JURNAL ALFA: Penelitian. Pendidikan, dan Bahasa E-ISSN : 3047-1206 Email: alfapustaka23@gmail. https://jurnal. alfa-pustaka. id/index. php | Vol. 2 No. 2 Juli-Desember 2024 DAMPAK PENDIDIKAN PEMBEBASAN PAULO FREIRE DALAM KURIKULUM MERDEKA BELAJAR PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Tyas Ayu Farah Dina1. Salsa Dwi Lestari2. Minkhatul Maula3. Ahmad Alaik Niam4. Abdul Khobir5 Email: tyas. dina@mhs. lestari@mhs. id, minkhatul. maula@mhs. niam@mhs. id, abdul. khobir@uingusdur. Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid Pekalongan Abstrak Konsep pendidikan pembebasan memiliki kesamaan dengan gagasan Merdeka Belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pendidikan pembebasan Paulo Freire dan relevansinya dalam Kurikulum Merdeka Belajar dari perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip pendidikan pembebasan, seperti dialog, partisipasi aktif, dan kesadaran kritis, sejalan dengan kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar yang menekankan fleksibilitas, pemberdayaan siswa, dan relevansi dengan kebutuhan zaman. Perspektif Filsafat Pendidikan Islam memperkaya konsep pendidikan pembebasan dengan menambahkan nilai-nilai spiritual dan etika, seperti keadilan, tanggung jawab, dan rahmatan lil 'alamin. Integrasi antara pendidikan pembebasan dan nilai-nilai Islam dapat mendorong terciptanya sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan, sekaligus memperkuat karakter peserta didik sebagai insan yang kritis dan berakhlak mulia. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Kata kunci: Pendidikan Pembebasan. Paulo Freire. Kurikulum Merdeka Belajar. Filsafat Pendidikan Islam Abstract The concept of liberation education has something in common with the idea of Merdeka Belajar. This study aims to analyze Paulo Freire's concept of liberation education and its relevance in Merdeka Belajar Curriculum from the perspective of Islamic Education Philosophy. This research uses a literature study method with a qualitative descriptive approach. The results showed that the principles of liberation education, such as dialogue, active participation, and critical awareness, are in line with the Merdeka Belajar Curriculum policy which emphasizes flexibility, student empowerment, and relevance to the needs of the times. The Islamic Philosophy of Education perspective enriches the concept of liberation education by adding spiritual and ethical values, such as justice, responsibility, and rahmatan lil 'alamin. The integration of liberation education and Islamic values can encourage the creation of an inclusive, adaptive, and equitable education system, while strengthening the character of students as critical and noble people. This research is expected to make theoretical and practical contributions to the development of education in Indonesia. Keywords: Liberation Education. Paulo Freire. Independent Learning Curriculum. Islamic Education Philosophy PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan kecerdasan peserta didik, serta menentukan arah perkembangan masyarakat. Di tahun 2019, pemerintah Indonesia memperkenalkan sebuah kurikulum pendidikan yang dikenal sebagai Kurikulum Merdeka atau Merdeka Belajar (Marisa, 2. Kurikulum ini bertujuan untuk memberikan ruang kebebasan bagi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar, serta mengurangi ketergantungan pada kurikulum yang terlalu kaku. Dengan pendekatan ini, diharapkan pendidikan dapat menjadi lebih relevan dengan kebutuhan individu dan masyarakat. Konsep pendidikan pembebasan memiliki kesamaan dengan gagasan Merdeka Belajar. Pendidikan pembebasan, sebagaimana yang dipelopori oleh Paulo Freire memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengeksplorasi dan memahami dunia di sekitar mereka. Siswa diajak untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengevaluasi, mengkritisi, dan mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman hidup Hal ini selaras dengan semangat Merdeka Belajar yang mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan merdeka dalam proses belajar mengajar (Eguchi & Lee, 2. Konsep pendidikan ini bertujuan untuk memanusiakan manusia melalui pembebasan dari ketidakadilan dan ketertindasan. Pendidikan yang memerdekakan mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam membangun kehidupan mereka. Konsep pendidikan pembebasan memiliki relevansi yang kuat dalam khazanah pendidikan Islam. Hal ini disebabkan oleh potensi Islam sebagai agama yang membebaskan, yang tercermin dalam ajaran-ajarannya yang bersifat revolusioner. Contohnya. Islam mengajarkan prinsip keadilan, menolak diskriminasi, mendorong pluralisme, melindungi kaum lemah, dan menentang segala bentuk kekerasan (Datunsolang, 2. Dalam konteks pendidikan Islam, nilai-nilai pendidikan pembebasan sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong kebebasan berpikir, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan aspek intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak mulia. Oleh karena itu, pengintegrasian nilai-nilai pendidikan pembebasan ke dalam Kurikulum Merdeka dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Artikel ini akan membahas dampak pendidikan pembebasan Paulo Freire dalam Kurikulum Merdeka Belajar dari perspektif Filsafat Pendidikan Islam, dengan fokus pada nilai-nilai partisipasi aktif, fleksibilitas, keterampilan resolusi konflik, dan keadilan akses pendidikan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pendidikan pembebasan dapat memberikan dampak positif pada pembelajaran berbasis proyek dan metode pembelajaran kontekstual. Studi oleh Napitupulu et al. menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi siswa (Napitupulu et al. , 2. Sementara itu. Alfaeni & Asbari menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam Kurikulum Merdeka yang memberikan kebebasan kepada guru untuk berinovasi dalam pembelajaran (Alfaeni & Asbari, 2. Hal ini relevan dengan gagasan Freire tentang pentingnya keterlibatan aktif semua pihak dalam proses pendidikan. Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam mengintegrasikan konsep pendidikan pembebasan Paulo Freire dengan Kurikulum Merdeka Belajar dari perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Sementara sebagian besar studi sebelumnya membahas pendidikan pembebasan atau Kurikulum Merdeka secara terpisah, penelitian ini menggabungkan kedua pendekatan tersebut untuk menciptakan kerangka pendidikan yang tidak hanya membebaskan tetapi juga berlandaskan nilai-nilai spiritual dan moral. Pendekatan ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan pendidikan kontemporer yang mampu mendorong partisipasi aktif, fleksibilitas, keterampilan resolusi konflik, serta keadilan akses pendidikan, sekaligus memperkaya diskursus akademik tentang relevansi antara teori pendidikan modern dan tradisi Islam. METODE Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menganalisis secara mendalam konsep pendidikan pembebasan Paulo Freire dan relevansinya dalam Kurikulum Merdeka Belajar dari perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Kajian pustaka merupakan proses untuk mempelajari, menelaah, menganalisis, dan mengidentifikasi berbagai informasi atau pengetahuan (Luthfiyah, 2. Penelitian deskriptif kualitatif adalah pendekatan yang digunakan untuk menggali pengetahuan atau teori berdasarkan penelitian sebelumnya melalui sumber seperti buku, serta jurnal nasional maupun internasional (Waruwu, 2. Pendekatan kualitatif dipilih untuk menggali makna, pola, dan hubungan antara konsep pendidikan pembebasan dan nilai-nilai dalam Kurikulum Merdeka Belajar berdasarkan data teoritis dan empiris yang tersedia dalam literatur. Data yang digunakan berasal dari berbagai sumber, seperti jurnal ilmiah, buku referensi, dan laporan penelitian yang relevan. Literatur