MADIUN Vol. Tahun ke-7. April 2015 ISSN. FILOSOFI PENDIDIKAN YANG INTEGRAL DAN HUMANIS DALAM PERSPEKTIF MANGUNWIJAYA Agustinus Wisnu Dewantara PERAN KAUM DEWASA DALAM MENINGKATKAN KERASULAN DI BIDANG POLITIK BAGI KAUM MUDA DALAM TERANG DEKRIT APOSTOLICAM ACTUOSITATEM 12 Ola Rongan Wilhelmus dan Yuvinus Sujiman PEMBINAAN ROHANI KATOLIK TERHADAP NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 MADIUN Agustinus Supriyadi dan Vinansius Fentius Lase DEVOSI KEPADA BUNDA MARIA BERDASARKAN DOKUMEN MARIALIS CULTUS DAN PELAKSANAANNYA DI PAROKI MATER DEI MADIUN Don Bosco Karnan Ardijanto dan Ignatius Damar Putra KOMUNITAS BASIS GEREJANI SEBAGAI BASIS PEMBERDAYAAN IMAN UMAT DI PAROKI MATER DEI MADIUN Aloysius Suhardi dan Elisabet Sababak PERSEPSI MAHASISWA STKIP WIDYA YUWANA MADIUN TENTANG HUBUNGAN ANTARA PEMBINAAN SPIRITUALITAS DAN PEMBINAAN KARYA PASTORAL Yuventius Fusi Nusantoro dan Antonia Bamban Puspitasari ISSN Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan AyWidya YuwanaAy MADIUN 7 72 08 5 07435 1 JPAK JURNAL PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) adalah media komunikasi ilmiah yang dimaksudkan untuk mewadahi hasil penelitian, hasil studi, atau kajian ilmiah yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Katolik sebagai salah satu bentuk sumbangan STKIP Widya Yuwana Madiun bagi pengembangan Pendidikan Agama Katolik pada umumnya. Penasihat Ketua Yayasan Widya Yuwana Madiun Pelindung Ketua STKIP Widya Yuwana Madiun Penyelenggara Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana Madiun Ketua Penyunting Agustinus Wisnu Dewantara Penyunting Pelaksana DB. Karnan Ardijanto Agustinus Supriyadi Penyunting Ahli John Tondowidjojo Ola Rongan Wilhemus Armada Riyanto Sekretaris Aloysius Suhardi Alamat Redaksi STKIP Widya Yuwana Jln. Mayjend Panjaitan. Tromolpos: 13. Telp. Fax. Madiun 63137 Ae Jawa Timur Ae Indonesia Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) diterbitkan oleh Lembaga Penelitian. STKIP Widya Yuwana Madiun. Terbit 2 kali setahun (April dan Oktobe. PERSYARATAN PENULISAN ILMIAH DI JURNAL JPAK WIDYA YUWANA MADIUN Jurnal Ilmiah JPAK Widya Yuwana memuat hasil-hasil Penelitian. Hasil Refleksi, atau Hasil Kajian Kritis tentang Pendidikan Agama Katolik yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di Majalah/Jurnal Ilmiah lainnya. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris sepanjang 7500-10. kata dilengkapi dengan Abstrak sepanjang 50-70 kata dan 3-5 kata kunci. Artikel Hasil Refleksi atau Kajian Kritis memuat: Judul Tulisan. Nama Penulis. Instansi tempat bernaung Penulis. Abstrak (Indonesia/Inggri. Kata-kata Kunci. Pendahuluan . anpa anak judu. Isi . ubjudul-subjudul sesuai kebutuha. Penutup . esimpulan dan sara. Daftar Pustaka. Artikel Hasil Penelitian memuat: Judul Penelitian. Nama Penulis. Instansi tempat bernaung Penulis. Abstrak (Indonesia/Inggri. Kata-kata Kunci. Latar Belakang Penelitian. Tinjauan Pustaka. Metode Penelitian. Hasil Penelitian. Penutup . esimpulan dan sara. Daftar Pustaka Catatan-catatan berupa referensi disajikan dalam model catatan lambung. Contoh: Menurut Caputo, makna religius kehidupan harus berpangkal pada pergulatan diri yang terus menerus dengan ketidakpastian yang radikal yang disuguhkan oleh masa depan absolut (Caputo, 2001: . Kutipan lebih dari empat baris diketik dengan spasi tunggal dan diberi baris baru. Contoh: Religions claim that they know man an the world as these really are, yet they they differ in their views of reality. Question therefore arises as to how the claims to truth by various religions are related. Are they complementary? Do they contradict or overlap one another? What Aeaccording to the religious traditions themselvesAiis the nature of religious knowledge? (Vroom, 1989: . Kutipan kurang dari empat baris ditulis sebagai sambungan kalimat dan dimasukkan dalam teks dengan memakai tanda petik. Contoh: Dalam kedalaman mistiknya. Agustinus pernah mengatakan Ausaya tidak tahu apakah yang saya percayai itu adalah Tuhan atau bukan. Ay (Agustinus, 1997: . Daftar Pustaka diurutkan secara alfabetis dan hanya memuat