Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 ISSN 1693-7724, eISSN 2685-614X https://jurnal. isi-ska. id/index. php/ornamen/ Karya Tatah Sungging Non Wayang Produk Aksesori Kulitan Tari Gagrak Yogyakarta Rohmad Eko Priyono a. Junende rahmawati a. Program Studi Kriya Kulit. Fakultas. Akademi Komunitas Negeri (AKN) Seni dan Budaya Yogyakarta rohmadeko99@yahoo. com, 2 junenderahma0409@gmail. ABSTRAK Kata Kunci Penelitian ini bertujuan mengenalkan tatah sungging pada produk non wayang seperti aksesori kulitan tari. Teknik tatah sungging ini dikerjakan pada aksesori tari dengan tatahan bubukan, langgatan, semut dulur, masmasan, dan juga dibagian jamang sebagian menggunakan patran. Teknik sunggingan pada produk non wayang untuk garak Yogyakarta hanya disungging warna emas dapat menggunakan brom atau prodo mas. Produk-produk tatah sungging non wayang dikerjakan dengan handmade memperhatikan nilai estetika dan fungsionalitas. Melalui penelitian kualitataif dengan metode penelitian artistic yang membahas tentang penelitian berbasis praktik yang menghasilkan pengetahuan dan pemahaman teknis tatah sungging diterapkan pada media kulit perkamen dan disungging hanya menggunakan satu warna emas memakai brom atau prodo mas, yang belum banyak diterapkan pada. Identitas produk tatah sungging non wayang ini tidak hanya dari segi teknis penciptaannya, namun juga bentuk tatahan dan sunggingan yang mengangkat gagrak Yogyakarta sebagai ide penelitian. Tatah. Sungging. Kulitan Kriya Gagrak Yogyakarta. ABSTRACT Keywords This research aims to introduce sungging inlays in non-puppet products such as dance skin accessories. This sungging inlay technique is done on dance accessories with inlays bubukan, langgatan, antut dulur, mas-masan, and also in the jamang part partially using patran. The sunggingan technique on non-puppet products for garak Yogyakarta is only sungging in gold color, you can use brom or prodo mas. Non-puppet inlay products are handmade paying attention to aesthetic value and Through qualitative research with artistic research methods that discuss practice-based research that produces knowledge and technical understanding of sungging inlays applied to parchment leather media and used only one gold color using brom or prodo mas, which has not been widely applied to. The identity of this non-puppet sungging inlay product is not only in terms of the technical aspects of its creation, but also the form of inlay and sunggingan that raises gagrak Yogyakarta as a research idea. Tatah. Sungging. Kulitan Leather Gagrak Yogyakarta. This is an open access article under the CCAe BY-SA license Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Pendahuluan Seni kriya merupakan bentuk karya seni yang menitikberatkan pada keterampilan tangan, dengan memperhatikan unsur estetika sekaligus Bentuknya meliputi produk-produk seperti kerajinan dari tekstil, kulit, keramik, kayu, logam, hingga anyaman. Seni kriya memiliki akar dalam turun-temurun, mencerminkan identitas budaya suatu masyarakat. Sebagai perpaduan antara seni dan keterampilan, seni kriya tidak hanya memiliki nilai seni namun juga nilai ekonomi, karena banyak produk seni kriya yang dipasarkan sebagai barang konsumsi atau suvenir. Penelitian ini juga bertujuan menjawab pertanyaan tentang bagaimana proses pembuatan aksesori tari dan manfaat dari hasil produk kulitan tari golek ayun-ayun. Menurut jurnal Rizwel Zam (Zam. Dharsono, & Raharjo, 2022, p. , karyakarya kriya tidak saja tampil sebagai benda yang bagus dan indah secara visual, dengan detail garapan yang halus, serta mengandung muatan yang dalam, seni kriya tidak hanya merepresentasikan nilai estetika, simbolik, filosofis, dan fungsional yang melekat di dalamnya, namun juga menjadi sorotan dalam wacana pelestarian seni di tengah berbagai tantangan yang dihadapi saat ini. Tidak hanya itu, seni kriya saat ini juga menjadi pembahasan mengenai pentingnya pelestarian seni di tengah tantangan globalisasi yang seringkali membawa pengaruh pada keberlanjutan tradisi lokal. Hal ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran tentang pentingnya melestarikan seni kriya sebagai warisan budaya yang berharga. Salah satu inovasi dalam