Analisa Perbaikan Hotspot Dalam KeadaanBertegangan Dan Tidak Bertegangandi PT. PLN (Perser. UPT Cawang Samuel Frando Gurning. Sumpena Teknik Elektro. Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Jakarta. Indonesia Abstrak Penelitian ini menganalisis perbaikan hotspot dalam sistem kelistrikan di UPT Cawang dengan membandingkan dua metode perbaikan, yaitu PDKB (Pekerjaan Dalam Keadaan Berteganga. dan offline . idak berteganga. , melalui analisis hasil thermovisi. Hotspot pada titik sambungan klem dan konduktor dapat menyebabkan kerusakan serius jika tidak segera ditangani, mengurangi keandalan sistem, dan meningkatkan risiko pemadaman listrik. Metode offline dapat menyebabkan rugi-rugi daya dan gangguan layanan, sedangkan PDKB memungkinkan perbaikan dilakukan tanpa mematikan sistem, meskipun membutuhkan teknik dan alat khusus. Penelitian ini menggunakan analisis OIT suhu untuk mengevaluasi keparahan hotspot, menghitung gain saving dari metode PDKB, dan menganalisis rugi-rugi daya pada metode offline. Data thermovisi dari GI Cibubur dan GI Jatirangon menunjukkan OIT tinggi pada beberapa fase, menandakan perlunya perbaikan sesuai standar PLN. Perbaikan menggunakan PDKB di GI Cibubur menurunkan suhu dari 59AC menjadi 35,7AC dengan memadamkan tegangan, sementara perbaikan offline di GI Jatirangon menurunkan suhu dari 62AC menjadi 39,9AC pada Fasa R dan 57AC menjadi 40,2AC pada Fasa S tanpa memadamkan tegangan. Analisis gain saving menunjukkan metode PDKB menghemat energi 440 kWh, sedangkan metode offline menyebabkan kerugian daya sebesar 285. 260 kWh, menyoroti keuntungan ekonomis dari PDKB dibandingkan kerugian pada metode offline . Kata Kunci: PDKB (Pekerjaan Dalam Keadaan Berteganga. , offline, hotspot, thermovisi Abstract This study analyses the repair of hotspots in the electrical system at UPT Cawang by comparing two repair methods, namely PDKB (Work Under Voltag. and offline . o voltag. , through analysis of thermovision results. Hotspots at the connection points of clamps and conductors can cause serious damage if not addressed immediately, reduce system reliability, and increase the risk of power outages. Offline methods can lead to power losses and service interruptions, while PDKB allows repairs to be carried out without shutting down the system, although it requires specialised techniques and tools. This study uses temperature OIT analysis to evaluate the severity of hotspots, calculate the saving gain of the PDKB method, and analyse the power loss of the offline method. Thermovision data from GI Cibubur and GI Jatirangon showed high OIT in some phases, signalling the need for repairs according to PLN standards. Repairs using PDKB at GI Cibubur reduced the temperature from 59AC to 35. 7AC by removing the voltage, while offline repairs at GI Jatirangon reduced the temperature from 62AC to 39. 9AC in Phase R and 57AC to 40. 2AC in Phase S without removing the voltage. The gain saving analysis showed that the PDKB method saved 694,440 kWh of energy, while the offline method caused a power loss of 285,260 kWh, highlighting the economic advantage of the PDKB over the loss in the Keywords:PDKB (Work Under Voltag. , offline, hotspot, thermovision Pendahuluan Sistem kelistrikan merupakan sistem yang sangat kompleks, yang mana pada sistem kelistrikan terdapat 3 bagian besar yakni sistem pembangkit, sistem transmisi dan sistem distribusi. Pada sistem Transmisi sangat berperan dalam penyaluran listrik bahkan dikatakan sebagai urat nadi sistem tenaga listrik yang mempengaruhi kemanan dan perekonomian suatu negara. