial dengan teman maupun dosen, dan tantangan untuk menyeimbangkan kehidupan antara tuntutan akademik, kehidupan sosial, dan kehidupan pribadi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menggunakan instrumen AMS (Academic Motivation Scal. sebagai kuesioner yang disebarkan pada partisipan. Penyebaran kuesioner dimulai pada tanggal 29 April 2025 hingga 15 Mei 2025. Jumlah partisipan yang terkumpul melalui pengisian kuesioner yaitu sebanyak 106 partisipan dari berbagai perguruan tinggi di JABODETABEK. Hasil menunjukkan bahwa motivasi ekstrinsik memiliki rata-rata tertinggi dengan nilai (Mean = 5. SD = 0. , motivasi intrinsik dengan nilai (Mean = 5. SD = 0. , dan motivasi yang memiliki rata-rata terendah dengan nilai (Mean = 3. SD = 1. dengan variabilitas yang cukup besar. Rentang skor menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki dorongan belajar yang tinggi terutama motivasi ekstrinsik, kemudian diikuti dengan motivasi intrinsik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di antara ketiga dimensi, mahasiswa lebih terdorong pada dimensi motivasi ekstrinsik, kemudian diikuti dengan motivasi intrinsik, dan yang terakhir yaitu Kata Kunci: Motivasi belajar. Dewasa awal. JABODETABEK ABSTRACT This study aims to describe the level of learning motivation, including intrinsic motivation, extrinsic motivation, and amotivation in early adult students aged 18Ae25 years in the JABODETABEK area. Students in the early adult stage tend to face numerous challenges, particularly in the form of academic difficulties, such as learning difficulties, time management, and academic burden. Additionally, they encounter social challenges, including building social networks with friends and lecturers, as well as balancing life between academic demands, social life, and personal This study employs a descriptive quantitative approach, using the AMS (Academic Motivation Scal. instrument as a questionnaire distributed to participants. The distribution of questionnaires began on April 29 th, 2025 to May 15th, 2025. The number of participants collected through filling out the questionnaire was 106 participants from various universities in JABODETABEK. The results show that extrinsic motivation has the highest average with a value of (Mean = 5. SD = 0. , intrinsic motivation with a value of (Mean = 5. SD = 0. , and amotivation has the lowest average with a value of (Mean = 3. SD = 1. with quite large variability. The range of scores shows that most students have a high learning drive, especially extrinsic motivation, followed by intrinsic motivation. The results of the study show that among the three dimensions, students are more driven by the extrinsic motivation dimension, followed by intrinsic motivation, and lastly amotivation. Keywords: Learning motivation. Early adulthood. JABODETABEK phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 3, 10-17 E-ISSN: 3032-7202 Motivasi belajar berperan sebagai faktor yang penting dalam mendukung mahasiswa pada dewasa awal untuk dapat mengatasi kesulitan dalam eksplorasi identitas. Motivasi belajar adalah rangsangan dari dalam maupun luar yang mendorong seseorang untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar dan mempertahankan usaha agar tujuan akademis tercapai (Schunk et al. , 2. Vallerand et al. menyatakan bahwa motivasi belajar terbagi menjadi tiga jenis, yaitu motivasi intrinsik, ekstrinsik, dan Motivasi intrinsik muncul dari dorongan untuk belajar akibat minat dan kepuasan diri, sedangkan motivasi ekstrinsik dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti harapan sosial dan penghargaan. Amotivation merupakan keadaan dimana seseorang tidak memiliki alasan yang jelas untuk melakukan Maka dari itu, motivasi belajar merupakan faktor penting yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa, karena tanpa adanya motivasi belajar, pencapaian akademik maupun eksplorasi identitas akan Mahasiswa merupakan individu yang sedang menjalani pendidikan di tingkat perguruan tinggi, baik di institusi negeri, swasta, maupun lembaga lain yang setara dengan universitas (Siswoyo, dalam Oktaviani et , 2. Mahasiswa yang berada dalam rentang usia 18 sampai 25 tahun tergolong dalam fase perkembangan yang disebut dewasa awal atau early adulthood. Menurut Arnett . , dewasa awal adalah fase peralihan antara masa remaja dan dewasa sejati yang memiliki karakteristik unik. Pada fase ini, individu sedang ada pada tahap eksplorasi identitas, dimana mereka mulai mencari dan menentukan siapa diri mereka serta apa target hidup yang ingin dicapai. Selain itu, tahap dewasa awal juga ditandai oleh ketidakpastian dalam berbagai aspek kehidupan seperti karier, interaksi sosial, dan tempat belajar. Mahasiswa pada fase ini sering kali merasakan posisi antara masa remaja dan dewasa, sehingga masih dalam tahap belajar untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab sepenuhnya atas diri mereka sendiri. Mereka sangat memusatkan perhatian pada diri sendiri dan masa depan, disertai dengan rasa optimis serta berbagai peluang yang bisa diwujudkan. Dalam konteks mahasiswa dewasa awal di wilayah JABODETABEK, motivasi belajar menjadi aspek yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan akademik dan pembentukan kesiapan karier. Mahasiswa yang berada pada tahap perkembangan dewasa awal . isaran usia 18Ae25 tahu. berada dalam masa transisi penting, di mana mereka dituntut untuk mulai mengambil keputusan besar dalam hidup, seperti menyelesaikan pendidikan tinggi, memasuki dunia kerja, hingga membentuk kemandirian finansial dan emosional. Kehidupan perkotaan seperti di JABODETABEK memberikan tantangan tambahan yang kompleks, seperti tekanan ekonomi, kebutuhan untuk bekerja sambil kuliah, mobilitas tinggi, waktu belajar yang terbatas, serta distraksi dari media sosial dan teknologi digital yang berlebihan. Berbagai tekanan tersebut berpotensi mempengaruhi kualitas motivasi belajar mahasiswa. Motivasi belajar yang rendah dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik, menurunnya keterlibatan dalam kegiatan akademik maupun non-akademik, serta pengembangan diri menjadi terhambat. Sebaliknya, motivasi yang tinggi dapat menjadi pendorong utama dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut (Reeve, dalam Afdhal et al. , 2. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana kondisi motivasi belajar mahasiswa dewasa awal di wilayah JABODETABEK, agar dapat mengidentifikasi bentuk dukungan dan strategi pembelajaran yang paling tepat dan kontekstual. Berdasarkan urgensi tersebut, kami melakukan penelitian ini untuk memperoleh gambaran faktual mengenai tingkat dan karakteristik motivasi belajar mahasiswa dewasa awal, khususnya di wilayah JABODETABEK, yang memiliki tantangan sosial dan akademik yang khas. Berdasarkan penelitian dari Nafeesa dan Siregar . yang meneliti mengenai pengaruh motivasi belajar mahasiswa psikologi terhadap prestasi belajar mata kuliah Metodologi Riset Eksperimen . etodologi penelitia. , hasil pengujian koefisien korelasi . dari motivasi belajar dengan prestasi belajar metodologi penelitian yaitu sebesar 0. 693>0. 491 yang berarti terdapat hubungan signifikan. Selain pengujian koefisien korelasi . , dilakukan juga pengujian koefisien determinasi dengan rumus KP=r 2 x 100% dan hasil yang didapatkan yaitu kontribusi dari motivasi belajar terhadap prestasi belajar metodologi Gambaran Motivasi Belajar pada Mahasiswa Dewasa Awal di Wilayah JABODETABEK Wijaya et al. penelitian sebesar 48. 