literature yang dirujuk dalam artikel. Contoh. Tylor. , 1903. Primitive Culture: Researches Into the Development of Mythology. Philosophy. Religion. Language. Ert, and Custom. John Murray: London Aswinarno. Hardi, 2008. AuTheology of Liberation As a Constitute of Consciousness,Ay dalam Jurnal RELIGIO No. April 2008, hal. Borgelt. , 2003. Finding Association Rules with the Apriori Algorthm, http://w. uni-magdeburg. de/-borgelt/apriori/. Juni 20, 2007 Derivaties Research Unicorporated. http//fbox. 10021/business/finance/ dmc/RU/content. Accesed May 13, 2003 PERSEPSI MAHASISWA STKIP WIDYA YUWANA MADIUN TENTANG HUBUNGAN ANTARA PEMBINAAN SPIRITUALITAS DAN PEMBINAAN KARYA PASTORAL Yuventius Fusi Nusantoro dan Antonia Bamban Puspitasari STKIP Widya Yuwana Madiun Abstract As an institute that prepares a catechist aspirant. STKIP Widya Yuwana Madiun operated spirituality guidance and pastoral activity training and guidance. Because, spiritual's life and apolostate activity mutually support each other. But, guidance and training was held not necessarily got fully attentions. Based of the case, researcher intend obtain a deep understanding of student comprehention about spirituality and pastoral activity guidance in STKIP Widya Yuwana Madiun, and student perception about both connection. The research result indicate that STKIP Widya Yuwana Madiun's student observe a connection between spirituality guidance and pastoral activity guidance as an unity that mutually support each other. Student meaningful the spirituality and pastoral activity guidance based by it's purpose, that is by personal preparation, developing of relations with God and fellow, spirituality of attendance, and reaction concerning life vacation as a catechist aspirant. Keywords: perception. STKIP Widya Yuwana's student, connection, spirituality, pastoral Pendahuluan Pembinaan spiritualitas bagi para calon katekis merupakan suatu hal yang mendesak dan penting. Sebagai calon pewarta dan saksi iman, kedalaman hidup rohani perlu mendapat perhatian Seorang katekis harus hidup dalam Roh. Dengan demikian, karya pastoral yang dilaksanakannya menjadi bentuk kerjasama para katekis dengan Allah sendiri. Sebab Roh Allah bekerja melalui diri para katekis. Dengan kata lain, hidup doa dan karya kerasulan saling mendukung satu sama lain. Pembinaan yang akan menyuburkan karya kerasulan ialah pembinaan yang bersifat aneka dan lengkap (AA . Pembinaan bagi para calon katekis ini mencakup pembianaan intelektual dan spiritual. Pembinaan intelektual memberikan pendidikan teologi dan pastoral kepada calon katekis. Sedang pembinaan spiritual membantu para calon katekis untuk menyelami dan mengembangkan kedalaman hidup rohaninya. Tujuan pembinaan menurut Petunjuk Umum Katekese (PUK . adalah agar para katekis mampu menghayati dirinya sebagai rekan kerja Yesus Kristus dalam sejarah keselamatan. Dan kemudian sanggup mengkomunikasikan pesan Injil kepada mereka yang rindu menyerahkan diri kepada-Nya. Sebagai lembaga yang menyiapkan calon katekis. STKIP Widya Yuwana Madiun menyelenggarakan pembinaan spiritual dan pembinaan serta pelatihan pastoral. Kegiatan tersebut terbagi dalam kegiatan tahunan dan kegiatan mingguan. Kegiatan tahunan meliputi pembinaan berupa retret, ziarah, dan rekoleksi. Sedangkan kegiatan pembinaan mingguan berupa latihan meditasi, lectio divina, perayaan ekaristi, dan ibadat sabda/ibadat harian. Salah satu bentuk pembinaan dan pelatihan karya pastoral di STKIP Widya Yuwana Madiun, dilaksanakan melalui Program Pengenalan Lapangan Paroki (PPL Parok. Program ini dilaksanakan secara bertahap dalam 2 periode, yakni selama 4 semester. PPL Paroki dilaksanakan Ausebagai bentuk pengintegrasian pengabdian masyarakat dan pendidikan yang dilaksanakan oleh mahasiswa secara interdisipliner dan lintas sektoral yang dilaksanakan dalam lingkup wilayah Gerejawi/Paroki (STKIP, 2012 . : . Pembinaan dan pelatihan mingguan tidak selalu mendapatkan perhatian sepenuhnya dari para mahasiswa. Hal ini tampak pada penurunan prosentase kehadiran mahasiswa dalam pembinaan spiritualitas, seiring semakin tinggi