yang dianalisis dipilih secara purposive, dengan fokus pada karya-karya yang membahas pendidikan pembebasan. Kurikulum Merdeka, dan perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Melalui pendekatan kualitatif ini, penelitian berupaya memahami secara mendalam bagaimana prinsip-prinsip pendidikan pembebasan Paulo Freire dapat diintegrasikan ke dalam Kurikulum Merdeka, serta bagaimana perspektif Filsafat Pendidikan Islam memperkaya pendekatan ini. Hasilnya diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis dalam pengembangan pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan berkeadilan. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Paulo Freire Paulo Freire merupakan konseptor rakyat lemah, latar belakang kehidupannya akan lebih menjelaskan mengapa pemikiran Paulo Freire berpusat pada penindasan dan masyarakat miskin. Interaksi dengan keadaan tersebut memberikan manfaat untuk penelitian dan pola pikirnya (Alparizi & Majid, 2. Paulo Freire lahir di keluarga menengah. Ayahnya bernama Joaquim Tomis Tocles Freire dan Ibunya Edeltrus Neves Freire. Namun, pada tahun 1922. Amerika Serikat dilanda dengan krisis ekonomi sehingga keluarga Paulo Freire mengalami penurunan ekonomi yang cukup hebat. Keadaan ini menimbulkan pengaruh yang kuat dalam kehidupan dan perjuangannya, sehingga Paulo Freire menyadari apa artinya lapar bagi anak-anak sekolah dasar. Pada tahun 1931, keluarga Freire pindah ke Jabotao dan kemudian ayahnya meninggal di sana. Pada tahap ini Freire memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada perjuangan melawan kelaparan, sehingga tidak ada anak lain yang merasakan penderitaan yang ia alami (Robikhah, 2. Paulo Freire belajar di Universitas Recife, sebagai mahasiswa hukum tetapi ia juga belajar mengenai filsafat dan psikologi bahasa. Walaupun Freire lulusan ahli hukum, ia tidak penah bener-bener menekuni praktek dalam bidang tersebut, sebaliknya ia mengajar sebagai guru di sekolah menengah mengajar bahasa protugal selama 6 tahun. Pada 1946. Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari Dinas Sosial di Negara bagian Pemambuco . ang ibu kotanya adalah Recif. Pada tahun 1959. Freire memperoleh gelar doktor dalam bidang sejarah dan filsafat pendidikan di Universitas Recife dengan judul Educacao e Atualidade Brazileira (Pendidikan dan Keadaan Masa Kini di Brazi. Inilah soal pertama kalinya dia mengemukakan pemikirannya tentang filsafat pendidikan melalui disertasi doktornya. Pada 1961-1964. Paulo Freire kembali bekerja di bidang pendidikan dewasa dan pelatih para pekerja yang kemudian mengantarkannya sebagai direktur utama pendidikan dan kebudayaan di Universitas Recife. Freire sangat cepat mendapatkan pengakuan internasional dikarenakan program pemberantasan buta huruf yang dijalankannya, awalnya program ini diterapkan untuk para petani di daerah timur laut brazil dan terutama atas usaha melek hurufnya yang dilakukan di daerah Angicos dan Rio Grande de Norte. Usaha yang serius membuat pemerintahan Joat Goalart mengangkatnya sebagai ketua komisi Nasional dalam bidang kebudayaan pada tahun 1953. Setelah itu sejak Juni 1963 hingga Maret 1964, tim pemberantasan buta huruf di bawah arahan Freire bekerja tidak hanya di daerah timur laut Brazil, melainkan bekerja ke seluruh negeri. Usaha ini ternyata tidak sia-sia sebab akhirnya mereka meraih kesuksesan dengan membuat para kaum buta huruf menjadi bisa menulis dan membaca dengan memerlukan waktu selama 30 jam. Kampanye pemberantasan buta huruf yang diprakarsai Freire tidak hanya membuat masyarakat bisa membaca dan menulis, namun yang paling penting adalah usaha penyadaran akan realitas dunia yang harus dihadapi dan tidak hanya diterima begitu saja dengan beradaptasi dengannya. Pada tahun 1960-an. Freire menjadi terkenal dalam bidang pendidikan kritis melalui bukunya yang terkenal AuPedagogy of the OppressedAy. Pada tahun 1979. Freire