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat maka pertumbuhan kebutuhan energi listrik pun akan meningkat, hal tersebut juga terjadi di Indonesia yang memiliki pertumbuhan penduduk yang meningkat. Hal tersebut menjadi tantang yang cukup besar bagi penyedia energi listrik di Indonesia terutama pada sistem Transmisi karena pusat pembangkitan dengan pusat pertumbuhan penduduk memiliki jarak yang jauh. Akan tetapi dalam pengoperasian sistem Transmisi tak luput dari berbagai gangguan dan anomali yang dapat merusak keandalan sistem dari penyaluran listrik. Anomali hotspot merupakan kelainan temperatur yang terjadi pada peralatan yang dialiri arus listrik umumnya terjadi pada titik sambungan Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan ganggun dan anomali tersebut sehingga akan berdampak pada kerugian energi yang tidak tersalurkan atau terputusnya penyaluran energi listrik. Hotspot dapat menyebabkan kerugian karena energi listrik diubah menjadi energi panas pada titik terjadinya hospot. Hotspot juga dapat menyebabkan rusaknya bagian peralatan transmisi karena melebur akibat panas yang tinggi. Maka dari itu anomali hotspot harus secepatnya ditangani karena dapat menyebabkan kerugian energi, kegagalan mekanis dan kegagalan elektris. Pada sistem penyaluran transmisi sering mengalami anomali hotspot karena beban arus yang tinggi. Hotspot dapat terjadi pada jaringan SUTT/SUTET mau pun instalasi GI/GITET. Hotspot dapat dideteksi menggunakan alat thermovisi yang mengukur anomali temperatur pada titik terjadinya hotspot. Inspeksi berkala menggunakan thermovisi bertujuan mendeteksi kemunculan hotspot. Setelah terdeteksi anomali hotspot dilakukan perbaikan dengan cara membersihkan titik hotspot atau menambah konduktor jumper. Perbaikan hotspot dapat dilakukan dengan 2 pilihan metode kerja yakni dengan pemadaman listrik atau tanpa pemadaman listrik. Anomali hotspot yang terjadi pada GI Cibubur dan GI Jatirangon terjadi karena kotoran yang menempel pada permukaan klem sehingga mengakibatkan munculnya hambatan. Jaringan Transmisi Listrik PLN merupakan aset sensitif, dimana aset ini memberi kontribusi yang besar dalam keberhasilan usahanya, perlu melaksanakan pengelolaan aset dengan baik dan sesuai dengan standar pengelolaan aset. Maka perlu dilakukan inspeksi secara berkala menggunakan thermovisi serta perbaikan anomali hotspot yang tanpa Berdasarkan masalah tersebut penulis mengambil topik pembahasan mengenai analisa hasil perbaikan hotspot dengan data pekerjaan secara PDKB dan dengan data pekerjaan secara offline. Materi dan Metode 1 Materi Pengertian Disconnecting switch Disconnecting switch atau PMS (Pemisa. adalah peralatan dalam sistem tenaga listrik yang berfungsi sebagai saklar pemisah rangkaian listrik dalam kondisi bertegangan atau tidak bertegangan, namun tanpa arus beban. PMS biasanya ditempatkan antara sumber tenaga listrik dan PMT (PMSBu. serta antara PMT dan beban (PMSLine/Kabe. , dan sering dilengkapi dengan PMS Tanah (Earthing Switc. Interlock biasanya digunakan antara PMSLine/Kabel dan PMS Tanah. PMS terdiri dari dua komponen utama: dielektrik/isolator, yang memisahkan bagian bertegangan dan tidak