status kemahasiswaannya. Hal ini tentu berlawanan dengan realitas karya pastoral yang dihadapi, yakni semakin tinggi status seorang calon katekis semakin banyak pula tantangan pastoral yang harus dihadapi. Dalam menyelesaikan penelitian ini, peneliti menggunakan metode kajian pustaka dan didukung dengan metode kualitatif. Metode ini dipilih karena penelitian ini menekankan keilmiahan sumber data serta keaslian latar belakang penelitian. Artinya data diambil langsung dari lapangan penelitian melalui suatu interaksi langsung antara peneliti dengan subjek yang diteliti. Penelitian ini dilaksanakan di STKIP Widya Yuwana Madiun. Penelitian ini dilakukan di STKIP Widya Yuwana Madiun. Alasan pemilihan tempat adalah: Pertama, karena belum ada penelitian dengan tema penelitian ini di STKIP Widya Yuwana Madiun. Kedua, peneliti juga menempuh pendidikan di STKIP Widya Yuwana Madiun, sehingga peneiti juga mendapatkan pembinaan spiritualitas dan pembinaan karya pastoral. Responden penelitian ini adalah mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun yang sedang mengalami dan menjalani pembinaan spiritualitas dan pembinaan karya pastoral, yakni mahasiswa tingkat II hingga tingkat IV. Adapun responden dalam penelitian ini adalah berjumlah 10 . orang responden. Kesepuluh responden tersebut terdiri dari mahasiswa: semester IV ada 4 . orang, semester VI ada 4 . orang, dan semester Vi ada 2 . II. Persepsi Mahasiswa Stkip Widya Yuwana Madiun Tentang Hubungan Antara Pembinaan Spiritualitas Dan Pembinaan Karya Pastoral Pembinaan bagi Katekis Pembentukan pribadi katekis, mengandaikan pembinaan yang menyeluruh dan serius. Pembinaan yang dimaksud ialah pembinaan yang bersifat aneka dan lengkap (AA . , mencakup pembinaan intelektual dan spiritual. Pembinaan intelektual memberikan pendidikan teologi dan pastoral kepada calon katekis. Sedang pembinaan spiritual membantu para calon katekis untuk menyelami dan mengembangkan kedalaman hidup rohaninya. AyPembinaan bagi para katekis dapat dilakukan melalui pembinaan berkala dan pembinaan rutinAy (Prasetya, 2011:. Pembinaan berkala dapat dilakukan tiga bulan sekali, enam bulan sekali, atau setahun sekali dengan aneka tema dan kepentingan. Pembinaan berkala semacam ini seringkali lebih menarik minat para katekis dibandingkan dengan pembinaan rutin. Pembinaan berkala dapat berupa retret atau rekoleksi. Sedangkan pembinaan rutin sangat menunjang bagi perkembangan seorang katekis. Melalui pembinaan rutin ini dapat tercapai tujuan dari pengolahan motivasi, spiritualitas, pengetahuan, dan ketrampilan katekis. Namun seringkali pembinaan jenis ini tidak menarik dan banyak kendala yang perlu dihadapi. Kendala yang sering muncul adalah kurangnya sikap dan semangat kesetiaan terhadap komitmen atas karya pewartaan (Prasetya, 2011: . Seluruh aspek pembinaan para katekis juga mengandung tujuan katekese kristosentris. Maksudnya ialah bahwa pembinaan dan pelayanan para katekis disadari dan diresapi oleh semangat kesatuan dengan Yesus Kristus (PUK . Kesatuan ini menyentuh secara langsung identitas katekis sebagai rekan kerja Yesus Kristus dalam sejarah keselamatan. Seluruh karya pelayanan dan pewartaan tidak lain adalah pewartaan tentang Kristus sendiri. Semua pembinaan memiliki sifat eklesial (PUK . Melalui pembinaan yang diterima dan dijalaninya, katekis dibantu untuk mengidentifikasi kesadaran Gereja tentang Injil. Kemudian bersamasama dengan Gereja mewartakan Injil - yang disadari, dihayati, diresapi dan dihidupinya - kepada dunia dengan menyesuaikannya dengan kebudayaan dan situasi masyarakat setempat. Menurut PUK 238, ada 3 dimensi yang dikandung dalam pembinaan para katekis, yaitu dimensi AyadaAy. AytahuAy, dan Aytahu-bertindakAy. Ada, maksudnya adalah tentang katekis itu sendiri, yakni selain menunjuk pada keberadaan katekis, juga menunjuk pada dimensi manusiawi dan Kristianinya. Dalam hal ini, pembinaan diharapkan dapat mematangkan para katekis sebagai pribadi, sebagai orang beriman, dan sebagai rasul. Pembinaan bagi katekis memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, kematangan pribadi. Calon