GENTA MULIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan eissn: 25806416 pISSN: 23016671 PENINGKATAN KEMAMPUAN BERTANYA SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PROBLEM POSING DI KELAS Vi-A MTs DARUSSALAM CILONGOK BANYUMAS Chandra S Haratua1. Ivka Sulis Setyawati2. Wahyu Ana Fitriyani3. Novia Nurhanifah4. Ika Meilina5 1,2,3,4,5Program Studi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Pascasarjana. Universitas Indraprasta PGRI Email: anapwdd10@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bertanya siswa dengan menggunakan penerapan metode problem posing pada mata pelajaran matematika di kelas Vi A MTs Darussalam Cilongok. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan bertanya siswa kelas Vi A Mts Darussalam Cilongok mengalami peningkatan setelah mengikuti pembelajaran problem posing. Pada tahap pengajuan soal selama tindakan problem posing berlangsung, siswa mampu membuat soal sesuai dengan materi pelajaran. Indikator kemampuan siswa dalam mengajukan pertanyaan sebagai acuan dalam penelitian ini adalah isi pertanyaan, pengungkapan verbal atau kalimat yang digunakan serta kategori jenis Kata-kata kunci: Problem Posing. Kemampuan Bertanya PENDAHULUAN Anak-anak pada dasarnya memiliki keingintahuan yang besar terhadap dunia di sekitar mereka. Mereka sangat ingin tahu tentang segala hal yang baru dan menarik bagi mereka. Rasa keingintahuan eissn: 25806416 pISSN: 23016671 GENTA MULIA- JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua anak merupakan dorongan alami yang membantu mereka belajar, mengembangkan keterampilan, dan memahami dunia di sekitar Pada pendidikan formal di sekolah siswa biasanya diberikan pertanyaan yang bertujuan untuk mengukur kemampuan mereka secara langsung, namun kenyataannya tidak begitu. Beberapa siswa bahkan banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam bertanya atau mengungkapkan pendapat mereka. Bertanya belum menjadi sebuah rutinitas, kebiasaan, ataupun, keharusan, atau budaya, yang diwajibkan kepada siswa baik di dalam kelas ataupun di luar kelas. Bagi sebagian siswa, bertanya masih menjadi sesuatu menakutkan sehingga mereka lebih memilih diam agar merasa aman dan nyaman. Bertanya adalah tanda rasa keingintahuan dan ketertarikan seseorang untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik. Brown . 7: 10-. berpendapat bahwa memberikan pertanyaan pada siswa ketika di kelas berbeda ketika dalam keseharian. Guru bertanya bukan untuk memperoleh pengetahuan yang baru namun untuk memastikan apakah siswa sudah benar-benar paham dengan materi yang telah disampaikan atau belum. Tidak jarang guru mengalami kesulitan apabila sedang berada dalam keadaan seperti itu, bagaimana cara memotivasi siswa agar au bertanya atau menjawab Hal ini juga terjadi di kelas Vi A MTs Darussalam Cilongok pada mata pelajaran matematika. Hanya beberapa siswa saja yang dapat dikatakan aktif dengan memberikan feedback pada guru, entah itu bertanya, menjawab atau berpendapat, dan terlihat dua hingga tiga siswa saja yang mengacungkan tangan. Banyaknya siswa yang tidak memberikan feedback inilah yang membuat kesan pasif di mata guru, sehingga berimbas pada anggapan guru bahwa kelas Vi A kelas yang pasif dibanding kelas lainnya. Menurut sebagian besar siswa, salah satu pelajaran yang dianggap sulit pada pendidikan dasar dan menengah adalah . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua Hal ini karena matematika berhubungan dengan ide-ide dan konsep-konsep yang abstrak. Sebagaimana pernyataan Hudoyo . bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide dan konsepkonsep yang abstrak dan tersusun secara hierarki dan penalarannya Karena konsep matematika yang tersusun secara hierarki, maka dalam belajar matematika tidak boleh ada langkah/tahapan konsep yang dilewati. Matematika hendaknya dipelajari secara sistematis dan teratur serta harus disajikan dengan struktur yang jelas dan harus disesuaikan dengan perkembangan intelektual siswa serta kemampuan prasyarat yang telah dimilikinya. Dengan demikian pembelajaran matematika akan terlaksana secara efektif dan efisien. Pentingnya pemahaman konsep matematika terlihat dalam tujuan pertama pembelajaran matematika menurut Depdiknas (Permendiknas no 22 tahun 2. yaitu memahami konsep mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika di atas maka setelah proses pembelajaran siswa diharapkan dapat memahami suatu konsep matematika sehingga dapat menggunakan kemampuan tersebut dalam menghadapi masalahAemasalah Jadi dapat dikatakan bahwa pemahaman konsep merupakan bagian yang paling penting dalam pembelajaran Berdasarkan penjelasan di atas maka pemahaman konsep perlu ditanamkan kepada peserta didik sejak dini yaitu sejak anak tersebut masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka dituntut mengerti tentang definisi, pengertian, cara pemecahan masalah maupun pengoperasian matematika secara benar. Karena hal tersebut akan menjadi bekal dalam mempelajari matematika pada jenjang GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua pendidikan yang lebih tinggi. Menurut Slameto . pembelajaran matematika sangat ditentukan oleh strategi dan pendekatan yang digunakan dalam mengajar matematika itu sendiri. Belajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. Oleh karena itu guru dituntut untuk profesional dalam menjalankan tugasnya. Guru yang profesional adalah guru yang selalu berpikir akan dibawa ke mana anak didiknya, serta dengan apa mengarahkan anak didiknya untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan berbagai inovasi Salah satu pendekatan pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika untuk mengembangkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa adalah menggunakan pendekatan problem posing. Pembelajaran dengan pendekatan problem posing adalah pembelajaran yang menekankan pada siswa untuk membentuk/mengajukan soal berdasarkan informasi atau situasi yang diberikan. Informasi yang ada diolah dalam pikiran dan setelah dipahami maka peserta didik akan bisa mengajukan pertanyaan. Dengan adanya tugas pengajuan soal . roblem posin. akan menyebabkan terbentuknya pemahaman konsep yang lebih mantap pada diri siswa terhadap materi yang telah diberikan. Kegiatan itu akan membuat siswa lebih aktif dan kreatif dalam membentuk pengetahuannya dan pada akhirnya pemahaman siswa terhadap konsep matematika siswa lebih baik lagi. Maka berdasarkan permasalahan yang sudah dipaparkan, peneliti berupaya meningkatkan kemampuan bertanya siswa dengan menggunakan penerapan metode problem posing pada mata pelajaran matematika di kelas Vi A MTs Darussalam Cilongok . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua METODE Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dimana hasil dari penelitian ini mendeskripsikan penerapan pembelajaran problem posing yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan bertanya siswa. Jenis penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini menggunakan model Kemmis & Mc Taggart yang terdiri dari empat tindakan, yaitu . perencanaan atau planning, . tindakan atau action, . pengamatan atau observing, dan . refleksi atau reflecting (Suharsimi Arikunto, 2010: 131-. Pada penelitian ini peneliti berpartisipasi langsung dalam setiap proses tindakan penelitian dengan dibantu oleh guru, rekan sejawat dan didukung oleh siswa. Penelitian ini dilaksanakan di Mts Darussalam yang beralamat di komplek Yayasan Pendidikan Islam Darussalam Rt 04/Rw 02 Desa Panusupan Kecamatan Cilongok. Kabupaten Banyumas. Subjek penelitian adalah siswa kelas Vi A Tahun Ajaran 2022/2023 sebanyak 32 siswa. Pemilihan subjek berdasarkan permasalahan