bertegangan, serta subsistem primary, yang menghantarkan arus listrik melalui klem dan contact finger. Contact finger merupakan bagian dari pemisah tegangan . PemisahTegangan Pemisah adalah suatu alat untuk memisahkan tegangan pada peralatan instalasi tegangan tinggi. Ada dua macam fungsi pemisah, yaitu: PemisahPentanahan Berfungsi untuk menghilangkan/mentanahkan tegangan induksi atau tegangan sisa yang masih ada di instalasi gardu induk. PemisahPeralatan Berfungsi untuk mengisolasikan peralatan listrik dari peralatan lain atau instalasi lain yang Pemisah ini boleh dibuka atau ditutup hanya pada rangkaian yang tidak berbeban. Parameter pemisah tegangan mempunyai peranan penting untuk menentukan kualitas dari pemisah itu sendiri. Parameter tersebut diantaranya adalah: A KemampuanMengalirkanArus A KemampuanTegangan A Kemampuan Menahan Arus Hubung Singkat . Jenis Tenaga Penggerak Berdasarkan jenis tenaga penggeraknya pemisah tengangan pada instalasi tegangan tinggi dapat dibedakan menjadi: Secara Manual Pengoperasian pemisah secara manual dilakukan dengan memutar atau menggerakkan lengan yang terpasang pada sistem untuk mengeluarkan atau memasukkan material. Operator harus menggerakkan lengan ke posisi yang tepat untuk memastikan proses berjalan lancar. Desain lengan memungkinkan kontrol presisi dan efisiensi dalam pengelolaan material, sehingga diperlukan perhatian dan keterampilan operator untuk mengoptimalkan fungsi pemisah dan mengurangi risiko kerusakan atau kecelakaan. Tenaga Pengerak dengan Motor Motor penggerak ini terpasang pada box mekanik dimana box harus dalam keadaan bersih. Secara periodic dilakukan pemeliharaan. Pintu box harus tertutup rapat agar semut atau binatang kecil lainnya tidak bisa masuk kedalamnya. Tenaga PenggerakTekanan Udara Tekan udaradapatdiperolehdarikompresorudarasentral yang terpasangdalamrumahkompresor. Hotspot ISSN(P): 0000-0000 ISSN(E): 9999-9999 Hotspot adalah panas terpusat pada peralatan listrik yang dialiri arus, yang dapat dideteksi dengan alat thermovisi. Hotspot merupakan anomali yang dapat mengganggu sistem penyaluran listrik, terutama pada jaringan transmisi seperti SUTT dan SUTET, sering terjadi pada sambungan konduktor atau klem. Penyebabnya adalah peningkatan tahanan sambungan akibat polusi, yang menghasilkan panas berlebih saat arus listrik melewati sambungan tersebut. Faktor Hotspot A Penyambungan Penggunaanklemdalampenyambunganharusmemilikikekencangan Selain kekuatan sambungan cela udara juga menjadi faktor kualitas komponen ini. A Korosi Dan Oksidasi Sambungan atau klem yang terpapar elemen cuaca atau bahan kimia bisa mengalami korosi atau oksidasi. Kedua proses ini dapat meningkatkan resistansi dan mengurangi efisiensi konduksi listrik, yang kemudian menghasilkan panas dan menciptakan hotspot. A PengaruhGangguan Gangguan yang menimbulkan arus lebih dapat menyebabkan terjadinya hotspot di titik Gangguan umum yang sering terjadi adalah pohon yang tumbang atau dahan yang mengenai konduktor sehingga akan menyebabkan gangguan 1 fasa ke tanah maupun fasa ke fasa. A Hambatan Hambatan memiliki sifat menahan arus listrik serta dapat mengubah energi listrik menjadi enekgi panas, semakin tinggi arus beban maka kenaikan panas juga akan semakin besar. Panas yang dihasilkan karena adanya hambatan maka akan menyebabkan sambungan dan klem mengalami pemuaian. Apabila dalam pemasangan