katekis yang diharapkan dalam Pedoman untuk Katekis adalah Ayseorang pribadi yang memiliki kematangan sebagai manusia yang sesuai dengan perannya yang penuh tanggungjawab dalam komunitas gerejawiAy (PK, 2001: . Berdasarkan pada kemampuan dasar manusiawi yang sudah ada itulah pembinaan dan pendidikan katekis dijalankan. Melalui pembinaan dan pendidikan, kemampuan dasar para calon katekis dikembangkan dengan menambah ketrampilan-ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan bagi keberhasilan karya pelayanan. Kedua, memperdalam kehidupan rohani. AyPara katekis harus memiliki kehidupan rohani yang mendalam, sehingga dapat mendidik orang lain dalam hal iman (PK, 2001: . Ay. Kedalaman hidup rohani dapat dicapai melalui hidup doa yang subur dan terusmenerus. Karena karya pelayanan para katekis bukan semata-mata tergantung pada kemampuan dan ketrampilan dirinya sendiri dalam mengkomunikasikan pesan-pesan Injil. Tetapi lebih daripada itu tergantung pada rahmat Tuhan yang yang bekerja dalam hati orang yang mendengarkan-Nya (PK, 2001: . Ketiga, berkesinambungan. Pembinaan dan pendidikan seorang katekis tidak dapat berhenti hanya karena ia telah menyelesaikan pendidikannya pada suatu sekolah atau perguruan tinggi ilmu kateketik saja. Pembinaan dan pendidikan seorang katekis harus terus berlangsung secara terus-menerus selama seluruh perjalanan karya kerasulan yang dikerjakannya. Sebab, pribadi manusia pada dasarnya tidak pernah berhenti berkembang dari Dalam hal ini katekis harus dibantu untuk terus-menerus membina dirinya. Pembinaan ini mencakup pembinaan manusiawi, rohani, doktrin dan kerasulan (PK, 2001: . Pembinaan bagi katekis mengandung unsur-unsur sebagai Pertama, pembinaan biblis-teologis, yakni suatu pembinaan doktrinal bagi katekis. Pembinaan ini dijiwai oleh Kitab Suci dan didasari oleh Katekismus Gereja Katolik sebagai titik referensi doktrinal, tentunya juga menyesuaikan dengan katekismus Gereja Partikular. Kedua, ilmu pengetahuan manusiawi. Dalam pembinaan katekis, teologi dan ilmu pengetahuan manusia hendaknya saling Melalui ilmu pengetahuan manusiawi tersebut, katekis memperoleh pengetahuan tentang manusia dan kondisi riil dimana ia Hal ini perlu, mengingat pesan-pesan biblis-teologis dari iman kristiani akan disampaikan kepada mereka (PUK . Ketiga, pembinaan pedagogis. Pembinaan ini memperhitungkan juga realitas yang berkaitan dengan pedagogi iman yang Pembinaan bagi katekis selain memiliki dimensi ada dan tahu, juga harus menekankan dimensi tahu-bertindak. Dimensi tahubertindak dalam pembinaan merupakan suatu bentuk pembinaan yang berkaitan erat dengan praksis. Tujuan dari pembinaan ini ialah supaya katekis Aymelaksanakan apa yang selama ini telah mereka pelajari, dengan menjadi kreatif dalam pembinaan dan tidak hanya menerapkan peraturan-peraturan lahiriah (PUK . Ay. Keempat, pembinaan dalam komunitas kristiani. Pembinaan bagi para katekis berlangsung secara terus-menerus dan berkesinambungan, yang terjadi selama katekis melaksanakan karya kerasulannya sebagai saksi dan guru yang mengajar iman. Dengan demikian, pembinaan secara terus menerus terjadi dalam komunitas Kristiani dimana ia melaksanakan karya-karya pastoralnya. Petunjuk Umum Katekese (PUK . menyatakan bahwa melalui pembinaan dalam komunitas Kristiani, mereka menguji panggilannya dan secara terus menerus menyuburkan kesadaran kerasulannya. Pembinaan Spiritualitas Pembinaan spiritualitas bagi para katekis memiliki tujuan yang bersifat Kristosentris, eklesial dan dimensial. Kristosentris, berarti Kristus menjadi fokus dari pembinaan dan perkembangan hidup rohani katekis. Pembinaan bermaksud membantu katekis untuk melihat bahwa Kristus menjadi pusat dan tujuan dari hidup rohani dan karya pastoral yang dikerjakannya (PUK . Bersifat eklesial, maksudnya melalui pembinaan, para katekis semakin bersatu dengan Gereja setempat, sehingga semangat pastoral dalam dirinya semakin bertumbuh. Dan dengan demikian menyadari bahwa seluruh tindakan dan karya pelayanannya berada dalam konteks persatuannya dengan Gereja, terutama dengan Gereja lokal/setempat (PUK . Bersifat