JEBI Vol. No. 2 pp. Copyrigt A 2025 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTS Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia BUDAYA KONSUMSI BAJU COUPLE PADA RESEPSI PERNIKAHAN DI KABUPATEN SUMBAWA DENGAN VARIABEL MEDIASI ONLINE SHOPPING CONVENIENCE Consumption Culture of Couple Attire at Wedding Receptions in Sumbawa Regency with Online Shopping Convenience as a Mediating Variable Agus Santoso1. Yuni Purnama2. Wilia Ismiyarti3 1,2,3Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Teknologi Sumbawa E-mail: agus. santoso@uts. Tanggal Diterima: 25 Desember 2025 ABSTRACT This study analyzes the consumption culture of couple clothing at wedding receptions in Sumbawa Regency by incorporating online shopping convenience as a mediating variable. It examines the effects of consumption culture, social currency, and Digital Marketing on purchasing decisions, and the mediating role of online shopping convenience. A quantitative explanatory research design was Primary data were collected through an online questionnaire using a nonprobability purposive sampling technique, involving 135 respondents who had purchased or used couple clothing for wedding receptions. Data were analyzed using Structural Equation ModelingAePartial Least Squares (SEM-PLS). The results show that consumption culture and Digital Marketing have a positive and significant effect on online shopping convenience, while social currency has an adverse effect with limited significance. Online shopping convenience significantly influences purchasing decisions and mediates the effects of consumption culture and Digital Marketing . However, social value did not significantly influence purchase decisions and did not mediate the effect of online shopping The dominance of cash-on-delivery (COD) payment methods and spending under IDR 200,000 indicates that purchase decisions are driven more by functional considerations and transaction convenience than by social image. These findings highlight the dominant role of cultural values and online convenience in shaping couples' clothing purchase decisions. Keywords: consumption culture, social currency. Digital Marketing , online shopping convenience, purchasing decision ABSTRAK Penelitian ini menganalisis budaya konsumsi baju couple pada resepsi pernikahan di Kabupaten Sumbawa dengan memasukkan online shopping convenience sebagai variabel mediasi. Penelitian ini mengkaji pengaruh budaya konsumsi, social currency, dan Digital Marketing terhadap keputusan pembelian, serta peran mediasi online shopping convenience. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan teknik non probability purposive sampling, yang melibatkan 135 responden yang pernah membeli atau menggunakan baju couple untuk acara resepsi pernikahan. Analisis data dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modeling Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya konsumsi dan Digital Marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap online shopping convenience, sedangkan social currency berpengaruh negatif dengan signifikansi terbatas. Online shopping convenience berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian serta memediasi pengaruh budaya konsumsi dan Digital Marketing . Namun, nilai sosial tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian dan tidak memediasi pengaruh online shopping convenience. Dominasi penggunaan metode pembayaran cash on delivery (COD) dan pengeluaran di bawah Rp200. 000 menunjukkan bahwa keputusan pembelian lebih didorong oleh pertimbangan fungsional dan kemudahan transaksi dibandingkan pencitraan sosial. Temuan ini menegaskan peran dominan nilai budaya dan kemudahan belanja online dalam membentuk keputusan pembelian baju couple. Kata Kunci: budaya konsumsi, social currency. Digital Marketing , online shopping convenience, keputusan pembelian. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia PENDAHULUAN Industri fashion Indonesia telah menjadi sektor bisnis yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Fenomena ini tidak terlepas dari tingginya permintaan masyarakat Indonesia terhadap produk pakaian. Pakaian tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan primer, tetapi juga telah berevolusi menjadi elemen integral dari gaya hidup dan identitas sosial. Masyarakat memerlukan pakaian untuk beragam aktivitas, mulai dari keperluan sekolah, pekerjaan, rekreasi, hingga acara khusus seperti pesta dan pernikahan. Mengutip data Bank Indonesia di techinasia nilai PDB Industri Tekstil dan Pakaian Jadi di Indonesia mencapai 142,3 triliun pada tahun 2024 Masyarakat sumbawa yang memiliki akar budaya bugis sangat menjunjung budaya kebersamaan hingga banyak keluarga secara sadar menggunakan baju seragam atau baju couple sebagai bentuk identitas kelompok saat menghadiri resepsi pernikahan, sebuah praktik yang semakin sering difasilitasi oleh kemudahan berbelanja daring (Rialisnawati et , 2. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini dengan judul budaya konsumsi baju couple pada resepsi pernikahan pernikahan di kabupaten sumbawa dengan variabel mediasi online shopping convenience. Triliun Grafik. 1 PDB Industri Tekstil dan Pakaian Sumber: techinasia. Data tersebut, tampak bahwa industri tekstil menyumbang secara signifikan terhadap perekonomian nasional. Kontribusi ini tidak terlepas dari tingginya permintaan pakaian di kalangan masyarakat Indonesia. Resepsi pernikahan, sebagai acara sakral, mendorong keluarga menyambut momen istimewa tersebut dengan penampilan optimal. Fenomena budaya konsumsi baju couple semakin marak pada resepsi pernikahan, yakni penggunaan busana bermodel, beracak, atau berwarna serasi oleh pasangan pengantin, keluarga, maupun tamu undangan. Budaya konsumsi tercermin melalui gaya berpakaian individu, di mana pemilihan busana berfungsi sebagai sarana komunikasi non-verbal dan penentu identitas sosial (Kristiawan & Keni. Budaya konsumsi mendorong konsumen melakukan keputusan pembelian (Novita et al. , 2. Praktik ini tidak hanya menciptakan kesan menarik, tetapi juga mampu menyiratkan kesetaraan dengan keluarga lainnya. Social currency merujuk pada kondisi ketika konsumen memperoleh pengakuan sosial, peningkatan citra diri, serta perhatian dari lingkungan sosialnya melalui pembelian dan penggunaan suatu produk. Salah satunya dengan ikut trend pakai pakaian couple pada acara pernikahan. Menurut Singh . , social currency berperan penting dalam membentuk perilaku konsumen, khususnya dalam membentuk minat dan keputusan Fenomena ini diperkuat oleh tren media sosial yang secara cepat mempengaruhi masyarakat untuk mengikuti mode Digitalisasi dan media sosial berperan sebagai saluran utama penyebaran informasi dalam industri fesyen, dimana berbagai merek lokal memanfaatkannya untuk strategi promosi, mulai dari produksi video iklan hingga live shopping. Menurut JEBI Vol. No. 2, pp. laporan We Are Social & Hootsuite, lebih dari 75% masyarakat Indonesia telah terbiasa berbelanja secara daring, termasuk produk fesyen. Pemasaran digital mampu mendorong konsumen untuk melakukan pembelian. Strategi pemasaran digital yang mencakup pemanfaatan media sosial, pemasaran konten, serta analitik data merupakan kunci utama bagi startup industri fesyen daring dalam mengembangkan platform e-commerce, sehingga memfasilitasi pertumbuhan bisnis melalui peningkatan visibilitas dan keterlibatan pelanggan (Lathifah et al. , 2. Kehadiran e-commerce mempermudah konsumen dalam melakukan pembelian. Online shopping convenience, sebagai variabel mediasi, memainkan peran krusial dalam membentuk keputusan pembelian konsumen di era digital, khususnya dalam konteks produk fesyen (Husna et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menguji hubungan kausal antar variabel dalam model yang didasarkan pada data empiris. Fokus pada penelitian ini adalah menganalisis pengaruh Budaya Konsumsi. Social Currency, dan Digital Marketing terhadap Keputusan Pembelian, dengan Online Shopping Convenience sebagai variabel mediasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer dalam penelitian dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner daring yang disusun melalui G-Form dan disebar melalui aplikasi WhatsApp, dengan pertimbangan kemudahan akses, efisiensi waktu dan relevansi konteks penelitian yang berbasis digital. Instrumen pada kuesioner disusun dengan skala Likert lima tingkat yang dirancang untuk mengukur indikator pada lima konstruk penelitian utama yaitu Budaya Konsumsi. Social Currency . Digital Marketing . Keputusan Pembelian, dan Online Shopping Convenience . Sedangkan data sekunder didapatkan dari publikasi instansi terkait seperti techinasia. com dan penelitianpenelitian terhadulu. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di Kabupaten Sumbawa yang pernah membeli atau menggunakan baju couple untuk acara resepsi pernikahan. Teknik pengambilan sampel adalah nonprobability sampling dengan pendekatan purposive sampling dengan jumlah minimal 100 responden. Dalam penelitian ini responden berjumlah 135. Berikut untuk hipotesis penelitian yang digunakan dalam model ini: Budaya Konsumsi berpengaruh terhadap Online Shopping Convenience Social Currency berpengaruh terhadap Online Shopping Convenience Digital Marketing berpengaruh terhadap Online Shopping Convenience Online Shopping Convenience berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia H10 Budaya Konsumsi berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian. Social Currency Keputusan Pembelian. Digital Marketing berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian. Online Shopping Convenience memediasi pengaruh Budaya Konsumsi terhadap Keputusan Pembelian. Online Shopping Convenience memediasi pengaruh Social Currency terhadap Keputusan Pembelian. Online Shopping Convenience memediasi pengaruh Digital Marketing terhadap Keputusan Pembelian. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS. Metode ini dipilih karena mampu menganalisis model yang kompleks dan tidak membutuhkan asumsi normalitas data, serta sesuai dengan tujuan prediktif (Hair and Alamer, 2. Selain tidak membutuhkan banyak asumsi metode ini juga tidak membutuhkan sampel yang besar. PLS sering menjadi alternatif metode SEM yang menawarkan fleksibilitas lebih tinggi dalam menghubungkan kerangka teori dengan data Kemampuannya dalam menganalisis variabel laten melalui analisis jalur menjadikan PLS lebih sering digunakan oleh peneliti ilmu sosial jika dibandingkan dengan teknik SEM konvensional (Purwati et al. , 2. <200 Grafik. 3 Harga Sumber: Data diolah Berdasarkan data persentase pembelian baju couple berdasarkan harga, mayoritas konsumen membeli dengan harga dibawah Rp200. 000, yaitu sebesar 55,6%. Selanjutnya, sebesar 34% konsumen membeli baju couple pada kisaran harga Rp200. 000AeRp300. Sementara itu, pembelian baju couple dengan harga di atas Rp300. 000 memiliki persentase paling rendah, yaitu sebesar 10,4%. HASIL Gambaran Umum Responden pada penelitian ini dapat dilihat pada grafik berikut: Shopee Tokopedia BliBli Lainya Grafik. 4 Harga Sumber: Data diolah Laki Perempuan Grafik. 2 Jenis kelamin Sumber: Data diolah Berdasarkan data platform tempat pembelian baju couple, mayoritas konsumen melakukan pembelian melalui Shopee, dengan persentase sebesar 73,3%. Selanjutnya, pembelian melalui TikTok menempati urutan kedua dengan persentase sebesar 14,1%. Sementara itu, pembelian melalui Tokopedia hanya sebesar 4,4%, dan Blibli memiliki persentase paling rendah yaitu 0,7%. Terdapat 7,5% konsumen yang melakukan pembelian melalui platform e-commerce lain di luar marketplace tersebut. Berdasarkan data karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin, sebagian besar responden adalah perempuan, yaitu sebesar 69,6%, sedangkan responden laki-laki berjumlah 30,4%. Hal ini menunjukkan bahwa pembelian baju couple lebih didominasi oleh konsumen perempuan sebagai mayoritas pengelola keuangan keluarga. COD Transfer bank e-Wallet Paylater Grafik. 5 Metode Pembayaran Sumber: Data diolah JEBI Vol. No. 2, pp. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Berdasarkan data metode pembayaran dalam pembelian baju couple, sebagian besar konsumen memilih metode Cash on Delivery (COD) dengan persentase sebesar 66,7%. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen masih memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap metode pembayaran langsung saat barang diterima. Selanjutnya, metode transfer bank digunakan oleh 20,7%. Diikuti pengguna e-wallet tercatat sebesar 9,6%. Metode pay later memiliki persentase paling rendah, yaitu 3%, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar konsumen masih berhati-hati dalam menggunakan fasilitas pembayaran berbasis kredit. Tahapan analisis data menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS) terdiri dari dua tahapan utama yaitu penilain outer model dan model struktural. Outer model bertujuan untuk melihat keterkaitan antara variabel laten dan indikator melalui uji validitas dan reliabilitas. Indicator reliability adalah ukuran yang digunakan untuk melihat sejauh mana setiap indikator dalam model mampu merepresentasikan variabel laten secara akurat dan konsisten. Dalam analisis SEM-PLS. Indicator reliability dievaluasi melalui nilai outer loading pada setiap indikator dengan ketentuan nilai outer loading Ou 0,70. Semakin tinggi nilai outer loading menunjukkan bahwa kontribusi indikator semakin kuat dalam mempresentasikan konstruk yang diukur. Gambar 6 menunjukkan bahwa terdapat beberapa indikator yang memiliki nilai outer loading di bawah 0,70. Pada variabel Budaya Konsumsi terdapat dua indikator, pada variabel Social Currency terdapat empat indikator, pada variabel Digital Marketing terdapat dua indikator, dan pada variabel Keputusan Pembelian terdapat tiga indikator yang tidak memenuhi kriteria reliabilitas indikator. Gambar 7. Output Loading Factor Tahap 2 Hasil pengujian tahap kedua menunjukkan bahwa seluruh indikator yang tersisa memiliki nilai outer loading di atas 0,70, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh indikator telah memenuhi kriteria reliabilitas. Untuk menilai konsistensi internal konstruk serta tingkat akurasi indikator dalam merepresentasikan konstruk penelitian maka digunakan Construct reliability dan convergent validity. Reliabilitas konstruk dievaluasi menggunakan nilai CronbachAos Alpha dan Composite Reliability, sedangkan validitas konvergen diuji melalui nilai Average Variance Extracted (AVE). Suatu konstruk dinyatakan reliabel dan memiliki validitas konvergen yang baik apabila nilai yang direkomendasikan, sehingga instrumen penelitian layak digunakan dalam analisis selanjutnya. Tabel 1. Construct Reliability and Convergent Validity Budaya Konsumsi (X. Social Currency (X. Digital Marketing (X. Online Shopping Convenience (Z) Keputusan Pembelian (Y) Gambar 6. Output Loading Factor Tahap 1 Oleh karena itu penulis memutuskan untuk membuang indikator yang tidak memenuhi kriteria dan melakukan uji ulang . untuk mendapat nilai loading factor yang memenuhi kriteria. Berikut untuk hasil tes kedua: Cronbach's Alpha Composite Reliability Average Variance Extracted (AVE) Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan hasil pengujian dapat diketahui bahwa model dalam penelitian ini memiliki reliabilitas internal yang memadai yang ditunjukkan oleh nilai Alpha Cronbach dan Reliabilitas Komposit yang lebih besar dari 0,60. Selain itu nilai AVE yang berada diatas 0,50 menunjukkan bahwa masing-masing konstruk dapat menjelaskan varians indikatornya secara memadai. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh konstruk dalam penelitian ini bersifat reliabel dan telah memenuhi validitas konvergen. Tahap kedua dalam analisis data menggunakan SEMPLS adalah evaluasi inner model . odel struktura. , yang bertujuan untuk menilai hubungan kausal antar variabel laten sesuai dengan hipotesis penelitian. Pada tahap ini, analisis JEBI Vol. No. 2, pp. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia dilakukan dengan mengamati nilai R-square untuk menilai kemampuan penjelasan variabel endogen, path coefficient untuk mengukur arah dan kekuatan pengaruh antar konstruk. Q-square untuk mengevaluasi relevansi prediktif model, serta uji signifikansi melalui prosedur bootstrapping. Evaluasi inner model dilakukan guna mengetahui sejauh mana model struktural mampu merepresentasikan hubungan antar variabel yang menjadi fokus penelitian. Goodness of Fit (GoF) merupakan indeks yang digunakan untuk menilai kesesuaian model secara keseluruhan dalam metode SEM-PLS. Nilai Goodness of Fit (GoF) dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Goodness of Fit (GoF) Saturated Model SRMR Estimated Model Sumber: Data diolah, 2025 Hasil pengujian Goodness of Fit (GoF) menunjukkan bahwa nilai Standardized Root Mean Square Residual (SRMR) pada saturated model dan estimated model masingmasing sebesar 0,080. Nilai tersebut kurang dari 0,10, sehingga dapat disimpulkan bahwa model struktural memiliki tingkat kesesuaian yang memadai dengan data penelitian, sebagaimana tercermin dari terpenuhinya kriteria goodness of fit yang ditetapkan. Setelah model struktural memenuhi kriteria evaluasi yang dipersyaratkan, analisis selanjutnya yaitu pengujian hipotesis guna menguji signifikansi pengaruh antar variabel laten sebagaimana dirumuskan dalam hipotesis penelitian. Tabel 3. Hasil Uji Hipotesis Direct Effect dan Indirect Effect Hipotesis Hubungan Koefisien P Value Penelitian antar Konstruk X1Z 000*** X2Z X3Z 000*** X1Y X2Y X3Y 000*** X1ZY X2ZY H10 X3ZY Sumber: Data diolah, 2025 Hasil uji hipotesis menggunakan metode bootstrapping pada model SEM-PLS dengan tingkat signifikansi 5%, menunjukkan bahwa Budaya Konsumsi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Online Shopping Convenience dengan nilai koefisien sebesar 0,395 dan nilai p < 0,01 sehingga H1 Hal ini berarti bahwa peningkatan pola dan nilai konsumsi secara substansial berkontribusi terhadap persepsi kemudahan dalam berbelanja online, yang tercermin melalui sikap, norma sosial, dan kontrol perilaku yang dirasakan Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa nilainilai budaya seperti norma sosial dan pengaruh komunitas atau keluarga dapat memperkuat sikap positif terhadap belanja online dan meningkatkan persepsi kemudahan dalam bertransaksi secara daring (Peya-Garcya et al. , 2. Selain JEBI Vol. No. 2, pp. itu, budaya konsumsi yang menekankan kemudahan akses dan efisiensi waktu serta gaya hidup konsumtif juga mendorong preferensi konsumen untuk berbelanja secara online karena dianggap lebih praktis dan sesuai dengan kebutuhan generasi yang melek teknologi (Murdiana et al. , 2. Mayoritas responden pada penelitian ini melakukan pembelanjaan melalui Shopee sebesar 73,3% dan pembeli jenis kelamin perempuan 69,6%, yang tidak lepas dari keragaman pilihan toko di mana produk kebutuhan perempuan khususnya pakaian banyak tersedia. Kemudahan akses dan variasi produk yang ditawarkan Shopee, terutama pada kategori pakaian wanita, sejalan dengan temuan bahwa platform shopee mendominasi preferensi konsumen dalam pembelian baju couple (Afkar & Yusmaneli, 2. Digital Marketing juga terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Online Shopping Convenience dengan nilai koefisien sebesar 0,687 dan nilai p < 0,01, yang mendukung H3. Hal ini berarti semakin efektif strategi Digital Marketing yang digunakan, konsumen juga semakin merasa mudah dalam belanja online. Faktor-faktor seperti kemudahan navigasi platform, efisiensi proses transaksi, serta penyajian konten yang bersifat emosional terbukti dapat meningkatkan tingkat kenyamanan konsumen dalam aktivitas belanja daring. (Kehinde Adetola Adegoke et al. , 2. Selain itu desain situs web yang user friendly, keamanan transaksi, dan penghematan waktu juga menjadi faktor penting yang dipengaruhi oleh strategi pemasaran digital dalam meningkatkan kenyamanan berbelanja online (V. and Y. Sebagian besar konsumen berbelanja melalui platform Shopee, kemudian TikTok yang menjadi platform dominan Kedua platform tersebut menghadirkan pendekatan pemasaran digital yang luas dan terintegrasi, berhasil menanamkan persepsi kemudahan berbelanja online kepada konsumen mereka (Kehinde