kelm jumper konduktor memiliki cela udara makakotorandapatmasuk dan menjadihambatan. A Beban Jumlahbeban yang tinggi juga dapatmenyebabkanterjadinyahotspot pada konduktor dan Hal tersebutterjadi pada saatterdapatbebanbaru yang begitubesar dan . Kerugian Hotspot Umur peralatan atau timbulnya panas pada material transmisi dapat menyebabkan anomali berupa penuruan andongan bahkan gangguan berupa pemadaman tidak terencana, yang mengancam keselamatan dan stabilitas penyaluran listrik . Curah hujan dan titik panas saluran transmisi listrik dapat diakibatkan oleh kondisi cuaca yang ekstrim, sehingga A Kekuatan mekanis dari konduktor dan klem akan melemah A Konduktor dan klemakanbertambahpanjang A Penampang konduktor maupun klem akan mengecil A Konduktorakanputus A Rugidayaakibat hotspot A Rugibiayaakibat hotspot . Cara Mengurangi atau Memperbaiki Hotspot Cara yang dapat dilakukan dalam perbaikan hotspot dibagi menjadi 3, tergantung dari titik serta keadaan komponen yang terkena hotspot. Adapun metode yang digunakan untuk perbaikan hotspot adalah: Membersihkanbagian Menambah jumper tambahanuntukmenambahluaspenampangkonduktorsehinggaaruslistrik yang Menggantikomponen yang mengalami hotspot jikakomponentersebutsudahmengalamipemuaian yang signifikansehinggakekuatanmekaniknyaberkurang. Thermovisi . InspeksiThermovisi Pengukuransuhusecaralangsungmenggunakan thermometer tidak mungkin dilakukan sebab tegangan lsitrik yang tinggi. Untuk mengetahui hal tersebut inspeksi peralatan dari hotspot menggunakan alat berupa thermovisi . Pengukuran suhu dengan thermovisi akan memberikan nilai suhu dari objek terukur. Untuk mengetahui dengan benar suhu objek yang mengalami panas, ada dua cara yang dapat mengetahui nilai hasilukur yang benar. A Membandingkanhasilukurdengansuhuoperasiobjek. A Membandingkanhasilukurdenganhasilukurobjek lain yang samadisekitarnya. Kamera SuhhuFlirSistem Kamera SuhuFlirSistemadalahalatpengukursuhu Alat inidapatmenyimpanfotohasilpengukuransuhu dan sangat pentingdalamindustripenyaluranlistrik, karenadapatmendeteksikenaikansuhu yang terjadiakibatkelainan pada peralatan. Perbandingan Suhu Klem dan Suhu Konduktor Pengukuran suhu dengan thermovisi adalah teknik penting untuk memantau kondisi operasional peralatan listrik, khususnya dalam mendeteksi hotspot. Pengukuran dilakukan pada dua titik utama: suhu konduktor dan suhu pada klem atau sambungan. Konduktor adalah elemen yang mengalirkan arus listrik, sementara klem adalah titik penghubung yang rentan terhadap masalah seperti peningkatan resistansi atau kerusakan mekanis. Suhu konduktor memberikan informasi tentang kondisi arus listrik, sedangkan suhu klem dapat mengindikasikan masalah seperti korosi atau kelonggaran sambungan, yang dapat menyebabkan hotspot. Analisis kenaikan suhu hotspot dari suhu lingkungan dilakukan dengan persamaan . Dimana: Imaks = Arus maksimum yang pernah dicapai Ithermovisi = Arus beban saat shooting Tklem = Suhu objek klem Truangan = Suhu objek konduktor Thermovisi memiliki standard kondisi dalam menentukan suhunya sesuai rekomendasi buku PLN SK DIR 520 2014 sebagai berikut: 0 Ae 10< : kondisibaik > 10 - 25 : periksasaatpemeliharaan A > 25 - 40 : rencanaperbaikan . aksimal 30 har. A > 40 - 70 : perbaikansegera A > 70 : kondisidarurat. Metode Pekerjaan dan Keadaan Bertegangan (PDKB) Metode Pekerjaan dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) adalah