Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal P-ISSN 2656-274X E-ISSN 2716-4691 PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN PROFESIONALITAS GURU PENDIDIKAN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA Yusfi (yusfi@laaroiba.ac.id) Imam Tholkhah (imamtholkhah@laroiba.ac.id) Program Studi Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana IAIN Laa Roiba ABSTRACT This study aims to determine the effect of curriculum competence and motivation on student achievement in the Faculty of Islamic Studies. The form of survey research is quantitative, that is research conducted to look for the effect of curriculum, lecturer competence and motivation on student achievement in the Islamic Faculty of Tarbiyah Department of Islamic Studies Laa Roiba, Bogor Regency. The research method used in this study is a survey method. This research is correlational because the research seeks to investigate the relationship between several research variables namely competence, curriculum and motivation variables on learning achievement. This correlation study will use correlation and regression analysis. In this study there are three independent variables, namely competence (X1), Curriculum (X2), and motivation (X3) to the dependent variable namely learning achievement (Y). The three independent variables (X1, X2, and X3) are related to the dependent variable (Y). The results showed that there was a positive influence between lecturer competence (X1) on learning achievement (Y). This is indicated by the correlation coefficient of 0.921 with the significance of the correlation coefficient of tcount of 3.967 and the significance of the regression coefficient of Fcount of 51.930 which is very significant at α = 0.05. for the curriculum (X2) of learning achievement (Y). There is a positive influence. This is indicated by the correlation coefficient of 0.914 with the significance of the correlation coefficient of tcount of 8,547 and the significance of the regression coefficient of Fcount of 51,930 which is very significant at α = 0.05, and for motivation (X3) for achievement of learning outcomes (Y). This is indicated by the correlation coefficient of 0.940 with the significance of the correlation coefficient of tcount of 3.189 and the significance of the regression coefficient of Fcount of 51.930 which is very significant at α = 0.05, while the results of the analysis of lecturer competencies (X1), curriculum (X2), and motivation (X3) are together on the achievement of learning outcomes (Y) has a significant multiple correlation coefficient with a value of 0.858 with the significance of the multiple regression coefficient Fcount 51.930. In this study shows the importance of lecturer competency, curriculum and motivation variables in an effort to improve student learning outcomes and it can be concluded that as an educator must have competence, understand the curriculum and provide motivation to students, student achievement will increase and vice versa if as an educator do not have good competence, do not understand the curriculum and lack of motivation to students, learning achievement will decrease. Keywords: Effect of Competence, Curriculum and Motivation on Learning Achievement ‫الملخص‬ ‫( تهدف هذه الورقة إلى الكشف عن تأثير قيادة المدير‬x) ‫( وكفاءة المعلم‬x) ‫( على نتائج تعلم الطالب‬Y). ‫طريقة البحث المستخدمة هي‬ ‫ أظهرت نتائج تجربة أداة البحث أن‬.‫ طالب‬76 ‫ تكونت عينة البحث من‬.‫ يستخدم أسلوب أخذ العينات أخذ عينات عشوائية‬.‫طريقة االنحدار‬ ‫ موثوقية نتائج األداة أظهرت النتائج أن قيادة المدير واحترافية معلمي‬PAI ‫ مع نتائج‬، ‫معًا كان لها تأثير كبير على نتائج تعلم الطالب‬ ، ٪ 5 ‫االنحدار عند مستوى داللة قدره‬Fcount ‫ أكبر من‬Ftable (21،468> 3،195) ‫ لمعادلة‬.0.05< 0،000 ‫بقيمة داللة‬ ‫ االنحدار للقيادة الرئيسية ومهنية مدرس‬PAI ‫ تجاه نتائج تعلم الطالب‬Y = 36،973 + 0،188X1 + 0،284X2. ‫التأثير الكبير لقيادة‬ ‫ مديري المدارس ومهنية مدرس‬PAI ‫ مما يشير إلى أن نتائج تعلم الطالب تتأثر‬، ٪ 47.70 ‫ أو‬0.477 ‫على نتائج تعلم الطالب يساوي‬ 1 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal ‫ بقيادة مديري المدارس ومهنية مدرس‬PAI ‫ يتأثر المتغيرات األخرى التي لم تدرس في‬٪ 52.30 ‫ في حين أن الباقي‬، ٪ 47.70 ‫بنسبة‬ ‫ تعطي البيانات معنى أن كل من المدير والمعلم قادران على أداء واجباتهما ووظائفهما على النحو األمثل‬.‫هذه الدراسة‬. ‫ مخرجات تعلم الطالب‬، ‫ احتراف المعلم‬، ‫ القيادة الرئيسية‬:‫الكلمات المفتاحية‬. ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap pengaruh kepemimpinan Kepala Sekolah (x) dan Profesionalitas Guru (x) terhadap hasil belajar Siswa (Y). Metode penelitian yang digunakan adalah metode regresi. Tehnik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Sampel penelitian berjumlah 76 siswa. Hasil ujicoba instrumen penelitian menunjukkan bahwa reliabilitas instrumen hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru PAI secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa, dengan hasil regresi pada taraf signifikansi 5%, Fhitung lebih besar dari Ftabel (21,468 > 3,195) dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Untuk persamaan regresi kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru PAI terhadap hasil belajar siswa yaitu Y = 36,973 + 0,188X1 + 0,284X2. Adapun besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru PAI secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa yaitu sebesar 0,477 atau 47,70%, yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru PAI sebesar 47,70%, sedangkan sisanya 52,30% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Data tersebut memberi makna bahwa baik kepala sekolah maupun guru mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal. Kata Kunci: Kepemimpinan Kepala Sekolah, Profesionalitas Guru, Hasil Belajar Siswa. A. PENDAHULUAN Di antara aspek penting untuk menghasilkan siswa yang bermutu adalah kepemimpinan kepala sekolah bermutu, dan guru yang profesional. Kepemimpinan kepala sekolah bermutu adalah kepala sekolah yang mampu mengelola dan mengembangkan sekolah, oleh karenanya kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran penting dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan sekolah. Ketercapaian tujuan sekolah tergantung dari kualitas kepemimpinan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan. Oleh karena itu, Lipham (E. Mulyasa, 2012 : 6) mengemukakan bahwa the quality of the principal’s leadership is crucial to the success of the school. Pengertian kepemimpinan menurut Overton (Syafarudin, 2010 : 47) yang ditulis kembali oleh Syafarudin dalam bukunya, “leadership is the ability to get done with and through other while gaining their confidence and cooperation”. Dapat dipahami dari pendapat ini bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk memperoleh tindakan dengan dan melalui orang lain dengan kepercayaan dan kerjasama. Orang yang menjalankan proses kepemimpinan disebut pemimpin (leader) dan orang yang dipimpin disebut anggota atau pengikut (folowers). Berbagai perubahan masyarakat dan krisis multidimensi yang telah lama melanda Indonesia menyebabkan sulitnya menemukan sosok pemimpin ideal yang memiliki komitmen tinggi terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Dalam berbagai kehidupan banyak ditemui pemimpin-pemimpin yang sebenarnya kurang layak mengemban amanah 2 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal kepemimpinannya. Demikian halnya dalam pendidikan, tidak sedikit pemimpin-pemimpin pendidikan amatiran yang tidak memiliki visi dan misi yang jelas tentang lembaga pendidikan atau sekolah yang dipimpinnya. Kondisi seperti ini telah mengakibatkan buruknya iklim dan budaya sekolah, bahkan telah menimbulkan banyak konflik negatif dan stress para bawahan yang dipimpinnya..