Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas I Gusti Bagus Rai Utama1 Abstract The nature and culture of Bali with all their manifestations have yet to be able to attract tourists of high quality, even though the Balinese culture is undoubtedly popular in the international tourism arena. This article offers quality tourism management strategies in order to realize touristsAo satisfaction, which in turn is hoped to increase the visit of quality and loyal tourists in the future. This study utilizes desk research method with online data collection and information gathering technique, using secondary sources and other published scientific sources. Analytical techniques utilized include quantitative and qualitative descriptive analysis, and comparative analysis of previous research and scientific publications related to the economic and business dimensions of tourism. This research recommends that the implementation of quality tourism management for Bali is of urgent importance because BaliAos development has been relying on the tourism sector. There are five dimensions of quality offered to BaliAos tourism operators, ordered based on the important values for tourism customers: . tangible proof, . reliability, . responsiveness, . assurance, . empathy, which includes the ease of building relationships, good communication, attentiveness, and understanding the needs of customers where the hospitality and politeness of the Balinese people I Gusti Bagus Rai Utama adalah dosen tetap . pada Program Studi Manajemen di Universitas Dhyana Pura. Sejak 2013, menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Dhyana Pura. Pernah menjadi Dekan Fakultas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura . Saat ini, sedang menempuh program Doktor Pariwisata di Universitas Udayana. Aktif sebagai penulis opini pada harian Bali Post dan media publikasi populer lainnya. Bidang Kajian yang digelutinya adalah Ekonomi dan Pariwisata. Email: igustibagusraiutama@ com dan blog w. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama is a form of empathy that is considered to be fading and needs to be improved. Keywords: Bali tourism, quality, tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy. Pendahuluan engukuran pembangunan pariwisata Bali sejak era pemerintahan Presiden Soekarno . hingga saat ini bertumpu pada dua cara pandang berbeda, yaitu pendekatan kuantitas dan kualitas. Artikel ini mencoba memberikan gambaran bahwa pendekatan pengukuran secara kuantitatif ternyata belum cukup sahih untuk mengukur kontribusi dan dampak pariwisata bagi pembangunan masyarakat Bali. Alam serta budaya Bali dengan segala manifestasinya ternyata belum mampu mengundang kedatangan wisatawan yang berkualitas ke Bali padahal budaya Bali tergolong sangat populer di tataran Artikel ini juga berusaha menawarkan strategi pengelolaan pariwisata yang berkualitas untuk mewujudkan kepuasan wisatawan, dan harapannya adalah agar Bali mendapat lebih banyak kunjungan wisatawan yang loyal dan berkualitas pada masa mendatang. Menurut IUOTO (International Union of Official Travel Organization. Spillane, 1. , pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara dengan pertimbangan bahwa: . Pariwisata dapat berperan sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah . Penghasil devisa. Pemicu perdagangan . Pemicu pertumbuhan dan perkembangan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus membentuk jiwa hospitaliti yang handal dan santun, dan . Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi. Indikator kemanfaatan pariwisata sebagai leading sector pembangunan yang menurut rumusan IUOTO di atas (Spillane 1. , tentu saja dapat diukur jika tersedia data kuantitatif dan kualitatif karena kedua data tersebut akan dapat saling melengkapi. Menurut catatan World Bank . , pertumbuhan jumlah wisatawan internasional, pada tahun 2004 secara kuantitatif telah mencapai 786. 623 orang dan diprediksi akan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya. Sejak tahun 2004 hingga 2011 rata-rata kedatangan wisatawan secara internasional berkisar 913. 