1%, sedangkan 5. ,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diketahui. Untuk tingkat motivasi belajar mahasiswa dalam penelitian tersebut sebanyak 26 mahasiswa psikologi semester enam angkatan 2017 di Universitas Medan, hasil pengujian deskriptif pada data motivasi belajar menunjukkan rata-rata sebesar 87. 46 dengan nilai terendah yaitu 72 dan tertinggi yaitu 99, hal ini berarti motivasi belajar mahasiswa di Universitas Medan tergolong tinggi. Penelitian dari Manurung . meneliti sebanyak 150 mahasiswa dari lima program studi yang berbeda, yaitu S1 Akuntansi. S1 Manajemen. D3 Akuntansi. D3 Manajemen Pemasaran, dan D3 Keuangan dan Perbankan di STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonom. Kesatuan Bogor. Hasil penelitian motivasi belajar 150 mahasiswa menunjukkan bahwa motivasi belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi akademik, sehingga motivasi belajar sangat penting untuk dimiliki setiap mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar pada mahasiswa dewasa awal di wilayah JABODETABEK supaya dapat meningkatkan maupun mencegah terjadinya penurunan motivasi belajar pada mahasiswa. Dari hasil penelitian Nafeesa dan Siregar . , segi tingkat motivasi belajar pada mahasiswa sudah terjelaskan, yaitu pada mahasiswa khususnya semester enam angkatan 2017 tergolong tinggi. Selain itu, kontribusi dari motivasi belajar terhadap prestasi belajar metodologi penelitian hanya sebesar 48. 1%, lebih kecil dari persentase dipengaruhi oleh faktor lain . 9%). Sementara itu, terdapat beberapa hal yang masih belum terjelaskan dalam penelitian tersebut, seperti kesenjangan antara karakteristik partisipan penelitian dengan fenomena yang ada saat ini. Dalam penelitian tersebut, karakteristik partisipan penelitian hanya terfokus pada mahasiswa satu angkatan saja, yaitu angkatan 2017 dan hanya terfokus pada satu instansi saja, yaitu Universitas Medan. Hal ini menjadi inspirasi untuk meneliti tingkat motivasi belajar dalam cakupan yang jauh lebih luas supaya pembaca dapat mengetahui bagaimana tingkat motivasi belajar pada mahasiswa dewasa awal sekarang ini di seluruh wilayah JABODETABEK serta mengetahui seberapa pentingnya motivasi belajar dan dapat mengembangkan strategi untuk meningkatkan motivasi belajar. Selain dari segi jumlah partisipan, sangatlah penting juga untuk mengetahui tingkat motivasi belajar mahasiswa berdasarkan wilayah. Penelitian dari Manurung . meneliti bahwa mahasiswa yang berada di Bogor menunjukkan hasil motivasi belajar yang berpengaruh positif dan signifikan pada prestasi belajar. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar sangatlah penting dan memiliki efek yang cukup besar untuk mempengaruhi akademis maupun non-akademis mahasiswa. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar pada mahasiswa dewasa awal di wilayah JABODETABEK supaya dapat mengetahui dimensi motivasi belajar yang cenderung dominan serta jika salah satu dimensi motivasi belajar rendah, dapat mencari cara untuk menyeimbangkan dimensi motivasi belajar satu dengan yang Penelitian ini diharapkan dapat membantu mengembangkan penelitian teoritis tentang psikologi pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan motivasi belajar pada siswa dewasa awal. Dengan melakukan penelitian ini, kita dapat memperkuat dan memperkaya teori-teori yang sudah ada tentang motivasi belajar, seperti teori kemandirian (Deci & Ryan, 1. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah literatur kontekstual di Indonesia, khususnya dengan membahas kondisi mahasiswa di wilayah perkotaan padat seperti JABODETABEK yang memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang Oleh karena itu, temuan penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang elemen tertentu dari motivasi belajar, baik dari sumber internal maupun eksternal. Hasil-hasil ini juga dapat digunakan sebagai referensi untuk membangun intervensi pendidikan yang lebih sesuai dengan karakteristik siswa dewasa awal. Dari segi praktis, diharapkan bahwa berbagai pihak terkait akan mendapatkan manfaat langsung dari penelitian ini. Hasil penelitian ini dapat membantu guru memahami motivasi belajar siswa dewasa awal. Ini dapat digunakan sebagai dasar untuk membuat strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran dan meningkatkan keterlibatan siswa. Penelitian ini dapat digunakan oleh institusi pendidikan tinggi untuk phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 3, 10-17 E-ISSN: 3032-7202 mengevaluasi dan mengembangkan layanan bimbingan akademik, konseling, pelatihan pengembangan diri, dan kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk meningkatkan keinginan siswa untuk belajar. Penelitian ini dapat membantu siswa memahami situasi internal dan eksternal yang mempengaruhi keinginan mereka untuk belajar. Ini juga dapat mendorong mereka untuk mengembangkan metode belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Penelitian ini juga dapat membantu pengambil kebijakan pendidikan membuat kebijakan atau program pendidikan tinggi yang lebih sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dewasa awal, terutama di daerah metropolitan seperti JABODETABEK. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai motivasi belajar mahasiswa dewasa awal di wilayah JABODETABEK. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menggambarkan fenomena secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai karakteristik populasi yang diteliti (Sugiyono, 2. Penelitian ini bersifat non-experimental yang mengamati dan mengukur variabel . otivasi belaja. sebagaimana adanya. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif, dengan teknik persentase, rerata . , dan standar deviasi. Analisis dilakukan untuk mengetahui gambaran umum tingkat motivasi belajar mahasiswa dewasa awal pada masing-masing dimensi. Proses analisis dibantu menggunakan perangkat lunak IBM SPSS versi 25. Partisipan Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa berusia dewasa awal . Ae25 tahu. yang sedang menempuh jenjang perkuliahan di wilayah JABODETABEK. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 106 mahasiswa, yang dianggap cukup mewakili populasi untuk keperluan analisis deskriptif. Teknik mengumpulkan data yaitu dengan cara penyebaran kuesioner melalui google form yang disebarluaskan melalui media sosial dan grup mahasiswa perguruan tinggi di wilayah JABODETABEK. Teknik ini dipilih karena mempertimbangkan efisiensi waktu dan kemudahan akses bagi responden di wilayah perkotaan. Pengukuran Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah AMS (Academic Motivation Scal. dengan 28 butir pernyataan dan mengukur 3 dimensi. Dimensi yang diukur adalah motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, dan amotivasi. Ketiga dimensi tersebut dipecah menjadi tujuh sub-dimensi, yaitu intrinsic motivation - to know, intrinsic motivation - toward accomplishment, intrinsic motivation - to experience stimulation, extrinsic motivation - identified, extrinsic motivation - introjected, extrinsic motivation - external regulation, dan amotivation. AMS menggunakan skala likert 1-7, yaitu 1 dengan keterangan Autidak sesuai sama sekaliAy dan 7 Ausangat sesuaiAy. Alat ukur AMS (Academic Motivation Scal. ini dirancang pada tahun 1992 oleh Vallerand et. , dan telah digunakan secara luas dalam penelitian-penelitian terbaru mengenai motivasi belajar mahasiswa (Vallerand, et al. , 2015. Hafizh & Wibowo, 2. Instrumen tersebut telah diadaptasi dari versi original menjadi versi mahasiswa. Setiap dimensi pada AMS memiliki nilai reliabilitas masing-masing. Tabel satu menunjukkan nilai reliabilitas berkisar 0. 