( E. Mulyasa, 2012: 17.) Mulyasa (2012: 19) juga mengatakan dalam bukunya, Greenfield berpendapat bahwa indikator kepala sekolah efektif secara umum dapat diamati dari tiga hal pokok, yaitu : (1) komitmen terhadap visi sekolah dalam menjalankan tugas dan fungsinya, (2) menjadikan visi sekolah sebagai pedoman dalam mengelola dan memimpin sekolah, dan (3) senantiasa memfokuskan kegiatannya terhadap pembelajaran dan kinerja guru di kelas. Dalam bukunya Syafarudin (2010: 18) menjelaskan bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah cara atau usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan guru, staf, siswa, orang tua siswa dan pihak lain yang terkait untuk bekerja atau berperan serta guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Syafarudin, 2010: 88). Demikian juga, Mulyasa (2012 : 5) dalam bukunya menjelaskan bahwa berhasil tidaknya suatu sekolah dalam mencapai tujuan serta mewujudkan visi dan misinya terletak pada bagaimana manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah, khususnya dalam menggerakkan dan memberdayakan berbagai komponen sekolah. Dalam prosesnya, interaksi berkualitas yang dinamis antara kepala sekolah, guru, tenaga administrasi dan peserta didik memainkan peran sangat penting, terutama dalam penyesuaian berbagai aktivitas sekolah dengan tuntunan globalisasi, perubahan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan situasi, kondisi dan lingkungannya. Kesemuanya itu sangat menuntut kompetensi dan profesionalitas kepala sekolah, untuk memungkinkan terciptanya interaksi berkualitas yang dinamis. Selain kepemimpinan kepala sekolah, faktor yang paling penting dalam menentukan hasil belajar siswa adalah profesionalitas guru. Dalam hal ini, Asep Herdi (Asep Herdi dan H. Anang M. Syarif, th ..........3) menjelaskan bahwa salah satu komponen yang mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan adalah peranan pendidik atau guru. Guru dipandang sebagai kunci bagi keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. Tugasnya antara lain : membimbing, mengajar dan melatih siswa. guru yang berperan sebagai pendidik dan pengajar terlibat langsung dalam pencapaian keberhasilan pendidikan. Sebagai pendidik, guru harus menjadi suri teladan yang baik (uswatun hasanah) serta berkewajiban membina dan mengembangkan kepribadian siswa, shingga memahami nilai-nilai kehidupan (transfer of value) dan memberi bekal berupa ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam kegiatan proses belajar mengajar (transfer of knowledge). Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) pasal 28, dikemukakan bahwa: “Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Selanjutnya dalam penjelasannya dikemukakan bahwa: “yang dimaksud dengan pendidik sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik”. (E. Mulyasa, 2009: 53) Guru adalah seseorang yang memiliki tugas sebagai fasilitator agar siswa dapat belajar dan atau mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal, melalui lembaga pendidikan sekolah, baik yang didirikan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat atau swasta. Dengan demikian dalam pandangan umum, guru tidak hanya dikenal secara 3 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal formal sebagai pendidik, pengajar, pelatih dan pembimbing tetapi juga sebagai agen sosial yang diminta oleh masyarakat untuk memberikan bantuan kepada warga masyarakat yang akan dan sedang berada di bangku sekolah, seperti yang dikatakan oleh James M. Cooper yang dikutip kembali oleh Suparlan, (2006 :10.) dalam bukunya, social agent hired by society to help faciliate members of society who attend schools. Mutu pendidikan amat ditentukan oleh mutu gurunya. Abdul Malik Fadjar dalam Suparlan ( 2006, 91.) menyatakan dengan tegas bahwa “guru yang utama”. Belajar bisa dilakukan di mana saja, tetapi guru tidak dapat digantikan oleh siapa atau alat apa pun juga. Untuk membangun pendidikan yang bermutu, yang paling penting bukan membangun gedung sekolah atau sarana dan prasarana, melainkan harus dengan upaya peningkatan proses pengajaran dan pembelajaran yang berkualitas, yakni proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikan dan mencerdaskan. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru yang bermutu dan profesional. Asep Herdi dan Anang M. Syarif (22-23) menjelaskan bahwa guru memiliki peranan penting dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, keberhasilan siswa dalam belajar juga dipengaruhi oleh keberadaan guru. Salah satu peranan penting yang dimiliki seorang guru adalah sebagai motivator. Bagi siswa sebagai individu yang pada umumnya tahu apa yang diinginkan, ia sudah memiliki cita-cita dan menemukan apa yang diminati. Hal tersebut yang menimbulkan motivasi dalam dirinya untuk belajar. Moh. Uzer Usman (Moh. Uzer Usman, 2006: 9) mengatakan bahwa proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan mampu mengelola kelasnya, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. Peranan dan kompetensi dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal sebagimana yang dikemukakan oleh Adams dan Decey dalam Basic Principles of Students Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana, supervisor dan konselor. E. Mulyasa (2012 : 10) juga berpendapat bahwa salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah masih rendahnya tingkat profesionalisme guru. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya profesionalisme guru antara lain disebabkan oleh: (1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh. Hal ini disebabkan oleh sebagian guru yang bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan diri, baik membaca, menulis apalagi membuka internet; (2) kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta yang mencetak guru asal jadi atau setengah jadi, tanpa memperhitungkan outputnya kelak di lapangan, sehingga menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesinya; (3) kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi. Guru profesional tidak hanya dituntut untuk menguasai bidang ilmu, bahan ajar, metode pembelajaran, memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakikat manusia dan masyarakat. Hakikat-hakikat ini akan melandasi pola pikir dan budaya kerja guru, serta loyalitasnya terhadap profesi pendidikan. Dalam pembelajaran, guru seyogyanya mampu mengembangkan budaya dan iklim organisasi pembelajaran yang bermakna, kreatif dan dinamis, bergairah, dan dialogis, sehingga