dimensial, menurut PUK 238, artinya tujuan pembinaan spiritualitas bagi katekis menunjuk pada keberadaan katekis itu sendiri, dimensi manusiawinya dan kristianinya . imensi Kemudian juga menuntut katekis untuk memiliki pengetahuan yang cukupdan relevan, baik tentang pesan yang akan disampaikan maupun tentang penerima pesan tersebut . imensi tah. Serta pembinaan spiritualitas juga menolong seorang katekis untuk mengkomunikasikan pesan-pesan Injil ke dalam kehidupan manusia . imensi tahu-bertinda. Demi mencapai tujuan tersebut, pembinaan spiritulalitas bagi katekis dapat dilakukan melalui pembinaan berkala dan pembinaan Pembinaan berkala yang diberikan STKIP Widya Yuwana Madiun, yakni berupa retret yang diadakan setahun sekali, rekoleksi pada masa prapaskah dan masa adven, pelatihan, dan seminar. Pembinaan rutin dilaksanakan pada pukul 07. 50 WIB setiap hari Senin sampai Sabtu. Pembinaan Karya Pastoral Karya Pastoral adalah usaha-usaha penggembalaan umat sebagai bentuk pelaksanaan tri tugas Kristus, yakni tugas pengajaran, pengudusan, dan pelayanan. Dengan menerima pembaptisan, umat beriman kristiani dipersatukan di dalam Kristus dan turut serta ambil bagian dalam tiga tugas ini. Secara khusus, tri tugas Kristus ini dihidupi dan dijalankan oleh para imam, diakon, katekis, dan guru Karya pastoral adalah upaya atau tindakan yang terencana untuk menghadirkan karya penyelamatan Allah di tengah jemaat. Sebagai suatu kegiatan yang terencana, karya pastoral dalam pelaksanaannya mengandaikan adanya kerjasama antara Pastor Paroki, katekis, umat, dan petugas pastoral lainya yang berada dalam lingkup reksa pastoral paroki atau Gereja setempat. Karya pastoral memiliki arah gerak vertikal dan horisontal, yakni seperti bentuk salib Yesus Kristus. Karya pastoral bergerak dari atas ke bawah, artinya pastoral bergerak dari Allah menuju kepada Kehendak Allah akan keselamatan manusia bermakna bahwa keselamatan itu secara total dan diperuntukkan bagi semua Namun, pastoral juga mengandaikan suatu jawaban, yakni pembalikan diri kepada Allah. Suatu relasi pastoral akan terjalin dan berkembang bila manusia menjadi beriman . an Hooijdonk, 1989: . Pastoral bergerak horisontal/menyamping, untuk manusia dan oleh manusia. AySejak Yesus dari Nazaret hal itu terjadi oleh Gereja Ae terutama oleh Gereja, menurut keyakinan kita, maka tidak hanya oleh Gereja sajaAy . an Hooijdonk, 1989: . AyPastoral ini bertolak dari manusia, mendampinginya dalam ketidak-sempurnaan imannya, dan menjadi perantara sedemikian, hingga sabda Kitab Suci dan sakramen dapat menjadi titik pengenalan dan pertemuan antara manusia dengan AllahAy . an Hooijdonk, 1989: . Pastoral juga memiliki sifat hierarkis. Pastoral merupakan suatu tugas yang diserahkan kepada Uskup dan para imam . an Hooijdonk, 1989: . Kenyataan akan medan pastoral yang luas mengandaikan kerjasama antara awam dan klerus untuk melaksanakan tugas pastoral ini. Dalam rangka menghadirkan karya keselamatan Allah di tengah jemaat, karya pastoral menempatkan dirinya dalam panca tugas Gereja. Dengan demikian bidang-bidang karya pastoral adalah pewartaan . , ibadat . , pelayanan . , persekutuan . ,dan kesaksian hidup . Sesuai dengan tugas dan identitasnya sebagai lembaga pendidikan para calon katekis, saksi dan guru iman. STKIP Widya Yuwana Madiun menyelenggarakan pula pembinaan karya pastoral bagi para mahasiswanya. Pembinaan karya pastoral di STKIP Widya Yuwana Madiun salah satunya dilaksanakan dalam PPL Paroki. Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap selama 4 periode atau 4 semester. Berdasarkan Pedoman PPL Paroki bab V pasal 8 (STKIP, 2012 . : . , bentuk dari kegiatan ini berupa Aypraktek mingguan . dan praktek turba hari raya Natal dan hari raya Paska . ive i. Ay. Penentuan wilayah praktikum ini ditentukan oleh unit PPL paroki, dengan berbagai pertimbangan (STKIP, 2012 . : . Berdasarkan Pedoman PPL Paroki, kegiatan praktikum lapangan merupakan Aybentuk pengintegrasian pengabdian masyarakat dan pendidikan yang dilaksanakan oleh mahasiswa secara interdisipliner dan lintas sektoral yang dilaksanakan dalam lingkup