teknik yang memungkinkan pekerjaan pada peralatan listrik yang masih dialiri arus, tanpa mematikan sistem. Metode ini penting untuk menjaga kontinuitas pasokan listrik dan menghindari kerugian ekonomi akibat penghentian operasi. PDKB dilakukan dengan prosedur dan peralatan khusus untuk memastikan keselamatan pekerja, termasuk penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan isolasi dan pelindung wajah. Pekerja yang melakukan PDKB harus memiliki kualifikasi dan pelatihan khusus, serta mematuhi prosedur ketat dan pemantauan kontinu untuk mengurangi risiko dan menjamin keselamatan serta keandalan sistem. 2 Metode Penelitiaan Penelitian ini dilakukan di PT. PLN (Perser. Unit Induk Jawa Bagian Barat Uni Pelaksana Transmisi (UPT) Cawang. Data penelitian ini diambil dari pekerjaan perbaikan hotspotGI Cibubur bay cibinong 2 secara offline pada tanggal 20 Mei2024 dan pekerjaan perbaikan hotspotGI Jatirangon Bay Trafo 2 fasa rsecara PDKB pada hari JumAoat tanggal 21 Mei 2024 Berikut urutanflowchart dalam melaksanakan perbaikan hotspot baik secara PDKB maupun secara Offline. ISSN(P): 0000-0000 ISSN(E): 9999-9999 Mulai Inspeksi Thermovisi Hotspot JSA PDKB PerbaikanHotspot MetodeOffline PerbaikanHotspot MetodePDKB BeritaAcaraP Selasai Gambar 1. Flowchart Penelitian Parameter Penelitian: Identifikasi Hotspot: Mengidentifikasi jenis dan lokasi hotspot pada gardu induk. Metode Deteksi: Menggunakan kamera termal dan sensor suhu. Suhu Hotspot:Mengukur suhu sebelum dan sesudah perbaikan. Durasi Pekerjaan: Waktu yang dihabiskan untuk perbaikan. Teknik Perbaikan: Mengatasi hotspot melalui pengencangan sambungan, penggantian komponen, atau Efektivitas Perbaikan: Menilai penurunan suhu dan stabilitas suhu pasca perbaikan. Pengumpulan Data: A Studi Literatur: Mengumpulkanreferensi dari berbagai sumber untukmenyusundasarteori. A Observasi: Mengamatilangsungobjek yang diteliti. A Wawancara: Mengumpulkan data primer dan sekunder melalui wawancara dengan pengawas dan Teknik Pengolahan Data: Pengukuran suhu pada klem PMS dilakukan menggunakan thermovisi. Perbaikan dilakukan dengan menghitung rugi-rugi daya dan gain saving pada perbaikan hotspot baik secara offline maupun PDKB. JSA Hotspot PDKB JSA yang dilakukan oleh tim PDKB dalam pekerjaan perbaikan hotspot di GI Jatirangon PMS rel b Bay Trafo 2 adalah dengan mengukur jarak antara PMS, tinggi PMS jarak antara PMS dan mengukur suhu pada klem. A Jarak antara PMS sejauh 3 Meter A Lebar PMS selebar 1,8 Meter A Tinggi PMS setinggi 4,5 Meter A Suhu Klem CF PMS pada saat JSA - Pada fasa R sebesar 62 CCelcius - Pada fasa S sebesar 57 CCelcius - Pada fasa T sebesar 45 CCelcius Hasil dan Pembahasan Hasil analisis dilakukan setelah melakukan inspeksi menggunakan teknologi thermovisiuntuk mendeteksi adanya hotspot pada peralatan listrik. Setelah hotspot terdeteksi, dilakukan Job Safety Analysis (JSA) untuk menentukan apakah perbaikan dapat dilakukan menggunakan metode PDKB atau harus dilakukan dengan metode Offline. Setelah perbaikan selesai, dibuat berita acara yang mendokumentasikan hasil pekerjaan. Lalu tahap terakhir dari penelitian ini adalah menarik kesimpulan. 