pelestarian dan pengembangan seni kriya dan juga tradisi lokal melalui penciptaan karya tatah sungging non wayang. Kerajinan tatah sungging merupakan kerajinan yang terbuat dari bahan kulit mentah atau kulit perkamen, yang diproses dengan cara ditatah atau dipahat Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 kemudian disungging atau diwarnai dengan teknik gradasi. Produk dari kerajinan tatah sungging ini diantaranya yang paling terkenal adalah wayang kulit dan aksesori tari. Golek ayun-ayun atau tari golek ayun-ayun adalah tari Jawa klasik gaya Yogyakarta. Tari ini dijadikan obyek penelitian dikarenakan sesuai dengan tari gagrak yogyakarta yang mempunyai pakem dalam tarian dan pembuatan aksesori tarinya. Tari ini diciptakan oleh KRT Sasmintadipura pada tahun 1976. Tari ini menggambarkan seorang gadis remaja yang tengah beranjak dewasa dan senang berias diri. Tari golek ayun-ayun sangat kerap dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan dan biasanya ditarikan oleh dua orang penari, namun dapat juga hingga enam sampai delapan penari. Tari golek ayun-ayun merupakan varian dari beksan . golek yang berbentuk tari tunggal, namun dalam penyajian tari golek ayun-ayun dapat juga ditarikan secara berkelompok dengan mengolah komposisi dan pola lantainya. Diantara perkembangan teknologi yang ada sehingga tidak membatasi dalam perkembangan dalam seni tradisi dan budaya. Pengembangan- pengembangan dan alternatif bahan baku dan pembuatan aksesori tari yang semulanya terbuat dari kulit hewan. Namun kerajinan aksesori kulit dalam tari golek ayun-ayun memiliki nilai budaya dan estetika yang sangat tinggi, sehingga penting untuk dilestarikan. Aksesori kulit, yang meliputi irah-irahan, sumping, kelat bahu, kalung tiga susun, slepe dan timang. Aksesori tari ini hampir sama dengan aksesori tari lain seperti tari panji dan sekartaji, namun dalam isian dan bentuk aksesori seperti irah -irahan/jamang bentuknya sangat berbeda. Jamang tari golek ayun-ayun memiliki bentuk manukan atau jamang elar memiliki peran krusial dalam mendukung karakter dan narasi tari ini. Selain sebagai pelengkap visual, aksesori tersebut juga mencerminkan keterampilan tinggi para pengrajin kulit tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Melestarikan kerajinan ini Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 berarti menjaga keberlanjutan tradisi yang tidak hanya kaya akan nilai seni, namun juga memiliki makna filosofis dan sejarah yang mendalam. Tanpa pelestarian aksesori kulit ini, masyarakat akan kehilangan salah satu elemen penting yang membuat tari golek ayun-ayun tetap hidup dan relevan, serta mendorong generasi muda untuk menghargai dan mengapresiasi kearifan lokal dalam seni pertunjukan. Kaitannya dengan permasalahan ini maka diperlukan pelestarian kearifan lokal, dan perlu fungsikan kembali secara profesional agar tidak tercabut dari akar budayanya dan kehilangan jati diri. Metode Metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data guna menjawab pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis yang diajukan menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode ini bergantung pada tujuan penelitian, jenis data yang diperlukan, serta pendekatan yang digunakan untuk memperoleh hasil yang valid dan reliabel. Panduan pengamatan digunakan peneliti untuk memaksimalkan hasil yang ingin dicapai dengan mengutamakan poin-poin yang akan diamati dalam Menurut (Mahendra, 2020, pp. hal itu meliputi kegiatan, teknik pukul, kerapatan pukul, sudut pukul, dan bahan bakunya. Pengamatan terhadap teknik pukul dilakukan untuk memahami bagaimana seorang seniman menggerakkan seluruh tubuhnya dalam proses menatah, sedangkan mengidentifikasi perbedaan hasil antara pukulan yang sedang dengan yang lebih rapat, sudut pukul perlu diketahui untuk menjabarkan berapa kemungkinan kemiringan yang terjadi dalam pemukulan, sedangkan bahan baku akan memengaruhi hasil dari pukulan yang dilakukan oleh seniman. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Penelitian ini terdapat beberapa pembahasan tentang teknik tatah, jenis-jenis tatahan, sunggingan, dan bahan bakunya. Teknik yang digunakan dalam menatah adalah tatah tembus dengan menggunakan kulit sapi samak Jenis tatah yang dipakai untuk pembuatan aksesori kulitan tari kebanyakan menggunakan bubukan, semut dulur, langgatan, dan mas-masan. Untuk teknik sungging menggunakan prodo mas, dikarenakan untuk gagrak Yogyakarta hanya menggunakan warna emas untuk sunggingannya. Menggunakan metode penelitian artistik, dimana hasil penelitian ini berasal dari penelitian berbasis praktik . ractice-based researc. , diartikan sebagai suatu investigasi original yang dilakukan dalam upaya memperoleh pengetahuan baru dimana pengetahuan tersebut sebagian diperoleh melalui sarana praktik dan melalui hasil praktik itu (Guntur, 2. Sumber data penelitian ini berasal dari wawancara dan observasi partisipan yang berasal dari praktisi. Penelitian ini memberikan pengetahuan yang dipahami sebagai keterampilan praktis yang mencerminkan kemampuan teknis, mencakup pemahaman tentang cara membuat sesuatu, cara bertindak, serta cara melaksanakan suatu proses atau tindakan secara efektif seperti yang dituliskan (Guntur, 2. pada pembahasan pengetahuan dan pemahaman, sehingga metode yang dapat diterapkan untuk practice -based riset adalah membuat secara langsung aksesori tari golek ayunayun dan menjelaskan proses pertahap dari awal pemilihan bahan sampai Wawancara Sumber data utama dalam penelitian ini adalah wawancara dengan pembuat kulitan tari seperti jamang, klat bahu, sumping, dan kalung. Wawancara mendalam dilakukan untuk mengetahui Sejarah dan proses pembuatan tatah sungging kulitan tari gagrak Yogyakarta, dan bersamanya Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 melakukan hipotesa yang menjadi pembeda kulitan gagrak Yogyakarta dengan gagrak lainnya. Akar masalah yang ditemukan dapat dijadikan landasan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Berikut data secara lengkap narasumber utama dalam penelitian ini : Nama : Sagio Alamat : Bangunjiwo. Kasihan. Bantul. Yogyakarta Observasi Observasi dilakukan dengan melihat proses secara langsung di kelas pembuatan produk tatah sungging non wayang berupa kulitan tari. Di sana penulis berharap dapat menemukan berbagai data dan fakta menarik yang menghasilkan kebaruan tersendiri bagi kekayaan kriya kulit di Yogyakarta. Observasi dilakukan sebagai salah satu modal dalam mencari sudut menarik tentang tatah sungging produk kulitan tari gagrak Yogyakarta yang akan dilakukan visualisasinya. Observasi akan dilakukan beberapa kali dengan meninjau bebrapa karya tatah sungging. Studi dokumen Studi dokumen berupa foto-foto hasil karya tatah sungging kulitan tari gagrak Yogyakarta berupa jamang, sumping, dan kalung. Dokumen ini dapat dijadikan bukti otentik tentang kebenaran sesuatu hal. Dokumen otentik yang coba dicari adalah sebagai bukti originalitas karya tatah sungging kulitan tari jamang, sumping dan kalung. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Studi Pustaka Studi pustaka menjadi sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa buku-buku, jurnal nasional maupun internasional yang berkaitan dengan kriya kulit, tatah sungging, dan segala pustaka yang dapat menunjang keberhasilan penelitian ini. Buku dan jurnal yang dipilih sangat diusahakan merupakan jurnal dan buku yang diterbitkan dalam kurun waktu 10 tahun Analisis data dilakukan dengan tahapan pengumpulan data sesuai yang telah dijabarkan sebelumnya. Data yang diperoleh akan ditampilkan dan diolah sedemikian rupa. Penelitian kualitatif, sumber pelaku utama penelitian karya tatah sungging non wayang produk aksesori kulitan tari jamang sumping dan Oleh karena itu, perlu dilakukan pengecekan keabsahan data yang diperoleh dan diolah sebelum disajikan. Mengukur keabsahan data yang diperoleh dari sumber data primer dan sekunder dilakukan dengan cara triangulasi data. Mengacu pendapat Patton dengan menggunakan strategi. pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data, kedua. pengecekan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Teknik triangulasi data dapat mengukur keabsahan data yang dikumpulkan memiliki kemiripan atau kecocokan anatar data interview, observasi, dan dokumen. Saat data-data sudah mendapatkan keabsahannya maka Langkah selanjutnya adalah menarik kesimpulan yang merupakan jawaban dari rumusan permasalahan yang telah dibuat sebelumnya. Kesimpulan yang ditarik untuk menjawab rumusan masalah harus didukung dengan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukti yang valid tersebut dapat memberikan kesimpulan yang bersifat kredibel. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Hasil dan Pembahasan Bahan Kulit Perkamen Kulit adalah bagian tubuh yang terdapat pada permukaan tubuh yang berguna untuk melindungii diri dari pengaruh luar. Kemampuan melindungi diri dengan kulit ini berbeda antara hewan satu dengan lainnya. Perbedaan ini masih tampak pada kulit hewan setelah dilepas dari tubih hewan yang sudah disembelih. Untuk dibuat menjadi wayang, akseoris tari, produk fungsional, souvenir dan lain-lain. Disetiap hewan mempunyai jenis dan karakter yang berbeda-beda, sehingga kebutuhan dapat menyesuaikan dengan menggunakan hewan kerbau, sapi, kambing, dan domba. Kulit kambing atau domba Kulit ini biasanya mempunyai karakter yang tipis tapi lembut dan biasanya digunakan untuk produk sarung tangan, jaket, dan rompi. Untuk jenis kulit ini jika dalam proses penyamakan perkamen dapat digunakan untuk souvenir dan hiasan dinding yang hanya dihilangkan bulunya sebagian dan keudian dilukis sesuai keinginan. Kulit Sapi Kulit sapi jika sudah tersamak chrom dengan artikel full grain, full up atau Crazy Horse biasanya untuk produk fungsional seperti tas, dompet, sabuk, ikat pinggang, dan lain-lain. Jika proses penyamakannya perkamen kulit sapi biasanya untuk pembuatan wayang, hiasan, aksesori, souvenir, dan lainnya. Berbeda dengan kulit kambing karakter kulit sapi lebih tebal dan jika untuk pembuatan wayang dan aksesori tari lebih baik hasilnya. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 . Kulit kerbau Kulit Kerbau mempunyai karakter yang cocok untuk pembuatan wayang kulit karena jenis kulit ini tidak mudah kendor pada kelembaban dan tidak mudah melengkung pada suhu yang panas. Kekuatan fisik kulit kerbau lebih kuat, khususnya kekakuan dan suhu Kekakuan sangat penting untuk mempertahankan bentuk sedangkan suhu yang lembab berhubungan dengan ketahanan kulit terhadap suhu lingkungan. Kulit kerbau dalam hal menyerap maupun menguapkan kadar air lebih rendah, sehingga dalam waktu yang lama tidak mudah kendor. Kulit perkamen adalah jenis kulit mentah yang dibuat tanpa melalui proses penyamakan, melainkan dengan cara menghilangkan bulunya melalui pengerokan. Setelah kering, kulit ini dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pembuatan wayang, kap lampu, sekat, kipas, bedug, dan sebagainya (Marsudi, 2. Untuk pemilihan bahan untuk pembuatan aksesori kulitan tari, hendaknya memakai kulit sapi atau kerbau serta dipilih kulit yang tebal. Analisa Produksi . Proses alur produksi tatah sungging kulitan aksesori tari Proses produksi pembuatan produk tatah sungging kulitan tari gagrak Yogyakarta, masih menggunakan alat-alat yang manual. Seperti tatah dan sunggingan yang pengerjaanya juga handmade. Sehingga karya yang dihasilkan mempunyai nilai estetika yang tidak dapat didapatkan dengan cara modern, dari teknik tatah diperlukan keahlian khusus dan teknik sunggingan juga membutuhkan keterampilan untuk menghasilkan karya yang bagus. Di dalam proses pembuatan produk Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 tatah sungging kulitan tari ini mempunyai beberapa alur yang harus dikerjakan, dari menyiapkan alat dan bahan sampai proses finishing melalui beberapatahap, berikut alur proses pembuatan produk tatah sungging kulitan tari : Menyiapkan bahan Pembuatan pola Nyorek Sungging Amplas Mbedahi Ngertep Finishing kulit dan alat Gambar 1. Alur Proses pembuatan aksesori tari (Foto: Rohmad Eko, 2. Proses produksi tatah sungging aksesori tari gagrak Yogyakarta Proses pengerjaan tatah sungging aksesori tari membutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam teknik menatah. Penatah harus paham tata letak yang akan ditatah, berikut proses pengerjaan tatah sungging aksesori tari. Persiapan kulit Pada pembuatan aksesori kulitan tari menggunakan kulit dengan samak perkamen. Gambar 2. Kulit perkamen (Foto: Rohmad Eko, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 . Nyorek Proses ini merupakan tahapan