wilayah gerejawi/parokiAy. Kegiatan ini dilaksanakan untuk membina Ayaspek-aspek soft skills yang membentuk karakter mahasiswa STKIP Widya Yuwana MadiunAy. Aspek yang dimaksud antara lain adalah Aypengembangan kepribadian, spiritualitas pelayanan, tanggapan terhadap panggilan kateketis dan hidup kerasulanAy (STKIP, 2012: . Kegiatan PPL Paroki meliputi juga pendampingan persiapan praktikum lapangan dan laporan pelaksanaan kegiatan praktikum. praktikum lapangan. bimbingan atau pendampingan lapangan oleh dosen pembimbing dan pembimbing luar biasa di lapangan. dan evaluasi pengalaman praktikum lapangan (STKIP, 2012 . : . Praktikum lapangan dalam PPL Paroki merupakan kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan sebagai salah satu indikator untuk menentukan ketuntasan mahasiswa dalam menempuh program studi ini. Hasil Analisa Data Penelitian Persepsi Mahasiswa Stkip Widya Yuwana Madiun Tentang Hubungan Antara Pembinaan Spiritualitas Dan Pembinaan Karya Pastoral Berdasarkan hasil analisa terkait pemahaman mahasiswa akan pembinaan spiritualitas diketahui bahwa, mahasiswa memahami pembinaan spiritualitas di STKIP Widya Yuwana Madiun sebagai pembinaan yang dilaksanakan setiap pagi dengan bentuk kegiatan antara lain meditasi, lectio divina, dan perayaan ekaristi. Mahasiswa melihat tujuan pembinaan spiritualitas, adalah memperdalam relasi dengan Tuhan. mengembangkan hidup rohani. dan mengembangkan diri/pribadi. Mahasiswa juga memahami bahwa pembinaan spiritualitas memberikan pengajaran berbagai hal tentang iman. Berdasarkan hasil analisa terkait motivasi mahasiswa dalam mengikuti pembinaan spiritualitas, mahasiswa sering kali mengikuti pembinaan dengan terpaksa untuk memenuhi presensi. Akan tetapi mahasiswa juga menyadari bahwa pembinaan tersebut penting dan Sebagian besar mahasiswa memiliki motivasi mengikuti pembinaan spiritualitas demi pengembangan diri atau pribadinya dan juga demi memperoleh buah-buah dari pembinaan. Berdasarkan hasil analisa terkait perasaan dan keterlibatan mahasiswa dalam mengikuti pembinaan spiritualitas, diketahui bahwa yang perasaan yang muncul adalah perasaan negatif. Perasaan tersebut adalah rasa malas, bosan, asal, terpaksa, dsb. Berdasarkan tingkat keterlibatannya, seperlima dari mahasiswa yang menjadi responden menyatakan kurang terlibat dalam pembinaan Sebagian besar menyatakan cukup dan berusaha untuk terlibat secara aktif sebagai peserta dalam pembinaan spiritualitas, bahkan berusaha membagikan pengalamannya dalam pembinaan Sementara sebagian lainnya menyatakan diri terlibat secara aktif dan serius dalam mengikuti pembinaan spiritualitas selama ini. Berdasarkan hasil dari analisa terkait buah-buah pembinaan spiritualitas, ternyata secara keseluruhan, mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun berpendapat bahwa pembinaan spiritualitas memberikan perkembangan pada pribadi mereka. Perkembangan pribadi ini terbagi menjadi dua. Pertama, perkembangan diri sendiri berupa pengolahan diri, wawasan, dan keutamaan. Kedua, perkembangan diri sendiri dalam relasinya dengan Tuhan, berupa kedekatan, iman dan sakramen. Berdasarkan hasil dari analisa terkait pemahaman mahasiswa akan PPL Paroki sebagai salah satu bentuk pembinaan karya pastoral disimpulkan bahwa, mahasiswa memahami PPL Paroki sebagai dua kegiatan, yakni PPL Lingkungan yang dilaksanakan di dalam kota Madiun dan PPL Stasi yang pelaksanaannya di stasi-stasi di wilayah keuskupan Surabaya. Mahasiswa memaknai pelaksanaan PPL Paroki memiliki tujuan antara lain, sebagai suatu sarana membangun relasi, baik kepada umat maupun masyarakat . engan orang-orang mengajak mahasiswa belajar, mengolah diri dan menimba pengalaman-pengalaman iman, baik dalam hidup menggereja maupun dalam kehidupan keluarga-keluarga kristiani, dari umat yang Bersamaan dengan itu. PPL Paroki juga menjadi tempat atau sarana bagi mahasiswa untuk dapat mengaplikasikan teori yang telah didapat selama perkuliahan melalui praktik di lapangan dalam pembangunan jemaat. Berdasarkan hasil analisa terkait motivasi mahasiswa dalam melaksanakan PPL Paroki diketahui bahwa, sebagian