kembali ke Brazil dan menempati posisi penting di Universitas Sao Paulo. Freire bergabung dengan Partai Buruh Brazil (The WorkerAos Part. di kota Sao Paulo, dan bertindak sebagai penyedia untuk proyek melek huruf dewasa dari tahun 1980-1986. Ketika Partainya menang dalam pemilu-pemilu munisipal pada 1986. Freire diangkat menjadi Sekretaris Pendidikan untuk Sao Paulo. Tahun 1988, dia ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan untuk kota Sao Paulo, sebuah posisi yang memberinya tanggung jawab untuk mereformasi dua pertiga dari seluruh sekolah negeri yang ada. Pada 1991, didirikanlah Institut Paulo Freire di Sao Paulo untuk memperluas dan menguraikan teori-teorinya tentang pendidikan rakyat. Institut ini menyimpan semua arsip Freire (Denis Collins. Penerjemah Henry Heyneardhi, 1. Paulo Freire meninggal pada 2 Mei 1997, karena serangan jantung di rumahnya Sao Paulo. Meskipun telah meninggal, karya-karyanya masih dihormati dan dijadikan sebagai rujukan oleh banyak orang di seluruh dunia (Haikal et al. , 2. Konsep Pendidikan Pembebasan Paulo Freire Secara etimologi, pendidikan berasal dari kata AupaedagogieAy dari bahasa Yunani, terdiri dari kata AupaesAy artinya anak dan AuagogosAy artinya membimbing. Jadi paedagogie berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa Romawi pendidikan berasal dari kata AueducateAy yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada dari dalam. Sedangkan dalam bahasa Inggris pendidikan diistilahkan dengan kata Auto educateAy yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni: membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah . , mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak (Hidayat & Abdillah, 2. Secara umum, konsep pendidikan pembebasan berfokus pada pengembangan kesadaran kritis individu terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang menyebabkan ketidakadilan. Menurut Paulo Freire, pendidikan tidak boleh hanya menjadi proses transfer pengetahuan dari guru ke siswa secara satu arah, tetapi harus menjadi proses dialogis di mana peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran dan memahami realitas mereka sendiri (Laela, 2. Secara khusus pendidikan pembebasan yang digagas Paulo Freire ini lebih mengarah kepada makna bebas dari keterbelengguan dan ketertindasan dari apapun yang bisa mengintervensi manusia untuk tidak bebas melakukan apapun yang dikehendakinya. Gagasan Freire ini memang tak lepas dari keadaan sosial pada waktu itu. Itulah sebabnya, gagasan Freire ini sering disebut oleh para ahli di bidang pendidikan sebagai pendidikan kritis karena pendidikan yang membebaskan merupakan bentuk kritisme sosial (Azzet. Ada beberapa konsep dalam pendidikan pembebasan Paulo Freire yang sudah tidak asing lagi di dalam dunia pendidikan yaitu humanisasi, pendidikan hadap masalah, konsientasi, dan dialog. Pertama. Humanisasi merupakan hal yang wajib diperjuangkan karena sejarah menunjukan humanisasi dehumanisasi merupakan alternatif yang real. Akan tetapi, hanya humanisasi saja yang merupakan panggilan manusia sejati. Dehumanisasi tidak hanya mewarnai mereka yang kemanusiaannya dirampas, tetapi juga mereka yang merampasnya. Dalam perjuangan humanisasi itu manusia tertindas tidak boleh berbalik menjadi penindas (Khoirul, 2. Istilah humanisasi berasal dari kata latin Humanus dan mempunyai akar kata homo yang berarti manusia, humanus berarti sifat manusia atau sesuai kodrat manusia. Pendidikan humanis sejatinya adalah wadah yang memfasilitasi peserta didik untuk mendapatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaannya, kosekuensinya apabila tidak sesuai atau keluar dari rel kemanusiaan maka pendidikan tersebut kembali direkonstruksi sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang semestinya (Fitriasyah, 2. Kedua, pendidikan hadap masalah dalam hal ini Freire mengkritik keras terhadap pendidikan sistem gaya bank, dalam pendidikan