Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index PELATIHAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN DALAM RANGKA PENINGKATAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGS) DI DESA TEGAL MAJA KABUPATEN LOMBOK UTARA Adhitya Bagus Singandaru*. Rizal Kurniansah. Luluk Fadliyanti. Diswandi. Jaka Anggara. Bun Bun Jr Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Jl. Majapahit No. 62 Kota Mataram Korespondensi: ab. singandaru@unram. ABSTRAK Desa Tegal Maja di Kabupaten Lombok Utara memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata berbasis alam dan budaya. Potensi utama meliputi trekking hutan, panorama sawah, seni tradisional, dan kerajinan lokal yang memikat wisatawan domestik maupun mancanegara. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan, termasuk kurangnya perencanaan strategis, rendahnya kapasitas SDM dalam pengelolaan pariwisata, dan risiko kerusakan lingkungan akibat pengelolaan yang tidak terarah. Sebagai solusi, dilakukan program pengabdian berupa pelatihan penyusunan masterplan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Program ini melibatkan pemerintah desa. Pokdarwis. Bumdesa, dan masyarakat untuk mengidentifikasi potensi, menyusun rencana strategis, dan menetapkan roadmap pengembangan selama lima tahun tahun kedepan secara berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tegal Maja berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui sosialisasi, pelatihan partisipatif, dan pendampingan teknis, masyarakat memperoleh peningkatan kapasitas dalam memahami konsep pariwisata berkelanjutan serta keterampilan praktis untuk menyusun dokumen perencanaan strategis. Data pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan rata-rata pemahaman peserta sebesar 18,9 poin, yang menjadi bukti kuantitatif bahwa pelatihan efektif mentransfer pengetahuan. Selain itu, luaran utama berupa dokumen masterplan pengembangan desa wisata berkelanjutan telah berhasil disusun secara partisipatif. Dokumen ini berfungsi sebagai pedoman resmi bagi pemerintah desa dan masyarakat dalam mengarahkan pengembangan pariwisata selama lima tahun ke depan. Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya menghasilkan produk berupa masterplan, tetapi juga memperkuat kelembagaan desa dan meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap program pembangunan. Pendekatan partisipatif yang digunakan memastikan keberlanjutan pengelolaan pariwisata di Desa Tegal Maja sekaligus mendukung pencapaian indikator Sustainable Development Goals (SDG. yang relevan, khususnya pada aspek peningkatan kesejahteraan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kata Kunci: Desa wisata, pariwisata berkelanjutan. SDGs, masterplan. Desa Tegal Maja PENDAHULUAN Desa Tegal Maja, yang terletak di Kabupaten Lombok Utara, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis alam dan budaya. Berada di kawasan strategis dengan kontur perbukitan, hamparan sawah, hutan alami, serta tradisi budaya yang masih terjaga, desa ini memenuhi kriteria untuk menjadi desa wisata yang menawarkan keunikan lokal kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Potensi wisata alam seperti trekking di hutan, jelajah sawah, dan kunjungan ke area dengan panorama perbukitan yang memikat adalah beberapa aset yang belum tergarap maksimal (Amdam, 2. Selain itu, tradisi budaya seperti upacara adat, seni musik tradisional, dan kerajinan lokal memiliki daya tarik yang dapat memberikan pengalaman autentik bagi wisatawan (Kuklinski, 1. Namun, meskipun potensinya besar. Desa Tegal Maja menghadapi sejumlah tantangan yang Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index perlu diselesaikan agar pengembangan pariwisata dapat berjalan secara berkelanjutan. Analisis situasi menunjukkan tiga permasalahan utama sebagai berikut: Kurangnya Perencanaan Strategis. Desa Tegal Maja belum memiliki dokumen perencanaan strategis yang terintegrasi untuk mengembangkan potensi wisata secara berkelanjutan. Tanpa panduan yang jelas, pembangunan sering dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan, ekonomi lokal, dan masyarakat. Hal ini menyebabkan ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya dan terbatasnya manfaat yang diterima Minimnya Kapasitas SDM dalam Pengelolaan Pariwisata. Sebagian besar masyarakat desa belum memiliki keterampilan yang cukup dalam mengelola pariwisata. Hal ini mencakup manajemen destinasi, pelayanan wisatawan, pemasaran digital, dan pengelolaan keuangan. Keterbatasan ini membuat