596 dan bertumbuh dengan rata-rata 4% pertahunnya. Penurunan jumlah wisatawan sempat terjadi pada tahun 2009 sebesar 4,16% pada jumlah wisatawan sebesar 916. 749, namun tahun 2011 meningkat melampaui angkat satu milyar, 1,025 milyar, angka historic yang belum pernah tercapai sebelumnya (Lihat Grafik Grafik. Pertumbuhan Wisatawan Internasional Tahun 2004 Ae 2011 Sumber: International tourism, number of arrivals (World Bank, 2. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama Pertumbuhan kunjungan wisatawan di tingkat dunia tercermin juga pada angka kunjungan ke Bali namun share number atau jumlah yang datang ke Indonesia termasuk Bali terbilang kecil yang menempatkan Indonesia pada urutan ke 38 dari 214 negara (World Bank, 2. Tabel. Posisi Indonesia pada Jumlah Wisatawan Dunia World France United States China Spain Italy Turkey United Kingdom 25. Germany Malaysia Mexico Indonesia Sumber: International tourism, number of arrivals (World Bank, 2. Pada Tabel 1 ditampilkan bahwa Perancis nampak sebagai negara yang paling populer untuk dikunjungi dan terbukti secara kuantitatif menerima wisatawan rata-rata 80an juta setiap tahunnya. Sementara Indonesia dengan berbagai kekayaan budaya Nusantaranya, dan keindahan alamnya nampak masih kalah jauh dengan Malaysia dalam hal jumlah wisatawan yang telah mengunjungi negaranya. Jika melihat jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia yang rata-rata sebesar 6 jutaan, nampaknya destinasi Bali berkontribusi lebih dari 25% terhadap Indonesia sebagai sebuah negara yang terbilang besar. Secara Nasional, jika melihat kontribusi jumlah wisatawan tersebut. Bali adalah destinasi pariwisata yang paling populer di Indonesia. Grafik 2 menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sejak tahun 1994 sampai dengan 2012 telah mencapai rata-rata 1,6 juta wisatawan walaupun beberapa JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas tahun sempat mengalami penurunan secara kuantitatif pada tahun 1998, 2003, dan 2006. Grafik. Kunjungan langsung wisatawan Mancanegara ke Bali Tahun 1994 Ae 2012 Sumber Disparda Bali, 2013 (Data diola. Melihat kondisi data kuantitatif pada Grafik 2, nampak bahwa pengelolaan pariwisata Bali secara agregat masih berorientasi pada jumlah kunjungan, dan belum memperlihatkan pada aspek kualitas. Beberapa institusi Pariwisata Bali, masih mengukur keberhasilan pariwisata dilihat dari jumlah kunjungan yang terjadi. Jika dilihat dari aspek kualitas, besar kemungkinan wisatawan yang berkunjung pada tahun 1998, 2003, dan 2006 justru para wisatawan yang berkualitas karena mereka memiliki loyalitas terhadap pariwisata Bali. Dalam hal ini, konsep AoloyalitasAo mengacu pada para wisatawan bersedia membayar mahalnya resiko berwisata ke Bali dalam kondisi isu-isu yang sangat rentan dalam dunia pariwisata seperti isu terorisme, dan gangguan keamanan sejenis. Kondisi seperti ini, jarang sekali dipertimbangkan sebagai pengukuran indikator JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama kualitas wisatawan pariwisata Bali. Dalam konteks pembangunan akomodasi pariwisata Bali, jika dilihat dari jumlah akomodasi yang dibangun dan terbangun, maka Kabupaten Gianyar. Badung. Kodya Denpasar. Buleleng, dan Kabupaten Karangasem dapat dikatakan layak mengandalkan sektor pariwisata sebagai penggerak perekonomian daerahnya. Berikut Jumlah Hotel Bintang di Bali ditunjukkan pada Tabel 2 berikut ini: Tabel. Hotel Berbintang di Bali Menurut Lokasi dan Kelas Hotel Kelas Hotel Bintang Bintang Bintang Bintang Bintang Jumlah Jembrana Tabanan Badung Gianyar Klungkung Bangl i Karangase Buleleng Denpasar J uml a h: Sumber: Bali Dalam Angka 2013 Kabupaten / Kota Berhubungan dengan Tabel 2, jika dilihat dari jumlah hotel bintang 4 dan 5 yang ada pada kabupaten dan kota di Bali, serta jika diasumsikan bahwa keberanian investor membangun hotel berbintang dihubungkan dengan popularitas pariwisata daerah, maka Kabupaten Badung nampak paling popular, kemudian disusul Kota Denpasar, dan Gianyar. Sementara Kabupaten Buleleng. Karangasem, dan Tabanan belum sepopuler Badung. Denpasar dan Gianyar. Sedangkan Kabupaten Jembrana. Klungkung, dan Bangli JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas masih belum menunjukkan tanda-tanda sebagai kabupaten yang memiliki popularitas di sektor pariwisata sebagai leading sector pembangunan di daerahnya. Apakah banyaknya hotel berbintang dapat dijadikan ukuran untuk menunjukkan pembangunan pariwisata lebih berkualitas dari daerah yang lebih sedikit hotel berbintangnya? Tentu saja tidak demikian, karena indikator untuk mengukur kualitas pariwisata hanya dapat dikatakan berhasil jika masyarakat lokal berkualitas hidupnya meningkat akibat pembangunan pariwisata . uality of lif. Ukuran lainya adalah, para wisatawan mendapatkan pengalaman yang berkualitas dari liburannya . uality of experience. , dan para investor mendapatkan . uality of profi. keuntungan yang berkualitas (Postma 2. Pada dimensi ekonomi dilihat dari PDRB (Pendapatan Domestik Regional Brut. , bahwa peranan pariwisata bagi Provinsi Bali khususnya bagi perekonomian daerah dapat dikatakan sangat besar. Bahkan, telah mengungguli sektor pertanian yang pada tahun-tahun sebelumnya memegang peranan penting di Bali, namun saat ini telah tergeser oleh Sebagai ilustrasi tergesernya sektor pertanian oleh pariwisata tergambar pada Tabel. 3 berikut ini: Tabel. PDRB Provinsi Bali Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2009 - 2012 . ilyar rupia. Lapangan Usaha Pertanian. Peternakan. Kehutanan, dan Perikanan 12 12 098. 70 12 742. 67 14 133. Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 43 6 151. 81 6 606. 30 7 470. Listrik. Gas, dan Air Bersih 78 1 263. 31 1 429. 61 1 703. Bangunan 10 3 033. 99 3 440. 42 4 351. Perdagangan. Hotel, dan Restoran 61 20 196. 29 22 695. 92 25 372. Pengangkutan dan Komunikasi 71 9 683. 29 10 688. 61 12 299. Keuangan. Persewaan, & Jasa Perusahaan 06 4 619. 32 5 023. 89 5 663. Jasa-jasa 51 9 676. 37 10 856. 77 12 284. Produk Domestik Regional Bruto 24 67 194. 24 74 029. 16 83 939. Keterangan: *)Angka sementara, **) Angka sangat sementara Sumber: Bali Dalam Angka 2013 JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama Menurut catatan BPS . , peran pariwisata tersebut dapat dilihat dari kontribusinya terhadap PDRB, di mana sektor pariwisata pada Tabel 3. pada poin 6 yakni perdagangan, hotel dan restoran mengalami peningkatan pada setiap tahunnya. Sedangkan menurut Pitana . , peran pariwisata bagi penyediaan kesempatan kerja, pada tahun 1998 mencapai 38% dari seluruh kesempatan kerja yang ada di Bali, angka ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 1995 sebesar 34,14%, dan diperkirakan peningkatan akan terus terjadi dari tahun ke tahun. Secara kuantitatif, perkembangan pariwisata Bali, nyaris tidak terbantahkan perannya, apakah benar demikian? Walaupun demikian, agar pariwisata Bali tidak terjurumus pada pendekatan pengukuran kuantitatif, maka sudah sepantasnya Pariwisata Bali menerapkan manajemen destinasi yang berbasis pada pengelolaan kualitas secara berkesinambungan untuk menghindari terjadinya titik kejenuhan, bahkan pembangunan Bali sudah sangat tergantung pada sektor pariwisata ini (Butler at al. Kajian ini menggunakan metode desk research dengan teknik penelusuran data dan informasi secara online, sumber sekunder, dan sumber publikasi ilmiah lainnya. Sementara teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuanlitatif, kualitatif, dan komparasi beberapa hasil penelitian dan publikasi ilmiah lainnya yang terkait dengan permasalahan dimensi ekonomi dan bisnis pariwisata. Sisi Kuantitas dan Kualitas Pariwisata Bali Dalam banyak hal, pariwisata telah terbukti memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian sebuah negara yang didapatkan dari pendapatan nilai tukar valuta asing, penerimaan devisa akibat konsumsi wisatawan, penyerapan tenaga kerja, pembangunan infrastruktur pariwisata yang turut dinikmati oleh masyarakat lokal, dan di beberapa destinasi pariwisata juga sebagai generator pemberdayaan perekonomian masyarakat JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas Di beberapa negara seperti Perancis. Italia, dan Spanyol, pengeluaran wisatawan telah mampu berdampak positif terhadap perekonomian negaranya. Bagi masyarakat lokal Bali, saat ini