itu guru merupakan subjek yang memiliki pengetahuan yang diisikan kepada murid. Murid adalah wadah atau suatu tempat deposit, dalam proses pembelajaran itu murid hanya objek belaka. Sangat jelas dalam pendidikan semacam itu bagi Freire, tidak terjadi komunikasi yang sebenarnya antara guru dan murid. Sistem bank dalam pendidikan memelihara dan mempertajam kontradiksi antara pendidik dan peserta didik melalui cara-cara serta kebiasaan yang mencerminkan keadaan dimana ada penindas . endidik sebagai subje. dan yang tertindas . eserta didik sebagai obje. (Murtiningsih, 2. Konsep pendidikan AohadapmasalahAo memberi ruang kebebasan bagi para guru dan murid dalam belajar. Hal itu sejalan dengan konsep Aumerdeka belajarAy yang selalu digaungkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Konsep Aumerdeka belajarAy adalah kritik terhadap sistem pendidikan yang mengekang guru dan murid selama ini yang dibuat pemerintah. Sasaran utama konsep Aumerdeka belajarAy adalah memberi guru kebebasan untuk brekreasi dalam pendidikan (Anwar, 2. Menurut Muhammad Nur Rizal, peraturan yang dibuat pemerintah dengan menerapkan kurikulum-kurikulum pendidikan . ering tidak relevan terhadap kebutuha. merupakan sebuah penindasan. Ketika masyarakat dimatikan kebebasannya, dipasang oleh perspektif kognitif,dan dituntut bertahan hidup dengan menjaga perputaran roda industri, kolonialisme kembali hadir di sana (Rizal, 2. Konsientisasi menurut Paulo Freire adalah proses pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kritis individu terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang mempengaruhi kehidupan mereka. Freire menekankan pentingnya dialog, refleksi, dan aksi dalam pendidikan, sehingga peserta didik dapat memahami dan menganalisis realitas mereka serta berpartisipasi dalam perubahan sosial. Proses ini melibatkan beberapa elemen kunci, seperti kesadaran kritis, dialog, refleksi, dan aksi (Mansyur, 2. Kesadaran rritis mendorong individu untuk berpikir kritis tentang lingkungan mereka dan menyadari ketidakadilan yang ada. Dialog, interaksi antara pendidik dan peserta didik yang memungkinkan pertukaran ide dan pengalaman. Refleksi, proses merenungkan pengalaman dan realitas untuk memahami konteks sosial yang lebih luas. Aksi keterlibatan dalam tindakan nyata untuk mengubah keadaan yang tidak adil dan memperjuangkan hak-hak mereka (Abudin, 2. Pendidikan yang digagas oleh Paulo Freire merupakan sebuah pendidikan yang menyangkut kesadaran kritis, hal yang tidak kalah penting dalam konsep pendidikan Paulo Freire adalah konsep Pendidikan Dialogis. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasan serta keterbukaan pada peserta didik. Terbuaknya ruang-ruang dialog merupakan salah satu syarat guna melapangkan jalan menuju terciptanya individu yang berkesadaran kritis. Dalam bidang pendidikan salah satu hal mendasar yang kiranya perlu segera diatasi adalah terkait sentralisasi peran pendidik dalam proses pembelajaran. Seringkali proses pembelajaran yang diaplikasikan dalam pembelajaran cenderung menunjukkan model-model pembelajaran konsevatif. Konsevatif merupakan cara belajar yang menempatkan pendidik sebagai aktor dominan dalam proses pembelajaran. Sedangkan peserta didik sebagai salah satu aktor didalamnya hanya diberikan sedikit kebebasan atau keleluasaan (Suriani et al. , 2. Nilai Ae Nilai Pendidikan Pembebasan Paulo Freire dalam Kurikulum Merdeka Belajar Dalam pandangan Paulo Freire, hal yang paling mendasar dalam pendidikan pembebasan adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Pemanusian manusia berfungsi untuk mengenalkan kebudayaan supaya dapat bertindak sesuai kebudayaannya, peserta didik berinteraksi langsung dengan kebudayaan untuk dapat meningkatkan kesadaran yang baik sesuai kulturnya. Peningkatan kesadaran merupakan tindakan aksi kultural untuk melakukan pembebasan dan sebagai revolusi cultural (Sani & Ilham. Menurut