masyarakat sulit memanfaatkan potensi yang ada untuk menciptakan lapangan kerja baru atau meningkatkan pendapatan melalui sektor pariwisata. Risiko Kerusakan Lingkungan. Tanpa pengelolaan yang tepat, pengembangan pariwisata berisiko menimbulkan degradasi lingkungan, termasuk kerusakan hutan, pencemaran air, dan penurunan kualitas tanah akibat aktivitas wisata yang tidak terkendali. Hal ini juga dapat mengancam keanekaragaman hayati yang menjadi salah satu daya tarik utama desa. Oleh karena itu, dibutuhkan pelatihan perencanaan pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dirancang untuk membantu Desa Tegal Maja mengatasi permasalahan di atas (Murray, 2. Tujuan spesifik dari program ini adalah untuk meningkatkan kapasitas SDM di Desa Tegal Maja. Pelatihan akan diberikan kepada perangkat desa. Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisat. , dan masyarakat umum. Kegiatan ini mencakup pelatihan penyusunan rencana strategis pariwisata berkelanjutam di desa tegal maja untuk 5 tahun ke depan yang mencakup analisis potensi desa, strategi/roadmap program pengembangan pariwisata, sumber pendanaan, yang keseluruhannya mendukung ketercapaian beberapa indikator Sustainable Development Goals (SDG. desa seperti peningkatan kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Kegiatan ini tentu berkaitan erat dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini akan melibatkan mahasiswa dalam kegiatan berbasis masyarakat, sehingga memungkinkan mereka untuk belajar langsung dari situasi nyata di lapangan. Mahasiswa yang terlibat akan mendapatkan pengalaman praktis dalam perencanaan pengembangan desa wisata, pengelolaan proyek berbasis masyarakat, dan pelatihan pemberdayaan. Keterlibatan ini dapat diintegrasikan ke dalam beberapa kegiatan MBKM seperti Magang. Membangun Desa, dan Proyek Independen. Selain berkaitan dengan MBKM, kegiatan Pengabdian kepada Mayarakat ini tentu berkontribusi pula pada peningktakan IKU seperti dosen berkegiatan di luar kampus, kerja sama, dan pembaruan bahan kajian pembelajaran untuk mendukung metode kasus dan proyek. Desa Tegal Maja berpotensi menjadi contoh sukses pengembangan desa wisata berbasis Dengan mendukung masyarakat untuk memahami dan menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan, program ini tidak hanya memberikan dampak positif pada ekonomi lokal tetapi juga melestarikan warisan budaya dan ekosistem alami. Pendekatan partisipatif yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap proses pengembangan pariwisata di desa mereka. Melalui program ini. Desa Tegal Maja dapat menjadi model pengembangan desa wisata yang sejalan dengan prinsip sustainable tourism dan berkontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. METODE KEGIATAN Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif (Thorburn, 1. yang melibatkan masyarakat Desa Tegal Maja secara aktif sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Kegiatan diawali dengan koordinasi dan sosialisasi kepada pemerintah desa. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index perangkat desa. Pokdarwis. BUMDes, dan tokoh masyarakat untuk menyepakati tujuan, jadwal, serta peran masing-masing. Selanjutnya dilakukan pelatihan perencanaan pariwisata berkelanjutan melalui kombinasi ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan simulasi penyusunan dokumen. Materi pelatihan mencakup pengenalan konsep pariwisata berkelanjutan, analisis potensi desa, perumusan visiAemisi, analisis SWOT, hingga penyusunan roadmap lima tahun. Proses ini menghasilkan draf masterplan yang kemudian divalidasi bersama peserta untuk memastikan keterwakilan aspirasi Untuk mengukur efektivitas pelatihan, dilakukan pre-test dan post-test yang menunjukkan peningkatan rata-rata pemahaman peserta sebesar 18,9 poin, menandakan terjadinya transfer pengetahuan yang signifikan. Setelah pelatihan, tim pengabdian melakukan pendampingan teknis untuk membantu desa memulai implementasi awal, seperti penentuan rute trekking prioritas dan identifikasi homestay. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui diskusi reflektif bersama peserta, sekaligus merumuskan rencana pengabdian lanjutan berupa pelatihan teknis, pengembangan produk wisata, dan digitalisasi promosi. Seluruh tahapan melibatkan peran aktif mitra dan mahasiswa, sehingga tidak hanya menghasilkan dokumen perencanaan, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan dan mendukung capaian MBKM serta Indikator Kinerja Utama perguruan tinggi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pariwisata berkelanjutan merupakan pendekatan strategis dalam pengembangan potensi desa karena memadukan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang. Pendekatan ini menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya alam dan budaya, dengan memperhatikan daya dukung lingkungan serta kebutuhan wisatawan. Konsep ini telah lama diakui sebagai upaya untuk menjaga integritas ekologi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Bramwell & Lane 1993. Butler 1. tingkat desa, pariwisata berkelanjutan membantu memanfaatkan potensi alam dan budaya secara optimal tanpa merusak lingkungan, serta mendorong inovasi dalam manajemen destinasi berbasis kearifan lokal (Sharpley 2000. UNEP & UNWTO 2. Dalam konteks Indonesia, penerapan prinsip ini juga mendukung visi pembangunan berkelanjutan melalui penguatan ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat (UN Tourism, 2. Implementasi pariwisata berkelanjutan di tingkat desa umumnya dijalankan dengan model community-based tourism (CBT) yang memastikan partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan (Scheyvens 1. Melalui model ini, manfaat ekonomi, sosial, dan budaya dapat dinikmati secara merata sehingga memperkuat kohesi sosial dan kapasitas lokal (Rahmawati n. ASEAN 2. Penerapan standar seperti Global Sustainable Tourism Council (GSTC) membantu desa menetapkan indikator keberhasilan secara terukur, mulai dari pelestarian lingkungan, pengelolaan limbah, hingga perlindungan warisan budaya (GSTC 2019. UN 2. Bukti empiris di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bahwa desa wisata yang menerapkan prinsip CBT tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat tetapi juga memperkuat identitas lokal dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs Des. (UNWTO 2. Pariwisata berkelanjutan telah menjadi salah satu pendekatan penting dalam mengembangkan potensi wilayah, terutama di daerah pedesaan yang memiliki kekayaan alam dan budaya. Konsep ini didefinisikan sebagai praktik pariwisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan masa kini tanpa mengorbankan kesempatan generasi mendatang untuk menikmati sumber daya yang sama, sambil tetap melindungi lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal (Weaver, 2. Dalam praktiknya, pariwisata berkelanjutan berusaha menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan sosial-budaya. Keseimbangan ini penting agar pariwisata tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi jangka pendek, tetapi juga mendukung pembangunan jangka panjang yang inklusif. Konsep ini memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan berkelanjutan, yang lebih luas Pembangunan berkelanjutan adalah sebuah paradigma pembangunan yang bertujuan Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi Paradigma ini menekankan perlunya integrasi antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan keadilan sosial. Dengan demikian, pariwisata berkelanjutan dapat dipandang sebagai salah satu instrumen penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan pada sektor Ia memungkinkan suatu wilayah mengoptimalkan potensi wisata sambil tetap melestarikan aset alam dan budaya yang menjadi daya tarik utama. Mengintegrasikan kedua konsep ini menjadi penting karena pariwisata yang dikelola tanpa memperhatikan keberlanjutan berpotensi menimbulkan dampak negatif seperti kerusakan lingkungan, hilangnya identitas budaya, dan ketimpangan sosial-ekonomi. Butler . melalui model Tourism Area Life Cycle menekankan bahwa destinasi wisata yang berkembang tanpa perencanaan akan memasuki fase stagnasi dan bahkan kemerosotan. Dengan perencanaan berbasis prinsip keberlanjutan, desa atau daerah wisata dapat mengantisipasi dampak negatif tersebut dan menjaga daya tariknya dalam jangka panjang. Selain itu, pariwisata berkelanjutan terbukti mampu meningkatkan ketahanan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung pemerataan pendapatan jika dikembangkan dengan melibatkan rantai nilai lokal (Sachs, 2. Tahapan untuk memulai pengembangan pariwisata berkelanjutan umumnya dimulai dengan analisis situasi dan pemetaan potensi, dilanjutkan dengan keterlibatan pemangku kepentingan desa untuk menyepakati visi dan arah pengembangan. Setelah itu, dilakukan penyusunan strategi, perencanaan program prioritas, serta roadmap jangka menengah yang dapat menjadi panduan Kegiatan ini kemudian diikuti dengan pendampingan teknis, pilot project awal, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan hasil yang diharapkan tercapai (Mowforth & Munt, 2. Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan di Desa Tegal Maja merupakan wujud nyata dari tahapan tersebut. Program dimulai dengan sosialisasi kepada masyarakat desa untuk membangun kesadaran akan pentingnya perencanaan pariwisata yang berkelanjutan. Selanjutnya dilakukan pelatihan partisipatif yang membekali peserta dengan pemahaman tentang konsep pariwisata berkelanjutan, teknik analisis potensi, penyusunan visiAemisi, hingga perumusan roadmap lima tahun. Hasil utama kegiatan ini adalah tersusunnya dokumen masterplan yang dapat menjadi pedoman resmi bagi desa untuk mengembangkan pariwisatanya secara terarah dan berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini bukan hanya sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pemberdayaan masyarakat agar mampu mengelola potensi wisata secara mandiri, berdaya saing, dan berorientasi jangka panjang (Weaver, 2. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tegal Maja telah direalisasikan sesuai rencana yang tercantum dalam proposal, dengan melibatkan pemerintah desa. Pokdarwis. BUMDes, tokoh masyarakat, serta mahasiswa. Kegiatan diawali dengan sosialisasi program, yang dilakukan melalui koordinasi awal dengan sekretaris desa dan perangkat desa. Pada tahap ini, tim pengabdian menyampaikan maksud, tujuan, dan manfaat kegiatan kepada para pemangku Sosialisasi ini penting untuk memastikan semua pihak memahami peran dan kontribusi masing-masing serta mendukung terciptanya suasana kolaboratif. Hasil dari sosialisasi adalah terbentuknya kesepakatan mengenai jadwal pelatihan, daftar peserta yang terlibat, dan ruang pertemuan yang digunakan selama pelaksanaan kegiatan. Tahap kedua adalah pelatihan perencanaan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Pelatihan ini merupakan inti dari program pengabdian, dengan tujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia desa dalam menyusun dokumen perencanaan strategis yang komprehensif. Materi pelatihan mencakup beberapa topik kunci, antara lain: Konsep dasar pariwisata berkelanjutan dan relevansinya terhadap pencapaian SDGs desa. Teknik analisis potensi desa, termasuk pemetaan daya tarik wisata, sumber daya budaya, infrastruktur pendukung, dan aset sosial-ekonomi. Penyusunan visi, misi, dan tujuan pengembangan desa wisata. Analisis SWOT dan perumusan strategi prioritas. Penyusunan roadmap lima tahun yang berisi program kerja dan indikator capaian. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Pelatihan dilaksanakan secara interaktif dengan memadukan metode ceramah, diskusi kelompok terarah (FGD), simulasi penyusunan dokumen, dan studi kasus dari desa wisata lain yang telah berhasil. Pendekatan partisipatif ini mendorong peserta untuk aktif memberikan masukan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan lokal. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan adalah 19 orang, terdiri dari pemerintah desa. Pokdarwis. BUMDes, tokoh masyarakat, serta mahasiswa. Untuk mengukur efektivitas pelatihan, dilakukan pre-test dan post-test yang menilai pemahaman peserta terhadap materi. Hasil pengukuran menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada rata-rata nilai peserta: No. Peserta Nilai Pre-test Nilai Post-test Peserta 1 Peserta 2 Peserta 3 Peserta 4 Peserta 5 Peserta 6 Peserta 7 Peserta 8 Peserta 9 10 Peserta 10 11 Peserta 11 12 Peserta 12 13 Peserta 13 14 Peserta 14 15 Peserta 15 16 Peserta 16 17 Peserta 17 18 Peserta 18 19 Peserta 19 Rata-rata Pre-Test Rata-rata Post-Test Peningkatan Rata-rata 18,9 poin Data ini memperlihatkan bahwa pelatihan berhasil meningkatkan pemahaman peserta secara signifikan, yang ditunjukkan oleh kenaikan rata-rata hampir 19 poin. Hal ini menandakan bahwa metode pelatihan yang diterapkan efektif dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada Selain transfer pengetahuan, pelatihan menghasilkan draft dokumen masterplan pengembangan desa wisata berkelanjutan yang disusun secara partisipatif. Dokumen ini memuat gambaran potensi desa, visi-misi, strategi, serta roadmap pengembangan selama lima tahun. Keberadaan dokumen ini menjadi landasan penting bagi pemerintah desa untuk merencanakan pembangunan secara terarah dan berkelanjutan. Tahap akhir adalah pendampingan teknis yang dilakukan untuk memvalidasi dan menyempurnakan hasil penyusunan masterplan. Dalam pendampingan ini, tim pengabdian membantu peserta memastikan bahwa setiap program yang dimasukkan ke