1 Analisis Hasil Thermovisi Data thermovisidiambilberdasarkanberita acara pekerjaan, dengantitikpengukuranmeliputi terminal jumper dalam dan luarserta dead end compression pada penghantar I Fasa RST. Analisisthermovisifokus pada sambunganantaraklem dan konduktor, di mana digunakanpersamaankriteria OIT. Oleh karena itu, sertamenghitungperbedaansuhuantaraklem dan konduktor (OIT) sesuaidenganpersamaan: 1 Analisis Hasil Thermovisi pada GI Cibubur Bay Cibinong 2 Hasil data thermovisi pada tanggal 3 Mei 2024 adalahsebagaiberikut: A Arus Beban Penghantar Saat Shooting - Fasa R sebesar 610 A - Fasa S sebesar 610 A - Fasa T sebesar 610 A A ArusMaksimum yang Pernah Dicapai - Fasa R sebesar 695 A - Fasa S sebesar 695 A - Fasa T sebesar 695 A A Suhu Pada Sambungan - Fasa R sebesar 59CCelcius - Fasa S sebesar 34CCelcius - Fasa T sebesar 33CCelcius SuhuKonduktor - Fasa R sebesar 31CCelcius - Fasa S sebesar 31CCelcius - Fasa T sebesar 31CCelcius OITdihitungmenggunakanpersamaan . ISSN(P): 0000-0000 ISSN(E): 9999-9999 OITFasa R = . = . = . = 36,346CCelcius OITFasa S = . = . = . = 3,8CCelcius OITFasa R = . = . = . = 2,5CCelcius Sesuairekomendasibuku PLN SK DIR 520 2014maka pada: - Pada fasa R karena OIT telah mencapai 36,346CCelcius maka dijadwalkan - Pada fasa S karenaOIThanya 3,8CCelciushasilpengukurandidapatsuhu normal - Pada fasa S karenaOIThanya 2,5CCelciushasilpengukurandidapatsuhu normal 2 AnalisaHasil Thermovisi pada GI Jatirangon PMS rel b Bay Trafo 2 Hasil data thermovisi pada hari Senin tanggal 18 Mei 2024 adalahsebagaiberikut: A Arus Beban Penghantar Saat Shooting - Fasa R sebesar 990 A - Fasa S sebesar 990 A - Fasa T sebesar 990 A A ArusMaksimum yang Pernah Dicapai - Fasa R sebesar 1200 A - Fasa S sebesar 1200 A - Fasa T sebesar 1200 A A Suhu Pada Sambungan - Fasa R sebesar 62CCelcius - Fasa S sebesar 57CCelcius - Fasa T sebesar 45CCelcius A SuhuKonduktor - Fasa R sebesar 39CCelcius - Fasa S sebesar 39CCelcius - Fasa T sebesar 39CCelcius OITdihitungmenggunakanpersamaan . OITFasa R = . = . = . = 33,78CCelcius OITFasa S = . = . = . = 26,44CCelcius OITFasa T = . = . = . = 8,76CCelcius Sesuairekomendasibuku PLN SK DIR 520 2014maka pada: - Pada fasa R karena OIT telah mencapai 33,78CCelcius maka maka dijadwalkan - Pada fasa S karena OIT telah mencapai 26,44CCelcius maka dijadwalkan perbaikan - Pada fasa T karena OIT hanya 8,76CCelcius maka suhu pada klem tersebut normal 2 Data Hasil Perbaikan Berikutadalah data darihasilperbaikananomalihotspotbaiksecara PDKB maupunsecaraOffline: 1 Hasil Perbaikan Secara PDKB SetelahdihitungOITnyamakaklem pada fasa R dilakukanperbaikansecara PDKB karenamasihbelum emergency dan masihdapatdilaksanakansesuaihasil JSA oleh tim PDKB. Pada saat pelaksanaan pekerjaan tersebut didapat data oleh penulis sebagai berikut: - Arus pada fasa R saat perbaikan sebesar 990 A - Tegangan pada fasa R saat perbaikan sebesar 150 kV - Lama waktu pekerjaan pada fasa R selama 3 Jam - Hasil perbaikan pada fasa R dari suhu 62CCelcius menjadi suhu 39,9CCelcius dan pada fasa S dari suhu 57CCelcius menjadi suhu 40. 2CCelcius dan fasa T dari suhu 45CCelcius menjadi 40,4CCelcius 2 HasilPerbaikan SecaraOffline SetelahdihitungOITnyamakaklem dilakukanperbaikansecaraOffline. Demi menjagakeandalansistemkelistrikan pada GI Cibuburmakaklemtersebutdilakukanperbaikan. Pada saat pelaksaan pekerjaan tersebut didapat data oleh penulis sebagai berikut: - Arus pada fasa R saat perbaikan sebesar 610 A - Tegangan pada fasa R saat perbaikan sebesar 150 kV - Lama waktu pekerjaan pada fasa R selama 2 Jam - Hasil perbaikan pada fasa R dari suhu . CCelciu. menjadi suhu . ,7CCelciu. 