yang bersumber dan terjadi dikelas. Tahap perencanaan dilakukan untuk mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan tindakan yang akan dilaksanakan di dalam kelas, seperti Rencana Perangkat Pembelajaran (RPP). Lembar Kerja Siswa (LKS), menyiapkan media pembelajaran. Tahap tindakan merupakan penerapan dari isi rancangan tindakan yang telah Rancangan dalam bentuk RPP diterapkan oleh guru mapel Pelaksanaan tindakan berupaya memperbaiki atau mengatasi permasalahan yang terjadi dalam kelas tersebut. Tahap pengamatan dilakukan pada saat tahap tindakan Pengamatan dan tindakan berjalan bersamaan dengan kolaborasi antara guru, peneliti serta siswa yang sedang diobservasi sebagai acuan untuk mengamati jalannya metode problem posing. Tahap refleksi adalah tahap untuk mengemukakan kembali dan . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua mengevaluasi keberhasilan kegiatan pembelajaran. Hasil pelaksanaan tindakan yang sudah diperoleh kemudian didiskusikan bersama guru apakah ada peningkatan kemampuan bertanya siswa setelah tindakan dilaksanakan. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar validasi, lembar observasi aktivitas guru dan siswa, tes kemampuan bertanya dan catatan lapangan. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatifyang diperoleh dari hasil observasi dan catatan lapangan ketika tindakan berlangsung. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil observasi aktivitas guru dan siswa serta hasil kemampuan bertanya siswa. Berdasarkan hasil tindakan guru dan siswa, dapat disimpulkan bahwa pada siklus I tergolong kategori AubaikAy. Kemudian pada siklus II, hasil observasi menunjukkan peningkatan sehingga tergolong kategori Ausangat baikAy. Hasil kemampuan bertanya siswa setelah melaksanakan pembelajaran problem posing sebagai berikut. Tabel 1 Hasil Kemampuan Bertanya Siswa Siklus I dan Siklus Indikator Kualitas Pertanyaan Relevansi Materi Bahasa Kemampuan Bertanya Siswa Siklus I Siklus II Persentase Presentase Kategori Kategori (%) (%) 68,75 Rendah Sedang 90,63 65,66 Tinggi Rendah Tinggi Sedang . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua Berdasarkan data dari hasil observasi dan tes kemampuan bertanya siswa yang dihitung secara klasikal menunjukkan bahwa persentase skor kualitas pertanyaan pada siklus I yaitu 68,75% dan 81,2% pada siklus II. Skor relevansi materi yaitu 90. 63% pada siklus I dan 93,7% pada siklus II. Persentase skor bahasa yaitu 65,66% pada siklus I dan 84,4% pada siklus II. Pada indikator relevansi materi disiklus I dan II termasuk kategori AutinggiAy. Pada indikator bahasa di siklus I masih tergolong kategori AurendahAy kemudian pada siklus II semua siswa tergolong dalam kategori AusedangAy. Dan yang terakhir, pada indikator kualitas pertanyaan siswa mampu membuat pertanyaan pemahaman pada siklus I dan meningkat dengan membuat pertanyaan penerapan dan analisis pada siklus II. Pembahasan Peneliti membatasi pembahasan dalam penelitian ini dengan beberapa indikator-indikator. Indikator tersebut meliputi kualitas pertanyaan, relevansi materi, dan bahasa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan bertanya siswa kelas Vi A Mts Darussalam Cilongok mengalami peningkatan setelah mengikuti pembelajaran problem posing. Hal ini terlihat dari hasil yang diperoleh berdasarkan skor siswa untuk masing-masing indikator. Kualitas Pertanyaan Pada pelaksanaan pembelajaran problem posing ini, terlebih dulu guru memberikan beberapa model contoh soal kepada siswa dengan tujuan untuk memudahkan dan merangsang ide-ide siswa dalam mengajukan soal. Selanjutnya guru menjelaskan tingkatan-tingkatan dalam sebuah pertanyaan, yaitu pertanyaan pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Bloom dalam Hasibuan dan Moedjiono . Berikut adalah soal yang dibuat oleh beberapa