Paulo Freire, pendidikan didalam harus bersifat dialogis-komunikatif. Guru merupakan seseorang yang harus dihormati dan dimuliakan setinggi-tingginya oleh seorang murid, dan guru memiliki hak maksimal untuk meningkatkan intelektualitas, integritas, dan menjaga harga dirinya agar kebutuhan murid untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan dan keteladanan akhlak yang baik dapat terpenuhi (Afida et al. , 2. Metode Dialogis-Komunikatif merupakan upaya awal untuk adanya sikap saling menghargai sesama, dialog antar sesama tercipta dari kesadaran diri dan kemauan bawaan untuk saling belajar berbagai hal dari orang lain dengan perlakuan sederajat, yakni saling menggangap mampu mengajar dan membimbing (Widodo et al. , 2. Guru dan siswa harus saling terlibat kerjasama dalam membentuk proses belajar yang efektif, dimana terciptanya pembelajaran berbagai arah antara guru dengan murid dan murid dengan murid yang lain. Pembelajaran problem solving yang dicetudkan oleh Freire, dimana guru tidak hanya memberikan penjelasan melalui ceramah kelas saja, tapi metode pembelajaran ini membangun proses belajar yang saling aktif dan berdiskusi (Kamil & Ratnasari, 2. Pendidikan pembebasan yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar dan mengubah mereka dari "pembelajaran sebagai pemberian" menjadi "pembelajaran sebagai pembebasan". Berikut adalah beberapa nilai-nilai pendidikan pembebasan Paulo Freire yang relevan dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Pertama, dialogis dan kritis. Freire menekankan pentingnya dialog antara guru dan siswa, di mana kedua belah pihak saling belajar dan berbagi pengetahuan. Ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka Belajar yang mendorong partisipasi aktif dan kritis siswa dalam proses pembelajaran. Kedua, berpikir kritis dan rasional yaitu pendidikan yang membebaskan akan membiasakan peserta didik untuk berfikir kritis dan rasional. kebiasaan siswa dalam berfikir kritis dapat mempermudah dirinya dalam mencapai esensi berpikir secara kesadaran tumbuh dari pergaulan atas realitas yang dihadapi dan diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri anak didik. Freire setidaknya membagi dalam 4 tingkatan kesadaran manusia, yaitu . kesadaran intransitive, yang menunjukkan di mana seorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani namun tidak sadar terhadap sejarah dan akhirnya tenggelam dalam masa kini yang menindas, . kesadaran semi intransitif atau kesadaran magis, terjadi pada masyarakat berbudaya bisu di mana masyarakatnya tertutup. Ciri kesadaran ini adalah fatalistik yang mengindikasikan hidup dibawah kekuasaan orang lain atau dalam ketergantungan, . kesadaran naif, merupakan kesadaran yang sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali realitas tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitif dan naif, dan . kesadaran transitif . , yaitu kesadaran yang ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah percaya diri dalam berdiskusi, serta mampu menerima dan menolaknya (Husni, 2. Ketiga, pendidikan bebas penindasan, akan membuat sadar akan suatu penindasan karena didalam pendidikan adanya pelatihan untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah, memandang suatu permasalahan dengan sudut pandang rasional, inovatif dan kolaboratif serta dapat berkomunikasi dengan baik (Madhakomala et al. , 2. Keempat, keterlibatan aktif, pendidikan pembebasan menekankan bahwa siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga berperan aktif dalam proses pembelajaran. Ini sesuai dengan pendekatan Kurikulum Merdeka Belajar yang mengedepankan kemandirian dan keterlibatan aktif siswa (Nafisah, 2. Kelima, bebas berpendapat, pendidikan saat ini peserta didik diberikan hak mengutarakan pendapat sesuai dengan pemahaman yang didapatkan, hal ini akan menjadi bahan diskusi evalusi belajar untuk melihat poin yang belum dipahami oleh peserta