3 Gain Saving Dalam Perbaikan Secara PDKB Dalam perbaikan metode PDKB tegangan listrik tidak dipadamkan sehinggabebandarisumber kepelanggandapatterus tersalurkan. Sehinggasalah satukelebihan yang diunggulkan dari metode PDKB yakni Gain Adapunpekerjaanperbaikan Berikutperhitungangain savingdapat dihitungmenggunakanpersamaan . ycE3yceycaycyca =Oo3ycuycOycuyaycuyaycuycycEEaycn = Oo3 ycu150. 000ycu990ycu 0,9 =1,732 ycu150. 000ycu990ycu 0,9 = 231. 800 watt Pada pengerjaan metode PDKB selama mengerjakan perbaikan ada sebesar 140,99 MW daya yang tetap Adapun energi listrik yang tersalurkan selama pekerjaan dapat dihitung menggunakan persamaan . ycO =ycEycuyc =231,48 ycAycOycu3 ycycayco =694,44 MW. Jam = 694. 440 kWH Keuntungan perbaikan hotspot secara PDKB dapat menyelamatkan energilistrik yang memiliki potensi untuk tidak tersalurkan jika menggunakan metodeoffline. Tarif daftar listrikyang digunakan adalah rata-rata biaya pada setiapgolongantarifdayayaitusebesar Rp. 135/kWH. 4 Daya yang Tidak Tersalurkan Dalam PekerjaanSecaraOffline Dalam secaraOfflinemakategangan Sehinggasalah akan menghasilkan rugi-rugi daya selama sistem tersebut tetap dipadamkan. Adapunpekerjaanperbaikan hotspot ini memakan waktu 2 jam denganarussebesar638A. Berikutperhitunganrugi-rugi dayadapatmenggunakanpersamaan . ycE3yceycaycyca =Oo3ycuycOycuyaycuyaycuycycEEaycn = Oo3 ycu150. 000ycu610ycu 0,9 =1,732 ycu150. 000ycu610ycu 0,9 = 142. 200 watt Pada pengerjaan metode Offline selama mengerjakan perbaikan ada sebesar 142,63 MW daya tidak dapat Adapun energi listrik yang tersalurkan selama pekerjaan dapat dihitung menggunakan persamaan . ycO =ycEycuyc ISSN(P): 0000-0000 ISSN(E): 9999-9999 =142,63 ycAycOycu2ycycayco =285,26 MW. Jam = 285. 260 kWH Kerugian perbaikan hotspot secara Offline adalah sebagai berikut. Tarif daftar listrikyang digunakan adalah rata-rata biaya pada setiapgolongantarifdayayaitusebesar Rp. 135/kWH. Dalam tabel berikut di rangkum data hasil pengukuran suhu pada dua lokasi Gardu Induk (GI), yaitu GI Jatirangon dan GI Cibubur. Data ini mencakup suhu laporan awal, perbedaan suhu (OIT) antara klem dan konduktor, serta suhu setelah perbaikan. Selain itu, tabel ini juga mencantumkan gain saving dan rugi daya yang terjadi di masing-masing lokasi. Lokasi Fasa Suhu Laporan (C C) OIT (C C) Suhu Perbaikan (C C) GI Jatirangon 33,78 26,44 8,76 GI Cibubur Gain Saving Rugi Daya 440 kWH 260 kWH Tabel 1. 1 RangkumanHasil Data Kesimpulan . Hasil perhitungan pada thermovisi pada GI Jatirangon PMS bayTrafo 2 ditemukanOIT nya yang berbeda pada setiapfasa. Fasa R OITnyasebesar 33,78CCelcius, fasa S OITnyasebesar 26,44CCelcius, dan fasa T OITnyasebesar 8,76CCelcius, sehinggadiperlukannyaperbaikan pada fasa R dan fasa S untukmenjagakeandalansistemtransmisisesuaipedoman pada PLN SK DIR 520 2014. Hasil perhitunganthermovisi pada GI Cibubur Bay Cibinong 2 ditemukanOITnya yang berbeda pada Fasa R OITnyasebesar 36,34CCelcius, fasa S OITnyasebesar 3,8CCelcius, dan fasa T OITnyasebesar 2,5CCelcius, untukmenjagakeandalansistemtransmisisesuaipedoman pada PLN SK DIR 520 2014. Hasil gain savingdaripekerjaanperbaikanhotspot pada GI Jatirangon PMS Bay Trafo 2 secara PDKB 440 kWH . Kerugianakibatdaya yang tidaktersalurkandaripekerjaanperbaikananomalihostspot GI Cibubur Bay Cibinong 2 secaraOfflineadalahsebesar 285. 260 kWH Daftar Pustaka