SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 109-113 September 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Efektivitas Tumpang Sari Tanaman Kopi Di Kebun Karet Dengan Metode Sambung Pucuk Effectiveness Of Coffee Plants Intercropping In Rubber Gardens Using The Top Graping Method Pilipus Erdi1*. Lisa Pratama2 Program Studi Sains Pertanian. Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Nurul Huda. Sukaraja. OKU Timur Indonesia *E-mail: pilipuserdi68@gmail. ABSTRAK Sistem tumpang sari merupakan salah satu pendekatan pertanian berkelanjutan yang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sistem tumpang sari tanaman kopi (Coffea canephor. di kebun karet (Hevea brasiliensi. dengan menggunakan metode sambung pucuk. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan meliputi karet monokultur (K. , tumpang sari kopi-karet dengan sambung pucuk metode celah (K. , tumpang sari kopi-karet dengan sambung pucuk metode sadel (K. , dan tumpang sari kopi-karet dengan sambung pucuk metode mata tempel (K. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman, produktivitas, analisis ekonomi, dan kualitas lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tumpang sari kopi-karet dengan metode sambung pucuk memberikan efektivitas yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas lahan. Perlakuan K2 . ambung pucuk metode sade. memberikan hasil terbaik dengan tingkat keberhasilan sambungan 87,5%, produktivitas 850 kg/ha/tahun, dan produktivitas karet 1. 250 kg/ha/tahun. Analisis ekonomi menunjukkan bahwa sistem tumpang sari memberikan Net Present Value (NPV) sebesar Rp 125. 000 dengan Benefit Cost Ratio (BCR) 2,34, lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur. Sistem ini juga memberikan manfaat ekologi berupa peningkatan keanekaragaman hayati dan perbaikan struktur Kata kunci: Tumpang sari, kopi, karet, sambung pucuk, produktivitas, ekonom SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 109-113 September 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. ABSTRACT Intercropping system is one of sustainable agricultural approaches that can increase land productivity and farmers' income. This study aims to analyze the effectiveness of coffee (Coffea canephor. intercropping system in rubber (Hevea brasiliensi. plantation using grafting method. The research was conducted using experimental method with Randomized Block Design (RBD) consisting of 4 treatments and 6 replications. Treatments included rubber monoculture (K. , coffee-rubber intercropping with cleft grafting method (K. , coffee-rubber intercropping with saddle grafting method (K. , and coffee-rubber intercropping with budding grafting method (K. Parameters observed included plant growth, productivity, economic analysis, and environmental quality. The results showed that coffee-rubber intercropping system with grafting method provides significant effectiveness in increasing land productivity. K2 treatment . addle grafting metho. gave the best results with grafting success rate of 87. 5%, coffee productivity of 1,850 kg/ha/year, and rubber productivity of 1,250 kg/ha/year. Economic analysis showed that intercropping system provides Net Present Value (NPV) of IDR 125,650,000 with Benefit Cost Ratio (BCR) 2. 34, higher than monoculture system. This system also provides ecological benefits in the form of increased biodiversity and improved soil structure. Keywords: intercropping, coffee, rubber, grafting, productivity, economics PENDAHULUAN Pendahuluan efektivitas tumpang sari tanaman kopi di kebun karet dengan metode sambung pucuk dapat dimulai diversifikasi tanaman untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha tani Pendapatan petani karet monokultur masih rendah dan tidak stabil, sehingga tumpang sari dengan tanaman kopi menjadi alternatif yang menjanjikan untuk meningkatkan pendapatan dan efisiensi Kopi robusta (Coffea canephor. cocok ditanam sebagai tanaman sela di kebun karet (Hevea brasiliensi. dengan jarak tanam dan pengelolaan yang tepat untuk meminimalkan kompetisi antar tanaman (Akbar, 2. Metode sambung pucuk . pada tanaman kopi adalah teknik perbanyakan vegetatif yang memungkinkan peremajaan tanaman kopi dengan bibit unggul. Teknik ini dapat meningkatkan pertumbuhan dan konvensional, dengan produksi kopi sambung pucuk naik hingga 26% (Rosyid et al. , 1995. hasil penelitian terbaru 2. Sambung pucuk juga mendukung adaptasi tanaman kopi dalam sistem tumpang sari di kebun karet, sehingga menghasilkan sistem usahatani yang berkelanjutan dan Salah satu kendala pengembangan tanaman sela di antara tanaman karet Adalah intensitas cahaya yang disebabkan oleh factor naungan tajuk tanaman karet. Salah satu cara yang menggunakan sistem jarak tanam ganda (JG). Jarak tanam ganda (JG) memiliki penetrasi cahaya lebih baik daripada sistem jarak tanam tunggal (JT). Menurut Sahuri . , bahwa jarak tanam