mereka lebih banyak berebut lahan penghidupan dari sektor informal ini dan artinya jika sektor informal bertumbuh maka masyarakat lokal akan mendapat menfaat ekonomi yang lebih besar. Sebagai contoh, peran pariwisata bagi Provinsi Bali terhadap perekonomian daerah sangat besar bahkan telah mengungguli sektor pertanian yang pada tahun-tahun sebelumnya memegang peranan penting di Bali. Keberhasilan sektor pariwisata, jika dilihat dari kajian dampak, semestinya berdampak searah positif terhadap sektor pertanian yang merupakan pelestari alam dan budaya Bali sebagai produk utama pariwisata Bali. Semestinya, bertambahnya hotel dan restoran memerlukan logistik bahan baku untuk pariwisata Bali akan meningkat, namun peningkatan tersebut belum mampu diperankan oleh sektor pertanian Bali, kenyataannya justru kontradiksi terjadi padanya dengan semakin menyempitnya lahan produktif, dan minimnya minat generasi muda Bali terhadap sektor pertanian. Suradnya . dengan menggunakan teknik analisis faktor . actor analysi. mengidentifikasikan delapan faktor sebagai daya tarik bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Bali, yakni : . Harga-harga produk wisata yang wajar, . Budaya dalam berbagai bentuk manifestasinya, . Pantai dengan segala daya tariknya, . Kenyamanan berwisata, . Kesempatan luas untuk relaksasi, . Citra . atau nama besar Bali, . Keindahan alam, . Keramahan penduduk setempat. Penelitian Suradnya menggambarkan kondisi daya tarik Bali sebagai sebuah destinasi pariwisata, di mana faktor harga cukup kuat untuk menarik dan mendorong wisatawan mancanegara datang berlibur ke Bali, hal ini juga bermakna bahwa pariwisata sebenarnya masih menjadi pilihan wisatawan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama mencangera yang memiliki preferensi dengan pertimbangan harga dalam membandingkan Bali terhadap Destinasi lainnya. Secara kualitatif dapat dikatakan bahwa pariwisata Bali masih mengandalkan instrumen harga sebagai kekuatan bersaing terhadap destinasi lainnya. Dalam tempo pendek, permainan dengan instrumen harga memang masih dapat ditoleransi, namun tidak dalam waktu panjang karena harga yang murah kemungkinan besar hanya mengundang kedatangan wisatawan yang kurang berkualitas, dan kecenderungan menawarkan produk yang kurang berkualitas pula. Berdasarkan survei (Disparda Bali 2003. Pitana 2. , ditemukan sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Bali dari kelompok umur muda . -39 tahu. , yaitu 64% wisman dan 65% untuk wisnus. Dilihat dari jenis kelamin, ada kecenderungan wisatawan laki-laki lebih banyak daripada perempuan, walaupun dengan perbedaan yang tidak terlalu besar, yaitu 54:45 untuk wisman dan 57:42 untuk wisnus. Dilihat dari jenis pekerjaan wisatawan, sebagian besar wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali 43,66% mempunyai pekerjaan sebagai tenaga ahli atau profesional, sedangkan 46,32% wisatawan nusantara yang datang ke Bali mempunyai profesi sebagai pekerja kantor atau pegawai, dan 22,8% adalah pelajar atau mahasiswa. Dilihat dari motivasi kedatangan wisatawan ke Bali, 93% datang untuk tujuan berlibur, 7% untuk tujuan lainnya. Dilihat dari sejumlah harapan yang terkait dengan image/citra tentang Bali, 48,54% kedatangan wisatawan ke Bali sesuai dengan harapannya. Bahkan, 44,10% wisatawan mancanegara menyatakan, kenyataan lebih baik dari harapannya. Bagi wisatawan nusantara, 71,53% menyatakan kenyataan yang dialami di Bali selama berlibur memang sesuai dengan Paparan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa pariwisata Bali secara kualitatif masih memberikan harapan yang positif kepada para wisatawan, dan nampak JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas jelas bahwa Bali dianggap sebagai tempat berlibur yang layak. Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Disparda Bali . , pada analisis pasar wisatawan mancanegara menunjukkan bahwa pariwisata Bali dapat dikatakan telah menunjukkan hasil pengukuran yang lebih komprehensif karena diukur dari banyak indikator. Hasil penelitian tersebut di antaranya telah menunjukkan bahwa dominan wisman menilai destinasi dan pariwisata Bali masih baik. Khusus penilaian wisman terhadap kondisi keamanan di Bali pada umumnya menunjukkan bahwa lebih dari separuh . ,9%) wisman memberi penilaian aman, disusul 21,5% memberi penilaian cukup aman, dan 20,4% memberi penilaian sangat Hanya 4,2% wisman yang memberi penilaian negatif terhadap kondisi keamanan di Bali, yaitu penilaian kurang aman sebesar 2,6% dan sangat kurang aman sebesar 1,6%. Kondisi penilaian negatif terhadap keamanan Bali walaupun relatif masif kecil, namun akan menjadi berlipat di masa mendatang karena pada umumnya isu negatif lebih mudah menyebar daripada isu-isu positif. Berhubungan penilaian wisman terhadap kondisi lalulintas di Bali pada umumnya, menunjukkan bahwa lebih dari separuh wisman . ,7%) memberikan penilaian negatif, yakni 34,4% menyatakan kurang baik dan 23,3% menyatakan sangat kurang baik. Sementara wisman yang memberikan penilaian positif berjumlah 42,3%, yakni 28,0% menyatakan cukup baik, 11,5% menyatakan baik, dan 2,8% menyatakan sangat baik. Perihal kondisi lalu-lintas di Bali ini harus mendapatkkan perhatian khusus yang sangat serius karena lebih setengahnnya memberikan penilaian negatif. Dengan adanya perbaikan dan penambahan infrastruktur jalan raya yang telah dan sedang dikerjakan saat ini diharappkan dapat memperbaiki kondisi lalu-lintas di Bali ke depan, namun tanda-tanda terhadap harapan tersebut masih belum nampak, dan kondisi ini akan dapat mengurangi kualitas destinasi. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama Berdasarkan tingkat kepuasannya selama berkunjung di Bali, lebih dari separuh . ,5%) wisman menyatakan sangat puas, disusul puas . ,5%), dan cukup puas . ,8%). Sementara persentase wisman yang menyatakan kurang puas dan sangat kurang puas relatif kecil . ,2%) yang terdiri dari kurang puas . ,1%) dan sangat kurang puas . ,1%). Indikator kualitas memang berhubungan erat dengan kepuasan wisatawan, dan menurut beberapa studi yang dilakukan (Yoon dan Uysal 2003. Chi 2. adalah dengan mengetahui keinginan seseorang untuk melakukan kunjungan ulang. Hasil survei terakhir menunjukkan bahwa lebih dari separuh . ,5%) wisman yang berkunjung ke Bali menyatakan keinginannya untuk melakukan kunjungan ulang, sementara 34,8% menyatakan ragu-ragu, dan 5,7% menyatakan tidak berkeinginan untuk melakukan kunjungan ulang. Hasil penelitian ini belum mampu menjawab, mengapa wisatawan tidak berkeinginan untuk melakukan kunjungan ulang, apakah karena destinasi yang dianggap kurang berkualitas? Jika dilihat dari temuan di atas, memang masih dapat dikatakan pariwisata Bali masih dianggap berkualitas pada tingkat harga dan kondisi yang sesuai pada saat periode survei dilakukan. Hasil survei berhubungan dengan keinginan kunjungan ulang . illingness to re-visi. dapat dijadikan indikator penilaian apakah pariwisata Bali telah berada pada standar kualitas yang benar-benar diharapkan oleh wisatawan? Ukuran yang lainnya adalah seberapa besar kontribusi pariwisata Bali terhadap pembangunan masyarakat Bali secara keseluruhan. Indikator kontribusi pariwisata yang berhasil jika pariwisata dapat menggerakkan sektor lain berkembang lebih baik seiring dengan kemajuan pariwisata. Apakah pariwisata Bali menunjukkan hasil tersebut? Indikator lainnya adalah seberapa banyak para investor bersedia menanamkan modalnya di Bali bukan karena adanya subsidi pemerintah ataupun bukan karena ingin mendapatkan upah buruh yang murah namun JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas lebih tepatnya berinvestasi pada kondisi mendekati persaingan Strategi Pengelolaan Pariwisata Berkualitas Manajemen Pelayanan Destinasi Pariwisata akan sangat relevan diterapkan berhubungan dengan usaha untuk memberikan pelayanan wisata yang berkualitas. Munculnya berbagai usaha jasa pelayanan di bidang pariwisata secara garis besarnya dapat dibagi dalam tiga komponen industri pariwisata yaitu sarana transportasi, akomodasi, dan jasa penunjang lainnya telah menjadi nilai positif bagi Destinasi Bali, namun juga telah memberi nilai negatif karena pengelolaannya yang tidak Keseluruhan industri jasa yang menyediakan pelayanan yang diperlukan oleh wisatawan dari negara