menyenangkan bagi peserta didik maupun guru (E. Mulyasa, 2012: 11) Menurut Suparlan (2010 : 76 – 78) ada lima syarat guru sebagai profesi, diantaranya: 4 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal 1. Memiliki fungsi dan signifikasi sosial sebagai ladang pengabdian guru kepada masyarakat 2. Menuntut adanya keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan 3. Didukung oleh suatu disiplin ilmu 4. Memiliki organisasi profesi dan kode etik bagi anggotanya dalam berperilaku disertai dengan sanksi tertentu 5. Berhak untuk memperoleh imbalan finansial atau materiil. Menurut Syaiful Bahi Djamarah (Hamdani, 2011: 138.) pengertian hasil belajar yang dikutip kembali oleh Hamdani dalam bukunya, bahwa hasil belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap siswa yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi hasil belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Menurut Suyono dan Hariyanto, (Suyono dan Hariyanto, 2013 :127.) hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebagai hasil interaksi dengan dunia fisik dan lingkungannya. Hasil belajar seseorang tergantung kepada apa yang telah diketahui pembelajaran konsep-konsep, tujuan dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalitas Guru Terhadap Hasil Belajar Siswa di SMA. Penelitian ini akan lebih ditekankan pada kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa, yang pada hakikatnya merupakan salah satu kunci keberhasilan proses pelaksanaan atau peningkatan mutu pendidikan. Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimana pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa. (2) Bagaimana pengaruh profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam terhadap hasil belajar siswa (3) Bagaimana pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa. Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1)Untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa .(2) Untuk mengetahui pengaruh profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam terhadap hasil belajar siswa; (3) Untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam terhadap hasil belajar siswa. Berikut di bawah ini, beberapa kajian-kajian penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian penulis, yaitu: Tesis Endah Listyasari (2012), dengan judul “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kinerja Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa di SMA Negeri Se-kota tasikmalaya”. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa diperoleh hasil korelasi (r) sebesar 0,847 > rtabel 0,2072, dengan n = 90, maka terdapat pengaruh yang positif kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa. Nilai determinasi (r 2) sebesar 0,717 atau 71,70%, yang berarti prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah sebesar 71,70% dan sisanya sebesar 28.30% dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti. 5 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Pengaruh kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa diperoleh hasil korelasi (r) sebesar 0,835 > rtabel 0,2072 dengan n = 90, maka terdapat pengaruh yang positif kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Nilai determinasi (r2) sebesar 0,697 atau 69,70% yang berarti prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kinerja guru sebesar 69,70% dan sisanya sebesar 30,30% dipengaruhi faktor lain. Pengaruh kepemimipinan kepala sekolah dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa diperoleh hasil korelasi (r) sebesar 0,908, nilai koefisien determinan (r 2) adalah sebesar 0,824 atau 82,40 % yang berarti prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru yaitu sebesar 82,40% dan sisanya sebesar 17,60% dipengaruhi faktor lain. Nilai Fhitung 199.197 > Ftabel 1,90 dengan tingkat signifikan 0,000 < 0,005, maka terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa. La Siteni (2016), dengan judul “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kinerja Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa”. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa diperoleh hasil korelasi (r) sebesar 0,630 > rtabel 0,4555 dengan n = 19, maka terdapat pengaruh yang positif kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa. Nilai determinasi (r2) sebesar 0,460 atau 46,0 %, yang berarti prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah sebesar 46,0 % dan sisanya sebesar 54.0 % dipengaruhi faktor-faktor lain yang tidak diteliti. Pengaruh kinerja mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa diperoleh hasil korelasi (r) sebesar 0,730 > rtabel 0,4555 dengan n = 19, maka terdapat pengaruh yang positif kinerja mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa. Nilai determinasi (r2) sebesar 0,530 atau 53,0%, yang berarti prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kinerja guru sebesar 53,0% dan sisanya sebesar 47,0% dipengaruhi faktor-faktor lain. Pengaruh kepemimipinan kepala sekolah dan kinerja mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa diperoleh hasil korelasi (r) sebesar 0,82, nilai koefisien determinan (r2) adalah sebesar 0,670 atau 67,0% yang berarti prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru yaitu sebesar 67,0% dan sisanya sebesar 33,0% dipengaruhi faktor-faktor lain. Nilai thitung 16.20 > ttabel 3,63 untuk n = 19. Dengan demikian terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja mengajar guru secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa. Ahmad Yunun (2014), dengan judul “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Prestasi Belajar Siswa Melalui Profesionalitas Guru SD Negeri Di Sibolga Selatan”. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap prestasi belajar siswa diperoleh hasil korelasi (r) sebesar 0,764 dan nilai determinasi (r2) sebesar 0,557 atau 55,70%, yang berarti prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah sebesar 55,70% dan sisanya sebesar 44.30% dipengaruhi faktor-faktor lain yang tidak diteliti. Hasil uji F, diperoleh nilai Fhitung 18,852 > Ftabel 3,305 dengan tingkat probalitas p-value sebesar 0,000. Maka terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa. Dari ketiga penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, dapatlah diketahui bahwa variabel dependent (terikat) di sini adalah sama-sama prestasi/hasil belajar siswa. Tetapi yang membedakannya di sini adalah variabel bebasnya atau faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi/hasil belajar siswa dan yang pastinya juga adalah lokasi penelitian masing-masing penelitian. Jadi posisi penelitian ini memperluas variabel yang 6 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal mempengaruhi hasil belajar siswa penelitian yang terdahulu, dan sebagai verifikasi terhadap pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru dalam lokasi yang berbeda. Berdasarkan pemikiran di atas, peneliti berkesimpulan dan dapat dibuat suatu gambar kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) 1. Pendidik (educator) 2. Manajer 3. Administrator 4. Supervisor, 5. Pemimpin (leader), 6. Pencipta iklim kerja, 7. Wirausahawan (Depdiknas 2006) Masalah Umum Profesionalitas Guru PAI (X2) 1. Kompetensi Pedagogik 2. Kompetensi Kepribadian 3. Kompetensi Profesional 4. Kompetensi Sosial HIPOTESA Hasil Belajar Siswa (Y) Raport Sekolah Semester 2 Tahun Pelajaran 2017/2018 Faktor lain yang tidak diuji dalam penelitian Gambar 1. Kerangka Pemikiran B. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian korelasional. Datanya bersifat kuantitatif. Dalam penelitian ini variabel yang akan dikorelasikan yaitu variabel kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan variabel profesionalitas guru PAI (X2) terhadap variabel hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data primer dan sekunder. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda Leuwiliang Bogor. Sedangkan Sumber data skunder, yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan dari sumber-sumver yang telah ada. Data itu biasanya diperoleh dari perpustakaan atau laporan-laporan / dokumen peneliti yang terdahulu. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Muhammadiyah Puraseda Leuwiliang Bogor, yang berjumlah 250 siswa (Laki-laki = 134 dan Perempuan = 116). Karena populasi yang begitu luas yang tidak memungkinkan untuk diteliti secara keseluruhan, maka peneliti mencoba mengambil sampel yang representatif dari keseluruhan populasi yang dapat menggambarkan pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa. 7 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Dalam pengambilan sampel disini peneliti menggunakan teknik random sampling (sampling acak) yaitu pengambilan sampel yang dilakukan dengan memperhatikan jumlah siswa dalam masing-masing kelas yang ada. Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100 responden, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya besar atau lebih dari 100 responden maka dapat diambil antara10-15% atau 20-25% atau lebih. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Muhammadiyah Puraseda Leuwiliang Bogor, yang berjumlah 250 siswa (Laki-laki = 134 dan Perempuan = 116). Mengacu pada pendapat S. Arikunto, peneliti mengambil sampel sebanyak 20% dari jumlah populasi (250 siswa), jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 20% x 250 = 50 siswa. Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah metode angket, dokumentasi. Tempat yang dijadikan lokasi penelitian adalah di SMA Muhammadiyah Puraseda yang beralamat di Jalan Raya Puraseda KM. 11 Desa Purasaeda Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor. Waktu kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan April sampai dengan Juni 2018. Sedangkan untuk analisa, menggunakan analisa regresi. D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Untuk menguji hipotesis digunakan persamaan regresi linear sederhana dan persamaan regresi linear berganda dengan uji t (parsial) dan uji F (simultan). Untuk menguji besarnya pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa secara parsial digunakan analisis regresi linier sederhana dan berganda dengan bantuan software komputer program SPPS versi 17. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Hasil Belajar Siswa Hipotesis penelitian pertama adalah terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda. Berikut rumusan hipotesisnya: Ho Tidak terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda H1 Terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda: Sebelum menentukan besarnya pengaruh variabel kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa, maka akan dianalisis terlebih dahulu mengenai keeratan hubungan dua variabel tersebut. Hasil perhitungan analisis regresi linear sederhana dan uji t pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa dengan menggunakan program SPSS versi 17 dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini: Tabel1 Hasil Analisis Regresi dan Uji t Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Hasil Belajar Siswa 8 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients B Beta Std. Error t Sig. 1 (Constant) 52.289 9.155 5.711 0.000 Kepemimpinan 0.306 0.095 0.423 3.232 0.002 Kepala Sekolah Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa Berdasarkan hasil analisis regresi dan uji t pada tabel 1 di atas, diperoleh nilai Sig untuk variabel kepemimpinan kepala sekolah sebesar 0,002 dan nilai thitung = 3,232. Dengan taraf nyata 5% dan derajat kepercayaan (df = n – 2) = 50 – 2 = 48, maka diperoleh nilai t tabel = 2,011. Karena nilai Sig = 0,002 < 0,05 dan t hitung > t tabel (3,232 > 2,011), maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa. Berdasarkan output di atas diperoleh koefisien regresi sebesar 0,306 dan konstanta sebesar 52,289. Maka dapat digambarkan bentuk hubungan variabel kepemimpinan kepala sekolah dengan hasil belajar siswa dalam bentuk persamaan regresi Y = 52,289 + 0,306X 1. Ini berarti bahwa jika kepemimpinan kepala sekolah meningkat sebesar 1 poin maka hasil belajar siswa akan meningkat sebesar 0,306 poin pada konstanta 52,289. Dengan kata lain bahwa semakin baik kepemimpinan kepala sekolah maka hasil belajar siswa akan meningkat pula. Besarnya pengaruh kepemimpinan kepala sekolah guru terhadap hasil belajar siswa dihitung dengan bantuan program SPSS versi 17. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini: Tabel 2 Koefisien Determinasi Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Hasil Belajar Siswa Model Summaryb Model R R Square Adjusted Square 1 0.423a 0.179 0.162 R Std. Error of the Estimate 5.407 a. Predictors: (Constant), Kepemimpinan Kepala Sekolah b. Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa Berdasarkan output program SPSS di atas, diperoleh nilai korelasi kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa sebesar 0,423 dan nilai R square sebesar 0,179 atau 17,9%. Hal ini berarti bahwa variabel kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa sebesar 17,9%, dan sisanya sebesar 82,1% ditentukan oleh faktor lain diluar model regresi tersebut. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian pertama diterima (H0 ditolak dan H1 diterima), yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda. Pengaruh Profesionalitas Guru PAI terhadap Hasil Belajar Siswa. Hipotesis kedua penelitian ini adalah terdapat pengaruh profesionalitas guru PAI terhadap hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda. Berikut rumusan hipotesisnya: 9 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal H0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan profesionalitas guru PAI terhadap hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda H1 Terdapat pengaruh yang signifikan profesionalitas guru PAI terhadap hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda Sebelum menentukan besarnya pengaruh variabel profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa, maka akan dianalisis terlebih dahulu mengenai keeratan hubungan dua variabel tersebut. Hasil perhitungan analisis regresi linear sederhana dan uji t pengaruh profesionalitas guru PAI terhadap hasil belajar siswa dengan menggunakan program SPSS versi 17 dapat dilihat pada tabel 4.18 di bawah ini: Tabel 4.18 Hasil Analisis Regresi dan Uji t Profesionalitas Guru PAI terhadap Hasil Belajar Siswa Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients B 1 (Constant) Profesionalita s Guru PAI (X2) Std. Error 51.655 5.201 0.321 0.055 Standardiz ed Coefficients t Sig. Beta 9.9 32 0.644 0.0 00 5.8 38 0.0 00 a. Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa Berdasarkan hasil analisis regresi dan uji t pada tabel 4.18 di atas, diperoleh nilai Sig untuk variabel profesionalitas guru PAI sebesar 0,000 dan nilai t hitung = 5,838. Dengan taraf nyata 5% dan derajat kepercayaan (df = n – 2) = 50 – 2 = 48, maka diperoleh nilai t tabel = 2,011. Karena nilai Sig = 0,000 < 0,05 dan t hitung > t tabel (5,838 > 2,011), maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa. Berdasarkan output di atas diperoleh koefisien regresi sebesar 0,321 dan konstanta sebesar 51,655. Maka dapat digambarkan bentuk hubungan variabel profesionalitas guru dengan hasil belajar siswa dalam bentuk persamaan regresi Y = 51,655 + 0,321X 2. Ini berarti bahwa jika profesionalitas guru meningkat sebesar 1 poin maka hasil belajar siswa akan meningkat sebesar 0,321 poin. Dapat dikatakan pula bahwa guru yang profesional dalam menjalankan tugas keprofesionalannya, maka akan meningkatkan hasil belajar siswa. Besarnya pengaruh profesionalitas guru PAI terhadap hasil belajar siswa dihitung dengan bantuan program SPSS versi 17. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel 4.19 di bawah ini: Tabel 2 Koefisien Determinasi Profesionalitas Guru terhadap Hasil Belajar Siswa 10 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Model Summaryb Model R R Square Adjusted Square 1 0.644a 0.415 0.403 R Std. Error of the Estimate 4.563 a. Predictors: (Constant), Profesionalitas Guru PAI (X2) b. Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa (Y) Nlai korelasi profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa sebesar 0,644 dan nilai R square sebesar 0,415 atau 41,5%. Hal ini berarti bahwa variabel profesionalitas guru berpengaruh terhadap hasil belajar siswa sebesar 41,5%, dan sisanya sebesar 58,5% ditentukan oleh faktor lain diluar model regresi tersebut. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian kedua diterima (H0 ditolak dan H1 diterima), yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Profesionalitas Guru Terhadap Hasil Belajar Siswa. Hipotesis penelitian ketiga adalah terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa di SMA Muhammadiyah Puraseda. Berikut rumusan hipotesisnya : H0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa. H1 Terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa. Untuk menjawab hipotesis tersebut, dilakukan analisis regresi linear berganda dan uji F. Pedoman untuk uji F ini adalah sebagai berikut: Jika nilai sig < 0,05 atau F hitung > F tabel, maka terdapat pengaruh variabel X terhadap variabel Y Jika nilai sig > 0,05 atau F hitung < F tabel, maka tidak terdapat pengaruh variabel X terhadap variabel Y Hasil perhitungan analisis regresi linear berganda dan uji t pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa dengan menggunakan program SPSS versi 17 dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini: Tabel 3. Hasil Analisis Regresi dan Uji t Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalitas Guru PAI terhadap Hasil Belajar Siswa 11 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients B 1 (Constant) Std. Error Standardiz ed Coefficients t Sig. Beta 4.6 36.973 7.950 Kepemimpina n Kepala Sekolah 0.188 0.080 0.260 Profesionalita s Guru 0.284 0.055 0.570 50 0.0 00 2.3 66 0.0 22 5.1 82 0.0 00 a. Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa Uji Regresi Linear Berganda Berdasarkan hasil analisis regresi dan uji t pada tabel 3 di atas, diperoleh model persamaan regresi kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa yaitu: Y = 36,973 + 0,188X1 + 0,284X2 Berdasarkan persamaan regresi tersebut, maka dapat dijelaskan: Nilai konstanta sebesar 36,973 menyatakan bahwa nilai variabel hasil belajar siswa akan tetap sebesar 36,973 walaupun variabel kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru tidak ada atau nilainya 0 (nol). Koefisien regresi variabel kepemimpinan kepala sekolah (X 1) sebesar 0,188, artinya bahwa setiap penambahan satu satuan atau satu tingkatan kepemimpinan kepala sekolah akan berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa sebesar 0,188 satuan. Koefisien bernilai positif artinya ada hubungan searah antara kepemimpinan kepala sekolah dengan hasil belajar siswa. Semakin baik tingkat kepemimpinan kepala sekolah, maka akan semakin meningkat hasil belajar siswa, begitupun sebaliknya semakin kurang tingkat kepemimpinan kepala sekolah, maka akan semakin menurun juga hasil belajar siswa. Koefisien regresi variabel profesionalitas guru (X2) sebesar 0,284, artinya bahwa setiap penambahan satu satuan atau satu tingkatan profesionalitas guru akan berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa sebesar 0,284 satuan. Koefisien bernilai positif artinya ada hubungan searah antara profesionalitas guru dengan hasil belajar siswa. Semakin baik tingkat profesionalitas guru, maka akan semakin meningkat hasil belajar mata pelajaran, begitupun sebaliknya, semakin kurang tingkat profesionalitas guru, maka akan semakin menurun juga hasil belajar siswa. Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji F) Untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa, maka dilakukan analisis uji F. Adapun hasil hasil perhitungan dan analisisnya dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini: Tabel 4. Uji Koefisien Regresi Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalitas Guru terhadap Hasil Belajar Siswa 12 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal ANOVAb Sum Squares Model 1 Regressio of Mean Df Square 815.683 2 407.842 Residual 892.897 47 18.998 Total 1708.580 49 n Si F g. 21.4 68 0. 000a a. Predictors: (Constant), Profesionalitas Guru PAI, Kepemimpinan Kepala Sekolah b. Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa Berdasarkan tabel 4. di atas, diketahui nilai signifikansi untuk pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara simultan terhadap hasil belajar siswa adalah sebesar Sig hitung = 0,000 dan nilai Fhitung = 21,468. Dengan menggunakan tingkat signifikansi α = 5% atau 0,05, df1 = k – 1 = 3 – 1 = 2 dan df2 = n – k = 50 – 3 = 47 (n adalah jumlah responden dan k adalah jumlah variabel bebas dan terikat), maka diperoleh F tabel sebesar 3,195. Hal ini menunjukkan bahwa nilai Fhitung lebih besar dari Ftabel (21,468 > 3,195) dan nilai Sig hitung 0,000 lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru PAI secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa. Uji Determinasi (R2) Kofisien determinasi dilakukan untuk mendeteksi ketepatan yang paling baik dalam analisa regresi, yaitu dengan membandingkan besarnya nilai koefisien determinan. Untuk melihat kemapuan variabel bebas dalam menerangkan variabel terikat dapat diketahui dari besarnya koefisien determinasi berganda (R2). Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa, maka dilakukan analisis koefisien determinasi R square (R2). Hasil perhitungan koefisien determinasi dengan menggunakan program SPSS versi 17 dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini: Tabel 5. Koefisien Determinasi Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalitas Guru PAI terhadap Hasil Belajar Siswa Model Summaryb Model R R Square Adjusted Square 1 0.691a 0.477 0.455 R Std. Error of the Estimate 4.359 a. Predictors: (Constant), Profesionalitas Guru PAI, Kepemimpinan Kepala Sekolah b. Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Berdasarkan output program SPSS pada tabel 5 di atas, diperoleh nilai korelasi (R) antara kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa sebesar 0,691. Hal ini menunjukkan adanya korelasi antara kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa, dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,477 atau 47,70%. Dengan demikian variabel kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru memberikan pengaruh terhadap perubahan hasil 13 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal belajar siswa sebesar 47,70%, sedangkan sisanya 52,30 % dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian ketiga diterima (H0 ditolak dan H1 diterima), yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa. Setelah dilakukan perhitungan dan analisis terhadap hipotesis penelitian ini, maka dilakukan pembahasan terhadap hasil penelitian tersebut. Adapun pembahasan penelitian ini adalah sebagai berikut: Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Hasil Belajar Siswa Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan diketahui bahwa persamaan regresi kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa yaitu Y = 52,289 + 0,306X1. Nilai persamaan tersebut adalah positif, artinya terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa. Selanjutnya untuk mengetahui tingkat signifikansinya dilakukan uji t, nilai t hitung > t tabel (3,232 > 2,011) dan nilai Signifikansi sebesar 0,002 < 0,05. Jadi hipotesis penelitian pertama diterima (H0 ditolak dan H1 diterima), yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah (X1) terhadap hasil belajar siswa (Y). Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa, maka dilakukan uji koefisien determinasi. Pada uji determinasi ini diperoleh nilai R square sebesar 0,179 atau 17,9%. Hal ini berarti bahwa variabel kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa sebesar 17,9%. Berdasarkan hipotesis penelitian pertama yang dilakukan ini, menyatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa adalah terbukti. Hal ini menjelaskan bahwa apabila kepemimpinan kepala sekolah memiliki kepemimpinan yang baik dalam mendukung kinerja warga sekolah ataupun dalam meningkatkan motivasi mengajar guru sehingga guru-guru mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini dapat mendukung teori yang ada. Menurut Ivansevich di dalam Panji Anoraga dan Sri Suyati yang dikutif Hadari Nawawi dalam bukunya, ”kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi aktivitas orang lain melalui komunikasi, baik individual maupun kelompok ke arah pencapaian tujuan”. Dari teori yang dikemukakan oleh Ivansevich di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah merupakan kemampuan kepala sekolah dalam mempengaruhi aktivitas guru, staff dan siswa melalui komunikasi untuk mencapai visi, misi dan tujuan sekolah, seperti tercapainya visi sekolah yaitu terwujudnya generasi yang berprestasi dan mandiri sesuai dengan iman dan taqwa. Jadi kepemimpinan kepala sekolah dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan kepemimpinan yang baik maka akan meningkatkan hasil belajar siswa yang baik pula. Di samping mendukung teori yang ada, penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian sebelumnya yang menjadi referensi dari penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa. Pengaruh Profesionalitas Guru terhadap Hasil Belajar Siswa Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan diketahui bahwa persamaan regresi profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa yaitu Y = 51,655 + 0,321X2. Nilai persamaan tersebut adalah positif, artinya terdapat pengaruh profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa. Selanjutnya untuk mengetahui tingkat signifikansinya dilakukan uji t, nilai t hitung > t tabel (5,838 > 2,011) dan nilai Signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Jadi hipotesis penelitian kedua diterima (H0 ditolak dan H1 diterima), yang artinya terdapat pengaruh yang 14 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal signifikan profesionalitas guru (X2) terhadap hasil belajar siswa (Y) di SMA Muhammadiyah Puraseda. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa, maka dilakukan uji koefisien determinasi. Pada uji determinasi ini diperoleh nilai R square sebesar 0,415 atau 41,5%. Hal ini berarti bahwa variabel profesionalitas guru berpengaruh terhadap hasil belajar siswa sebesar 41,5%. Berdasarkan hipotesis penelitian kedua yang menyatakan bahwa profesionalitas guru berpengaruh terhadap hasil belajar siswa adalah terbukti. Hal ini menjelaskan bahwa apabila guru dapat meningkatkan profesionalitasnya dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang guru seperti memberikan pembelajaran kepada peserta didik, maka guru akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa : “Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”. Kompetensi guru ini sangatlah diperlukan dalam proses pembelajaran demi meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk meningkatkan profesionalitas guru, maka guru harus memliki 4 (empat) kompetensi guru, yaitu (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi profesional dan (4) kompetensi sosial. Seorang guru harus dapat meningkatkan profesionalitasnya dalam melaksanakan tugasnya, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa demi meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Muhammadiyah Puraseda. Kegiatan pengembangan profesi guru dalam meningkatkan profesionalitas guru, dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: (1) pengembangan intensif (intensive development), (2) pengembangan kooperatif (cooperative development), dan (3) pengembangan mandiri (self directed development). Pengembangan intensif (intensive development), adalah bentuk pengembangan yang dilakukan pimpinan terhadap guru yang dilakukan secara intensif berdasarkan kebutuhan guru. Model ini biasanya dilakukan melalui langkah-langkah yang sistematis, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi dan pertemuan-balikan atau refleksi. Teknik pengembangan yang digunakan antara lain melalui pelatihan, penataran, loka karya dan sejenisnya. Pengembangan kooperatif (cooperative development), adalah sutu bentuk pengembangan guru yang dilakukan melalui kerja sama dengan teman sejawat dalam suatu tim yang bekerja sama secara sistematis. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru melalui pemberian masukan, saran, nasehat atau bantuan teman sejawat. Teknik pengembangan yang digunakan bisa melalui pertemuan KKG atau MGMP. Teknik ini disebut juga dengan istilah peer supervision atau collaborative supervision. Pengembangan mandiri (self directed development) adalah bentuk pengembangan yang dilakukan melalui pengembangan diri sendiri. Bentuk ini memberikan otonomi secara luas kepada guru. Guru berusaha untuk merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, dan menganalisisbalikan untuk pengembangan diri sendiri. Teknik yang digunakan bisa melalui evauasi diri (self evaluation) atau penelitian tindakan (action research). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalitas Guru terhadap Hasil Belajar Siswa Berdasarkan hasil uji koefisien korelasi kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa, maka diperoleh persamaan regresinya yaitu Y = 36,973 + 0,188X1 + 0,284X2. Nilai persamaan X1 dan X2 adalah positif, artinya 15 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa . Dengan peningkatan variabel kepemimpinan kepala sekolah sebesar 0,188, maka hasil belajar siswa akan meningkat juga sebesar 0,188. Ini juga berlaku dengan peningkatan variabel profesionalitas guru sebesar 0,284, maka hasil belajar siswa akan meningkat juga sebesar 0,284. Dari uji Anova atau Uji F dengan menggunakan SPSS versi 17 diperoleh nilai Sig hitung = 0,000 dan nilai Fhitung = 21,468. Dengan menggunakan tingkat signifikansi α = 5% atau 0,05, df1 = k – 1 = 3 – 1 = 2 dan df2 = n – k = 50 – 3 = 47, maka diperoleh Ftabel sebesar 3,195. Nilai Fhitung lebih besar dari Ftabel (21,468 > 3,195) dan nilai Sig hitung 0,000 lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima, yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa. Dari uji determinasi, diperoleh nilai korelasi (R) sebesar 0,691. Hal ini menunjukkan adanya korelasi antara kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa sebesar 0,691, dengan koefisien determinasi (R 2) sebesar 0,477 atau 47,70%. Dengan demikian variabel kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru memberikan pengaruh terhadap perubahan hasil belajar siswa sebesar 47,70%, sedangkan sisanya 52,30% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dari hasil analisis di atas, maka hipotesis penelitian ketiga diterima, yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa. Hal ini memberikan makna bahwa baik kepala sekolah maupun guru mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal. Hasil penelitian ini mendukung teori yang sudah ada seperti yang dijelaskan dalam buku panduan manajemen sekolah, yang dikutif oleh Syafarudin yang menjelaskan bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah cara atau usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan guru, staf, siswa, orang tua siswa dan pihak lain yang terkait untuk bekerja atau berperan serta guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dapat mempengaruhi guru untuk lebih meningkatkan kinerjanya agar lebih profesional dalam melaksanakan tugasnya dan kepala sekolah juga dapat mempengaruhi, mendorong dan membimbing siswa agar lebih giat dalam belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pendapat Agus F. Tamyong yang dikutif Moh. Uzer Usman dalam bukunya, guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa untuk menjadi seorang guru yang profesional, maka guru seyogyanya memiliki pengalaman yang memadai di bidangnya serta sudah terdidik dan terlatih dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Dari pengalamannya yang memadai di bidangnya, maka guru yang profesional dapat mengoptimalkan tugasnya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga hasil belajar siswa dapat lebih ditingkatkan. Hasil penelitian ini juga dapat mendukung atau memperkuat teori dari William Stern yang dikenal dengan Teori Konvergensi. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan intelektualitas anak tidak hanya dapat dilihat dari faktor pembawaan atau lingkungan saja tetapi perpaduan antara keduanya, sinergisme antara faktor internal dan faktor eksternal. Jadi hasil belajar siswa selain dipengaruhi faktor internal (bawaan siswa), juga dipengaruhi 16 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal oleh faktor eksternal (lingkungan) seperti salah satunya faktor kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru. Di samping mendukung teori yang ada, penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian sebelumnya yang menjadi referensi dari penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa. Salah satu hasil penelitian yang sejalan dengan penelitian ini adalah penelitian Ahmad Yunun (2014) tentang pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa melalui profesionalitas guru SD Negeri Di Sibolga Selatan. Dengan hasil penelitian yaitu diperoleh hasil korelasi (r) sebesar 0,764 dan nilai determinasi (r 2) sebesar 0,557 atau 55,70%, yang berarti prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru sebesar 55,70% dan sisanya sebesar 44.30% dipengaruhi faktorfaktor lain yang tidak diteliti. Hasil uji F, diperoleh nilai F hitung 18,852 > Ftabel 3,305 dengan tingkat probalitas p-value sebesar 0,000 < 0,05. Maka terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa Agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan, maka diperlukan kepemimpinan kepala sekolah yang baik dalam menjalankan tugas dan fungsinya, serta peningkatan profesionalitas guru PAI dengan memperhatikan hak dan kewajibannya secara seimbang untuk bersamasama mencapai tujuan sekolah. Kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya diharapkan mampu mengimplementasikan visi, misi dan tujuan sekolah yang telah dicanangkan, mampu menggerakkan para guru sebagai ujung tombak pendidikan, karyawan, siswa dan orang tua siswa maupun masyarakat, untuk mensukseskan program pendidikan di sekolah. Komitmen yang kuat kepala sekolah untuk terus memotivasi dan mendukung guru dalam meningkatkan kualitas kinerja guru, sangat dibutuhkan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Selain kepemimpinan kepala sekolah, secara pribadi seorang guru harus profesional dalam menjalankan profesinya. Profesionalitas guru ialah komitmen guru dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai guru, sehingga profesionalitas guru dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai korelasi dan determinasi variabel profesionalitas guru (rhitung = 0,644 dan R2 = 41,50 %) lebih dominan mempengaruhi hasil belajar siswa dari pada variabel kepemimpinan kepala sekolah (r hitung = 0,423 dan R2 = 17,90 %). Dengan demikian bahwa hasil belajar siswa dapat ditingkatkan melalui profesionalitas guru dengan mendorong guru untuk melakukan kegiatan pengembangan diri, meningkatkan prestasinya, mendorong melakukan karya inovatif dan selalu mengembangkan pembelajaran di kelas. Adapun kepala sekolah diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kepemimpinannya dengan mendorong peningkatan profesionalitas guru dengan mengoptimalkan tugas pokok dan fungsinya sebagai edukator, manajer, admnistrator, supervisor, leader, entrepreneur dan pencipta iklim