besar maha75 siswa adalah demi mempersiapkan masa depan sebagai katekis. Mahasiswa menyadari bahwa PPL Paroki berhubungan dengan panggilan sebagai katekis, sehingga muncul keinginan untuk berkumpul, hidup bersama . , dan membangun relasi dengan umat. Dengan demikian, muncul pula kesadaran bahwa mereka harus belajar dengan melihat, terjun dan terlibat secara langsung di lapangan, sehingga kelak tidak asing lagi dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi ketika bekerja di tengah Di samping itu, motivasi lain adalah untuk memperoleh poin atau nilai. Mereka melihatnya sebagai tugas dari lembaga. Berdasarkan hasil analisa data terkait perasaan dan keterlibatan mahasiswa dalam melaksanakan PPL Paroki, diketahui bahwa perasaan yang muncul ada perasaan positif dan ada perasaan negatif. Berdasarkan tingkat keterlibatannya, sebagian mengatakan bahwa mereka terlibat aktif dalam melaksanakan PPL Paroki dan sebagian lainnya tergolong cukup. Dalam melaksanakan PPL Paroki, mahasiswa juga terlibat dalam aneka kegiatan dan pelayanan. Berdasarkan hasil analisa terkait buah-buah PPL Paroki, menurut mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun berdasarkan hasil penelitian ada 3, yakni bagi perkembangan diri sendiri, bagi relasi dengan orang lain, dan bagi masa depan sebagai seorang katekis. Berdasarkan hasil analisa terkait persepsi mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun tentang hubungan antara pembinaan spiritualitas dan pembinaan karya pastoral, secara keseluruhan mahasiswa STKIP Widya Yuwana berpendapat bahwa pembinaan spiritualitas dan pembinaan karya pastoral (PPL Parok. saling mendukung satu sama lain. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa pembinaan spiritualitas dan pembinaan karya pastoral (PPL Parok. dua hal yang berbeda, tidak saling berkaitan. IV. Kesimpulan Pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa di STKIP Widya Yuwana Madiun dilakukan melalui pembinaan berkala dan pembinaan rutin. Pembinaan berkala yang diberikan STKIP Widya Yuwana Madiun, yakni berupa retret yang diadakan setahun sekali, rekoleksi pada masa Prapaskah dan masa Adven, pelatihan, dan Pembinaan rutin dilaksanakan pada pukul 07. 50 WIB setiap hari Senin sampai Sabtu. Pembinaan rutin yang dilaksanakan berupa latihan rohani . , lectio divina, refleksi bersama . agi mahasiswa tahun I dan II), ibadat harian/ofisi, dan perayaan ekaristi. Jadwal kegiatan pembinaan rutin berdasarkan arsip BAAK dijelaskan sebagai berikut. Hari Senin, mahasiswa tingkat I dan tingkat II melaksanakan latihan rohani . sedangkan mahasiswa tingkat i dan tingkat IV melaksanakan lectio divina. Hari Selasa, seluruh mahasiswa mulai dari tingkat I hingga tingkat IV melaksanakan pendampingan mahasiswa bersama dosen wali studi masing-masing. Hari Rabu, seluruh mahasiswa mengikuti perayaan Ekaristi harian di STKIP Widya Yuwana Madiun. Hari Kamis, seluruh mahasiswa mulai dari tingkat I hingga tingkat IV melaksanakan tugas pelayanan di gereja, yakni menjadi petugas liturgi untuk perayaan Ekaristi di gereja Mater Dei . ntuk tingkat I dan tingkat II) dan gereja St. Cornelius . ntuk tingkat i dan tingkat IV). Hari Jumat, seluruh mahasiswa mengikuti perayaan Ekaristi harian di STKIP Widya Yuwana Madiun. Dan hari Sabtu, mahasiswa tingkat I dan tingkat II melaksanakan refleksi bersama sedangkan mahasiswa tingkat i dan tingkat IV melaksanakan ofisi/ibadat Sabda (STKIP, 2012 . : arsi. Pembinaan karya pastoral di STKIP Widya Yuwana Madiun salah satunya dilaksanakan dalam PPL Paroki. Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap selama 4 periode atau 4 semester. Berdasarkan Pedoman PPL Paroki bab V pasal 8 (STKIP, 2012 . : . , bentuk dari kegiatan ini berupa Aypraktek mingguan . dan praktek turba hari raya Natal dan hari raya Paska . ive i. Ay. Kegiatan PPL Paroki ini dibagi menjadi dua wilayah, yakni dalam kota dan luar kota. Pembinaan karya pastoral di dalam kota maksudnya adalah pelaksanaan PPL Paroki di dalam kota Madiun, yakni mahasiswa ditugaskan untuk praktek di lingkunganlingkungan yang berada dalam wilayah paroki-paroki di kota Madiun. Sedangkan pembinaan karya pastoral di luar kota mencakup wilayah yang lebih luas. Wilayah pelaksanaan PPL Paroki adalah Aystasi-stasi yang relatif jauh dari pusat paroki wilayah Keuskupan Surabaya yang dari segi jarak terjangkau dari kota MadiunAy. Penentuan wilayah praktikum ini ditentukan oleh unit PPL paroki, dengan berbagai pertimbangan (STKIP, 2012 . : . Dalam pembinaan karya pastoral ini terdapat serangkaian kegiatan karya pelayanan dan pewartaan yang dilakukan oleh mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun di tengah umat dalam bentuk PPL Paroki, baik di dalam maupun di luar kota (PPL Paroki . Aysebagai aplikasi teori dalam bentuk kerja nyata di lapanganAy (STKIP, 2009: . Berdasarkan Pedoman PPL Paroki, kegiatan praktikum lapangan merupakan Aybentuk pengintegrasian pengabdian masyarakat dan pendidikan yang dilaksanakan oleh mahasiswa secara interdisipliner dan lintas sektoral yang dilaksanakan dalam lingkup wilayah gerejawi/parokiAy. Kegiatan ini dilaksanakan untuk membina Ayaspek-aspek soft skills yang membentuk karakter mahasiswa STKIP Widya Yuwana MadiunAy. Aspek yang dimaksud antara lain adalah Aypengembangan kepribadian, spiritualitas pelayanan, tanggapan terhadap panggilan kateketis dan hidup kerasulanAy (STKIP, 2012: . Secara umum, mahasiswa STKIP Widya Yuwana berpendapat bahwa pembinaan spiritualitas dan pembinaan karya pastoral (PPL Parok. saling mendukung satu sama lain. Menurut mahasiswa, pembinaan spiritualitas membantu dalam mengolah diri, sehingga tidak mudah putus asa saat mengalami pergulatan atau masalah, melainkan berusaha tenang dan berfikir jernih untuk kemudian mencari solusi. Pembinaan spiritualitas juga membantu dalam melaksanakan PPL Paroki, karena dapat menjadi sarana untuk melatih keberanian dan kepercayaan diri sebelum terjun ke lapangan. Di dalam kegiatan pembinaan tersebut dosen pembimbing juga memberikan pengarahan tentang apa yang sebaiknya dilakukan ketika pergi ke tempat PPL, serta melalui perayaan sakramen semakin diteguhkan dan dikuatkan dalam melayani umat. Pembinaan spiritualitas memang membantu dalam melaksanakan PPL Paroki, namun semua itu juga mengandaikan keterbukaan dan kesediaan untuk berbagi pengalaman dari tiap-tiap pribadi serta mengolahnya, sehingga hal itu benar-benar membantu. Di samping itu. PPL Paroki juga memberi bantuan dalam mengikuti pembinaan spiritualitas di hari-hari selanjutnya. PPL Paroki memberikan pengalaman-pengalaman baru yang selanjutnya menjadi bahan untuk direfleksikan dalam pembinaan spiritualitas. Bahkan PPL Paroki membantu mahasiswa untuk merenungkan kembali dan menyelami kehendak Tuhan bagi dirinya. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta: Jakarta. Banawiratma. Iman. Pendidikan dan Perubahan Sosial. Kanisius: Yogyakarta. Janssen. Didaktik. IPI: Malang. ------------ 1993. Pembinaan Iman dan Remaja. IPI: Malang. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013. Pendidikan Agama Katolik dan Budi PekertiBuku Guru. Balitbang Kemdikbud: Jakarta Komisi Kateketik KWI, 2007. Silabus Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar. Kanisius: Yogyakarta. Komisi Pendidikan KWI. Deklarasi Tentang Pendidikan Kristen. Komisi Pendidikan: Jakarta. KWI, 2004. Pendidikan Agama Katolik untuk SMA/SMK. Kanisius: Yogyakarta. Magnis. Franz. Etika Dasar. Kanisius: Yogyakarta. Mangunhardjana. M, 1989. Pendampingan Kaum Muda. Kanisius: Yogyakarta. Martasudjita. Spiritualitas Liturgi. Kanisius: Yogyakarta. --------------- 2008. Pembinaan Generasi Muda. Kanisius: Yogyakarta. Moleong. Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosda: Bandung. Pareira. Pendidikan Nilai di Tengah Arus Globalisasi. Dioma: Malang. Patilima. Hamid. Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta: Bandung. Prasetya. Keterlibatan Awam Sebagai Anggota Gereja. Dioma: Malang Rukiyanto. Pewartaan Di Zaman Global. Kanisius: Yogyakarta. Sewaka. Ajaran Dan Pedoman Gereja Tentang Pendidikan Katolik. Grasindo: Jakarta. Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Alfabeta: Bandung. Sujarweni. Wiratna. Metodologi Penelitian. Pustaka Baru