JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Pembelajaran Penatalayanan Antibiotik Secara Daring Untuk Apoteker Di Kabupaten Jember Khrisna Agung Cendekiawan Program Studi Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas dr. Soebandi Jember Email: khrisnaagungfarmasi@uds. Abstrak Peningkatan konsumsi antibiotik di Indonesia selama 10 tahun terakhir ini menjadi salah satu latar belakang meningkatnya kasus resistensi antibiotik. Masyarakat menyebutkan bahwa akses pembelian antibiotik lebih mudah di lakukan apotek dibandingkan pergi ke dokter padahal resep diperlukan untuk membeli obat tersebut. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, perlu adanya pemahaman dan edukasi terkait penatalayanan antibiotik kepada apoteker yang berpraktik di apotek dalam upaya meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional di masyarakat. Kuesioner terkait survei dan implementasi penatalayanan antibiotik di apotek dan pembelajaran online berkelanjutan telah dilakukan dengan populasi apoteker di seluruh Indonesia. Lima parameter dianalisis dalam survey ini yaitu definisi penatalayanan antibiotik, praktik penatalayanan antibiotik di apotek, persepsi pentingnya penatalayanan antibiotik di apotek, hambatan implementasi penatalayanan antibiotik di apotek, dan fasilitator penatalayanan antibiotik di apotek. Selain itu. Lima topik materi yang dibuat berdasarkan hasil survei telah di implementasikan dalam pembelajaran online via zoom yang dilakukan selama 2 Keywords: Penatalayanan. Antibiotik. Apotek. Apoteker PENDAHULUAN Resistensi antimikroba didefinisikan sebagai resistensi mikroorganisme terhadap antimikroba yang awalnya bersifat sensitif. Mikroorganisme, termasuk bakteri, jamur, virus, dan parasit lainnya, mampu menahan serangan antimikroba . isalnya antibiotik, antijamur, antivirus dan antimalari. sehingga menyebabkan pengobatan menjadi tidak efektif, infeksi yang menetap, dan meningkatkan risiko menyebar ke orang lain (Saha, et al. Organisasi kesehatan dunia (World Health Organization. WHO) baru-baru ini menyoroti tingginya proporsi resistensi antimikroba pada bakteri yang menyebabkan infeksi umum seperti saluran kemih, pneumonia, dan infeksi dalam aliran darah. Di banyak wilayah di dunia, bakteri resisten seperti methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) atau Gram-negatif yang resistan terhadap banyak antibakteri merupakan penyebab resistensi di rumah sakit dengan persentase yang tinggi (Blanchette, 2. Di Indonesia, berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan, antara tahun 2000-2021, penjualan antibiotik nasional meningkat 2,5 kali lipat, kebanyakan adalah penisilin spektrum luas, fluorokuinolon, dan sefalosporin (Departemen Kesehatan RI, 2. Hasil review sistematis dari 25 survei mengenai persepsi dan praktis di Indonesia juga memperlihatkan JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 bahwa 23-26% masyarakat tidak mengetahui bahwa antibiotik dapat mengobati infeksi bakteri dan 58-74% menyatakan bahwa antibiotik dapat menyembuhkan infeksi virus. Fakta lain menyebutkan bahwa 20-100% masyarakat pernah melakukan pengobatan sendiri dengan antibiotik dan 87-100% pernah membeli antibiotik tanpa resep dokter. Ditinjau dari sudut pandang sumber antibiotik, 46-90% pembelian antibiotik terjadi di apotek, 20-44% di toko obat, dan 9-12% mendapatkan antibiotik dari keluarga atau teman. Masyarakat beralasan bahwa mendapatkan pengalaman yang positif atau dapat sembuh dengan menggunakan antibiotik . -82%), lebih praktis . -83%), dan akses pembelian mudah dari apotek . %) dibandingkan dengan pergi ke dokter . -72%). Berdasarkan fakta-fakta tersebut, perlu adanya pemahaman dan edukasi terkait penatalayanan antibiotik kepada apoteker yang berpraktik di apotek dalam upaya meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional di masyarakat (William, 2. METODE KEGIATAN Berdasarkan permasalahan yang ditemukan dan dirumuskan, maka kerangka pemecahan masalah yang dilakukan melalui kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat ini adalah survei kesiapan dan implementasi penatalayanan antibiotik di apotek dan pembelajaran online berkelanjutan bagi apoteker yang berpraktek di apotek. Hal tersebut dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Penyebaran kueisioner survei, 2. membuat modul untuk pembelajaran online berkelanjutan, 3. pelaksanaan pembelajaran online via zoom. Mekanisme