Adetola Adegoke dkk. , 2. Shopee, iklan digital mengarahkan konsumen ke halaman toko atau produk lengkap dengan foto, video produk, dan ulasan konsumen dalam bentuk teks dan video. TikTok sebagai platform berbasis media sosial menyediakan pengalaman berbelanja yang lebih lancar dan mudah dengan integrasi konten video pendek, penyertaan iklan, dan fitur belanja langsung sehingga produk yang ditemukan dapat dibeli oleh konsumen tanpa perlu berpindah aplikasi. Alur belanja yang mudah, berbasis gambar, dan melibatkan banyak hal sangat memperkuat perasaan bahwa pembelian online itu mudah selama pelanggan merasa bahwa hal itu lebih efisien, praktis, dan teratur (Afkar & Yusmaneli, 2. Oleh karena itu, dominasi Shopee dan TikTok dari penelitian ini semakin memperkuat peran pemasaran digital visual, interaktif, dan terintegrasi dalam membuat konsumen merasa nyaman selama transaksi online. Sementara itu. Social Currency menunjukkan pengaruh negatif dengan signifikansi marginal terhadap Online Shopping Convenience dengan nilai koefisien sebesar -0,188 dan nilai p < 0,10, sehingga H2 diterima secara terbatas. Hal ini berarti perhatian konsumen terhadap aspek sosial bisa menurunkan persepsi kemudahan dalam belanja online. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika konsumen terlalu memperhatikan aspek sosial, seperti citra diri, penilaian lingkungan, serta opini orang lain di media sosial, proses belanja justru dapat terasa lebih kompleks dan kurang praktis. Hal ini konsisten dengan temuan Li dan Zhang . , yang menyatakan bahwa upaya konsumen dalam manajemen kesan . mpression managemen. pada platform sosial justru memicu Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia kelelahan keputusan . ecision fatigu. Konsumen cenderung mengalokasikan waktu lebih lama untuk membandingkan produk, menganalisis ulasan, mengevaluasi tren, serta memastikan kesesuaian pilihan dengan ekspektasi sosial. Lebih lanjut. Wang dan Chen . menegaskan bahwa pengejaran Social Currency menciptakan hambatan terhadap efisiensi transaksi. Fokus berlebih pada validasi sosial dan tren memaksa konsumen melakukan verifikasi sosial yang lebih ekstensif, sehingga proses belanja daring terasa lebih kompleks dan melelahkan, yang bertentangan dengan prinsip kenyamanan belanja yang mengedepankan kecepatan dan Selanjutnya, hasil pengujian Online Shopping Convenience menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian dengan koefisien sebesar 0,283 dan p < 0,05, sehingga H4 diterima. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat kemudahan seperti akses, transaksi dan proses belanja, maka semakin tinggi pula kemungkinan mereka untuk melakukan pembelian. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa keamanan, kemudahan dan efisiensi transaksi pada platform online merupakan faktor utama keputusan pembelian konsumen, apalagi ada dukungan citra merek yang positif (Kurniawan et al. , 2. Kemudahan ini tercermin dari navigasi yang gampang, metode pembayaran yang beragam serta kecepatan pengiriman barang yang semuanya berkontribusi terhadap persepsi positif konsumen terhadap pengalaman berbelanja daring (Rosyadi & Mandasari, 2. Persepsi manfaat yang dirasakan konsumen dari kemudahan berbelanja online, seperti penghematan waktu dan kenyamanan akses, juga secara signifikan mempengaruhi keputusan pembelian (Maisaroh & Wibisono, 2. meskipun platform ini relatif baru, berkat dukungan modal kuat sebagai media sosial yang menjadi faktor utama dalam pengenalan cepatnya di kalangan masyarakat (Afkar & Yusmaneli, 2. Sebaliknya. Social Currency tidak berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian dengan koefisien sebesar -0,164 dan p > 0,05 sehingga H6 ditolak. Hal ini berarti bahwa aspek sosial yang dirasakan konsumen tidak dapat secara langsung mempengaruhi keputusan mereka untuk membeli sebuah produk. Karakteristik responden yang didominasi oleh penggunaan metode pembayaran COD dan pengeluaran di bawah Rp200. 