didik (Afida et al. , 2. Dampak Pendidikan Pembebasan Paulo Freire dalam Kurikulum Merdeka Belajar Perspektif Filsafat Pendidikan Islam Pendidikan pembebasan yang dikemukakan oleh Paulo Freire memiliki dampak signifikan terhadap Kurikulum Merdeka Belajar di Indonesia. Dalam perspektif Freire, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai alat untuk membebaskan individu dari penindasan dan ketidakadilan. Kurikulum Merdeka Belajar yang menekankan pada kebebasan siswa untuk memilih dan mengembangkan potensi diri sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan pembebasan. Dalam konteks ini, siswa diajak untuk berpikir kritis, berdialog, dan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, sehingga mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga agen perubahan dalam masyarakat. Freire berargumen bahwa pendidikan harus bersifat kontekstual dan relevan dengan realitas kehidupan siswa, yang menjadi landasan bagi pengembangan kurikulum yang lebih inklusif dan memberdayakan. Dengan demikian, penerapan prinsip-prinsip pendidikan pembebasan dalam Kurikulum Merdeka Belajar dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih demokratis dan berkeadilan. Perspektif Filsafat Pendidikan Islam memberikan kerangka etik dan spiritual yang memperkaya pendekatan ini. Berikut adalah pembahasan tentang dampak pendidikan pembebasan Paulo Freire terhadap Kurikulum Merdeka Belajar dalam perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Pertama, partisipasi aktif sebagai inti pendidikan. Kurikulum Merdeka memberi kebebasan peserta didik untuk mengeksplorasi minat dan kemampuan, sehingga meningkatkan partisipasi aktif dalam pembelajaran. Partisipasi aktif melibatkan keterlibatan siswa dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran, seperti pada pembelajaran berbasis proyek. Siswa yang aktif berkontribusi melalui diskusi, kerja sama, dan presentasi kreatif, menunjukkan pemahaman lebih baik, keterampilan kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, dan tanggung jawab terhadap hasil akhir (Napitupulu et al. , 2. Dalam perspektif Filsafat Pendidikan Islam, kesadaran kritis sejalan dengan konsep tazkiyah . enyucian dir. dan ijtihad . saha intelektua. Islam mendorong individu untuk memahami dunia dengan hikmah, berpikir mendalam, dan membangun kesadaran yang tidak hanya bersifat intelektual tetapi juga spiritual. Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi masalah kehidupan nyata, yang dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam untuk membentuk insan yang kamil . Kedua, fleksibilitas pendidikan. Kurikulum Merdeka Belajar yang bersifat memberikan kebebasan kepada seluruh komponen dalam satuan pendidikan dari Sekolah. Guru hingga siswa. Kurikulum Merdeka merupakan salah satu kurikulum yang merubah konsep system pembelajaran di Indonesia. Kurangnya beban Guru ialah guru bisa dapat leluasa dalam melaksanakan pembelajaran serta beban tugas administrasi lebih sederhana sehingga dalam menjalankan sebagai guru lebih terasa nyaman (Alfaeni & Asbari, 2. Dari perspektif Filsafat Pendidikan Islam, fleksibilitas pendidikan ini dapat dipahami sebagai penerapan nilai rahmatan lil 'alamin . ahmat bagi semesta ala. , di mana pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan individu sesuai dengan fitrah mereka. Kebebasan yang diberikan kepada guru dan siswa sejalan dengan konsep ikhtiyar . dalam Islam, yang mendorong manusia untuk bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan mereka. Fleksibilitas ini juga memungkinkan pendidikan untuk lebih adaptif terhadap berbagai perubahan sosial dan kebutuhan zaman, sambil tetap berlandaskan pada nilai-nilai spiritual dan moral. Ketiga, keterampilan resolusi konflik. Simulasi konflik sosial efektif meningkatkan keterampilan resolusi konflik siswa dengan memberikan pengalaman langsung, menumbuhkan empati, dan memahami berbagai sudut pandang. Diskusi