pelaksanaan kegiatan dimulai dengan pelaksaan survei terkait kesadaran dan implementasi penatalayanan antibiotik diapotek menggunakan kuesioner dengan sampling apoteker yang berpraktek di apotek seluruh Indonesia. Selanjutanya, pembelajaran online berkelanjutan dilakukan selama 2 hari dengan topik diskusi sesuai dengan hasil survei yang telah dilakukan. Pembelajaran tersebut d terdiri dari pretest, penyampaian materi, dan post test diakhir acara. HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan dari survei yang dilakukan adalah untuk melihat kesadaran dan implementasi penatalayan antibiotik oleh apotek di farmasi komunitas. Kuesioner dibuat dari berbagai sumber dengan semua pertanyaan telah dilakukan validasi. Isi dari dari kuesioner terbagi menjadi 5 parameter yaitu definisi penatalayanan antibiotik, praktik penatalayanan antibiotik di apotek, persepsi pentingnya penatalayanan antibiotik di apotek, hambatan implementasi penatalayanan antibiotik di apotek, dan fasilitator penatalayanan antibiotik di apotek. Berikut adalah demografi responden yang telah mengisi kuesioner survei yang telah dilakukan. JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Tabel 1. Demografi responden Berdasarkan survei yang telah dilakukan, didapatkan informasi bahwa hanya 19. apoteker yang berpraktek di apotek yang telah akrab dan mengetahui istilah penatalayanan Kemudian 51% setuju bahwa apoteker membutuhkan pelatihan yang memadai untuk menerapkan penatalayanan antibiotik di apoteknya. Selanjutnya, 71. 84% apoteker menyetujui bahwa partisipasi apoteker dalam program penatalayanan antibioti akan meningkatkan citra apoteker di masyarakat. Kemudian 53. 40% apoteker setuju bahwa program penatalayanan antibiotik akan mengurangi biaya perawatan kesehatan yang terkait dengan penyakit infeksi. Selanjutnya adalah hasil survei mengenai penerapan strategi penatalayanan antibiotik oleh apoteker. Dari survey ini memperlihatkan bahwa sebanyak 27. 18% apoteker telah memberikan informasi yang jelas kepada pasien tentang potensi efek samping dari antibiotik yang diberikan. Selain itu, hanya 10. 67% apoteker yang menghubungi pemberi resep . jika dosis/frekuensi penggunaan antibiotic terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kemudian, hanya 62% apoteker akan menghubungi pemberi resep . jika resep yang mengandung antibiotik melibatkan interaksi obat yang signifikan secara klinis. Sebanyak 8. menghubungi pemberi resep . jika memiliki alasan dan dasar yang kuat bahwa pilihan antibiotik mungkin tidak optimal sesuai kondisi pasien. Kemudian, hasil lainnya memperlihatkan bahwa 42. 73% apoteker yg berpraktek di apotek, ketika ada pasien datang JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi Vol. No. 4 Desember 2022 e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 kepada apoteker dengan gejal ineksi yang tidak membutuhkan antibiotik, apoteker merekomendasikan swamedikasi/penggunaan obat bebas. Sebanyak 23. 79% apoteker ketika pasien memberikan resep ulangan yang mengandung antibiotik, apoteker mengajukan beberapa pertanyaan untuk mencoba dan menentukan apakah pantas bagi mereka untuk menggunakan resep ulangan tersebut. Berikutnya adalah poin terkait hambatan terhadap penerapan penatalayanan antibiotik di farmasi komunitas yang dirasakan apoteker. Sebanyak 17. 96% apoteker itu setuju bahwa belum ada pedoman baku bagi apoteker di apotek untuk melaksanakan program penatalayanan Kemudian, sebanyak 24. 75% dari apoteker itu setuju bahwa terdapat keterbatasan akses ke informasi penting mengenai pasien, data klinis, dan laboratorium untuk meninjau kesesuaian resep antibiotik. Setelah itu, 20. 87% dari apoteker berpendapat bahwa dokter tidak mau menerima intervnsi apoteker dalam pemilihan antibiotik. Sebanyak 19. 90% apoteker itu setuju bahwa dokter tidak mau menerima intervensi dari apoteker dalam durasi penggunaan KESIMPULAN Kegiatan ini akan dilakukan secara berkelanjutan dan menggunakan modul yang berfokus pada pengenalan aplikasi penatalayanan antibiotik di farmasi komunitas yang telah ada namun belum di perkenalkan dan digunakan secara maksimal di kabupaten Jember. Selain itu, peneliti akan mencoba untuk membuat aplikasi penunjang untuk optimalisasi penatalayanan antibiotik yang dimulai dengan survei kuesinoner kesiapan dilanjutkan dengan pembelajaran UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan terhadap pengabdian ini. DAFTAR PUSTAKA