awal dari serangkaian proses Nyorek menggambar pola, jika pola aksesori tari masih dikertas diperlukan kulit perkamen yang bening supaya mudah untuk mengcopy pola Cara nyorek meletakan pola dikertas dibawah kulit, kemudian gambar tersebut dicopy pada kulit. Bagian-bagian terpenting dalam pola juga dicopy untuk memudahkan pada waktu Gambar 3. Hasil coretan (Foto: Rohmad Eko, 2. Proses Tatah Proses menatah ini aksesori tari ini biasanya menggunakan bentuk tatah bubukan, semut dulur, mas-masan, ceplikan, langgatan, dan patran untuk bagian aksesori jamang. Bubukan Bentuk tatahan ini berbentuk bundar-bundar kecil sejajar dengan jarak yang dekat. Semut dulur Bentuk tatahan ini berbentuk lubang-lubang sempit yang pendek berjajar dan memanjang kesamping. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 . Langgatan Bentuk tatahan ini mirip dengan semut dulur hanya dalam tatahan sampingnya untuk langgatan tatahannya keluar. Ceplikan Bentuk tatahan ini mirip dengan bubukan namun bentuknya tidak bundar penuh dan rusak separuh. Mas-masan Bentuk tatahan ini menggunakan bebrapa tatahan seperti bubukan, bu ireng, dan ceplikan. Patran Patran artinya daun, untuk tatahannya menggambarkan bentuk motif - motif yang meyerupai daun. Proses pembuatan patran ini merupakan proses yang sangat sulit sehingga memerlukan waktu yang lama. Proses mbedahi Proses ini memisahkan bentuk sesuai aksesori tari yang telah Digambar dari kulit yang masih utuh atau dari klowongan, caranya dengan memahat bagian tepi akseoris tari yang telah dibuat. Klowongan adalah irisan bagian tepi garis yang berjarak sekitar A sampai 1 cm mengelilingi bentuk wayang sehingga memudahkan dalam ambedah (Sagio & Samsugi, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Gambar 4. Sebelum mbedahi (Foto: Rohmad Eko, 2. Gambar 5. Sesudah mbedahi (Foto: Rohmad Eko, 2. Proses amplas Proses ini untuk merapikan tatahan supaya halius dan juga meratakan permukaan supaya nanti pada waktu proses sungging akan lebih mudah dalam prosesnya. Gambar 6. Proses Amplas (Foto: Rohmad Eko, 2. Proses sungging Proses ini yang pertama memberi dasaran warna kuning atau Ndasari menggunakan campuran cat akrilik kuning, air, dan lem Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Gambar 7. Pewarnaan dasar (Foto: Rohmad Eko, 2. Untuk proses selanjutnya mrodo emas, sebelum diprada melapisi gebingan dengan cat minyak, ditunggu sebentar sampai tidak terlalu lengket dijari kemudian dilapisi dengan prada buku. Gambar 8. Proses prada (Foto: Rohmad Eko, 2. Proses Selanjutnya ngedusi atau pemberian lapisan clear . owilex clear yang ditambah dengan ai. pada bagian yang sudah di prada. Gambar 9. Proses clear (Foto: Rohmad Eko, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 . Proses ngertepi Proses pemasangan kertep dan manik-manik atau ngertepi. Pada tatahan patran menggunakan gim dan kertep, kemudian pada tatahan mas-masan menggunakan manik-manik dan kertep. Gambar 10. Proses ngertep (Foto: Rohmad Eko, 2. Proses finishing Proses ini merakit atau menggabungkan komponen-komponen yang diperlukan untuk pemasasangan aksesori. Untuk jamang diperlukan finishing pemasangan bulu atau elar, kemudian untuk kalung dirakit dipasangkan menggunakan rantai, untuk sumping diberi gombyok untuk menambah estetika sumping. Gambar 11. Aksesori kulitan tari gagrak Yogyakarta (Foto: Rohmad Eko, 2. Kesimpulan Aksesori tari merupakan pelengkap busana tari seperti jamang, sumping, kalung, klat bahu. Aksesori ini biasanya digunakan untuk tari golek ayun-ayun. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Juni 2025 Bahan yang digunakan untuk proses pembuatan aksesori kulitan tari ini menggunakan kulit sapi atau kerbau dengan samak perkamen. Proses pengerjaan dimulai dari pembuatan pola, nyorek, natah, mbedahi, amplas, nyungging, ngertepi dan finishing. Teknik tatah yang ada dalam kulitan tari berupa bubukan, langgatan, ceplikan, dan patran. Teknik sunggigan untuk gagrak yogyakarta teknik hanya menggunakan prada emas. Tujuan dan manfaat penelitian ini semoga dapat memberikan pengetahuan dalam proses pembuatan kulitan tari golek ayun-ayun yang berupa irah-irahan (Jamang ela. , sumping, kelat bahu, kalung, dan slepe. Daftar Pustaka