73 hingga 0. Nilai tersebut tergolong memuaskan karena melebihi nilai minimal yang harus diperoleh, yaitu 0. 73 (Azwar, 2015, 2017, dalam Marvianto & Widhiarso, 2. Dengan demikian dapat dikatakan seluruh dimensi AMS memiliki nilai yang memuaskan. Gambaran Motivasi Belajar pada Mahasiswa Dewasa Awal di Wilayah JABODETABEK Wijaya et al. Tabel 1. Reliabilitas Seluruh Dimensi AMS Dimensi CronbachAos Intrinsic Motivation to Know Intrinsic Motivation toward Accomplish things Intrinsic Motivation to Experience Stimulation Identified Regulation Introjected Regulation External Regulation Amotivation Sumber tabel: Marvianto. , & Widhiarso. Adaptasi academic motivation scale (AMS) versi bahasa indonesia. Gadjah Mada Journal of Psychology, 4. , 87-95. https://jurnal. id/gamajop/article/download/45785/24479 Prosedur Saat pengambilan data, terdapat langkah-langkah yang dilakukan. Pertama, cari terlebih dahulu alat ukur yang sesuai dengan tema penelitian. Setelah sudah menentukan alat ukur untuk pengambilan data, selanjutnya adalah merancang google form sesuai dengan tujuan penelitian seperti mengisi judul, membuat kolom jawaban untuk informasi data diri seperti nama, usia, angkatan, dan lain sebagainya. Setelah sudah selesai di bagian informasi data diri, selanjutnya adalah menyertakan informed consent serta menuliskan tata cara dalam pengisian kuesioner. Jenis kuesioner pengambilan data berupa penelitian, sehingga terdapat skala likert yang dijelaskan makna dari setiap poin skala likert, misalkan 1 = Autidak sesuai sama sekaliAy, 7 = Ausangat sesuaiAy. Setelah sudah selesai menjelaskan skala likert, langkah berikutnya yaitu menginput butir-butir dari alat ukur yang digunakan sesuai dengan banyaknya butir. Penulisan butir menggunakan jenis pertanyaan description dengan pencantuman skala likert pada setiap butir menggunakan jenis pertanyaan linear scale sehingga responden hanya dapat mengisi salah satu pilihan angka saja. Setelah sudah selesai menginput butir, google form yang sudah dirancang dapat disebarkan pada responden sesuai dengan kebutuhan penelitian, bisa melalui sosial media seperti Instagram. WhatsApp, dan platform media sosial lainnya. Penyebaran kuesioner dimulai dari tanggal 29 April 2025 hingga 15 Mei 2025 secara online melalui penyebaran google form di berbagai platform sosial media. phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 3, 10-17 E-ISSN: 3032-7202 HASIL Tabel 2. Hasil Deskriptif Statistik Setiap Dimensi Minimum Maksimum Mean Std. Deviation Intrinsik Ekstrinsik Amotivasi Berdasarkan data yang diperoleh dari 106 responden, diketahui bahwa skor rata-rata pada dimensi motivasi intrinsik memiliki skor rata-rata sebesar 5,76 dengan standar deviasi 0,69. Selanjutnya, motivasi ekstrinsik adalah sebesar 5,89 dengan standar deviasi sebesar 0,61, sedangkan amotivasi menunjukkan rata-rata skor sebesar 3,05 dengan standar deviasi sebesar 1,77. Untuk menentukan apakah suatu dimensi motivasi berada pada kategori tinggi, sedang, atau rendah, digunakan nilai rata-rata dari masing-masing dimensi berdasarkan hasil pengisian instrumen Academic Motivation Scale (AMS). Skala yang digunakan dalam AMS adalah skala likert satu sampai tujuh, sehingga nilai tengah atau titik netral berada pada angka 4,00. Berdasarkan hal tersebut, kategori tingkat motivasi dibagi sebagai berikut: Tabel 3. Kategori Tingkat Motivasi Skor > 4,00 = 4,00 < 4,00 Keterangan Dikategorikan sebagai tinggi, yang menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki motivasi belajar yang kuat pada dimensi tersebut. Dikategorikan sebagai sedang, yang menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki motivasi belajar yang sedang atau biasa saja pada dimensi tersebut. Dikategorikan sebagai rendah, yang menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa cenderung