dalam rencana strategis realistis, dapat dilaksanakan dengan sumber daya yang tersedia, dan memiliki indikator capaian yang Kegiatan pendampingan ini tidak menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini. Pendampingan disepakati akan dilaksanakan secara fleksibel antara peserta dengan tim pengabdian mengingat Desa Tegal Maja merupakan desa binaan tim pengabdian. Meskipun tidak terdapat teknologi fisik yang diimplementasikan, kegiatan ini mengandung inovasi dalam bentuk penerapan metode perencanaan partisipatif berbasis data dan penyusunan Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index roadmap pengembangan desa wisata. Inovasi ini memadukan hasil penelitian terdahulu dengan masukan dari masyarakat sehingga dokumen yang dihasilkan benar-benar merefleksikan kebutuhan Selain itu, dilakukan penguatan kapasitas kelembagaan lokal melalui pengenalan teknik analisis SWOT, penyusunan prioritas program, dan strategi pendanaan . CSR, dan kemitraa. Metode ini memperkuat kemampuan desa untuk mengelola pengembangan wisata secara mandiri dan Pendekatan ini menjadi inovasi penting karena: Memberikan alat perencanaan jangka panjang . oadmap lima tahu. yang dapat digunakan desa sebagai panduan pembangunan. Meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap proses perencanaan dan hasil yang . Menjadi contoh praktik baik . est practic. yang dapat direplikasi oleh desa lain yang ingin mengembangkan wisata berbasis keberlanjutan. Dengan adanya hasil pelatihan dan dokumen masterplan. Desa Tegal Maja kini memiliki pondasi yang kuat untuk mengembangkan pariwisata secara terarah, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. KESIMPULAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tegal Maja berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui sosialisasi, pelatihan partisipatif, dan pendampingan teknis, masyarakat desaAitermasuk perangkat desa. Pokdarwis. BUMDes, dan perwakilan masyarakatAi memperoleh peningkatan kapasitas dalam memahami konsep pariwisata berkelanjutan serta keterampilan praktis untuk menyusun dokumen perencanaan strategis. Data pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan rata-rata pemahaman peserta sebesar 18,9 poin, yang menjadi bukti kuantitatif bahwa pelatihan efektif mentransfer pengetahuan. Selain itu, luaran utama berupa dokumen masterplan pengembangan desa wisata berkelanjutan telah berhasil disusun secara partisipatif. Dokumen ini berfungsi sebagai pedoman resmi bagi pemerintah desa dan masyarakat dalam mengarahkan pengembangan pariwisata selama lima tahun ke depan. Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya menghasilkan produk berupa masterplan, tetapi juga memperkuat kelembagaan desa dan meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap program pembangunan. Pendekatan partisipatif yang digunakan memastikan keberlanjutan pengelolaan pariwisata di Desa Tegal Maja sekaligus mendukung pencapaian indikator Sustainable Development Goals (SDG. yang relevan, khususnya pada aspek peningkatan kesejahteraan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. SARAN Berdasarkan hasil kegiatan, beberapa saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: Implementasi Masterplan secara Bertahap. Pemerintah desa bersama Pokdarwis dan BUMDes disarankan segera memulai pelaksanaan program prioritas yang tercantum dalam masterplan, dimulai dari program berbiaya rendah namun berdampak tinggi, seperti penataan rute trekking, bike hill, dan program kebersihan desa. Penguatan Kapasitas Berkelanjutan. Meskipun pelatihan awal telah meningkatkan pemahaman peserta, diperlukan pelatihan lanjutan yang lebih teknis, misalnya pelatihan pengelolaan homestay, hospitality, pemasaran digital, dan manajemen keuangan desa wisata. Pencarian Dukungan Pendanaan. Desa disarankan untuk mengoptimalkan sumber dana dari APBDes. Dana Desa, serta mengajukan proposal ke program CSR atau hibah pariwisata pemerintah dan swasta untuk mendukung pengembangan infrastruktur dasar pariwisata. Monitoring dan Evaluasi. Membentuk tim kecil yang bertugas memantau perkembangan Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index implementasi roadmap setiap enam bulan dan melaporkannya kepada pemerintah desa serta masyarakat, sehingga program tetap adaptif terhadap perubahan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada LPPM Universitas Mataram dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram yang telah memberi dukungan financial terhadap pengabdian ini. DAFTAR PUSTAKA