000 memberikan penjelasan praktis mengapa Social Currency tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Pada tingkat pengeluaran ini, konsumen cenderung melakukan pembelian berbasis fungsi dan tradisi (Budaya Konsums. dibandingkan pencitraan sosial yang kompleks. Pembelian dengan nominal kecil dan metode pembayaran tunai menunjukkan prioritas konsumen pada kebutuhan dasar dan kemudahan transaksi, meminimalkan pengaruh validasi sosial atau citra yang sering diasosiasikan dengan produk atau layanan yang lebih mahal (Derivanti et al. Hasil ini juga didukung oleh penelitian lain di lingkungan mahasiswa pengguna shopee yang melaporkan bahwa social proof, yang berkaitan erat dengan Social Currency, tidak memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan pembelian maupun niat beli, meski harga memiliki pengaruh terhadap niat beli (Irma Christiana et al. , 2. Kemudian Budaya Konsumsi juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian dengan nilai koefisien sebesar 0,263 dan p < 0,05, sehingga H5 Hal ini berarti pola konsumsi dan perilaku konsumen secara budaya dapat menjadi faktor pendorong dalam memutuskan melakukan pembelian. Hal ini sejalan dengan penelitian (Sivathanu, 2. yang menyatakan bahwa pola konsumsi modern saat ini sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang dianut individu, di mana produk dianggap sebagai simbol status dan identitas budaya. pilihan busana yang serasi atau identik bagi pasangan di Sumbawa melambangkan keselarasan hidup . armony of lif. dan status sosial yang terhormat di mata masyarakat (Yuliatin et ,2. Selanjutnya pengujian efek mediasi menunjukkan bahwa Online Shopping Convenience secara signifikan memediasi pengaruh Budaya Konsumsi terhadap Keputusan Pembelian dengan nilai koefisien sebesar 0,111dan p < 0,05, sehingga H8 diterima. Hal ini berarti bahwa pola dan perilaku konsumsi konsumen memberikan dampak terhadap keputusan pembelian melalui peningkatan kemudahan belanja online. Penelitian yang dilakukan di Medan menunjukkan bahwa kemudahan berbelanja online secara langsung meningkatkan keputusan pembelian konsumen serta memperkuat peran mediasi kemudahan dalam konteks budaya yang berbeda (Zebua et al. , 2. Belanja melalui platform e-commerce memberikan kenyamanan yang tinggi, sehingga konsumen dapat melakukan pembelian sambil berbaring atau bahkan saat menonton hiburan (Murni, 2. Selain itu Digital Marketing juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian dengan koefisien sebesar 0,515 dan p < 0,01, sehingga H7 diterima. Strategi pemasaran digital yang efektif dapat mendorong konsumen untuk melakukan pembelian produk. Penelitian yang dilakukan pada platform e-commerce Shopee menunjukkan bahwa strategi Digital Marketing seperti program pengiriman gratis, promosi berkualitas, dan flash sales dapat secara signifikan meningkatkan keputusan pembelian konsumen (Ikut and Susanto, 2. Penelitian ini menunjukkan hal sama. Shopee sebagai platform belanja utama pilihan konsumen. Selain itu, berbagai bentuk Digital Marketing seperti email marketing, media sosial dan iklan online serta mobile marketing juga menjadi faktor pendorong dalam meningkatkan keputusan pembelian konsumen di Kathmandu Valley (Balampaki and Rawat, 2. Tidak dapat disangkal bahwa strategi pemasaran media sosial yang agresif turut mendorong konsumen untuk berbelanja melalui TikTok. Selain itu. Online Shopping Convenience juga berperan sebagai mediator signifikan dalam hubungan antara Digital Marketing dan Keputusan Pembelian dengan nilai koefisien 0,194 dan p < 0,05, yang mendukung H10. Temuan ini mengindikasikan bahwa strategi pemasaran digital dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen melalui peningkatan kemudahan berbelanja daring. Penelitian pada industri fashion Pakistan menunjukkan bahwa kemudahan belanja online, didukung oleh pemasaran media sosial dan pemasaran konten, secara signifikan mempengaruhi proses pengambilan keputusan pembelian. Kemudahan tersebut meningkatkan efektivitas strategi pemasaran digital dengan mempermudah konsumen dalam mengakses, mengevaluasi, dan melakukan transaksi produk secara daring, sehingga memperkuat pengaruh Digital Marketing terhadap keputusan pembelian (Siddiqui et al. , 2. Demikian pula, kemudahan aksesibilitas 24 jam dan kemampuan berbelanja dari mana saja merupakan keuntungan signifikan dari belanja online yang JEBI Vol. No. 2, pp. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia berkontribusi pada kenyamanan pelanggan (Mahmud et al. Namun, mediasi Online Shopping Convenience pada hubungan Social Currency terhadap Keputusan Pembelian tidak signifikan karena nilai p > 0,05 sehingga H9 ditolak. Online Shopping Convenience tidak selamanya menjadi jembatan bagi pengaruh sosial terhadap tindakan pembelian. Dalam lingkungan social commerce, motivasi sosial . eperti citra dir. dan motivasi fungsional . eperti kenyamana. seringkali berjalan di jalur yang berbeda (Lim et al. Konsumen yang mencari social currency cenderung terjebak dalam aktivitas pencarian informasi yang mendalam, yang justru bertolak belakang dengan aspek convenience yang mengutamakan efisiensi waktu. Selain itu, produk dengan nilai transaksi rendah, konsumen lebih mementingkan kepastian . eperti metode COD) daripada kemudahan (Wong & Suki Konsumen yang menginginkan produk murah cenderung mencari potongan harga dan gratis ongkos kirim, yang biasanya memerlukan waktu relatif lebih lama. Hal ini mengindikasikan bahwa bagi sebagian konsumen, upaya memperoleh keuntungan ekonomis seperti diskon atau gratis ongkir lebih diprioritaskan daripada kecepatan atau kemudahan transaksi (Irawan, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengujian menggunakan SEM-PLS, dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian baju couple pada resepsi pernikahan di Kabupaten Sumbawa secara nyata dibentuk oleh kombinasi nilai budaya dan kemudahan berbelanja secara daring, bukan oleh dorongan pencitraan sosial semata. Pertama, budaya konsumsi terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap online shopping convenience maupun langsung terhadap keputusan pembelian. Temuan ini menegaskan bahwa baju couple bukan sekadar produk fesyen, melainkan simbol kesesuaian nilai budaya, norma sosial, dan tradisi pernikahan yang masih kuat di masyarakat Sumbawa. Konsumen cenderung memilih produk yang secara praktis mendukung pelaksanaan nilai budaya tersebut, dan kemudahan belanja online memperkuat kecenderungan ini. Kedua. Digital Marketing menunjukkan pengaruh paling kuat dan konsisten, baik terhadap online shopping convenience maupun keputusan pembelian, serta dimediasi secara signifikan oleh online shopping convenience. Artinya, strategi pemasaran digital yang informatif, mudah diakses, dan responsif tidak hanya menarik perhatian konsumen, tetapi juga secara efektif meningkatkan persepsi kemudahan bertransaksi, yang pada akhirnya mendorong keputusan pembelian. Ketiga, social currency tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, baik secara langsung maupun melalui mediasi online shopping convenience. Bahkan, pengaruhnya terhadap online shopping convenience bersifat negatif dengan signifikansi terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa pembelian baju couple pada resepsi pernikahan di Kabupaten Sumbawa tidak didorong oleh keinginan untuk meningkatkan status sosial. Keempat, online shopping convenience terbukti berperan penting sebagai variabel Variabel ini secara signifikan memediasi pengaruh budaya konsumsi dan Digital Marketing terhadap keputusan pembelian, namun gagal memediasi pengaruh social currency. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa dalam konteks Kabupaten Sumbawa, nilai budaya dan JEBI Vol. No. 2, pp. kemudahan belanja online merupakan determinan utama keputusan pembelian baju couple, sementara nilai sosial berperan minimal. Temuan ini memberikan implikasi teoritis bahwa model perilaku konsumen pada produk berbasis tradisi perlu lebih menekankan dimensi budaya, serta implikasi praktis bagi pelaku usaha agar memprioritaskan strategi Digital Marketing yang sederhana, terpercaya, dan berorientasi pada kemudahan transaksi. DAFTAR PUSTAKA