lemah atau belum optimal pada dimensi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dewasa awal di wilayah JABODETABEK memiliki tingkat motivasi belajar yang tinggi, baik dimensi motivasi ekstrinsik maupun intrinsik. Hal ini membuktikan bahwa mayoritas mahasiswa dewasa awal terdorong untuk belajar dengan baik karena adanya pengaruh dari faktor luar seperti tuntutan sosial, penghargaan, atau harapan keluarga. Selain karena adanya faktor dari luar, mahasiswa juga terdorong untuk belajar dengan baik karena adanya faktor dari dalam diri seperti minat dan rasa ingin tahu yang tinggi. DISKUSI Hasil menunjukkan bahwa skor rata-rata pada dimensi motivasi ekstrinsik adalah 5. 89 yang berarti sebagian besar mahasiswa terdorong untuk belajar karena adanya faktor dari luar seperti tuntutan sosial, penghargaan, atau harapan keluarga. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Novianti dan Widjaja . yang menggunakan pendekatan kualitatif menyatakan bahwa faktor eksternal seperti cita-cita, menjaga harga diri, dan sebagainya di lingkungan seperti JABODETABEK dapat meningkatkan motivasi Gambaran Motivasi Belajar pada Mahasiswa Dewasa Awal di Wilayah JABODETABEK Wijaya et al. Sementara itu, skor rata-rata pada dimensi motivasi intrinsik adalah 5. 76, yang juga berada pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa juga memiliki dorongan internal untuk belajar, seperti karena rasa ingin tahu, keinginan untuk memahami sesuatu, atau karena proses belajar itu sendiri memberikan kepuasan pribadi. Hasil ini memperkuat teori dari Santrock . yang menyatakan bahwa pada masa dewasa awal, individu mulai mengembangkan identitas dan tujuan pribadi yang mendorong mereka untuk belajar secara mandiri dan berorientasi pada pencapaian diri. Adapun hasil penelitian oleh Anjani et . yang menyatakan bahwa tekanan sosial khususnya penyesuain diri di lingkungan seperti JABODETABEK dapat meningkatkan motivasi belajar. Sebaliknya, amotivasi memperoleh skor rata-rata sebesar 3. 05, yang termasuk dalam kategori sedang menuju rendah. Ini berarti bahwa sebagian kecil mahasiswa mengalami kondisi kurangnya motivasi dalam belajar atau merasa tidak memiliki alasan yang jelas dalam mengikuti proses pendidikan. Meskipun skor ini relatif rendah dibanding dua dimensi lainnya, namun nilai standar deviasi yang tinggi . menunjukkan bahwa terdapat variasi besar dalam tingkat amotivasi antar mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa ada sebagian mahasiswa yang perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama dalam hal pendampingan akademik dan psikososial. Temuan ini didukung oleh Hafizh dan Wibowo . yang menyatakan bahwa mahasiswa yang mengalami stres, kelelahan, atau kebingungan terhadap tujuan belajarnya cenderung memiliki tingkat amotivasi yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil deskriptif statistik pada tabel 2, hasil menunjukkan bahwa mahasiswa dewasa awal di wilayah JABODETABEK memiliki motivasi belajar yang tinggi, terutama motivasi ekstrinsik. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa dewasa awal di wilayah JABODETABEK sebagian besar memiliki dorongan yang kuat untuk belajar karena pengaruh faktor eksternal seperti ingin mendapatkan nilai yang bagus supaya orang lain memberikan pujian. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap mahasiswa dewasa awal di wilayah JABODETABEK dengan menggunakan instrumen Academic Motivation Scale (AMS), dapat disimpulkan bahwa secara umum mahasiswa dewasa awal berada pada tingkat motivasi belajar yang tinggi. Dari ketiga dimensi motivasi belajar, dapat dilihat bahwa motivasi ekstrinsik dan intrinsik memiliki rata-rata skor di 00 yang berarti mahasiswa mempunyai dorongan belajar yang kuat baik dalam diri sendiri maupun dari faktor luar diri. REFERENSI