tunggal (JT) memiliki penetrasi cahaya tidak lebih dari 30% pada ruang tanaman sela sehingga tidak cocok untuk diusahakan dalam jangka panjang. Intensitas cahaya yang rendah pada sistem JT dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman sela setelah karet berumur 2 tahun akibat ternaungi oleh tajuk tanaman karet (Sahuri 2017b. Sahuri, 2. Pengaturan tata ruang jarak tanam ganda (JG) ketersediaan cahaya pada fase tanaman pengaturan jarak tanam tunggal yang popular di perkebunan karet (Huang et al. Penelitian mengevaluasi efektivitas sistem tumpang SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 109-113 September 2025 DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. sari tanaman kopi di kebun karet dengan metode sambung pucuk, fokus pada parameter pertumbuhan, hasil panen, dan aspek ekonomi. Hasilnya diharapkan memberikan alternatif teknik budidaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani karet melalui diversifikasi tanaman yang optimal dan teknologi sambung pucuk modern. nyata, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Analisis ekonomi menggunakan metode NPV dan BCR. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Tanaman Karet METODE PENELITIAN Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan . di Kebun Percobaan di desa sribantolo, oku timur, sumatera selatan. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 48m mdpl dengan jenis tanah Latosol, curah hujan rata-rata 2. 200 mm/tahun, dan suhu rata-rata 29-31AC. Bibit karet klon PB 260 berumur 12 bulan. Bibit kopi robusta varietas BP 42 berumur 8 bulan. Entres kopi robusta unggul Pupuk NPK . :15:. Pupuk organic Fungisida dan insektisida Parafilm untuk pembungkus Pisau sambung Gunting pangkas Meteran Timbangan analitik pH meter tanah Termohigrometer Alat tulis dan kamera. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan, sehingga terdapat 24 unit Setiap berukuran 20 m y 20 m dengan jarak tanam karet 7 m y 3 m dan kopi 2 m y 2 Perlakuan: K0: Karet monokultur . K1: Tumpang sari kopi-karet dengan sambung pucuk metode celah K2: Tumpang sari kopi-karet dengan sambung pucuk metode sadel K3: Tumpang sari kopi-karet dengan sambung pucuk metode mata tempel. Data (ANOVA) kepercayaan 95%. Jika terdapat perbedaan pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman karet. Pada umur 24 bulan setelah tanam, tinggi tanaman karet pada perlakuan tumpang sari (K1. K2. 15-22% dibandingkan dengan sistem monokultur (K. Tabel 1. Pertumbuhan Tanaman Karet pada Berbagai Perlakuan Perlakuan Tinggi Tanaman . Diameter Batang . Jumlah Daun 185,4 a 3,2 a 28,5 a 213,2 b 3,8 b 34,2 b 226,8 c 4,1 c 37,8 c 208,5 b 3,6 b 32,1 b Keberhasilan Sambung Pucuk Tingkat keberhasilan sambung pucuk berbeda nyata antar perlakuan. Metode sambung pucuk sadel (K. memberikan tingkat keberhasilan tertinggi . ,5%), diikuti metode mata tempel . ,3%) dan metode celah . ,2%). Tabel 2. Tingkat Keberhasilan Sambung Pucuk Metode Sambung Pucuk Keberhasilan (%) Waktu Tumbuh Tunas . SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 109-113 September 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian Metode Sambung Pucuk Keberhasilan (%) Waktu Tumbuh Tunas . Celah (K. 78,2 a 21,4 a Sadel (K. 87,5 c 18,2 c 83,3 b 19,8 b DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Mata Tempel (K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tumpang sari kopi-karet dengan metode sambung pucuk memberikan efektivitas yang signifikan dalam pendapatan petani. Metode sambung pucuk sadel memberikan hasil terbaik karena memiliki bidang kontak yang lebih luas antara batang atas dan batang bawah, sehingga proses penyatuan jaringan lebih optimal. Peningkatan produktivitas karet pada sistem tumpang sari disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain perbaikan kesuburan tanah akibat serasah kopi, dan aktivitas mikroorganisme yang lebih Kondisi ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan meningkatkan produktivitas tanaman Dari aspek ekonomi, sistem tumpang sari memberikan diversifikasi pendapatan yang mengurangi risiko fluktuasi harga Meskipun biaya investasi awal lebih tinggi, namun NPV dan BCR menguntungkan dibandingkan sistem Dampak positif terhadap lingkungan Peningkatan keanekaragaman hayati dan perbaikan kualitas tanah merupakan indikator keberlanjutan sistem produksi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil disimpulkan bahwa: Sistem tumpang sari kopi-karet dengan metode sambung pucuk dibandingkan sistem monokultur. Metode sambung pucuk sadel memberikan efektivitas terbaik dengan tingkat keberhasilan 87,5%, kg/ha/tahun, dan produktivitas 273 kg/ha/tahun. Analisis ekonomi menunjukkan sistem tumpang sari memberikan keuntungan yang lebih tinggi dengan NPV Rp 125. 000 dan BCR 2,34 untuk perlakuan terbaik (K. Sistem tumpang sari memberikan lingkungan melalui peningkatan perbaikan kualitas tanah. DAFTAR PUSTAKA