siswa. GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua Gambar 1 Pengajuan Soal oleh S1 Gambar 2 Pengajuan Soal oleh S2 Soal yang dibuat oleh penanya pertama dan kedua sudah berkaitan dengan materi pelajaran. Tingkatan pertanyaan yang dibuat oleh penanya merupakan pertanyaan pemahaman. Penanya menuliskan secara jelas apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dalam soal. Gambar 3 Penyelesaian Soal oleh J1 Gambar 4 Penyelesaian Soal oleh J2 Penyelesaian soal oleh penanya satu dan dua dikerjakan secara acak oleh teman siswa yang lain. Dapat dilihat jawaban yang dituliskan cukup baik. Mereka mampu menuliskan secara runtut apa yang diketahui dan ditanyakan. Mereka mampu menyelesaikan soal secara logis dan lengkap sesuai konsep contoh latihan soal yang sudah diberikan. Gambar 5 Pengajuan Soal oleh S3 Gambar 6 Pengajuan Soal oleh S4 GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua Soal yang dibuat oleh penanya ketiga dan keempat sudah berkaitan dengan materi pelajaran. Jenis soal yang dibuat oleh penanya ketiga masih termasuk jenis pertanyaan pemahaman sedangkan penanya keempat mengajukan pertanyaan jenis analisis. Karena penjawab harus menentukan terlebih dahulu jenis barisan yang terdapat dapat pertanyaan. Apakah termasuk barisan aritmatika atau geometri. Hanya saja kalimat yang digunakan kurang Gambar 7 Penyelesaian Soal oleh J3 Gambar 8 Penyelesaian Soal oleh J4 Penyelesaian pada soal nomor tiga memiliki jawaban yang Namun tidak selengkap dengan jawaban dari penjawab nomor dua. Sedangkan penjawab nomor empat secara runtut menuliskan langkah-langkah yang dilewati. Jawaban dari keduanya sampai akhir benar. Gambar 9 Pengajuan Soal oleh S5 Gambar 10 Pengajuan Soal oleh S6 GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua Soal yang dibuat oleh penanya kelima dan keenam sudah berkaitan dengan materi pelajaran. Pertanyaan yang diajukan oleh penanya lima dan enam berbeda jenis soal, yang mana penanya nomor lima termasuk jenis pertanyaan aplikatif. Dimana materi barisan aritmatika diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pertanyaan oleh penanya keenam termasuk pertanyaan Karena jawaban yang diminta perlu adanya turunan rumus dari rumus dasar. Gambar 11 Penyelesaian Soal oleh J5 Gambar 12 Penyelesaian Soal oleh J6 Penjawab nomor enam dan tujuh mampu menyelesaikan soal secara logis dan lengkap. Mereka mempu menuliskan secara runtut apa yang diketahui sampai apa yang ditanyakan. Rumus-rumus tertulis jelas. Sehingga mudah dipahami. Gambar 13 Pengajuan Soal oleh S7 Gambar 14 Pengajuan Soal oleh S8 GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua Soal yang dibuat oleh penanya ketujuh dan kedelapan sudah berkaitan dengan materi pelajaran. Soal yang dibuat oleh penanya nomor tujuh dan delapan berbeda jenis soal. Pertanyaan nomor tujuh tentang barisan geometri sedangkan soal nomor delapan tentang deret aritmatika. Penyusunan soalpun cukup runtut . Sehingga mudah dipahami penjawab dan tidak menimbulkan pertanyaan Gambar 15 Penyelesaian Soal oleh J7 Gambar 16 Penyelesaian Soal oleh J8 Penyelesaian soal nomor tujuh dan delapan mudah dipahami. Namun ada langkah yang tidak dituliskan oleh penjawab nomor Secara keseluruhan siswa telah mampu menyusun soal dengan kualitas pertanyaan pemahaman pada siklus I. Kemudian pada siklus II, kualitas dan model pertanyaan mulai meningkat. Siswa mulai mencoba menyusun soal dengan kualitas aplikatif atau penerapan dan analisis. Relevansi Materi Sesuai dengan kategori relevansi yang berarti kesesuaian, maka pertanyaan yang harus dibuat oleh siswa harus sesuai dengan materi yang telah dipelajari. Untuk membantu siswa agar memahami materi . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua yang diajarkan, guru memberikan LKS terlebih dahulu. Melalui langkah-langkah yang terdapat dalam LKS, siswa dapat siswa dapat menemukan konsep dari materi yang akan dipelajari. Hal tersebut sesuai dengan kurikulum 2013 yang mana mengharapkan siswa berperan aktif dan mampu mengontruksi pemahaman materi pada diri siswa masing-masing. Selanjutnya, guru mengintruksikan kepada para siswa untuk membuat soal yang berhubungan dengan materi. Yang mana kemampuan siswa bertanya merupakan suatu kesanggupan yang dimiliki siswa berupa ucapan verbal yang meminta respon orang lain (Moedjiono, 2. Selain itu, menurut Udin . 7 : . kemampuan bertanya adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan intruksional dan pengelolaan kelas. Pada tahap pengajuan soal selama tindakan problem posing berlangsung, siswa mampu membuat soal sesuai dengan materi pelajaran. Hal ini terlihat pada perolehan skor indikator relevansi atau kesesuaian dengan materi pada siklus I dan II tergolong dalam kategori tinggi. Bahasa Penilaian pada indikator ini, guru mengintruksikan siswa untuk melakukan diskusi kelompok untuk menyelesaian tugas di LKS. Dengan tujuan dalam proses diskusi kelompok, siswa berani menyatakan pendapatnya kepada teman-teman sekelompoknya. Sehingga terjadi interaksi secara aktif antar para siswa. Proses diskusi yang terjadi akan melatih siswa untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar sehingga mudah dipahami oleh teman Setelah kegiatan diskusi selesai, siswa diminta membuat soal atau pertanyaan. Pada tahap ini, guru mengingatkan kembali kepada . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua siswa agar memperhatikan kalimat pertanyaan dalam membuat soal. Tidak lupa, sebelum pertanyaan dikumpulkan siswa harus memeriksa atau membaca kembali soal yang telah dibuat. Pada pertemuan pertama, dapat dilihat soal yang dibuat oleh beberapa siswa yang termasuk jenis pertanyaan pengetahuan cukup mudah dipahami, karena kalimat perintah yang disampaikan singkat dan Selain itu, beberapa siswa lain membuat soal dari jenis pertanyaan aplikatif dan analisis. Namun, pada soal yang dibuat dari jenis pertanyaan tersebut ternyata masih susah untuk dipahami, dilihat dari bahasa yang tidak tersusun. Seiring tahapan-tahapan tindakan problem posing dilaksanakan, dapat dilihat terdapat peningkatan dari segi bahasa yang digunakan. Mereka mulai terlatih mengajukan pertanyaan dengan menggunakan kalimat yang baku serta tersusun sehingga mudah untuk dipahami. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hasibuan dan Moedjiono . yang menyatakan bahwa bahasa adalah tanda untuk mengungkapkan pikiran seseorang. Indikator kemampuan siswa dalam mengajukan pertanyaan sebagai acuan dalam penelitian ini adalah isi pertanyaan, pengungkapan verbal atau kalimat yang digunakan serta kategori jenis pertanyaan. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa dari penelitian ini kemampuan bertanya siswa kelas Vi A Mts Darussalam Cilongok mengalami peningkatan setelah mengikuti pembelajaran problem posing. Hal ini terlihat dari hasil yang diperoleh berdasarkan skor siswa untuk masing-masing indikator. Secara keseluruhan siswa telah mampu menyusun soal dengan kualitas pertanyaan pemahaman pada siklus I. Kemudian pada siklus II, . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Chandra S Haratua kualitas dan model pertanyaan mulai meningkat. Siswa mulai mencoba menyusun soal dengan kualitas aplikatif atau penerapan dan analisis. Pada tahap pengajuan soal selama tindakan problem posing berlangsung, siswa mampu membuat soal sesuai dengan materi pelajaran. Hal ini terlihat pada perolehan skor indikator relevansi atau kesesuaian dengan materi pada siklus I dan II tergolong dalam kategori tinggi. Indikator kemampuan siswa dalam mengajukan pertanyaan sebagai acuan dalam penelitian ini adalah isi pertanyaan, pengungkapan verbal atau kalimat yang digunakan serta kategori jenis pertanyaan. Saran