asalnya sampai ke tempat tujuan hingga kembali lagi ke negara asalnnya merupakan rangkain proses produksi yang tidak terpisahkan. Keseluruhan pelayanan yang diberikan oleh masing-masing komponen tersebut tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kepuasan wisatawan. Sistem kualitas mencakup semua proses yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan yang efektif. Penelitian yang dilakukan Pasuraman. Zeitham, dan Berry Tjiptono . mengidentifikasi sepuluh faktor utama yang menentukan kualitas jasa. Kesepuluh faktor tersebut meliputi: Reliability, mencakup dua hal pokok, yaitu konsistensi kerja . dan kemampuan untuk dipercaya . Hal ini berarti perusahaan memberikan jasa pelayanan secara tepat dan sesuai dengan yang dijanjikan. Responsiveness, yaitu kemauan dan kesiapan dari karyawan untuk memberikan jasa yang dibutuhkan oleh pelanggan. Competence, artinya setiap orang dalam suatu perusahaan memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat memberikan jasa tertentu. Access, meliputi kemudahan untuk dihubungi dan ditemui. Hal ini berarti lokasi fasilitas jasa yang mudah JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama dijangkau, saluran komunikasi perusahaan mudah dihubungi dan lain-lain. Courtesy, meliputi sikap sopan santun, respek, perhatian, dan keramahan. Communication, artinya memberikan informasi dalam bahasa yang jelas, dimengerti, dan selalu menerima saran atau keluhan dari pelanggan. Credibility, yaitu sifat jujur dapat dipercaya. Kredibilitas mencakup nama baik perusahaan, reputasi, karakteristik . Security, yaitu rasa aman, jauh dari keraguraguan. Understanding, mengerti kemauan pelanggan dan . Tangibles, yaitu bukti fisik dari jasa bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang dipergunakan dan lainlain. Lebih lanjut dikatakan, dari sepuluh faktor di atas dapat dirangkum menjadi lima faktor pokok penentu kualitas Kelimanya disajikan secara berurutan berdasarkan nilai pentingnya menurut pelanggan yaitu: . Bukti langsung . , meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi. Keandalan . , yakni kemampuan untuk memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan. Daya tanggap . , kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat. Jaminan . mencakup pengetahuan, kesopanan dan kemampuan mereka untuk menimbulkan keparcayaan dan keyakinan. Empathy, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian, dan memahami kebutuhan pelanggan. Pengelolaan Pariwisata dapat didesain dalam bentuk manajemen kualitas pelayanan pariwisata yang merupakan analisis evaluasi terhadap kondisi pariwisata Bali saat ini. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas Tabel. Hubungan Faktor Penentu Kualitas Jasa dan Persepsi Wisatawan tentang Bali Factor Reliability Dimensi Reliability Suradnya . Citra . atau nama besar Bali Responsiveness Responsiveness Competence Assurance Security Courtesy Credibility Communication Kenyamanan berwisata di Bali Kesempatan luas untuk Harga-harga produk wisata yang wajar Empaty Data tidak tersedia Understanding Tangibles Keramahan penduduk Bali Tangibles Budaya dalam berbagai bentuk manifestasinya . Pantai dengan segala daya tariknya . Keindahan alam Alam Bali dianggap masih asli sebesar 84%. Access Disparda Bali . image/citra tentang Bali, 48,54% kedatangan wisatawan ke Bali sesuai dengan harapannya Data tidak tersedia Data tidak tersedia Sumber: Tjiptono . Suradnya . , dan Disparda Bali . Implikasi strategi faktor penentu kualitas jasa terhadap pengelolaan destinasi Bali adalah sebagai berikut: Manajemen kualitas pada dimensi tangibles: Kelestarian alam Bali perlu dipertahankan karena persepsi wisatawan terhadap alam Bali hampir mendekati harapan wisatawan . %) yang akan berimplikasi terhadap keharusan pemberdayaan terhadap sektor pertanian AusubakAy sebagai benteng terakhir pelestarian alam Bali. Manifestasi budaya Bali juga masih sangat relevan untuk dipertahankan kualitasnya dengan mempertahankan keunikan dan keragamannya yang akan berimplikasi terhadap keharusan untuk berkreasi dan berinovasi khususnya yang berhubungan dengan seni seperti menyelenggaraan festival seni