kerja. Untuk memotivasi guru, kepala sekolah bisa membudayakan pemberian penghargaan kepada guru berprestasi dan melibatkan mereka dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah. E. KESIMPULAN Berdasarkan data hasil penelitian pembahasan yang mengacu pada hipotesis yang diajukan, maka dapat disimpulkan bahwa: 17 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal 1) 2) 3) Kepemimpinan kepala sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Hasil regresi kepemimpinan kepala sekolah pada taraf signifikansi 5%, diperoleh thitung = 3,232 lebih besar dari ttabel = 2,011 dengan nilai signifikansi 0,002 < 0,05. Untuk hasil korelasi kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil belajar siswa pada taraf signifikansi 5%, diperoleh rhitung = 0,423 lebih besar dari rtabel = 0,279. Data ini memberi makna bahwa Kepemimpinan kepala sekolah yang baik mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Profesionalitas guru memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Hasil regresi profesionalitas guru PAI pada taraf signifikansi 5%, diperoleh thitung = 5,838 lebih besar dari ttabel = 2,011 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Untuk hasil korelasi profesionalitas guru PAI terhadap hasil belajar siswa pada taraf signifikansi 5%, diperoleh rhitung = 0,644 lebih besar dari rtabel = 0,279. Data ini memberi makna bahwa tingkat profesionalitas guru yang baik akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Hasil regresi pada taraf signifikansi 5%, Fhitung lebih besar dari Ftabel (21,468 > 3,195) dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Untuk persamaan regresi kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap hasil belajar siswa yaitu Y = 36,973 + 0,188X 1 + 0,284X2. Adapun besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru PAI secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa yaitu sebesar 0,477 atau 47,70%, yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru PAI sebesar 47,70%, sedangkan sisanya 52,30% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Data tersebut memberi makna bahwa kepimimpinan kepala sekolah dan profesionalitas guru memiliki kontribusi yang relatif tinggi dalam mempengaruhi hasil belajar siswa. Saran Setelah melihat hasil kesimpulan di atas, dapat dikemukakan bahwa agar hasil belajar siswa dapat maksimal maka diharapkan: Kepala sekolah diharapkan lebih mengoptimalkan tugas dan fungsinya sebagai leader, di samping fungsi-fungsi lain .Selain itu juga diharapkan semua pihak yang berkepentingan dalam dunia pendidikan mampu memberikan dukungan yang kuat untuk meningkatkan profesionalitas guru dalam mengajar. Untuk itu, para guru diharapkan juga mampu meningkatkan profesionalitasnya sebagai seorang pendidik , sesuai dengan perkembangan zamannya. DAFTAR PUSTAKA A.M., Sardiman. 2000. Interaksi dan Motifasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Abady, Yusrie. 2013. Pedoman Penelitian Karya Ilmiah, Jakarta: Rabbani Press Abdul Azis, Hamka. 2012. Karakter Guru Profesional, Jakarta: Almawardi. Aqib, Zainal. 2010. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran, Surabaya: Insan Cendekia, Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta. 18 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Asmani, Jamal Ma’mur. 2012. Tips Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Yogjakarta: Diva Press. Aqib, Zainal. 2010. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran, Surabaya: Insan Cendikia. Az-Zarnuji. 2009. Panduan Akhlak Guru dan Murid, Semarang: Aneka Ilmu. Bahri Djamarah, Syaiful. 2000. Guru dan Anak didik dalam Interaktif Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta. Barlian, Ikbal. 2013. Manajemen Berbasis Sekolah, Palembang: Esensi. Christine, Maylanny. 2009. Pedagogi: Strategi dan Teknik Mengajar dengan Berkesan, Bandung: PT. Setia Purna Inves. Danim, Sudarwan. 2010. Inovasi Pendidikan dalam Upaya PeningkatanProfesionalisme Tenaga Kependidikan, Bandung: Pustaka Media. Daryanto. 2011. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pembelajaran, Yogyakarta: Gava Media. Dirman dan Juarsih, Cicih. 2014. Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajar yang Mendidik, Jakarta: Rineka Cipta. Fajri, Em Zul dan Senja, Ratu Aprilia, 2008. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Jakarta: Difa Publisher. Hamalik, Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: PT. Bumi Aksara. Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia. Herdi, Asep dan Syarif, Anang M. 2013. Menjadi Guru PAI Profesional, Bandung: CV. Insan Mandiri, .......... Joewono, F.X. Heri. 2002. Pokok-pokok Kepemimpinan Abad 21, Jakarta: Balai Pustaka. Kementrian Agama RI. 2012. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia. Koswara, D. Deni dan Halimah. 2008. Bagaimana Menjadi Guru Kreatif?, Bandung: PT. Pribumi Mekar. Kusmayadi, Ismail. 2010. Kemahiran Interpersonal Untuk Guru, Bandung: PT. Pribumi Mekar. Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rakesarasin. Muhaimin. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Mukhtar. 2003. Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Misak Galiza. Mulyasa, E. 2009. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyasa, E. 2012. Manajemen & Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta, PT. Bumi Aksara, Nawawi, Hadari. 2006. Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi, Jakarta: Gadjah Mada University Press. Pramudji. 1995. Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara. Riyanto, Yatim. 2010. Metode Penelitian Pendidikan, Surabaya: SIC.. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta. Supardi. 2014. Aplikasi Statistika Dalam Penelitian, Jakarta: Change Publication Design. Suparlan, 2006. Guru Sebagai Profesi, Yogyakarta: Hikayat. Sukestiyarno. 2013. Statistika Dasar, Semarang : Andi Offset. Suparman. 2014. Aplikasi Komputer Dalam Penyusunan Karya Ilmiah, Tangerang: PT. Pustaka Mandiri, 2014. Suprihatuningrum, Jamil, Strategi Pembelajaran, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2012. Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013. Syafarudin, Kepemimpinan Pendidikan, Jakarta, Quantum Teaching, 2010. Siregar, Eveline, Hartini Nara, Teori dan Pembelajaran, Bogor : Ghalia Indonesia, 2010. Tafsir, H. A., dkk., Pengembangan Wawasan Profesi Guru, Bandung: UIN Sunan Gunung Djati, 2009 Usman, Moh. Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Roska Karya, 2006. 19 | Volume 1 Nomor 1 2019 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Jornal Ustman, Muhammad Uzer, Upaya Optimamlisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosyda Karya, 1993. Wahab, Rohmalina, Psikologi Belajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2015. Winataputra, Udin S., Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Universitas Terbuka, 2006. Yulaelawati, Ella, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Pakar Raya, 2007. Zenal, Tatan dan Cleopatra, Maria, Suplemen Aplikasi Komputer Dalam Penyusunan Karya Ilmiah, Tangerang: PT. Pustaka Mandiri, 2015. 20 | Volume 1 Nomor 1 2019