serta sejenisnya. juga dengan pengelolaan daya tarik pantai harus terus ditingkatkan dengan senantiasi menjaga kebersihan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama pantai dari serangan sampah musiman maupun sampah . Manajemen kualitas dimensi assurance: saat ini, penentuan harga-harga pada destinasi Bali ternyata masih dianggap lebih kompetitif oleh wisatawan dan faktor harga merupakan faktor dominan penentu kunjungan wisatawan ke Bali. Harga-harga ini termasuk harga kamar, harga cinderamata, harga-harga makanan dan minuman, dan kebutuhan lainnya yang mereka perlukan selama berada di Bali. Dimensi ini berimplikasi terhadap komitmen pengelola destinasi untuk menjaga serta meningkatkan kualitas sesuai dengan standar kualitas secara internasional khususnya berhubungan dengan produk perhotelan. Manajemen kualitas dimensi reliability: saat ini, kenyataan tentang Bali dapat dilihat dari persepsi wisatawan tentang citra Bali . ,54%) telah sesuai dengan harapan para wisatawan, artinya pencitraan tentang Bali dianggap belum sepenuhnya sesuai dengan harapan wisatawan karena masih terdapat 51,46% yang menyatakan citra Bali belum sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Implikasi dari kenyataan ini adalah program promosi yang sesuai dengan kenyataan sebagaimana Bali adanya, serta penetapan branding yang sesuai dengan . Manajemen kualitas dimensi responsiveness: saat ini, wisatawan masih merasa nyaman melakukan aktivitas wisata, dan mereka menganggap masih memiliki banyak kesempatan untuk relaksasi, dimensi ini mesti terus mendapatkan perhatian dan evaluasi secara regular karena faktor kenyamanan dan kesempatan, terkait dengan tingkat kroditnya suatu destinasi, semakin krodit sebuah destinasi maka tingkat kenyamanan semakin JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas Faktor kenyamanan sangat luas cakupannya sehingga memerlukan komitmen dan kebijakan dari pemerintah untuk terciptanya kenyamanan. Perbaikan infrastruktur jalan raya dan sistemnya perlu terus diperbaiki untuk menunjukkan kesan dan situasi yang konsisten dengan citra Bali sebagai destinasi pariwisata . Manajemen kualitas dimensi empathy: tidak terelakkan bahwa keramahan penduduk Bali telah mengalami pergeseran yang menempatkan pada faktor ke delapan dari delapan faktor yang terbentuk (Suradnya 2. , hal ini berarti keramahan penduduk Bali telah mengalami degradasi, dan ini harus mendapat prioritas utama, serta diperlukan usaha empatisisasi terhadap wisatawan sebagai pelanggan, dengan mengadakan pembinaan kepada para pekerja pariwisata, dan peningkatan kinerja pelayanan publik yang terkait dengan pelayanan Catatan Akhir dan Rekomendasi Pengelolaan Bali sebagai destinasi pariwisata yang berkualitas sangat mendesak untuk diterapkan karena pembangunan Bali telah sangat tergantung terhadap sektor pariwisata. Model ideal peningkatan kualitas Destinasi Pariwisata Bali dapat digambarkan dengan konsep 4A CI . ttraction, amenity, accessibelity, ancilary, community involmen. seperti pada Gambar. 1 berikut ini: JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama Investor . uality of Transportasi . Akomodasi dan pendukung . Destinasi Pariwisata Bali . Wisatawan . uality of Organisasi dan . Masyarakat . uality of Gambar. Model Ideal Pengembangan Pariwisata Berkualitas Dimodifikasi dari Postma, 2007 Dalam model, lingkaran dalam adalah Destinasi Pariwisata Bali yang merupakan atraksi yang akan ditawarkan, sementara amenitas, ansilari, aksesibelitas adalah pendukung dan pembentuk totalitas dari produk pariwisata Bali. Semua faktor pembentuk totalitas produk pariwisata tersebut harus melibatkan masyarakat lokal dalam berbagai lini. Ada tiga pihak yang berkepentingan terhadap kualitas totalitas produk pariwisata tersebut, diantaranya: masyarakat sepakat membangun pariwisata untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sementara wisatawan berhak mendapatkan kualitas wisata yang diharapkannya, sementara investor . emerintah maupun swast. berkepentingan mendapatkan profit yang Peningkatan kualitas Pariwisata Bali, dapat mengAgunakan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas pendekatan lima dimensi kualitas yang harus tetap diperhatikan oleh para pengelola pariwisata Bali, kelimanya disajikan secara berurutan berdasarkan nilai pentingnya menurut pelanggan yaitu: . bukti langsung . , meliputi fasilitas fisik, kelestarian alam Bali perlu dipertahankan karena persepsi wisatawan terhadap alam Bali hampir mendekati harapan wisatawan, manifestasi budaya Bali juga masih sangat relevan untuk dipertahankan kualitasnya dengan mempertahankan keunikan dan keragamannya, begitu juga dengan pengelolaan daya tarik pantai harus terus ditingkatkan. , yakni kemampuan untuk memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan yakni Citra . atau nama besar sesuai dengan harapan . daya tanggap . , kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat sehingga kenyamanan berwisata di Bali, dan kesempatan luas untuk relaksasi sesuai harapan wisatawan. mencakup pengetahuan, kesopanan dan kemampuan mereka untuk menimbulkan keparcayaan dan keyakinan, dan pada destinasi Bali ditemukan bahwa hargaharga produk wisata termasuk produk barang dan pelayanan telah sesuai dengan harapan wisatawan. empathy, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian, dan memahami kebutuhan pelanggan, di mana keramahan penduduk Bali adalah bentuk empati destinasi Bali yang dianggap telah semakin memudar dan perlu untuk dilakukan perbaikan. Berhubungan dengan usaha mewujudkan pengalaman yang berkualitas bagi wisatawan sebagai pelanggan . uality of experince. , pada tingkatan korporasi, dapat dilakukan dengan menyelenggarakan program-program peningkatan empati seperti workshop the services profit chain . antai sebab Program seperti sebenarnya telah menjadi filosopi hidup masyarakat Bali yang lebih dikenal dengan istilah JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 I Gusti Bagus Rai Utama Auhukum karmaAy. Analoginya adalah, jika perusahaan ingin mendapatkan karyawan yang berkualitas maka perusahaan harus mampu memberikan pendapatan dan fasilitas yang berkualitas pula. Analogi selanjutnya adalah, karyawan yang berkualitas akan mampu menjadi pekerja yang berkualitas serta produktif untuk dapat mewujudkan kepuasan pelanggannya. Analogi berikutnya, pelanggan yang puas akan cenderung menjadi pelanggan yang loyal, dan akhirnya pelanggan yang loyal akan berkontribusi terhadap profit perusahaan secara berkesinambungan . uality of profi. The Service Profit Chain dimulai dari operating strategy and delivery system yang diawali internal service quality terlebih dahulu yang mereka peroleh selama ini dari perusahaannya. Kemudian employee satisfaction dimana karyawan yang terpuaskan akan menimbulkan employee retention dan employee Karyawan yang loyal akan bersikap baik dalam bekerja dan mampu menampilkan performa terbaik dalam melayani pelanggan yang akan menjadi konsep pelayanan Cara karyawan menyapa dan berhubungan dengan pelanggan pastilah berpotensi untuk menambah nilai sehingga tercipta customer satisfaction. Ketika pelanggan bertahan karena merasa nyaman dengan nilai dan pelayanan yang mereka dapat, mereka akan lebih mungkin menjadi customer Loyalitas ini mengarah pada pembelian yang berulang, perekomendasian dan proporsi pembelanjaan yang meningkat yang secara tidak langsung akan menambah profit dan pertumbuhan bagi perusahaan (Hesket et al, 1. Pada tingkatan makro Bali, kemajuan Pariwisata Bali mestinya dapat mewujudkan kualitas hidup . uality of lif. masyarakat Bali yang lebih baik, secara kuantitatif dapat ditunjukkan oleh besarnya angka penyerapan tenaga kerja oleh sektor pariwisata. Kebijakan pemerintah berhubungan dengan pengupahan tenaga kerja khususnya sektor pariwisata mesti disesuaikan setiap saat seiring dengan laju inflasi dan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Strategi Menuju Pariwisata Bali yang Berkualitas pertimbangan kondisi maro lainnya seperti kenaikan harga akibat kenaikan BBM. Penyaluran dan subsidi dari pendapatan sektor Pariwisata Bali mestiya diarahkan untuk melakukan preservasi dan konservasi serta keberlanjutan sektor penA dukung pariwisata seperti misalnya sektor pertanian, dan industri kreatif lainnya. DAFTAR PUSTAKA